CERITA ASAL NAMA GOA LIANG TAPAH DI KECAMATAN JARO KABUPATEN TABALONG KALSEL

Indoborneonatural----- Cerita Asal Nama Goa Liang Tapah - Kecamatan Jaro berada dibagian paling utara Kabupaten Tabalong, terdiri dari 9 desa, yaitu Desa Namun, Muang, Teratau, Purui, Nalui, Jaro. Garagata, Solan dan Lano. Kecamatan jaro memang daerah yang memiliki banyak obyek wisata tersebut kurang terpelihara, sehingga tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah.

Goa Liang Tapah
Tetapi akhir-akhir ini ada Goa Liang Tapah yang mulai banyak dikunjungi wisatawan, walaupun belum tertata rapi. dan harus menjadi perhatian bagi pengelola. Dibalik itu semua, yang menarik dario Goa Liang Tapah ini adalah penamaan yang dikaitkan adanya kepercayaan sebagian masyarakat desa sekitar. Mereka memberi nama Goa Liang Tapah bukan karena alasan, dan itulah yang menjadikan kita merasa penasaran mendengar nama Liang Tapah.

Memang kita kenal Tapah adalah salah satu spesies ikan lokal yang merupakan ikan air tawar terbesar di Indonesia, apabila mencapai ukuran optimal baik panjang maupun lebarnya, ikan tapah dapat mencapai 2,4 meter sehingga menjadikannya sejenis ikan raksasa dan termasuk ikan yang ganas pemakan daging, bahkan menurut sebagian orang ikan ini bersipat kanibal terhadap sesama, dan juga bisa menyerang manusia. 

Jika kita telusuri lebih jauh asal usul penamaan Liang Tapah tersebut di daerah asalnya, kita tidak terlalu sulit mencari informasi tentang hal itu, karena memang masyarakat desa disekitar Goa Liang Tapah sudah sejak lama mengetahui dan percaya adanya terdapat ikan tapah disitu, karena dalam Goa tersebut dilalui sebuah sungai kecil yang mengalir sepanjang Goa. sehingga tidak mustahil jika ada ikan tapah masuk goa itu.

Menurut keterangan dan cerita-cerita dari masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong, pada masa di sungai yang melintasi Goa yang berlokasi di kaki gunung Garagata itu memang dihuni oleh banyak ikan, diantaranya ikan tapah tersebut. Menurut cerita yang telah turun temurun ikan Tapah yang ada di sungai dalam Goa Liang Tapah sangat besar, sehingga tidak bisa lagi berbalik badan untuk keluar dan sampai sekarang masih hidup, tetapi sangat misterius. Kita hanya melihat pada saat-saat tertentu saja. Terkadang ia muncul malam hari dengan matanya yang memancarkan cahaya yang sangat terang, sehingga anak-anak harus berhati-hati masuk ke dalam Goa Liang Tapah tersebut. 

Warga sekitar sering memperingatkan bahaya masuk sendiri ke Goa Liang Tapah itu, atau tidak perlu masuk kalau tidak ingin mendapat bahaya, ditakutkan ikan Tapah itu akan muncul saat air sungai meluap, begitu penuturan seorang tua yang penulis temui yang menjadi penduduk penghuni Asli di daerah tersebut yang ada di kaki gunung Garagata tersebut. 


DAFTAR NAMA DAN FOTO MASJID DI BARITO KUALA KALIMANTAN SELATAN

Indoborenonatural----Daftar nama dan foto-foto masjid di Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan.


  1. Masjid Al- Azhar Desa Puntik Luar Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala.
  2. Masjid Agung Al-Anwar di Jl. Panglima Wangkang, Kabupaten Barito Kuala.
  3. Masjid Al-Anwari Muhjirin di Badandan, Cerbon, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.
  4. Masjid Al-Furqon, Alalak di Berangas Timur, Alalak, Kabupaten Barito Kuala,
  5. Masjid Al-Mushollun di Handil Bhakti Kabupaten Barito Kuala,
  6. Masjid At-Taqwa Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  7. Masjid Baitul Mustaqim di Bantul, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  8. Masjid Jami Miftahul Huda di Desa Beringin, Kabupaten Barito Kuala,
  9. Masjid Nurul Hasanah di Barambai, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  10. Masjid Jamhuri Aisyah  Jl. Trans Kalimantan, Handil Bakti, Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan 70581
  11. Masjid Bustanul Muhibbin Berangas Timur, Alalak, Berangas Tim., Barito Kuala, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan 70582
  12. Masjid Utsman Bin Affan 
  13. Masjid Anjir Pasar Owner Agrabudi Group Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan


INILAH CARA-CARA TRADISIONAL MENANGKAP IKAN DI DAERAH KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural----Cara-cara tradisional serarta cara alami menangkap ikan di Kalimantan Selatan. 


1. Maunjun


Maunjun dalam bahasa Indonesia yaitu memancing. Cara ini yang paling umum dilakukan masyarakat dalam menangkap ikan. Maunjun yaitu menangkap ikan dengan menggunakan sebuah bilah (biasanya terbuat dari pelapah daun salak atau bisa juga menggunakan baatang bambu kecil) yang di ujung bilah tersebut diikat sebuah tali nilon yang di ujung tali diberi kawat. Namun seiring perkembangan jaman maunjun/memancing sekarang ini sudah banyak menggunakan peralatan-peralatan pancing yang lebih canggih.

2. Manyundak
Cara ini biasanya sering dilakukan oleh masyarakat Banjar Pahuluan. Manyundak adalah cara menangkap ikan dengan menggunakan sebuah alat yang dinamakan sundakan/katikan dan juga sebuah kaca mata untuk menyelam. Orang yang menangkap ikan dengan cara ini harus pandai menyelam, karena untuk menangkap ikan harus menyelam ke dalam air (sungai) mencari tempat persembunyian ikan. Biasanya masyarakat menggunakan cara ini untuk menangkap ikan ketika musim kemarau. Mengapa demikian?, karena untuk melihat ikan di dalam air kondisi airnya harus jernih dan air jernih hanya terjadi di musim kemarau.

3. Malunta
Malunta adalah salah satu cara tradisional menangkap ikan dengan menggunakan jaring. Tehnik yang digunakan yaitu dengan melemparkan jaring ke sungai. Cara ini biasanya digunakan di sungai-sungai yang dangkal dan airnya jernih. Si pelunta biasa berjalan di tepi sungai untuk melihat-lihat tempat ikan berkumpul, apabila sudah menemukan tempat yang potensial jaring bisa dilempar ke tempat berkumpulnya ikan.

4. Malukah
Lukah adalah salah satu alat tradisional untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu. Bambu dibuat dengan sedemikian rupa membentuk silinder dengan panjang 1,5 meter dan dengan diameter 30 cm (lihat gambar). Cara menangkap ikan dengan alat ini yaitu dengan meletakkan lukah di jalur yang biasa dilalui ikan. Alat ini hanya bisa digunakan di sungai-sungai kecil. Setelah lukah diletakkan di tempat yang setrategis kemudian lukah didiamkan selama satu malam/hari, keesokan harinya baru diambil.


5. Maringgi
Alat yang digunakan untuk maringgi hampir sama dengan malunta, yaitu jaring namun berbedan cara pemakaiannya. Apabila jaring untuk malunta cara menggunakannya dengan melempar jaring, maka maringgi ini cukup membentangkan jaring di sungai atau danau lalu diamkan beberapa saat hingga ikan lewat dan terperangkap di rinngi tersebut.

6. Mambanjur
Mambanjur adalah tehnik menangkap ikan yang hampir sama dengan maunjun/memancing, yaitu sama-sama menggunakan bilah, benang nilon dan kail sebagai alat utamanya yang membedakan hanya cara pemakaiannya dan bilah yang digunakan lebih pendek. Cara mambanjur yaitu ketika kail sudah diberi umpan kemudian diletakkan di tempat-tempat potensial dan setelah itu ditinggalkan, biasanya ditinggalkan satu malam. Bilah yang digunakan biasanya berjumlah banyak. ikan sasaran dari tehnik ini yaitu ikan gabus atau haruan.

7. Manangguk
Cara ini yang paling sederhana dan hanya mampu menangkap ikan-ikan kecil dan udang. Alat yang digunakan dinamakan tangguk yang terbuat dari bambu yang dibentuk cekung melingkar.


Sumber: https://haruai-wirang.blogspot.com/

Resep Masakan Kue Wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalsel

Indoborneonatural----Kalimantan Selatan terkenal juga memiliki aneka ragam masakan kuliner yang enak-enak. Kue-kue atau wadai khas banjar, salah satu suku di kalimantan selatan sangat banyak ragam jenisnya, yang semuanya terkenal enak dan lezat dengan aneka rasa. Salah satu kue wadai banjar adalah Wadai Bingka kentang khas banjar Kalimantan selatan. Kue wadai Binga Kentang dengan cita rasa kentang ini sangat banyak yang menggemari. Sering ditempat-tempat penjual kue bingka cepat habis karena banyak sekali orang yang memesannya.

Kue Wadai Bingka Kentang

Nah berikut ini akan kita coba membuat Kue wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalimatan Selatan ini sebagai berikut:

Bahan:
- 200 gr kentang
- 5 btr telur
-  ½ sdt vanili
- 3 sdm gula pasir
- 100 ml santan kental dari 1 buah kelapa.

Cara Membuat:
- Kupas kentang, kukus sampai matang. Haluskan
- Kocok telur, vanili, dan gula sampai mengembang, masukkan kentang halus dan santan kental aduk sampai rata
- Tuang adonan ke dalam cetakan bingka bentuk bunga, yang sudah dipanaskan di atas kompor (sebelumnya alasnya sudah diberi pasir)
- Masak dengan api sedang sampai bingka matang.
Untuk 6 Orang

Tips rahasia membuat kue bingka:
Waktu membakar bingka di atas kompor, sebaiknya, atasnya ditutup dengan tutup yang terbuat dari tanah liat yang sudah dipanaskan (dibakar) diatas tungku. Supaya kue cepat matang dan merata.

MELIHAT 5 KESENIAN ASLI KOTA CIREBON DI JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah lainnya di mana kebudayaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kebudayaan khas Cirebon juga dilestarikan dengan baik oleh masyarakatnya.

Topeng Cirebon - Foto : Wikipedia

Kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon antara lain berupa tarian, kesenian musik, dan berbagai jenis kebudayaan lainnya yang kesemuanya sangat menarik dan sangat indah untuk dinikmati. Beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon sebagian hanya dipentaskan pada saat acara – acara tertentu seperti upacara adat, namun ada juga yang sering dipentaskan untuk menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Cirebon, berikut ini akan kami ulas beberapa kebudayaan asli Cirebon agar Anda lebih mengenalnya.

Beberapa Kesenian dan Kebudayaan Asli Kota Cirebon :

1. Tari Topeng

Salah satu kesenian yang ada di Cirebon adalah seni tari yang dikenal dengan nama tari topeng yang mana sesuai dengan namanya, sang penari akan memakai topeng, seni tari ini pada awalnya merupakan sebuah alat diplomasi yang digunakan ketika Kerajaan Cirebon sedang berperang melawan Kerajaan Karawang, sang penari dalam tarian topeng ini akan mengganti topengnya sesuai dengan karakter yang dibawakan.

2. Sintren

Kebudayaan kedua yang dimiliki oleh Cirebon adalah berupa sebuah kesenian tari yang dikenal dengan nama tari sintren di mana seni tari ini memiliki unsur magis, pada awal pertunjukan seni tari, sang penari akan diikat dari mulai leher hingga ujung kaki kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup dengan kain namun setelah itu ternyata sang penari dapat membebaskan diri dari ikatan tersebut.

tari sintren cirebon

3. Kesenian Gembyung

Kesenian ketiga yang dimiliki Cirebon adalah kesenian yang bernama gembyung di mana kesenian ini merupakan salah satu peninggalan dari dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung merupakan salah satu bentuk pengembangan dari kesenian terbang dan sering ditampilkan dalam acara – acara keagamaan yang ada di Cirebon seperti maulid, rajaban, dan syuro.

gembyung-cirebon

4. Genjring Rudat

Kesenian selanjutnya yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon adalah sebuah kesenian yang bernama genjring rudat di mana kesenian ini merupakan sebuah kesenian yang berkembang di lingkungan pesantren. Jenis alat musik yang biasanya digunakan dalam kesenian genjring rudat antara lain genjring, bedug, dan terbang yang biasanya diiringi dengan puji – pujian kepada Allah dan rasul-Nya.

genjring-rudat

5. Angklung Bungko

Kesenian kelima sekaligus yang terakhir kami bahas di artikel ini adalah kesenian Cirebon yang dikenal dengan nama angklung bungko yang mana sering kali dipentaskan dalam acara – acara adat di antaranya nyadran, ngunjung buyut, dan berbagai jenis acara adat lainnya, dalam kesenian angklung bungko ini sang penari akan mementaskan berbagai tarian seperti tari panji, benteleye, dan tari lainnya.

angklung-cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat yang kaya akan seni budaya yang masih terus dijaga kelestariannya.

Silakan berkunjung dan berwisata kekota Cirebon untuk menikmati keindahan seni dan budaya kota Cirebon.


Sumberwww.pusakapusaka.com

LAGU DAERAH NUSANTARA : LANCANG KUNING - DAERAH RIAU SEJARAH SESUAI ASLINYA

Indoborneonatural----Kita mengenal lagu daerah Lancang kuning sebagai lagu daerah Riau, dengan lirik lagu berbahasa Indonesia, lagu lancang kuning aslinya berbahasa Melayu Riau, Sejarah awal lagu ini menceritakan tentang Lancang Kuning adalah sebuah kapal yang melegenda bagi masyarakat Melayu. Berdasarkan cerita dari orang-orang tua di Kepulauan Riau yang menyatakan; “Kalau kita sedang lemah semangat, diwaktu-waktu tertentu kita akan melihat kapal Lancang Kuning diantara Pulau Penyengat dan Tanjungpinang”. 

Jika kita lihat lirik Lagu Lancang Kuning yang banyak dinyanyikan atau di posting di Internet adalah lagu lancang kuning populer dengan bahasa Indonesia, dan hampir semua kita mempercayai bahwa itulah lirik asli dari lagu lancang kuning dari lagu daerah Riau seperti di bawah ini ;

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam
Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

***
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

***
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga

lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam.

* * * Selesai * * *

Tapi coba kita perhatikan lirik dan notasi lagu lancang kuning berikut ini, dimanakah perbedaannya?, apakah ini yang asli atau yang di atas, silakan anda interpretasikan;

Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Laut beralun berombak riak membanting lambung
Laut beralun berombak riak membanting lambung

Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun

Sembah sujud sembah sujud  duduk bertelut duduk bertelut
Sembah sujud sembah sujud duduk bertelut duduk bertelut

Jari sepuluh susun menyembah tunduk kepala
duduk bersimpuh tunduk membungkuk seiklas hati
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan .

* * * Selesai * * *

Notasi lagu Daerah Nusantara Lancang Kuning dari Daerah Riau;


Cerita-kisah menarik tentang lancang kuning ini berdasarkan sejarah melayu tentang asal mula lancang kuning; 
      Awal Mula Lancang Kuning Menurut versi dari nara sumber yang berzuriat dari Tengku Takziyah. Berawal dari pelarian Dua putra Sultan maka sampailah mereka di sebuah pulau. Sesampai dipulau tersebut dan membuka wilayah baru, maka berkeinginanlah dua beradik tersebut hendak membuat sebuah lancang (perahu). Maka dicarikan terlebih dahulu bahan kayu untuk dijadikan perahu. Didapatkan pohon yang dimana batang kayu tersebut berwarna kuning dimana pohon tersebut disebut dengan pohon keledang, dan hanya ada pada pulau tersebut pohon itu ada. 

     Selanjutnya dibangunlah perahu yang dihajatkan oleh Kedua Putra Sultan. Setelah beberapa waktu jadilah sebuah perahu yang berwarna kuning karena bahannya berasal dari pohon kayu keledang yang kayunya sudah semula jadi berwarna kuning serta dihiasi dengan layar yang berwarna kuning pula sebagai lambang kebesaran kesultanan atau bangsawan melayu. Dan pulau dimana tempat dibuatnya perahu lancang kuning selanjutnya diberi nama Pulau Galang. Karena tempat galangan lancang kuning dibangun. 

     Sampailah waktunya untuk perahu lancang kuning hendak diturunkan kelaut untuk pertama kalinya. Ternyata untuk menurunkan perahu tersebut haruslah ada korban. Dimana diisyaratkan untuk turun lancang kuning haruslah dengan 7 (tujuh) perempuan hamil sulung dijadikan sebagai galang untuk perahu turun kelaut. Maka didapatkanlah ketujuh perempuan hamil sulung dan dibaringkan didepan haluan perahu untuk dijadikan galang. Maka meluncurkan Lancang kuning dengan bergalangkan ketujuh perempuan tersebut. Dengan Kuasa dan Kehendak Allah saat meluncurnya lancang kuning satu persatu setiap perempuan -perempuan tersebut melahirkan anak-anak mereka. Dan dengan Kuasa dan Kehendak Allah pulalah ketujuh perempuan hamil sulung satu persatu melahirkan anaknya dan langsung ghaib (hilang) dan disebutkan atas mereka itu Galang Ghaib. 

     Selanjutnya para anak mereka yang berjumlah 7 orang dimana 6 lelaki dan yang terakhir adalah seorang perempuan. Dan diambil serta dipeliharalah mereka bertujuh oleh kedua Putra Sultan, yang selanjutnya ketujuh anak tersebut diberi dan bergelar Tujuh Panglima Galang. Selanjutnya mereka bertujuh menjadi panglima - panglima dari Tengku Takliyah dan Tengku Takziyah. Wallahualam Bihsawab.

Referensi:
http://keprikita.blogspot.co.id/2015/06/menganalisa-dimana-sebenarnya-letak.html
http://krishadiawan.blogspot.co.id/2010/08/kisah-lancang-kuning.html
http://sejarahmelayuku.blogspot.co.id/2015/04/awal-mule-lancang-kuningmenurut-versi.html

LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA, BAHASA SUKU BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Latar belakang sejarah orang Banjar dan Bahasa Banjar

Suku Banjar terdiri atas 3 bagian, yakni suku Banjar Muara, suku Banjar Batang Banyu dan suku Banjar Pahuluan. Ketiga kelompok ini telah berbaur, namun banyak atau sedikit unsur-unsur budaya dari masing-masing kelompok tersebut masih nampak pada sebagian orang Banjar sampai saat ini.


Orang Banjar

Orang Banjar pada umumnya adalah orang yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Banjar dan beragama Islam. Di Kalimantan Selatan juga terdapat suku Dayak. Di antara mereka yang memeluk agama Islam, kemudian juga menyebut dirinya orang Banjar atau orang Melayu.

Desa Limamar yang hanya berjarak 12 km dari kota Martapura yang menjadi ibu kota kerajaan Banjar sejak dipindahkan dari Banjarmasin pada abad ke 17, merupakan desa yang banyak mendapat pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerajaan Banjar. Ketika Islam berkembang pesat di daerah ini, desa ini termasuk wilayah pusat pengembangan ajaran Islam yang pertama. Tokoh penyebar ajaran Islam Syekh Muhammad Arsyar al Banjari lahir dan dibesarkan di daerah ini. Tempatnya di desa Lok Gabang, di mana rumah kedua orang tua ulama besar tersebut hanya beberapa puluh meter dari perbatasan dengan desa Limamar.

Pada masa Syekh Muhammad Arsyad menyiapkan kader-kader penyebab Islam sekembalinya dari belajar di Mekah, maka masyarakat desa Lok Gabang, Desa Limamar, Desa Kelampayan dan Desa Dalam Pagar merupakan masyarakat pendukung dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan ulama tersebut. Atas usaha dan bimbingan Syekh Muhammad Arsyad dibuat terusan yang menghubungkan sungai yang mengalir melalui Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan dengan sungai Martapura. Berkat adanya terusan inilah beberapa ratus hektar tanah persawahan yang tadinya merupakan danau yang selalu tinggi airnya baik yang sekarang termasuk wilayah desa Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan kemudian dipilih oleh ulama besar ini sebagai tempat pemakaman beliau di akhir hayatnya.

Desa Limamar yang termasuk dalam wilayah basis perkembangan sekaligus Islam pada abad ke 18 ini dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya taat beragama. Pada umumnya orang-orang tua di desa ini bisa baca tulis huruf latin. Tetapi dapat lancar membaca dan menulis huruf Arab. Hal ini merupakan dari sisa-sisa kegiatan perkembangan Islam di mana di desa-desa tersebut terdapat pengajian-pengajian tradisional. Sesuai dengan tuntutan agama bahwa setiap orang wajib memberikan pengetahuan keagamaan kepada anaknya. Karena itu kalau orang tua tidak berkesempatan mengajar anak-anaknya, maka ia harus mencarikan atau menyerahkan anaknya dididik seperti mengaji Al Qur'an dan ajaran-ajaran agama Islam lainnya.

Ketentuan-ketentuan yang telah dirasakan sebagai suatu tradisi pada masa lalu itu sekarang masih berlaku di masyarakat. Misalnya jikalau di desa terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri yang memberikan pengetahuan-pengetahuan umum, maka sudah sejak lama pula di desa ini berlangsung pendidikan dan pengajaran Sekolah Dasar Islam yang dikelola oleh masyarakat.


Bahasa

Bahasa Banjar tumbuh dan berasal dari bahasa Melayu. Dalam Bahasa Banjar tidak terdapat tingkatan-tingkatan Perbedaan yang ada hanya dialek ucapannya saja. Seperti dialek Banjar Kuala, dialek Kandangan, dialek Barabai, dialek Amuntai dan dialek Alabio.

Di daerah Kalimantan Selatan selain bahasa Banjar terdapat pula bahasa dari suku-suku asli, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Manyan. bahasa Lawangan dan bahasa Bukit.

Dalam Bahasa Banjar tidak didapati bunyi "e", semua bunyi e dibunyikan dengan "a". Hal ini sesuai dengan bunyi dalam tulisan Arab Melayu, yang hanya mengenal bunyi "fathah", disamping "dumah" dan "kasrah". Karena itu dalam bahasa Banjar, "Kemana" selalu diucapkan "kamana", "kembang" diucapkan "kambang" dan sebagainya.

Awalan yang terdiri dari tiga huruf, seperti "ber" diucapkan "ba", "ter" diucapkan "ta". Misalnya "berdiri" diucapkan "badiri", kata "terpelanting" diucapkan dengan "tapalanting".

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau cerita, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar pada umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau ceritera, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Banjar untuk menyatakan hormat kepada orang lebih tua hanya terdapat dalam pemakaian istilah untuk sebutan "aku" atau "kamu". Apabila seorang anak berbicara kepada orang tuanya atau orang lain yang dihormatinya, maka ia menyebut dirinya "ulun" dan menyebut orang yang dihormatinya tersebut dengan "pian". Bagi orang Banjar Kuala yang sebaya umumnya menggunakan istilah "unda" untuk pengganti diri "aku", dan istilah "nyawa" untuk pengganti diri "kamu". Sedangkan orang Banjar Pahuluan menggunakan istilah "aku" dan "ikam" atau istilah lainnya "saurang" dan "andika" untuk pengganti diri aku dan kamu.

Orang tua laki-laki disebut "abah", dan ibu disebut "uma" Sedangkan bagi ayah dan ibu biasanya menyebut anak-anaknya dengan gelar "utuh" atau "anang" untuk yang laki-laki, dan gelar "galuh" untuk anak wanita.

Ada semacam perasaan segan bagi seorang suami maupun seorang istri utuk memanggil isteri atau suami dengan menyebut nama yang bersangkutan. Karena itu dalam masyarakat desa ini seorang suami atau seorang isteri masing-masing memanggil dengan identitas anak-anak mereka. Umumnya diambil dari nama pertamanya, misalnya abahnya Ali, untuk memanggil kepada suami yang anaknya bernama Ali, atau umanya Ali panggilan kepada isteri sebagai ibunya Ali. Kebiasaan untuk tidak menyebutkan nama ini memang menjadi amat kaku, terutama pada waktu kedua suami isteri tersebut belum atau tidak mempunyai anak. Karena itu kode-kode yang mereka sudah saling pahami banyak dipakai. Misalnya untuk pengganti nama itu disebut saja "eh" atau "oh". Kebiasaan ini masih terdapat dipedesaan sampai sekarang, walaupun pengaruh adat dan tata cara dari luar telah banyak pula merubah kehidupan desa tersebut. Generasi muda sekarang di desa ini yang telah berkeluarga, sudah ada juga yang menggunakan sebutan "kakak" dan "adik" untuk panggilan kepada suami dan kepada isteri. Bahkan panggilan dengan nama kesayangan juga ada yang menggunakan.

Sumber: Buku; Tata Kelakuan dilingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1984/1985.

Baca juga buku tema-tema buku dari proyek IDKD Kalimantan Selatan tahun 1984/1985 yang meliputi :
1. Arti perlambang dan fungsi tatarias pengantin dalam menanamkan nilai-nilai budaya
2. Makanan : wujud, variasi dan fungsinya serta cara penyajiannya
3. Pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan tanah secara tradisional
4. Tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat
5. Pembauran antar suku bangsa   
6. Pertumbuhan Pemukiman masyarakat di lingkungan air.      

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.