SENJATA TRADISIONAL (THE TRADITIONAL WEAPON) YANG PERNAH ADA DI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural-----Senjata tradisional merupakan produk budaya yang lekat hubungannya dengan suatu masyarakat. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, senjata tradisional juga digunakan dalam kegiatan berladang dan berburu. Lebih dari fungsinya, senjata tradisional kini menjadi identitas suatu bangsa yang turut memperkaya khazanah kebudayaan nusantara. Senjata tradisional ini sungguh unik dan sekarang sebagian sudah langka, karena sudah jarang dimiliki oleh kebanyakan orang, akan tetapi senjata tradisional ini kini telah banyak dijadikan sebagai koleksi bagi pecinta barang antik dan banyak diburu oleh para kolektor tersebut. Harga senjata tradisional unik pun semakin mahal, bahkan mencapai ratusan juta rupiah.

Senjata tradisional yang dibuat dengan teknik tempa besa seperti parang, keris, tombak, kapak dan balayung oleh pemakainya digunakan sebagai senjata untuk pertahanan diri. Jenis senjata yang bagus buatannya biasanya dipakai sebagai simbol kepemimpinan dan kebanggan diri. Berapa jenis senjata fungsi sosialnya diketahui sebagai pusaka dari peninggalan budaya keraton Banjarmasin. Orientasi nilai pada orang Melayu di Asia Tenggara yang percaya pada berbagai kekuatan ghaib sering juga menganggap sebuah senjata dapat memiliki unsur saksi jika diukur dengan kalimat dari doa-doa suci seorang pemimpin agama yang sanggup berhubungan dengan alam-alam ghaib.

Indoborneonatural-----Traditional weapons are cultural products that are closely related to a society. Besides being used to shelter from enemy attacks, traditional weapons are also used in farming and hunting activities. More than its function, traditional weapons are now the identity of a nation that helped enrich the cultural treasures of the archipelago. This traditional weapon is unique and now partly rare, because it is rarely owned by most people, but this traditional weapon has now been used as a collection for lovers of antiques and many hunted by the collectors. The price of traditional weapons is even more expensive, even reaching hundreds of millions of rupiah.

The traditional weapon built from the Black Smith culture lie blades, kerises, spears, balayungs and hand axes are used for a self defence weapons. The best fabricated weapon is worn to the heirlooms and privileges. The social function of weapon is branded for regalia from the Banjarmasin royal heritage. The Malayan value orientation on South East Asia that believes in a supranatural impunity is fequently assume that the weapon has circumstance power by grafted in an aculticism word tah engege for the shaman corthegous in the supranatural orders.

The following are some of the traditional weapons of South Kalimantan that we must preserve:

1. Parang Kemudi singkir



2. Cemeti


3. Ruti Kalung


4. Jambia


5. Parang Lubuk


6. Parang Baduk


7. Keris


8. Tombak



9. Keris Ilat Patung



10. Keris Sempana



11. Cabang/Trisula


12. Balayung Nyaru, dan Kapak Siam



Demikian tentang senjata tradisional "The Traditional Weapon" Khas Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang khasanah budaya bangsa, terimakasih.

BERBURU KULINER WADAI APAM 'DANGKAK' DI KOTA AMUNTAI KALSEL

Indoboneonatural----Siapa sich orangnya yang tidak kenal dengan itik alabio, binatang ikon, khas dari kabupaten hulu sungai utara ini sudah masyur sampai nasional sebagai salah satu jenis itik paling bandel dan mudah dipelihara.

Itik alabio disebut demikian karena di kecamatan alabio lah tempat perdagangan itik ini diselenggarakan secara besar-besaran. Kecamatan yang terletak hanya 10 Km dari Amuntai, ibu kota kabupaten ini. Itik alabio rupanya telah dijadikan ikon dari kabupaten Hulu sungai Utara, sebuah patung besar itik Alabio ini pun telah di bangun di kota amuntai. , siapa yang tidak pernah mendengar kota amuntai?..tentu saja di Indonesia ini masih banyak yang tidak tahu tentang kota amuntai. Tapi tentang Amuntai kali ini kita tidak membahas itik Alabio, tetapi admin mengajak mencicipi salah satu kulinernya, salah satu kue khas Kalimantan Selatan, yaitu Apam dangkak, sekalian kita lihat sedikit proses pengolahannya, melalui foto-foto di bawah ini.

Mengunjungi kota Amuntai memang tidak lengkap rasanya kalau tidak menyambangi jajanan tradisonal yang sangat lezat untuk disantap selagi hangat. Seperti yang satu ini, masyarakat Amuntai biasa menyebut lumba/apam dangkak. Disebut apam dangkak karena dulu penganan ini dinikmati sambil jongkok karena tak ada kursi. Apam ini berasa tawar karena itu memakannya menggunakan gula merah yang sudah dicairkan, biasa juga dicelup ke madu dan setrup(sirup). Tidak hanya apam, ada lagi yang disebut cincin talipuk. Penganan manis ini terbuat dari tepung buah teratai. Dengan tambahan gula merah dibentuk kecil-kecil, sangat sedap dinikmati dengan segelas teh hangat....(ayo...ke Amuntai....).

Foto-foto +pembuatan kue/ wadai lumba/apam dangkak secara tradisional :


Pembuatan wadai lumba/apam dangkak dilakukan secara tradional, dengan dapur/ tungku kayu bakar dan penggorengan wajan besar yang telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian (Panci Belah).


Kue wadai lumba/apam dangkak, yang dimasak di atas penggorengan panci belah di beri tutup khusus, tutup yang terbuat dari tanah liat yang sudah dipanaskan, agar kue apam cepat matang merata bagian atas dan bawahnya secara bersamaan. 


Proses memasak dilakukan berulang-ulang, dengan mengangkat kue apam yang sudah matang dan menuangkan lagi odonan kue, beberapa kali sesuai dengan banyaknya bahan dan odonan kue yang telah di persiapkan.

Kue wadai lumba/apam dangkak yang telah diangkat dari wajan didinginkan di dalam nyiru yang diberi alas daun pisang, setelah dingin, siap disajikan dengan memberi kuah dari santan, gula merah atau gula aren.



Pasar Kue/Wadai di Amuntai
Kue wadai lumba/apam dangkak, bisa dimakan sendiri atau dijual di pasar-pasar tradisional, dan warung di daerah Amuntai dan sekitarnya.


Source: Facebook Hatmiati Masud

PELAMUTAN TERAKHIR DI BANUA BANJAR; GUSTI JAMHAR AKBAR


Itihi Gusti Jamhar Akbar -- "Palamutan Pahabisan di Banua"

Tahun ini umur banua Kalimantan Selatan 67 tahun, Indonesia 72 tahun. Jaman sasain maju, tagal lamut, seni tradisi Banjar, sasain langlam di Bumi Antasari. Palamutan nang ada sasain tuha, nang anum -- nang pacang manggantiakan -- kadada buriniknya. Amun nang tuhanya kadada lagi, saku lamut pacangan mati. Kadada nang bisanya lagi balamut.

Nasip wayang kulit Banjar wan madihin saku tabaik pada lamut. Ada haja dadalang anum nang bisa bawayang. Di Kampung Panggung, Barikin, Hulu Sungai Tengah, pariannya, ada Ufik Dalang, nang mawaris ilmu dadalang matan Abahnya, aruah Dalang Saderi.

Madihin baik lagi nasipnya. Banyak haja nang harat bamadihin, kaya John Tralala, Anang Syahrani wan Suanang Iyan. Nang taanum, ada jua, bujur balum mahir banar.

Tamu kita hari ini Gusti Jamhar Akbar -- dikiau “Ayah”. Saku sidin palamutan nang pahabisan di banua. Tumatan halus sidin sudah balamut, mairingi kawitan nang palamutan. Tahun ini umur sidin 75 tahun.


Di Banjar, rumah sidin takapit dalam Gang Mujahid Aman, Alalak Selatan. Mustinya ada urang sugih -- atawa Pamarintah Kalimantan Selatan -- nang mahadiahi rumah sagan sidin, kaya Hubnur Rudy Ariffin Bakhrun mahadiahi rumah sagan Anang Ardiansyah. Salajur mahadang disaru urang balamut -- lamut hajat atawa hiburan -- sidin bajualan pancarikinan di ambin rumah.

Syukur alhamdulillah, di FKIP ULM sudah ada “Doktor Lamut”, Sainul Hermawan, nang disertasinya -- “Ayangilah”: Resistensi Dalam Tradisi Lisan Balamut, Varian Gusti Jamhar Akbar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan” -- 3 Juli 2017 maju sidang di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; 23 Agustus 2017 samalam wisuda.

Tahun 2015 lamut diakui Pamarintah RI jadi Warisan Budaya Takbenda, tagal dimapa nasipnya kaina? Kita itihi wan dangari sama-sama, napa ujar “Datu Lamut” Gusti Jamhar Akbar... 

Tulilsan Y.S Agus Soeseno 

di #Pandiran_Budaya, Tvri Kalsel, Selasa, 19 September 2017, Pukul 17.30-18.00 WITA, live streaming www.tvri.co.id.


Sumber: Facebook Y.S Agus Soeseno !

19 TARIAN TRADISIONAL KHAS BALI YANG HARUS DILESTARIKAN

Indoborneonatural----Berikut ini adalah bermacam-Macam jenis Tari-tarian Tradisional khas Bali yang wajib kita lestarikan sebagai aset kekayaan budaya bangsa :

1. Tari Trunajaya

Tari Trunajaya berasal dari kata Teruna. Kata itu diambil dari kata pemuda yang ditemukan dari hasil kreasi Pan Wandres dalam perjalanannya dan disempurnakan oleh I Gde Manik.

Tari Tarunajaya - Gambar: foto.tempo.co
Tarian ini menceritakan tentang seorang laki-laki yang ingin memikat wanita, terlihat dari setiap gerakan tarinya yang tegas dimana antar kaki diberi jarak seperti kuda-kuda. Walau begitu, seiring dengan perkembangan zaman tarian ini tidak hanya dibawa oleh laki-laki. Perempuan pun dapat ikut serta, bahkan oleh 2 orang sekaligus.

Bila di telaah, sang penari selalu membelalakan matanya dan dengan tegas menggerak-gerakan tariannya, berkesan menyeramkan namun hal ini untuk menunjukan kejantanan pria. Tarian ini biasanya selalu diiringi musik gamelan Gong Kebyar, dapat dipentaskan dimana saja karena bertujuan untuk hiburan saja.


2. Tari Barong

Barong, dari katanya saja mirip dengan Barongsai ya? Tapi tarian ini bukan dari negara China. Indonesia sendiri memiliki tari Barong yang diwariskan jauh hari sebelum keberadaan agama Hindu.

Tari Barong - Foto: Indoborneonatural
Tari Barong merupakan tarian yang menggambarkan pertarungan antara kebajikan dan kebatilan. Wujud kebajikan diperankan oleh Barong (penari dengan kostum binatang berkaki empat), sementara wujud kebatilan dimainkan oleh Rangda (sosok yang menyeramkan dengan dua taring runcing di mulutnya). Ada beberapa jenis Tari Barong yakni Barong Ket, Barong Bangkal (babi), Barong Gajah, Barong Asu (anjing), Barong Brutuk, serta Barong-barongan. Tari Barong memiliki keistimewaan yang terletak pada unsur-unsur komedi dan unsur-unsur mitologis yang membentuk seni pertunjukan.

Menurut beberapa literatur, kata Barong berasal dari asal kata “Bahruang” yang memiliki arti beruang. Walaupung begitu, wujud dari binatang yang digambarkan bisa beragam tergantung dari jenis tari Barong yang dibawa, ada Barong Bangkal, Barong Macan, Barong Asu, Barong Gajah, Barong Blasblasan, Barong Landung dan yang paling terkenal, yaitu Barong Keket atau Barong Ket yang menggambarkan perpaduan antara macan, singa dan sapi.

Tarian ini biasa ditarikan oleh 2 orang laki – laki, yang satu memainkan bagian kepala dan yang lain berada di bagian ekor. Badan Barong yang digunakan untuk menari pada umumnya terbuat dari bahan kulit dan berhiaskan ukiran – ukiran khas Bali yang dilengkapi dengan ornament potongan kaca cermin sehingga membuatnya Nampak berkilau. Bulu barong terbuat dari serat ijuk, meski ada pula yang terbuat dari bulu burung gagak. Sedangkan untuk bagian topeng, biasanya dibuat dari kayu yang tumbuh di tempat yang dianggap keramat atau angker. Tarian ini diiringi oleh gamelan Gong Kebyar, gamelan Batel dan gamelan Babarongan.


3. Tari Legong

Tari Legong merupakan tari Bali dengan gerak tari yang terikat oleh gamelan yang mengiringinya yakni Gamelan Semar Pagulingan. Tarian yang selalu dilengkapi dengan kipas sebagai alat bantu ini pada mulanya dikembangkan di keraton-keraton Bali pada abad ke-19 paruh kedua.

Tari Legong-Gambar:edwinsanjayaphotograph.blogspot.com
Pada masa kerajaan Bali, tarian ini hanya ditampilkan di lingkungan keraton. Kata Legong sendiri berasal dari asal kata “Leg” yang memiliki arti luwes serta “gong” yang dapat diartikan sebagai gamelan. Oleh sebab itulah, tarian ini memiliki gerakan yang lemah gemulai yang diiringi dengan gamelan tradisional khas Bali bernama Semar Pegulingan. Selain itu, para penari yang memainkan Legong menggunakan kipas, kecuali tokoh Condong.

Tari Legong dalam khasanah budaya Bali termasuk ke dalam jenis tari klasik karena awal mula perkembangannya bermula dari istana kerajaan di Bali. Tarian ini dahulu hanya dapat dinikmati oleh keluarga bangsawan di lingkungan tempat tinggal mereka yaitu di dalam istana sebagai sebuah tari hiburan. Para penari yang telah didaulat menarikan tarian ini di hadapan seorang raja tentu akan merasakan suatu kesenangan yang luar biasa, karena tidak sembarang orang boleh masuk ke dalam istana.Mengenai tentang awal mula diciptakannya tari Legong di Bali adalah melalui proses yang sangat panjang. Menurut Babad Dalem Sukawati, tari Legong tercipta berdasarkan mimpi I Dewa Agung Made Karna, Raja Sukawati yang bertahta tahun 1775-1825 M. 
Di Bali, ada beberapa jenis Tari Legong yang berkembang seiring dengan berjalannya waktu, yaitu Legong Keraton atau Legong Lasem, Legong Legod Bawa, Legong Jobog, Legong Smaradahana, Legong Sudarsana dan Legong Kuntul.


4. Tari Kecak

Tari Kecak adalah tarian adat Bali yang sudah sangat terkenal dan telah menjadi salah salah pertunjukan khas yang diburu para wisatawan mancanegara. Bagi mereka rasanya belum lengkap wisata di Bali jika belum menonton pertunjukan Tari Kecak ini.

Tari Kecak - Foto: 1001malam.com
Tarian ini diciptakan oleh Wayan Limbak dan Walter Spies pada tahun 1930 oleh seniman Jerman, tarian ini menceritakan epic Ramayana dan rata-rata semua penarinya adalah laki – laki. Jumlah penari yang membawakan Tari Kecak bisa berjumlah puluhan bahkan lebih. Tari Kecak Bali ini menggambarkan barisan kera membantu Rama melawan Rahwana. Para penari yang duduk melingkar tersebut mengenakan kain kotak-kotak seperti papan catur melingkari pinggang mereka sebagai pasukan kera. Karena kisahnya diambil dari cerita Ramayana maka ada penari lain yang memerankan Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman, dan Sugriwa.

Kalau kamu jalan-jalan ke Bali sisihkan waktu kurang lebih 30 menit untuk melihat pertunjukan Tari Kecak, kamu akan melihat para penari yang duduk melingkar dan menyerukan “cak” sembari mengangkat kedua lengan. Hal tersebut menggambarkan tentara kera saat membantu Rama melawan Rahwana. Ada pula penari yang memerankan tokoh – tokoh Ramayana.

Tarian ini kerap dipuji oleh wisatawan asing karena keunikannya, walau hanya berbunyi “cak-cak-cak” namun beberapa kelompok membunyikannya dengan ketukan berbeda-beda, ketika kamu mendengarkan sekelompok laki-laki yang membunyikan kata “cak” kamu seolah mendengarkan ribuan orang yang membunyikan kata “cak”. Inilah keunikan tari kecak. Tari ini disajikan sangat sederhana, namun suasana mistisnya masih tetap ada.


5. Tari Pendet

Tari Pendet sebagai tarian khas Bali pada awalnya adalah sebagai taria, pemujaan yang ditampikan di pure-pure di Bali. 

Tari Pendet bisa disebut sebagai bentuk penyambutan atas turunnya para dewa ke dunia. Seiring dengan berjalannya waktu, dan mengikuti perkembangan seni, para seniman tari di pulau Bali mengubah tarian tersebut menjadi sebuah tarian selamat datang.

Tari Pendet - Foto: www.sumber.com
Versi modern dari Tari Pendet dibuat oleh I Wayan Rindi pada tahun 1950-an. I wayan Rindi adalah seorang seniman yang seumur hidupnya mengamati seluruh tarian Bali, seiring dengan usia I Wayan Rindi mencintai budaya khas Bali, sehingga menjadi seorang pengajar tari Pendet dari generasi ke generasi, ia pun menciptakan koreograper Tari Pendet khusus upacara pembukaan Asian Games di Jakarta. Dibuatnya koreograper Tari Pendet untuk ditarikan oleh kurang lebih 800 orang, yang awalnya ditarikan oleh 5 orang.


6. Tari Baris

Tari Baris dari Bali ini merupakan tarian sakral sebagai pelengkap di suatu upacara keagamaan. Tari Baris merupakan tarian kepahlawanan untuk membuktikan kedewasaan seseorang dalam segi jasmani. Kedewasaan seseorang pria dibuktikan dengan mempertunjukkan kemahiran dalam olah keprajuritan yang biasanya disertai dengan kemahiran dalam memainkan senjata perang.  Ada dua jensi tari Baris yakni Baris Tunggal dan Baris Tombak. Sesuai dengan namanya tari baris, tarian ini dibentuk dengan posisi baris membaris.

Tari Baris - Foto: Balinesia - WordPress.com
Tari Baris adalah salah satu tarian adat Bali yang awalnya merupakan satu bentuk ritual, namun seiring dengan zaman tari ini menjadi tari hiburan. Tari Baris diciptakan pada pertengahan abad ke-16. Di dalam tarian ini, penari menggerakan badannya seperti seorang pahlawan yang sedang berperang, tari ini dipertontonkan tentang keberanian para ksatria Bali yang sedang bertempur demi membela Raja.

Tarian ini juga biasa dibawakan oleh paling sedikit 8 hingga paling banyak 40 laki-laki. Perlengkapan kostum untuk tari ini adalah badog, lamak, awir, baju beludru, celana panjang, dan lain-lain, seperti ksatria lengkap dengan hiasan kepala, punggung dan dada. Namun, kostum penari yang dikenakan di setiap daerah di Bali bisa berbeda – beda karena setiap daerah memiliki Tari Baris khas sendiri – sendiri. Tarian ini termasuk ke dalam tarian keramat sehingga hanya dibawakan saat adanya perayaan – perayaan khusus dan upacara suci.


7. Tari Panji Semirang

Tarian ini diciptakan oleh seniman bernama I Nyoman Kaler pada tahun 1942. Tarian Panji Semirang dianggap sebuah tari pertunjukan, yang demonstrasikan di luar pure.

Tarian ini menceritakan tentang seorang putri bernama Galuh Candrakirana yang sedang mengembara dan menyamar sebagai laki – laki dengan nama Raden Panji atau Inu Kertapati. Pengembaraan tersebut dilakukan sang putri setelah dirinya kehilangan sang suami. Biasanya ditarikan oleh penari wanita yang berperan sebagai laki – laki.

Tari Panji Semirang - Foto: www.sumber.com
Pada awalnya tarian Panji Semirang ditarikan oleh Luh Cawan, salah seorang murid I Nyoman Kaler. Pada tarian ini, kita akan melihat para penari yang membuka matanya lebar-lebar bak seseorang yang sedang sedang marah, mata melarak lirik, dibumbui senyuman namun tetap dengan mata yang galak. Terdapat perubahan mimik di beberapa gerakan.  Tarian ini sering dipertunjukan dalam acara-acara tertentu, saat pesta Kesenian, juga sering dilombakan, bahkan pernah dipentaskan di festival-festival kesenian di luar negeri.


8. Tari Puspanjali

Puspanjali adalah sebuah tarian adat Bali yang merupakan satu bentuk penyambutan. Puspanjali merupakan gabungan dari arti kata “puspa” dan “anjali” dimana bila disatukan “menghormati bagai bunga”. Maknanya menghormati para tamu bagai sekuntum bunga.

Tari Puspanjali - potretbali.blogspot.co.id
Tarian ini ditampilkan oleh sekelompok penari wanita berjumlah 5 hingga 7 orang. Tarian ini terinspirasi dari tarian – tarian yang dibawakan pada upacara Rejang yang menggambarkan sekelompok wanita yang senang dengan kedatangan para tamu yang mampir ke daerah mereka.

Tarian ini diciptakan pada tahun 1989 oleh penata tari Bali bernama N.L.N. Swasthi Wijaya dan I Nyoman Windha yang merupakan penata tabuh pengiring.


9. Tari Margapati

Kata Margapati diambil dari kata Marga yang artinya jalan, dan pati berarti kematian. Bila disatukan artinya jalan menuju kematian.

Tari Margapati - Foto: Holobis.Net
Diciptakan oleh Nyoman Kaler pada tahun 1942, tarian ini menggambarkan kesalahan perjalanan hidup seorang wanita. Oleh sebab itu, tarian ini banyak menghadirkan gerakan tari laki – laki meskipun penarinya biasanya wanita. Jika dilihat, gerak gerik tarian ini seperti mengintai dan siap-siap menerkam mangsanya.


10. Tari Rejang

Tari Rejang merupakan jenis tari Bali yang ditarikan secara masal dan sakral. Tari Rejang ini dianggap sakral karenanya Tarian Rejang harus ditarikan oleh gadis-gadis yang masih suci perawan, bahkan sering dilakukan oleh gadis kecil belia yang baru berumur enam tahun. 
Tari Rejang - foto: soloraya.com
Para penari dipimpin oleh seorang pemangku yang menari paling depan. Di belakang pemangku para penari Rejang berderet-deret menari sambil memegang seutas benang yang dibawa oleh pemangku. Iringan gamelannya menggunakan gamelan Semar Pagulingan.


11. Tari Sanghyang

Tari sanghyang merupakan tarian sakral yang berfungsi sebagai pelengkap upacara untuk mengusir wabah penyakit yang sedang melanda suatu desa atau daerah. Ada satu hal yang sangat menarik dalam kesenian ini, yaitu pemainnya akan mengalami trance pada saat pementasan. Dalam keadaan seperti inilah mereka menari-nari, kadang-kadang di atas bara api dan selanjutnya berkeliling desa untuk mengusir wabah penyakit. 

Tari Sanghyang - Foto: indonesia-heritage.net
Biasanya pertunjukan ini dilakukan pada malam hari sampai tengah malam. Ada beberapa macam Tari Sanghyang yakni Sanghyang Dedari, Sanghyang Dewa, Sanghyang Deling, Sanghyang Dangkluk, Sanghyang Penyalin, Sanghyang Cleng (babi hutan), Sanghyang Memedi, Sanghyang Bungbung, Sanghyang Kidang, Sanghyang Janger, Sanghyang Sengkrong, dan Sanghyang Jaran.



12. Tari Janger

Tari Janger merupakan tari pergaulan muda mudi Bali yang diciptakan pada tahun 1930-an. Tarian dengan gerakan yang sederhana namun ceria dan bersemangat ini dibawakan oleh 10 penari yang berpasangan, yaitu kelompok putri (janger) dan putra (kecak). Mereka menari sambil menyanyikan Lagu Janger secara bersahut-sahutan.

Tari Janger - Foto: www.nusabali.com
Gerakan tari Janger sendiri cukup sederhana namun penuh semangat, hampir setiap orang bisa mempelajarinya dengan mudah dan lebih cepat dibandingkan tari Bali lainnya. Latar belakang musik yang mengiringi kesenian rakyat ini adalah Tetamburan atau Gamelan Betel dan gender wayang. Tema nyanyian yang dibawakan berkisar tentang pergaulan anak remaja, seperti menanyakan identitas, cara berkenalan, kisah asmara dan rayuan. Lagu-lagu tersebut bersifat gembira dan keceriaan, dibawakan oleh penari dengan ekspresi keriangan, sehingga sangat menghibur dan terlihat menyenangkan.



13. Tari topeng

Tari Topeng merupakan tarian yang dimainkan oleh penari dengan mengenakan topeng. Tarian ini biasanya dilakukan oleh penari tunggal atau sekelompok penari laki-laki beberapa orang pria menari topeng dalam sebuah upacara besar. 

Tari Topeng - Foto: topengoldbali.blogspot.co.id

Topeng Pajegan - Foto:Fathurrahmanid.blogspot.com
Tari topeng ada dua jenis yakni Tari Topeng Pajegan dan tari Topeng Wali. Tari topeng pajegan merupakan tarian suci yang ditarikan saat ada upacara tertentu. Sedangkan, tari topeng wali merupakan tarian untuk menghibur dan biasanya bercerita tentang kisah-kisah lama Bali kerajaan tradisional.



14. Tari Panyembrahma

Tari Panyembrahma adalah tarian Bali yang diciptakan oleh seniman I Nyoman Kaler merupakan tarian penyambutan tamu, biasanya tarian ini dilakukan pada acara tertentu untuk menyambut tamu istimewa. Tarian ini dipentaskan oleh penari-penari wanita secara berkelompok. 
Tari Panyembrahma - Gambar: foto.tempo.co.id
Gerak tari ini yang melukiskan keramahan serta penghormatan. Ini dilukiskan pada saat bunga-bunga yang ditaburkan penari melambangkan ungkapan selamat datang kepada para tamu dengan gerakan yang penuh kehangatan, kegembiraan, dan penghormatan.


15. Tari Gopala

Tari Gopala menceritakan tentang kehidupan para penggembala hewan ternak, pengembala sapi di ladang. Tari ini dibawakan oleh penari laki-laki karena umumnya penggembala adalah seorang laki-laki, bukan seorang perempuan. Wovger bisa mengamati gerakan tarian ini seperti gerakan penggembala.


Kata Gopala diambil dari bahasa Kawi yang berarti penggembala sapi. Tari Gopala ini biasanya dipentaskan oleh 4 sampai 8 orang penari putra. Tarian ini adalah ciptaan bersama antara I Nyoman Suarsa (penata tari) dan I Ketut Gede Asnawa (sebagai penata iringan) dengan ekspresi gerakan tari yang humoris dengan materi gerak yang merupakan perpaduan antara gerak-gerik tari Bali yang sudah ada yang telah dikembangkan dengan gerak-gerak baru. Tari ini diciptakan pada tahun 1983 yang diambil dari cerita pragmentari “Stri Asadhu” karya Ibu Ketut Arini, S.St. Tari Gopala dianggap sebagai tarian yang bertemakan kerakyatan. Gerak tariannya mencakup aktivitas gerakan binatng saapi, memotong rumput, menghalau burung, membajak sawah, menuai padi, dan lainnya.



16. Tari Cendrawasih

Meski di Bali bukan habitat burung cendrawasih, Wovger bisa menemukan tari cendrawasih di sini. Tarian ini menunjukkan bahwa masyarakat Bali sangat kreatif dan mempunyai imajinasi yang luas.
Tari Cendrawasih - Gambar: foto: en.wikipedia.org
Tari ini menggambarkan sepasan cendrawasih jantan dan betina yang saling memadu kasih. Oleh karena itu, jumlah penarinya hanya dua orang. Umumnya wanita-wanita.


17. Tari Jauk

Tari Jauh merupakan salah satu tari khas Bali. Kostum penari Jauk hampir mirip dengan kostum Rangda dalam tari Barong. Penari Jauk menggunakan kostum dan Topeng khas. Jika anda lihat lebih dekat, maka penampilan Jauk cukup menakutkan juga hihi, ia memiliki kuku yang panjang dan tajam, muka berwarna merah atau putih, dan mata yang besar melotot.



Tarian ini ada dua macam, yaitu Jauk Manis dan Jauk Keras. Tari Jauk mengisahkan tentang seorang pemimpin yang tidak merakyat, raja yang arogan, sombong dan sangat angkuh.


18.  Tari Sekar Ibing

Salah satu tarian Bali yang juga sering di pentaskan dalam berbagai kesempatan adalah Tari Sekar Ibing. Tari Sekar Ibing merupakan jenis tarian pergaulan, yang ditarikan berpasangan oleh muda-mudi. 
Tari Sekar Ibing - Foto: potretbali.blogspot.co.id
Dengan penuh semangat mereka menari riang gembira. Pemudi yang diibaratkan dengan sekar (bunga), sedangkan pemuda yang akan ngibing (berjoged).


19. Tari Kebyar Duduk

kesenian tari bali kebyar dudukTari Kebyar duduk diciptakan oleh seorang maestro seni asal kabupaten Tabanan pada tahun 1925 bernama I Ketut Mario. Tari kebyar duduk juga biasa disebut dengan tari Kebyar Terompong (jika dimainkan memakai instrument Terompong). Tari ini dinamakan Kebyar Duduk karena sebagian besar gerak-gerakan tarinya dilakukan dalam posisi duduk dengan kedua kaki menyilang (bersila). 

Tari Kebyar Duduk - Foto: belajarbudbali.blogspot.co.id

Bagian dari gerak tari yang dilakukan dengan posisi sulit, yaitu setengah jongkok, dan terlihat unik ketika penari dapat bergerak melangkah atau berpindah tempat dengan cepat. Sama seperti tarian Baris, tari Kebyar Duduk merupakan tarian tunggal. Jika tari Baris mengilustrasikan gerakan-gerakan ksatria (prajurit) Bali pada umumnya. Dalam tarian Kebyar penekannya adalah pada penari itu sendiri yang menginsterpretasikan nuansa musik dengan ekpresi wajah dan gerakan. Penciptaan tarian ini terdiri atas empat bagian, yaitu papeson, kebyar, pangandeng, dan pangecet. Tari Kebyar Duduk menggambarkan seorang pemuda yang menari dengan lincah mengikuti irama gamelan.


Demikianlah 19 Tarian Tradisional khas Bali yang harus kita lestarikan sebagai aset kekayaan budaya bangsa Indonesia tercinta ini. Terimakasih sudah berkunjung di Indoborneonatural. Semoga bermanfaat untuk menambah wawasan kita tentang seni budaya Nusantara-Indonesia ini.


Sumber : 
http://www.ragamseni.com/9-tarian-adat-bali-yang-paling-populer/
http://www.longtripmania.org/2014/09/macam-jenis-tari-bali-yang-terkenal/
http://potretbali.blogspot.co.id/2009/09/gong-kebyar-denpasar_04.html
http://topengoldbali.blogspot.co.id/2013/10/

DURIAN LAHUNG-LAHONG (Durio dulcis)

Indoborneonatural----Siapa sich yang tidak kenal buah durian? Ya, buah dengan ciri khas duri yang banyak di bagian kulit luarnya ini tersebar luas di beberapa negara, terutama banyak ditemukan di daerah-daerah di Asia Tenggara. Dengan baunya yang tajam tapi harum, dari jauh saja seseorang sudah dapat mengenali tanda-tanda adanya buah durian.

Bagi Anda khususnya pencinta buah dengan nama Latin Durio sp, jika jalan-jalan ke Kalimantan, maka anda akan menemukan buah durian khusus yang khas Kalimantan yang diberi nama penduduk setempat dengan nama Durian Lahung atau Lahong.



Durian Lahung (Durio dulcis), agak minor namanya, termasuk buah durian yang hanya ditemukan di daratan pulau Kalimantan, tersebar di seluruh wilayah Kalimantan hingga ke wilayah Sabah Malaysia. 

Durio dulcis, yang juga dikenal sebagai durian marangang (atau merangang), durian merah, tutong, atau lahong, adalah pohon yang cukup besar dalam genus Durio. Tingginya bisa mencapai 40 m. Kulit buahnya berwarna merah tua sampai coklat-merah, dan ditutupi dengan duri ramping 15-20 mm. Daging buahnya berwarna kuning gelap, tipis, dan beraroma karamel dalam, dengan aroma terpentin. Buah dari spesies ini dianggap oleh banyak orang sebagai yang paling manis dari semua buah durian.

Namun pagi ini, aku temukan di pasar Kandangan Kalimantan Selatan. Hanya satu yang menyediakan dari beberapa penjual durian. Harganya berkisar antara 10 hinggga 25 ribu rupiah, tergantung ukuran dan kualitas buah durian yang bersangkutan.

Durian ini memang enak dan manis, apalagi dinikmati ditempat yang jualan langsung. Semanis acil yang menjualnya..hihihi...

Berminat mencicipinya ? datanglah ke Kalimantan Selatan....

TOKOH-TOKOH WAYANG PURWA BUDAYA JAWA INDONESIA LENGKAP

Kayon/Gunungan

Indoborneonatural----Sebelum kita melihat tokoh-tokoh yang tergambar dalam Wayang Purwa sebagai budaya Jawa yang ada di Indonesia, terlebih dahulu kita lihat tentang Kayon atau Gunungan sebagai bagian dari setiap pegelaran dan pementasan Wayang Purwa tersebut. Kayon yang ada dalam pewayangan Purwa digambarkan dalam sebuah gunung yang didalamnya terlukis pohon hidup yang dihuni oleh beberapa binatang hutan yang antara lain harimau, banteng, kera, burung merak dan lainnya. Dibawahnya dilukiskan sebuah pintu gerbang/gapura yang masuk kesebuah joglo, kemudian pada sisi kanan dan kiri ada sebuah gambar naga raksasa yang kelihatan jelas taringnya memngikuti bentuk atap joglo. Pada pergelaran Wayang Kulit Purwa, kayong berfungsi sebagai tanda peralihan pathet, adegan untuk melukiskan tempat dimana tokoh berada/sebagai penggambaran angin, api, hutan, air, batu dan masih banyak lagi yang bisa digambarkan oleh kayon. Di baliknya bergambar api yang berkobar dan makara/banaspati, kayon juga berfungsi sebagai pembuka dan penutup pegelaran wayang yang bersangkutan. 

Berikut inilah Tokoh-tokoh Wayang Purwa dan profil singkatnya, yang disusun berdasarkan abajad dari nama tokoh yang bersangkutan;

1.  Prabu Abiyasa, Beg Abiyasa
2.  Abilawa
3.  Abimayu
4.  Adirata
5.  Agnyanawati
6.  Airawata
7.  Dewi Amba
8.  Dewi Ambalika, Ambiki
9.  Dewi Adrika
10. Amongdenta
11. Anggada
12. Anggisrana
13. Dewi Anggraini
14. Anila/Kapi Anila
15. Anjani Cantik/ Anjani Kera
16. Anoman
17. Antaboga
18. Antabopa
19. Antareja
20. Antakawulan
21. Arimba
22. Arimbi raseksi/Cantik
23. Arimuka
24. Arjunasasrabahu
25. Arjuna/Janaka
26. Batara Asmara
27. Batari Aswana
28. Aswani Kumba
29. Aswan, Aswin
30. Aswatama
31. Badrahini
32. Bagaspati
33. Bagong Ratu/menjadi raja
34. Baka
35. Baladewa
36. Balaupa dan Cingkarabala
37. Banuwati
38. Barata
39. Baradwaja
40. Basudewa
41. Basukarna
42. Basupati
43. Batara Guru
44. Batara Kala
45. Bilung/Sarawita
46. Bima
47. Bisawarna/Dentawilukrama
48. Bisma
49. Bogadenta
50. Bomanarakasura
51. Bomantara
52. Brajadenta, Brajamusti
53. Brajalamatan
54. Brama
55. Bratasena
56. Bremana dan Bremani
57. Batara Kamajaya
58. Bukbis
59. Bumiloka/Mustakaweni
60. Burisrawa
61. Buta terong
62. Cakil
63. Cangik
64. Cantrik
65. Caranggana
66. Cekruk Truna
67. Citraksa dan Citraksi
68. Citrawati, Prabu Citragada
69. Dadungawuk
70. Darmogosa
71. Danapati
72. Dandonwacana
73. Batara Darma
74. Dasamuka
75. Dasarata
76. Destarasta
77. Dewabrata
78. Dewa Ruci
79. Dewi Tari
80. Ditya Lembuculung
81. Dersanala
82. Dresthajumna
83. Drupada
84. Drupadi
85. Durga
86. Durgandana
87. Durmagati
88. Durna
89. Dursala
90. Dursasana
91. Dursilawati
92. Duryudana
93. Ekalaya
94. Emban
95. Erawati
96. Gagak Baka
97. Gana
98. Gandabayu
99. Gandamana
100. Gangga
101. Gandawati
102. Gardapati
103. Gareng
104. Gatotkaca
105. Gentong Lodong
106. Gorawangsa
107. Gotama
108. Gunadewa
109. Gunawan Wibisana
110. Guwarsa/Guwarsi
111. Hamsa
112. Hartadriya
113. Indra
114. Indrajit
115. Irawan
116. Purwati
117. Jakapuring
118. Jakatus
119. Jambumangli
120. Janaka
121. Jangetkinatelon
122. Jarasanda
123. Jatagimbal dan Jatagini
124. Jatasura
125. Jatayu
126. Jayadrata
127. Jayasemedi
128. Jayawilapa
129. Jembawan
130. Jembawati
131. Jungkungmardea
132. Kakrasana
133. Kalabendana
134. Kalakarna
135. Kalanjaya dan Kalantaka
136. Kala Pracona
137. Kalasrenggi
138. Kalimantara
139. Kanastren/Kaniraras
140. Kandihawa
141. Kangsadewa
142. Kartapiyoga
143. Kesawasidi
144. Kekayi
145. Kencakarupa
146. Kenyawandu
147. Kertanadi
148. Kerpamuda/Kerpa tua
149. Kerpi
150. Kresna
151. Kumbayana
152. Kumba-kumba
153. Kumbakarna
154. Kunti
155. Kuntulwinanten
156. Ramakusya dan Lawa
157. Kuwera
158. Lesmanawidagda
159. Lembu Andini
160. Lesmanamandrakumara
161. Madrim
162. Maerah
163. Mahadewa
164. Matswapati
165. Mintaraga
166. Harjunapati
167. Nagaraja
168. Nagagini
169. Nagatatmala
170. Nakula
171. Narada
172. Narasoma
173. Kalmasapada
174. Narayana
175. Niwatakawaca
176. Padmanaba
177. Parasaea
178. Pancawala
179. Pandu
180. Parikenan
181. Parikesit
182. Patuk dan Tamboro
183. Pergiwa dan Pergiwati
184. Pertiwi
185. Petruk
186. Podangbinorehan
187. Prabakusuma
188. Prabasini
189. Perbawa
190. Pragalba
191. Prahasta
193. Pratipa
194. Premadi
195. Priyambada
196. Raden Puntadewa
197. Purwaganti
198. Supalawa
199. Raghu
200. Rajamala
201. Ramabargawa
202. Ramawijaya
203. Rukmakala/Rukmuka
204. Rajawulan
205. Sadewa
206. Sakri
207. Sakuntala
208. Sekutrem
209. Salya
210. Samba
211. Sambo
212. Sanga-sanga
213. Sasikirana
214. Sasrahadimurti
215. Sasrawindu
216. Setyawati
217. Sawitri
218. Sayempraba
219. Sembadra
220. Sengkanturunan
221. Sengkuni
222. Sentanu
223. Srimahapunggung
224. Setyawan
225. Setyajid
226. Setyaka
227. Sinta
228. Dewayani
229. Sisupala
230. Sitija
231. Sitisundari
232. Srikandi
233. Srimahapunggung
234. Subadra
235. Sugriwa dan Subali
236. Sukesi
237. Sukasarana
238. Sumali
239. Sumantri
240. Sumitra
241. Suratimantra
242. Surtikanti
243. Surtikanti
244. Surya
245. Suryasaputra/Suryawati
246. Tambakganggeng
247. Tangsen
248. Togog
249. Tremboko
250. Ttrikaya dan Trinetra
251. Trisirah
252. Trijata
253. Tuhayata
254. Udawa
255. Ugrasena
256. Uma
257. Utara
258. Utari
259. Wasita
260. Watugunung
261. Wibisana
262. Wilutama
263. Wisanggeni
264. Wisata
265. Wisnu/Batara Wisnu
266. Wisrawa
267. Prabu Banaputra
268. Wiratsangka
269. Yamadipati
270. Yamawidura
271. Yudistira
272. Yuyutsuh
273. Handaka Murti
274. Kalayuwana
275. Ampyak/rampongan
276. Kereta Jaladara
277. Pertuk Raja
278. Pandu Bregola

Cari Artikel