SASTRA MANTRA MEMANGGIL NAGA Banjar

 Indoborneonatural-blog--Naga adalah binatang mitos legenda, dalam masyarakat Banjar Kalimantan Selatan pun ada Makhluk yang disebut dengan Naga sebagai bagian dari legenda dan mitos metafisika alam gaib yang dipercaya keberadaannya.

Pada masyarakat suku Banjar Kalimantan selatan Selain ada tradisi Manyapir Buhaya atau memberi makan buaya siluman buaya, juga ada kepercayaan tentang Memberi sesajen pada Naga.



Banyak Kisah dan cerita tentang Naga ini, yang melibatkan hal-hal ghaib dan kepercayaan terhadap tuah kekuatan metafisika Alam ghaib Naga Banjar.


Mantra Pemanggil Naga






KISAH PERJALANAN GUNUNG KEMUKUS. WISATA, ZIARAH DAN RITUAL KHUSUS

Indoborneonatural----Berdasarkan cerita dari pengalaman beberapa orang yang pernah datang ke Gunung Kemukus, baik yang sekedar untuk wisata dan rekreasi, ataupun untuk melakukan ziarah dengan ritual tertentu. Banyak kisah-kisah menarik yang ditemukan dari kegiatan wisata dan ritual khusus gunung kemukus ini.

Tentang Gunung Kemukus ini, di ceritakan bahwa di Jawa Tengah tidak jauh dari Solo, ada tempat wisata sekaligus tempat ziarah yang bisa melakukan ritual khusus untuk pasangan yang datang kesana. Ziarah dilakukan untuk mengunjungi Makam Pengeran Samudro di yang ada di gunung kemungkus Solo tersebut. 




Pengeran Samudro adalah salah satu putra dari kerajaan Majapahit terakhir ketika tahun 1400 'an sekitar 600 atau 700 tahun yang lalu. Pangeran Samudro adalah raja yang menjadi salah satu Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa. Beliau belajar agama ke daerah Demak tepatnya sekitar Grobokan Demak tempat Sunan KaliJaga waktu itu.

Banyak perempuan, baik ibu-ibu dan perempuan muda yang datang berziarah kesana mancari pasangan laki-laki untuk melengkapi tujuan dan niat ziarah mereka yang bermacam-macam, seperti ingin usahanya maju atau dapat jodoh.

Jika ingin melakukan Perjalanan traveling, menurut beberapa informasi yang sudah melakukannya, dapat dilakukan perjalanan ke Solo dengan penerbangan murah dari Jakarta, tarif murah biasanya ada di hari Rabu, kalau hari Sabtu dan Minggu sedikit lebih mahal dan antrian tiket pun kadang bisa penuh.

Jika sudah sampai di Solo kita bisa mencari penginapan yang murah di sekitar stasiun Solo, di sana kita bisa temukan banyak hotel yang harganya miring dan cukup bersih dan bagus.

Kegiatan ritual di gunung Kemungkus yang banyak dilakukan adalah Hari Kamis menjelang Jum'at Pon. Jika dari Solo kita akan berangkat dari Terminal Tirtonadi di Solo, dengan menumpang kendaraan umum jurusan Purwodadi bersama-sama penumpang yang mungkin juga akan ziarah ke Gunung Kemukus. 

Setelah kurang lebih 30 Menit perjalanan Angkutan umum akan sampai di pemberhentian Barong, biasa Supir atau abang kondiktur akan berteriak "Kemungkus-kemungkus". Di luar sudah banyak terlihat orang-orang dan tukang ojek yang sudah menunggu berebut menawarkan jasa ojek.



Jika kita datang berwisata ke gunung Kemungkus saat musim hujan dan air waduk Kedung Ombo sedang naik, kita harus menyewa ojek yang dapat mengantar kita sampai ke pinggir dermaga penyebrangan, dari dermaga kita harus menyewa perahu penyebrangan untuk mencapai gunung Kemungkus.

Sesampainya di gerbang kita akan ditawari kembang dan berbagai pernak-pernik untuk ziarah, selanjutnya kita akan menaiki tangga yang lumayan tinggi dan banyak yang berjumlah 157 anak tangga. Diatas para peziarah akan disambut oleh juru kunci yang akan menerima penjelasan dan maksud niat berziarah ke sana.


Kita akan masuk dan mengitari  tempat ziarah, dan Makam Pengeran Samudro berada di bawah semacam bangunan Joglo yang dibuat cukup luas, hingga mampu menampung para peziarah yang banyak. Makam Makam Pengeran Samudro di pasangi dan dikerudungi kelambu, kita akan merasakan suasana sakral dan mistis dan akan terasa lebih dalam saat malam hari di sekitar makam itu. Para peziarah akan menabur kembang dan duduk disekitar makam untuk berdoa dan menyampaikan niatnya.

Setelah selesai menuntaskan ritual berdoa, para peziarah pergi dari Makam Pengeran Samudro untuk melanjutkan kegiatan ritual lainnya, seperti "tiduran" di semak-semak dan menuju Sendang Ontrowulan tempat penampungan air pegunungan. Di sana para peziarah bisa sekedar membasuh muka, tangan dan kaki. Ada kepercayaan bahwa air sendang itu membuat orang awet muda dan cantik. Ada juga perziarah yang membawa air tersebut untuk oleh-oleh sebagai berbagai keperluan.

Semua kegiatan wisata, ziarah dan ritual sudah selesai dilakukan. Kita bisa pulang kembali ke Solo. Di Solo sebagian wisatawan tidak langsung pulang, tetapi menginap lagi di penginapan dan hotel-hotel  di sana, sekaligus berwisata menikmati kuliner, hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Sangat nikmat sekali rasanya menyantap nasi Liwet saat siang dan perut lapar sambil duduk lesehan di warung-warung nasi Liwet Solo.

Nasi Liwet /Gambar Foto: etnis.id

Besok sore kita sudah bisa pulang langsung menuju bandara, tetapi disarankan untuk jalan-jalan dulu ke Purworejo dengan menggunakan kereta Pramex (Prambanan Expres), menikmati suasana kota tersebut.

Demikianlah Artikel singkat untuk sekedar berbagi pengalaman tentang perjalan wisata, ziarah dan ritual ke Gunung Kemukus di Solo Jawa Tengah. Semoga bermanfaat, terimakasih.

KISAH MALIN KUNDANG (Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)

KISAH MALIN KUNDANG 
(Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)



Dikisahkan pada zaman dahulu disebuah kampung hiduplah seorang wanita janda bersama seorang anaknya yang bernama Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu hingga jatuh dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas di lengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat hidup enak dan menjadi kaya raya setelah kembali kekampungnya kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau, tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Dingah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagia besar awak kapal dan orang yang berada di kapat tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingg tidak terlihat dan tidak dibunuh oleh bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampat di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tampat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihan dalam bekerja, Malin lama-kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberalama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ibu Malin yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang berserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia sendiri mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya, jika ibunya adalah seorang yang sangat miskin. Maka Malin memperlakukan ibunya seolah-olah dia  tidak mengenalnya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Krena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya,  "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu."

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di Selatan Kota Padang, Sumatera Barat.

Sekian -  Terimakasih

CERITA ASAL NAMA GOA LIANG TAPAH DI KECAMATAN JARO KABUPATEN TABALONG KALSEL

Indoborneonatural----- Cerita Asal Nama Goa Liang Tapah - Kecamatan Jaro berada dibagian paling utara Kabupaten Tabalong, terdiri dari 9 desa, yaitu Desa Namun, Muang, Teratau, Purui, Nalui, Jaro. Garagata, Solan dan Lano. Kecamatan jaro memang daerah yang memiliki banyak obyek wisata tersebut kurang terpelihara, sehingga tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah.

Goa Liang Tapah
Tetapi akhir-akhir ini ada Goa Liang Tapah yang mulai banyak dikunjungi wisatawan, walaupun belum tertata rapi. dan harus menjadi perhatian bagi pengelola. Dibalik itu semua, yang menarik dario Goa Liang Tapah ini adalah penamaan yang dikaitkan adanya kepercayaan sebagian masyarakat desa sekitar. Mereka memberi nama Goa Liang Tapah bukan karena alasan, dan itulah yang menjadikan kita merasa penasaran mendengar nama Liang Tapah.

Memang kita kenal Tapah adalah salah satu spesies ikan lokal yang merupakan ikan air tawar terbesar di Indonesia, apabila mencapai ukuran optimal baik panjang maupun lebarnya, ikan tapah dapat mencapai 2,4 meter sehingga menjadikannya sejenis ikan raksasa dan termasuk ikan yang ganas pemakan daging, bahkan menurut sebagian orang ikan ini bersipat kanibal terhadap sesama, dan juga bisa menyerang manusia. 

Jika kita telusuri lebih jauh asal usul penamaan Liang Tapah tersebut di daerah asalnya, kita tidak terlalu sulit mencari informasi tentang hal itu, karena memang masyarakat desa disekitar Goa Liang Tapah sudah sejak lama mengetahui dan percaya adanya terdapat ikan tapah disitu, karena dalam Goa tersebut dilalui sebuah sungai kecil yang mengalir sepanjang Goa. sehingga tidak mustahil jika ada ikan tapah masuk goa itu.

Menurut keterangan dan cerita-cerita dari masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong, pada masa di sungai yang melintasi Goa yang berlokasi di kaki gunung Garagata itu memang dihuni oleh banyak ikan, diantaranya ikan tapah tersebut. Menurut cerita yang telah turun temurun ikan Tapah yang ada di sungai dalam Goa Liang Tapah sangat besar, sehingga tidak bisa lagi berbalik badan untuk keluar dan sampai sekarang masih hidup, tetapi sangat misterius. Kita hanya melihat pada saat-saat tertentu saja. Terkadang ia muncul malam hari dengan matanya yang memancarkan cahaya yang sangat terang, sehingga anak-anak harus berhati-hati masuk ke dalam Goa Liang Tapah tersebut. 

Warga sekitar sering memperingatkan bahaya masuk sendiri ke Goa Liang Tapah itu, atau tidak perlu masuk kalau tidak ingin mendapat bahaya, ditakutkan ikan Tapah itu akan muncul saat air sungai meluap, begitu penuturan seorang tua yang penulis temui yang menjadi penduduk penghuni Asli di daerah tersebut yang ada di kaki gunung Garagata tersebut. 


INILAH FILOSOFI BURUNG TINGANG BAGI SUKU DAYAK HINDU KALIMANTAN

Indoborneonatural----Burung Tingang/enggang merupakan satwa langka yang terdapat di hutan rimba Kalimantan. Tercatat sebagai keturunan burung yang hidup sejak ribuan tahun lalu. Sejak lama burung tingang memang sudah menjadi salah satu burung yang “dipuja” dibanyak kebudayaan kuno, termasuk suku Dayak di Kalimantan. Burung tingang pada beberapa kebudayaan kuno menjadi bagian ritual religi yang melambangkan kebebasan, kesucian dan mithologi. Burung yang dianggap memiliki kekuatan gaib oleh suku dayak ini, Kini ia termasuk dalam daftar hewan yang dilindungi karena terancam punah.

Burung Enggang/Rangkong
Burung Enggang atau Burung Rangkong adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya “Buceros” merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti “tanduk sapi” dalam Bahasa Yunani.

Di antara semua jenis burung enggang/burung rangkong, enggang gading (Buceros vigil) adalah yang terbesar ukurannya, kepalanya dan paruhnya besar, tebal dan kokoh dengan tanduk yg menutup bagian dahinya. Warna tanduk merah pada bagian yang dekat dengan kepala, kuning gading pada sisanya. Ciri ini yang memberikan namanya. Ekor sangat panjang sampai dua kali panjang tubuhnya seluruhnya dapat mencapai 1,5 m, terbangnya kuat dengan mengeluarkan bunyi hempasan sayap. Bertengger di pohon yang tinggi, burung ini sering menimbulkan suara yang ramai di tengah hutan. Makanannya buah-buahan terutama buah beringin dan palem, tapi tidak jarang juga makan serangga, tikus, kadal bahkan burung kecil.

Burung ini tersebar di Kalimantan dan Sumatera sampai ketinggian 1.500 m di atas permukaan taut. Burung ini membutuhkan habitat yang berupa hutan dengan pepohonan yang tinggi yaitu di hutan tropika yang tidak terganggu, yang masih utuh. Pelestarian Enggang Gading menunjukkan pelestarian hutan tropika. Di dalam hutan ia selalu bertengger pada pohon-pohon tertinggi, sambil kadang-kadang ia terbang ke pohon-pohon yang rendah untuk mendapatkan makanan.

Burung enggang bertelur sebanyak enam biji telur dan dierami di dalam sarang. Sarang burung enggang terbuat dari kotoran dan kulit buah. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina. Jika telur telah menetas dan anak burung semakin dewasa, maka sarang tidak akan cukup untuk menampung anak dan burung enggang betina. Burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut dan kemudian membantu burung jantan untuk mencari makanan bagi anak-anak burung. 

Oleh karena itu hewan yang memiliki paruh yang cantik ini termasuk dalam satwa yang dilindungi di Indonesia. Burung Tingang ini memiliki ciri khas yang tersendiri antara lain; ukuran tubuh yang besar, kurang lebih dua kali ayam kampung dan memiliki paruh yang sangat besar menyerupai tanduk berwarna kuning gading, dari kepala sampai leher memiliki bulu yang seperti rambut manusia. Ekor memiliki warna yang memiliki makna tersendiri menurut orang dayak yaitu; putih,hitam dan putih. Dari kejauhan, burung ini dapat dikenali melalui suara yang parau lantang. Burung dengan ukuran tubuh yang sangat besar, dengan suara yang keras serta beberapa jenis memiliki warna tubuh yang mencolok, merupakan burung yang sangat jarang dijumpai.

Dalam kepercayaan umat hindu dayak kaharingan, burung tingang memiliki makna tersendiri. Berdasarkan mithologi agama hindu kaharingan, di lewu batu nindan tarung (alam atas), Tingang Rangga Bapantung Nyahu (burung tingang) adalah  salah satu penciptaan Ranying Hatala melalui perubahan wujud Luhing Pantung Tingang (destar) yang dipakai oleh Raja Bunu ketika ia menerima Danum nyalung Kaharingan belum (Air Suci Kehidupan). 

Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kitab suci panaturan Pasal 27 ayat 21
Hayak auh nyahu batengkung ngaruntung langit, homboh malentar kilat basiring hawun,Luhing pantung tingang basaluh manjadi Tingang Rangga Bapantung Nyahu”.

"Bersama bunyi Guntur menggemuruh memenuhi alam semesta, petir halilintar menggetarkan buana, Luhing pantung tingang kejadian menjadi Tingang Rangga Bapantung Nyahu (burung enggang)".

 Kemudian burung tingang tersebut tinggal dan menempati Lunuk Jayang Tingang Baringen Sempeng Tulang Tambarirang (Pohon Beringin), dimana pada saat Balian Balaku Untung wujud burung tingang itu memberkati kehidupan manusia melalui perjalanan Banama Tingang (perahu) untuk mendapatkan berkat dan karunia dari Ranying Hatala.

Oleh karena itu dalam setiap upacara basarah yang dilakukan oleh umat hindu kaharingan selalu terdapat dandang tingang (bulu ekor tingang) sebagai sarana pelengkap yang terdapat didalam sangku tambak raja mendapatkan bulau untung aseng panjang (berkat dan karunia-Nya) dari Ranying Hatala. Dilihat dari filsafat keagamaan hindu kaharingan sendiri dandang tingang memiliki makna simbolis didalam kehidupan umat manusia yaitu :
1. Warna putih dibagian atas, berarti alam kekuasaan Ranying Hatala beserta manisfestasi-manisfestasi-Nya.

2. Warna hitam di tengah, yaitu alam kehidupan manusia di pantai danum kalunen (dunia) yang penuh dengan rintangan dan cobaan.

3. Warna putih dibagian bawah, berarti alam kekuasaan Jatha Balawang Bulau.
Dari ketiga warna tersebutlah yang menjadi warna corak dalam kehidupan umat hindu kaharingan yang diaplikasikan dalam bhakti sebagai ucapan syukur kepada Ranying Hatala dan Jatha Balawang Bulau melalui berbagai upacara-upacara yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Umat hindu kaharingan meyakini bahwa dalam bulu ekor tingang tersebut terdapat suatu kekuatan gaib yang menjadi pedoman hidup yang berlandaskan dengan Lime Sarahan (Lima Pengakuan Iman) dalam meyakini segala kekuasaan Ranying Hatala dalam kehidupan di dunia ini.  


Sumber
http://sudarwana-sakri.blogspot.com/2011/06/buat-umat-hindu-kaharingan-di-kal-teng.html 
http://borneonews-borneoku.blogspot.co.id/2012/03/burung-khas-kaliantan.html

INILAH NAMA DAN ISTILAH KAMPUNG BETAWI DI JAKARTA

Indoborneonatural----Inilah kampung-kampung di Jakarta tempo dulu dan sekarang yang dikaitkan dengan masalah-masalah kontekstual yang dihadapi kampung bersangkutan. Khusus kampung-kampung di Jakarta dewasa ini bukan khusus pemukiman orang betawi saja, tetapi telah menjadi kampung dengan komunitas majemuk khas Indonesia. Bahkan di beberapa tempat, seperti di Kemang misalnya, kampung Betawi telah berubah menjadi kampung Internasional, karena adanya segala bangsa ikut berdiam dan berdomisili disini. Persoalan yang dihadapi kampung-kampung di Jakarta bukan lagi persoalan orang Betawi semata-mata, tetapi telah menjadi persoalan bersama, semua suku bangsa yang ada di sana.

Gambar: archive.kaskus.co.id
Berikut inilah kampung-kampung di Jakarta dengan sejarang singkatnya yang semula milik betawi, sekarang menjadi kampung bersama, dengan istilah kampungmu,kampungku, yang harus kita jaga dan kita pelihara bersama; 

1. Kalapa

Tahun 1527 diyakini sebagai tahun lahir kota Jakarta, Karena pada tahun itu, atau tepatnya tanggal 22 Juni, seorang ulama asal Pasai diperintah Sunan Gunung Jati untuk merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Peringgi. Orang Melayu menyebut Portugis dengan Peringgi. Nama tempat di Jakarta Utara bernama Perigi bukan dari padanan kata sumur, melainkan dari istilah Peringgi Portugis. Orang Peringgi, sesuai dengan perjanjian yang mereka buat dengan kekuasaan Sunda Pajajaran, memperoleh hak pengelolaan pelabuhan Sunda Kalapa. 
Gambar: www.fotografer.net
Kalapa sendiri adalah nama bandar. Bagi kerajaan Pajajaran yang berlokasi di pedalaman tubuhnya pohon kelapa di sepanjang pantai mulai dari Marunda sampai Teluk Naga merupakan panorama yang menarik. Besar kemungkinan bandar itu sudah bernama Kalapa yang pemberian namanya oleh imigran Melayu Kalimantan Barat, Penguasa Pajajaran di Pakuan mempopulerkannya dengan menamakan pelabuhan yang dikuasainya sebagai Sunda Kalapa.


2. Rasamala

Saat kompeni Belanda masuk Kalapa, ternyata bandar ini masih didominasi hutan Rimba. Bontius, seorang dokter VOC yang meninggal pada tahun 1631 dalam Buku Historiae Natural & Medicae Indiae Orientalis menulis, Batavia penuh dengan pohon Indische Eik, Jati Hindia. Pakar lain bernama Junghun kemudian mencatat, jenis jati lain yang tumbuh di Batavia adalah Rasamala. Tetapi penduduk tidak pernah menebang pohon ini karena dianggap keramat. Babakan (kulit Kayu) Rasamala dapat dijadikan setanggi karena harum baunya. Itulah sebabnya tempat-tempat yang banyak ditumbuhi pohon Rasamala disebut Kampung Kramat.


3. Kali Besar

Berkaitan dengan kata keterangan "Besar", di Jakarta-Pusat ada tempat bernama Sawah Besar, bukan Sawah Gede. Seperti halnya Kali Besar, bukan Kali Gede. Lalu ada Cililitan Besar, di samping itu ada Cililitan Kecil. Tidak jauh dari Cililitan ada Pondok Gede, bukan Pondok Besar. Ke arah selatan menuju Bogor kita menjumpai kawasan berbahasa Betawi yang disebut Bojong Gede, bukan Bojong Besar.

Gambar: luk.staff.ugm.ac.id
Kali besar sudah bernama seperti ini jauh sebelum kraton Jayakarta berdiri. Kraton Jayakarta berlokasi di tepi barat Kali Besar. Batas selatan adalah rawa-rawa yang disebut Roa Malaka, batas timurnya adalah kali itu sendiri, batas utaranya adalah Jl. Pakin sekarang, dan batas baratnya adalah Jl. Pejagalan. Pada tahun 1740 jalan Pajagalan menjadi amat terkenal karena tidak kurang dari 5000 orang Tionghoa dijagal Belanda dalam rangka pemumpasan huru-hara Tionghoa, yang juga terkenal sebagai peristiwa Chinezenmoerd.


4. Tanjung Priok

Menurut khazanah Melayu lama, priok dapat juga berarti keranjang untuk menangkap ikan. Benda ini dalam istilah betawi disebut bungbung. Adapun tempat menyimpan hasil memancing ikan disebut korang.
Gambar: photobucket.com
Tanjung adalah tanah yang menjorok ke laut. Di pantai Jakarta terdapat tiga tanjung, yaitu Tanjung Kait di dekat Kampung Mauk, Tangerang, Tanjung Pasir dekat Teluk Naga, dan Tanjung Priok. Tanjung Barat, Tanjung Timur, dan Tanjung Duren adalah plesetan dari tunjunga, Bukit kecil. Padanan kata tunjung dalam khazanah Betawi adalah MUNJUL. Di pinggir Jakarta ada tempat bernama Munjul. Munjung juga padanan tunjung, seperti halnya mentung. Hanya saja penggunaannya berbed. Munjung dipakai untuk menerangkan urukan benda padat yang melampaui takaran dan kapasitas absorbsi wadah. Menyendok nasi ke piring sehingga "membukit" disebut sepiring mentung, tetapi urukan pasing yang "menggunung" disebut munjung.


5. Marunda

Marunda adalah nama lama yang seumur dengan Ancol, Angke, dan Kalimati. Untuk melacak arti kata ini harus diperiksan dalam khazanah Sansekerta, atau mencari sumber imitasinya di India. Bangunan lama yang tersisa di Marunda adalah Mesjid Al A'lam dan bungunan yang dianggap bekas rumah si Pitung.

Gambar: 2.bp.blogspot.com
Menurut penelitian Dinas Meseum dan Sejarah DKI Jakarta Tahun 1985, rakyat Marunda yang asli Betawi itu masih melaut setiap subuh, memakai jaring dan bukan lagi jala atau pancing. Penggunaan sero sebagai alat penagkap ikan masih berlaku. Bambu yang dianyam itu ditancapkan di hari subuh, berdiri sekitar 1,5 mil dari pantai. Usai bertugas, siangnya hasil tangkapan dijual ke pelabuhan lama Kali Baru kepada pelele (tengkulak ikan), atau diasinkan untuk keperluan sendiri (Kompas, 12 Mei 1986). Begitulah kehidupan nelayan Marunda mewarisi tradisi leluhur sejak sepuluh abad yang lalu.


6. Planet Senen

Kawasan Senen di tahun 1950-an mengesankan untuk dikenang. Tahun-tahun sebelumnya ini merupakan front menghadapi tentara Belanda yang berbasis di lapangan Banteng. Senen benar-benar menegangkan. Tapi setelah itu Senen sangat exciting, menggairahkan. Bioskop Rex dan Grand memutar film-film koboi, banyak penjaja di siang dan malam hari. Mau penganan seperti apapun dapat dibeli di sini. Apalagi es Shanghai yang segar dan lezat, Senenlah tempatnya. Kegiatan intelektual pun sangat meriah, pusat penjualan buku-buku ada di sini, tersedia baik buku-buku baru maupun buku bekas. Ada restoran Ismail Merapi tempat berkumpul seniman tersohor yang bergerak di rupa-rupa bidang kesenian.


Gambar: Aneka Berita - WordPress.com
Nama senen berasal dari nama yang diberikan Belanda pada pasar ini Snezen, yang artinya barang gelap, bekas, dan rongsokan dijual di sini. Sebelum Belanda mendirikan pasar di akhir abad ke-18, daerah ini sudah bernama senen. Disebutkan juga sekitar tahun 1656, ada orang pulau Lontor, Indonesia Timur, bernama Cornelis Senen datang ke Batavia, lalu pada tahun 1656 membeli kebun kopi di tepi kali Ciliwung. Tuan tanah Corenelis Senen ini sangat mungkin membeli tanah yang kemudian bernama Senen ini.


7. Meester Cornelis

Secara administratif Meester Cornelis terpisah dengan Batavia. Masing-masing dipimpin oleh regent sendiri. Cornelis Senen adalah tuan tanah yang pada 1656 membeli tanah perkebunan kopi di situ. Ia dikenal dengan panggilan Meesterl Cornelis, maka namanya diabadikan sebagai nama tempat yang kemudian terkenal sebagai Mester . Daerah yang kemudian dikenal sebagai Cawang, secara administratif merupakan afedeling, cabang, dari Mester.
Gambar: upload.wikimedia.org
Perubahan konsonan "b" dan "w" terjadi dalam pengucapan. Memang ada perkiraan yang berbunyi demikian, karena Mester adalah kampung Melayu, maka di daerah yang sebut Cawang itu tinggal seorang Melayu yang disebut 'Nce Awang. Entah apa pekerjaan orang ini sehingga namanya,'Nce Awang, menjadi nama kampung Cawang. Jika mengikuti dugaan ini niscaya nama kampung Ceger yang ada di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan Juga berasal dair orang Melayu yang namanya 'Nce Ger.


8. Dukuh

Sekarang Jl. Sudirman mempunyai viaduct, jalan kolong. Kawasan di sekitar Sudirman menjelang Bukit Kebayoran disebut Dukuh, yaitu lingkungan yang lebih kecil dari desa. Kalau dewasa ini orang menulis Dukuh dengan Duku (tanpa "h") hal itu karena ciri linguistik bahasa betawi yang mengauskan huruf "h" baik yang ada dipangkal maupun ujung kata. Misalnya habis menjadi abis, gurih menjadi guri. Jadi Duku bukan berasal dari nama buah duku.


Gambar: i0.wp.com 
Kawasan yang kini disebut Setiabudi dulunya bernama Dukuh Atas, daerah sekitar Jl. Teluk Betung dan Jl. Blora bernama Dukuh Bawah. Lalu ada kampung dekat Karet Kubur yang disebut Dukuh Pinggir. Dukuh Atas dan Dukuh Bawah dipisah kali Malang. Penghubung kedua kawasan itu di jaman dulu adalah jembatan gantung yang alasnya dari papan dianyam kawat. Waktu itu sangat mengerikan melewati jembatan ini, hingga tahun 1948 "pemerintah federal" bentukan Belanda membangun jembatan beton yang rampung pada tahun 1949.

9. Kali Lio

10. Dari Papango sampai Cibinong

11. Serpong

12. Pegangsaan

13. Utan Pitik

14. Bukin Kebayoran dan Bulak Cabe

15. Sumur Batu

16. Manggarai

17. Menteng Raya 31

18. Margonda

19. Ciputat

20. Koja

21. Jembatan Metro



Baca lagi lainnya selengkapnya di sini !!

KISAH LEGENDA AGUNG KERAMAT " SI RABUT PARADAH" PANGERAN SURIANATA


Visiuniversal---Salah satu Alat musik instrumen dari daerah Kalimantan Selatan adalah Alat musik Agung. Alat Musik Agung ini dapat kita temukan sebagai alat musik instrumental penggiring kesenian musik dan tari daerah Kalimantan Selatan. Ada kisah dan legenda menarik tentang Agung ini yang dicerikan di tanah Banjar Kalimantan Selatan di masa lalu.

Agung asli peninggalan leluhur masyarakat Banjar tempo dulu tidak bisa kita temukan dengan mudah lagi. Menurut keterangan dari berbagai sumber bahwa Agung asli bersama alat gamelan Banjar lainnya yang diberi nama "Si Manggukecil" yang merupakan gamelan peninggalan kerajaan Banjar, menurut informasi Dinas Pariwisata sekarang alat musik agung tersebut masih berada di Museum Pusat Jakarta.

Sedangkan agung asli yang masih ada di daerah Kalimantan Selatan ini, konon tersebar dan terpisah dari gamelannya semula, yang sampai sekarang ini masih belum dapat diselidiki keberadaannya secara pasti.

Sebuah kisah dari sebagian penduduk daerah Kalimantan Selatan yang beranggapan bahwa "Agung Basar"  (Gong Besar) itu merupakan alat pusaka yang keramat, karena Konon Agung Basar tersebut adalah tempat berpijaknya seorang pangeran yang keluar dari dasar sungai. Pangeran tersebut adalah Raden Putera (keturunan Majapahit) yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Surianata.

Raden Putera adalah putera Majapahit yang pada waktu itu tidak berwujud manusia, diminta oleh penguasa Negara Dipa, Lambung Mangkurat untuk dapat pergi ke Negara Dipa mempersunting puteri Junjung Buih. Konon puteri junjung buih ini adalah puteri yang sangat cantik yang mendiami wilayah alam gaib di sungai sekitar daerah "Pandamaran". 

Dalam perjalanannya tepat di atas daerah Pandamaran, perahu yang ditumpangi Pangeran Raden Putera tiba-tiba mengalami hal yang aneh, angin tiba-tiba berhenti bertiup, air menjadi tenang, dan suasana alam hening dan kapal yang ditumpangi Raden Putera jadi terhenti tidak bergerak sama sekali.

Raden Putera yang mempunyai kesaktian dapat melihat bahwa itu bukan suatu kebetulan, ia mengatakan kepada semua awak kapal bahwa itu adalah perbuatan makhluk dari Alam lain, Raden Putera melihat di air terdapat beberapa ekor Naga berwarna Putih yang menahan kapal mereka dengan kekuatan gaibnya. Naga Putih ini adalah pengawal dan Rakyat dari Puteri Junjung Buih. Raden Putera pun terjun ke air untuk mengusir para Naga tersebut. Beberapa saat kemudian kapalpun bisa bergerak dan berjalan kembali, namun Raden Putera tidak muncul-muncul lagi dari dalam air, hilang bersama perginya para Naga tersebut.

Hampir lebih tiga hari para awak kapal dan Nahkoda menunggu dan mencari Raden Putera, tetap tidak ditemukan, maka seorang Wiramartas diutus lebih dahulu untuk mengambil sesajen berupa kerbau, kambing dan ayam ke Negara Dipa. Juga diwajibkan membawa para Menteri kerajaan untuk menyambut utusan Raja Majapahit yang membawa Hadiah dan barang persembahan.

Setelah Wiramartas sampai di Negara Dipa mengabarkan hilangnya Raden Putera, maka para tokoh Negara dipa seperti Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, segera memerintahkan para Menteri pergi ke Pandamaranhttp://indoborneonatural.blogspot.co.id/

Di Pandamaran dilakukan ritual dan persembahan. Sesudah ritual "mamuja" dan "membantan"  yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam lamanya selesai, tiba-tiba hal ajaib terjadi. Raden Putera muncul dari dalam air kepermukaan dengan wajah yang terlihat berseri-seri dan bercahaya memakai kain "tapih" sutera kuning yang indah. Sangat menakjubkan, luar biasanya lagi di kaki Raden Putera terlihat tempat berpijaknya adalah sebuah "Gung Basar" Gong Besar yang melayang di atas air. Setelah Raden Putera yang sekarang menjadi sangat tampan rupawan, mempesona, naik ke atas kapal. Lambung Mangkurat sebagai pimpinan rombongan memerintahkan mengait Gung Basar itu dengan "Paradah". Karena itulah Agung itu sampai sekarang di masyarakat banjar dikenal dengan nama "Si Rabut Paradah". Sejak saat itu Raden Putera pun selanjutnya di beri gelar "Suryanata" atau yang berarti "Raja Matahari".
http://indoborneonatural.blogspot.co.id/



Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

Mengenal Riwayat Singkat Datu Nuraya Bersama Kitab Barencong

Indoborneonatural----Di Tanah Air Nusantara ini memang tak banyak yg mengenal Datu Nuraya, tapi bagi masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Tapin banyak yang mengetahui Siapa dan riwayat Datu Nuraya yang punya nama Syekh Abdul Mu’in (sebagian ada yang menyebut Syekh Abdul Jabbar dan ada juga yang menyebut Syekh Abdur Ra’uf).

Makam Datu Nuraya

Di ceritakan oleh sebagian besar masyarakat setempat, di Pantai Jati Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan tinggalah seorang tuan guru miskin namun sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya, beliau adalah Datu Suban, karena kemiskinan beliau, beliau dan istri hanya makan singkong setiap harinya.

Pada saat lebaran Hari Raya, Datu Suban kedatangan 13 orang murid-muridnya, yaitu : Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan, Dan Datu sanggul.

Ketika sedang menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar. Serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” kata orang besar, sambil mendekat. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab para Datu.

Lalu Datu Suban berkata kepada murid-muridnya bahwa orang yang membari salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan.

“Maaf, siapa saudara yang datang dan darimana asalmu serta apa maksud saudara ?” tanya Datu Suban. Si Raksasa hanya menjawab dengan ucapan “LA ILAHA ILLALLAH”. Setiap Datu Suban bertanya selalu dijawabnya dengan kalimat tauhid “LA ILAHA ILLALLAH”. hingga 7 kali ditanya dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu. Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk. Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya, ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka berujar “inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”

Melihat keadaan yang demikian, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya? jangankan untuk memandikan dan menguburkannya, mengangkat saja sudah susah, apalagi saat itu musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sedang lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang,dan untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Konon ditengah kebingungan para datu,tiba-tiba hujan lebat turun dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas. Serentak mereka berseru “Subhanallah.”

Sebelum mereka mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaiannnya, setelah membukanya ternyata terdapat sebuah tulisan yang berupa kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan “KITAB BARENCONG

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat ialah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam. Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap “Bismillahirrahmanirrahiim” ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar/raksasa tersebut di beri nama NURAYA karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang besar seperti RAYA.

Nur Raya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti Raya dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampa 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Makan Datu Nuraya terletak jalan Ahmad Yani desa Tatakan, sekitar tiga kilometer masuk dari jalan provinsi kabupaten Tapin provinsi Kalimantan Selatan.

Semua adalah kekuasaan Allah semata, semoga selalu bisa berziarah kemakam beliau dan makam Datu-Datu yang lain, Amin.

PANTANGAN DAN TATA CARA MENDULANG BATU PERMATA INTAN DI BANJAR MARTAPURA

Indoborneonatural---Intan, kata untuk melambangkan gengsi tertinggi bagi para pencinta perhiasan. Bermilyar-milyar rupiah tiap tahunnya uang dibelanjakan orang seluruh dunia untuk memiliki benda satu ini. Di daerah Kalimantan Selatan, Kabupaten Banjar, disinilah intan berada tapi tidak semua orang memiliki kemampuan mendapatkannya. Intan di tanah Banjar khususnya di Martapura adalah hal yang dianggap gaib penuh mistis dan berbagai tata aturan dan yang ketat untuk bisa mendapatkannya.

Entah kenapa intan mungkin merupakan satu-satunya hasil bumi tanah Banjar yang tidak bisa dijamah oleh orang asing. Minyak bumi, batu bara, batu besi, emas, dan lainnya bisa saja dengan mudah ditambang, asal dengan alat modern maka hasilnya akan banyak. Tetapi intan tidak semudah itu bisa ‘dijemput’ dari singgasananya di dalam perut bumi lambung mangkurat ini.

Hal aneh pernah terjadi. Pada tahun 1960 – 1970, di Kabupaten Banjar pernah dibuka usaha pertambangan modern dengan pelaksana PT. Aneka Tambang. Lahan garapannya mencapai wilayah 2 kecamatan, sebagaimana pertambangan modern alat yang dipakai adalah alat berat dan mesin-mesin bertenaga raksasa sampai keterlibatan tenaga ahli pertambangan dari luar negeri serta karyawan yang banyak. Tapi hasilnya tidak sebanding dengan modal yang dikucurkan padahal cukup dapat beberapa butir intan saja maka modal pasti balik. Nyatanya selama sepuluh tahun kegiatan pertambangan itu tidak pernah mendapatkan hasil memuaskan akhirnya usaha negara ini ditutup dengan kesimpulan wilayahnya tidak layak tambang. Sementara kegiatan penambangan yang dilakukan secara tradisional oleh masyarakat terus berjalan dan banyak yang mendapatkan hasil yang memuaskan, salah satunya yang terkenal adalah ditemukannya intan cempaka yang besarnya sangat mencengangkan semua orang.

Mendulang Intan Martapura

Penambangan moderen yang berbeda dengan masyarakat Banjar yang mendulang di sana, dari dulu sampai sekarang mereka masih bisa menemukan beberapa intan dalam setahun cukup untuk membeli rumah dan tanah bahkan beberapa kali pergi haji.  Memang kenyataan yang mengherankan tetapi nyata terjadi, bagi orang pendulangan mencari intan penuh dengan adab-adab yang harus mereka patuhi agar tidak terkena pamali dan melanggar aturan alam lain yang mereka percayai mengakibatkan intan lari menjauh ke dalam perut bumi. Berikut beberapa aturan pokok dan larangan yang harus ditaati saat mencari batu permata intan dengan cara mendulangnya di tanah Banjar Martapura ini :

DILARANG, bakacak pinggang (bertolak pinggang), mahambin tangan (jari-jari tangan direkatkan lalu diletakkan di leher seperti bantal), bersiul, dan perbuatan tak senonoh lainnya. Perilaku-perilaku seperti ini akan dianggap bentuk kesombongan dan tinggi hati terhadap intan yang akan dijemput, dan tentunya intan atau sigaluh tidak menyukainya dan akan pergi menjauhi sipendulang tersebut.

DILARANG, mengucapkan kata-kata kotor dan ada istilah-istilah tertentu yang harus diganti, misalnya saat menemukan ular di dalam lubang pendulangan maka penyebutannya diganti ‘akar’, kalau bertemu babi hutan maka diganti ‘du-ur’. Saat memasuki lubang pendulangan tidak boleh menyebut kata ‘turun’ meskipun kenyataannya gerakan tersebut turun tetapi harus disebut ‘naik/menaiki’. Ini berhubungan dengan kepercayaan bahwa intan memiliki kekuatan untuk menghindari buruan, istilah ‘naik’ dipakai agar intan mau naik ke permukaan bila intan mendengar kata ‘turun’ maka intan akan kembali masuk Bumi.  Kemudian tidak boleh juga menyebutkan kata ‘jauhkan’ tapi diganti dengan kata 'parakakan' yang berarti tolong dekatkan. Untuk kata ‘makan’ diganti dengan ‘batirak’ atau ‘bamuat’ sebab kata ‘makan’ mengandung pengertian yang sadis seperti binatang memakan binatang lainnya. Hal ini semua dilakukan sebab intan akan menjauhi orang yang berkata tidak sopan.

SAMA SEKALI TIDAK BOLEH menyebut intan dengan sebutan ‘intan’ tetapi HARUS diganti ‘GALUH’ (panggilan kesayangan untuk anak perempuan Banjar). Ini berdasarkan kepercayaan bahwa intan adalah benda yang memiliki kekuatan dan bernyawa sehingga harus mendapat panggilan yang terhormat dan mesra setara dengan sebutan anak kesayangan atau puteri raja. Seringkali ada pendulang yang tidak sengaja menyebut ‘intan’ yang sudah mereka temukan tetapi tiba-tiba intan yang sudah ditangan tersebut menghilang atau berganti menjadi batu lain.

TIDAK DI PERBOLEHKAN seorang wanita yang sedang haid atau datang bulan datang dan mendekat di lokasi pendulangan, konon si Galuh sangat membenci orang yang dianggap ‘kotor’ dan selama masih ada wanita yang haid ini maka Galuh tidak mau datang, hingga intan pun tidak akan menampakan diri walau dengan susah payah dicari.

Selain hal-hal di atas ada juga istilah yang tidak boleh diucapkan yaitu kata dan ungakapan seperti ‘padi/beras/banih’ harus diganti dengan kata ‘biji’, hal ini akibat SUMPAH yang diucapkan intan kepada manusia akibat sakit hatinya intan terhadap perlakuan manusia kepadanya. Konon sumpah ini yang menyebabkan intan di tanah Banjar begitu sulit dicari sampai ke dalam perut Bumi.

Demikian tata cara dan pantangan yang harus dilakukan jika ingin mendulang intan di daerah kalimantan selatan khususnya di kabupaten Banjar Martapura ini. Semoga ini dapat menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi kita, dalam rangka memahami kearifan budaya dan nilai-nilai lokal yang ada di Nusantara ini. terimakasih,

CERITA LEGENDA RAKYAT NUSANTARA : LUTUNG KASARUNG


Cerita, Kisah Legenda Rakyat Nusantara "Lutung Kasarung",

Indoborneonatural----Dikisahkan pada jaman dahulu di daerah pasundan ada seorang raja yang bernama Prabu Tapak Agung. Beliau memimpin wilayahnya dengan sangat bijaksana, sehingga dicintai oleh rakyatnya. Sang raja mempunyai dua orang putri yang cantik. Yang tertua bernama Purbararang, dan adiknya bernama Purbasari. 


Suatu hari, saat mendekati akhir hayatnya, sang raja meminta Purbasari putri bungsunya untuk menggantikan posisinya memimpin kerajaan. "Anakku, aku sudah lelah dan terlalu tua untuk memimpin, jadi sudah saatnya aku turun tahta," kata sang raja. Purbararang, yang merupakan kakak dari Purbasari, tidak setuju dengan perintah ayahnya tersebut. Dia merasa bahwa karena dia adalah anak tertua, maka dia lah yang seharusnya menggantikan posisi ayahnya sebagai pemimpin kerajaan. 

Purbararang yang sangat geram dan iri tersebut kemudian berencana untuk mencelakakan adiknya. Purbararang pergi menemui seorang nenek Dukun. Dia meminta nenek Dukun tersebut untuk memanterai adiknya. Akibat dari mantera nenek Dukun itu cukup parah. Purbasari tiba-tiba kulitnya menjadi bertotol-totol hitam, dan itu lah yang dijadikan alasan oleh Purbararang untuk mengusirnya dari istana. "Pergi dari sini!" kata Purbararang kepada adiknya. "Orang yang telah dikutuk seperti kamu tidak layak untuk menjadi seorang ratu, bahkan tidak layak untuk tinggal di sini!" lanjutnya.

Purbararang lalu menyuruh seorang Patih untuk mengasingkan adiknya itu ke tengah hutan. Dengan berat hati, Patih tersebut menuruti perintahnya. Namun, di tengah hutan, sang Patih yang sebenarnya baik hati itu tidak langsung meninggalkannya. Dibuatkannya sebuah pondok untuk Purbasari. Sebelum pergi, dia juga menasehati sang putri yang malang itu, memintanya agar selalu tabah dan sabar. 

Selama tinggal di hutan, Purbasari tidak pernah merasa kesepian. Sang putri yang baik hati itu berteman dengan banyak hewan, yang juga selalu baik kepadanya. Di antara ratusan hewan yang menjadi temannya, ada seekor kera dengan bulu berwarna hitam yang misterius. Di antara hewan-hewan lainnya, kera tersebut lah yang paling perhatian dan paling baik hati kepada Purbasari. Kera tersebut bahkan sering membawakan bunga dan buah-buahan untuk menghibur hati sang putri. Purbasari lalu memberi nama kera itu Lutung Kasarung.

Pada suatu malam, saat bulan purnama, kera yang menjadi teman Purbasari tersebut pergi ke tempat yang sepi untuk bersemedi. Setelah cukup lama bersemedi, tiba-tiba tanah di dekat tempatnya bersemedi mulai mengeluarkan air yang jernih dan harum, yang kemudian membentuk sebuah telaga kecil. 

Keesokan harinya, kera tersebut meminta Purbasari untuk mandi di telaga kecil itu. Walaupun awalnya merasa ragu, Purbasari menuruti permintaannya. Hal yang ajaib pun terjadi. Setelah mandi, tiba-tiba kulit Purbasari menjadi bersih seperti semula. Sang putri pun menjadi cantik jelita seperti sedia kala. Purbasari sangat terkejut dan merasa sangat gembira karena kecantikannya telah pulih.

Di hari yang sama, Purbararang yang jahat entah kenapa?, tiba-tiba berniat ingin melihat keadaan adiknya di hutan. Dia pun pergi ke hutan bersama tunangannya dan beberapa orang pengawal kerajaan. Ia sangat terkejut melihat Purbasari yang terlihat sehat dan segar bugar, serta cantik jelita. Saat melihat kondisi adiknya yang sudah kembali cantik, Purbararang terkejut dan marah. Tapi, putri yang jahat itu tidak menyerah. Dia mengajak adiknya untuk adu panjang rambut. Siapa yang rambutnya lebih panjang, dia lah yang menang. Ternyata, rambut Purbasari lebih panjang, jadi dia lah yang menang. 

Purbararang masih belum menyerah. Ia kemudian mengajak Purbasari untuk adu tampan tunangan, lalu ditunjukkannya tunangannya yang tampan. Purbasari kebingungan karena dia tidak memiliki tunangan. Dia pun langsung menarik monyet sahabatnya. Purbararang tertawa terbahak-bahak melihat hal itu. "Jadi tunanganmu seekor monyet?" ledeknya dengan sinis. 

Tiba-tiba terjadi sebuah keajaiban. Monyet sahabat Purbasari berubah menjadi seorang pemuda yang gagah dan berwajah sangat tampan, jauh lebih tampan dari tunangan Purbararang. Para pengawal yang melihat hal tersebut terheran-heran dan bersorak gembira karena putri yang baik hati menang. Purbararang mengaku kalah, mengakui kesalahannya, dan meminta maaf. Purbasari yang baik hati tidak dendam dan tidak menghukum kakaknya yang jahat itu. 

Purbasari kemudian menjadi seorang ratu yang memimpin kerajaannya dengan bijaksana, ditemani oleh pemuda pujaan hatinya, yang dulu selalu menemaninya dengan setia dalam wujud seekor lutung.

Dari dongeng Cerita legenda rakyat, daerah Pasundan...

Cari Artikel