Arowana set of Borneo

Here is a set of photos of Borneo arowana is known for having beautiful shape and color



Houseshold Equipments of Borneo

Traditional kitchen of Borneo
The densifying population is enable to the human lived in the domestic ekonomy household. The stable of an economical household is refieted from much property of eqiupment that the family have. Swelled up a bitter nut life style and paying a bride price in the kind of bitter nut equipment developed into the privileges property in Bajarees family The specific folkways for preparing food in a mokun wooden vessel or awooden plate, burning dupa in padamaran, using lentera hias in the Dyak Ngaju and Maanyan villages are indicated the South East Malayan patterns of culture.

Small Market and Shops Floating On the River

A sedentary lifestyle and a unique economy of the people living on the outskirts of Borneo rivers of Borneo.

Society of South Kalimantan past, buying and selling activity on the river. Encountered so many small markets and shops floating on the river as a grocery shopping day society.

Weapon Tool Chopsticks Dayak Kalimantan Indonesia


Chopsticks or better known in Central Kalimantan as Sipet is one weapon that is often used by the Dayak and Malay communities. Terms of use chopsticks or Sipet has its own advantages as it can be used as a long range weapon and not destroy nature because natural materials of manufacture. And one of the advantages of this Sipet chopsticks or shooting accuracy that can reach 218 yards or about 200 meters.

KISAH DONGENG SANGA KANCIL DAN BUAYA

Indoborneonatural---Pada zaman dahulu Sang Kancil adalah merupakan binatang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang-binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan memecahkan masalah apabila mereka kesulitan dalam menghadapi masalah tersebut. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukan sikap yang sombong malah sedia membantu  pada saat dibutuhkan setiap saat.

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jaan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh karena makanan disekitar kawasan kediaman telah berkurang Sang Kancil berencana untuk keluar dari kawasannya tempat tinggalnya untuk mencari makanan yang lebih banyak. Pada hari itu cuaca terasa sangat panas, kancil yang sedang berjalan tiba-tiba merasa sangat kehausan karena memang dia sudah terlalu lama berjalan, lalu kancil berusaha mencari sungai yang terdekat. Setelah bekeliling sebentar disekitar hutan akhirnya kancil berjumpa dengan sebuah sungai yang berair sangat jernih. Tanpa pikir panjang kancil yang sudah kehausan Sang Kancil langsung minum air disungai tersebut dengan sepuas-puasnya. Sejuk dan nikmatnya air sungai menghilangkan dahaga si Kancil.

Kancil lalu terus melanjutkan perjalannya menyusuri tepian sungai, saat merasa letih Kancil istirahat sebentar di bawah pohon besar yang sangat rindang di sekitar situ. Kancil sambil berhayal berkata dalam hatinya "Aku harus bersabar jika ingin mendapatkan makanan yang lezat-lezat". Setelah rasa letihnya hilang, Sang Kancil berjalan lagi menyusuri tepian sungai tersebutsambil memakan dedaunan kesukaannya yang ditemukannya disekitar tempat yang dilaluinya. Tiba-tiba kancil terhenti disebuah tempat yang luas, Sang Kancil memandangi tak berkedip matanya pada kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai. "Alangkah enaknya jika kau dapat menyeberang sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut", pikir Sang Kancil.

Sang Kancil terus berpikir memutar otak bagaimana caranya menyeberangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya tersebut. Tiba-tiba Sang Kancil melihat seekor buaya yang sedang asik berjemur di pinggiran sungai. Sudah menjadi kebiasaan para Buaya apabila hari panas ia suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari. Tanpa berlama-lama lagi kancil terus menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata, "Hai Sahabatku Sang Buaya, apa kabar kamu pada hari ini?" Buaya yang sedang asik menikmati cahaya matahari terus membuka mata dan dilihatnya sang Kancil yang menegurnya tadi "Kabar baik sahabatku Sang Kancil," Jawab sang Buaya lagi "Apakah yang  menyebabkan kamu datang kemari?". sang Kancil menjawab "Aku membawa khabar  gembira untuk kamu" mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar kabar yang dibawa oleh Sang Kancil lalu berkata "Ceritakan apakah yang engkau hendak sampaikan."

Kancil berkata "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini karena Raja Sulaiman ingin memberikan hadiah kepada kamu semua." Mendengar nama raja Sulaiman sudah membuat gempar semua binatang karena Nabi Sulaiman telah diberikan kelebihan mukzijat oleh Allah untuk dapat memerintah semua makhluk di muka bumi ini. "Baiklah kamu tunggu di sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawan-kawanku, kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah dapat membayangkan dapat menikmati buah-buahan. Tidak lama kemudian semua buaya yang berada di dasar sungai bermunculan berkumpul di pinggir sungai. Sang Kancil berkata, "Hai semua buaya sekalia, aku telah diperintahkan oleh Nabi Sulaiman supaya menghitung jumlah kamu semuanya karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini." Kata Kancil lagi, Berbarislah kamu sepanjang lebar sungai mulai dari tebing sebelah sini hngga ke tebing sebelah sana."

Oleh karena  perintah tersebut adalah datangnya dari Nabi Sulaiman semua buaya segera bersusun tanpa membantah. kata Sang Buaya tadi "Segeralah menghitung kami, kami sudah siap nih." Sang Kancil mengambil sepotong ranting yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan mulai menghitung dengan berkata-kata "Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk" sambil mengetuk kepala buaya satu persatu sehingga Sang Kancil berhasil menyeberangi sungai. Apabila sampai di tepi sungai sana Kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegirangan dan berkata, "Hai para buaya sekalian, tahukah kalian bahwa aku telah menipu kamu semuanya dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman."

Mendengar kata-kata Sang Kancil, semua buaya merasa marah dan malu karena merasa telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila mereka bertemu lagi suatu saat. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melompat kegirangan dan terus meninggalkan buaya-buaya tersebut dan menghilang masuk ke dalam kebun buang-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum tersebut.

Demikian kisah dongeng Sang Kancil dan Buaya ini, sebenarnya banyak lagi versi lainnya dari dongeng Sang Kancil dan Buaya ini yang dapat kita nikmati diberbagai bahan bacaan dan pustaka yang tersedia di di Nusantar ini. Sekian, Terimakasih.

KESENIAN TRADISIONAL GENDANG BELEQ DARI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT NTB

Indoborneonatural ---- Lombok merupakan salah satu destinasi Wisata Favorit di Nusa Tenggara Barat (NTB), Banyak sekali wisata menarik di Lombok, mulai dari kehidupan bawah laut yang spektakuler luar biasa indahnya, hingga panorama cantik di puncak gunung tertinggi kedua di Indonesia, Gunung Rinjani, membuat Lombok menjadi tujuan wisata yang populer di Nusa Tenggara Barat. Pulau Lombok memiliki beragam destinasi wisata baik di darat maupun laut. Jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajah Taman Nasional Gunung Rinjani yang menjadi incaran para petualang yang sengaja datang ke Lombok. Lombok memang indah dan bisa menjadi alternatif pilihan berlibur jika kita tidak menginginkan tempat wisata yang terlalu ramai. Suasan Lombok masih alami dan lebih tenang. Walaupun hanya beberapa jam saja menyeberang dari Bali, pada dasarnya Lombok itu memiliki karakter alam dan budaya yang berbeda dari Bali.

Kesenian daerah Lombok, gendang lombok, seni NTB

Penulis merasa senang sekali rasanya saya bisa jalan-jalan ke Lombok, NTB. Kebetulan ada undangan acara lomba di lombok,  acara yang sekalian bisa jalan-jalan wisata di sekitar daerah lombok. Dari Banjarmasin Akhirnya saya berangkat ke Lombok, tapi dengan pesawat transit Jakarta tentunya. Lumayan dapat 1 minggu di Lombok. dan sungguh tidak menyesal, karena berbagai tempat indah sudah saya singgahi untuk membuktikan sendiri indahnya destinasi wisata-wisata lombok ini.

Namun kali ini penulis tidak membahas tempat-tempat wisata di lombok, karena sudah banyak blog dan website di Internet yang mengulasnya, dan semuanya benar adanya, tentang keindahanya destinasi Wisata Favorit di lombok NTB  ini. Kali ini penulis hanya akan membahas salah satu kesenian tradisional khas lombok, yang merupakan salah satu kesenian yang dibawakan pada acara pembukaan kegiatan lomba itu, Kesenian ini bernama kesenian tradisional Gendang Beleq.


Jujur saja, awalnya penulis belum tahu tentang kesenian ini, sempat bertanya-tanya dengan orang-orang di lombok dan setelah pulang keBanjarmasin mencari beberapa literatur dan referensi di Internet maka penulis mendapatkan beberapa bahan tentang apa kesenian Gendang Beleq itu! Berikut ulasannya;.

Pengertian atau Apa itu Kesenian Gendang Beleq itu?

Gendang Beleq adalah kesenian musik tradisional yang dimainkan secara berkelompok dengan menggunakan beberapa macam alat musik dan gendang berukuran besar sebagai alat musik utamanya. Alat musik gendang yang digunakan sedikit berbeda dengan gendang pada umumnya karena memiliki ukuran yang lebih besar. Kesenian  Gendang Beleq ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang berasal dari Suku Sasak di Pulau Lombok, NTB. 


Asal Mula Kesenian Gendang Beleq

Dahulu di Lombok, Gendang Beleq dijadikan penyemangat prajurit yang pergi berperang dan yang pulang dari peperangan.[2] Dengan demikian Gendang Beleq dijadikan musik dalam peperangan. Kini Gendang Beleq digunakan sebagai musik pengiring dalam upacara-upacara adat seperti Merariq (pernikahan), sunatan (khitanan), Ngurisang (potong rambut bayi atau aqiqah) dan begawe beleq (upacara besar).

Kesenian Gendang Beleq ini merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Suku Sasak di pulau Lombok. Menurut beberapa sumber yang ada, awalnya Gendang Beleq merupakan alat musik pengiring dan penyemangat para prajurit saat akan berjuang ke medan perang. Suara yang dihasilkan oleh Gendang Beleq ini dipercaya membuat para prajurit lebih percaya diri dan lebih berani untuk bertempur membela kerajaan mereka.

Namun seiring dengan berjalannya waktu Gendang Beleq digunakan sebagai musik pengiring sebuah acara adat, kesenian, budaya maupun hiburan rakyat. Dengan menambahkan beberapa alat musik tradisional sebagai musik tambahannya. Nama Gendang Beleq sendiri diambil dari kata gendang dan beleq. Dalam bahasa Suku Sasak “beleq” memiliki arti “besar”, sedangkan “gendang” merupakan alat musik yang digunakan. Sehingga dapat diartikan Gendang Beleq merupakan gendang yang berukuran besar.


Fungsi Gendang Beleq

Seperti yang disebutkan di atas, Gendang Beleq awalnya digunakan sebagai penyemangat para prajurit menuju medan perang, dan sekarang menjadi pengiring pengiring sebuah acara adat maupun acara hiburan. Walaupun begitu, bagi masyarakat Suku Sasak, Gendang Beleq ini memiliki nilai filosofis dan disakralkan. Selain memiliki keindahan dalam wujud seni, juga menyangkut jati diri dan jiwa kepahlawanan masyarkaat Suku Sasak.


Nilai-nilai yang terkandung dalam Gendang Beleq 

Gendang Beleq memiliki nilai filosofis dan juga disakralkan oleh masyarakat Suku Sasak. Masyarakat Sasak menilai Gendang Beleq memiliki nilai keindahan, ketekunan, kesabaran, kebijakan, ketelitian, dan kepahlawanan. Nilai-nilai tersebut selalu diharapkan menyatu dengan hati masyarakat Suku Sasak.[2]


Cara Main Gendang Beleq

Gendang Beleq dimainkan secara berkelompok membentuk orkestra. Orkestra Gendang Beleq terdiri dari dua Gendang Beleq yang disebut mama (laki-laki) dan gendang nina (perempuan) yang berfungsi sebagai pembawa dinamika. Juga terdiri atas sebuah Gendang Kodeq (gendang kecil), perembak belek dan perembak kodeq sebagai alat ritmis, gong dan dua buah reog, yakni reog nina dan reog mama sebagai pembawa melodi. Pemain Gendang Beleq memainkan Gendang Beleq sambil menari. Pemain Gendang beleq terdiri dari 13 sampai 17 orang. Jumlah tersebut menunjukan jumlah rakaat dalam shalat (ibadah umat Islam).




Pertunjukan Gendang Beleq

Dalam pertunjukan Gendang Beleq biasanya ditampilkan secara berjalan berkeliling dan berkelompok. Setiap kelompok biasanya terdiri dari 13 sampai 17 orang dengan membawa alat musik gendang maupun alat musik tambahan. Selain itu dalam pertunjukannya, selain memainkan musik mereka juga menari dengan gerakan-gerakan bervariatif yang diciptakan oleh para pemainnya. Sehingga dapat menyuguhkan pertunjukan yang atraktif dan menghibur.



Pengiring Gendang Beleq

Dalam pertunjukan kesenian Gendang Beleq ini tidak hanya terdiri dari gendang saja namun juga beberapa alat musik lain sebagai tambahannya. Alat musik yang digunakan pada pertunjukan Gendang Beleq ini diantaranya, dua Gendang Beleq (gendang mama dan gendang nine), gendang kodeq (gendang kecil), reong, prembak baleq, prembak kodeq, petuk, gong besar, gong penyelak, gong oncer, dan lelontek. Dalam pertunjukannya alat musik tersebut dimainkan secara kompak dan padu sehingga menghasilkan suara yang indah dan enak untuk didengar.



Perkembangan Gendang Beleq

Kesenian Gendang Beleq ini merupakan salah satu kesenian tradisional yang cukup terkenal di pulau Lombok, NTB. Dalam perkembangannya, kesenian ini masih terus dilestarikan dan dikembangkan oleh beberapa kelompok kesenian yang ada di sana. Gendang Beleq ini juga sering ditampilkan di berbagai acara seperti pernikahan, khitanan, acara adat, penyambutan tamu besar, festival budaya dan beberapa acara besar lainnya.

Demikian tentang Kesenian tradisional Gendang Beleq Dari Lombok, Nusa Tenggara Barat NTB”. Semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang ragam kesenian dan kebudayaan Nusantara di indonesia. Jalan-jalan yuk kelombok, saya siap jika ada yang mengajak lagi..he he..I Love Lombok...💅💇👲


Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Gendang_beleq
http://www.kamerabudaya.com/2016/12/gendang-beleq-kesenian-tradisional-khas-suku-sasak-lombok.html
http://www.negerikuindonesia.com/2015/09/gendang-beleq-kesenian-tradisional-dari.html

Gambar: Koleksi Pribadi Indoborneonatural

Inilah Mitos “Tambun” Masyarakat Kalimantan Selatan

Indoborneonatural----Apakah kalian pernah mendengar istilah “Tambun” Atau mungkin ditakut-takuti tentang makhluk bernama “Tambun”?. Waktu kecil saya sering ditakut-takuni oleh orang tua apabila ingin mandi ke sungai, dikatakan bahwa di sungai tersebut terdapat makhluk bernama tambun. Lalu apa sebenarnya Tambun itu, makhluk seperti apa dan apakah hanya mitos atau benar-benar ada?.



Istilah “Tambun” sering kita dengar di Masyarakat khususnya di Kalimantan Selatan (Dayak dan Banjar). Tambun ini diyakini masyarakat makhluk yang hidup di sungai dan akan muncul apabila air  sungai naik (banyu badalam). Masih menurut cerita masyarakat bahwa ada beberapa orang yang pernah melihat Tambun ini, ada yang mengatakan bentuknya seperti sapi, yang lain mengatakan seperti Kuda Nil dan ada juga yang mengatakan kemunculannya diawali dengan timbulnya pusaran air yang besar (ulakan). Tetapi tidak ada orang yang secara spesifik bisa menjelaskan bagaimana bentuk nyata dati Tambun ini, baik itu penjelasan secara lisan maupun bukti gambar/foto. Sayapun secara pribadi tidak pernah melihat bagaimana bentuk Tambun ini dan saya meragukan akan keberadaannya. 

Pertanyaan selanjutnya yaitu, dari mana istilah ‘Tambun” itu berasal? Simak penjelasan berikut ini:

Istilah tambun ini berasal dari kepercayaan pra-Islam yang di Kalimantan serin disebut dengan “Kaharingan”. Dalam kepercayaan Kaharingan dikenal dengan adanya penguasa alam bawah (air) yang dikenal dengan sebutan Tambun yang menurut kepercayaan bentuknya seperti naga atau ular besar. Tambun diyakini tinggal di sungai yang airnya dalam (lu-uk) dan terdapat pusaran air (ulakan/ba-ulak). Khusus di Daerah HST dan HSS ada beberapa tempat yang diawali dengan kata Lok, seperti Lok Laga, Lok Sado, Lok Lahung dll. Lok berasal dari kata lu-uk yang artinya bagian sungai yang dalam. Pada masa penjajahan Belanda, orang-orang Belanda tidak bisa menyebutkan kata lu-uk sehingga di dalam catatan adminestatif Belanda di tulis dengan kata Lok.

Selain kepercayaan tentang makhluk tambun sebagai pengusa alam bawah, di Kalimantan Selatan khususnya di daerah Kalua juga terdapat kepercayaan akan adanya makhluk bawah air yaitu buaya kuning atau buaya gaib. Baik itu tambun ataupun buaya kuning ini mereka hanya akan menampakkan darinya kepada orang-orang tertentu saja, sedangankan orang awam tidak dapat melihatnya. Jadi bagi orang awam tambun itu hanya makhluk mitos yang dianggap benar-benar ada karena tidak pernah melihat bagaimana wujud aslinya, kemunculannya hanya dikaitkan dengan kenaikan air sungai (banyu dalam) dan kemunculan pusaran air yang besar.

Kepercayaan tentang adanya makhluk tambun ini diceritakan turun-menurun hingga saat ini. Bagi orang tua yang anak suka mandi ke sungai sering ditakut-takuti dengan kemunculan tambun. Apalgi setelah hujan lebat turun dan air sungai mulai meningkat maka anak-anak dilarang mandi di sungai takut dimakan tambun.

Pesan yang dapat kita ambil dari mitos tambun ini yaitu, bagi anak-anak terutama yang belum mahir berenang, jangan suka mandi di sungai apabila air sungai sedang meningkat. Air sungai yang sedang naik biasanya berarus deras dan berbahaya bagi anak-anak.
Demikian uraian saya mengenai mitos tambun. Terimakasih !!!
mitos tambun.


Sumber gambar: https://folksofdayak.wordpress.com

KISAH LEGENDA CERITA RAKYAT "RORO JONGRANG"

Indowoman---Alkisah pada zaman dahulu kala, berdiri sebuah kerajaan yang sangat besar yang bernama Prambanan. Rakyat Prambanan sangat damai dan makmur di bawah kepemimpinan raja yang bernama Prabu Baka. Kerajaan-kerajaan kecil di wilayah sekitar Prambanan juga sangat tunduk dan menghormati kepemimpinan Prabu Baka.

Gambar: pinterest.com
Sementara itu di lain tempat, ada satu kerajaan yang tak kalah besarnya dengan kerajaan Prambanan, yakni kerajaan Pengging. Kerajaan tersebut terkenal sangat arogan dan ingin selalu memperluas wilayah kekuasaanya. Kerajaan Pengging mempunyai seorang ksatria sakti yang bernama Bondowoso. Dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung, sehingga Bondowoso terkenal dengan sebutan Bandung Bondowoso. Selain mempunyai senjata yang sakti, Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara berupa Jin. Bala tentara tersebut yang digunakan Bandung Bondowoso untuk membantunya untuk menyerang kerajaan lain dan memenuhi segala keinginannya.

Hingga Suatu ketika, Raja Pengging yang arogan memanggil Bandung Bondowoso. Raja Pengging itu kemudian memerintahkan Bandung Bondowoso untuk menyerang Kerajaan Prambanan. Keesokan harinya Bandung Bondowoso memanggil balatentaranya yang berupa Jin untuk berkumpul, dan langsung berangkat ke Kerajaan Prambanan.

Setibanya di Prambanan, mereka langsung menyerbu masuk ke dalam istana Prambanan. Prabu Baka dan pasukannya kalang kabut, karena mereka kurang persiapan. Akhirnya Bandung Bondowoso berhasil menduduki Kerajaan Prambanan, dan Prabu Baka tewas karena terkena senjata Bandung Bondowoso.

Kemenangan Bandung Bondowoso dan pasukannya disambut gembira oleh Raja Pengging. Kemudian Raja Pengging pun mengamanatkan Bandung Bondowoso untuk menempati Istana Prambanan dan mengurus segala isinya,termasuk keluarga Prabu Baka.

Pada saat Bandung Bondowoso tinggal di Istana Kerajaan Prambanan, dia melihat seorang wanita yang sangat cantik jelita. Wanita tersebut adalah Roro Jonggrang, putri dari Prabu Baka. Saat melihat Roro Jonggrang, Bandung Bondowoso mulai jatuh hati. Dengan tanpa berpikir panjang lagi, Bandung Bondowoso langsung memanggil dan melamar Roro Jonggrang.

“Wahai Roro Jonggrang, bersediakah seandainya dikau menjadi permaisuriku?”, Tanya Bandung Bondowoso pada Roro Jonggrang.

Mendengar pertanyaan dari Bandung Bondowoso tersebut, Roro Jonggrang hanya terdiam dan kelihatan bingung. Sebenarnya dia sangat membenci Bandung Bondowoso, karena telah membunuh ayahnya yang sangat dicintainya. Tetapi di sisi lain, Roro Jonggrang merasa takut menolak lamaran Bandung Bondowoso. Akhirnya setelah berfikir sejenak, Roro Jonggrang pun menemukan satu cara supaya Bandung Bondowoso tidak jadi menikahinya.

“Baiklah,aku menerima lamaranmu. Tetapi setelah kamu memenuhi satu syarat dariku”,jawab Roro Jonggrang.

“Apakah syaratmu itu Roro Jonggrang?”,Tanya Bandung Bandawasa.

“Buatkan aku seribu candi dan dua buah sumur dalam waktu satu malam”, Jawab Roro Jonggrang.

Mendengar syarat yang diajukan Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso pun langsung menyetujuinya. Dia merasa bahwa itu adalah syarat yang sangat mudah baginya, karena Bandung Bondowoso mempunyai balatentara Jin yang sangat banyak.

Pada malam harinya, Bandung Bandawasa mulai mengumpulkan balatentaranya. Dalam waktu sekejap, balatentara yang berupa Jin tersebut datang. Setelah mendengar perintah dari Bandung Bondowoso, para balatentara itu langsung membangun candi dan sumur dengan sangat cepat.

Roro Jonggrang yang menyaksikan pembangunan candi mulai gelisah dan ketakutan, karena dalam dua per tiga malam, tinggal tiga buah candi dan sebuah sumur saja yang belum mereka selesaikan.

Roro Jonggrang kemudian berpikir keras, mencari cara supaya Bandung Bondowoso tidak dapat memenuhi persyaratannya.

Setelah berpikir keras, Roro Jonggrang akhirnya menemukan jalan keluar. Dia akan membuat suasana menjadi seperti pagi,sehingga para Jin tersebut menghentikan pembuatan candi.

Roro Jonggrang segera memanggil semua dayang-dayang yang ada di istana. Dayang-dayang tersebut diberi tugas Roro Jonggrang untuk membakar jerami, membunyikan lesung, serta menaburkan bunga yang berbau semerbak mewangi.

Mendengar perintah dari Roro Jonggrang, dayang-dayang segera membakar jerami. Tak lama kemudian langit tampak kemerah merahan, dan lesung pun mulai dibunyikan. Bau harum bunga yang disebar mulai tercium, dan ayam pun mulai berkokok.

Melihat langit memerah, bunyi lesung, dan bau harumnya bunga tersebut, maka balatentara Bandung Bondowoso mulai pergi meninggalkan pekerjaannya. Mereka pikir hari sudah mulai pagi, dan mereka pun harus pergi.

Melihat Balatentaranya pergi, Bandung Bondowoso berteriak: “Hai balatentaraku, hari belum pagi. Kembalilah untuk menyelesaikan pembangunan candi ini !!!”

Para Jin tersebut tetap pergi, dan tidak menghiraukan teriakan Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso pun merasa sangat kesal, dan akhirnya menyelesaikan pembangunan candi yang tersisa. Namun sungguh sial, belum selesai pembangunan candi tersebut, pagi sudah datang. Bandung Bondowoso pun gagal memenuhi syarat dari Roro Jonggrang.

Mengetahui kegagalan Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang lalu menghampiri Bandung Bondowoso. “Kamu gagal memenuhi syarat dariku, Bandung Bondowoso”, kata Roro Jonggrang.

Mendengar kata Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bondowoso sangat marah. Dengan nada sangat keras, Bandung Bondowoso berkata: “Kau curang Roro Jonggrang. Sebenarnya engkaulah yang menggagalkan pembangunan seribu candi ini. Oleh karena itu, Engkau aku kutuk menjadi arca yang ada di dalam candi yang keseribu !”

Berkat kesaktian Bandung Bondowoso, Roro Jonggrang berubah menjadi arca/patung. Menggenapi arca yang belum selesai keseribu. Wujud arca tersebut hingga kini dapat disaksikan di dalam kompleks candi Prambanan, dan nama candi tersebut dikenal dengan nama candi Roro Jonggrang. Sementara candi-candi yang berada di sekitarnya disebut dengan Candi Sewu atau Candi Seribu.

* * *

TINGKATAN ILMU BELADIRI SILAT KUNTAU DARI KALIMANTAN

Kuntau adalah termasuk salah satu jenis ilmu seni beladiri di Tanah Kalimantan yang dikenal sangat mematikan walau hanya dipelajari dalam beberapa bulan.

Menurut beberapa sumber kuntau berasal dari Tiongkok yang dibawa oleh bangsa Tionghoa ke Indonesia saat berdagang.

Ada beberapa tokoh pelatih mengartikan kata kuntau; Ada yang mengartikan bahwa Kun itu adalah Jadi, dan tau itu Isyarat. Ada pula yang mengatakan Kun itu arah, tau itu pukulan.

Ilmu Seni Beladiri Kuntau memiliki banyak aliran, ada Bangkui, Jipuk, Sendeng, dan lain sebagainya, ini dapat dilihat dari beberapa perguruan dan pembelajaran di daerahnya.

Seiring berjalannya waktu, kini perguruan kuntau telah bisa di pelajari oleh masyarakat umum. Karena pada zaman dulu kuntau di pelajari sembunyi-sembunyi dan cuma untuk keturunan saja. Mungkin karena takut tekniknya terbongkar oleh Kolonial Belanda waktu itu.
Kalau di lihat gerakan permainan kuntau saat membawakan bunga mirip sekali dengan menari. Menurut saya gerakan tersebut sengaja dimodifikasi mirip tarian karena waktu itu pelajaran silat dilarang.


Dalam mempelajari kuntau ada beberapa macam tingkatan pembelajaran yang ditempuh oleh para murid tersebut yaitu;

1. Tumbuk satu
Ini adalah teknik paling dasar untuk murid pemula mempelajari kuntau, yaitu kita dilatih memasang kuda-kuda, lalu bagaimana cara memukul lawan dengan kuda-kuda yang pas.

2. Bunga
Bagian ini adalah tahap memperagakan jurus-jurus masing yang setiap gerakan memiliki arti masing-masing. Pada bagian bunga inilah akan melahirkan buah yang disebut;

3. Patikaman,
Suatu teknik bertahan dari serangan musuh dan menyerang balik, teknik  menyerang musuh di beberapa bagian kelemahan lawan, pakai senjata maupun tangan kosong. Tak ketinggalan mengunci musuh dan cara melepaskannya. Patikaman ini jika sudah mencapai tingkat tinggi maka akan memasuki jurus gaib dengan replek yang mampu menangkis semua serangan musuh, walaupun kita dalam keadaan tidur sekalipun

4. Batamat
Suatu tahap puncak yang ditunggu dan mendebarkan bagi anggota pakuntauan. Pada bagian ini kita di uji oleh guru apakah sudah bisa dikatakan lulus atau belum. Biasanya kita diserang secara mendadak baik menggunakan tangan kosong atau pakai senjata, saat gelap maupun terang, ditempat sempit atau terbuka, tergantung guru masing-masing.

5. Cempedih
Suatu jenis kekuatan magik yang hanyar diberikan pada murid-murid terpilih dan memenuhi syarat tertentu yang sangat berat, dan sangat jarang masih ada dijaman sekerang. Menurut cerita ada seorang yang memiliki ilmu cempedih disuruh masuk kedalam jamban terbuat dari kayu terus di tombak oleh orang banyak, tapi saat beliau keluar malah baik baik saja.


Nah selesaikan tahap pembelajarannya. Setelah itu tergantung kita, untuk melatihnya.

KISAH RAHASIA ILMU PATIKAMAN GURU KUNTAU YANG TAK DIAJARKAN

Inilah kisah pembelajaran silat jaman dahulu khususnya di daerah Kalimantan Selatan, tentang guru kuntau (silat kuntau) ilmu beladiri tradisional.

Suara sarunai terdengar syahdu mendayu mengiringi pagelaran pencak silat itu. Alunannya bak mantra mistik, membuat tubuh Kai Anum bergerak semakin lincah dan gesit, membentuk sebuah tarian gemulai nan indah. Badannya yang kekar, seolah-olah tak bertulang. Tiba-tiba, secara refleks dan cepat, ia membalikkan tubuh dan menangkap tangan penyerangnya. Dengan satu gerakan yang tak bisa kugambarkan, ia membuat musuh itu langsung jatuh telungkup di tanah. Tangannya terpelintir ke belakang. Goloknya terlempar. Para penonton yang tak lain adalah murid-muridnya, berdecak kagum menyaksikan atraksi hebat yang menegangkan itu.

“Itulah patikaman dari ilmu silat yang kalian pelajari selama ini,” ucap Kai Anum sambil melepaskan tangan penyerangnya tadi.
“Dengan jurus ini, kalian bisa menangkis sekaligus melumpuhkan musuh yang tiba-tiba menyerang dari belakang atau dari arah mana saja, sekalipun kalian tidak dalam kondisi siap. Bahkan selembar daun yang tidak disadari akan jatuh mengenai tubuh, kalian dapat menepisnya. Inilah yang dinamakan jurus refleks atau silat gaib,” lanjutnya.
“Kapankah jurus itu akan diajarkan kepada kami, Guru?” Aku memberanikan diri bertanya. Kai Anum terdiam sesaat.
“Sayang sekali! Jurus ini tak bisa kuajarkan kepada kalian,” sahutnya tegas, membuat wajah-wajah kami tertunduk lesu.
“Tapi, jangan khawatir! Jurus-jurus yang telah kuajarkan kepada kalian, tidak kalah hebat dengan patikaman tadi. Jurus yang telah kalian kuasai juga bisa menepis serangan yang tiba-tiba dan tak terduga. Bedanya, jurus tadi membuat tubuh secara refleks menangkis serangan, sekalipun kalian sedang tidur,” sambungnya menghibur kekecewaan kami.
“Tapi, bukankah refleksitas itu yang sangat penting? Karena terkadang serangan itu datang ketika kita lengah atau waktu tidur,” temanku mencoba merayu Guru.
“Benar! Tapi alasan yang kamu katakan itulah salah satu sebab aku tak mau mengajarkan jurus ini.”
“Kenapa, Guru?” lanjutnya semakin penasaran.
“Karena sifatnya yang refleks itu bisa menyakiti anak dan istri, atau membinasakan diri sendiri.”
“Bagaimana bisa begitu?” aku menimpali.
“Karena mungkin saja ketika tidur, anak atau istri mau membangunkan dengan memukul atau menepuk tubuh kita. Lalu secara refleks kita menyerangnya,” jelasnya, membuat kami mengangguk-angguk.
“Lalu, apa bahayanya bagi diri sendiri?” temanku bertanya lagi.
“Bahayanya saat kita memanjat atau menebang pohon. Bayangkan jika kalian sedang menaiki sebuah pohon. Tiba-tiba daunnya jatuh akan mengenai tubuh, lalu kalian secara refleks menepisnya. Atau ketika sebatang kayu besar akan tumbang ke arah tubuh, lalu kalian tanpa sadar akan menangkisnya. Apa yang akan terjadi?” paparnya membuat kami kembali mengangguk-angguk.
“Guru sendiri bagaimana mengatasi resiko itu?” tanyaku.
“Yah, terpaksa aku tak berani memanjat atau menebang pohon. Anak dan istri kuperingatkan agar tidak membangunkan tidurku dengan menyentuh tubuhku. Yang lebih repot lagi, sampai kini aku tak berani naik motor, baik disetir sendiri atau dibonceng orang lain.”
“Jadi, bagaimana cara membangunkan tidur atau mau bepergian?”
“Dipanggil dengan suara agak keras, atau dilempar dengan bantal dari jarak yang aman. Kalau mau bepergian, harus naik mobil, sebab mobil itu ada kaca pelindungnya.”
“Berarti masih ada solusinya,” temanku masih berupaya membujuknya.
“Benar! Setiap masalah pasti ada solusinya. Namun jalan keluarnya itu kurasa lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Yang lebih penting lagi, jurus pemungkas itu juga punya kelemahan yang akan kalian lihat sendiri nanti,” tukas guru bersikukuh tak mau mengajarkannya. Kami terdiam dan tak berani lagi bertanya.
“Ya, sudah! Teruskan latihannya!” instruksinya.

***

Kai Anum kembali mengajarkan kami jurus-jurus baru atau mengulang yang lama. Usianya tidak terlalu tua, 45 tahun. Sikapnya ramah dan toleran, namun ilmu silatnya termasuk aliran keras dan mematikan. Murid-muridnya sudah mencapai ratusan, bahkan di antaranya ada yang membuka padepokan sendiri, sehingga ia disebut Kai yang bermakna kakek, dan Anum yang berarti muda.
Kami terus giat berlatih tanpa memikirkan patikaman atau jurus pemungkas itu. Setelah setahun berguru, 39 dari 50 muridnya yang seangkatan denganku dinyatakan lulus setelah menjalani ujian akhir.
Ujiannya tidak main-main. Resikonya adalah maut. Selembar tikar purun yang lebar, dan sebilah samurai sepanjang 50 cm telah disiapkan. Ketajamannya bisa membuat selembar selendang sutera yang dijatuhkan ke atasnya menjadi dua, dan memotong sebuah paku hanya dengan tebasan rendah dan ringan.
Setiap murid dibungkus dalam gulungan tikar dari pangkal paha hingga ujung kepala. Seorang algojo menghunus pedang dengan kedua tangannya di depan tubuh yang telentang, dan mata tertutup itu. Dengan kuda-kuda siap menyerang, ia mengarahkan sisi ujung mata senjata itu sekitar 40 cm di atas perut. Ia menunggu hitungan ketiga dari Kai Anum.
“Satu...! dua...! tiga!” maka secepat dan sekuat tenaga eksekutor itu menghentakkan pedangnya ke bawah. Sebelum samurai itu membelah perut, murid harus bisa menghindar secepatnya dengan berguling sambil menendang kaki lawan untuk menjatuhkannya, lalu melepaskan diri dari tikar yang melilit tubuh. Jika tidak, maka ia akan terus diserang, hingga senjata itu mengenai tubuhnya.
Begitulah beratnya ujian yang kami lalui. Untungnya, tidak ada yang terluka parah. Kai Anum telah mengantisipasinya. Ia telah mengisi kekebalan tubuh tanpa kami ketahui sebelum ujian dimulai.
“Sesungguhnya tikar itulah yang lebih banyak berperan mencegah luka yang lebih parah. Sebab tikar inilah yang menghalangi mata pedang. Walaupun ia terlihat lemah, namun pada dasarnya ia lebih kuat daripada sutra. Hampir empat perlima tebasan pedang terserap untuk merobek tikar itu. Namun tubuh kalian juga sudah kuisi dengan kekebalan,” jelas Kai Anum sambil mengoleskan minyak ke bagian tubuh murid yang terluka. Entah minyak apa yang digunakannya. Perlahan daging yang terbuka itu menutup dan melekat kembali.
“Tapi, mengapa masih bisa luka?” tanyaku.
“Mungkin karena olah pernafasannya belum sempurna, atau ia pernah melanggar pantangan, sehingga ilmu taguh itu tidak bekerja sepenuhnya,” jelasnya.

***

Tahun demi tahun berlalu. Kai Anum semakin tua. Tenaganya telah diserap usia. Tubuhnya yang kekar menjadi lemah ditelan waktu. Ia tak lagi melatih di padepokan itu. Seorang murid kepercayaan telah mewakilinya. Aku sesekali masih datang ke sana sekedar bernostalgia, atau untuk mengasah kemampuan yang kumiliki, selain karena masih penasaran dengan jurus pemungkas perguruan silat itu.
Kupikir pelatih sekarang pasti diajarkan Kai Anum ilmu silat gaib itu, dan mengetahui kelemahannya. Tak mungkin orang yang dipercaya menggantikan kedudukannya tidak menguasai ilmu itu.
“Bisakah kau ajarkan silat refleks padaku?” pintaku sore itu.
“Maaf, Kang! Saya juga belum bisa,” jawab pelatih yang lebih muda dariku itu.
“Belum bisa atau tidak diizinkan Kai Anum?” pancingku.
“Sekalipun saya sudah puluhan tahun menggantikan guru, ia belum mengajariku ilmu itu,” sahutnya serius.
Mulai saat itu, aku tak lagi berkunjung ke sana. Aku langsung menemui Kai Anum di rumahnya. Dua kali seminggu aku bertamu. Kupijat-pijat kakinya yang tak mampu lagi berjalan tanpa tongkat itu. Aku berharap ia mau mengajarkan ilmu itu. Namun hingga dua bulan mengabdi, ia belum juga menurunkan ilmu itu padaku. Kuberanikan diri untuk memintanya.
“Sudah kukatakan, aku takkan mengajarkan ilmu itu, dan sudah kujelaskan bagaimana resikonya,” tegasnya lirih.
“Setidaknya guru menyampaikan apa kelemahannya, sehingga kalau menghadapi orang yang punya ilmu itu, aku bisa mengalahkannya,” bujukku.
“Niatmu untuk mengalahkannya. Aku tidak setuju kalau itu alasannya,” sahutnya membuatku semakin putus asa.
“Maksudku untuk membela diri, bukan untuk mengunggulinya,” kilahku.
“Kalau itu bisa aku terima. Tapi aku tetap tak akan memberitahukannya, karena kamu akan lihat sendiri kelemahannya.”
“Tapi, sampai sekarang saya belum melihatnya, Guru.”
“Tidak! Kamu sudah melihatnya, hanya kamu belum menyadarinya. Pahamilah apa-apa yang telah kau lihat dariku selama datang ke sini!”
Aku semakin tak mengerti maksudnya. Namun aku tak berani lagi bertanya. Aku terus berkunjung ke rumahnya, dengan harapan suatu saat ia mau menjelaskannya tanpa diminta.
***

Suatu hari aku kembali mengunjunginya. Ia duduk di kursi, di beranda sebelah kiri rumahnya. Kusandarkan sepedaku di bawah pohon tidak jauh darinya.
“Silakan naik!” sapanya ramah.
“Iya, Guru! Terima kasih,” sahutku, lalu kami bercakap-cakap seperti biasa sambil memijat kakinya.
Tiba-tiba entah mengapa sepeda itu akan jatuh ke arahnya. Secara refleks ia berdiri, lalu menepis sepeda itu hingga jatuh berbalik arah dan mengenai pohon. Kakinya yang tidak kuat berdiri, membuatnya jatuh dari teras ke tanah dengan posisi telungkup. Sepeda itu kembali akan menimpanya. Secara refleks pula ia mendorongnya ke arah depan, hingga terlempar beberapa meter. Aku terpana beberapa saat, hingga akhirnya kulihat Kai Anum tertatih-tatih untuk bangkit. Akupun segera menolongnya.
“Guru tak apa-apa?” tanyaku khawatir.
“Tak apa!” sahutnya singkat sambil mengatur nafasnya yang masih ngos-ngosan.
Kai Anum mengibas-ngibas debu yang melekat di pakaiannya. Kuamati bagian lututnya yang berbenturan dengan kerikil-kerikil tajam itu. Tak sedikit pun terdapat lecet di sana. Kupijit-pijit kakinya. Tiba-tiba kulihat mukanya seperti meringis.
“Ampun, Guru! Guru sakit?” tanyaku cemas dan menghentikan pijatan. Ia memejamkan mata, seolah menahan sakit.
“Ampun, Guru!” hibaku lagi karena khawatir ia marah gara-gara sepedaku itu.
“Sudahlah!” sahutnya sambil menghembuskan napas dan membuka mata. Aku diam, menanti apa yang akan diucapkannya.
“Sudah kamu lihat kelemahan patikaman itu?” tanyanya pelan. Aku mengangguk pelan, walaupun belum mengerti sepenuhnya.
“Jadi, kalau sudah tua dan kondisi fisik begini, jurus refleks itu tidak berguna lagi, bahkan hanya menyakiti diri sendiri. Jika kamu punya musuh, maka boleh jadi ia dendam, dan membalas ketika kamu lemah sepertiku ini. Jurus itu tidak dapat menolongmu, bahkan membuatmu lebih mudah ditaklukkan. Bisa kau bayangkan, seandainya sepeda itu jatuh menimpaku, pasti akibatnya tak sesakit karena terjerambab seperti tadi. Artinya, jelas bahwa bahayanya lebih besar dari manfaatnya.”
“Tapi Guru tidak terluka. Kenapa bisa sakit?”
“Jangan kau kira ilmu kebal itu bisa mencegah rasa sakit. Ia hanya menjaga kulit agar tidak terluka. Andaikan ilmu silat dan kekebalan itu dapat mencegah dari tua dan sakit, sampai ke ujung dunia pun aku akan mencarinya. Karena itu, cukup pelajari ilmu yang benar-benar bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain saja,” petuahnya membuat keinginanku mempelajari patikaman itu seketika menjadi sirna.

*** 

INILAH 11 MASAKAN DAN MAKANAN TRADISIONAL POPULER DI SUMATERA UTARA

Indoborneonatural---Nusantara Indonesia ini sangat kaya dengan aneka ragam masakan khas tradisional, diantaranya adalah Masakan-masakan dari Propinsi Sumatra Utara. Kuliner Sumatera Utara menjadi salah satu hal yang perlu disambangi dan disandingkan untuk Wonderful Indonesia. Kekayaan cita rasa dan bumbu khas di Sumatera Utara adalah alasannya. Kuliner Medan yang menjadi pusat pemerintahan provinsi banyak dipengaruhi oleh rasa dan aroma dari seluruh etnis dan suku di provinsi yang memiliki danau terbesar di Asia Tenggara Ini.

Berikut 11 masakan tradisional di Sumatera Utara yang populer, sering dicari dan disajikan dalam berbagai kesempatan dan acara : 

1. Dengke Mas na Niura 

Makanan ini dikenal juga dengan sebutan Ikan Mas Na Niura yang mana merupakan makanan tradisonal khas Batak yang berasal dari Tapanuli. Pada Jaman dahulu masakan na niura ini dikhususkan untuk para raja saja, namun karena rasanya yang enak sehingga semua orang-orang batak ingin menyantap dan membuatnya.

Masakan daerah, Kuliner, masakan tradisional, masakan Batak, Sumatera utara,


Ikan Mas Na Niura ini merupakan sebuah penyajian Lauk Pauk yang cara membuatnya tidak dimasak, direbus, digoreng atau semacamnya, karena na niura dalam bahasa Batak artinya ikan yang tidak dimasak, ikan mentah tersebut disajikan dengan bumbu yang lengkap sehingga yang akan membuat ikan tersebut lebih enak dirasa tanpa dimasak, yang artinya bahwa bumbu-bumbu itulah yang memasak ikan mas tersebut.


2. Arsik 


Salah satu masakan khas kawasan Tapanuli yang populer. Masakan ini dikenal pula sebagai ikan mas bumbu kuning. Ikan mas adalah bahan utama, yang dalam penyiapannya tidak dibuang sisiknya. Bumbu arsik sangat khas, mengandung beberapa komponen yang khas dari wilayah pegunungan Sumatera Utara, seperti andaliman dan asam cikala (buah kecombrang), selain bumbu khas Nusantara yang umum, seperti lengkuas dan serai. Bumbu-bumbu yang dihaluskan dilumuri pada tubuh ikan beberapa saat. Ikan kemudian dimasak dengan sedikit minyak dan api kecil hingga agak mengering.


3. Manuk Napinadar 

Atau Ayam Napinadar adalah masakan khas Batak yang biasanya dihidangkan pada pesta adat tertentu. Untuk mengerjakan resep yang satu ini agak sedikit rumit, butuh waktu dan kesabaran. Pastinya inti dari masakan ini adalah di saos darah ayam itu sendiri.

masakan khas sumut, masakan batak, masakan tradisional

Masak Ayam Napinadar ini, ayamnya harus dipanggang terlebih dahulu, setelah itu lalu disiram dengan saos spesial yakni darah ayam (manuk) itu sendiri, dan dicampur dengan andaliman, bawang putih bubuk (yang sudah digiling sampai halus) lalu dimasak. Sama seperti kita menuangkan saos ke atas ayam yang sudah dipanggang.


4. Saksang 

 

Atau sangsang adalah masakan khas dari tanah Batak yang terbuat dari daging babi (atau daging anjing) yang dicincang dan dimasak dengan menggunakan darah, santan dan rempah-rempah (termasuk jeruk purut dan daun salam, ketumbar, bawang merah, bawang putih, cabai, merica, serai, jahe, lengkuas,kunyit dan andaliman).Saksang menjadi makanan wajib dalam adat pernikahan Batak.


5. Sambal Tuktuk



Adalah makanan khas tradisional Batak, yang berasal dari Tapanuli. Sebenarnya bahan-bahan untuk membuat sambal tuktuk tidak berbeda dengan bahan sambal-sambal lainnya, sederhana saja. Yang membuat sambal ini sedikit lebih berbeda dengan sambal yang lain adalah andalimannya. Biasanya sambal tuktuk dicampur dengan ikan aso-aso (sejenis ikan kembung yang sudah dikeringkan), tapi jika tidak menemukan ikan aso-aso bisa diganti dengan ikan teri tawar.


6. Itak Gurgur 


Makanan tradisional khas Batak yang pada umumnya digunakan pada acara adat Batak tertentu. Itak gurgur dibuat dengan bahan yang sama dengan lampet, yaitu beras yang telah dihaluskan secara tradisional yang kemudian disebut itak. Rasa yang dihasilkan juga hampir sama dengan lapet, yaitu manis dan gurih.
Namun cara membuat itak gurgur berbeda dengan cara membuat lampet. Itak gurgur dibuat dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan mengadon itak, kelapa muda yang telah diparut, gula pasir, dan sedikit air panas. Setelah dicampur sampai rata, kemudian adonan tersebut dicetak secara manual dengan tangan sendiri. Sudah, begitu saja. Itak Gurgur pun siap dihidangkan.
Kata gurgur di sini dapat diartikan sebagai “membara”. Pemberi itak gurgur selalu berharap si pemakan jadi memiliki semangat yang membara-bara. Agar benar-benar membara, itak gurgur dapat dikukus setelah air mendidih.


7. Kue Ombusombus 

Makanan atau jajanan khas Batak yang berasal dari Siborongborong, Tapanuli Utara. Kue ombusombus terbuat dari tepung beras yang diberi gula di tengahnya dan dibungkus dengan daun pisang.


Nama Ombusombus itu konon dibuat harus memberi tiupan (menghembuskan nafas) ketika memakannya dan kue ini enak dimakan di saat masih hangat.
Tak jelas sejak kapan penganan ini mulai “membudaya”, namun pada acara seremonial adat Batak tertentu, biasanya lampet atau ombusoombus tetap menjadi hidangan sela dan dibarengi kopi atau teh.


8. Kacang Sihobuk 


Makanan ringan/jajanan berbahan dasar kacang khas Batak yang berasal dari Desa Sihobuk, Tarutung, Tapanuli Utara. Nama Sihobuk adalah nama merk dagang yang diambil dari nama desa Sihobuk menjadi merk, tidak terlalu berbeda dengan kacang lain, namun kacang tersebut telah dipilih dan dipilah untuk dijual. Kacang sihobuk telah menjadi oleh-oleh terkenal, bahkan sampai ke luar negeri. Kacang sihobuk tersebut (tanpa dikuliti) dimasak di kuali besar yang telah diisi dengan pasir, diaduk atau digongseng supaya kacang masak, dan garing secara merata.


9. Sasagun 


Makanan ringan tradisional khas batak dari Sumatera Utara. Makanan ini dibuat dari tepung beras yang digongseng dengan kelapa dan dicampur dengan gula merah/aren. Soal rasa bisa dicampur dengan nenas atau durian, kacang atau sesuai dengan selera. Dahulu makanan ini selalu disertakan oleh orang tua kepada anak-anaknya yang akan merantau, dan juga kepada mereka yang akan pulang ke perantauan.


10. Dali ni Horbo 


Atau Bagot ni horbo adalah air susu kerbau yang diolah secara tradisional dan merupakan makanan khas Batak dari daerah Tapanuli.  Konon menurut ceritanya, tradisi mengolah susu kerbau menjadi dali sudah dimulai oleh leluhur orang batak semenjak adanya komunitas batak. Pada setiap rumah makan khas batak, dali menjadi menu utama. Untuk mendapatkan dali, umumnya di setiap onan (pasar) di daerah Tapanuli, dali menjadi komoditas dagangan.


11. Mie Gomak


Makanan yang berupa masakan mie ini adalah Makanan yang terkenal yang juga sebagai masakan khas daerah dari tanah Batak Toba, Mie Gomak ada disemua daerah yang meliputi semua daerah Batak Toba, dan juga menjadi masakan khas di Sibolga dan Tapanuli.



Mengenai asal usul sebutan untuk menu ini beragam versi. Sebagian menyebutkan, mungkin karena cara penyediaannya digomak-gomak (digenggam pakai tangan) hingga sampai saat ini disebut mie gomak, meski pun pada akhirnya tidak menggenggamnya dengan tangan di saat menghidangkannya. Juga sering disebut Spageti Batak karena mirip dengan spageti dari Itali, bentuknya mirip seperti lidi.Mie yang sudah direbus biasanya dibuat terpisah dengan kuah dan sambalnya. Meski banyak ragam untuk membuat menu makanan khas Batak ini, ada yang menggunakan kuah ada juga dibuat seperti mie goreng. Rasanya sangat unik apabila mie gomak dicampur dengan bumbu dari tanah Batak yakni andaliman.

Selain 11 masakan dan makanan khas dari Sumatera utara tersebut juga bisa kita lihat dan nikmati masakan lainnya yang bernuansa Batak sumatera utara ini seperti :

12. Sayur Daun Ubi Tumbuk
13. Sayur Daun Ubi Jantung Pisang
14. Babi Panggang Karo
15. Pancake durian medan 
16. Sate kerang tanjung 

Demikian tentang masakan tradisional di Sumatera Utara yang populer, sering dicari dan disajikan dalam berbagai kesempatan dan acara. bagi anda yang ingin merasakan enak dan lezatnya masakan ini silakan berkunjung dan berwisata ke Sumatera Utara.

Cari Artikel