Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya

Indoborneonatural-Blog---Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan.


Bagi sebagian masyarakat Suku Banjar yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, mitos tentang buaya siluman (buaya gaib) masih cukup kental dan berkembang secara turun temurun. Bahkan tradisi Manyampir Buhaya atau memberi makan buaya siluman yang berasal dari Kabupaten Tabalong ini kini tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) asal Kalsel di Kemendikbudristek pada 2021.


Salah satu mitos yang ada di tengah masyarakat banjar, khususnya di Kabupaten Tabalong adalah manyampir buhaya," ungkap Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong Sulaiman Fauzi.

Manyampir buhaya adalah ritual memberi makan buaya siluman (gaib). Ritual ini secara rutin dan wajib dilaksanakan tiap tahun. Bahkan jika ada hajat tertentu bisa dilaksanakan lebih dari satu kali.


Tradisi manyampir buhaya berhubungan dengan ilmu kesaktian para leluhur. Sedangkan yang memberi makan buaya gaib ini adalah para pewaris atau keturunan, Datu Buaya semacam perjanjian dimana buaya-buaya tersebut harus diberi makanan tertentu dan biasanya pada bulan Muharam dan Dzulhijjah (Safar) atau di waktu-waktu tertentu seperti perkawinan sehabis panen, habis melahirkan, atau hajat penting lainnya.


Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan



"Minimal setahun sekali. Jika tidak, maka buaya-buaya itu bisa meminta korban, atau membuat salah satu ahli waris buaya tersebut kesurupan (kerasukan makhluk gaib), atau mengalami hal-hal yang bersifat metafisik, seperti sakit yang tidak jelas penyebabnya,".


Orang yang bersahabat dengan makhluk gaib ini, maka anak cucunya harus memelihara buaya yang menjadi sahabat orangtuanya dulu secara turun temurun. Kepercayaan masyarakat ini sudah ada sejak berdirinya kerajaan Banjar abad 16 dan masih ada hingga sekarang. Masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan buaya tersebut biasanya manyampir (memberi sesajen) yang dilarung ke sungai.


Kasi Kesenian Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan Sunjaya mengatakan asal-usul buaya gaib dalam mitologi masyarakat Banjar itu, ada tiga versi yaitu: sebagai wujud Putri Junjung Buih. Dari asal-usul penemuan Putri Junjung Buih yang aneh mengapung di atas buih, maka dianggap bahwa sang putri adalah titisan buaya gaib.Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada


Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada seorang ibu yang hamil dan melahirkan bayi kembar dua. Namun sesaat kemudian, salah satu dari bayi itu menghilang secara misterius. Bayi yang menghilang itu dalam bahasa banjar disebut 'Gampiran' yakni saudara kembar yang gaib.


Bayi kembar gaib ini dipercaya akibat sang ayah melakukan suatu ritual, yang umumnya untuk kekebalan atau kesaktian. Jika suatu waktu si ayah atau keturunannya mengalami suatu bahaya, maka dengan memanggil si anak yang gaib itu, ia akan datang untuk menolongnya.Mitos lainnya adalah Sahabat Gaib Hasil Bertapa. Buaya siluman itu ada pula yang menganggapnya sebagai sahabat gaib hasil bertapa. Sahabat gaib itu bisa datang secara langsung, atau melalui anak kembar yang lahir menghilang secara misterius. Namun sahabat gaib yang datang secara langsung ini bisa melalui 'menelan sesuatu' seperti minyak gaib atau memberikan sesajen kepada siluman yang menemuinya saat bertapa.

CERITA KERA DAN KURA KURA (VERSI DAERAH KALIMANTAN SELATAN)

KERA DAN KURA-KURA

Pada zaman dahulu, tepatnya pada suatu hari terlihat dua sahabat yaitu seekor kura-kura dan seekor kera yang sedang berjalan-jalan di hutan sambil mencari makan mencari. Mereka terus mencari buah-buahan yang sudah matang tetapi mereka belum menemukan buah yang matang. Kera pun kesal dengan keadaan itu.

Kura-kura pun berkata : “Wahai sahabatku, ada sebuah pohon pisang yang sudah matang di seberang pulau sana, tetapi aku tidak bisa memanjat.” Lalu kera pun mengusulkan “Begini saja aku yang memanjat pohon itu dan kau yang membawa ku untuk menyeberangi pulau.” “Baiklah kalau begitu naiklah kau ke punggung ku” kata kura kura.

Sesampainya di sana kera langsung memanjat pohon dan kura-kura menunggu di bawah. Kera memetik pisang dan mencoba satu, dan buah itu sangatlah lezat. Maka timbullah niat buruk kera untuk tidak memberikan makanan itu kepada kura-kura.



Kura kura pun masih menunggu di bawah, lalu terdengar seperti suara barang jatuh. Ternyata kera sahabatnya yang jatuh tergeletak dan sudah tidak bernafas lagi.

Kura kura pun berniat untuk memberikan pelajaran kepada kera kera yang lain, agar tidak culas dan jahat seperti si kera yang mati. Maka diambilnya lah tulang kera itu dan dibuatnya kapur sirih.

Kera kera dikampung itu berebutan untuk membeli kapur sirih itu. Dengan riang gembira kura kura itu pulang sambil menjinjing pisang hasil jualannya.

Dalam perjalanan pulang kura kura pun bernyanyi “hura hura ahuii, hura hura ahuii…kapur kawanya juga….”

Mendengar nyanyia kura kura, para kerapun tersadar mendengarnya sambil menghitung masing masing saudaranya da ternyata kurang seekor. “pasti kura kurang yang telah membunuh saudara kita dan tulangnya ia buat kapur.” Seru kera kera.

Mereka pun mengangkap kura kura itu dan membawanya kesungai untuk ditenggelamkan. “biar mati lemas.” Seur kera kera. Kura kura itu dilempar ke dalam sungai dan para kera kera itu pun kegirangan sambil meloncat loncat di atas pepohonan.

Bukannya mati, kura kura itu malah merasa senang dan segar karena habitanya memang di dalam air. Hingga sampai sekarang kura kura hidup di dalam air dan para kera berloncatan di atas pohon.

Pesan moral cerita : Jangan lah menghianati kepercayaan dan kebaikan orang lain. Dan janganlah berburuk sangka dan menghakimi seseorang tanpa adanya bukti dan fakta yang jelas.



Sumber cerita :

Diadaftasi dari Cerita Kera dan Kura kura

Penulis H. Farurazie

Yang diterbitkan oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Bekerja sama dengan : Penerbit Pustaka Banua.

Cari Artikel