Home » , , , , , , » DUA BANGUNAN AGAMA TERKENAL ZAMAN DAHULU DI KALIMANTAN SELATAN

DUA BANGUNAN AGAMA TERKENAL ZAMAN DAHULU DI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural -----Di daerah Kalimantan Selatan dari zaman abad ke-1 sampai dengan abad ke-15 hanya ada dua buah bangunan agama yang terkenal yaitu yang disebut-sebut banyak rakyatnya dengan nama Candi Agung dibuat dalam kurun waktu berjayanya Negara Dipa dan Candi Laras dalam kurun waktu Negara Daha. Kedua candi ini dibuat dari batu bata yang bahannya mungkin dibakar di sekitarnya. Yang khusus adalah Candi Laras di Margasari. Pertama ia adalah candi siwa. Di sekitarnya terdapat sisa patung yang tidak jelas identifikasinya, kedua sisa Candi, sisa potongan lingga dari batu bazalt merah, dan pecahan Joni Lingganya besar sekali.

Keanehan lain adalah Candi dibangun di atas sebuah punden berundak tiga dalam ukuran-ukuran kira-kira sebagai berikut:

a. Dasar  100 x 100 M x 2 M  =  10.000 M3
b. Tengah  70 x  70   x 2 M     =   4.900 M3
c. Atas       30 x  30   x 1 M    =     900 M3

Punden ini seluruhnya dibuat dari tanah liat, diselingi dengan balok-balok dan kayu ulin. Tanah liat ini digali dari sejumlah sungai kecil yang bertolak dari Candi Laras ke Sungai Tabalong.

Candi Agung/ Negara Dipa


Candi Laras/ Negara Daha

Candi Agung di Amuntai yang merupakan peninggalan Kerajaan Negaradipa Khuripan yang dipecaya dibangun oleh Empu Jatmika abad ke XIV Masehi. Dari Inilah lahir Kerajaan Daha di Negara dan Kerajaan Banjarmasin.

Menurut cerita, kerajaan Hindu Negaradipa berdiri tahun 1438 di persimpangan tiga aliran sungai Tabalong, Balangan, dan Negara. Cikap bakal Kerajaan Banjar itu diperintah oleh Pangeran Suryanata dan Putri Junjung Buih dengan kepala pemerintahan Patih Lambung Mangkurat. Negaradipa kemudian berkembang menjad kota Amuntai. Candi Agung diperkiran telah berusia 740 tahun. Bahan material pembuatan Candi Agung ini didominasi oleh batu dan kayu. Sekarang saja, walaupun hanya tersisa puing-puing pondasinya, bangunan terlihat masih sangat kokoh. Di percaya batu bangunan yang digunakan untuk candi mirip sekali dengan batu bata merah. Tetapi bila dipegang terasa berbeda, batunya lebih berat dan lebih kuat dari batu bata merah biasa pada bangunan rumah sekarang. Di Candi ini juga ditemukan beberapa benda peninggalan bersejarah yang usianya kira-kira sekitar 200 tahun Sebelum Masehi.

Sisa Pondasi Candi Agung/ Negara Dipa
Kondisi Bangunan Candi ketika ditemukan kembali sekarang, Seluruh candi sudah habis sisa bangunannya kecuali fundasi dalam tanah. Lima ratus meter di sebelah timur terdapat sebuah petirtaan, seluruhnya dibuat dari batu-batu dengan ukuran kira-kira 40 - 20 - 9 cm. Rakyat kalimantan Selatan sekarang umumnya biasa menyebut candi, memfungsikannya sebagai tempat mengantar "sajen pahajatan", namun bagaimana bentuk yang disebut candi, apa fungsinya, agama apa yang dianut di sini, tak ada yang tahu. Pengaruh candi-candi ini masih nampak pada atap tumpang Mesjid, atau kalamakara pada pilis-pilis rumah adat khas banjar.

Amuntai-Kalsel

Amuntai-Kalsel

Amuntai-Kalsel

Candi Agung Tempat Wisata Amuntai



Sejarah Singkat Negara Daha dan Negara Diva

Negera Diva adalah kerajan nya nenek moyang nya Kesultanan Banjarmasin, Karena dari Negara Diva maka lahirlah Kesultanan Banjarmasin. memang banyak sejarah yang menyatakan Negara Diva ini adalah kerajan Hindu, namun setelah kami teliti di lapangan di bangunan nya, tenyata bukan Hindu, pengaruh hindu ada setelah Negera Diva itu kalah dengan Majapahit, karena melayu dan dayak bukan Hindu, tapi Aninesmi, meski jawa sudah ada, dan corak Jawa, itu juga ada karena Negara Diva sudah kami katakan adalah penetang Majapahit meski Jawa sendiri terlibat dalam pendirian nya, yang dalam cerita Jawa berdahulu mengajak Melayu dan Dayak supaya melawan Majapahit, dan jangan bayar umpeti itu, yang berbentuk bater, di sungai-sungai lintas mereka, serta saat sudah Majapahit mengalahkan nya, yang sudah di ketahui dayak dan melayu itu sangat kuat dalam keyakinan nya, lebih memilih mati dari pada ikut keyakinan orang lain, dan Hindu kebanyakan di anut adalah kaum Jawa, yang datang untusan nya Majapahit, dan corak Jawa tersebut banyak terdapat di Negera Diva, dan system hukum sendiri tidak menganut Jawa, tapi adat campuran Melayu dan Dayak, Negera Diva hanya membayar umpeti nya saja, tapi Majapahit tidak ikut dalam pemerintah daerah, maka nya Negera Diva Tidak berlangsung lama, pecah nya konflik, campur tangan nya banyak pihak yang merasa berhak untuk berkuasa, 3 golongan berebut, Jawa, dayak dan Melayu, hingga puncak nya dengan runtuh nya Negara Diva, dan Kerajan di Pindahkan lagi ke daerah Danau Pangang dan Negara, namun masih sepeputaran Kalsel, antara, Kadangan, Barabai, dan Amuntai sendiri, kerajan itu Bernama Negara Daha, namun juga masih belum dapat di gali siapa yang memerintah nya, dan golongan mana, hanya ada 2 saja kemunkinan, Dayak atau Melayu.

Karena yang membantu hancur negara daha adalah Islam, dan dari Jawa adalah Demak dan Mataram, hancur nya juga akibat yang membantu mempertahankan nya nya Majapahit di Jawa Hancur, oleh Islam dan Demak juga, serta serangan dari Sumatera sangat lah sengit sekali, yang pada saat itu di daerah Sumatera, yang runtuh nya Majapahit awal perang berebut kekuasan yang baru sebelum kedatangan musuh dari Eropa, begitu juga di Kalimantan, yang masing-masing melakukan perang saudara, di Sumatera, Samudara Pasai Aceh, sampai juga pecah, mingangkabau, Palembang, hinggan Nias, yang sama perang saudara, Kalimantan, Kutai, dan Negera Daha perang dan berkonflik hingg Belanda dan Ingris datang, Ponitanak, Sampit, Pakalanbun, Samarinda juga sama berebut untuk berkuasa, Majapahit runtuh, Islam mulai berkuasa, dan itu tak dapat di hindari lagi sudah, bahkan dalam Tex kutai Kartanegara, orang melayu yang sudah menganut Ajaran Islam di Malasyia Brunai dan Sabah, ada inti dari masalah banyak konflik yang menetang Majapahit di Kalimantan, mereka bersekutu dengan banyak pedangan Aceh Sumatera yang sudah menganut Islam, yang rela mengorbankan harta dan nyawa nya untuk menyebarkan Islam, belum lagi Majapahit terdeksak dengan Walisogo di Jawa, dan pada hal Walisogo di ceritakan tanpa kekerasan dalam menghacurkan Majapahit.

Negera Daha kacau balau, dan putra Mahkota bernama Samudra melarikan diri ke perkapungan orang melayu di pesisir sungai barito bernama Kuin, kuin di pipimpin seorang kepala kampung dari Sumatera bernama Patih Masih, Patih Rumah, Samudara di asuh Patih Masih hingga menjadi pemuda, dan pada akhir nya di akan jadi raja di kuin, dan mendirikan kerajan Banjar pertama, menetang Kerajan Daha, dan menangih hak nya selaku putra mahkota kerajan Daha, pertepuran terjadi sengit, atara paman Tamangung, dan Samudara, sungai kuin di pagar carukan, dan di beri nama kampung carutcuk, untuk membendung Negara Daha, dan Samudra, tidak bisa lagi menahan dahsyat Negara Daha, yang pada akhir nya meminta bantuan pada Demak dan Islam, untuk mengalahkan Negara Daha, dan ada perjanjian jika Banjar menang maka Sumadra harus masuk Islam, dan Banjar menang, Samudara masuk Islam, berganti nama Sultan Suriyansyah, Kesulatanan Banjarmasin Berdiri, dan Negera Daha Hancur, di gantinkan Kesultanan Banjarmasin.

Sumber: 
- Buku Sejarah Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Depdikbud Tahun 1977/1978
- https://blogfrog99.blogspot.co.id/2016_08_08_archive.html?m=1
- Sumber Gambar Google dan Koleksi pribadi

0 komentar:

Kotak Pencarian


Powered by Blogger.