SEBAGIAN KECIL TENTANG SEJARAH KOTA BARABAI KALSEL

Barabai adalah ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah di Kalimantan Selatan, terletak sekitar 165 km di utara Banjarmasin. Sebelum perang dunia kedua, kota Barabai pernah dijuluki oleh orang Belanda sebagai "Bandoeng van Borneo" hal ini dikarenakan udaranya yang sejuk dan rasa ketenangan yang dipantulkan kota ini. Yang dimaksudkan adalah menonjolnya kebersihan, kesejukan dan tata kotanya ketika itu. Lorong-lorong di pusat kota diteduhi oleh deretan pohon-pohon mahoni (orang Barabai menyebutnya pohon kenari) yang rindang. Menurut penduduk, pohon-pohon itu dulu ditanam oleh tuan Paul, seorang keturunan Jerman yang bekerja pada pemerintah Hindia Belanda sebagai kepala V & W singkatan dari "Verkeer & Waterstaat" yang mengurusi bidang Transportasi dan Pekerjaan Umum, semacam DPU (Departemen Pekerjaan Umum) sekarang. Tuan Paullah yang telaten merawat pohon-pohon mahoni dan menata kota dengan gaya dan selera orang Eropah. Ketika Hitler menyerang Nederland, tak ayal lagi tuan Paul ditawan Belanda, majikannya. Entah bagaimana nasibnya kemudian. Yang jelas, namanya masih dikenang orang Barabai, terutama jika sedang berjalan-jalan di bawah pepohonan mahoni di pusat kota. Tapi pernah ada tangan latah membabat pohon-pohon pelindung di beberapa lorong. Konon seorang bupati yang berambisi ingin membuat pelebaran jalan dan sekaligus jalur kembar seperti yang dilihatnya di Banjarmasin menyikat bersih pohon-pohon mahoni peninggalan tuan Paul disebagian jalan Dharma dan Garuda. Jelasnya di pusat pasar sekarang, Untunglah karena langka biaya pelanjutnya, pembabatan pohon mahoni berhenti sampai di situ saja.
Asal Nama Barabai

Pada awalnya daerah yang disebut dengan Barabai sekarang ini merupakan sebuah perkampungan yang dulu disebut dengan Kampung Qadi. Barabai sendiri merupakan nama administrasi yang diberikan oleh pemerintah Belanda untuk menyebut daerah Onderafdeling Batang Alai. Penamaan ini tidak terlepas dari keberadaan sungai yang melintasinya.

Daerah aliran sungai di sebelah hilir Pajukungan, yaitu daerah Durian Gantang dikenal dengan nama Tabat Baru. Hal ini karena Pangeran Singa Terbang dari Amuntai (Hulu Sungai Utara) pada waktu dulu pernah memerintahkan untuk menutup atau memagar daerah ini dengan menabar aliran sungai yang mengalir disini, yaitu pada saat daerah Tanjung dan Hulu Sungai Utara jatuh ketangan Belanda setelah pecahnya Perang Banjar. Oleh karena itulah untuk mengamankan Barabai (belum bernama Barabai), sungai yang mengalir di daerah Durian Gantang atau tepatnya Asam Hurang yang aliranya airnya terus ke Sungai Nagara ini ditabat secara beramai-ramai oleh masyarakat. Kemudian pohon-pohon kayu ditebang untuk memberikan halangan bagi Belanda untuk menguasai daerah ini.

Pohon-pohon dan semak-semak yang dimasukan kedalam sungai tadi dalam bahasa Banjarnya disebut “Raba”. Dengan sendirinya perahu-perahu serdadu Belanda yang terdampar diraba-raba tersebut dan mereka tidak dapa meneruskan perjalanannya karena terhalang oleh timbunan raba. Pada saat inla para penduduk mengambil kesempatan untuk menyergap dan menyerang serdadu-serdadu Belanda, sekaligus untuk mengambil senjaa mereka untuk digunakan pada pencegatan yang akan datang. Dalam hal ini pihak Belanda mengakui bahwa pasukan rakyat mempunyai keahlian dalam bertempur di air dan di sungai.

Dalam keadaa terjebak oleh halangan dan rintangan inilah, pihak Belanda sering mendengar suara “Ba-Ra-Ba-Ai”, yang dimaksudnya banyak raba. Asal perkataan itu pihak Belanda menafsirkan dengan nama lokasi dimana tempat mereka terjebak. Isitilah ini yang mereka tuliskan dalam laporan yang dibeikan. Itulah sebabnya maka sampai sekarang menjadi kota Barabai.Kota

Pemerintahan dan Perekonomian

Setelah mengeluarkan pernyataan penghapusan Kerajaan Banjarmasin pada 11 Juni 1860 pemerintah Hindia Belanda memasukan Kerajaan Banjar dalam wilayah yang kita kenal dengan Zuider en Oosterafdeling van Borneo. Pada tahun berikutnya dilakukan pengembangan unsur pamong praja dan pengadilan negeri yang tadi hanya ada di Banjarmasin sampai ke Hulu Sungai.

Pertumbuhan kampung dan kota. Belanda membangun jalan raya dari Banjarmasin melalui Martapura ke Hulu Sungai sampai ke Ampah Muara Uya. Untuk menjaga keamanan militer dan kontrol, penduduk dikumpulkan dan rumah-rumah dibangun disepanjang jalan tepi jalan. Hal ini melahirkan jenis desa baru yang rumahnya berbaris menghadap jalan, yang sebelumnya bertebaran. Pada persimpangan yang strategis dibuat benteng-benteng pengawasan wilayah. Maka muncul kota-kota baru seperti Binuang, Rantau, Kandangan, Barabai, Tanjung, Pleihari, dan sebagainya.

Menurut Staatblaad tahun 1898 no.178 daerah ini menjadi salah satu onderafdeeling di dalam Afdeeling Kendangan yaitu Onderafdeeling Batang Alai en Labooan Amas terdiri atas: Distrik Batang dan Distrik Labuan Amas.

Distrik Batang Alai dipimpin oleh seorang kepala distrik yang disebut districhoofd yaitu Kiai Duwahit (1899) dan Kiai Demang Yuda Negara. Suku Banjar yang mendiami wilayah ini disebut dengan Orang Alai dan Suku Dayak Meratus yang mendiami wilayah ini disebut dengan Dayak Atiran, Dayak Labuhan, dan Dayak Kiyu. Distrik ini beribukota di Barabai.

Distrik Labuan Amas dikepalai oleh Tomonggong Kerta Joeda Negara (1899), beribukota di Pantai Hambawang.

Barabai merupakan ibu kota dari kabupaten HST. Kota ini memiliki julukan “ParisvanBorneo.” Barabai merupakan pusat pemerintahan dan perdagangan di HST. Kota ini memiliki daya tarik secara ekonomi dan sosial terhadap daerah lainya yang menjadi penopang kota ini.

Secara ekonomi, Barabai merupakan kota generatif yaitu kota yang menjalankan berbagai fungsi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk wilayah belakangnya sehingga bersifat saling mengembangkan. Barabai menyerap/memasarkan produksi dan memenui kebutuhan wilayah belakang (Robinson Tarigan, 2009: 161).


Barabai memegang peran sentral untuk melakukan distribusi barang dan jasa untuk daerah sekitarnya ini ditunjukan dari adanya dua pasar grosir yaitu Pasar Lama dan Pasar Baru.

Pusat perkantoran Pemda HST terpusat disini, walaupun banyak perkantorannya yang tersebar diluar kota. Banyaknya jumlah pegawai baik dari sektor pemerintah, swasta dan sektor informal lainnya juga mendorong besarnya volume perdagangan dikota ini.

Barabai sebagai pusat perdagangan juga ditunjukan dengan adanya 2 pasar terbesar di HST yang dikenal dengan Pasar Murakata (selanjutnya disebut Pasar Lama) dan Pasar Keramat. Kedua pasar sudah terdifrensiasi, Pasar Murakata didesain sebagai pusat perbelanjaan modern sementara Pasar Keramat di desain sebagai pusat perbelanjaan tradisional/semi modern.

Suasana pasar Barabai pada hari Sabtu (hari pasar), lokasi ini sekarang adalah toko tujuh. Terlihat pohon-pohon mahoni muda tanaman si Tuan Paul.


Barabai merupakan sebuah kota tua yang ada di HST, kota yang merupakan ibukota dari distrik Batang Alai dan Pantai Hambawang yang merupakan ibukota dari distrik Labuan Amas. Dua Distrik ini kemudian membentuk Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan memisahkan diri dari HSS pada 1956.

Sumbar: Copas-copasan di https://www.facebook.com/

HASIL QUICK COUNT PILGUB KALIMANTAN SELATAN TAHUN 2015

Indoborneonatural--Provinsi Kalimantan Selatan adalah salah satu daerah di Indonesia yang ikut dalam gelaran Pilkada serentak hari ini, Rabu 9 Desember 2015. Pemilihan umum kepala daerah (Pemilukada) ini digelar untuk memilih pasangan calon (Paslon) Gubernur dan Wakil  Gubernur untuk periode lima tahun ke depan.

Penghitungan suara manual oleh KPU diawali pada tempat pemungutan suara (TPS). Perhitungan tersebut dilakukan oleh KPPS setelah pemilih selesai melakukan pencoblosan.

Hasil hitung tersebut selanjutnya akan dilaporkan ke tingkat PPS di KPUD untuk dilakukan rapat pleno rekapitulasi hasil penghitungan suara. Hasil inilah yang nantinya akan menentukan pasangan mana yang unggul dan menjadi pemenang untuk duduk di kursi tertinggi di Propinsi Kalimantan Selatan ini.

Sementara itu, ada pula pihak lain yang melakukan hitungan, seperti pihak independen atau dari pasangan cagub itu sendiri. Metode yang digunakan adalah hitung cepat / quick count ataupun real count  dengan mengambil contoh hasil penghitungan surat suara di beberapa TPS. Biasanya hasil persentase tidak jauh dengan hasil hitung manual KPU. Namun demikian hasil KPU-lah yang dianggap sah oleh KPU.



Berikut ini Hasil perolehan Sementara dari Hasil Hitung Cepat suara calon Gubernur dan Wakil  Gubernur Kalsel 2015 Sesuai urutan nomor urut Pasangan Calon Gubernur Kalsel:
dr. H. M. ZAIRULLAH AZHAR dan Dr. H. MUHAMMAD SAPI'I, M.Si. Memperoleh 4.731 Jumlah Suara atau ... persen

H. SAHBIRIN NOOR, S.Sos., M.H. dan Drs. H. RUDY RESNAWAN. Memperoleh 8.732 Jumlah Suara atau ... persen

H. MUHIDIN dan H. GUSTI FARID HASAN AMAN.Memperoleh 10.810 Jumlah Suara atau ... persen


Hingga hari ini :
Telah terjadi persaingan ketat, saling salip-menyalip antara pasangan Sabirin-Rudy dan Muhidin-Farid.

Data masuk 95,52% Dengan Perolehan Data Sementara real count Persi KPU  :
Muhidin - Farid 41,09%
Sahbirin - Rudy 41,04%
Zairullah - Sapii.17,87%


Hasil perhitungan sementara ini untuk menunggu hasil pastinya hingga nanti pada tanggal 19 Desember 2015 yang  diumumkan KPU.

(Hasil ini akan selalu kami update setiap ada perubahan, bila hasil masih kosong silahkan direfresh atau kunjungi laman kami beberapa menit kemudian !!). 



 http://indoborneonatural.blogspot.co.id/

CONTOH NASKAH MEMBACAKAN CERITA RAKYAT BERJUDUL SULTAN SURIANSYAH (KALIMANTAN SELATAN)

           

Masjid Sultan Suriansyah Raja Banjar

         Assalamualaikum, Wr. Wb.

          Saya akan bercerita  tentang kisah kerajaan Banjar 

Cerita ini saya baca dari buku seri cerita sejarah yang berjudul ”Sultan Suriansyah”

Yang ditulis oleh R.M. Buya dan diterbitkan PT Sarana Panca Karya Nusa Bandung.  Tahun 2003.

Begini ceritanya.:

         Pada zaman dahulu kala ,berdirilah sebuah kerajaan besar, yang bernama kerajaan Candi Agung. Saat itu kerajaan candi agung diperintah oleh raja yang bernama Sukarama. Raja sukarama sedang  resah dan  sedih, dia memikirkan cucunya yaitu  putra mahkota,   mendadak menghilang.

Semua ikut pusing , semua ikut pening semua ikut mencari.

Pangeran Samudra hilang, pangeran Samudra hilang pangeran Samudra hilang.

           Ditempat yang lain ada seorang anak laki-laki dengan bekal secukupnya dan alat jala sedang mendayung sampannya. Sendirian, dini hari menyusuri sungai Tabalong. Menuju ketepi pantai. Akhirnya setelah berjam jam dipermukaan air sampailah ia kesebuah tempat ,Kuin namanya.

          Ketika itu seorang pembesar Kuin melihatnya, ia merasa tercengang diperhatikannya anak itu baik baik. Setelah anak itu mendekat lalu pembesar Kuin segera berseru.

Patih Masih: hai anak kecil coba kemari sebentar.

Sambil mendayung ketepi anak itupun  bertanya.”Desa apakah ini ?

Pembesar Kuin itupun menjawab.” oh rupanya engkau orang asing. Ini adalah kampung Kuin, Coba kemari dulu.

Lalu kemudian pembesar itu bertanya lagi.”Siapa engkau nak, dengan siap engkau kemari?

Anak kecil itupun menjawab.” Nama saya Mudra Saya adalah anak pencari ikan, tapi kehilangan arah . bapak ini siapa

Dan pembesar kuin itupun menjawab .” Nama saya Masih orang menyebut Patih Masih.

Dan sejak saat itulah  anak tersebut  tinggal bersama patih Masih di Kuin .

        Dikerajaan Candi Agung raja Sukarama sedang jatuh sakit, Pemerintahanpun berpindah ketangan pangeran Mangkubumi, diangkatlah mangkubumi menjadi raja, mendengar pangeran Mangkubumi jadi raja Pangeran Tumenggungpun marah, ia tidak setuju dengan diangkatnya pangeran mangkubumi menjadi raja ,  dia berpendapat bahwa ialah yang berhak menjadi raja.

        Pangeran Tumenggungpun memberontak dan beberapa kali peperangan pecah hingga sampai pada akhirnya pangeran mangkubumi meninggal ditangan saudaranya sendiri pangeran Tumenggung. Setelah Pangeran Mangkubumi wafat Pangeran Tumenggunglah yang memerintah kerajaan Candi Agung.

          Di Kampung Kuin sudah tiga tahun Mudra tinggal bersama Patih Masih . Suatu hari Patih Masih ingat kembali bahwa kerajaan Candi Agung kehilangan seorang putra mahkota yaitu pangeran Samudra. Dan kebetulan pangeran samudra sebaya dengan anak tersebut. Dan diapun berpikir apakah anak tersebut merupakan pangeran Samudra yang sedang dicari cari kerajaan Candi Agung, Patih Masih pun memberanikan diri bertanya kepada mudra  apakah betul ialah pangeran samudra yang sedang dicari cari kerajaan, bak gayung bersambut Mudra mengakui dirinya adfalah pangeran Samudra, sambil bersujud Patih masih memohon maaf kepada pangeran Samudra.”Saya  mohon ampun paduka pangeran karena saya tidak mengetahui bahwa andalah pangeran Samudra . Mendengar pengakuan pangeran Samudra Patih Masihpun segera membangun kerajaan baru di kampung Kuin yang diberi nama kerajaan Bandarmasih inilah  cikal bakal kota Banjarmasin. Rajanya ialah Pangeran Samudra dan maha Patihnya adalah Patih Masih. Tak lama setelah berdirinya kerajaan Bandarmasih berita cepat tersebar keseluruh penjuru dan sampai ketelingan pangeran Tumenggung.

           Mendengar Pangeran Samudra menjadi raja di kerajaan baru Pangeran Tumenggungpun   marah dan menyerang kerajaan Bandarmasih. Beberapa kali peperangan terjadi dan sampai akhirnya Patih masih meminta bantuan kerajaan Demak, dan kerajaan Demakpun menyetujui dengan syarat tertentu salah satunya kalau menang masuk agama Islam. Dan Patih masih setuju dengan syarat tersebut. Dengan bantuan Demak Pangeran Tumenggungpun terdesak  dan meminta perang tanding raja melawan raja.

         Tanpa rasa  takut Pangeran Samudra setuju dengan tantangan pamannya itu. Perang tandingpun segera dimulai  mereka telah berhadap hadapan pangeran Samudra melawan Pamannya Pangeran Tumenggung. Pangeran Samudra yang pertamakali mengeluarkan kerisnya dan keris itupun dilemparkannya ke arah pamannya dan berkata.

.”Paman Tumenggung maafkan saya bukannya lancang. Bagaimanapun engkau adalah pamanku dan paman adalah keluargaku aku tidak ingin menyakiti keluargaku.

       Mendengar teriakan keponakannnya itu Pangeran Tumenggung menangis dan memeluk pangeran Samudra dia terharu pada Pangeran Samudra. Dan pangeran Tumenggungpun menerima kekalahannya. Dan Pangeran samudrapun diangkat menjadi Raja Candi Agung.

       Setelah pangeran diangkat menjadi raja pangeran samudrapun masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan suriansyah.

Setelah Sultan Suriansyah meninggal dunia beliau dimakamkan dikampung Kuin.

Nah teman teman itulah tadi cerita Sultan Suriansyah dalam cerita tersebut dapat kita ambil pelajaran yaitu kebenaran itu selalu menang  dan jangan mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Sampai disini dulu cerita dari saya, salam literasi salam budaya baca buku sebanyak banyaknya.

 

Kota Banjarmasin Baiman bergelar

Kota bersih lagi maju

Kalau kamu ingin jadi pintar

Bacalah buku jendela ilmu

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

7 UPACARA ADAT TRADISIONAL TERUNIK DI INDONESIA

Indonesia adalah negara kepulauan yang memimiliki banyak pulau yang didiami beragam suku sehingga Indonesia menjadi negara yang kaya dengan adat Istiadat yang melahirkan budayaan tradisional unik dan menarik, Indonesia juga mempunyai beragam upacara tradisional yang menarik. Hingga saat ini, banyak dari upacara tradisional tersebut masih dilestarikan di daerah asalnya masing-masing. Bahkan, upacara tersebut juga menjadi ajang wisata budaya bagi banyak turis, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Berikut ini 7 (tujuh) upacara tradisional Indonesia yang unik dan khas yang bisa kita lihat sebagai objek wisata yang menjadi kekayaan budaya bangsa Indonesia.

Tiwah (Kalimantan Tengah)
Upacara Tiwah yaitu prosesi menghantarkan roh leluhur sanak saudara yang telah meninggal dunia ke alam baka dengan cara menyucikan dan memindahkan sisa jasad dari liang kubur menuju sebuah tempat yang bernama Sandung.
Upacara adat Tiwah sering dijadikan objek wisata karena unik dan khas banyak para wisatawan manca negara tertarik pada upacara ini yang hanya dilakukan oleh warga Dayak Kalteng. Tiwah merupakan upacara ritual kematian tingkat akhir bagi masyarakat suku Dayak di Kalimantan Tengah (Kalteng), khususnya Dayak Pedalaman penganut agama Kaharingan sebagai agama leluhur warga Dayak.

Tabuik (Sumatera Barat)
Upacara yang satu ini sebenarnya lebih berkaitan dengan religi, berdasarkan kepercayaan umat Islam Tapi hanya ditemukan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sehingga, menjadi sebuah tradisi yang khas dari daerah tersebut. Upacara Tabuik ini digelar sebagai bentuk peringatan atas kematian anak Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perang di zaman Rasulullah dulu. Dilakukan pada Hari Asura setiap tanggal 10 Muharram tahun Hijriah. Beberapa hari sebelum datangnya waktu penyelenggaraan upacara ini, masyarakat akan bergotong royong untuk membuat dua tabuik. Kemudian, pada hari H, kedua tabuik itu di arak menuju laut di Pantai Gondoriah. Satu tabuik diangkat oleh sekitar 40 orang. Di belakangnya, rombongan masyarakat dengan baju tradisional mengiringi, bersamaan dengan para pemain musik tradisional. Lalu, kedua tabuik itupun dilarung ke laut.

Dugderan (Jawa Tengah)
Upacara ini digelar untuk menandai datangnya bulan puasa Ramadhan. Tapi, karena hanya diadakan oleh masyarakat Semarang, maka upacara Dugderan ini pun jadi semacam upacara tradisional. Kata “dugderan” sendiri berasal dari perpaduan bunyi bedug dengan meriam bambu yang memang identik dengan bulan puasa. Upacara ini dilaksanakan tepat sehari sebelum puasa pertama dilaksanakan, mulai dari pagi hingga sore hari menjelang senja. Dalam upacara tradisional Indonesia ini, masyarakat menggelar “warak ngendok”, atau mengarak binatang jadi-jadian yang bertubuh kambing, berkepala naga dan berkulit sisik emas. Binatang rekaan ini dibuat dari kertas warna-warni. Selain itu, juga digelar pasar rakyat, atraksi drumband, pawai pakaian adat tradisional nusantara, hingga penampailan berbagai kesenian khas Kota Semarang, yang digelar selama sepekan sebelumnya.

Ngaben (Bali)
Kegiatan ini merupakan upacara pembakaran atau kremasi jenazah umat Hindu di Bali. Untuk melaksanakan upacara Ngaben ini, keluarga dari jenazah tersebut akan membuat “bade dan lembu” untuk tempat jenazah yang akan dibawa. Tempat tersbeut dibuat dari kayu dengan model yang sangat megah, dibantu oleh masyarakat sekitarnya. Kemudian, jenazah pun di arak, dan terakhir dibakar bersamaan dengan tempat tersebut, dalam sebuah ritual khusyuk.

Rambu Solo dan Mapasilaga Tedong (Sulawesi Selatan)
Rambu Solo juga merupakan upacara kematian, yang  diwarisi oleh masyarakat Toraja secara turun temurun. Keluarga dari orang yang meninggal akan menggelar upacara ini sebagai tanda penghormatan terakhir. Kemudian, jenazahnya akan dibawa ke makam yang terletak di tebing goa, yakni pekuburan Londa. Bersamaan dengan itu, juga dibawa sebuah boneka kayu yang telah dibuat sebelumnya, yang wajahnya sangat mirip dengan orang yang telah meninggal itu. Sedangkan, upacara Mapasilaga Tedong merupakan acara adu kerbau. Selbelumnya, akan diawali dengan parade kerbau, mulai dari jenis kerbau jantan, kerbau albino, hingga kerbau salepo yang memiliki bercak-bercak hitam di punggungnya. Setelah adu kerbau, maka akan dilanjutkan dengan prosesi pemotongan kerbau khas adat Toraja, yang disebut Ma’tinggoro Tedong. Dalam prosesi tersbeut, kerbau harus langsung mati dengan sekali tebas.

Pasola (Nusa Tenggara Barat)
Dalam upacara tradisional Indonesia ini, akan ada dua kelompok yang melakukan “perang-perangan”. Setiap kelompok yang terdiri atas lebih dari 100 pemuda itu “berperang” dengan bersenjatakan tombak dari kayu yang ujungnya tumpul, dan juga mengenakan baju perang dalam adat mereka. Pada bulan Februari atau Maret setiap tahunnya, upacara ini akan digelar untuk menyampaikan doa kepada Tuhan, agar panen mereka pada tahun itu bisa berhasil.

Aruh Bawanang (Kalimantan Selatan)
Aruh bawanang adalah aruh dayak meratus yang merupakan sujud syukur dari hasil panen yang sudah didapat setiap tahunnya..aruh bawanang merupakan aruh pertengahan yang dilaksanakan balai..dalam setiap tahunnya di laksanakan 3 aruh yaitu aruh basambu,bawanang dan aruh ganal. Aruh bawanang, selamatan sesudah panen masyarakat Dayak Meratus. Ritual Aruh Bawanang adalah sebuah kebudayaan unik yang hanya ada pada masyarakat Dayak Meratus. Penyelangaraan upacara Aruh Bawanang bagi masyarakat di Balai Malaris ini mempunyai maksud-maksud tertentu sesuai kepercayaan Kaharingan. Diantaranya, mensyukuri nikmat tuhan yang telah memberikan anugerahNya, terutama terhadap keberhasilan panen mereka. Juga atas keadaan masyarakat desa yang tenteram dan tidak dilanda bencana, sehingga mereka dalam keadaan sehat dan dapat melaksanakan upacara atau aruh tersebut.

Demikian tentang 7 Kebudayaan unik dan menarik di tanah air kita di Indonesia, yang harus kita lestarikan sebagai khasanah kekayaan budaya bangsa kita. Semoga Artikel ini bermanfaat. Terimakasih.

GAMBAR DAN FOTO MASKOT BEKANTAN BANJARMASIN KALIMANTAN SELATAN

Di Banjarmasin, tepatnya di jalan Piere Tendean diseberang siring sungai maratapura dan menara pandangnya. Sejak tahun 2015 ini telah dibangun sebuah patung maskot yang mengambil model dari binatang khas Kalsel yaitu Monyet Bekantan atau nama Ilmiahnya Nasalis Larvatus.  

Bagi anda yang ingin melihat-lihat patung maskot Bekantan Banjarmasin ini, tetapi masih belum berkesempatan untuk berkunjung ke sana. Berikut ini dapat dilihat beberapa foto dan gambar maskot tersebut.




Baca juga Asal Usul Monyet Bekantan (Nasalis Larvatus) di sini !!

ANEKA RESEP KUE KERING PUTU KACANG HIJAU

Pada masyarakat Indonesia kacang hijau sudah lekat menjadi salah satu bahan pokok untuk aneka makanan, mulai dari bubur kacang hijau, hingga aneka kue dengan bahan utamanya kacang hijau ini. Kacang hijau selain memiliki nilai giji yang tinggi juga enak rasanya jika diolah sedemikian rupa. Apalagi jika dibuat camilan atau kue kering, salah satu kue yang enak dengan berbahan dasar kacang hijau ini adalah Kue kering putu Kacang Hijau. Berikut cara membuat kue kering putu yang enak ini :

Bahan Kue Kering Putu Kacang Hijau :
  • 200 gram kacang hijau, disangrai, kupas kulitnya.
  • 1/4 sendok teh essence vanili.
  • 2 sendok makan air matang.
  • 175 gram gula halus.
Cara Membuat Kue Kering Putu Kacang Hijau :
  • Kacang hijau sangrai dihaluskan dengan blender atau diulek hingga halus. Gunakan saringan yang rapa untuk mendapatkan bubuk kacang hijau yang halus.
  • Campur tepung kacang hijau ini dengan gula halus, vanili, dan air matang hingga menjadi adonan yang pulen.
  • Cetak adonan di cetakan kue satu sambil ditekan-tekan supaya padat.
  • Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan dalam suhu 150 derajat Celsius, sampai kering.
  • Setelah matang, angkat cetakan, biarkan kue satu dingin, baru simpan dalam stoples.
Demikian resep Kue Kering Putu Kacang Hijau ini, semoga bermanfaat. Selamat mencoba dan selamat menikmati. Wassalam....

SUKU BANGSA BATAK

Untuk memahami suku bangsa Batak dengan lebih rinci, alangkah baiknya kita cermati kondisi geografisnya terlebih dahulu. Suku bangsa Batak sebagian besar mendiami daerah Pegunungan Sumatra Utara mulai perbatasan daerha Istimewa Aceh sampai ke perbatasan Propinsi Sumatra Barat dan Riau. Orang Batak Juga terdapat dipegunungan antara Pantai Timur dan Barat Sumatra Utara. Mereka mendiami daerah Dataran Tinggi Karo, Langkah Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu, Simalungun, Dairi Toba, Silindung. Angkola, Mandailing, serta Tapanuli Tengah.

a. Sub-sub Bangsa Batak

Selanjutnya kita lihat sub-sub suku bangsa yang ada pada orang Batak. Perhatikan uraian tentang sub-sub suku bangsa Batak di bawah ini !

1) Karo, mendiami Dataran Tinggi Karo, Langkat Hulu, Deli Hulu, Serdang Hulu dan Dairi.
2) Simalungun, mendiami daerah simalungun
3) Toba, mendiami daerah di sekitar Danau Toba. Pulau Samosir, daerah asahan. Silindung, daerah antara Barus - Sibolga.
4) Pak-pak, mendiami daerah Dairi
5) Angkola, mendiami daerah Angkola dan Sipirok, sebagian Sibolga dan Batang Toru dan bagian utara Padang Lawas.
6) Mandailing, mendiami daerah Mandailing Ulu, Pakatan, dan bagian Selatan Padang Lawas.

b. Bahasa

Mungkin sebagian kita ada yang mengetahui, bahwa dengan pemecahan orang Batak ke dalam beberapa sub suku bangsa seperti uraian di atas, maka dalam pergaulan hidup sehari-hari atau berinteraksi sosialnya bahasa Batak memiliki beberapa dialek. Ada bahasa Bahasa Batak menurut dialeg (logat) Karo, logat Pak-pak, logat Simalungun, logat Toba. Logat Karo digunakan oleh semua orang Batak Karo, logat Pak-pak dipakai suku Batak Pak-pak dan Logat Simalungun digunakan oleh orang Simalungun. Sedangkan logat Toba digunakan oleh suku-suku Batak Toba, Angkola dan Mandailing. Diantara keempat logat itu, dua yang paling jauh jaraknya yaitu logat Karo dan logat Toba.

c. Sistem Kekerabatan

Tiap-tiap suku bangsa memiliki kekhususan dalam sistem kekerabatan. Pada masyarakat Batak adalah secara partilineal artinya memperhitungkan hubungan keturunan yang berasal dari seorang nenek moyang atau satu ayah atau satu kakek. Kerabat laki disebut pararak.

Kelompok kekerabatan yang lebih besar adalah "marga" (Toba) atau "marga" (Karo). Adapun nama-nama masyarakat Batak antara lain :
1) Batak Mandailing, terdiri atas marga Lubis, Nasution, Pulungan, Rangkuti, dan Lain-lain.
2) Batak Toba, terdiri atas marga : Simanjuntak, Simatupang, Situmorang, Hutabarat, dan lain-lain.
3) Batak Karo, terdiri atas marga : Tarigan, Ginting, Sembiring, Perangin-angin, dan lain-lain
4) Batak Simalungun, terdiri dari : Purba, Saragih, Damanik, Sinaga, dan lain-lain.

Untuk kekerabatan yang terkecil adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak yang disebut keluarga batih. Masyarakat Batak menamakan keluarga batih adalah "jabu" (karo) atau "ripe" (Toba). Kedua istilah ini sering juga untuk menyebut keluarga luas virilokal,  hal ini terjadi karena banyak keluarga muda Batak yang bertempat tinggal bersama orang tua dari suami. Selain itu dikenal pula sada nini atau saompu, yaitu kelompok kekerabatan yang mencakup semua kamu kerabat patrilineal yang masih dikenal hubungan kekerabatannya.

Kaum kerabat si wanita (sinereh dalam bahasa Karo, parboru dalam bahasa Toba). Oleh karena itu, di Batak seorang laki-laki bebas dalam memilih orang-orang rimpal (mapariban dalam bahasa Toba) adalah antara seorang laki-laki, dengan anak perempuan saudara laki-laki ibunya. Dengan demikian, maka seorang laki-laki Batak sangat pantang kawin dengan seorang perempuan dari saudara perempuan ayah. Pada zaman sekarang, sudah banyak pemuda Batak yang tidak lagi menurut terhadap adat kuno ini (Masri Singarimbun, 1959, hal 120). Apabila lamaran diterima dengan baik, maka sebelum upacara dan pesta perkawinan, diadakan perundingan antara kerabat kedua belah pihak.

Perundingan itu disebut Marhata Sinamual (bahasa Toba). Adapun hal-hal yang dirundingkan antara lain :
1) Jumlah mas kawin yang diserahkan kepada pihak perempuan
2) Jumlah harga yang akan diterima oleh Tulang (saudara Laki-laki dari ibu si gadis)
3) Jumlah harga yang akan diterima oleh saudara nenek si gadis dari pihak ibu
4) Jumlah harga yang akan diterima oleh saudara perempuan dari ibu si gadis
5) Jumlah harga yang akan diterima oleh anak Beru dari ayah si gadis
6) Jumlah harga yang akan diterima oleh saudara-saudara perempuan dari ibu si pemuda
7) Jumlah harga yang akan diterima oleh saudara-saudara laki-laki ibu si Pemuda

Pada orang Batak Toba, selain harta yang diserahkan kepada orang tua da upa tulang si gadis, ada pula yang harus diserahkan kepada saudara laki-laki dari ayah si gadis (si julo baru) dan kepada saudara-saudara laki-laki si gadis (si jalo tadoan). Sesudah perundingan mengenai mas kawin dan pemberian-pemberian tersebut di atas, maka mulai dibicarakan tanggal diadakannya pesta perkawinan (petuturken atau erdemubayu dalam bahasa Karo, marunjuk atau menguhuti dalam bahasa Toba).

Ternyata di Batak ada istilah kawin lagi (mangalua) di luar kawin menurut prosedur biasa, mengapa kawin lari? Kawin lari ini terjadi karena tidak ada kecocokan antara salah satu atau kedua belah pihak kaum kerabat. Pada kejadian kawin lari, kurang dari satu hari, kaum kerabat si laki-laki harus menyuruh utusan kepada orang tua si gadis untuk memberitahu bahwa anak gadisnya telah dibawa dengan maksud untuk dikawini (diparaya). Beberapa hari setelah itu, dilakukan upacara manuruk-nuruk untuk minta maaf. Setelah upacara itu berlangsung, barulah disusulkan dengan upacara perkawinan seperti yang biasa dilakukan.

Menurut adat, jika suami meninggal maka si janda harus kawin dengan levirat (salah seorang laki-laki dari kerabat suami). Namun jika tidak bersedia dapat minta cerai kepada kerabat suaminya. Bila hal ini terjadi, pihak yang dapat menceraikannya adalah anak laki-laki kandung atau anak tiri, dapat pula dilakukan cucu laki-laki. Apabila mereka tidak ada maka dapat maka dapat dilakukan oleh "sembuyak" atau "senina", yaitu kerabat laki-laki dari almarhum suaminya. Dapat bertindak sebagai orang yang akan melepaskan si janda dari ikatan dengan klen suami. Selain perkawinan levirat dikenal juga perkawinan sororat, artinya perkawinan seorang laki-laki dengna saudara almarhum isterinya.

Di Batak berlaku pola menetap sesudah menikah yaitu virikol dan uxorilokal. Virilokal artinya istri pindah ke tempat suami. Sedangkan uxorilokal, yaitu pindah ke tempat tinggal istri. Ada juga hinela, tahukah anda istilah itu? Hinela, yaitu bilamana si suami dan kerabatnya miskin, sehingga terpaksa bergantung kepada orang tua istri atau karena si istri anak satu-satunya. Biasanya putri tunggal tidak dilepaskan oleh orang tuanya.

Dalam kehidupan masyarakat orang Batak ada suatu hubungan yang mantap antara kelompok kerabat dari seorang dengan kelompok kerabat tempat isterinya berasal dan dengan kelompok kerabat dari suami adik perempuannya. Kelompok pertama disebut kalmbubu atau kelompok pemberi gadis, sedangkan kelompok yang menerima gadis disebut anak beru. Adapun kelompok sendiri disebut senina. Hubungan antara kalimbubu - anak beru - senina itu, yang disebut sangkep sitelu (dalihanan tolu dalam bahasa Toba), tampak jelas dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, kematian, penyelesaian pertikaian dan sebagainya.

Kalimbubu mempunyai kedudukan lebih tinggi terhadap anak beru dan bagi seorang Batak kaum kerabat intinya merupakan dibata niidah (dewa-dewa yang tampak). Sebagai anak beru ia harus berusaha supaya kaum kerabat istrinya itu diperlakukan secara terhormat.

d. Sistem Religi

Daerah Batak dipengaruhi beberapa agama, Islam dan Kristen Protestan masuk ke daerah itu abad ke-19. Islam di sebarkan oleh Minangkabau sejak tahun 1810. Penganut Islam terdapat di Batak Selatan, seperti Mandailing dan Angkola, Kristen disiarkan ke daerah Toba dan Simalungun oleh organisasi keagamaan dari Jerman kira-kira tahun 1862 dan ke daerah Karo pada tahun yang sama oleh orang Belanja. Sekarang Kristen banyak terdapat di daerah Batak Utara. Meskipun orang Batak sebagian besar sudah beragama Kristen dan Islam, namun unsur-unsur agama asli (primitif) sebelumnya masih dianut.

Sumber utama untuk mengetahui sistem kepercayaan orang batak asli adalah buku-buku kuno yang dinamakan pustaha. Selain berisi silsilah (rarombo), juga berisi konsepsi orang Batak tentang dunia makhluk halus. Pustaha yang bertuliskan huruf Batak yang disebut aksara. Tulis ini mirip dengan tulisan Jawa Kuno yang menulisnya dari kanan ke kiri.

Dalam hubungan dengan jiwa atau roh, orang Batak mengenal tujuh konsep
- Tondi, adalah jiwa atau roh seseorang yang sekaligus merupakan kekuatan
- Sahala, adalah jiwa atau roh kekuatan yang dimiliki seseorang
- Begu, adalah tondi orang yang meninggal.

Begu dianggap bertingkah laku seperti manusia, ada yang baik dan ada yang jahat. Sesuai dengan kebutuhannya, begitu dipuja dan sesaji. Begu terpenting bagi orang Batak ialah Sumangat Niompu, begu dari nenek moyang sesaji yang diberikan pada begu disebut pelean. Beberapa macam begu yang dikenal orang Batak adalah :
1) Batara guru atau begu perkakun jabu, yaitu begu bayi yang meninggal masih dalam kandungan.
2) Bicara guru atau begu anak yang meninggal sebelum tumbuh gigi,
3) Mate kayat-kayatan ialah begu orang mati muda.

Keempat begu di atas termasuk begu yang disegani dan dihormati. Sombaon, solobean, silan dan begu ganjang adalah begu-begu lain yang disegani, Sobaon mrupakan begu yang diam digunung atau dihutan rimba gelap dan mengerikan (parsombaonan). Solobean yaitu begu penguasa tempat-tempat tertentu di Toba. Silah adalah begu sombaonan pendiri kuta dan marga. Begu ganjang yaitu begu yang sangat ditakuti dan dipelihara untuk mencelakakan orang lain.


Sumber : Dirangkum dari berbagai sumber !!    

Baca Juga Sejarah suku Batak berikut ini !! klik di sini !!

MENGENAL OBJEK WISATA ALAM DAN KERAJINAN KABUPATEN TAPIN KALIMANTAN SELATAN

Tapin sebagai salah satu Kabupaten di Kalimantan Selatan, Kabupaten Tapin yang bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan darat dari kota Banjarmasin, juga memiliki beberapa objek wisata yang sangat menarik, beberapa wisata yang menonjolkan keindahan alam, satwa, tanaman dan kebudayaannya, banyak dikunjungi pada wisatawan lokal dan nasional. Berikut beberapa objek wisata alam dan kerajinan di kebupaten Tapin Kalimantan Selatan ini yang sangat menarik untuk kita kunjungi secara langsung :


GOA BATU HAPU

Terletak didesa Batu Hapu Kec. Hatungun, sekitar 45 Km dari kota Rantau. Goa legenda tentang anak durhaka bernama Hangui yang dikutuk menjadi batu. Menurut riwayar, Goa batu Hapu adalah bagian tengah kapal Hangui yang pecah menjadi 3 bagian, bagian dengan disebut Batu laki yang sekarang ada di Gunung Batu Benawa desa Pagat Hulu Sungai Tengah, bagian belakang atau buritan terdampar menjadi Batu Bini di Hulu Sungai Selatan.
Goa Batu Hapu
Goa alam dengan sajian panorama batu stalaktit dan stalaknit serta beberapa bebatuan berbentuk unik menyerupai wanita hamil dan binatang ini merupakan salah satu tujuan wisata alam unggulan di Kalimantan selatan wisatawan karena menyajikan paronama alam yang indah untuk liburan keluarga dan wisata remaja.


GOA BERAMBAN

 Gua Beramaban berada di Kecamatan Piani yang terletak diujung timur Kabupaten Tapin dengan jarak 18 Km dari Kota Rantau dengan ketinggian 500 – 900 meter dari permukaan laut (Mdpl) yang terletak pada 200-300 LS dan 1.1400-1.1500 BT. Terletak didesa Beramban kecamatan Piani sekitar 17 Km dari kota Rantau. Di wilayah tersebut terdapat sebuah bukit yang konon bukit ini masih ada hubungannya dengan legenda Batu Laki dan Batu Bini di Hulu Sungai Selatan. Bukit dengan vegetasi hutan dan semak belukar tersebut yakni Bukit Telungin yang merupakan suatu kawasam karst yang memiliki beberapa buah gua yang tidak dijaga dengan status kepemilikan tanah diatas lokasi gua merupakan tanah negara dan keberadaan gua-gua tersebut sudah lama dikenal khususnya oleh masyarakat setempat maupun dari instansi pemerintah daerah setempat.

Gua Beramban
 Goa dengan bebatuan stalaktit dan stalaknit penggunungan meratus yang memilikki 3 jenis Goa yaitu Goa Liang angin di ketinggian sekitar 300 m2 dengan panjang sekitar 70 meter didalam perut gunung Beramban, yang kedua adalah Goa Liang Macan dengan luas sekitar 50 m2 dan lorong-lorong Goa kecil pada kedalaman tertentu yang saling berhubungan. Goa ketiga adalah Goa Liang Air yang terletak didasar gunung. Panjang goa diperkirakan 2 Km dan hanya bisa dilewati dengan perahu karet. 

(Rafflesia Flower) dan sekitar 5 Km sebelum menuju goa pada sisi jalan terdapat Lokasi pertambangan yang memilikki panorama eksotis untuk Goa Beramban merupakan salah satu objek wisata alam unggulan yang menawarkan panorama komplet bagi penggemar wisata alam, Hiking Outbond, Wisata Susur goa dan perkemahan.


KERAJINAN SUKU DAYANK PIANI

Terletak didesa Harakit kecamatan Piani sekitar 30 Km dari kota Rantau. Air terjun dengan ketinggian 12 M ini terbagi terbagi pada beberapa curahan dengan kesegaran khas air pegunungan meratus yang alami. Sebelum menuju ke lokasi objek wisata para wisatawan bisa singgah di Balai Adat Dayak Piani lereng meratus kabupaten Tapin yang bersahaja memepertahankan ke arifan lokal Budaya Mereka. Pada Musim pasca panen kemeriahan akan semakin terasa dengan ikut menyaksikan para Balian menyebar mantera pujian kealam semesta berpadu aroma harum menyan dan gerak ritmis para dara dayak menarikan tari kanjar dan babansai.

Eksotika ke indahan flora pegunungan meratus dengan aneka angreknya berpadu kesejukkan dirus bias air terjun lanjung Bepayung merupakan terapi alam untuk menjaga kebugaran dan kesehatan setelah melakukan rutinitas keseharian masyarakat kota.


WISATA SUNGAI, ALAM & KERAJINAN

sekitar17 Km dari kota Rantau menuju Arah Margasari terdapat objek wisata sungai yang memilikki keragaman variasi wisata yaitu wisata religi Maqam Datu Muning ( Syekh Muhammad Ilyas ), wisata alam menyaksikan Panorama sepanjang pesisir sungai Lok buah dengan aneka tanaman unik seperti tanaman jungkal ( keladi air ) yang tinngi Karbohidrat dan jadi lauk masyarakat Lok buah. Juga satwa langka yang bercanda diatas pepohonan seperti bekantan hidung merah, kera hitam ( Hirangan ) dan burung-burung langka lainnya yang sudah jarang ditemukan wilayah lain.

Air sungai yang biru jernih menampakkan dasar sungai dengan aneka biotanya melahirkan imaji positif tentang alam yang kaya akan makna dan nilai filosofis kehidupan. Di desa sungai rutas terlihat para pengrajin anyaman purun bercengkrama sambil terus memilin anyaman membentuk aneka variasi kerajinan.


Sumber : Bidang Pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Dan Pariwisata Kabupaten Tapin.

KEGIATAN USAHA MEMBUAT TAJAU DI KUIN ALALAK UTARA BANJARMASIN

Ditengah kemajuan jaman yang terus berkembang ini, ditengah hiruk pikuk mesin industri yang dengan mudah memproduksi berbagai jenis barang kebutuhan rumah tangga, dari yang terbuat dari baja hingga terbuat dari plastik tahan banting jar...he, kegiatan usaha pembuatan tajau di sekitar daerah kuin Utara Pangeran mencoba bertahan. Ada keringat dan perjuangan berat di sana, dalam meniti hari-hari dengan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dengan teknik pembuatan tradisional walaupun bahan bakunya sedikit lebih modern, ada keterbatasan dari segi produksi dan kualitas yang dihasilkan.



RESEP KULINER WADAI GAGAUK KALIMANTAN SELATAN

Kalimantan Selatan yang merupakan daerah yang sangat subur, banyak tanaman buah tumbuh di daerah ini, salah satu tanaman yang banyak ditemukan dan tumbuh subur di daerah-daerah tertentu seperti tanah laut dan Kota Baru adalah Tanaman Kelapa. Buah kelapa banyak diolah menjadi berbagai ragam jenis makanan yang enak dan lezat. Salah satu makanan khas untuk kuliner dari bahan kelapa ini adalah kue-Wadai khas Kalimantan Gagauk.

Berikut ini adalah Resep untuk membuat kue khas Kuliner Kalimantan Selatan Gagauk ini;

Bahan Kue-wadai Gagauk :
  • 350 gram kelapa setengah tua, parut dengan posisi memanjang
  • 250 gram tepung ketan 
  • 150 gram gula merah diserut 
Cara membuat Kue-wadai Gagauk :
  1. Campur  tepung ketan dan kelapa, aduk rata.
  2. Setelah itu bungkus dengan daun pisang, masukkan gula merah ditengahnya, lalu bungkus seperti membungkus botok.
  3. Kukus selama 10 menit, angkat. Siap disajikan
Hidangkan dan nikmati bersama keluarga tercinta dalam acara piknik bersama.

Demikian resep kue-wadai Gagauk khas kuliner Kalimantan, semoga bermanfaat. terimakasih.




INILAH MISTERI PANGLIMA BURUNG DI TANAH KALIMANTAN YANG DI PERCAYAA JELMAAN BURUNG ENGGANG

Indoboreneonatural----Inilah Misteri Panglima Burung di Tanah Kalimantan yang di Percaya Jelmaan Burung Enggang. Pulau Kalimantan terkenal akan hutan tropisnya dan juga terkenal dengan orang dayak yang mendiaminya, orang juga mengenal akan kisah tentang Panglima Burungnya. Tokoh adat Kalimantan Panglima Burung mencuat saat tragedi konflik di Sampit dan Sambas, Kalimantan, pada 2001 silam. Dimana tragedi berdarah terjadi antara suku dayak dan madura, Panglima Burung diyakini menyatukan Suku Dayak se-Kalimantan dan memberinya kekuatan untuk menghadapi suku Madura.

Keturunan-Panglima-Burung

Banyak versi cerita tentang Panglima Burung. Dari cerita rakyat populer, terutama di Kalimantan, Panglima Burung adalah sosok gaib legendaris yang dipercayai sebagai tokoh pelindung dan pemersatu Suku Dayak.

Konon, dia menghuni gunung di pedalaman Kalimantan. Sebagian cerita menyebutkan Panglima Burung adalah jelmaan burung Enggang, burung yang dihormati di bumi Borneo.

Dalam kondisi tertentu, warga Dayak menggelar ritual tari perang untuk memanggil Panglima Burung. Sosok panglima memang diyakini sakti dan memberi kekuatan.

Cerita terkait yang sangat terkenal adalah tentang mandau terbang atau mandau yang bergerak sendiri mengincar lawan. Mandau adalah pedang khas Kalimantan. Panglima Burung dipercaya sebagai yang menggerakkan mandau terbang. Kekuatan Panglima Dayak ini sangat mengerikan. Ketika perang atau melawan musuh, dia dipercaya bisa menggerakkan senjata mandau. Mandau terbang sendiri dan mengincar lawan. 

Secara umum, Panglima Burung dinilai mencerminkan sosok dan karakter orang Dayak sesungguhnya. Karakter aslinya cinta damai, mengalah, suka menolong, sederhana, merawat alam dan warisan nenek moyang. kadang orang yang baru kenal menilai bahwa orang Dayak asli itu ramah sangat pemalu tetapi jangan sampai di ganggu. Karakter itu dapat berubah menjadi berani, beringas, dan kejam ketika terancam dan habis kesabaran melihat ketidak adilan untuk sukunya.


Dewasa ini suku Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan, dan Punan. Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-etnis.

Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami Pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak Punan dan kelompok Proto Melayu, moyang Dayak yang berasal dari Yunnan.

Terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari.


Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua/benua/binua/benuo. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang kepala adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda.

Suku Dayak menggenggam nilai-nilai tradisi nenek moyang, yang selalu menyatu dengan hutan dan alam. Dari sisi lain, suku Dayak juga identik dengan hal-hal yang beraroma dunia gaib, salah satunya kepercayaan akan sosok Panglima Burung yang dipercaya memiliki kesaktian dan kekuatan tingkat tinggi.

RESEP KULINER KUE TRADISIONAL SENTILING SINGKONG

Jalan-jalan wisata ke Indonesia tentu tidak akan lengkap jika tidak menikmati kue tradisional Sentiling singkong. Ada yang menyebutnya Sentiling singkong dan Cendil adalah termasuk salah satu kue tradisional nusantara, bahan untuk membuat sentiling singkong ini sangat sederhana dengan bahan utama singkong dan kelapa yang sangat mudah ditemukan. Cara membuat sentiling ini juga cukup mudah, cepat dan praktis. Sentiling dapat dibuat menarik dengan berwarna-warni sehingga anak-anak menyukainya, seperti berwarna merah, kuning dan hijau.

MENGENAL KEBUDAYAAN MELAYU DALAM KERANGKA ADAT ISTIADAT RAJA-RAJA

Seni_Melayu, tarian melayu, gadis melayu
Indonesia merupakan negara yang memiliki kemajemukan yang tinggi. Beragam jenis dan bentuk-bentuk kebudayaan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Secara umum kebudayaan ini merupakan bagian dari asimilasi dan akulturasi beragam budaya dari penduduk yang pernah singgah, menetap dan tinggal di datanah air kita. Salah satu kebudyaan yang berkembang dari proses di atas adalah kebudayaan melayu.Kebudayaan Melayu merupakan kebudayaan secara turun-temurun dilakukan oleh masyarakat. Budaya Melayu telah tumbuh subur dan kental di tengah-tengah masyarakat Indonesia. Kebudayaan Melayu merupakan salah satu pilar penopang kebudayaan nasional Indonesia khususnya, dan kebudayaan dunia umumnya, di samping aneka budaya lainnya (Isjoni, 2007: 41).  

Menurut Pengertiannya, istilah Melayu sendiri ternyata cukup mengandung banyak arti, baik itu sebgai bangsa, ras, bahasa atau kebudayan. Berikut dipaparkan beberapa pengertian tentang istilah melayu yang selama ini hanya diartikan sebatas sebuah ras.

Pengertian Melayu Secara Etimologi
Istilah Melayu ditafsirkan oleh UNESCO pada tahun 1972 sebagai suatu suku bangsa Melayu yang mendiami Semenanjung Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, dan Madagaskar. (Harun Aminurrrashid, 1966: 4-5; dalam wikipedia.org.my)

Istilah Melayu dipakai untuk merujuk kepada nama bangsa atau bahasa adalah suatu hal yang baru dalam sejarah. Pada awalnya istilah melayu hanya dipakai untuk merujuk kepada keturunan raja-raja Melayu dari Sumatera atau Malaka. Tetapi sejak abad ke-17 istilah melayu mulai dipakai untuk merujuk kepada suatu bangsa.

Penggunaan istilah Melayu muncul pertama kali sekitar 100-150 Masehi. Ptolemy, dalam bukunya yang berjudul Geographike Sintaxis, menggunakan istilah "maleu-kolon". G. E. Gerini menganggap istilah itu berasal dari perkataan Sanskrit, malayakom atau malaikurram, yaitu suatu tempat yang sekarang dikenal sebagai Tanjung Kuantan di

Semenanjung Malaysia. Sebaliknya, Roland Bradell menganggap tempat itu adalah Tanjung Penyabung. (Nik Safiah Karim dan Wan Malini Ahmad. 2006: 3-5; dalam wikipedia.org.my)

Istilah Malaya Dwipa muncul dalam kitab Purana, sebuah kitab Hindu purba, yang ditulis sebelum zaman Buddha Gautama sekitar abad ke-6 Masehi. Dwipa di sini bermaksudkan sebagai "tanah yang dikelilingi air" yang didefinisikan sebagai sebuah pulau dan berdasarkan catatan-catatan yang lain dalam kitab itu, para pengkaji beranggapan bahwa Malaya dwipa ialah Pulau Sumatera.

Istilah "Mo-lo-yeu" juga dicatat dalam manuskript Cina pada sekitar tahun 644-645 Masehi semasa zaman Dinasti Tang. Disana tertulis bahwa mo-lo-yeu mengirimkann utusan ke cina, membawa barang hasil bumi untuk dipersembahkan kepada kaisar. Para sejarahwan berpendapat bahwa perkataan Mo-lo-yeu yang dimaksudkan itu ialah kerajaan yang terletak di Jambi, atau daerah Sriwijaya yang terletak di daerah Palembang. (UU Hamidy, 2002: 9-10) Istilah Melayu mungkin berasal daripada nama sebuah anak sungai disekitar pantai timur sumatera yang bernama Sungai Melayu di hulu Sungai Batang Hari. Di sana terletak Kerajaan Melayu yang berdiri sebelum atau semasa berdirinya Kerajaan Sriwijaya (abad 6-7 masehi). Secara etimologis, istilah "Melayu" berasal dari perkataan Sanskrit "Malaya" yang berarti "bukit" atau tanah tinggi.

Istilah Melayu Menurut Cerita Rakyat

Burhanuddin elhulaimy dalam bukunya falsafah kebudayaan melayu, menuliskan bahwa istilah melayu berasal dari kata mala (mula) dan yu (negeri) yang berarti tanah yang pertama. Dalam cerita rakyat melayu, si kelambai, menyebutkan bahwa berbagai negeri, patung, gua, ukiran, dan sebagainya yang dihuni atau yang disentuh si kelambai akan mendapatkan keajaiban. Hal ini memberi petunjuk bahwa negeri yang pertama-tama didiami oleh orang melayu telam memiliki peradaban yang tinggi.

Secara etimologi, istilah "Melayu" berasal dari perkataan Sanskrit "Malaya" yang berarti "bukit" ataupun tanah tinggi. Disamping itu istilah melayu pun berarti hujan. Hal diatas sesuai dengan tanah-tanah orang melayu yang pada awalnya terletak diperbukitan, seperti tersebut dalam sejarah melayu, bukit siguntang mahameru. Negeri tersebut dikenal sebagai negeri yang bercurah hujan tinggi yang terletak antara Asia dan Australia. Dalam bahasa jawa, istilah melayu berarti lari atau berjalan cepat. Dikenal juga adanya sungai melayu yang terletak diantara Johor dan bangkahulu.

Dari semua pengertian diatas istilah melayu dapat diartikan sebagai sebuah negeri yang mula-mula didiami, berada di sekitar atau tepian sungai dan mendapat banyak hujan.

Karena adanya pencairan es di kutub utara yang menyebabkan banyak pulau dan daerah dataran rendah terendam air (dalam pengertian lain pencairan es kutub utara ini diartikan sebagai banjir pada masa nabi Nuh) masyarakat melayu yang semula mendiami wilayah sekitar sungai mengungsi ke tempat yang lebih tinggi (perbukitan) dan membuat sebuah negeri baru.

Istilah Melayu dalam Arti Sempit

Secara sempit istilah melayu merujuk kepada ras atau suku yang mendiami sebagian wilayah Asia Tenggara. Indonesia menafsirkan melayu sebagai salah satu suku dintara beratus-ratus suku yang ada. Menempati sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan.

Pemerintah malaysia mendefinisikan melayu sebagai sekumpulan orang yang beragama islam, mengunakan bahasa dan adat istiadat melayu, serta lahir di tanah malaysia atau singapura. Pemerintah malaysia mengakui bahwa hanya terdapat 25 suku yang dapat dikategorikan sebagai melayu, sebagian besar diantaranya mendiami semenajung malaysia, kepulauan riau, dan pantai timur sumatera. Malaysia mendefinisikan masyarakat melayu berasal dari keturunan prabu Parameswara beserta pengikutnya yang hizrah dari Palembang ke Malaka. (google.co.my)

Sementara itu bisa kita temukan dari beberapa peneliti Eropa dan Amerika yang menafsirkan dan mendefinisikan tentang melayu yang secara garis besarnya melayu sebagai masyarakat asli Nusantara.

Pengertian di atas dinilai sempit karena melayu pada hakikatnya merupakan suatu hal yang kompleks. Pengertian diatas tidak memasukkan melayu-melayu lain yang mendiami wilayah sekitar selatan Thailand yang nota bene beragama budha tetapi menggunakan budaya melayu, masyarakat sekitar Filipina yang beragama kristen yang juga berkebudayan melayu, atau masyarakat Malagasy di Madagaskar yang menggunakan bahasa dari rumpu austronesia.

Melayu tidak hanya sebatas masyarakat yang mendiami wilayah sekitar selat malaka dan beragama islam. Tetapi juga mereka juga yang berasal dari ras Austronesia dan menggunakan rumpun bahasa melayu polinesia.

Istlah Melayu dalam Arti Luas

Pengertian melayu pada hakikatnya merupakan suatu yang luas dan kompleks. Karena pada dasarnya melayu bangsa yang besar. Secara terminologis para pakar berpendapat berbeda tentng definisi melayu terkhusus pengertian melayu secara luas.

Muchtar Lutfi membagi pengertian “Melayu” dalam tiga pengertian. Pertama, Melayu dalam arti satu ras diantara ras-ras lain. Ras Melayu adalah ras yang berkulit cokelat. Ras Melayu ada­lah hasil campuran dari ras Mongol yang berkulit kuning, Dravida yang berkulit hitam, dan Aria yang berkulit putih. Kedua, Melayu dalam arti sebagai suku bangsa. Akibat perkembangan sejarah dan perubahan politik, ras Melayu sekarang terbagi dalam bebe­rapa negara, seperti Indonesia, Malaysia, Singapura,

Brunei Darussalam, Filipina dan Madagaskar. Dalam kesatuan bangsa masing-masing negara, Melayu tidak dipandang sebagai ras, tetapi sebagai suku bangsa. Ketiga, Melayu dalam pengertian suku atau etnis. (Pertanggung Jawaban Melayu Online, 2008: Melayu Online.com)

Tengku Luckman Sinar mendeskripsikan bahwa seseorang dianggap sebagai Melayu apabila telah memenuhi syarat sebagai orang Islam, berbicara bahasa Melayu, mempergunakan adat istiadat Melayu, dan memenuhi syarat menetap di tempat tertentu. Jadi, istilah Melayu adalah berdasarkan kultural.

Hasan Muarif Ambary berpendapat lain. Ia mengungkapkan bahwa pada awal masuknya Islam di Nusantara, sultan-sultan Melayu mengaitkan asal-usulnya dengan Iskandar Zulkarnaen (Alexander the Great). Hal ini diketahui dari prasasti makam-makam kuno yang bertulis huruf Arab di beberapa daerah di Nusantara. Pada makam-makam kuno di kota Ternate misalnya, memuat nama-nama Sultan Ternate, yang umumnya memakai gelar resmi yang selalu dipakai oleh para raja, yaitu Iskandar Qulainshah. Dengan demikian, raja-raja Ternate yang dari segi etnis tidak dikelompokkan sebagai raja-raja Melayu, sebenarnya memakai tradisi Melayu dengan mengaitkan nama diri pada Iskandar Zulkarnaen.

Berdasarkan beberapa pengertian Melayu yang dikemukakan oleh para ahli/pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa istilah Melayu dimaknai sebagai sebuah kultur. Bukan Melayu sebagai suku, etnis, atau entitas budaya dalam arti sempit lainnya. Artinya Melayu adalah setiap tempat, komunitas, kelompok masyarakat ataupun daerah di belahan dunia manapun yang masih atau pernah menjalankan tradisi Melayu.

Dengan kata lain, kebudayaan atau budaya Melayu yang melatarbelakangi ikatan warga masyarakat yang berlandaskan kenyataan sejarah sejak dahulu kala, tidaklah merupakan ikatan sempit berdasarkan darah keturunan (genealogis) ansich tetapi lebih pada suatu ikatan kultural (cultural bondage). Dengan demikian kata “Melayu” merujuk pada setiap masyarakat keturunan melayu, baik proto melayu, deutro melayu atau ras austronesia lainnya, penutur bahasa Melayu (tepatnya melayu polinesia) dan/atau mengamalkan adat resam budaya Melayu. Tradisi atau adat resam Melayu yang dijalankan/diberlakukan tersebut merupakan kepribadian orang Melayu yang dibentuk oleh adat istiadat Melayu yang terimplementasikan dalam cara berpikir, bersikap, dan bertingkah laku.

Menurut Isjoni (2007: 30), adat Melayu merupakan konsep yang menjelaskan satu keseluruhan cara hidup Melayu di alam Melayu. Orang Melayu di mana juga berada akan menyebut fenomena budaya mereka sebagai “ini adat kaum” masyarakat Melayu mengatur kehidupan mereka dengan adat agar setiap anggota adat hidup beradat, seperti adat alam, hukum adat, adat beraja, adat bernegeri, adat berkampung, adat memerintah, adat berlaki-bini, adat bercakap, dan sebagainya. Adat adalah fenomena keserumpunan yang mendasari kebudayaan Melayu. Dahulu Melayu merupakan kerajaan-kerajaan yang berada dikawasan Nusantara. Seorang raja harus memegang teguh adat Melayu dalam menjalakan kekuasaannya terhadap rakyatnya. Adat-adat Raja-raja Melayu di antaranya (Tardjan Hadidjaja dalam Isjoni, 2007: 31) menyatakan:
  1. Melayu diri, yaitu merendahkan diri, tiada mau membesarkan diri, baik dari segi adab-tertib, bahasa pertuturan, perjalanan, dan kedudukan.
  2. Tidak garang, yaitu berlemah lembut tidak berlebih-lebihan, tidak berkurangan.
  3. Orang yang majlis, yaitu pertengahan (sederhana) dalam perlakuan, perbuatan, perkataan, pakaian, dan perjalanannya.
  4. Adab pandai menyimpan diri, yaitu pandai mengawal kata-kata, penglihatan dan pandangan dari perkara yang keji.
Keempat adat tersebut sangat dijunjung oleh para raja dalam memerintah pada rakyatnya, sehingga ketika raja memerintah rakyat tetapi tidak memedulikan adat tersebut maka hancurlah kerajaan itu. Adat tersebut juga yang membawa orang Melayu ke dalam di tempat tertinggi. Ciri keunggulan inilah yang menjadikan Melayu itu Melayu. Akan tetapi ketika penjajahan datang, bangsa Melayu yang mempunyai adat seperti di atas, banyak dihina dengan kata-kata yang menyakitkan, seperti halnya karakter orang Melayu yang lemah lembut dan tolak unsur yang berlebih-lebihan adalah faktor menekan semangat keyakinan diri (Isjoni, 2007: 35).


Adat sangat dijunjung dalam kebudayaan Melayu di mana masyarakat Melayu sangat menjunjung adatnya untuk kehidupan dalam dunianya. Selain adat, bahasa juga menjadi kebudayaan yang melekat pada budaya Melayu. Hasil budaya bangsa Melayu yang terpenting adalah bahasa (Isjoni, 2007: 94). Bahasa Melayu hidup dilidah petah orang Melayu dalam hampir 40 dialek/logat. Diantaranya dialek Melayu Johor-Riau, yang menjadi cikal bakal bahasa Melayu. Bahasa Melayu digunakan secara cukup luas sebagai lingua franca. Indonesia yang merupakan Negara maritim dan agraris, menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa perdagangan antar daerah (dari Pasai, Minangkabau, Jawa, ke Sulawesi, Halmahera, dan Kepala Burung Papua). Pada masa awal kemerdekaan menjadi alat pemersatu dan pembentuk kesadaran bangsa, maka setelah proklamasi ia dijelmakan, menjadi bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dan bahasa kebangsaan. Bahasa Melayu telah menjadi alat perekat kebangsaan Indonesia, serta telah membawa bangsa Indonesia sebagai bangsa modern.

Selain adat, bahasa, yang keberikutnya adalah agama. Kebudayaan yang melekat erat dan kental pada diri orang Melayu adalah budaya Melayu Islam. Ajaran Islam yang datang ketanah-tanah melayu adalah dengan membawa kehalusan karena Islam dalam berdakwah tidak pernah dengan kekerasan, islam mengajarkan kelembutan untuk umatnya. Sebelum Islam masuk kebudayaan orang melayu adalah kebudayaan tempatan dan Hindu. Sebelum Islam masuk budaya Melayu berfikir secara mitos. Setelah Islam masuk orang Melayu mulai rasional dalam berfikir. Masyarakat melayu lebih bersifat longgar dan terbuka menerima unsur baru datang dari luar (Islam). Sehingga nilai-nilai Islami itu merasuk ke dalam jiwa dan teraktualisasi dalam tindakan sehari-hari sehingga melahirkan suatu akulturasi. Agama Islam mempunyai pengaruh yang utama dibandingkan adat istiadat.

Agama merupakan supra system adat. Ketentuan-ketentuan dalam adat bisa saja gugur jika tidak mendapat dukungan dari agama. Jadi dapat dikatakan hubungan antara Islam dengan Melayu bagaikan dua muka mata yang tidak dapat dipisahkan (Isjoni, 2007:63). Selain itu dengan Islam orang Melayu yang mendasarkan budayanya dengan teras Islam selalu memandang bekerja merupakan ibadah, kewajiban, dan tanggung jawab (Isjoni, 2007: 72). Oleh karenanya ketentuan yang ada dalam adat suatu pekerjaan mereka lakukan dengan penuh tanggung jawab karena semua itu merupakan ibadah.

Selain itu menurut Elvian, kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kota Pangkal Pinang (Oktober 2009) mengatakan bahwa Melayu adalah salah satu suku bangsa yang merupakan bagian dari masyarakat Indonesia yang majemuk. Seorang Melayu adalah seseorang yang beragama Islam, berbahasa Melayu, beradat Melayu dan mengakui Melayu. Kemudian istilah Melayu yang dipakai di Bangka Belitung mempunyai beberapa penafsiran antara lain pertama, merujuk pada mereka yang beragama Islam.

Dengan penggunaan rujukan ini maka “siapa saja” yang beragama Islam dapat digolongkan sebagai orang Melayu. Di Bangka setiap orang yang masuk Islam dan bersunat atau berkhitan disebut dengan masuk Melayu. Selanjutnya di Bangka ada orang Mapur (suku terasing) yang sudah masuk Islam digolongkan sebagai orang Melayu (sedangkan yang tidak beragama Islam menyandang sebutan orang Lom, yang bermakna ”Lom (belum) masuk Islam”. Tentu saja dengan rujukan ini orang Cina yang masuk Islam, secara ringan hati diterima di masyarakat sebagai orang Melayu (walaupun pada awalnya kebanyakan pekerja parit dari Cina kawin dengan perempuan Melayu).

Jadi dapat disimpulkan bahwa kebudayaan Melayu merupakan kebudayaan yang melekat pada bangsa sejak dulu dan merupakan kebudayaan nusantara, serta yang paling dominan dalam kebudayan Melayu adalah persamaan agama, selain itu adat dan bahasa juga Melayu.

Masyarakat Melayu mempunyai adat (adat raja) yang turun temurun didasarkan pada jiwanya menjadikan masyarakat yang salah mengartikan adat tersebut menjadi pemalas dan puas dengan hasil yang telah diterimanya, Oleh karenanya masyarakat Melayu menjadi “kesepian” dan “keterasingan”. Padahal belajar dari adat tersebut sangatlah baik jika diterapkan dan menyaring diri dengan adat tersebut. Dari tiga wujud kebudayaan tersebut akan memudahkan orang-orang Melayu memahami sepenuhnya apa yang sesungguhnya perlu dipelihara dari aspek budayanya.

Demikian sekilas tentang kebudayaan melayu, semoga bermanfaat. Terimakasih.

Source : Dirangkum dari berbagai sumber. dengan penambahan dan perubahan seperlunya.!!
Gambar : Google.

Cari Artikel