BAKESAH ATAU MENDONGENG "BAPANDUNG"

Bakisah, Bapandung, Bercerita dalam Bahasa Banjar
Bapandung
Salah satu kebiasaan masyarakat Kalimantan tempo dulu, yang hampir ada diseluruh wilayah nusantara adalah kegiatan bekisah atau mendongeng. Orang-orang tua tempo dulu sangat senang bakisah untuk anak-anak, kadang-kadang sampai larut malam. Bukan hanya anak-anak yang menyukai kisah-kisah ini, orang dewasa pun juga turut menikmati, sering diantara mereka saling bertukar kisah antara mereka. Kisah juga bisa ditukar dengan upah atau hadiah buat tukang kisah, berupa gula, beras, tembakau atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Bakisah juga digunakan sebagai alat untuk pengantar tidur bagi anak-anak yang dilakukan orang tua ketika malam-malam telah tiba.

Pakaian Adat Pengantin Banjar "BAGAJAH GAMULING BAULAR LULUT"

Bagajah Gamuling Baular Lulut adalah nama Pakaian pengantin Banjar propinsi Kalimantan Selatan yang Asli yang pertama. Pakaian pengantin Banjar yang banyak dipengaruhi budaya Hindu yang terlihat begitu eksotik. Dipenuhi roncean bunga melati dan mawar yang disebut bogam, juga rangkaian melati yang sebut karang jagung Pasangan pengantin pun bermahkota Bagajah Gamuling Baular Lulut yang terbuat dari lingkaran logam bundar. Dibentuk menjadi badan dua ekor ular lidi dipertemukan menjadi satu yang bagian depannya diletakan 'amar' atau mahkota bertatahkan dua ekor ular naga berebut kumala yang terletak di antara dua kepala naga, sedangkan di bagian pertemuan ekor diletakan 'garuda mungkur paksi melayang'. Di sebelah kiri, kanan dan depan badan ular lidi diletakkan kembang goyang yang berjumlah ganjil baik pengantin wanita juga pria, pada beberapa bagian busana yang dikenakan berhias payet ditambah berbagai aksesori yang memperindah penampilannya, seperti pada sarung yang dikenakan dengan motif khas bintang 'halilipan'(kaki seribu) yang dihias sulaman benang emas, manik dan payet dengn ciri merayap ke bawah sebagai pelambang kecerdikan, sangat berbisa tetapi tidak pamer kehebatan. Sedangkan paksi melambangkan ketangkasan.

Upacara Adat Bamandi-Mandi Menujuh Bulanan Ibu Hamil

Acara "Bamandi-mandi menujuh bulan"
Indoborneonatural----Salah satu upacara adat dari masyarakat kalimantan selatan yang sering dilakukan adalah upacara adat yang oleh masyarakat setempat di sebut Acara "Bamandi-mandi menujuh bulan". Upacara adat ini merupakan upacara yang dilakukan dalam rangka menghadapi persiapan melahirkan dari ibu hamil yang kandungannya sudah memasuki usia tujuh bulanan.

Proses Bamandi-mandi sendiri dilakukan dengan tata cara tententu sesuai dengan kepercayaan masyarakat setempat, mulai dengan memandikan ibu hamil dengan air kembang atau bunga, hingga menanam bibit kelapa sebagai simbol kepercayaan anak agar tumbuh subur seperti kelapa yang ditanam tersebut. Berikut foto-foto dan gambar prosesi bamandi-mandi menujuh bulan tersebut :









Demikian upacara adat Bamandi-mandi menujuh bulanan sebagai kebudayaan masyarakat Kalimantan Selatan yang sarat dengan nilai-nilai luhur, semoga bermanfaat, terimakasih.

Sopan Santun Kekerabatan Masyarakat Indonesia

Adat sopan santun  masyarakat Indonesia
Hubungan antara kerabat dari masyarakat Indonesia didasarkan pada tingkah laku tertentu, yaitu perasaan umum tentang keamuan baik terhadap seluruh kerabat, baik kerabat karena hubungan darah maupun kerabat karena ikatan perkawinan. Dalam kebiasaan suku bangsa Jawa, Sunda, dan Banjar masa lalu terdapat suatu sikap ideal yang menghendaki yang muda menghormati yang tua.

Bentuk-Bentuk Perkawinan

adat perkawinan
Dalam kebudayaan Indonesia khususnya, dalam perkawinan pertimbangan ekonomi biasanya tidak dinyatakan secara eksplisit. Meskipun demikian ada keluarga-keluarga pihak perempuan mempertimbangkan apakah anak-anak mereka secara ekonomi akan hidup baik kalau dojodohkan dengan orang-orang tertentu misalnya: Dalam banyak masyarakat terdapat beberapa transaksi ekonomi secara eksplisit sebelum atau sesudah waktu perkawinan. Transaksi ekonomi dapat berupa beberapa bentuk seperti:

RAHASIA DIBALIK KEMEGAHAN DAN PEMBANGUNAN CANDI BOROBUDUR

RAHASIA DIBALIK KEMEGAHAN DAN PEMBANGUNAN CANDI BOROBUDUR

Indoborneonatural-----Indonesia memiliki bangunan kebanggaan yang menjadi salah satu keajaiban dunia, candi Borobudur adalah salah satu bangunan megah ini yang memiliki keunikan dan keajaiban serta misteri dibalik keberadaan pembangunannya. Inilah cara membangun candi Borobudur pada masa lampau, sebuah candi yang melegenda dan terkenal hingga ujung dunia. Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan abad 9. Candi yang terlihat impresif dan kokoh ini sempat pernah menjadi bagian dari tujuh keajaiban dunia.


Seperti bangunan – bangunan purbakala lainnya, candi Borobudur juga tidak luput dari misteri mengenai pembuatannya atau pembangunannya. Dan misteri ini banyak menimbulkan pendapat yang berbau kontroversi.

Marilah kita coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu dimisterikan!


DESAIN CANDI

Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa.

Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit – bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat – Barat Daya dan Timur – Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.

Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak – undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi ( Sampurno, 1966 )

Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian – bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1 – 6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.


MATERIAL PENYUSUN CANDI

Candi Borobudur

Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan bentuk bangunan candi.

Menurut Sampurno, tanah ini ditambahkan di atas tanah asli sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5 – 8,5 m.

Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis andesit dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32% – 46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno ( 1969 ), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg / cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg / cm2. Berat volume batuan antara 1,6 – 2 t / m3.






CARA MEMBANGUN CANDI BOROBUDUR

Candi Borobudur

Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.

Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu – satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. Dia mengatakan:

“Saya telah menemukan rahasia – rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia ( Candi Borobudur ) mengangkat batu yang beratnya berton – ton hanya dengan peralatan yang primitif.”

Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:

1. Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.

2. Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.

3. David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda.

David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip – prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.

4. Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.

Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.


DATA PEMBANDING DARI CORAL CASTLE

Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data – data yang ada.

Candi Borobudur

Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:

1. Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.

2. Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6 – 2,0 t / m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.

3. Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak – undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.

4. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu – batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk.

5. Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.

6. Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian – bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1 – 6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi.

7. Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.

8. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.

9. Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar.

Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa – stupa dibangun pada puncak undak – undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.

10. Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9.

Penempatan – penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan Borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.

11. Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu ( stupa puncak tidak di hitung ) adalah: 32, 24, 16 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8.

Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing – masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa – stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.

12. Beberapa bilangan di Borobudur, bila dijumlahkan angka – angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke – Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka – angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1.

Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka – angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1+0=1.

 

ANALISA

Melihat data – data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah – mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:

1. Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton / m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg ( untuk berat jenis 2 t / m3 ). Potongan batu ternyata sangat ringan.

Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah – olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul.

Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak – undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.

2. Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.

3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari.

Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000 / 7665 = 261 batu / hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.

4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan – perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.

5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.

Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel.

Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.

Kesimpulan – kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan purbakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri – misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Arsitektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga.


Demikian ulasan dalam blog Indoborneonatural tentang rahasia dibalik kemegahan dan Pembangunan Candi Borobudur. Terimakasih.

Kumpulan Lagu Daerah Nusantara Indonesia

Lagu kalimantan selatan Paris barantai
Indonesia kaya akan lagu-lagu Daerah, beragam lagu daerah yang berasal dari seluruh propinsi di Indonesia memperkaya nuansa musik dan lagu Nusantara, berikut ini beberapa lagu daerah nusantara Indonesia :

Kumpulan Simbol dan Lambang Propinsi SeIndonesia

PROVINSI BALI
Berikut ini adalah simbol dan lambang propinsi yang ada di Indonesia, masing-masing simbol dan lambang ini memiliki arti dan makna yang sesuai dengan kultur budaya dan lanskap alam masing-masing daerah propinsi tersebut :

Mengenal Letak Geografis Lampung

Secara geografis Lampung yang beribu kota di Bandar lampung ini terletak pada posisi 3 Derajat 45' - 6 Derajat 45' Lintang selatan dan 103 Derajat 40' - 105 Derajat 50' Bujut Timur. Wikayah ini berbatasan langsung dengan dengan propinsi Bengkulu dan Provinsi Sumatra Selatan di sebelah utara. Batas sebelah timur berupa Laut Jawa yang potensial. Sementara itu, Selat Sunda menjadi pembatas alami bagian selatan Samudra Indonesia menjadi pembatas alami bagian barat.

Mengenal Kehidupan Dayak Hulu Banyu Loksado Kalsel

Tetuha Adat Dayah Hulu Banyu
Orang Dayak Hulu Banyu digolongkan oleh Suku Banjar Kalimantan Selatan ke dalam orang Dayak Bukit. Mereka tinggal di lereng-lereng dan lembah-lembah bukit sekitar Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Rumah mereka disebut Balai berbentuk persegi empat panjang, lantai dan dindingnya terbuat dari bambu, tiang rumah terbuat dari kayu dan atapnya daun rumbia. Mereka tidak menggunakan paku dalam membangun rumah tetapi tali dan pasak kayu yang mereka gunakan. 

Rumah dihuni oleh 5 sampai 30 keluarga yang disebut "Balai Malaris". Balai malaris diisi oleh kurang lebih 30 keluarga. Jumlah mereka bisa mencapai kurang lebih 200 orang. 

Informasi Objek Wisata Di Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat

Ketika penulis berkunjung ke daerah NTB beberapa waktu lalu, penulis menyempatkan berkunjung ke beberapa objek wisata yang ada disana. Ada beberapa objek wisata menarik yang ada di daerah Lombok Nusa Tenggara Barat yang banyak dikunjungi wisatawan. Baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Diantara objek wisata tersebut banyak yang memiliki keindahan yang luar biasa antara lain :

1. Tiga Gili (Gili Terawangan, Gili Meno, Gili Air)

3 (Tiga) Gili sebagai sebutan akrap untuk menunjuk tiga buah tempat wisata yaitu: Gili Terawangan, Gili Meno, Gili Air. Tiga Gili ini berlokasi di Kabupaten Lombok Utara, berjarak sekitar 60 km dari kota Mataram. Akses menuju ke sana menggunakan perahu penyebrangan melalui PEMENANG dengan jarak tempuk sekitar 15 menit.


2. Pantai Senggigi (Senggigi Beach)

Pantai Senggigi adalah tempat pariwisata yang terkenal di Lombok letaknya di sebelah barat pesisir Pulau Lombok. Pantai Senggigi memang tidak sebesar Pantai Kuta di Bali, tetapi seketika kita berada di sini akan merasa seperti berada di Pantai Kuta, Bali. Pesisir pantainya masih asri. Berjarak sekitar 20 Km dari Kota Mataram dengan jarak tempuh 20 menit. Lokasi tersebut dapat di akses dengan kendaraan bermotor.


3. Pusat Mutiara (Sekarbela)

Pusat pengrajin perhiasan mutiara di Lombok, berjarak sekitar 3 km dari kota Mataram dan berada di pusat kota.


4. Pusat Cukilan (Sayang-sayang)

Sayang-sayang merupakan daerah pengrajin meubeler dengan aksesoris utama "cukli" cukli adalah namadari kerang yang didatangkan dari luar daerah seperti Sulawesi, Flores atau bahkan Jawa yang memiliki kulit keras dan berwarna putih gading. Pusat cukli ini berjarak sekitar 5 Km dari Pusat Kota Mataram.


5. Pantai Mandalika

Pantai Mandalika an Tanjung A'an yang jaraknya sekitar 65 km dari kota Mataram dengan jarak tempuh sekitar 2 jam, juga menjadi kawasan wisata pantai terkenal di selatan Lombok Tengah. Lautnya yang tenang membuat kawasan ini ideal untuk berenang. Keindahan panorama pantainya bisa pula dinikmati dari areal perbukitan yang tidak jauh dari lokasi pantai. Salah satu kawasan di pantai ini kemudian dikenal dengan Puteri Nyale. Sebuta ini berkait erat dengan ritual suku Sasak, suku asli pulai Lombok yang melakukan perayaan Bau Nyale - pesta menagkap Nyale setahun sekali, yang biasanya diselenggarakan antara bulan Februari dan Maret, sebagai ungkapan kegembiraan masyarakat Lombok akan kesuburan tanahnya.


6. Pusat Tenun Khas Sasak (Sukarare)

Kain tenun songket sasak sudah sangat dikenal dengan keindahan motif dan kehalusan kainnya yang bahkan telah mendunia. Namun keberadaan salah satu warisan budaya yang pengerjaan yang masih ditekuni secara tradisional ini kini terancam punah. Pembuatan tenun tradisional songket sasak hingga kini masih ditekuni warga Desa Sukarare, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Disepanjang jalan desa bisa ditemui warga dari berbagai Usia. Mulai kaum muda hingga lanjut usia, tampak asyik menenun secara tradisional kain songket ini. Lokasi berjarak sekitar 25-30 km dari pusat Kota Mataram.


7. Taman Wisata Narmada (Air awet muda)

Narmada terletak 10 kilometer di sebelah timur Kota Mataram. Kota ini terkenal dengan julukan kota "Air". Hal ini didasarkan pada kenyaataan bahwa Narmada mempunyai banyak mata air. Mata air berasal dari simpanan air hutan di daerah Narmada yang terletak di Suranadi dan Sesaot.



8. Danau Segara Anak (Gunung Rinjani)

Segara anak adalah danau kawah Gunung Rinjani di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Indonesia. Nama Segara Anak berarti anak laut diberikan untuk itu karena warna biru mengingatkan danau laut, Jarak tempauh sekitar 2-3 jam dari pusat kota Mataram.


PUSAT KULINER

- Jalan Udayana (malam hari) : menu khas lombok : sate bulayak dan sate rembiga

- Jalan Selaparang (siang dan malam) : menu khas lombok ayam Taliwang/plecing

- Jalan Airlangga (Siang dan malam) : menu khas lombok / masakan nasional.

The Tourism Sport In Kepulauan Riau Indonesia

As one of the tourist spots in the State of Indonesia. Kepulauan Riau has viariety resources that could be tourism attractio at international stage, for the reason that tourism sector has become one of the biggest income in the region and state government. We find viariety of stunning tourism scenery in Kepulauan Riau province and history torism has become the phenomena in Indonesia.

Napoleon Fish

 The fish of Cheilunus Undulates is one the big rock fish live in the tropical ocean. It has length of 1,5 meters. And fishes may reach about 180 Kg at the age of 50 years.  Fish life is generally similar to other reef fish that live alone. One of the unique fish is the circumference of eyes that can see the direction of the angle of view up to 180 degrees. These fish have eyes that can see the direction of the angle of view up to 180 degrees. This fish has reproduction system of hermaphrodite, and normally they are born as male fish and will convert into female fish as it matured. 

The Snapshot Of Kepulauan Riau Province

Riau Islands Province (acronym as Kepri) is a Province of Indonesia. It comprises the principal group of the Riau Archipelago, together with other island groups to the south, eash and northeast. In Indonesian, Riau Islands and Riau Archipelago are synonymous and are distingushed by the word for province, "Provinsi". Originally part of the Riau Province, the Riau Island were split off as a separate province in July 2004. The Kepri Province has becoming the provincial according to regulations number 25 year of 2002 and it becomes the 32-province in Indonesia located of  Tanjungpinang city, Batam city, Bintan Regency, Karimun Regency, Natuna Regency, and Lingga Regency.

Original Cloth Sasirangan South Kalimantan

Sasirangan batik fabric is typical of South Kalimantan. This fabric has a beautiful variety of motives. which can be used in a variety of community activities and ceremonies South Borneo (Propinsi Kalimantan Selatan).

Making fabric is traditionally sasirangan and manual in people's homes. sasirangan cloth-making techniques are very unique because it is made with the technique of batik dyeing and stitching motif extends corresponding picture. Motifs used in sasirangan fabric sourced from local culture community south Kalimantan.

Natural Water From the Mountains Meratus

Water is the source of life for residents in the mountainous jungle region Meratus. Mountain water is rich in minerals important, be one important values ​​that support community life Kalimantan. Water resources are still available to humans. The source of water is not contaminated waste, from the results of the screening process is still fresh tropical nature.


Water flowing from the mountains to the mouth of the river, along with the pulse of people's lives every day Borneo. Not just humans who enjoy the water, but the plants and animals are also highly dependent on the pure water. Some bottled water companies have been exploring the source of water for the needs of the wider community and become a very lucrative business opportunity.

In good water content dikalimantan mountains there are 9 criteria as water that is absolutely perfect for the man.
The meaning of 9 criteria include the number of discharge of water from the water source must be balanced with the need to ensure the environment around the spring to stay awake; physical parameters; chemical parameters; microbiological parameters; environmental conditions and the presence of springs are equally harmful sources to be a source of pollutants, physical parameters permantauan stability against possible long-term changes in the physical parameters; chemical stability of the parameters; sustainability of water resources quality and quantity of discharge; and the availability of infrastructure.
It's all there in the mountains of Borneo springs.


 

The Traditional Weapon

The Traditional weapon built from Black Smith culture like blades, keris, spears, balayung and hand axes are used for a self defence weapons. The best fabricated weapon is worn to the heirlooms and privileges. The social function of weapon is branded for regalia from the Banjarmasin royal heritage. The Malayan value orientation in South East Asia that beliebes in a supranatural impunity is frequently assume that the weapon has circumstance power by grafted in an oculticism word that engange from the shaman courtegeous in the suprantural orders.

Traditional Houses of Banjar Bububungan Tinggi

A Banjar traditional house for the nobility is built from the iron woods with the specific architecture of pile dwelling and the high roofs. This traditional house is suplemented with semiotic symbols from the ancient of the Dyak Ngaju believes like jamang, tambon, and sungkul. These achestral symbol are transformasi a mitologocal believes of batang garing life where their anchestors inherited from the trungk of this tree.

The Aqua Culture Of Borneo

The efford in abandoning of the efficiency energy for the rest of calory stuff and for multiple rest of the domestic economy sufficiently has developed in the aqua culture. A various kind of tools in catching fish are doing with maunjun, malunta, mahumbing, malukah in the subsistence of  the catching and selling, catching - breeding, and, selling - or catching and consuming can be found in many rurals. While the former way in catching fish with sarakap is practice in the wet cultivated land, traping fish by using lukah is practice int the river, lake, dick, dam, canal and the artisanal resevoir of water. Catching fish with lunta, tangguk, and the ordinary nets practice int the river and the lake; and using turih, humbing, talukup, and pancing are practiced in the lake, river, and swamp water. The unique methode in catching fish by using the traditional device of talungkup and turih faund in rurals where the talukup is use like a canopy, the fisherman heading head to the rivery water stream and throwned up the turih to the revealiously fishes.

Dance Baksa Kambang

One of the art of dance is typical of South Borneo floating dance Baksa. Dance Baksa Kambang is commonly used to greet guests who visit the kingdom greatness banjar of South Borneo.


Cari Artikel