SASTRA MANTRA MEMANGGIL NAGA Banjar

 Indoborneonatural-blog--Naga adalah binatang mitos legenda, dalam masyarakat Banjar Kalimantan Selatan pun ada Makhluk yang disebut dengan Naga sebagai bagian dari legenda dan mitos metafisika alam gaib yang dipercaya keberadaannya.

Pada masyarakat suku Banjar Kalimantan selatan Selain ada tradisi Manyapir Buhaya atau memberi makan buaya siluman buaya, juga ada kepercayaan tentang Memberi sesajen pada Naga.



Banyak Kisah dan cerita tentang Naga ini, yang melibatkan hal-hal ghaib dan kepercayaan terhadap tuah kekuatan metafisika Alam ghaib Naga Banjar.


Mantra Pemanggil Naga






CERITA KERA DAN KURA KURA (VERSI DAERAH KALIMANTAN SELATAN)

KERA DAN KURA-KURA

Pada zaman dahulu, tepatnya pada suatu hari terlihat dua sahabat yaitu seekor kura-kura dan seekor kera yang sedang berjalan-jalan di hutan sambil mencari makan mencari. Mereka terus mencari buah-buahan yang sudah matang tetapi mereka belum menemukan buah yang matang. Kera pun kesal dengan keadaan itu.

Kura-kura pun berkata : “Wahai sahabatku, ada sebuah pohon pisang yang sudah matang di seberang pulau sana, tetapi aku tidak bisa memanjat.” Lalu kera pun mengusulkan “Begini saja aku yang memanjat pohon itu dan kau yang membawa ku untuk menyeberangi pulau.” “Baiklah kalau begitu naiklah kau ke punggung ku” kata kura kura.

Sesampainya di sana kera langsung memanjat pohon dan kura-kura menunggu di bawah. Kera memetik pisang dan mencoba satu, dan buah itu sangatlah lezat. Maka timbullah niat buruk kera untuk tidak memberikan makanan itu kepada kura-kura.



Kura kura pun masih menunggu di bawah, lalu terdengar seperti suara barang jatuh. Ternyata kera sahabatnya yang jatuh tergeletak dan sudah tidak bernafas lagi.

Kura kura pun berniat untuk memberikan pelajaran kepada kera kera yang lain, agar tidak culas dan jahat seperti si kera yang mati. Maka diambilnya lah tulang kera itu dan dibuatnya kapur sirih.

Kera kera dikampung itu berebutan untuk membeli kapur sirih itu. Dengan riang gembira kura kura itu pulang sambil menjinjing pisang hasil jualannya.

Dalam perjalanan pulang kura kura pun bernyanyi “hura hura ahuii, hura hura ahuii…kapur kawanya juga….”

Mendengar nyanyia kura kura, para kerapun tersadar mendengarnya sambil menghitung masing masing saudaranya da ternyata kurang seekor. “pasti kura kurang yang telah membunuh saudara kita dan tulangnya ia buat kapur.” Seru kera kera.

Mereka pun mengangkap kura kura itu dan membawanya kesungai untuk ditenggelamkan. “biar mati lemas.” Seur kera kera. Kura kura itu dilempar ke dalam sungai dan para kera kera itu pun kegirangan sambil meloncat loncat di atas pepohonan.

Bukannya mati, kura kura itu malah merasa senang dan segar karena habitanya memang di dalam air. Hingga sampai sekarang kura kura hidup di dalam air dan para kera berloncatan di atas pohon.

Pesan moral cerita : Jangan lah menghianati kepercayaan dan kebaikan orang lain. Dan janganlah berburuk sangka dan menghakimi seseorang tanpa adanya bukti dan fakta yang jelas.



Sumber cerita :

Diadaftasi dari Cerita Kera dan Kura kura

Penulis H. Farurazie

Yang diterbitkan oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Bekerja sama dengan : Penerbit Pustaka Banua.

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)

Indoborneonatural----Pada zaman dahulu Sang Kancil adalah merupakan binatang yang dianggap paling cerdik di dalam hutan. Banyak bintang-binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun Sang Kancil menjadi tumpuan bintang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak pernah menunjukan sikap yang sombong dan angkuh malah selalu sedia membantu pada bila-bila masa saja.

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang Sang Kancil bercadang untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari tersebut sangat panas, menyebabkan Sang Kancil berasa dahaga karena terlalu lama berjalan, lalu ia berusaha mencari sungai yang berdekatan. Setelah meredah hutan akhirnya kancil berjumpa dengan sebatang sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang masa Sang Kancil terus minum dengan sepuas-puasnya. Kedinginan air sungai tersebut telah menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.

Kancil terus berjalan-jaan menyusuri terbing sungai, apabila terasa penat ia berehat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang di sekitar kawasan tersebut. Kancil berkata didalam hatinya "Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat". Setelah kepenatannya hilang, Sang Kancil menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat disekitarnya. Apabila tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil terpandang kebun buah-buahan yang sdang masak ranum di seberang sungai. "Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut" pikir Sang Kancil.  

Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana untuk menyebrangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya. Tiba-tiba Sang Kancil terpandang sang buaya yang sedang asik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya apabila hari panas ia suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari. Tanpa berlengah-lengah lagi kancil terus menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata, "Hai Sahabatku Sang Buaya, apa kabar kamu hari ini?" Buaya yang sedang menikmati cahaya matahari terus membuka mata dan didapati Sang Kancil yang menegurnya tadi "Kabar baik sahabatku Sang Kancil." Sambung buaya lagi "Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?" Sang Kancil menjawab "Akum membawa khabar gembira untuk kamu" mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar kabar yang dibawa oleh Sang Kancil, lalu Sang Buaya berkata "Ceritakan kepadaku apakah yang engkau hendak sampaikan." 

Kancil berkata "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini karena Raja Sulaiman sudah menggerunkan semua binatang karena Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintahkan semua makhluk di muka bumi ini. "Baiklah kamu tunggu di  sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawan aku! kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak berapa lama kemudian semua byaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata, " Hai buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Sulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini." Kata Kancil lagi, "Berbarislah kamu mengitari sungai mulai dari tebing sebelah sini hingga ke tebing sebelah sana."

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)


Oleh karena perintah tersebut adalah datangnya dari Nabi Sulaiman semua buaya segera beratur tanpa membantah. Kata Buaya tadi "Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia." Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mulai menghitung dengan menyebut "Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk" sambil mengetuk kepala buaya begitulah sehingga kancil berjaya menyebrang sungai. Apabila sampai di tebing sana kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegembiraan dan berkata. "Hai Buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman."

Mendengar kata-kata Sang Kancil, semua buaya berasa marah dan malu karena mereka telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa yang akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melom,pat kegembiraan dan terus meninggalkan buaya-buaya tersebut dan menghilang diri di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.


Sekian


KISAH MALIN KUNDANG (Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)

KISAH MALIN KUNDANG 
(Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)



Dikisahkan pada zaman dahulu disebuah kampung hiduplah seorang wanita janda bersama seorang anaknya yang bernama Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu hingga jatuh dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas di lengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat hidup enak dan menjadi kaya raya setelah kembali kekampungnya kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau, tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Dingah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagia besar awak kapal dan orang yang berada di kapat tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingg tidak terlihat dan tidak dibunuh oleh bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampat di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tampat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihan dalam bekerja, Malin lama-kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberalama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ibu Malin yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang berserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia sendiri mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya, jika ibunya adalah seorang yang sangat miskin. Maka Malin memperlakukan ibunya seolah-olah dia  tidak mengenalnya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Krena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya,  "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu."

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di Selatan Kota Padang, Sumatera Barat.

Sekian -  Terimakasih

CERITA ASAL NAMA GOA LIANG TAPAH DI KECAMATAN JARO KABUPATEN TABALONG KALSEL

Indoborneonatural----- Cerita Asal Nama Goa Liang Tapah - Kecamatan Jaro berada dibagian paling utara Kabupaten Tabalong, terdiri dari 9 desa, yaitu Desa Namun, Muang, Teratau, Purui, Nalui, Jaro. Garagata, Solan dan Lano. Kecamatan jaro memang daerah yang memiliki banyak obyek wisata tersebut kurang terpelihara, sehingga tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah.

Goa Liang Tapah
Tetapi akhir-akhir ini ada Goa Liang Tapah yang mulai banyak dikunjungi wisatawan, walaupun belum tertata rapi. dan harus menjadi perhatian bagi pengelola. Dibalik itu semua, yang menarik dario Goa Liang Tapah ini adalah penamaan yang dikaitkan adanya kepercayaan sebagian masyarakat desa sekitar. Mereka memberi nama Goa Liang Tapah bukan karena alasan, dan itulah yang menjadikan kita merasa penasaran mendengar nama Liang Tapah.

Memang kita kenal Tapah adalah salah satu spesies ikan lokal yang merupakan ikan air tawar terbesar di Indonesia, apabila mencapai ukuran optimal baik panjang maupun lebarnya, ikan tapah dapat mencapai 2,4 meter sehingga menjadikannya sejenis ikan raksasa dan termasuk ikan yang ganas pemakan daging, bahkan menurut sebagian orang ikan ini bersipat kanibal terhadap sesama, dan juga bisa menyerang manusia. 

Jika kita telusuri lebih jauh asal usul penamaan Liang Tapah tersebut di daerah asalnya, kita tidak terlalu sulit mencari informasi tentang hal itu, karena memang masyarakat desa disekitar Goa Liang Tapah sudah sejak lama mengetahui dan percaya adanya terdapat ikan tapah disitu, karena dalam Goa tersebut dilalui sebuah sungai kecil yang mengalir sepanjang Goa. sehingga tidak mustahil jika ada ikan tapah masuk goa itu.

Menurut keterangan dan cerita-cerita dari masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong, pada masa di sungai yang melintasi Goa yang berlokasi di kaki gunung Garagata itu memang dihuni oleh banyak ikan, diantaranya ikan tapah tersebut. Menurut cerita yang telah turun temurun ikan Tapah yang ada di sungai dalam Goa Liang Tapah sangat besar, sehingga tidak bisa lagi berbalik badan untuk keluar dan sampai sekarang masih hidup, tetapi sangat misterius. Kita hanya melihat pada saat-saat tertentu saja. Terkadang ia muncul malam hari dengan matanya yang memancarkan cahaya yang sangat terang, sehingga anak-anak harus berhati-hati masuk ke dalam Goa Liang Tapah tersebut. 

Warga sekitar sering memperingatkan bahaya masuk sendiri ke Goa Liang Tapah itu, atau tidak perlu masuk kalau tidak ingin mendapat bahaya, ditakutkan ikan Tapah itu akan muncul saat air sungai meluap, begitu penuturan seorang tua yang penulis temui yang menjadi penduduk penghuni Asli di daerah tersebut yang ada di kaki gunung Garagata tersebut. 


CERITA LEGENDA ASAL MULA KUDA GIPANG BANJAR (BAHASA BANJAR KALSEL)

Indoborneonatural---di daerah Kalimantan Selatan khususnya pada masyarakat Banjar, terdapat banyak kisah cerita legenda yang menarik. Cerita ini dikisahkan turun temurun dari para tetuha "datu" kepada anak cucu. Salah satu cerita yang menarik ini adalah cerita tentang asal usul "Kuda Gipang". Kuda Gipang merupakan salah satu kesenian tradisi khas masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, yang berbentuk tarian kuda gipang dan teater tradisional dengan cerita Mahabarata di dalamnya.

Berikut cerita Asal Mula Kuda Gipang Banjar yang ditulis dalam Bahasa Banjar darah Kalimantan Selatan;


Kuda gipang Banjar nitu tamasuk kasanian banua Banjar nang maabil carita wayang Mahabrata, nang kisahnya, baupacara bakarasmin bakakawinan. Nang dikawinakan saikung Pandawa Lima, Bima lawan Dewi Arimbi, anak Sang Hiang Parabu Kisa, asal Nagara Sura Paringgadani.

Wadah patataian pangantin Bima lawan Dewi Arimbi nitu diulahakan Balai Sakadumas, diramiakan tuntunan tatarian lawan gagamalan nang bangaran tapung tali, luntang, kijik, kuda laguring lawan parabangsa.

Gamalannya wayah dahulu ada kulung-kulung, babun lawan agung. Wayah hini ada sarun, dau lawan kanung. Manurut kisah, kuda gipang nang dipimpin ulih saikung raja, baisi anak buahnya nang bangaran Raden Arimbi, Braja Kangkapa, Baraja Santika, Baraja Musti, Baraja Sangatan, Braja Danta, ditambah lawan bubuhan punggawa lainnya. Samunyaan pasukan nitu sampai sapuluh atawa lawih bubuhan prajurit anak buahnya.

Kuda-kuda kada hingkat ditunggang. Sababnya raja nitu unrang nang sakti. Amun kudanya ditunggang, maka kuda nitu jadi rabah sampai lumpuh. Asal usulnya tapaksa kuda nitu dikapit di bawah katiak, ada kisahnya pada wayah dahulu. Dangarakanlah kisanya;

Nagara Dipa nang rajanya bangaran Pangeran Suryanata nitu sudah dikatahuani urang sampai ka mana-mana. Urang nagari Cina nang jauh nitu gin sudah tahu jua, salawan Ampu Jatmika minta diulahakan patung gangsa gasan diandak di Nagara Dipa. Wayah nitu disuruh Wiramartas maurus pasanan baulah patung gangsa ka nagari Cina.

Mangkubumi Lambung Mangkurat sudah takanal banar jua, sampai kaluar banua. Urang mandangar Lambung Mangkurat nitu mangkubumi karaan Nagara Dipa nang paling wani, gagah, taguh, dihurmati ulih samunyaan urang.

Karajaan Majapahit nang ada di Jawa sudah lawas jua ada bahubungan lawan Nagara Dipa. Malahan buhubungan nitu tamasuk tutus rajanya, nang asal usulnya Pangeran Suryanata nitu  anak tapaan raja Majapahit.

Pada suatu hari, Lambung Mangkurat dapat undangan tamatan raja Majapahit di Jawa. Maksudnya maundang gasan marakatakan hubungan karajaan Majapahit lawan karajaan Nagara Dipa.

Wayah ari nang ditantuakan nitu, maka barakat, tulakan Lambung Mangkurat mambawa kapal si Parabayaksa, kapal karajaan Nagara Dipa nang ganal nitu.

Limbah Lambung Mangkurat Malapor lawan raja Pangeran Suryanata, kapal nitu balayar menuju pulau Jawa. Umpat jua di situ hulubalang Arya Magatsari lawan Tumanggung Tatahjiwa. Kada tatinggal bubuhan pengawal kaamanan Singabana, Singantaka, Singapati lawan anak buah kapal si Parabayaksa.

Salawas dalam parjalanan di Laut Jawa, kapal kerajaan nitu balayar laju, kadda halangan nangapa-apa. Samunyaan anak buah kapal bagawi rajin nang dituhai alih juragan.

Kada lawa kapal si Parabayaksa nitu parak sudah lawan palabuhan karajaan Majapahit. Raja Majapahit nang mandangar kapal datang tumatan di Nagara Dipa, lakas mamarintahakan manyiapkan sambutan. Inya tahu di kapal nitu musti ada Lambung Mangkurat nang diundangnya.

Kadatangan Lambung Mangkurat ka karajaan Majapahit nitu tarus di papak ulih Gajah Mada di kapal si Parabayaksa, balalu dibawa ka istana karajaan Majapahit.

Raja Majapahit duduk di Situluhur nang dikulilingi ulih panggapitnya. Lambung Mangkurat duduk di Rancak Suci, nang pangawalnya duduk di balakang. Raja Majapahit suka bangat manyambut Lambung Mangkurat. Inya mangiau "paman" lawan Lambung Mangkurat. Wayah nitu Lambung Mangkurat bujur-bujur kaliatan gagah nang raja Majapahit nitu mahurmatinya.

Lambung Mangkurat menyampaikan salam kahurmatan raja Nagar Dipa Pangeran Suryanata lawan raja Majapahit, balalu manyampaiakan tanda mata talu bigi intan lawan raja Majapahit nitu. Raja Majapahit suka bangat inya manarima tanda mata intan.

Wayah nitu, sudah pitung hari, Lambung Mangkurat, bubuhan hulubalang lawan pengawal keamanan Singabana jadi tamu kahurmatan di karajaan Majapahit. Bubuhannya maliat-liat isi karajaan, istananya, maliat kaahlian prajurit-prajurit, lawan pasukan kaamanan kerajaan nitu. Bubuhannya jua dibari makan nginum makanan nginuman karajaan.

Limbah sudah puas di karajaan Majapahit nitu, Lambung Mangkurat sabarataan handak bulik ka banua Nagara Dipa. Wayah malamnya, ulih raja Majapahit diadakan tuntunan kasanian gasan mahibur Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang cagar bulikan ka banua asal disubarang.

Isuk baisukannya Lambung Mangkurat dibari tanda mata ulih raja Majapahit saikung kuda putih nang tinggi lawan ganal-ganalnya. Kuda nitu gagah, bigas, ujar tu tamasuk kuda nang paling harat dikarajaan Majapahit.

Lambung Mangkurat manarima kuda nitu suka bangat, balalu tarus dibawa kaluar halaman istana. Wayah handak dibawa ampah ka kapal si Parabayaksa, hulubalang Tumanggung Tatahjiwa baucap :

"Bapa Lambung Mangkurat! Kaya apa amun kuda pambarian raja naya ditunggang dulu, nyaman kaliatan kaharatannya".

" Bujur jua", dalam hati Lambung Mangkurat.

Balalu kuda nitu ditunggang ulih Lambung Mangkurat. 

Limbah Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda putih nitu, sakalinya kuda pambarian raja nitu rabah, inya lumpuh, sampai talipat batisnya ka tanah.

Lambung Mangkurat, hulubalang Arya Magatsari, Tumanggung Tatahjiwa lawan bubuhan Sangabana takajut, hiran bangat limbah maliat kuda nitu lumpuh. Pada hal dipadahakan kuda nitu harat, gagah lawan bigas-bigasnya.

"Kita hadangi satumat. kaina ditunggang pulang", ujar hulubalang Arya Magatsari. Bujur jua, limbah dihadangi satumat, Lambung Mangkurat manunggang pulang kuda nitu. Kada dikira, kuda nang ganal nitu lumpuh pulang. Bubuhannya barataan nang ada di situ hiran pulang malihat kuda nitu lumpuh.

"Amun kaya nitu kuda naya dicuba ditunggang talu kali, tagal kita hadangi talawasi pada nang tadahulu", ujar hulubalang tumanggung Tatahjiwa.

Bubuhannya baranai dahulu sambil mamusut-musut gulu lawan kapal kuda nitu. Kada lawas limbah nitu Lambung Mangkurat balalu baluncat naik ka atas balakang kuda. Babayanya Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda nitu, inya lumpuh pulang. Sakalinya kaampat batis kuda nitu talipat sampai ka tanah. Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang ada di situ jadi hiran bangat, pada hal ujar habar kuda nitu harat bangat.

Lambung Mangkurat jadi asa kasian limbang maliat kuda nitu lumpuh. Apalagi limbah ditariknya tali hidung kuda nita, kuda nitu kada kawa bajalan.

"Kaya apa pikiran?", ujar hulubalang Arya Magatsari.

"Amun kuda naya kita bulikakan k karajaan Majapahit kaya apa?", ujar urang nang saikung anggota Sangabana.

"Jangan! Nitu artinya kita kada mahurmati pambarian raja Majapahit", ujar hulubalang Tumanggung Tatahjiwa.

"Bujur!", ujar Lambung Mangkurat manyahuti.

"Nang kaya apa haja jadinya, kuda naya musti kita bawa bulik ka banua kita Nagara Dipa. Sabab kuda naya pambarian kahurmatan", ujar lambung mangkurat manambahi.

Barataan nang ada di situ pina bingung. Tagal Lambung Mangkurat haja nang kada bingung. Inya balalu duduk di tanah mahadapi matahari hidup. Kadua balah batisnya basila. Kadua balah tangannya diandaknya di atas paha. Balalu inya mamaicingakan matanya sambil mambaca mantra. Lawas inya baparigal kaya nitu, balalu inya badiri, matanya nyarak, kaliatan pina batambah bigas, batambah sumangat nang luar biasa. Lambung Mangkurat sakalinya mangaluarakan kasaktiannya. Dasar bujur-bujur inya urang nang sakti. Limbah nitu, kada kaya prabahasa, kuda niti diangkatnya, dikapitnya di bawah katiak tangan nang subalah kanan.

Awal lambung Mangkurat nang jadi tinggi lawan ganal-ganalnya nitu pina hampul haja maangkat kuda putih nitu, tarus dibawanya masuk ka dalam kapal si Parabayaksa.

Hulubalang lawan sabarataan nang ada di situ tacaragal maliat kaharatan Lambung Mangkurat nang kawa maangkat kuda pambarian raja Majapahit nitu. Balum biasa bubuhannya maliat Lambung Mangkurat nang hingkat maangkat kuda macam nitu.

Kada lawas limbah nitu, kapal si Parabayaksa balalu balayar mambawa Lambung Mangkurat, hulubalang, bubuhan pangawal kaamanan lawan sabarataan anank buah. Kapal ganal nitu sing lajuan manuju ampah banua, bulik ka karajaan Nagara Dipa.

Bubuhan kulawarga karajaan Nagara Dipa nang ada di banua, suka bangat manyambut kadatangan kapal si Parabayaksa nang dipimpin ulih Lambung Mangkurat nitu. Apalagi limbah mandangar ada kuda gagah pambarian raja Majapahit nang diangkat ulih Lambung Mangkurat.

Kuda pambarian raja, kuda putih nanga gagah, tinggi lawan ganal-ganalnya nitu diharagu di karajaan Nagara Dipa. Limbah nitu, kada lawas, balalu diadaakan kasanian kuda gipang Banjar nang kudnaya diigalakan, dikapit di bawah katiak sampai wayah hini.


Tarian Kuda Gepang - Foto: rebanas.com



Nilai moral cerita:

Saban urang nang bakawal, nang bakawal parak atawa jauh, bagus bangat amun tatarusan barakat-rakat, wayah-wayah ba-i-ilangan, babarian nangapa haja, makanan atawa cindramata gasan paliliatan. Kabiasaan nang baik nitu jadi marapatakan atawa manguatakan tali silaturrahmi.

Lawan bagus bangat jua maharagu kasanian paninggalan urang-urang tuha kita bahari, supaya kada hilang, sama artinya lawan maharagu warisan nang bamanfaat gasan urang-urang nang wayah hini.

Anda dapat mendownloan dan mengkopy artikel ini di http://indoborneonatural.blogspot.co.id/ 

DUA BANGUNAN AGAMA TERKENAL ZAMAN DAHULU DI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural -----Di daerah Kalimantan Selatan dari zaman abad ke-1 sampai dengan abad ke-15 hanya ada dua buah bangunan agama yang terkenal yaitu yang disebut-sebut banyak rakyatnya dengan nama Candi Agung dibuat dalam kurun waktu berjayanya Negara Dipa dan Candi Laras dalam kurun waktu Negara Daha. Kedua candi ini dibuat dari batu bata yang bahannya mungkin dibakar di sekitarnya. Yang khusus adalah Candi Laras di Margasari. Pertama ia adalah candi siwa. Di sekitarnya terdapat sisa patung yang tidak jelas identifikasinya, kedua sisa Candi, sisa potongan lingga dari batu bazalt merah, dan pecahan Joni Lingganya besar sekali.

Keanehan lain adalah Candi dibangun di atas sebuah punden berundak tiga dalam ukuran-ukuran kira-kira sebagai berikut:

a. Dasar  100 x 100 M x 2 M  =  10.000 M3
b. Tengah  70 x  70   x 2 M     =   4.900 M3
c. Atas       30 x  30   x 1 M    =     900 M3

Punden ini seluruhnya dibuat dari tanah liat, diselingi dengan balok-balok dan kayu ulin. Tanah liat ini digali dari sejumlah sungai kecil yang bertolak dari Candi Laras ke Sungai Tabalong.

Candi Agung/ Negara Dipa


Candi Laras/ Negara Daha

Candi Agung di Amuntai yang merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dipecaya dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari Inilah lahir Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin.

Menurut cerita, kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikap bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjad kota Amuntai. Candi Agung diperkiran telah berusia 740 tahun. Bahan material pembuatan Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Sekarang saja, walaupun hanya tersisa puing-puing pondasinya, bangunan terlihat masih sangat kokoh. Di percaya batu bangunan yang digunakan untuk candi mirip sekali dengan batu bata merah. Tetapi bila dipegang terasa berbeda, batunya lebih berat dan lebih kuat dari batu bata merah biasa pada bangunan rumah sekarang. Di Candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan bersejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun Sebelum Masehi.

Sisa Pondasi Candi Agung/ Negara Dipa
Kondisi Bangunan Candi ketika ditemukan kembali sekarang, Seluruh candi sudah habis sisa bangunannya kecuali fundasi dalam tanah. Lima ratus meter di sebelah timur terdapat sebuah petirtaan, seluruhnya dibuat dari batu-batu dengan ukuran kira-kira 40 - 20 - 9 cm. Rakyat kalimantan Selatan sekarang umumnya biasa menyebut candi, memfungsikannya sebagai tempat mengantar "sajen pahajatan", namun bagaimana bentuk yang disebut candi, apa fungsinya, agama apa yang dianut di sini, tak ada yang tahu. Pengaruh candi-candi ini masih nampak pada atap tumpang Mesjid, atau kalamakara pada pilis-pilis rumah adat khas banjar.

Amuntai-Kalsel

Amuntai-Kalsel

Amuntai-Kalsel

Candi Agung Tempat Wisata Amuntai



Sejarah Singkat Negara Daha dan Negara Diva

Negera Diva adalah kerajan nya nenek moyang nya Kesultanan Banjarmasin, Karena dari Negara Diva maka lahirlah Kesultanan Banjarmasin. memang banyak sejarah yang menyatakan Negara Diva ini adalah kerajan Hindu, namun setelah kami teliti di lapangan di bangunan nya, tenyata bukan Hindu, pengaruh hindu ada setelah Negera Diva itu kalah dengan Majapahit, karena melayu dan dayak bukan Hindu, tapi Aninesmi, meski jawa sudah ada, dan corak Jawa, itu juga ada karena Negara Diva sudah kami katakan adalah penetang Majapahit meski Jawa sendiri terlibat dalam pendirian nya, yang dalam cerita Jawa berdahulu mengajak Melayu dan Dayak supaya melawan Majapahit, dan jangan bayar umpeti itu, yang berbentuk bater, di sungai-sungai lintas mereka, serta saat sudah Majapahit mengalahkan nya, yang sudah di ketahui dayak dan melayu itu sangat kuat dalam keyakinan nya, lebih memilih mati dari pada ikut keyakinan orang lain, dan Hindu kebanyakan di anut adalah kaum Jawa, yang datang untusan nya Majapahit, dan corak Jawa tersebut banyak terdapat di Negera Diva, dan system hukum sendiri tidak menganut Jawa, tapi adat campuran Melayu dan Dayak, Negera Diva hanya membayar umpeti nya saja, tapi Majapahit tidak ikut dalam pemerintah daerah, maka nya Negera Diva Tidak berlangsung lama, pecah nya konflik, campur tangan nya banyak pihak yang merasa berhak untuk berkuasa, 3 golongan berebut, Jawa, dayak dan Melayu, hingga puncak nya dengan runtuh nya Negara Diva, dan Kerajan di Pindahkan lagi ke daerah Danau Pangang dan Negara, namun masih sepeputaran Kalsel, antara, Kadangan, Barabai, dan Amuntai sendiri, kerajan itu Bernama Negara Daha, namun juga masih belum dapat di gali siapa yang memerintah nya, dan golongan mana, hanya ada 2 saja kemunkinan, Dayak atau Melayu.

Karena yang membantu hancur negara daha adalah Islam, dan dari Jawa adalah Demak dan Mataram, hancur nya juga akibat yang membantu mempertahankan nya nya Majapahit di Jawa Hancur, oleh Islam dan Demak juga, serta serangan dari Sumatera sangat lah sengit sekali, yang pada saat itu di daerah Sumatera, yang runtuh nya Majapahit awal perang berebut kekuasan yang baru sebelum kedatangan musuh dari Eropa, begitu juga di Kalimantan, yang masing-masing melakukan perang saudara, di Sumatera, Samudara Pasai Aceh, sampai juga pecah, mingangkabau, Palembang, hinggan Nias, yang sama perang saudara, Kalimantan, Kutai, dan Negera Daha perang dan berkonflik hingg Belanda dan Ingris datang, Ponitanak, Sampit, Pakalanbun, Samarinda juga sama berebut untuk berkuasa, Majapahit runtuh, Islam mulai berkuasa, dan itu tak dapat di hindari lagi sudah, bahkan dalam Tex kutai Kartanegara, orang melayu yang sudah menganut Ajaran Islam di Malasyia Brunai dan Sabah, ada inti dari masalah banyak konflik yang menetang Majapahit di Kalimantan, mereka bersekutu dengan banyak pedangan Aceh Sumatera yang sudah menganut Islam, yang rela mengorbankan harta dan nyawa nya untuk menyebarkan Islam, belum lagi Majapahit terdeksak dengan Walisogo di Jawa, dan pada hal Walisogo di ceritakan tanpa kekerasan dalam menghacurkan Majapahit.

Negera Daha kacau balau, dan putra Mahkota bernama Samudra melarikan diri ke perkapungan orang melayu di pesisir sungai barito bernama Kuin, kuin di pipimpin seorang kepala kampung dari Sumatera bernama Patih Masih, Patih Rumah, Samudara di asuh Patih Masih hingga menjadi pemuda, dan pada akhir nya di akan jadi raja di kuin, dan mendirikan kerajan Banjar pertama, menetang Kerajan Daha, dan menangih hak nya selaku putra mahkota kerajan Daha, pertepuran terjadi sengit, atara paman Tamangung, dan Samudara, sungai kuin di pagar carukan, dan di beri nama kampung carutcuk, untuk membendung Negara Daha, dan Samudra, tidak bisa lagi menahan dahsyat Negara Daha, yang pada akhir nya meminta bantuan pada Demak dan Islam, untuk mengalahkan Negara Daha, dan ada perjanjian jika Banjar menang maka Sumadra harus masuk Islam, dan Banjar menang, Samudara masuk Islam, berganti nama Sultan Suriyansyah, Kesulatanan Banjarmasin Berdiri, dan Negera Daha Hancur, di gantinkan Kesultanan Banjarmasin.

Sumber: 
- Buku Sejarah Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud Tahun 1977/1978
- https://blogfrog99.blogspot.co.id/2016_08_08_archive.html?m=1
- Sumber Gambar Google dan Koleksi pribadi

CERPEN KISAH BAHASA BANJAR - KADA MAHARANI TIMPA

Cerpen Bahasa Banjar - Kada Maharani Timpa
Karya: Abdul Hanafi


Rajin subuh sudah mandi, babaju, basalawar. Hari ini masih batapihan duduk di kursi kayu nang baandak di ambin sambil... biasa...baruku.
Malarak luang hidung Adul manarik hinak mangulih ka balakang tacium bau kopi nang dibawa Umanya Si Uncal, bininya.
“Kada ka tarminal kah Abahmu hari ini ?” jar Umanya Uncal sambil manyurung cangkir halus baisi kopi panas.
“Parai... Umu ah !” Adul Manyahut sambil mahambus kukus ruku di muntung.
Limbah maandak di atas mija pipiringan baisi pais waluh tukaran di warung Acil Galuh subuh tadi, bini Adul badiri di higa.
“Napa kisah maka umpat bubuhan pagawai negri, libur jua Sabtu”.
“ Panumpang sunyi wayah ini, urang hakun basapida motor ka Banjar, jalan banyak nang rakai. Mana jua buhan taksi Banjar kawa dihitung wan kantut nang mau baantri di tarminal. Balirit mutur buhannya basusun di tikungan subalah pada kantor de pe er, incaan handak balarut”.
Dalam hati Manya Uncal pacang karing padaringan mun abahnya ‘Mogok Kerja’ kada mamaklar hari ini.
“Tapi kada nangitu pang pungkalanya aku kada turun hari ini”.
“Kanapa ?”jar nang bini maitihi.
“Itu... malihatkah rumput di halaman, parak hinggan lintuhut di banturan, musiah ada tadung mura balingkar ari malam kada kalihatan.”
“Jaka bakamarian haja pang basiang Abahmu atau disamprut lawan rundap?”usul Manya Uncal
“Aku handak baulahraga pagi...daripada katupuk-katupuk bukah, sama ha pada kaluar paluh”.
Bujur jua dalam hati Manya Uncal sakali samustawa baulahraga, kaluku mau jua awak badaging kada kurus manguringkai.
Hanyar dua talu ilaian Adul Kulidak mancangkul, ada sudah nang marawa malihat Adul bagawi kada singbajuan basalawar handap.
“Ui, ada sasah kuyuk... malihat tulang !”
“Kurdion malarak !” ajar saikung pulang malihat tulang tangkar adul. Adul kada kawa sarik dasar gawiannya jua rancak bapakalah urang.
Pahadangan Adul duduk istirahat ada nang gagadimpa datang tagas kaya pincang batis padahal dikilar mulai jauh tadi waras haja jalan. Pinda mambari maras muha. Limbah maucap salam basurung talapak tangan...
“Suka rela Pa”
Minta-minta sakalinya. ‘Pagalangan ganal. Jaka kada kaya incaan bapanyakit kusurungi cangkul. Potongan kaya ini bila dibari sama lawan maracuni, batambah kulir...’ dalam hati Adul
“Lalui !” jar Adul singka.
Kada sawat sapurung ruku ada pulang nang datang babaju cuklat bakupiah putih tas hirang basulimpang di bahu. Mun dilihat puling kada urang banua.
“Maaf mengganggu Pa Aji”
Dasar bujur manggangu pang dalam hati Adul, tapi tasambat Pak Haji maancap manyahut;
“Aamiin...mudahan bujuran naik haji kaina. Tanganku rigat, nangapa tu dibawa maka bamaf sagala?”
Baya dibuka maf, kartas bagambar sungkul masigit. Sumbangan Masjid nang dimana arih jauhnya pada banua saurang, sabak tandatangan wan stempel panitia. Bujur juakah ngini dalam hati Adul, lawas Adul mamikirakan taputar bigi mata kaya panari Bali, kilar sana kilar sini. Kasimpulannya..
“Sudah tadi, nang kaya kaini” jar Adul.
Pada mangunyur ha balalu sambil mailai tali tas salimpang malimpai ka balakang.
Balum simput burit lalakian nang maminta sumbangan tadi, ada pulang nang datang, sakalini bibinian bajujung susunan buku di kapala, kada bapipingkutan. ‘Ngini tapatut jua. Bajualan, tapi kada jauh pada duit ha jua’, dalam hati Adul.
Libah maucap salam, mamindah susunan buku ka pagalangan tangan kiwa, manampaikan buku kumpulan doa mustajab, kitab mujarabat, buku obat-obatan herbal, terapi pijat refleksi, ersp masakan, sampai photocopy nang balambaran doa harian, wafak, sasangga rumah, tulak bala, ayat kursi, nangapa apakah lagi nang gambarnya bapupulilit basulait batulisan huruf arab. Sabuting-buting kadada nang ditukari Adul, alasan;
“ Sudah ada baisi” jar Adul. Padahal mana ada.
Balalu jua bibinian nang bajaja buku sambil mangaluyu mangulih-ngulih ka balang kaluku Adul mangiau baasa. Kada harapan.
“Talu sudah Umu ah nang datang handak duit pahadangan kita marumput” jar Adul.
“Jangankan batalu, sapuluh gin nang datang kada masalah amun jawaban pian kaya kaitu ha, kada pacangan maharani timpa” jar Manya Uncal nang mulai tadi kakayu’ut mamapai tanah di akar
rumput cangkulan.

* * *

Cerpen :
Judul : Kada Mahari Timpa
Karya : Abdul Hanafi
Ilustrasi/Gambar : Abdul Hanafi
Tahun Rilis 2017.

KISAH LEGENDA AGUNG KERAMAT " SI RABUT PARADAH" PANGERAN SURIANATA


Visiuniversal---Salah satu Alat musik instrumen dari daerah Kalimantan Selatan adalah Alat musik Agung. Alat Musik Agung ini dapat kita temukan sebagai alat musik instrumental penggiring kesenian musik dan tari daerah Kalimantan Selatan. Ada kisah dan legenda menarik tentang Agung ini yang dicerikan di tanah Banjar Kalimantan Selatan di masa lalu.

Agung asli peninggalan leluhur masyarakat Banjar tempo dulu tidak bisa kita temukan dengan mudah lagi. Menurut keterangan dari berbagai sumber bahwa Agung asli bersama alat gamelan Banjar lainnya yang diberi nama "Si Manggukecil" yang merupakan gamelan peninggalan kerajaan Banjar, menurut informasi Dinas Pariwisata sekarang alat musik agung tersebut masih berada di Museum Pusat Jakarta.

Sedangkan agung asli yang masih ada di daerah Kalimantan Selatan ini, konon tersebar dan terpisah dari gamelannya semula, yang sampai sekarang ini masih belum dapat diselidiki keberadaannya secara pasti.

Sebuah kisah dari sebagian penduduk daerah Kalimantan Selatan yang beranggapan bahwa "Agung Basar"  (Gong Besar) itu merupakan alat pusaka yang keramat, karena Konon Agung Basar tersebut adalah tempat berpijaknya seorang pangeran yang keluar dari dasar sungai. Pangeran tersebut adalah Raden Putera (keturunan Majapahit) yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Surianata.

Raden Putera adalah putera Majapahit yang pada waktu itu tidak berwujud manusia, diminta oleh penguasa Negara Dipa, Lambung Mangkurat untuk dapat pergi ke Negara Dipa mempersunting puteri Junjung Buih. Konon puteri junjung buih ini adalah puteri yang sangat cantik yang mendiami wilayah alam gaib di sungai sekitar daerah "Pandamaran". 

Dalam perjalanannya tepat di atas daerah Pandamaran, perahu yang ditumpangi Pangeran Raden Putera tiba-tiba mengalami hal yang aneh, angin tiba-tiba berhenti bertiup, air menjadi tenang, dan suasana alam hening dan kapal yang ditumpangi Raden Putera jadi terhenti tidak bergerak sama sekali.

Raden Putera yang mempunyai kesaktian dapat melihat bahwa itu bukan suatu kebetulan, ia mengatakan kepada semua awak kapal bahwa itu adalah perbuatan makhluk dari Alam lain, Raden Putera melihat di air terdapat beberapa ekor Naga berwarna Putih yang menahan kapal mereka dengan kekuatan gaibnya. Naga Putih ini adalah pengawal dan Rakyat dari Puteri Junjung Buih. Raden Putera pun terjun ke air untuk mengusir para Naga tersebut. Beberapa saat kemudian kapalpun bisa bergerak dan berjalan kembali, namun Raden Putera tidak muncul-muncul lagi dari dalam air, hilang bersama perginya para Naga tersebut.

Hampir lebih tiga hari para awak kapal dan Nahkoda menunggu dan mencari Raden Putera, tetap tidak ditemukan, maka seorang Wiramartas diutus lebih dahulu untuk mengambil sesajen berupa kerbau, kambing dan ayam ke Negara Dipa. Juga diwajibkan membawa para Menteri kerajaan untuk menyambut utusan Raja Majapahit yang membawa Hadiah dan barang persembahan.

Setelah Wiramartas sampai di Negara Dipa mengabarkan hilangnya Raden Putera, maka para tokoh Negara dipa seperti Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, segera memerintahkan para Menteri pergi ke Pandamaranhttp://indoborneonatural.blogspot.co.id/

Di Pandamaran dilakukan ritual dan persembahan. Sesudah ritual "mamuja" dan "membantan"  yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam lamanya selesai, tiba-tiba hal ajaib terjadi. Raden Putera muncul dari dalam air kepermukaan dengan wajah yang terlihat berseri-seri dan bercahaya memakai kain "tapih" sutera kuning yang indah. Sangat menakjubkan, luar biasanya lagi di kaki Raden Putera terlihat tempat berpijaknya adalah sebuah "Gung Basar" Gong Besar yang melayang di atas air. Setelah Raden Putera yang sekarang menjadi sangat tampan rupawan, mempesona, naik ke atas kapal. Lambung Mangkurat sebagai pimpinan rombongan memerintahkan mengait Gung Basar itu dengan "Paradah". Karena itulah Agung itu sampai sekarang di masyarakat banjar dikenal dengan nama "Si Rabut Paradah". Sejak saat itu Raden Putera pun selanjutnya di beri gelar "Suryanata" atau yang berarti "Raja Matahari".
http://indoborneonatural.blogspot.co.id/



Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

Mengenal Riwayat Singkat Datu Nuraya Bersama Kitab Barencong

Indoborneonatural----Di Tanah Air Nusantara ini memang tak banyak yg mengenal Datu Nuraya, tapi bagi masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Tapin banyak yang mengetahui Siapa dan riwayat Datu Nuraya yang punya nama Syekh Abdul Mu’in (sebagian ada yang menyebut Syekh Abdul Jabbar dan ada juga yang menyebut Syekh Abdur Ra’uf).

Makam Datu Nuraya

Di ceritakan oleh sebagian besar masyarakat setempat, di Pantai Jati Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan tinggalah seorang tuan guru miskin namun sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya, beliau adalah Datu Suban, karena kemiskinan beliau, beliau dan istri hanya makan singkong setiap harinya.

Pada saat lebaran Hari Raya, Datu Suban kedatangan 13 orang murid-muridnya, yaitu : Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan, Dan Datu sanggul.

Ketika sedang menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar. Serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” kata orang besar, sambil mendekat. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab para Datu.

Lalu Datu Suban berkata kepada murid-muridnya bahwa orang yang membari salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan.

“Maaf, siapa saudara yang datang dan darimana asalmu serta apa maksud saudara ?” tanya Datu Suban. Si Raksasa hanya menjawab dengan ucapan “LA ILAHA ILLALLAH”. Setiap Datu Suban bertanya selalu dijawabnya dengan kalimat tauhid “LA ILAHA ILLALLAH”. hingga 7 kali ditanya dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu. Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk. Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya, ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka berujar “inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”

Melihat keadaan yang demikian, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya? jangankan untuk memandikan dan menguburkannya, mengangkat saja sudah susah, apalagi saat itu musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sedang lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang,dan untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Konon ditengah kebingungan para datu,tiba-tiba hujan lebat turun dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas. Serentak mereka berseru “Subhanallah.”

Sebelum mereka mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaiannnya, setelah membukanya ternyata terdapat sebuah tulisan yang berupa kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan “KITAB BARENCONG

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat ialah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam. Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap “Bismillahirrahmanirrahiim” ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar/raksasa tersebut di beri nama NURAYA karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang besar seperti RAYA.

Nur Raya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti Raya dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampa 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Makan Datu Nuraya terletak jalan Ahmad Yani desa Tatakan, sekitar tiga kilometer masuk dari jalan provinsi kabupaten Tapin provinsi Kalimantan Selatan.

Semua adalah kekuasaan Allah semata, semoga selalu bisa berziarah kemakam beliau dan makam Datu-Datu yang lain, Amin.

SENI BAKISAH BAHASA BANJAR (Bercerita dalam Bahasa Banjar)

Indoborneonatural----Bakisah atau bercerita bahasa Banjar merupakan salah satu seni bertutur bercerita dari daerah Kalimantan Selatan. Bakisah Bahasa Banjar ini sendiri sebenarnya telah ada sejak jaman dahulu. Dikampung-kampung atau di desa-desa pada masyarakat Banjar, tradisi bakisah ini dilakukan oleh orang tua,  hingga khusus orang pencerita jaman dahulu. Sekarang bercerita atau bekisah dapat dilakukan oleh siapa saja dari berbagai kalangan. 

Di kalangan masyarakat suku Banjar sendiri, sejak lama mendengarkan cerita rakyat merupakan ciri khas tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari cerita rakyat disampaikan oleh mereka yang telah berusia atau para orang tua kepada anak-anaknya. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasehat dan perumpamaan, harapan-harapan dan lain sebagainya. Mereka langsung menunjukkan mana yang patut diteladani atau dicontoh dan mana yang patut ditinggalkan atau dijauhi dalam mengarungi bahtera kehidupan seperti tersirat dalam cerita yang mereka ungkapkan. Jadi cerita yang dituturkan salah satu cara menanamkan nilai-nilai luhur tradisi Banjar pada kehidupan.

Bakisah berarti menggungakan bahasa Banjar, Suku Banjar dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya memiliki banyak kekayaan khazanah baik seni, budaya, dsb. Termasuk di dalamnya mengenai bahasa. Bahasa yang berkembang dan dominan di Kalsel adalah Bahasa Banjar. Bahasa Banjar memiliki kosakata yang beragam. 

Tradisi bercerita pada suku Banjar tidak hanya dituturkan di lingkungan keluarga atau rumah tangga saja, tetapi ada juga pada masyarakat luas. Seni bercerita di tengah masyarakat umum ini populer disebut BAKISAH. Orang yang membawakan cerita dinamakan Tukang Kisah (Tukang Kesah).


Mereka yang berprofesi sebagai Tukang Kisah ini sering dipanggil ke berbagai daerah untuk menuturkan koleksi cerita mereka. Kegiatan Bakisah umumnya dilakukan pada malam hari. Cerita yang mengandung pesan moral sering diselingi humor untuk menyegarkan suasana. Secara umum isi pesan berkisar tentang aspek kehidupan bermasyarakat, sikap anak terhadap orang tua, antar sesama dan sopan santun dalam pergaulan.

Fungsi utama Tukang Kisah memberikan contoh-contoh kehidupan antara yang baik dan  buruk menurut adat istiadat yang disusun dalam bentuk cerita menarik. Keahlian Tukang Kisah menentukan sampai atau tidak pesan yang diselipkan dalam sebuah cerita. Dahulu untuk hiburan rakyat sering dipanggil Tukang Kisah untuk mengisi berbagai acara keramaian di masyarakat Banjar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan melalui Sub Dinas Kesenian beberapa tahun ini rutin melestarikan kesenian ini dengan acara tahunan Lomba Bakisah Bahasa Banjar. Dalam lomba ini biasanya peserta mengeluarkan seluruh kemampuannya, selain isi ceritanya menarik disampaikan dengan logat Banjar kental, kostum, gerak tubuh, Acting yang unik khas Banjar sering mereka tampilkan pula.


Dalam berbagai kesempatan sering juga kita dengarkan kegiatan bekisah bahasa Banjar ini, terutama kegiatan bekesah untuk anak-anak. Masyarakat sudah sering melihat dan banyak yang tertarik dengan seni bekesah ini.


Cari Artikel