Resep Masakan Kue Wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalsel

Indoborneonatural----Kalimantan Selatan terkenal juga memiliki aneka ragam masakan kuliner yang enak-enak. Kue-kue atau wadai khas banjar, salah satu suku di kalimantan selatan sangat banyak ragam jenisnya, yang semuanya terkenal enak dan lezat dengan aneka rasa. Salah satu kue wadai banjar adalah Wadai Bingka kentang khas banjar Kalimantan selatan. Kue wadai Binga Kentang dengan cita rasa kentang ini sangat banyak yang menggemari. Sering ditempat-tempat penjual kue bingka cepat habis karena banyak sekali orang yang memesannya.

Kue Wadai Bingka Kentang

Nah berikut ini akan kita coba membuat Kue wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalimatan Selatan ini sebagai berikut:

Bahan:
- 200 gr kentang
- 5 btr telur
-  ½ sdt vanili
- 3 sdm gula pasir
- 100 ml santan kental dari 1 buah kelapa.

Cara Membuat:
- Kupas kentang, kukus sampai matang. Haluskan
- Kocok telur, vanili, dan gula sampai mengembang, masukkan kentang halus dan santan kental aduk sampai rata
- Tuang adonan ke dalam cetakan bingka bentuk bunga, yang sudah dipanaskan di atas kompor (sebelumnya alasnya sudah diberi pasir)
- Masak dengan api sedang sampai bingka matang.
Untuk 6 Orang

Tips rahasia membuat kue bingka:
Waktu membakar bingka di atas kompor, sebaiknya, atasnya ditutup dengan tutup yang terbuat dari tanah liat yang sudah dipanaskan (dibakar) diatas tungku. Supaya kue cepat matang dan merata.

MELIHAT 5 KESENIAN ASLI KOTA CIREBON DI JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah lainnya di mana kebudayaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kebudayaan khas Cirebon juga dilestarikan dengan baik oleh masyarakatnya.

Topeng Cirebon - Foto : Wikipedia

Kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon antara lain berupa tarian, kesenian musik, dan berbagai jenis kebudayaan lainnya yang kesemuanya sangat menarik dan sangat indah untuk dinikmati. Beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon sebagian hanya dipentaskan pada saat acara – acara tertentu seperti upacara adat, namun ada juga yang sering dipentaskan untuk menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Cirebon, berikut ini akan kami ulas beberapa kebudayaan asli Cirebon agar Anda lebih mengenalnya.

Beberapa Kesenian dan Kebudayaan Asli Kota Cirebon :

1. Tari Topeng

Salah satu kesenian yang ada di Cirebon adalah seni tari yang dikenal dengan nama tari topeng yang mana sesuai dengan namanya, sang penari akan memakai topeng, seni tari ini pada awalnya merupakan sebuah alat diplomasi yang digunakan ketika Kerajaan Cirebon sedang berperang melawan Kerajaan Karawang, sang penari dalam tarian topeng ini akan mengganti topengnya sesuai dengan karakter yang dibawakan.

2. Sintren

Kebudayaan kedua yang dimiliki oleh Cirebon adalah berupa sebuah kesenian tari yang dikenal dengan nama tari sintren di mana seni tari ini memiliki unsur magis, pada awal pertunjukan seni tari, sang penari akan diikat dari mulai leher hingga ujung kaki kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup dengan kain namun setelah itu ternyata sang penari dapat membebaskan diri dari ikatan tersebut.

tari sintren cirebon

3. Kesenian Gembyung

Kesenian ketiga yang dimiliki Cirebon adalah kesenian yang bernama gembyung di mana kesenian ini merupakan salah satu peninggalan dari dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung merupakan salah satu bentuk pengembangan dari kesenian terbang dan sering ditampilkan dalam acara – acara keagamaan yang ada di Cirebon seperti maulid, rajaban, dan syuro.

gembyung-cirebon

4. Genjring Rudat

Kesenian selanjutnya yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon adalah sebuah kesenian yang bernama genjring rudat di mana kesenian ini merupakan sebuah kesenian yang berkembang di lingkungan pesantren. Jenis alat musik yang biasanya digunakan dalam kesenian genjring rudat antara lain genjring, bedug, dan terbang yang biasanya diiringi dengan puji – pujian kepada Allah dan rasul-Nya.

genjring-rudat

5. Angklung Bungko

Kesenian kelima sekaligus yang terakhir kami bahas di artikel ini adalah kesenian Cirebon yang dikenal dengan nama angklung bungko yang mana sering kali dipentaskan dalam acara – acara adat di antaranya nyadran, ngunjung buyut, dan berbagai jenis acara adat lainnya, dalam kesenian angklung bungko ini sang penari akan mementaskan berbagai tarian seperti tari panji, benteleye, dan tari lainnya.

angklung-cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat yang kaya akan seni budaya yang masih terus dijaga kelestariannya.

Silakan berkunjung dan berwisata kekota Cirebon untuk menikmati keindahan seni dan budaya kota Cirebon.


Sumberwww.pusakapusaka.com

LAGU DAERAH NUSANTARA : LANCANG KUNING - DAERAH RIAU SEJARAH SESUAI ASLINYA

Indoborneonatural----Kita mengenal lagu daerah Lancang kuning sebagai lagu daerah Riau, dengan lirik lagu berbahasa Indonesia, lagu lancang kuning aslinya berbahasa Melayu Riau, Sejarah awal lagu ini menceritakan tentang Lancang Kuning adalah sebuah kapal yang melegenda bagi masyarakat Melayu. Berdasarkan cerita dari orang-orang tua di Kepulauan Riau yang menyatakan; “Kalau kita sedang lemah semangat, diwaktu-waktu tertentu kita akan melihat kapal Lancang Kuning diantara Pulau Penyengat dan Tanjungpinang”. 

Jika kita lihat lirik Lagu Lancang Kuning yang banyak dinyanyikan atau di posting di Internet adalah lagu lancang kuning populer dengan bahasa Indonesia, dan hampir semua kita mempercayai bahwa itulah lirik asli dari lagu lancang kuning dari lagu daerah Riau seperti di bawah ini ;

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam
Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

***
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

***
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga

lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam.

* * * Selesai * * *

Tapi coba kita perhatikan lirik dan notasi lagu lancang kuning berikut ini, dimanakah perbedaannya?, apakah ini yang asli atau yang di atas, silakan anda interpretasikan;

Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Laut beralun berombak riak membanting lambung
Laut beralun berombak riak membanting lambung

Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun

Sembah sujud sembah sujud  duduk bertelut duduk bertelut
Sembah sujud sembah sujud duduk bertelut duduk bertelut

Jari sepuluh susun menyembah tunduk kepala
duduk bersimpuh tunduk membungkuk seiklas hati
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan .

* * * Selesai * * *

Notasi lagu Daerah Nusantara Lancang Kuning dari Daerah Riau;


Cerita-kisah menarik tentang lancang kuning ini berdasarkan sejarah melayu tentang asal mula lancang kuning; 
      Awal Mula Lancang Kuning Menurut versi dari nara sumber yang berzuriat dari Tengku Takziyah. Berawal dari pelarian Dua putra Sultan maka sampailah mereka di sebuah pulau. Sesampai dipulau tersebut dan membuka wilayah baru, maka berkeinginanlah dua beradik tersebut hendak membuat sebuah lancang (perahu). Maka dicarikan terlebih dahulu bahan kayu untuk dijadikan perahu. Didapatkan pohon yang dimana batang kayu tersebut berwarna kuning dimana pohon tersebut disebut dengan pohon keledang, dan hanya ada pada pulau tersebut pohon itu ada. 

     Selanjutnya dibangunlah perahu yang dihajatkan oleh Kedua Putra Sultan. Setelah beberapa waktu jadilah sebuah perahu yang berwarna kuning karena bahannya berasal dari pohon kayu keledang yang kayunya sudah semula jadi berwarna kuning serta dihiasi dengan layar yang berwarna kuning pula sebagai lambang kebesaran kesultanan atau bangsawan melayu. Dan pulau dimana tempat dibuatnya perahu lancang kuning selanjutnya diberi nama Pulau Galang. Karena tempat galangan lancang kuning dibangun. 

     Sampailah waktunya untuk perahu lancang kuning hendak diturunkan kelaut untuk pertama kalinya. Ternyata untuk menurunkan perahu tersebut haruslah ada korban. Dimana diisyaratkan untuk turun lancang kuning haruslah dengan 7 (tujuh) perempuan hamil sulung dijadikan sebagai galang untuk perahu turun kelaut. Maka didapatkanlah ketujuh perempuan hamil sulung dan dibaringkan didepan haluan perahu untuk dijadikan galang. Maka meluncurkan Lancang kuning dengan bergalangkan ketujuh perempuan tersebut. Dengan Kuasa dan Kehendak Allah saat meluncurnya lancang kuning satu persatu setiap perempuan -perempuan tersebut melahirkan anak-anak mereka. Dan dengan Kuasa dan Kehendak Allah pulalah ketujuh perempuan hamil sulung satu persatu melahirkan anaknya dan langsung ghaib (hilang) dan disebutkan atas mereka itu Galang Ghaib. 

     Selanjutnya para anak mereka yang berjumlah 7 orang dimana 6 lelaki dan yang terakhir adalah seorang perempuan. Dan diambil serta dipeliharalah mereka bertujuh oleh kedua Putra Sultan, yang selanjutnya ketujuh anak tersebut diberi dan bergelar Tujuh Panglima Galang. Selanjutnya mereka bertujuh menjadi panglima - panglima dari Tengku Takliyah dan Tengku Takziyah. Wallahualam Bihsawab.

Referensi:
http://keprikita.blogspot.co.id/2015/06/menganalisa-dimana-sebenarnya-letak.html
http://krishadiawan.blogspot.co.id/2010/08/kisah-lancang-kuning.html
http://sejarahmelayuku.blogspot.co.id/2015/04/awal-mule-lancang-kuningmenurut-versi.html

LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA, BAHASA SUKU BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Latar belakang sejarah orang Banjar dan Bahasa Banjar

Suku Banjar terdiri atas 3 bagian, yakni suku Banjar Muara, suku Banjar Batang Banyu dan suku Banjar Pahuluan. Ketiga kelompok ini telah berbaur, namun banyak atau sedikit unsur-unsur budaya dari masing-masing kelompok tersebut masih nampak pada sebagian orang Banjar sampai saat ini.


Orang Banjar

Orang Banjar pada umumnya adalah orang yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Banjar dan beragama Islam. Di Kalimantan Selatan juga terdapat suku Dayak. Di antara mereka yang memeluk agama Islam, kemudian juga menyebut dirinya orang Banjar atau orang Melayu.

Desa Limamar yang hanya berjarak 12 km dari kota Martapura yang menjadi ibu kota kerajaan Banjar sejak dipindahkan dari Banjarmasin pada abad ke 17, merupakan desa yang banyak mendapat pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerajaan Banjar. Ketika Islam berkembang pesat di daerah ini, desa ini termasuk wilayah pusat pengembangan ajaran Islam yang pertama. Tokoh penyebar ajaran Islam Syekh Muhammad Arsyar al Banjari lahir dan dibesarkan di daerah ini. Tempatnya di desa Lok Gabang, di mana rumah kedua orang tua ulama besar tersebut hanya beberapa puluh meter dari perbatasan dengan desa Limamar.

Pada masa Syekh Muhammad Arsyad menyiapkan kader-kader penyebab Islam sekembalinya dari belajar di Mekah, maka masyarakat desa Lok Gabang, Desa Limamar, Desa Kelampayan dan Desa Dalam Pagar merupakan masyarakat pendukung dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan ulama tersebut. Atas usaha dan bimbingan Syekh Muhammad Arsyad dibuat terusan yang menghubungkan sungai yang mengalir melalui Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan dengan sungai Martapura. Berkat adanya terusan inilah beberapa ratus hektar tanah persawahan yang tadinya merupakan danau yang selalu tinggi airnya baik yang sekarang termasuk wilayah desa Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan kemudian dipilih oleh ulama besar ini sebagai tempat pemakaman beliau di akhir hayatnya.

Desa Limamar yang termasuk dalam wilayah basis perkembangan sekaligus Islam pada abad ke 18 ini dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya taat beragama. Pada umumnya orang-orang tua di desa ini bisa baca tulis huruf latin. Tetapi dapat lancar membaca dan menulis huruf Arab. Hal ini merupakan dari sisa-sisa kegiatan perkembangan Islam di mana di desa-desa tersebut terdapat pengajian-pengajian tradisional. Sesuai dengan tuntutan agama bahwa setiap orang wajib memberikan pengetahuan keagamaan kepada anaknya. Karena itu kalau orang tua tidak berkesempatan mengajar anak-anaknya, maka ia harus mencarikan atau menyerahkan anaknya dididik seperti mengaji Al Qur'an dan ajaran-ajaran agama Islam lainnya.

Ketentuan-ketentuan yang telah dirasakan sebagai suatu tradisi pada masa lalu itu sekarang masih berlaku di masyarakat. Misalnya jikalau di desa terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri yang memberikan pengetahuan-pengetahuan umum, maka sudah sejak lama pula di desa ini berlangsung pendidikan dan pengajaran Sekolah Dasar Islam yang dikelola oleh masyarakat.


Bahasa

Bahasa Banjar tumbuh dan berasal dari bahasa Melayu. Dalam Bahasa Banjar tidak terdapat tingkatan-tingkatan Perbedaan yang ada hanya dialek ucapannya saja. Seperti dialek Banjar Kuala, dialek Kandangan, dialek Barabai, dialek Amuntai dan dialek Alabio.

Di daerah Kalimantan Selatan selain bahasa Banjar terdapat pula bahasa dari suku-suku asli, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Manyan. bahasa Lawangan dan bahasa Bukit.

Dalam Bahasa Banjar tidak didapati bunyi "e", semua bunyi e dibunyikan dengan "a". Hal ini sesuai dengan bunyi dalam tulisan Arab Melayu, yang hanya mengenal bunyi "fathah", disamping "dumah" dan "kasrah". Karena itu dalam bahasa Banjar, "Kemana" selalu diucapkan "kamana", "kembang" diucapkan "kambang" dan sebagainya.

Awalan yang terdiri dari tiga huruf, seperti "ber" diucapkan "ba", "ter" diucapkan "ta". Misalnya "berdiri" diucapkan "badiri", kata "terpelanting" diucapkan dengan "tapalanting".

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau cerita, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar pada umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau ceritera, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Banjar untuk menyatakan hormat kepada orang lebih tua hanya terdapat dalam pemakaian istilah untuk sebutan "aku" atau "kamu". Apabila seorang anak berbicara kepada orang tuanya atau orang lain yang dihormatinya, maka ia menyebut dirinya "ulun" dan menyebut orang yang dihormatinya tersebut dengan "pian". Bagi orang Banjar Kuala yang sebaya umumnya menggunakan istilah "unda" untuk pengganti diri "aku", dan istilah "nyawa" untuk pengganti diri "kamu". Sedangkan orang Banjar Pahuluan menggunakan istilah "aku" dan "ikam" atau istilah lainnya "saurang" dan "andika" untuk pengganti diri aku dan kamu.

Orang tua laki-laki disebut "abah", dan ibu disebut "uma" Sedangkan bagi ayah dan ibu biasanya menyebut anak-anaknya dengan gelar "utuh" atau "anang" untuk yang laki-laki, dan gelar "galuh" untuk anak wanita.

Ada semacam perasaan segan bagi seorang suami maupun seorang istri utuk memanggil isteri atau suami dengan menyebut nama yang bersangkutan. Karena itu dalam masyarakat desa ini seorang suami atau seorang isteri masing-masing memanggil dengan identitas anak-anak mereka. Umumnya diambil dari nama pertamanya, misalnya abahnya Ali, untuk memanggil kepada suami yang anaknya bernama Ali, atau umanya Ali panggilan kepada isteri sebagai ibunya Ali. Kebiasaan untuk tidak menyebutkan nama ini memang menjadi amat kaku, terutama pada waktu kedua suami isteri tersebut belum atau tidak mempunyai anak. Karena itu kode-kode yang mereka sudah saling pahami banyak dipakai. Misalnya untuk pengganti nama itu disebut saja "eh" atau "oh". Kebiasaan ini masih terdapat dipedesaan sampai sekarang, walaupun pengaruh adat dan tata cara dari luar telah banyak pula merubah kehidupan desa tersebut. Generasi muda sekarang di desa ini yang telah berkeluarga, sudah ada juga yang menggunakan sebutan "kakak" dan "adik" untuk panggilan kepada suami dan kepada isteri. Bahkan panggilan dengan nama kesayangan juga ada yang menggunakan.

Sumber: Buku; Tata Kelakuan dilingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1984/1985.

Baca juga buku tema-tema buku dari proyek IDKD Kalimantan Selatan tahun 1984/1985 yang meliputi :
1. Arti perlambang dan fungsi tatarias pengantin dalam menanamkan nilai-nilai budaya
2. Makanan : wujud, variasi dan fungsinya serta cara penyajiannya
3. Pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan tanah secara tradisional
4. Tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat
5. Pembauran antar suku bangsa   
6. Pertumbuhan Pemukiman masyarakat di lingkungan air.      

CERITA LEGENDA ASAL MULA KUDA GIPANG BANJAR (BAHASA BANJAR KALSEL)

Indoborneonatural---di daerah Kalimantan Selatan khususnya pada masyarakat Banjar, terdapat banyak kisah cerita legenda yang menarik. Cerita ini dikisahkan turun temurun dari para tetuha "datu" kepada anak cucu. Salah satu cerita yang menarik ini adalah cerita tentang asal usul "Kuda Gipang". Kuda Gipang merupakan salah satu kesenian tradisi khas masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, yang berbentuk tarian kuda gipang dan teater tradisional dengan cerita Mahabarata di dalamnya.

Berikut cerita Asal Mula Kuda Gipang Banjar yang ditulis dalam Bahasa Banjar darah Kalimantan Selatan;


Kuda gipang Banjar nitu tamasuk kasanian banua Banjar nang maabil carita wayang Mahabrata, nang kisahnya, baupacara bakarasmin bakakawinan. Nang dikawinakan saikung Pandawa Lima, Bima lawan Dewi Arimbi, anak Sang Hiang Parabu Kisa, asal Nagara Sura Paringgadani.

Wadah patataian pangantin Bima lawan Dewi Arimbi nitu diulahakan Balai Sakadumas, diramiakan tuntunan tatarian lawan gagamalan nang bangaran tapung tali, luntang, kijik, kuda laguring lawan parabangsa.

Gamalannya wayah dahulu ada kulung-kulung, babun lawan agung. Wayah hini ada sarun, dau lawan kanung. Manurut kisah, kuda gipang nang dipimpin ulih saikung raja, baisi anak buahnya nang bangaran Raden Arimbi, Braja Kangkapa, Baraja Santika, Baraja Musti, Baraja Sangatan, Braja Danta, ditambah lawan bubuhan punggawa lainnya. Samunyaan pasukan nitu sampai sapuluh atawa lawih bubuhan prajurit anak buahnya.

Kuda-kuda kada hingkat ditunggang. Sababnya raja nitu unrang nang sakti. Amun kudanya ditunggang, maka kuda nitu jadi rabah sampai lumpuh. Asal usulnya tapaksa kuda nitu dikapit di bawah katiak, ada kisahnya pada wayah dahulu. Dangarakanlah kisanya;

Nagara Dipa nang rajanya bangaran Pangeran Suryanata nitu sudah dikatahuani urang sampai ka mana-mana. Urang nagari Cina nang jauh nitu gin sudah tahu jua, salawan Ampu Jatmika minta diulahakan patung gangsa gasan diandak di Nagara Dipa. Wayah nitu disuruh Wiramartas maurus pasanan baulah patung gangsa ka nagari Cina.

Mangkubumi Lambung Mangkurat sudah takanal banar jua, sampai kaluar banua. Urang mandangar Lambung Mangkurat nitu mangkubumi karaan Nagara Dipa nang paling wani, gagah, taguh, dihurmati ulih samunyaan urang.

Karajaan Majapahit nang ada di Jawa sudah lawas jua ada bahubungan lawan Nagara Dipa. Malahan buhubungan nitu tamasuk tutus rajanya, nang asal usulnya Pangeran Suryanata nitu  anak tapaan raja Majapahit.

Pada suatu hari, Lambung Mangkurat dapat undangan tamatan raja Majapahit di Jawa. Maksudnya maundang gasan marakatakan hubungan karajaan Majapahit lawan karajaan Nagara Dipa.

Wayah ari nang ditantuakan nitu, maka barakat, tulakan Lambung Mangkurat mambawa kapal si Parabayaksa, kapal karajaan Nagara Dipa nang ganal nitu.

Limbah Lambung Mangkurat Malapor lawan raja Pangeran Suryanata, kapal nitu balayar menuju pulau Jawa. Umpat jua di situ hulubalang Arya Magatsari lawan Tumanggung Tatahjiwa. Kada tatinggal bubuhan pengawal kaamanan Singabana, Singantaka, Singapati lawan anak buah kapal si Parabayaksa.

Salawas dalam parjalanan di Laut Jawa, kapal kerajaan nitu balayar laju, kadda halangan nangapa-apa. Samunyaan anak buah kapal bagawi rajin nang dituhai alih juragan.

Kada lawa kapal si Parabayaksa nitu parak sudah lawan palabuhan karajaan Majapahit. Raja Majapahit nang mandangar kapal datang tumatan di Nagara Dipa, lakas mamarintahakan manyiapkan sambutan. Inya tahu di kapal nitu musti ada Lambung Mangkurat nang diundangnya.

Kadatangan Lambung Mangkurat ka karajaan Majapahit nitu tarus di papak ulih Gajah Mada di kapal si Parabayaksa, balalu dibawa ka istana karajaan Majapahit.

Raja Majapahit duduk di Situluhur nang dikulilingi ulih panggapitnya. Lambung Mangkurat duduk di Rancak Suci, nang pangawalnya duduk di balakang. Raja Majapahit suka bangat manyambut Lambung Mangkurat. Inya mangiau "paman" lawan Lambung Mangkurat. Wayah nitu Lambung Mangkurat bujur-bujur kaliatan gagah nang raja Majapahit nitu mahurmatinya.

Lambung Mangkurat menyampaikan salam kahurmatan raja Nagar Dipa Pangeran Suryanata lawan raja Majapahit, balalu manyampaiakan tanda mata talu bigi intan lawan raja Majapahit nitu. Raja Majapahit suka bangat inya manarima tanda mata intan.

Wayah nitu, sudah pitung hari, Lambung Mangkurat, bubuhan hulubalang lawan pengawal keamanan Singabana jadi tamu kahurmatan di karajaan Majapahit. Bubuhannya maliat-liat isi karajaan, istananya, maliat kaahlian prajurit-prajurit, lawan pasukan kaamanan kerajaan nitu. Bubuhannya jua dibari makan nginum makanan nginuman karajaan.

Limbah sudah puas di karajaan Majapahit nitu, Lambung Mangkurat sabarataan handak bulik ka banua Nagara Dipa. Wayah malamnya, ulih raja Majapahit diadakan tuntunan kasanian gasan mahibur Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang cagar bulikan ka banua asal disubarang.

Isuk baisukannya Lambung Mangkurat dibari tanda mata ulih raja Majapahit saikung kuda putih nang tinggi lawan ganal-ganalnya. Kuda nitu gagah, bigas, ujar tu tamasuk kuda nang paling harat dikarajaan Majapahit.

Lambung Mangkurat manarima kuda nitu suka bangat, balalu tarus dibawa kaluar halaman istana. Wayah handak dibawa ampah ka kapal si Parabayaksa, hulubalang Tumanggung Tatahjiwa baucap :

"Bapa Lambung Mangkurat! Kaya apa amun kuda pambarian raja naya ditunggang dulu, nyaman kaliatan kaharatannya".

" Bujur jua", dalam hati Lambung Mangkurat.

Balalu kuda nitu ditunggang ulih Lambung Mangkurat. 

Limbah Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda putih nitu, sakalinya kuda pambarian raja nitu rabah, inya lumpuh, sampai talipat batisnya ka tanah.

Lambung Mangkurat, hulubalang Arya Magatsari, Tumanggung Tatahjiwa lawan bubuhan Sangabana takajut, hiran bangat limbah maliat kuda nitu lumpuh. Pada hal dipadahakan kuda nitu harat, gagah lawan bigas-bigasnya.

"Kita hadangi satumat. kaina ditunggang pulang", ujar hulubalang Arya Magatsari. Bujur jua, limbah dihadangi satumat, Lambung Mangkurat manunggang pulang kuda nitu. Kada dikira, kuda nang ganal nitu lumpuh pulang. Bubuhannya barataan nang ada di situ hiran pulang malihat kuda nitu lumpuh.

"Amun kaya nitu kuda naya dicuba ditunggang talu kali, tagal kita hadangi talawasi pada nang tadahulu", ujar hulubalang tumanggung Tatahjiwa.

Bubuhannya baranai dahulu sambil mamusut-musut gulu lawan kapal kuda nitu. Kada lawas limbah nitu Lambung Mangkurat balalu baluncat naik ka atas balakang kuda. Babayanya Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda nitu, inya lumpuh pulang. Sakalinya kaampat batis kuda nitu talipat sampai ka tanah. Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang ada di situ jadi hiran bangat, pada hal ujar habar kuda nitu harat bangat.

Lambung Mangkurat jadi asa kasian limbang maliat kuda nitu lumpuh. Apalagi limbah ditariknya tali hidung kuda nita, kuda nitu kada kawa bajalan.

"Kaya apa pikiran?", ujar hulubalang Arya Magatsari.

"Amun kuda naya kita bulikakan k karajaan Majapahit kaya apa?", ujar urang nang saikung anggota Sangabana.

"Jangan! Nitu artinya kita kada mahurmati pambarian raja Majapahit", ujar hulubalang Tumanggung Tatahjiwa.

"Bujur!", ujar Lambung Mangkurat manyahuti.

"Nang kaya apa haja jadinya, kuda naya musti kita bawa bulik ka banua kita Nagara Dipa. Sabab kuda naya pambarian kahurmatan", ujar lambung mangkurat manambahi.

Barataan nang ada di situ pina bingung. Tagal Lambung Mangkurat haja nang kada bingung. Inya balalu duduk di tanah mahadapi matahari hidup. Kadua balah batisnya basila. Kadua balah tangannya diandaknya di atas paha. Balalu inya mamaicingakan matanya sambil mambaca mantra. Lawas inya baparigal kaya nitu, balalu inya badiri, matanya nyarak, kaliatan pina batambah bigas, batambah sumangat nang luar biasa. Lambung Mangkurat sakalinya mangaluarakan kasaktiannya. Dasar bujur-bujur inya urang nang sakti. Limbah nitu, kada kaya prabahasa, kuda niti diangkatnya, dikapitnya di bawah katiak tangan nang subalah kanan.

Awal lambung Mangkurat nang jadi tinggi lawan ganal-ganalnya nitu pina hampul haja maangkat kuda putih nitu, tarus dibawanya masuk ka dalam kapal si Parabayaksa.

Hulubalang lawan sabarataan nang ada di situ tacaragal maliat kaharatan Lambung Mangkurat nang kawa maangkat kuda pambarian raja Majapahit nitu. Balum biasa bubuhannya maliat Lambung Mangkurat nang hingkat maangkat kuda macam nitu.

Kada lawas limbah nitu, kapal si Parabayaksa balalu balayar mambawa Lambung Mangkurat, hulubalang, bubuhan pangawal kaamanan lawan sabarataan anank buah. Kapal ganal nitu sing lajuan manuju ampah banua, bulik ka karajaan Nagara Dipa.

Bubuhan kulawarga karajaan Nagara Dipa nang ada di banua, suka bangat manyambut kadatangan kapal si Parabayaksa nang dipimpin ulih Lambung Mangkurat nitu. Apalagi limbah mandangar ada kuda gagah pambarian raja Majapahit nang diangkat ulih Lambung Mangkurat.

Kuda pambarian raja, kuda putih nanga gagah, tinggi lawan ganal-ganalnya nitu diharagu di karajaan Nagara Dipa. Limbah nitu, kada lawas, balalu diadaakan kasanian kuda gipang Banjar nang kudnaya diigalakan, dikapit di bawah katiak sampai wayah hini.


Tarian Kuda Gepang - Foto: rebanas.com



Nilai moral cerita:

Saban urang nang bakawal, nang bakawal parak atawa jauh, bagus bangat amun tatarusan barakat-rakat, wayah-wayah ba-i-ilangan, babarian nangapa haja, makanan atawa cindramata gasan paliliatan. Kabiasaan nang baik nitu jadi marapatakan atawa manguatakan tali silaturrahmi.

Lawan bagus bangat jua maharagu kasanian paninggalan urang-urang tuha kita bahari, supaya kada hilang, sama artinya lawan maharagu warisan nang bamanfaat gasan urang-urang nang wayah hini.

Anda dapat mendownloan dan mengkopy artikel ini di http://indoborneonatural.blogspot.co.id/ 

INILAH PENGERTIAN WAYANG PURWA DAN TOKOH-TOKOH WAYANG PURWA LENGKAP

Indoborneonatural----Sebelum kita lihat tokoh-tokoh Wayang Purwa di Indonesia, yang merapakan warisan khasanah kesenian budaya bangsa, kita akan mengenal terlebih dahulu apa itu wayang purwa.

Menurut Wikipedia :

Wayang purwa atau wayang kulit purwa. Kata purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Banyak jenis wayang kulit mulai dari wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua di antara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di abad 11 pada zaman pemerintahan Erlangga yang menyebutkan:

"Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap"

yang artinya:

Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara

Petikan di atas adalah bait 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030), salah satu sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri.

Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata, sedangkan jika sudah merambah ke ceritera Panji biasanya disajikan dengan wayang Gedhog. Wayang kulit purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak seperti gagrak Kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogjakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya.


Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditatah dan diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Ditinjau dari bentuk bangunnya wayang kulit purwa dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain:

Wayang Kidang kencana; boneka wayang berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan).
Wayang Ageng; yaitu boneka wayang yang berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian lambung dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan.
Wayang kaper;yaitu wayang yang berukuran lebih kecil daripada wayang biasa.

Wayang Kateb;yaitu wayang yang ukuran kakinya terlalku panjang tidak seimbang dengan badannya.

Pada perkembangannya bentuk bangun wayang kulit ini mengalami perkembangan bahkan pergeseran dari yang tradisi menjadi kreasi baru. Pada zaman Keraton Surakarta masih berjaya dibuat wayang dalam ukuran yang sangat besar yang kemudian diberi nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin mengilhami para dalang khususnya Surakarta untuk membuat wayang dengan ukuran lebih besar lagi. Misalnya Alm. Ki Mulyanto Mangkudarsono dari Sragen, Jawa Tengah membuat Raksasa dengan ukuran 2 meter, dengan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya termasuk Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro dari Surakarta, Ki Sudirman dari Sragen dan masih banyak lagi dalang lainnya.


Ki Entus Susumono dari Tegal bahkan telah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang planet, wayang tokoh kartun seperti superman, batman, ksatria baja hitam, robot, dinosaurus, dan wayang Rai- Wong (bermuka orang) - tokoh George Walker Bush, Saddam Hussein, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah. Ki Entus juga menggabungkan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang Cirebon dan bawah Surakarta).

Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit purwa juga semakin marak, misalnya dengan ditambahkannya berbagai boneka wayang dari tokoh polisi, Helikopter, ambulans, barisan Tentara, Pemain drum band, sampai tokoh Mbah Marijan. (Sumber: id.wikipedia.org).

Tokoh-tokoh Wayang Purwa 

1. Prabu Abiyasa dan Beghawan Abiyasa   
2. Abilawa
3. Abimayu
4. Adirata
5. Agnyanawati

SENJATA TRADISIONAL (THE TRADITIONAL WEAPON) YANG PERNAH ADA DI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural-----Senjata tradisional merupakan produk budaya yang lekat hubungannya dengan suatu masyarakat. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, senjata tradisional juga digunakan dalam kegiatan berladang dan berburu. Lebih dari fungsinya, senjata tradisional kini menjadi identitas suatu bangsa yang turut memperkaya khazanah kebudayaan nusantara. Senjata tradisional ini sungguh unik dan sekarang sebagian sudah langka, karena sudah jarang dimiliki oleh kebanyakan orang, akan tetapi senjata tradisional ini kini telah banyak dijadikan sebagai koleksi bagi pecinta barang antik dan banyak diburu oleh para kolektor tersebut. Harga senjata tradisional unik pun semakin mahal, bahkan mencapai ratusan juta rupiah.

Senjata tradisional yang dibuat dengan teknik tempa besa seperti parang, keris, tombak, kapak dan balayung oleh pemakainya digunakan sebagai senjata untuk pertahanan diri. Jenis senjata yang bagus buatannya biasanya dipakai sebagai simbol kepemimpinan dan kebanggan diri. Berapa jenis senjata fungsi sosialnya diketahui sebagai pusaka dari peninggalan budaya keraton Banjarmasin. Orientasi nilai pada orang Melayu di Asia Tenggara yang percaya pada berbagai kekuatan ghaib sering juga menganggap sebuah senjata dapat memiliki unsur saksi jika diukur dengan kalimat dari doa-doa suci seorang pemimpin agama yang sanggup berhubungan dengan alam-alam ghaib.

Indoborneonatural-----Traditional weapons are cultural products that are closely related to a society. Besides being used to shelter from enemy attacks, traditional weapons are also used in farming and hunting activities. More than its function, traditional weapons are now the identity of a nation that helped enrich the cultural treasures of the archipelago. This traditional weapon is unique and now partly rare, because it is rarely owned by most people, but this traditional weapon has now been used as a collection for lovers of antiques and many hunted by the collectors. The price of traditional weapons is even more expensive, even reaching hundreds of millions of rupiah.

The traditional weapon built from the Black Smith culture lie blades, kerises, spears, balayungs and hand axes are used for a self defence weapons. The best fabricated weapon is worn to the heirlooms and privileges. The social function of weapon is branded for regalia from the Banjarmasin royal heritage. The Malayan value orientation on South East Asia that believes in a supranatural impunity is fequently assume that the weapon has circumstance power by grafted in an aculticism word tah engege for the shaman corthegous in the supranatural orders.

The following are some of the traditional weapons of South Kalimantan that we must preserve:

1. Parang Kemudi singkir



2. Cemeti


3. Ruti Kalung


4. Jambia


5. Parang Lubuk


6. Parang Baduk


7. Keris


8. Tombak



9. Keris Ilat Patung



10. Keris Sempana



11. Cabang/Trisula


12. Balayung Nyaru, dan Kapak Siam



Demikian tentang senjata tradisional "The Traditional Weapon" Khas Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang khasanah budaya bangsa, terimakasih.

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.