TRADISI UNIK SUGUHAN KUE WADAI 41 MACAM JENIS WADAI BANJAR KALSEL

 Indoborneonatural-blog---Propinsi kalimantan Selatan yang terkenal dengan budaya dan tradisi masyarakat Banjar memiliki beragam tradisi dan keunikan budaya lokal dari segi makanan dan kuliner khas daerah banjar. Salah satunya adalah tradisi suguhan  menyajikan kue atau wadai sebanyak 41 macam dan jenis wadai.


Menyajikan wadai 41 macam adalah salah satu tradisinya Urang Banjar, sudah ada sejak lama, berdasarkan cerita sejarahnya diturunkan sejak zaman kesultanan Banjar pada abad ke-enam belas 16.


WADAI 41 MACAM JENIS WADAI BANJAR KALSEL


Istilah untuk wadai 41 ini merupakan sebutan untuk 41 macam macam kue basah khas daerah Kalimantan Selatan yang terkenal dengan banua limanya. Kue atau wadai khas banjar ini disajikan sekaligus dalam satu waktu tertentu dengan jumlah kue wadai 41 atau lebih. Wadai 41 macam ini biasanya disajikan saat moment-moment khusus. Kue wadai banjar ini bukan hanya untuk dimakan atau mengisi perut dalam acara khusus, tetapi disajikan juga dengan maksud dan makna khusus ritual kepercayaan masyarakat banjar.


Salah satu tujuan dan makna penting disajikannya wadai 41 macam ini adalah sebagai wujud syukur dalam merayakan momen tertentu, juga sebagai pelengkap ritual budaya. Seperti upacara adat,


Sebagai wujud syukur dalam merayakan momen tertentu, juga sebagai pelengkap ritual budaya. Seperti upacara adat, pernikahan, tujuh bulanan dan mandi-mandi. Angka 41 dalam penamaan tradisi ini sendiri memiliki beragam versi penjelasan. Dalam keseharian orang Banjar, 41 merupakan angka yang sakral, sama halnya seperti hari ke-41.


Selain itu, ada pula yang menafsirkan bahwa jumlah wadai yang lazim disajikan dalam perayaan orang Banjar memang berjumlah 41 jenis. "Dan tradisi itu yang turun-temurun dilakukan hingga sekarang," tambah Masni.

Jenis 41 macam wadai tersebut meliputi bingka, bingka berandam, kararaban, kikicak, bulungan hayam, kelalapon, cingkarok batu, wajik, apam, undi undi, untuk untuk, sarimuka, wadai balapis, cincin, cucur, lamang, gagatas, gaguduh, dan ronde.


Lalu ilat sapi, garigit, sasagun, lupis, pais pisang, hintalu karuang, wadai satu, gincil, katupat balamak, bubur sagu, serabi, putri selat, patah, pais sagu, pais waluh, dadar gulung, agar agar habang, wadai gayam, amparan tatak, pundut dan ipau.

WADAI 41 MACAM JENIS WADAI BANJAR KALSEL


Banyak di antara jenis kue basah tersebut masih bisa dijumpai di pasar-pasar tradisional. Namun, sekali lagi penyajian komplet untuk 41 jenis kue ini hanya ada pada momen tertentu saja.

Keanekaragaraman jenis wadai ini juga menggambarkan kekayaan tradisi kuliner masyarakat Banjar. Adapun bahan dan pengolahan kue tersebut tidak sekadarnya.


"Selain mengenalkan ragam kuliner Banjar, 41 macam wadai ini juga tidak diolah sembarangan, biasanya ada aturan khusus atau pantangannya," ujar Masni.


Salah satu yang paling melekat yakni pantangan mengolah kue jika sedang masa haid. Karena pembuatan wadai 41 adalah momen yang sakral dan harus dibuat dalam keadaan yang prima.


"Jadi yang sedang datang bulan atau berpuasa tidak boleh ikut memegang atau mengolah," tambahnya.

Selain itu, wadai 41 macam juga terdiri dari berbagai varian warna. Masing-masing disebut mengandung makna filosofis yang erat dengan nilai-nilai dan tatanan budaya kehidupan orang Banjar kalimantan Selatan.


Wadai berwarna putih seperti getas dan kentan menggambarkan kebaikan, sementara merah menggambarkan keberanian. Kemudian hijau melambangkan kemakmuran dan kuning merupakan lambang kejayaan atau kemuliaan. 


Demikian Artikel singkat Indoborneonatural-blog tentang teradisi Banjar, wadai 41 macam dari Kalimantan selatan. Semoga bermanfaat.

Orang Bali Asli dan Sejarahnya

      Indoborneonatural-- Penulis jalan-jalan ke Bali kebetulan ketemu teman lama asli orang bali, maka foto-foto sedikit. Inilah Foto orang bali asli. Foto Orang Bali Asli tanpa Editan.

Foto Asli Orang Bali Tanpa Editan
Hal yang utama tentang orang bali yang juga penulis rasakan langsung, orang Bali dikenal dengan keramahannya, sehingga banyak turis senang ketika berada di Bali. Orang Bali juga erat dengan seni, bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. "Orang Bali itu memang manusianya seni, hidupnya seni, sehingga lekat dengan kesenian.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa suku asli Bali ialah suku Aga yakni salah satu subsuku bangsa Bali yang bermukim di Desa Trunyan. Masyarakat Bali Aga dianggap sebagai orang gunung yang bodoh.

Karena masyarakatnya tinggal di pegunungan yang sangat terpencil dan pedalaman sekali serta belum terjamah oleh teknologi sama sekali.


 Suku Asli Bali

Penduduk asli suku Bali Aga ini bermukim di pegunungan karena masyarakatnya menutup diri dari pendatang yang mereka sebut dengan Bali Hindu, yakni penduduk keturunan Majapahit. Selain itu, masyarakatnya juga menganggap bahwa daerah di pegunungan ialah tempat suci karena daerah tersebut banyak sekali puri dan kuil yang dianggap suci oleh masyarakat Bali.

 Suku Bali (Bali: ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ, translit. anak Bali, wong Bali, atau krama Bali) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada kurang lebih 3,9 juta orang Bali di Indonesia.[1] Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan daerah penempatan transmigrasi asal Bali lainnya. (wikipedia.org)

Selain suku Aga yang ada di Bali, ada pula suku Bali Majapahit. Suku ini berasal dari pendatang Jawa yang sebagian besar tinggal di Pulau Bali khususnya berada di dataran rendah.

Masyarakat suku Bali ini berasal dari masyarakat Jawa pada kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu. Mata pencaharian dari masyarakat suku ini ialah bercocok tanam. Suku ini juga menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.
Suku Bali (Bali: ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ, translit. anak Bali, wong Bali, atau krama Bali) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada kurang lebih 3,9 juta orang Bali di Indonesia.[1] Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan daerah penempatan transmigrasi asal Bali lainnya.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali


Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya

Indoborneonatural-Blog---Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan.


Bagi sebagian masyarakat Suku Banjar yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, mitos tentang buaya siluman (buaya gaib) masih cukup kental dan berkembang secara turun temurun. Bahkan tradisi Manyampir Buhaya atau memberi makan buaya siluman yang berasal dari Kabupaten Tabalong ini kini tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) asal Kalsel di Kemendikbudristek pada 2021.


Salah satu mitos yang ada di tengah masyarakat banjar, khususnya di Kabupaten Tabalong adalah manyampir buhaya," ungkap Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong Sulaiman Fauzi.

Manyampir buhaya adalah ritual memberi makan buaya siluman (gaib). Ritual ini secara rutin dan wajib dilaksanakan tiap tahun. Bahkan jika ada hajat tertentu bisa dilaksanakan lebih dari satu kali.


Tradisi manyampir buhaya berhubungan dengan ilmu kesaktian para leluhur. Sedangkan yang memberi makan buaya gaib ini adalah para pewaris atau keturunan, Datu Buaya semacam perjanjian dimana buaya-buaya tersebut harus diberi makanan tertentu dan biasanya pada bulan Muharam dan Dzulhijjah (Safar) atau di waktu-waktu tertentu seperti perkawinan sehabis panen, habis melahirkan, atau hajat penting lainnya.


Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan



"Minimal setahun sekali. Jika tidak, maka buaya-buaya itu bisa meminta korban, atau membuat salah satu ahli waris buaya tersebut kesurupan (kerasukan makhluk gaib), atau mengalami hal-hal yang bersifat metafisik, seperti sakit yang tidak jelas penyebabnya,".


Orang yang bersahabat dengan makhluk gaib ini, maka anak cucunya harus memelihara buaya yang menjadi sahabat orangtuanya dulu secara turun temurun. Kepercayaan masyarakat ini sudah ada sejak berdirinya kerajaan Banjar abad 16 dan masih ada hingga sekarang. Masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan buaya tersebut biasanya manyampir (memberi sesajen) yang dilarung ke sungai.


Kasi Kesenian Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan Sunjaya mengatakan asal-usul buaya gaib dalam mitologi masyarakat Banjar itu, ada tiga versi yaitu: sebagai wujud Putri Junjung Buih. Dari asal-usul penemuan Putri Junjung Buih yang aneh mengapung di atas buih, maka dianggap bahwa sang putri adalah titisan buaya gaib.Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada


Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada seorang ibu yang hamil dan melahirkan bayi kembar dua. Namun sesaat kemudian, salah satu dari bayi itu menghilang secara misterius. Bayi yang menghilang itu dalam bahasa banjar disebut 'Gampiran' yakni saudara kembar yang gaib.


Bayi kembar gaib ini dipercaya akibat sang ayah melakukan suatu ritual, yang umumnya untuk kekebalan atau kesaktian. Jika suatu waktu si ayah atau keturunannya mengalami suatu bahaya, maka dengan memanggil si anak yang gaib itu, ia akan datang untuk menolongnya.Mitos lainnya adalah Sahabat Gaib Hasil Bertapa. Buaya siluman itu ada pula yang menganggapnya sebagai sahabat gaib hasil bertapa. Sahabat gaib itu bisa datang secara langsung, atau melalui anak kembar yang lahir menghilang secara misterius. Namun sahabat gaib yang datang secara langsung ini bisa melalui 'menelan sesuatu' seperti minyak gaib atau memberikan sesajen kepada siluman yang menemuinya saat bertapa.

BUDAYA DAN TRADISI DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH

Indoborneonatural-----Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Suku ngaju merupakan sub etnis dayak terbesar di Kalimantan tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah kalimantan tengah dapat ditemui suku Ngaju. 

Gadis dayak ngaju menari
 Foto Gadis Dayak Ngaju. Gambar : kahanjakhuang.or.id

Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Ngaju berarti udik. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut Hikayat Banjar, Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Besar dan Orang Biaju Kecil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak. Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju.

Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju, yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai. Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. 

Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).

Dilansir dari Pesona indonnesia.com,Konon, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 – 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.


Kepercayaan Kaharingan

Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.


Upacara Tiwah

Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga.


Tradisi Tato

Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya,

Tradisi bertato/tutang/cacah, orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.


Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang

Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang menggunakan corak dan warna yang khusus, didominasi warna merah dan kuning. 


Burung Enggang Gading adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung Enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.

Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.


Hukum Adat dan Keselarasan Alam

Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati.

Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar.

Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.

KEBUDAYAAN MINANGKABAU YANG UNIK DAN MENARIK SEPANJANG MASA

Indoborneonatural----Seperti kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara dengan aneka ragam suku bangsa. Nusantara ini kaya dengan berbagai ragam seni dan budaya dari berbagai suku-bangsa yang tersebar diseluruh tanah air. Kebudayaan ini banyak yang unik dan menarik untuk kita lihat dan pelajari, salah satunya adalah kebudayaan Minangkabau yang sudah terkenal hingga kemanca negara. Berikut inilah ulasan tentang kebudayaan Minangkabau tersebut :

Pengertian

Minangkabau atau disingkat Minang (bahasa Melayu: Minang atau Minangkabau; Jawi: ميناڠكاباو) merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas agama Islam. Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatra Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.[3] Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang. Hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat, yaitu Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak yang dimaksudkan sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Minangkabau atau biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis asli Nusantara yang wilayah persebaran kebudayaannya meliputi kawasan yang kini masuk ke dalam provinsi Sumatra Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pesisir barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat yaitu Padang. Akan tetapi, masyarakat ini biasanya menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yang bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki serta menganut sistem adat yang khas. Masyarakat ini telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan tradisi musyawarah dan adanya kerapatan adat untuk menentukan permasalahan hukum ataupun hal-hal penting lainnya. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an), yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam. Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia walaupun budayanya sendiri sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. (Sumber: id.wikipedia.org).

Bagi masyarakat Indonesia ikon suku Minang yang populer adalah jam Gadang, rumah Gadang, atau masakan Minang yang lebih biasa disebut sebagai masakan Padang. Selain hal-hal yang sudah populer tersebut, ternyata suku Minang masih menyimpan banyak hal yang tidak kalah unik dan menarik. Kebudayaan suku Minangkabau memiliki ciri khas yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan kebudayaan Nanggroe Aceh, kebudayaan Batak atau suku lain yang ada di pulau Sumatera.

Gambar/Foto: Harianhaluan.com

Meskipun demikian, tradisi dan kebudayaan Suku Minangkabau yang berkembang hari ini merupakan hasil dari sebuah revolusi budaya. Revolusi budaya pada masyarakat suku Minang terjadi pasca terjadinya perang Padri pada tahun 1837. Pada awal mulanya, masyarakat Minang menganut kebudayaan yang bercorak animisme dan dinamisme. Namun, semenjak para pedagang dari Timur Tengah mulai memasuki wilayah Sumatera, sejak saat itu budaya Minang banyak dipengaruhi oleh nilai Islam. Puncaknya, pada abad 19 setelah perang Padri berakhir dibuatlah sebuah adagium adat yang akhirnya merombak keseluruhan tradisi suku Minang. 

Filosofis Adat

Sejarah adagium atau kesepakatan perjanjian di buat di Bukit Marapalam yang menghadirkan para alim ulama, tokoh adat tradisional serta para cerdik pandai (cendekiawan). Mereka membangun kesepakatan bahwa semenjak saat itu maka adat budaya Minang didasarkan pada syariat Islam. Isi kesepakatan dituangkan dalam kalimat kesepakatan yang berbunyi “Adat basandi syarak (adat bersendi syariat), syarak basandi kitabullah (syariat bersendi kitab Allah). Syarak mangato adat mamakai (syariat melandasi adat)” .Maknanya bahwa adat Minang bersendikan syariat, dan syariat bersendikan kitab Al Quran. Maka sejak saat itu pondasi budaya Minang dibangun diatas pilar agama Islam.

Namun, jauh ke belakang sebelum terjadinya puncak kesepakatan tersebut, suku Minang mengalami beberapa fase perombakan pondasi adat, yaitu :
  1. Adat basandi alua jo patuik dan syarak basandi dalil. Pada fase ini masyarakat Minang menjalankan adat dan syariat secara berbeda. Adat dan syariat memiliki rel-nya masing-masing tanpa saling mengganggu. Agama bagi masyarakat Minang hanya sekadar ibadah saja, sedangkan dalam sistem sosial mereka menggunakan adat tradisional.
  2. Adat basandi syarak dan syarak basandi adat. Pada fase ini masyarakat Minang mulai mengintegrasikan dan menyandingkan antara adat dan syariat. Dalam penataan sistem sosial, syariat agama mulai dijadikan salah satu sumber membangun aturan dan syariat tidak lagi hanya sekadar ibadah saja.
  3. Adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat mamakai. Ini adalah puncak pengintegrasian syariat Islam dengan nilai adat. Hal ini sebagaimana kesepakatan yang dilakukan di Bukit Marapalam. Dengan ini, adat Minang melebur pada syariat Islam.


Adat Matrilineal

Meskipun sudah menjadikan Islam sebagai landasan adat. Namun adat matrilineal masih sangat dipegang teguh oleh suku Minang. Adat matrilineal ini menyandarkan segala garis keturunan pada ibu (pihak perempuan). Hal ini tentu berbeda dengan Islam yang lebih menyandarkan garis keturunannya pada sang ayah (pihak laki-laki). Akibat dari adat matrilinel ini sistem pewarisan dan pengaturan kerumahtanggaan pun juga kemudian lebih berat pada sisi perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa konsekuensi dari budaya matrilineal ini pada masyarakat dan suku Minangkabau diantaranya :
  1. Keturunan didasarkan pada garis keturunan ibu, sehingga seorang anak akan dimasukkan kedalam suku yang sama dengan suku ibunya berasal
  2. Seorang laki-laki Minang tidak dapat mewarisi sukunya, sehingga bila terdapat suku yang tidak memiliki anak perempuan dalam sukunya maka suku tersebut sudah dianggap sama dengan punah.
  3. Setiap orang harus menikah dengan orang diluar sukunya, bila tidak maka ia akan dikenai sanksi dengan dikucilkan.
  4. Perempuan merupakan pemegang seluruh kekayaan keluarga dan seluruh harta pusaka keluarga, namun dalam hal penentuan keputusan, laki-laki masih memiliki hak mengambil putusan.
  5. Dalam hal perkawinan menganut sistem matrilokal yakni suami mengunjungi rumah istrinya
  6. Hak-hak pusaka diwariskan kepada anak perempuan.


Budaya Merantau

Merantau merupakan kebiasaan yang selalu dijalankan oleh laki-laki dari suku Minang. Kebudayaan suku Minangkabau untuk merantau adalah akibat dari adanya adat matrilineal, maka pada dasarnya laki-laki suku Minang tidak memiliki modal harta sama sekali. Oleh sebab itu, kebanyakan laki-laki Minang ketika sudah dewasa selalu pergi dari kampungnya untuk pergi merantau. Tujuannya adalah untuk bekerja dan mencari harta kekayaan.

Merantau juga merupakan bagian konsekuensi dari tuntutan laki-laki Minang untuk mencari pasangan yang diluar dari sukunya. Dengan merantau ini maka laki-laki Minang bisa berpotensi untuk mengenal perempuan dari suku lain. Pada awal mulanya makna merantau sendiri adalah pergi keluar dari suku dan bergaul sosial dengan suku lain yang masih dalam etnis Minang. Namun dalam perkembangannya merantau kemudian menjadi kebiasaan untuk keluar dari tanah kelahiran dan bermata pencaharian di tanah lain.

Oleh sebab itu, bila kita melihat pada kehidupan hari ini, banyak sekali orang-orang Minang yang mendiami kota-kota besar di tanah Jawa. Biasanya mereka membuka berbagai macam bentuk usaha sebagai mata pencaharian. Dan usaha yang paling banyak biasanya adalah dengan membuka restaurant atau rumah makan Padang.

Pelajari juga kebudayaan suku di daerah lain pada artikel : Kebudayaan Lampung, Kebudayaan Sumatera Selatan, Kebudayaan Papua, Kebudayaan Nusa Tenggara Timur.


Adat Pernikahan

Dalam melangsungkan pernikahan, orang suku Minang harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :
  1. Kedua calon harus sama-sama beragama Islam
  2. Kedua calon tidak berasal dari suku yang sama
  3. Kedua calon dapat saling menghormati dan menghargai orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak
  4. Calon suami telah memiliki sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Setelah itu, bila semua syarat sudah terpenuhi maka terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh suku Minang, diantaranya :

Maresek

Pada tahap ini pihak keluarga wanita akan mendatangi pihak keluarga pria dengan membawa sejumlah buah tangan. Tujuan dari Maresek adalah pihak keluarga wanita akan mencari tahu kecocokan calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita.


Maminang/ Batimbang Tando

Pada tahap ini keluarga wanita akan mendatangi calon keluarga pria untuk meminang. Bila dalam proses peminangan ini pihak pria menerima, maka akan diteruskan dengan tahap Batimbang Tando sebagai simbol perjanjian dan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kedua keluarga akan saling menukarkan benda-benda pusaka yang dimilikinya, seperti keris, kain adat atau barang-barang lain yang dianggap berharga oleh keluarga.


Mahanta Siriah

Calon mempelai pria dan calon mempelai wanita akan mengabarkan kabar pernikahan kepada para mamak (sebutan untuk laki-laki tertua dalam keluarga) dan seluruh kerabat keluarga. Proses mahanta Siriah ini biasanya dilakukan dengan tradisi membawa tembakau untuk calon mempelai pria dan sementara untuk calon mempelai wanita dengan membawa sirih lengkap. Biasanya keluarga yang didatangi akan ikut membantu pembiayaan pernikahan.


Babako-babaki

Bako adalah sebutan bagi pihak keluarga ayah dari calon mempelai wanita. Tradisi ini biasa dilangsungkan beberapa hari sebelum akad nikah. Calon mempelai wanita akan dijemput oleh keluarga ayah dan dibawa kerumah. Kemudian para tetua dan sesepuh akan memberikan nasihat. Keesokan harinya, calon wanita akan diantarkan pulang kembali dengan membawa beberapa barang pemberian seperti seperangkat busana, perhiasan emas, maupun beberapa bahan pangan baik yang sudah matang atau masih mentah.


Malam Bainai

Kegiatan ini dilakukan pada malam akad nikah berlangsung. Tradisi ini berupa memandikan calon mempelai wanita dengan air kembang sebagai simbol membersihkan diri. Setelah itu, calon mempelai wanita akan dihias kuku dan tangannya dengan daun pacar sebagai simbol keindahan.


Manjapuik Marapulai

Prosesi ini merupakan puncak tradisi dimana calon mempelai pria akan dijemput untuk diantar ke rumah calon mempelai wanita. Akad nikah akan dilangsungkan di rumah calon mempelai wanita. Keluarga calon mempelai wanita yang datang menjemput membawa perlengkapan lengkap seperti pakaian pengantin pria lengkap, sirih, nasi dan lauk dan beberapa hantaran lain. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, maka mempelai pria akan langsung diarak menuju rumah calon mempelai wanita.


Penyambutan di rumah anak Daro

Sesampainya calon mempelai pria dirumah calon mempelai wanita, maka calon mempelai pria akan disambut dengan meriah. Terdapat beberapa pemuda berpakaian silat (baca juga : silat harimau minangkabau dan asal usul pencak silat) yang akan menyambut dengan tari gelombang adat timbal balik yang diiringi musik khas Minang. Tari gelombang adat timbal balik ini adalah khas untuk menyambut mempelai pria (baca juga : tarian tradisional Indonesia dan tarian tradisional sumatera barat).

Selanjutnya terdapat para dara yang akan menyambut dengan perlengkapan sirih. Para sesepuh wanita kemudian menaburi calon mempelai pria dengan beras kuning. Kemudian kaki calon mempelai pria akan dibasuh dengan air sebagai simbol pensucian sebelum menuju ke tempat akan nikah.


Prosesi akad Nikah

Akad nikah dilakukan sesuai dengan syariat Islam dengan didahului pembacaan ayat Al Quran. Setelah itu dilakukan ijab qabul yang disaksikan oleh para saksi. Kemudian ditutup dengan do’a dan nasihat dari para tetua.

Basandiang di Pelaminan

Kedua mempelai akan bersanding di rumah anak Daro (mempelai wanita). Kedua mempelai kemudian duduk bersandingan untuk menerima para tamu yang hadir dan biasanya terdapat hiburan musik di halaman rumah untuk memeriahkan acara.


Tradisi Pasca Akad Nikah

Setelah akad nikah selesai, terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh Suku Minang, diantaranya :

Mamulangkan Tando, mengembalikan tanda yang dipertukarkan pada tahap Maminang.
Malewakan Gala Marapulai, yakni memberikan nama dan gelar baru bagi pengantin pria sebagai simbol kedewasaan.

Balantuang Kaniang, menyentuhkan kening kedua pengantin pria dan wanita.
Mangaruak Nasi Kuniang, tradisi berebut daging ayam yang disembunyikan di dalam nasi kuning. Dilakukan oleh kedua pengantin sebagai simbol kerjasama antara suami dan istri.

Bamain Coki, melakukan permainan tradisional Minang semacam catur sebagai simbol mempererat kekeluargaan.



Pelajari juga adat istiadat suku lain pada artikel : Kebudayaan suku batak, kebudayaan suku banjar, kebudayaan suku dayak.


Harta Pusaka Tinggi

Yang dimaksud harta pusaka tinggi adalah harta pusaka yang dimiliki oleh satu kaum atau suku. Bukan harta yang bersifat personal atau pribadi. Biasanya berupa tanah atau barang yang memiliki nilai jual tinggi. Harta pusaka tinggi hanya bisa dimanfaatkan dan tidak boleh diperjual belikan. Harta ini diturunkan secara turun temurun (waris) kepada anak perempuan dalam suatu suku atau keluarga besar. Kaum laki-laki tidak memiliki hak terhadap harta pusaka ini.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kondisi dimana dalam hukum adat Minang, harta pusaka tinggi boleh untuk digadaikan. Penggadaian harta pusaka tinggi harus disebabkan oleh salah satu dari beberapa alasan yang diperbolehkan untuk penggadaian, yaitu :
  1. Maik Tabuju Ateh Rumah (mayat terbujur diatas rumah), tidak adanya biaya untuk mengurus jenazah keluarga yang meninggal.
  2. Gadih atau Rando indak balaki (gadis atau janda tidak bersuami), seorang wanita yang tidak memiliki seorang suami bagi suku Minang adalah sebuah aib. Oleh karenanya, apabila terdapat seorang gadis yang sudah berumur namun belum bersuami atau seorang janda yang tidak bersuami, maka diperbolehkan menggunakan harta pusaka yang tergadai untuk membayar laki-laki yang mau menikahinya.
  3. Rumah Gadang katirisan (Rumah Gadang mengalami kerusakan). Apabila rumah gadang yang ditempati mengalami rusak berat, maka diperbolehkan menggadaikan untuk melakukan perbaikan rumah agar rumah tidak runtuh/roboh.
  4. Mambangkik batang tarandam, apabila sebuah suku tidak memiliki penghulu adat, maka diwajibkan untuk melakukan upacara pengangkatan penghulu adat yang pembiayaannya dari penggadaian harta pusaka.


Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik

Minangkabau merupakan salah satu suku yang ada di Nusantara yang lebih terkenal dengan nama suku minang. Suku ini dikenal sebagai suku yang mewakili daerah Sumatera Barat. Padahal aslinya, suku minang ini mewakili daerah Sumatera Barat, pantai barat Sumatera Utara, sebagian daerah Riau dan Negeri Sembilan yang ada di Malaysia. Suku ini sangat terkenal karena berbagai kebudayaan minangkabau yang menarik. Inilah uraian dan pembahasan tentang Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik tersebut :


Bahasa Minangkabau

Bahasa minangkabau dikatakan sebagai bahasa mandiri atau bahasa yang dimiliki daerah tersebut dan bukan diambil dari bahasa lainnya. Namun, ada yang bilang bahwa bahasa minangkabau sama dengan bahasa melayu. Hal ini terjadi karena banyaknya kemiripan antara bahasa melayu dan bahasa minangkabau. Bahasa minangkabau cukup mudah dikuasai dan banyak yang menguasainya.


Kepercayaan Suku Minangkabau

Suku minangkabau menganut agama islam dan kepercayaan islam yang bisa dikatakan taat. Bagi para suku minangkabau tidak ada kepercayaan lain seperti halnya percaya pada benda dan hal-hal tidak masuk akal. Upacara yang dilaksanakan pun berkaitan dengan agama islam, seperti perayaan idul fitri dan adha ataupun pernikahan yang bersifat islami.

Strata masyarakat di Suku Minangkabau 

Suku minangkabau menerapkan sistem strata untuk masyarakatnya. Sistem ini penting untuk menggolongkan masyarakat dan mengatur jalannya pernikahan, adapun golongannya yaitu :
  1. Kamanakan Tali pariuk adalah golongan pertama yang bersifat bangsawan dan memiliki gelar bangsawan. kamanakan tali pariuk dianggap keturunan langsung dari urang asa.
  2. Kamanakan tali budi adalah golongan para pendatang atau perantau yang sama kaya dan suksesnya dengan suku minang. sehingga bisa dianggap seperti sama dengan keturunan dari urang asa.
  3. Kamanakan tali ameh adalah golongan orang biasa dan sifatnya pendatang.
  4. Kamanakan bawah lutuik adalah orang yang biasa menghamba kepada orang asa.


Selain itu ada 3 golongan yang dibuat oleh suku minangkabau, diantaranya :

1. Golongan bangsawan 

Golongan bangsawan adalah golongan yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mendapat kemudahan bagi setiap urusan. Seperti bangsawan yang memberikan mahar atau bayaran tinggi ketika menikah. namun golongan wanita bangsawan harus menikah dengan sesama golongan bangsawan.

2. Golongan biasa 

Golongan biasa golongan ini tidak termasuk golongan bangsawan, namun  bisa dikatakan mereka bisa hidup seperti biasa seperti membeli tanah dan rumah, walaupun tidak ada hubungan dengan orang suku minang.

3. Golongan rendah

Golongan rendah golongan ini tidak diizinkan untuk membeli tanah dan rumah, mereka dianggap datang dengan jalan menghamba atau sebagai budak ketika datang ke daerah suku minangkabau.


Kesenian Suku Minangkabau

Adapun keseniannya yang sangat terkenal, diantaranya :

1. Dengan diiringi lagu salempong tarian pertama yang terkenal adalah tari piring. Tarian ini unik karena menggunakan piring yang ada ditangan sambil menari, kesulitannya adalah menahan piring dan mencari kestabilan agar tidak pecah atau jatuh.

2. Silek biasa disebut silat minangkabau. Ahli bela diri ini sudah ada sejak jaman dahulu dan dijadikan sebagai budaya yang penting bagi masyarakat suku minangkabau.

3. Randai merupakan penampilan yang dilengkapi dengan skenario antara silek atau silat dengan tarian layaknya teater. Randai ini juga dilengkapi dengan nyanyian yang mengiringi atau biasa disebut musik sijobang. Randai merupakan kesenian yang sangat unik dari minang kabau.

4. Seni berkata, seni ini cukup unik. jika di sunda ada pupuh maka di suku minang ada seni bersilat lidah yang mengedepankan sindiran, nasihat dan kata-kata bijak. Seni ini sangat penting dan bermakna sehingga suku minang bertahan dan menjadikannya sebuah budaya.

5. Terakhir adalah tari payung. tarian ini memang menggunakan payung sebagai aksesoris dari tariannya. Bukan hanya aksesoris tarian ini dianggap sebagai wujud atau ekspresi dari para pasangan muda-mudi, sedangkan payung dianggap sebagai satu tujuan untuk membina rumah tangga.


Rumah adat Suku Minangkabau

Selanjutnya adalah rumah minangkabau yang biasa disebut rumah gadang. Rumah ini dibuat menggunakan kayu dengan bentuk persegipanjang. Terdapat dua bagian yakni bagian depan dan bagian belakang dengan masing-masing muka. Biasanya rumah ini dibangun diatas tanah milik leluhur atau suku asli minang yang turun temurun. Tidak lupa disertakan tanduk kerbau sebagai hiasan utama dan bentuk rumah yang sekilas mirip dengan rumah panggung.

Gambar/foto: moeslimchoice.com

Rumah ini hanya digunakan oleh yang sudah berkeluarga, terutama keluarga perempuan dan anak-anaknya. Pihak laki-laki selalu mengikuti pihak perempuan, dan laki-laki yang masih bujang atau belum menikah akan tinggal di bangunan yang dibangun tidak jauh dari rumah yang berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini dinamakan surau.


Makanan khas Suku Minangkabau 

Selanjutnya adalah makanan khas dari suku minangkabau. Siapa yang tidak mengenal makanan khas dari suku ini. Bahkan makanannya yang dimasak selalu menggunakan santan kerap kali dijadikan makanan terlezat bahkan di dunia. Banyak masakan suku minang dimasak sangat lama dan juga sangat matang, sehingga rasanya sangat enak.

Makanan yang terkenal diantaranya adalah rendang, merupakan makanan pertama yang menjadi makanan ternikmat versi luar negeri, bahkan rendang tidak bisa dipisahkan imej nya dengan suku minangkabau. Rendang merupakan nama makanan yang diambil dari cara memasaknya yakni dengan cara “dirandang” atau dimasak lama. Rendang yang lembut dan empuk perlambang bagai niniak mamak atau pemimpin dari keluarga.

Selain itu ada bumbu yang digunakan pada makanan atau masakan suku minangkabau yang berarti lambang dari keseluruhan masyarakat Minang. Lalu ada cabai dengan rasa pedas yang melambangkan alim ulama yang harus tegas dan ada karambia atau kelapa yang berarti perlambang kaum intelektual. Makanan suku minangkabau pun terkenal dengan penuh filosofis.


Kekerabatan Suku Minangkabau

Terakhir dari kebudayaan suku minang adalah kekerabatan atau silsilah. Bagi masyarakat atau suku padang anak laki-laki adalah mahal dan haruslah dibeli. Sehingga dalam proses perkawinan ada beberapa tahap seperti meminang, menjemput pengantin laki-laki dan akhirnya dipelaminan. Bagi pengantin laki-laki akan ada upacara dimana mereka mendapat gelar atau nama baru yang menggantikan nama kecil mereka. Sehingga setelah menikah para pria akan dipanggil menggunakan nama baru tersebut.

Umumnya pernikahan dilakukan dengan mengambil atau menikahkan dari luar suku atau biasa disebut eksogami. Sistem keluarga dari suku minang adalah matrilineal atau mengikuti garis keturunan dari ibu. Sehingga jika terdapat perkara atau kasus maka penyelesaian adatnya menggunakan sistem dari garis keturunan ibu.

Demikianlah tentang kebudayaan Minangkabau yang unik dan menarik yang dapat bertahan sepanjang masa. Semoga Nilai-nilai kebudayaan yang menjadi khasanah kekayaan bangsa Nusantara ini dapat kita lestarikan demi anak cucu kita di masa depan. Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Sumber: Dirangkum dari Berbagai sumber.

Gambar : Google

MELIHAT 5 KESENIAN ASLI KOTA CIREBON DI JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah lainnya di mana kebudayaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kebudayaan khas Cirebon juga dilestarikan dengan baik oleh masyarakatnya.

Topeng Cirebon - Foto : Wikipedia

Kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon antara lain berupa tarian, kesenian musik, dan berbagai jenis kebudayaan lainnya yang kesemuanya sangat menarik dan sangat indah untuk dinikmati. Beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon sebagian hanya dipentaskan pada saat acara – acara tertentu seperti upacara adat, namun ada juga yang sering dipentaskan untuk menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Cirebon, berikut ini akan kami ulas beberapa kebudayaan asli Cirebon agar Anda lebih mengenalnya.

Beberapa Kesenian dan Kebudayaan Asli Kota Cirebon :

1. Tari Topeng

Salah satu kesenian yang ada di Cirebon adalah seni tari yang dikenal dengan nama tari topeng yang mana sesuai dengan namanya, sang penari akan memakai topeng, seni tari ini pada awalnya merupakan sebuah alat diplomasi yang digunakan ketika Kerajaan Cirebon sedang berperang melawan Kerajaan Karawang, sang penari dalam tarian topeng ini akan mengganti topengnya sesuai dengan karakter yang dibawakan.

2. Sintren

Kebudayaan kedua yang dimiliki oleh Cirebon adalah berupa sebuah kesenian tari yang dikenal dengan nama tari sintren di mana seni tari ini memiliki unsur magis, pada awal pertunjukan seni tari, sang penari akan diikat dari mulai leher hingga ujung kaki kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup dengan kain namun setelah itu ternyata sang penari dapat membebaskan diri dari ikatan tersebut.

tari sintren cirebon

3. Kesenian Gembyung

Kesenian ketiga yang dimiliki Cirebon adalah kesenian yang bernama gembyung di mana kesenian ini merupakan salah satu peninggalan dari dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung merupakan salah satu bentuk pengembangan dari kesenian terbang dan sering ditampilkan dalam acara – acara keagamaan yang ada di Cirebon seperti maulid, rajaban, dan syuro.

gembyung-cirebon

4. Genjring Rudat

Kesenian selanjutnya yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon adalah sebuah kesenian yang bernama genjring rudat di mana kesenian ini merupakan sebuah kesenian yang berkembang di lingkungan pesantren. Jenis alat musik yang biasanya digunakan dalam kesenian genjring rudat antara lain genjring, bedug, dan terbang yang biasanya diiringi dengan puji – pujian kepada Allah dan rasul-Nya.

genjring-rudat

5. Angklung Bungko

Kesenian kelima sekaligus yang terakhir kami bahas di artikel ini adalah kesenian Cirebon yang dikenal dengan nama angklung bungko yang mana sering kali dipentaskan dalam acara – acara adat di antaranya nyadran, ngunjung buyut, dan berbagai jenis acara adat lainnya, dalam kesenian angklung bungko ini sang penari akan mementaskan berbagai tarian seperti tari panji, benteleye, dan tari lainnya.

angklung-cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat yang kaya akan seni budaya yang masih terus dijaga kelestariannya.

Silakan berkunjung dan berwisata kekota Cirebon untuk menikmati keindahan seni dan budaya kota Cirebon.


Sumber: www.pusakapusaka.com

PAKAIAN ADAT 34 PROVINSI DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Indoborneonatural---Pakaian adat, (juga pakaian rakyat, busana daerah, busana nasional, atau pakaian tradisional) adalah kostum yang mengekspresikan identitas, yang biasanya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Pakaian adat juga dapat menunjukkan status sosial, perkawinan, atau agama.

Jika kostum dikenakan untuk mewakili budaya atau identitas kelompok etnis atau suku bangsa tertentu, biasanya dikenal sebagai busana adat suku (juga pakaian etnis, busana etnis, atau pakaian etnis tradisional). Kostum seperti itu sering terdiri atas dua jenis: satu untuk acara sehari-hari, yang lainnya untuk festival tradisional, atau sebagai pakaian formal untuk upacara-upacara adat.

Di daerah di mana aturan berpakaian Barat sudah diadopsi menjadi kebiasaan baku, pakaian tradisional sering dikenakan hanya di acara-acara istimewa atau perayaan tertentu. Khususnya yang berhubungan dengan tradisi budaya, warisan, untuk menggambarkan identitas kebanggaan nasional atau jati diri kedaerahan. Acara internasional dapat mengakomodasi peserta non-Barat dengan kode pakaian lebih beraneka ragam, seperti "setelan bisnis atau busana nasional".(id.wikipedia.org/wiki/).


1. Ulee Balang, Nanggroe Aceh Darussalam

Gambar Pakaian adat Ulee Balang Daerah Nanggroe Aceh Darussalam

Pada jaman dahulu, sepasang pakaian adat Ulee Balang hanya digunakan oleh keluarga raja. Pria menggunakan pakaian bernama Peukayan Linto Baro, yakni atasan lengan panjang Meukasah berbahan sutra.

Serta bawahan berwarna hitam Sileuweu yang ditenun. Keduanya memiliki aksen khas atau hiasan sulaman benang mas dengan pola yang indah. Tidak lupa penutup kepala Meukeutop dan hiasan senjata khas Rencong.

Sedangkan wanita menggunakan Baju Kurung dan Celana Cekak Musang yang bentuknya teradaptasi dari kebudayaan Melayu, Cina, dan Arab.


2. Ulos, Sumatera Utara

Gambar Pakaian adat Ulos Daerah Sumatera Utara

Kain ulos merupakan bahan sutra yang ditenun dengan alat tradisional. Ulos dipakai bersama sebagai selempang baju pria yang terdiri dari jas dan sarung kain Ulos, maupun sebagai selempang di kebaya berwarna cerah untuk wanita.

Jaitan benang Ulos juga bisa ditambahkan pada aksen baju adat untuk suku Mandailing di Sumatera Utara. Ditambahkan dengan penutup kepala pria dan siger untuk wanita.


3. Bundo Kanduang, Sumatera Barat

Gambar Pakaian adat Bundo Kanduang Daerah Sumatera Barat

Suku Minangkabau di Sumatera Barat menggunakan pakaian adat yang sangat tertutup bagi pria maupun wanita. Bundo Kanduang terdiri dari celana kolor panjang dan atasan Baju Gunting Cina atau Teluk Belanga, serta penutup kepala atau peci untuk pria.

Sedangkan wanita menggunakan kain sarung dan kebaya panjang, dan penutup kepala berupa kain yang dililitkan ke kepala.


4. Melayu, Riau

Gambar Pakaian adat Melayu Daerah Riau

Pakaian adat Melayu untuk pria terdiri dari Baju Kurung Cekak Musang yang terbuat dari kain berkualitas seperti satin dan sutra. Kemudian ada sarung serta kopyah juga. Kemudian wanita menggunakan Kebaya Laboh.


5. Belanga, Kepulauan Riau

Gambar Pakaian adat Daerah Kepulauan Riau

Provinsi Kepri memiliki pakaian adat berupa Teluk Belanga untuk pria dan Kebaya Laboh untuk wanita. Kebudayaan antar daerah Kepri, Riau, dan Sumbar yang memang berdekatan membuat pakaian adat yang dipakai pun hampir sama.


6. Melayu, Jambi

Gambar Pakaian adat Daerah Jambi

Pakaian adat Melayu Jambi menggunakan setelan kain beludru baik untuk pria maupun wanita. Namun, pakaian adat wanita dibuat tanpa lengan, dan pakaian pria menggunakan baju kurung tanggung berbahan beludru juga.


7. Aesan Gede, Sumatera Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sumatera Selatan

Aesan Gede dikenal sebagai pakaian adat yang syarat dengan banyak aksesoris untuk pria dan wanita. Pakaian ini berwarna cerah seperti merah, emas, maupun kejinggaan dengan penutup kepala untuk pria dan siger untuk wanita.


8. Paksian, Bangka Belitung

Gambar Pakaian adat Daerah Bangka Belitung

Pakaian adat ini memiliki dua warna pilihan, yakni merah dan ungu. Wanita akan menggunakan baju kurung berbahan sutra atau beludru, serta mahkota Paksian. Sementara pria memakai sorban sungkon.


9. Melayu, Bengkulu

Gambar Pakaian adat Daerah Bengkulu

Pakaian Melayu berwarna merah ini identik dengan kain lecap benang khas Jambi. Pria dan wanita menggunakan penutup dan hiasan kepala.


10. Tulang Bawang, Lampung

Gambar Pakaian adat Daerah Lampung

Setelan putih mendominasi pakaian adat ini. Tak lupa dengan lilitan kain tapis khas Lampung serta penutup kepala untuk pria, kemudian siger serta perhiasan berwarna emas untuk wanita.


11. Pangsi, Banten

Gambar Pakaian adat Daerah Banten

Pakaian adat Pangsi dikenal dengan setelan jas pria dan kebaya putih terang untuk wanita yang dipasangkan dengan bawahan batik. Tak lupa dengan blankon dan mahkota.


12. Betawi, DKI Jakarta

Gambar Pakaian adat Daerah DKI Jakarta

Kebaya encim berwarna terang merupakan ciri khas baju Betawi untuk wanita. Ditambah dengan kain batik dan sebagai bawahan maupun dililitkan ke bagian pinggang setelan hitam pria.


13. Kebaya, Jawa Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Barat

Kebaya sunda memiliki warna yang terang seperti putih cerah, ungu, merah maroon, dan sebagainya. Sedangkan pria menggunakan jas beludru sulam benang emas.


14. Kebaya, Jawa Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Tengah

Sementara itu, pakaian adat Kebaya Jawa Tengah didominasi warna cokelat dan setelan hitan pada pria. Tak lupa dilengkapi dengan batik, jarik, surjan, dan keris sebagai aksesoris.


15. Pesa’an, Jawa Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Timur

Pesa’an sangat sederhana dan ringan dipakai. Berupa kaos merah putih untuk pria dan kebaya merah dan kain putih untuk wanita.


16. Kesatrian, D.I. Yogyakarta

Gambar Pakaian adat Daerah Yogyakarta

Kesantrian terdiri dari kain batik yang dililitkan ke tubuh hingga bagian dada. Dalam versi yang lebih tertutup, Kesantrian menggunakan kain beludru hitam panjang dengan sulaman benang mas yang khas.

Tak lupa dengan berbagai aksesoris dan hiasan kepala. Pakaian adat ini melambangkan keanggunan dan sifat berani.


17. Safari dan Kebaya, Bali

Gambar Pakaian adat Daerah Bali

Safari pada pakaian adat Bali untuk pria adalah jas berlengan pendek. Umumnya berwarna netral seperti purih, krem, dan cokelat. Sedangkan kebaya wanita warnya cerah dan terlihat manis dengan lilitan kain di pinggang.


18. Baju Adat Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Barat

Pakaian adat ini berbahan sutra dan satin yang lembut dengan tambahan kain tenun khas Suku Sasak.


19. Baju Adat Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Timur

Kain tenun menjadi ciri khas pakaian adat ini. Ditambah dengan atasan berwarna hitam dan putih, serta topi tilangga.


20. King Baba, Kalimantan Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Barat

King Baba berarti pakaian untuk pria. Bentuknya seperti rompi dengan kain khas yang terbuat dari kulit kayu kapuo dan dihias manik-manik indah berwarna jingga dan merah. Sedangkan wnaita menggunakan King Bibinge dengan bahan yang sama namun menutupi hingga bagian dada dan pundak.


21. Upak Nyamu, Kalimantan Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Tengah

Pakaian adat ini terbuat dari kulit kayu nyamu. Untuk wanita, Upak Nyamu dihias dengan manik-manik cantik berwarna putih, merah, dan kuning.


22. Bagajah Gamuling Baular Lulut, Kalimantan Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Selatan

Kain Sasirangan sebagai kain khas Kalsel dililitkan menjadi bawahan bagi pria. Sementara bagian dada dikalungi dengan kalung bunga dan ditambah aksesoris keris. 
Sedangkan wanita memakai kain yang terbalut hingga menutupi dada, seperti gaun.


23. Kustin, Kalimantan Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Timur

Kustin memiliki tampilan yang hampir sama dengan Upak Nyamu. Terbuat dari kulit kayu yang dihias manik-manik.


24. Ta’a dan Sapei Sapaq, Kalimantan Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Utara

Corak pada pakaian adat ini terbilang ramai karena bervariasi dan beragam warna. Bahan kain masih berasal dari kulit kayu dengan hiasan kepala berupa mahkota bulu-bulu yang unik.


25. Laku Tepu, Sulawesi Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Utara

Serat pisang yang dipintal hingga menjadi kain membentuk pakaian ini. Warna dasarnya kuning, hijau, dan merah, ditambah penutuh kepala pada pria.


26. Mandar, Sulawesi Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Barat

Pakaian mandar terdiri dari jas untuk pria dan baju lengan pendek untuk wanita (biasanya berwarna hijau, ungu, putih, atau merah) dengan kain tenun senada yang dililit di bagian bawah sebagai bawahan.


27. Nggembe, Sulawesi Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tengah

Pakaian Suku Kaili ini berbahan kain lembut yang dibentuk baju lengan panjang. Kemudian ada hiasan di bagian dada berupa bordir berbentuk bunga dan manik-manik cantik.


28. Tolaki, Sulawesi Tenggara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tenggara

Tolaki identik dengan warna merah dan emas dengan atasan berbahan sutra atau beludru serta bawahan berupa kain tenun.


29. Bodo, Sulawesi Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Selatan

Baju Bodo biasanya berbahan organza dengan potongan sederhana dan berlengan pendek. Namun memiliki warna cerah mencolok, serta ada kalung dan hiasan kepala sebagai aksesoris.


30. Biliu dan Makuta, Gorontalo

Gambar Pakaian adat Daerah Gorontalo

Pasangan baju Biliu dan Makuta sama-sama tertutup dengan balutan kain lembut berwarna hijau, merah, kuning, atau jingga. Juga, ada aksen khas di bagian dada serta mahkota dan penutup kepala.


31. Cele, Maluku

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku

Pakaian Cele memiliki motif garis-garis geometris yang biasa dipakai dengan kain salele pada upacara adat. Warnanya didominasi merah dan putih.


32. Manteren Lamo, Maluku Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku Utara

Suku Tidore memakai pakaian ini yang dikenal mewah. Bentuknya seperti rompi dengan warna merah hiasan sulaman benang emas yang glamor.


33. Ewer, Papua Barat

Gambar Pakaian adat Baju Ewer Daerah Papua Barat

Rok rumbai berbahan tumbuhan alami sudah sangat mencirikan Baju Ewer. Semakin terlihat menarik dengan hiasan kepala berwarna cokelas senada dengan baju Ewer. Biasanya jika memakai rok rumbai tersebut maka dilengkapi juga dengan hiasan lainnya seperti hiasan kepala dari bahan ijuk, bulu burung kasuari, atau juga anyaman daun sagu.

Selain itu juga ada perlengkapan yang lain seperti manik-manik dari kerang, taring babi yang di letakkan di antara lubang hidung, gigi anjing yang dikalungkan di leher, tas noken yang terbuat dari anyaman kulit kayu sebagai wadah umbi-umbian atau sayuran yang dipakai di kepala. Kemudian tidak lupa juga alat tradisional yang di pakai seperti tombak Papua, panah, dan juga sumpit.


34. Koteka, Papua

Gambar Pakaian adat Koteka Daerah PROVINSI Papua


Koteka yang merupakan rok berumbai terbuat dari serutan tanaman dan ada pula yang menggunakan kulit kayu sebagai kain atasan.


Demikian 34 jenis Pakaian adat dari 34 Propivinsi di seluruh nusantara dan Indonesia, semoga artikel kebudayaan dari indoborneonatural ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang kebudayaan indonesia. Terimakasih.

Cari Artikel