Orang Bali Asli dan Sejarahnya

      Indoborneonatural-- Penulis jalan-jalan ke Bali kebetulan ketemu teman lama asli orang bali, maka foto-foto sedikit. Inilah Foto orang bali asli. Foto Orang Bali Asli tanpa Editan.

Foto Asli Orang Bali Tanpa Editan
Hal yang utama tentang orang bali yang juga penulis rasakan langsung, orang Bali dikenal dengan keramahannya, sehingga banyak turis senang ketika berada di Bali. Orang Bali juga erat dengan seni, bahkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. "Orang Bali itu memang manusianya seni, hidupnya seni, sehingga lekat dengan kesenian.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa suku asli Bali ialah suku Aga yakni salah satu subsuku bangsa Bali yang bermukim di Desa Trunyan. Masyarakat Bali Aga dianggap sebagai orang gunung yang bodoh.

Karena masyarakatnya tinggal di pegunungan yang sangat terpencil dan pedalaman sekali serta belum terjamah oleh teknologi sama sekali.


 Suku Asli Bali

Penduduk asli suku Bali Aga ini bermukim di pegunungan karena masyarakatnya menutup diri dari pendatang yang mereka sebut dengan Bali Hindu, yakni penduduk keturunan Majapahit. Selain itu, masyarakatnya juga menganggap bahwa daerah di pegunungan ialah tempat suci karena daerah tersebut banyak sekali puri dan kuil yang dianggap suci oleh masyarakat Bali.

 Suku Bali (Bali: ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ, translit. anak Bali, wong Bali, atau krama Bali) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada kurang lebih 3,9 juta orang Bali di Indonesia.[1] Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan daerah penempatan transmigrasi asal Bali lainnya. (wikipedia.org)

Selain suku Aga yang ada di Bali, ada pula suku Bali Majapahit. Suku ini berasal dari pendatang Jawa yang sebagian besar tinggal di Pulau Bali khususnya berada di dataran rendah.

Masyarakat suku Bali ini berasal dari masyarakat Jawa pada kerajaan Majapahit yang menganut agama Hindu. Mata pencaharian dari masyarakat suku ini ialah bercocok tanam. Suku ini juga menjadi salah satu pengaruh dari sejarah suku Bali.
Suku Bali (Bali: ᬳᬦᬓ᭄‌ᬩᬮᬶ, translit. anak Bali, wong Bali, atau krama Bali) adalah suku bangsa mayoritas di pulau Bali, yang menggunakan bahasa Bali dan mengikuti budaya Bali. Menurut hasil Sensus Penduduk Indonesia 2010, ada kurang lebih 3,9 juta orang Bali di Indonesia.[1] Sekitar 3,3 juta orang Bali tinggal di Provinsi Bali dan sisanya terdapat di Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah, Lampung, Bengkulu dan daerah penempatan transmigrasi asal Bali lainnya.

Referensi

https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Bali


INILAH 13 OBJEK WISATA KOTA BANDUNG PROVINSI JAWA BARAT

Indoborneonatural---Siapa sich yang tidak kenal dengan salah satu kota di Indonesia yang terenal sejuk ini, Kota Bandung merupakan ibu kota Provinsi Jawa Barat. Kota ini adalah kota terbesar keempat yang ada di Indonesia. Bandung pada zaman penjajahan Belanda dijuluki dengan naman Parijs van Jawa atau disebut Parisnya Jawa. Kota Bandung yang terletak pada ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan air laut merupakan kota yang sangat sejuk dan indah. Namun, ketinggian tersebut tidak dapat bertahan lama karena Belanda menghancurkan hampir sebagian besar keindahan Kota Bandung. Sampai saat ini kota Bandung masih terkenal sebagai salah satu kota bersejarah, terkenal bersejarah karena kota kembang Bandung ini pernah diadakan pertemuan internasional Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955.

Kota Bandung yang juga terkenal dengan sebutan kota Kembang Bandung ini memiliki banyak objek wisata, terutama objek wisata bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang sering dikunjungi oleh para wisatawan baik lokal maupun mancanegara dan objek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi. Objek wisata tersebut, diataranya sebagai berikut :


1. Museum Sri Baduga

Objek Wisata Bandung Museum Sri Baduga

Salah satu objek wisata yang populer di Kota Bandung adalah Museum Sri Baduga. Pada tahun 1974, Menteri P dan K waktu itu, Daoed Yoesoef meresmikan Museum Negeri Jawa Barat. Akan tetapi, pada tahun 1990 Museum Negeri Jawa Barat berganti nama menjadi Museum Negeri Sri Baduga. Nama ini diambil dari nama salah seorang Raja Pajajaran yang pernah memerintah Pajajaran sekitar tahun 1482 - 1521 Masehi.

Museum Sri Baduga merupakam museum tempat penyimpanan barang-barang peninggalan masyarakat Sunda. Museum Sri Baduga ini terdiri atas tiga lantai. Pada lantai satu, pengunjung dapat melihat berbagai flora dan fauna yang ada di Jawa Barat, ada juga fosil binatang purba. Selain itu, pengunjung juga dapat melihat perkembangan manusia Zaman prasejarah dan patung-patung kebudayaan Hindu dan Buddha.

Memasuki lantai dua, pengunjung akan melihat sejumlah arsitektur atap rumah tradisional dan berbagai di Jawa Barat. Selain itu, pengunjung juga akan melihat benda-benda yang telah dipengaruhi oleh budaya luar, seperti Cina, Belanda, dan Arab dalam bentuk mata uang. Di sana juga terdapat Al-Qur'an yang ditulis dalam daun lontar. Pada lantai tiga, pengunjung akan melihat kebudayaan dan kesenian Jawa Barat, seperti gamelan Sunda, wayang golek, dan tata ruang rumah, mulai dari ruang tamu, kama tidur hingga dapur.

Objek Wisata Bandung Museum Sri Baduga

Untum masuk museum ini, para pengunjung harus membeli tiket terlebih dahulu. Tiket untuk anak-anak di patok Seribu rupiah sedangkan untuk dewasa dua ribu rupiah. Apabila pengunjung ingin mengabadikan koleksi yang ada di Museum Sri Baduga akan ada biaya tambahan untuk kamera sebesar lima ribu rupiah, sedangkan untuk hadycam 15 ribu rupiah. Museum ini buka setiap hari dari pukul 08.00 - 15.30 WIB, kecuali hari Sabtu dan Minggu hanya sampai pukul 14.00 WIB.


2. Museum Geologi

Museum Geologi yang berada dijalan Diponegoro Nomor 57 Bandung

objek wisata yang tidak kalah bersejarahnya adalah Museum Geologi yang berada dijalan Diponegoro Nomor 57 Bandung. Jalan ini biasanya merupakan lintasan kereta api yang dilewati oleh kereta api yang akan menuju ke arah utara. Museum ini adalah tempat penyimpanan koleksi barang-barang yang berhubungan dengan sejumlah fosil dan tengkorak-tengkorak manusia pada zaman Jawa kuno. Pada zaman dulu, gedung ini merupakan bangunan tua yang dipakai sebagai jasa Geologi Belanda.


3. Musium Prangko Pos Indonesia

Musium Pos Indonesia - musium perangko-Kota-Bandung

Musium Pos Indonesia terletak di sebelah timur Gedung Sate. Tempat ini merupakan sebuah museum untuk menyimpan berbagai macam koleksi prangko yang berasal dari dalam dan luar negeri. Selain itu, di museum ini pun tersimpan benda-benda yang berhubungan dengan pos, seperti kereta dorong dan kotak pos yang biasa digunakan di kantor pos. Musium ini berada tepat di Jalan Diponegoro. Para Wisatawan yang ingin mengunjungi museum perangko ini dapat datang setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat, mulai pukul 9 pagi hingga pukul 15 sore hari.


4. Museum Konferensi

Museum Konferensi Asia-Afrika di Bandung  

Museum Konferensi adalah tempat yang dibangun untuk menyimpan berbagai peninggalan mengenai Konferensi Asia-Afrika yang berlangsung pada tahun 1955. Di Museum ini, tersimpan berbagai koleksi foto-foto pertemuan Presiden Soekarno dengan para pemimpin dunisa, seperti Ho Chi Minh, Chou En-Lai, Nasser, dan ketiga pemimpin dunia lainnya.

Gedung museum ini sering dikunjungi oleh para wisatawan baik wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Gedung ini berada di Jalan Asia Afrika, Museum yang berdiri sejak tahun 1879 ini awalnya adalah sebuah gedung pertemuan organisasi-organisasi Belanda yang menyusun strategi dalam menghadapi perlawanan pejuang Indonesia terutama di daerah Jawa Barat.


5. Taman Juanda

Taman Juanda merupakan kawasan hutan lindung dan kebun raya yang berada 6 km dari pusat Kota Bandung, yakni di sekitar kawasan Dago. Taman ini memiliki luas sekitar 690 hektare. Kawasan Taman Juanda lebih dikenal dengan nama Dago Pakar.

Pada awalnya, Dago Pakar didominasi dengan tumbuhan yang memiliki spesies tertentu. Di kawasan ini, wisatawan dapat menikmati kawasan hutan secara utuh. Wistawan dapat mengenal berbagai macam flora yang tumbuh di Indonesia dan tumbuhan dari luar negeri.

Taman Juanda dikelola oleh Perum perhutani. Sekitar tahun 1963, kawan ini dipersiapkan sebagai kawasan hutan lindung dan kebun raya. Di taman ini terdapat kurang lebih 2.500 pohon dengan 108 spesies.

Di Taman Juanda ini terdapat beberapa lokasi yang sangat menyenangkan, seperti gua, air terjun, dan kawasan untuk berjalan kaki. Pada zaman dahulu, gua Pakar yang terdapat di taman ini merupakan tempat untuk penyimpanan berbagai amunisi yang dibuat oleh penjajah Jepang pada masa Perang Dunia II. Namun sebelum ditempati oleh tentara Jepang, gua ini terlebih dahulu digunakan oleh Belanda sebagai trowongan irigasi PLTA. Selain itu, Belanda pun membuat tempat untuk menyimpan persenjataan dan amunisinya di gua ini.  


6. Museum Wangsit Mandala Siliwangi

Museum Wangsit Mandala Siliwangi merupakan museum yang dibangun untuk menyimpan senjata angkatan darat. Museum ini berada di Jalan Lembong Nomor 38 Bandung.

Nama Siliwangi diambil dari nama salah seorang pendiri Kerajaan Pajajaran yang kukasaannya tidak terbatas. Konon ia merupakan raja yang arif dan bijaksana serta berwibawa dalam menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan arti Mandala Wangsit adalah sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau hasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalui benda-benda yang ditinggalkannya.

Nama jalan tempat museum ini adalah jalan Lembong, kata lembong diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam peristiwa kudeta Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Sebelumnya jalan ini bernama Oude Hospitaalweg. 

Museum ini banyak dikunjung oleh wisatawan. Bangunan museum dirancang dengan gaya arsitektur  late Romantism. Zaman dulu, bangunan ini ditempati oleh Perwira belanda. Namun, setelah Indonesia merdeka, bangunan ini dibangun sebagai markas Divisi Siliwangi.

Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 4.176 m2 dan luas 1.676 m2 ini menyimpan berbagai macam senjata primitif, seperti panah, tombak, keris, kujang, bom molotov, dan juga senjata-senjata modern, seperti meriam, kendaraan lapis baja, dan panser rel.


7. Kawah Putih

Kawah Putih yang terbentuk akibat dari letusan Gunung Patuha ini berada di Ciwidey, Jawa Barat. Gunung Patuha yang memiliki ketinggian kurang lebih 2.434 m2 di atas permukaa laut dan suhunya yang mencapai 8 - 22 Derajat Celcius ini sering disebut sebagai Gunung Sepuh atau dalam bahasa Indonesia disebut Gunung Pak Tua.

Gunung ini memiliki kawah yang sedikit berbeda dengan kawah-kawah yang ada di Jawa Barat. Kawah di gunung ini memiliki air yang sangat terang dan selalu berubah-ubah. Kawah ini disebut kawah putih. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang datang ke objek wisata ini.

Selain menikmati keindahan kawah, para wisatawan pun dapat melihat berbagai macam flora dan fauna di kawasan ini. Ada beberapa jenis flora yang tumbuh di sini, seperti Eidelweis yang tumbuh di puncak gunung, Cantigi, Vaccinium, dan Lemo yang konon memiliki bau seperti minyak lawang dapat digunakan untuk mengusir ular. Selain itu, ada beberapa jenis fauna yang hidup di kawasan ini, seperti kancil, elang, monyet, macan tutul, macan kumbang, dan babi hutan.


8. Situ Patengan

Kawasan Situ Patengan terletak di Desa Patengan, Kecamatan Rancabli, Kabupaten Bandung. Kawasan ini berjarak sekitar 47 km arah Selatan pusat Kota Bandung. Situ Patengan memiliki luas sekitar 60 hektare. Situ Patengan berasal dari bahasa Sunda.

Situ artinya danau, sedangkan Patengan berasal dari kata Pateangan - teangan (saling mencari). Dikisahkan pada zaman dahulu ada sepasang sejoli, yaitu Raden Indrajaya dan Dewi Rangganis yang saling mencintai. Mereka berpisah sekilan lama dan saling mencari. Akhirnya mereka bertemu kembali di tempat yang dinamakan Batu Cinta. Dewi Rengganis meminta Sang Pangeran membuat sebuah pulau dan sebuah perahu untuk mereka berdua agar bisa mengelilingi danau. Pulau inilah yang sampai sekarang menadi sebuah pulau berbentuk hati (Pulau Asmara). Dari cerita ini berkembanglah mitos, bagi pasangan yang mengelilingi Pulau Asmara dan singgah ke Batu Cinta akan mendapatkan cinta abadi seperti pasangan Raden Indrajaya dan Dewi Rengganis.

Pengujug dapat menikmati keindahan panorama alam sekeliling danau dengan speedboat, perahu dayung warna-warni, sepeda air, dan genjot bebek yang disewakan. Dikawasan ini juga tersedia arena untuk memancing. Bagi pengunjung yang ingin berkemah, di kawasan ini juga terdapat Camping groud yang sangat cocok untuk berkemah bersama keluarga.

Pengunjung tidak perlu khawatir karena tiket masuk menuju kawasan ini sangat murah. Pengunjung dikenao biaya tiket sebesar empat ribu rupiah perorang dan apabila pengunjung membawa mobil pribadi, dikenai tambahan biaya parkir sebesar sepuluh ribu rupiah setiap mobilnya. 

Setelah itu, wisatawan dapat singgah ke perkebunan strowberi yang tempatnya tidak jauh dari Situ Patengan, yakni di daerah Rancabali. Objek wisata ini sangat menarik untuk dikunjungi. Di perkebunan stroberi, kita dapat memetik sendiri stroberi dan membawanya pulang.


9. Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu merupakan salah satu tempat wisata yang cukup terkenal di Kota Bandung, letaknya sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung. Gunung ini bebentuk strato vulcano dengan pusat erupsi yang berpindah dari timur ke barat. Perjalanan para wisatawan diiringi dengan rimbunan pohon pinus dan hamparan kebun teh yang tidak akan membuat jenuh perjalanan wisatawan menuju ke Gunung Tangkuban Perahu.

Gunung Tangkuban Perahu

Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung yang masih aktif dan masih diawasi oleh Direktorat Vulkanologi Indonesia. Hal ini, terlihat dari munculnya gas belerang dan sumber ari panas di sekitar gunung, yakni di kawasan Ciater, Subang. Di sekitar Gunung Tangkuban Perahu, udaranya cukup sejuk dengan kabut yang menyelimuti puncak gunung. Jika ingin berkunjung ke Gunung Tangkuban Perahu, sebaiknya dilakukan di pagi hari saat cuaca masih cerah agar pandangan wisatawan tidak terhalang oleh kabut.


10. Situ Lembang

Situ Lembang yang letaknya berada di sebelah barat Ciater merupakan danau buatan yang dikelola oleh Perum Perhutan Unit III, Jawa Barat. Situ ini dijadikan sebagai tempat wisata. Luas Situ Lembang mencapai kurang lebih 78 hektare, yang sekitar 40 hektare adalah wilayah perairan. Situ ini berada di lembah yang cukup besar antara Gunng Tangkuban Perahu dan Burangrang. Kawasan ini semakin indah dan menarik dengan adanya hutan alam dengan air yang besumber dari hulu sungai Cimahi dan juga beberapa mata air di sekitarnya.

Untuk mencapai Situ Lembang, harus menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam dari pusat Kota Bandung. Kendaraan yang cocok digunakan untuk menuju Situ Lembang adalah motor dan mobil yang tangguh, apabila pengunjung ingin santai bisa berjalan kaki. Perlu diingat apabila memilih untuk berjalan kaki, pastikan kondisi fisik dalam keadaan fit karena medan yang ditempuh tidaklah ringan. Akna tetapi tentu saja perjuangan perjalanan ini akan terbayarkan dengan keindahan Situ Lembang. Setelah menempuh perjalanan melewati hutan cemara, jalan rusak dna penuh batu, pengunjung akan menemukan pemandangan yang sangat indah dan eksotis selama perjalanan. Setelah tiba (pagi hari), pengunjung akan ditemani kabut tebal dengan udara cukup sejuk sehingga membutuhkan jaket untuk menghangatkan tubuh. Di sana juga pengunjung akan menikmati sunrise indah yang datang di balik pepohonan.

Selain menikmati keindahan alamnya, pengunjung yang gemar memancing jangan lupa membawa peralatan memancing karena di situ ini banyak sekali ikan yang dapat dibawa pulang. Fasilitas yang tersedia di objek wisata Situ Lembang adalah jalan setapak, tempat parkir, papan informasi/petunjuk lokasi, dan untuk piknik.  

Dinding yang sangat terjal berbatu yang mengelilingi genangan danau ini merupakan bentukan dari letusan dahsyat yang terjadi sekitar 105.000 tahun yang lalu. Bagi sebagian pengunjung, tempat ini dijadikan sebagai tempat perkembahan dan juga disukai oleh para pencinta alam.


11. Kebun Binatang Bandung

Kebun Binatang Bandung

Kebun binatang Bandung merupakan salah satu objek wisata yang populer di Kota Bandung. Kebun Binatang Bandung terletak di Jalan Taman Sari yang berada di dekat kampus ITB. Kebun binatang ini didirikan pada tahun 1930 dan diresmikan oleh Belanda pada tahun 1933. Tujuan didirikannya kebun binatang ini untuk menjadikannya sebagai sarana rekreasi dan belajar tentang satwa serta sebagai sarana konservasi untuk menjaga kelangsungan hidup satwa-satwa itu. Kebun binatang ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin melihat-liohat berbagai jenis binatang. Kawasan ini cukup luas dan menarik denga hiasan yag diletakan di taman-taman, namun koleksi binatang di kebun binatang ini masih sangat terbatas.

Objek wisata ini selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah pada akhirnya pekan, terutama pada masa liburan anak sekolah. Untuk masuk ke objek wisata ini, pengunjung hanya membayar tiket masuk sebesar 11 ribu rupiah per orang, kecuali anak-anak yang berusia kurang dari 3 tahun bisa gratis.

Kebun Binatang Bandung termasuk dalam salah satu tempat konservasi ex-situ yang berisi aneka jenis binatang. Di kebun binatang ini, pengunjung dapat melihat satwa-satwa yang dikurung, burung-burung yang bergerombol di angkasa, zerafah yang bisa dilihat lebih dekat oleh pengunjung, serta rimbunan pohon-pohon rindang yang bisa digunakan untuk bersantai di bawahnya bersama keluarga.

Selain berbagai satwa dan rerimbunan pepohonan di kebun binatang Bandung juga terdapat berbagai jenis permainan anak, seperti perosotan dan jungkat jungkit. Pengunjung juga bisa menaiki perahu serta menunggangi unta dan gajah. Kehadiran unta dan gajah tunggangan bertujuan untuk membangun kedekatan antara binatang dan pengunjung.


12. Saung Angklung Udjo

Saung Angklung Udjo merupakan tempat yang cukup menarik untuk dijadikan tempat wisata. Para wisatawan yang datang ke tempat ini tertarik dengan kesenian dan kebudayaan Sunda. Tempat ini terletak dijalan Padasuka 118, Bandung sebelah timur. Ditempat ini wisatawan dapat melihat pertunjukan angklung yang terbuat dari bambu.

Tahun 1958, Saung Angklung mulai dirintis oleh Udjo Ngalengena (alm) dan istrinya, Ibu Uum Sumiyati (alm) beserta sepuluh putra-putrinya. Mang Udjo, nama sapaannya, memiliki cita-cita yang mulia, yaitu ingin melestarikan kesenian khas Jawa Barat. Atas bantuan dan dorongan dari Daeng Soetigna (guru angklung diantonis Mang Udjo) serta bantuan dari pemerintah Daerah dan pusat, pada Januari 1967 Saung Angklung Udjo resmi didirikan.

Saung Anklung Udjo merupakan sanggar seni tempat pelatihan para pelatih dan pemain, sentra produksi alat-alat musik yang terbuat dari bambu, dan tempat pertunjukan kesenian khas Jawa Barat, seperti wayang golek, rampak gendang, pencak silat, sentra tari, drama Sunda, dan sebagainya.

Fasilitas yang terdapat di Saung Angklung Udjo, di antaranya paseban yang digunakan sebagai tempat pertunjukan dan latihan kesenian budaya Sunda dan latihan kesenian Sunda dan mampu menampung sekitar 500 pengunjung, ada juga tepas atau halaman belakang yang digunakan untuk tempat bermain atau sarapan pagi. Selain itu, ada juga tempat penjualan souvenir, tempat penginapan (Guest House), dan pelataran parkir yang luas sehingga dapat menampung 15 bus pariwisata.


13. Wisata Air Karang Setra

Wisata Air Karang Setra Kota Bandung

Wisata air Karang Setra terletak di Jalan Sirnagalih No. 15 Bandung, berjarak sekitar 6 km dari pusat kota. Untuk menuju wisata air ini, dapat ditempuh melalui Jalan Sukajadi, lalu masuk beberapa puluh meter ke Jalan Sirnagalih.

Pada tahun 1954, Karang Setra diresmikan oleh Presiden RI pertama, yaitu Soekarno. Saat itu, Karang Setra terkenal sebagai kawasan wisata olahraga dengan sebuah kolam renang yang memiliki ukuran paling besar se-Asia Tenggara. Akan tetapi, setelah tahun 1980-an, namanya diganti menjadi Karang Setra Water Park dengan berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan pengunjung. Karang Setra Water Park dibangun di atas lahan seluas 6 ha, akan tetapi untuk are kolam renangnya hanya menggunakan lahan sekitar 1,9 ha dan lahan sisanya digunakan untuk membangun hotel dan tempat parkir.

Diarea Karang Setra Water Park ini terdapat enam buah kolam renang dengan berbagai peruntukan, antara lain kolam waterboom atau perosotan raksasa, kolam anak, kolam prestasi, dan kolam naga. Tanaman air ini merupakan salah satu objek wisata keluarga yang paling ramai dan paling diminati, apalagi pada akhir pekan atau hari libur panjang.

Pada saat libur lebaran, tempat ini biasanya dikunjungi oleh tidak kurang dari 12.000 orang. Kolam pantai adalah salah satu objek yang menarik di tempat ini. Di kolam pantai, pengunjung bisa duduk sambil bersantai dan berimajinasi seolah-olah sedang di pantai sungguhan. Efek pasir putih ataupun garis pantai muncul akibat bentuk kolam berubin putih yang cekung dan landai di pinggiran. Rasanya tidak lengkap mengunjungi tempat wisata ini tanpa mencoba waterboom yang memiliki perosotan setinggi 15 meter.

Tempat yang tidak kalah menariknya adalah kolam naga. Keberadaan kolam naga memang sangat diminati oleh para pengunjung. Diberi nama kolam naga karena di kolam itu terdapat patung naga dan Cina. Sementara itu, bagi pengunjung yang membawa anak kecil, sebaiknya menggunakan kolam anak setinggi 50 - 85 cm.

Wisata Air Karang Setra Kota Bandung

Saat ini, kolam yang tersedia hanya dikolam air dingin, namun para pengunjung tidak usah khawatir kedinginan berada di kolam renang air dingin karena pihak pengelola Karang Setra berencana akan membangung kolam khusus air panas untuk melengkapi fasilitas di kolam ini. Untuk masalah kebersihan, pengunjung tidak perlu khawatir airnya tidak bersih karena setiap pukul 17.00 WIB, endapan kotoran di dasar kolam disedot, kemudian airnya diberi kaporit, endapan semalam lalu disaring kembali. Begitu pula dengan sirkulasi airnya yang selalu dijaga setiap hari. 

Demikianlah tentang keindahan objek-objek wisata di daerah Bandung dan sekitarnya, bagi anda yang ingin melihat langsung silakan berkunjung ke kota Kembang Bandung di provinsi Jawa Barat. Terimakasih sudah berkunjung di blog Indoborneonatural ini semoga sukses selalu.

BUDAYA DAN TRADISI DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH

Indoborneonatural-----Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Suku ngaju merupakan sub etnis dayak terbesar di Kalimantan tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah kalimantan tengah dapat ditemui suku Ngaju. 

Gadis dayak ngaju menari
 Foto Gadis Dayak Ngaju. Gambar : kahanjakhuang.or.id

Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Ngaju berarti udik. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut Hikayat Banjar, Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Besar dan Orang Biaju Kecil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak. Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju.

Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju, yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai. Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. 

Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).

Dilansir dari Pesona indonnesia.com,Konon, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 – 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.


Kepercayaan Kaharingan

Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.


Upacara Tiwah

Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga.


Tradisi Tato

Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya,

Tradisi bertato/tutang/cacah, orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.


Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang

Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang menggunakan corak dan warna yang khusus, didominasi warna merah dan kuning. 


Burung Enggang Gading adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung Enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.

Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.


Hukum Adat dan Keselarasan Alam

Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati.

Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar.

Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.

INILAH 9 TOP TARIAN TRADISIONAL PAPUA YANG MENDUNIA

Indoborneonatural ---- Papua Barat adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat Pulau Papua. Wilayah Papua Barat mencakup Semenanjung Domberai, Bomberai, Wandamen, serta Kepulauan Raja Ampat. Ibukota provinsi ini terletak di Manokwari dengan kota terbesarnya di Sorong.Papua Barat dengan ibukotanya ibukota Manokwari merupakan salah satu provinsi di Indonesia, nusantara. Papua Barat yang dulu dikenal dengan Irian Jaya ini memiliki banyak potensi mulai dari hasil hutan, pariwisata, pertambangan, pertanian, rumput laut sampai hasil tenun khas dari kabupaten Sorong Selatan yaitu kain timor. Papua terkenal bukan hanya bisa menghasilkan berbagai kekayaan alam serta sektor pariwisata yang beragam, namun Papua Barat juga menyimpan sejuta pesona kebudayaan tradisional, salah satunya seni budaya tarian tradisonal khas Papua seperti yang admint indoborneonatural uraikan berikut ini:


1. Tarian Sajojo

Tarian Tradisional Provinsi Papua-Sajojo

Tarian sajojo sering dijadikan penampilan diberbagai acara, baik acara adat, budaya, maupun sekedar hiburan saja. Bahkan tarian lagu Sajojo ini sering dijadikan bagian dari even lomba hingga  tingkat nasional. Sajojo sangat terkenal di Papua, Indonesia bahkan sudah sampai ke mancanegara karena sering dibawakan untuk promosi pariwisata nusantara dan kenegaraan.

“Sajojo” adalah lagu yang menceritan tentang sebuah kisah perempuan cantik dari desa. Perempuan yang dicintai ayah dan ibu berikut para laki-laki desa. Perempuan yang didamba laki- laki untuk bisa berjalan-jalan bersamanya. Meskipun gerakan tari ini tidak terlalu menggambarkan lirik lagu tersebut, namun iramanya yang penuh keceriaan dalam lagu tersebut sangat cocok dengan gerakan Tari Sajojo yaitu dengan meloncat, bergerak ke depan, ke belakang, ke kiri maupun ke kanan dengan ritme dan ketegasan gerak yang tentunya setiap penari mengupayakan kesamaan gerak dengan penari lainnya supaya terlihat kompak.

Kostum untuk kesenian Sajojo biasanya merupakan busana tradisional yang terbuat dari akar atau daun. Namun, seiring dengan adanya perkembangan, ada juga yang mengkreasikan kostum ini dengan kain agar terlihat lebih menarik. Selain itu, penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti penutup kepala, kalung dan lukisan tubuh bercorak etnis khas Papua. Dalam perkembangannya, Lagu ini merupakan lagu daerah Papua yang juga digunakan untuk mengiringi senam di tanah Papua bahkan di seluruh tanah air Indonesia.


2. Tarian Wutukala

Tarian Tradisional Provinsi Papua Wutukala

Tari wutukala adalah tarian adat Papua Barat lebih tepatnya Suku Moy. Tarian ini menceritakan tentang kebiasaan masyarakat mencari ikan yang dilakukan berpasangan atau berkelompok baik penari pria dan wanita. Tarian ini sangat populer khususnya area pesisir Sorong tempat Suku Moy Tinggal.

Tarian Papua Barat ini dilakukan 5 hingga 6 pasang penari pria dan wanita dengan menggunakan pakaian adat dan atribut seperti tombak untuk pria dan noken untuk penari wanita dan gerakannya terlihat khas. Sedangkan alat musik pengiring yang digunakan adalah ukulele, gitar, bass dan juga alat musik lainnya. Untuk kostum, penari pria akan menggunakan bawahan seperti rok terbuat dari akar dan daun di area pinggang serta penutup kepala terbuat dari bulu burung Cendrawasih dan tubuh yang akan diwarnai dengan lukisan etnik warna hitam putih. Sementara untuk penari wanita memakai busana yang hampir serupa dengan pria namun disesuaikan.


3. Tarian Suanggi

Tarian tradisional provinsi Papua Suanggi

Tarian tradisional Papua Barat ini bercerita tentang seorang suami yang ditinggal sang istri sebagai korban angi angi. Dalam kepercayaan magis masyarakat Papua Barat, suanggi adalah roh jahat atau kapes karena belum ditembus dan belum menemukan kenyamanan di alam baka. Roh tersebut bisa masuk ke tubuh wanita dan wanita yang meninggal ketika melahirkan dikhawatirkan akan menjelma menjadi kaper fane yang dalam masyarakat Aifat disebut dengan kaper mapo.

Roh tersebut akan masuk ke tubuh perempuan yang masih hidup dan secara magis bisa mencelakakan wanita tersebut. Sedangkan perempuan yang dirasuki roh tersebut disebut dengan perempuan suanggi. Dahulu dikatakan jika roh tersebut bisa digunakan untuk mencelakai seseorang. Jika mereka melihat seseorang makan di sekitar tempat tinggal mereka dan membuang sisa makanan sembarangan, maka sisa makanan tersebut akan menjadi alat untuk merasuki orang tersebut sehingga jatuh sakit, kurus dan akhirnya mati.



4. Tari Perang

Tarian tradisonal provinsi Papua Tarian Perang

Tari perang adalah tarian dari Papua Barat yang merupakan tarian melambangkan kegagahan dan kepahlawanan masyarakat Papua Barat. Tarian biasanya dilakukan masyarakat pegunungan ketika kepala suku mereka memberi perintah untuk berperang. Tarian ini termasuk dalam tarian grup atau tarian kolosal yang penarinya sendiri tidak dibatasi. Tarian Papua Barat ini umumnya akan diiringi dengan tifa dan alat musik lain. Namun yang membedakan tarian ini dengan tarian Papua Barat lainnya adalah karena tarian ini diiringi dengan lagu perang untuk membangkitkan semangat. Para penari akan memakai busana tradisional berupa rok dari akar dan manik manik untuk penghias dada serta daun disisipkan di bagian tubuh.



5. Tarian Tumbu Tana

Tarian Tradisional provinsi Papua Tumbu Tana

Tari tumbu tana adalah tarian tradisional Papua Barat yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 3 jenis tari tumbu tana yang dikenal masyarakat Arfak, Papua Barat yaitu tumbu tana kemenangan berperang, tumbu tana mencari jodoh dan tumbu tana menyambut tamu. Tarian akan diiringi dengan lagu atau syair nihet duwei, diun dan isiap dengan gerakan melompat sambil menghentakan  kaki ke tanah dan bergandengan tangan. Untuk formasi yang digunakan ketika menari adalah memanjang, setengah lingkaran dan lingkaran penuh.

Tari Tumbu Tanah biasanya dilakukan untuk menyambut acara-acara penting, yaitu penyambutan tamu dari luar lingkungan masyarakat Arfak, kemenangan perang, dan perayaan pesta pernikahan. Tari Tumbu Tanah merupakan jati diri masyarakat Arfak karena semua gerakan, formasi, lagu pengiring, alat musik, serta aksesoris dalam tari Tumbu Tanah merupakan ciri khas masyarakat Arfak yang membedakannya dengan tarian suku-suku lain di daerah Papua.


Tarian Musnok

Tari musnok menjadi salah satu dari macam-macam jenis tarian Papua Barat khususnya masyarakat Pegunungan Arfak Irian Jaya. Tarian ini bercerita tentang penyebaran agama Nasrani di Kota Sorong, Papua Barat yang akan diiringi dengan banyak alat musik tradisional seperti suling bambu, okulele, tifa, triton, tempurung kelapa dan juga upsal. Jumlah penari dalam tarian ini juga sangat banyak yakni 20 hingga 50 orang baik pria dan juga wanita yang bersama menarikan tarian Musnok dengan irama yang energik dan cepat khas Papua.



Tari Ris atau Sifieris


Tari ris atau sifieris adalah tarian Papua Barat yang berartikan dansa adat. Tarian ini dilakukan sebagai bagian dari upacara adat dan diiringi dengan alat musik seperti tifa atau pondatu serta gong atau mawin dengan syair nyanyian yang disesuaikan dengan makna upacara yang sedang diselenggarakan.



Tari Balengan

Tarian tradisional provinsi Papua Balengan

Tari balengan merupakan tarian daerah Papua Barat yang masuk dalam jenis tari pergaulan oleh muda mudi serta anak dan remaja kampung secara berpasangan. Tarian ini akan dilakukan memakai tempo sedang sampai cepat tergantung dari lagu yang mengiringi. Sedangkan alat musik yang digunakan adalah gitar bolong, gitar kecil bernama juglele, gitar bass besar dan alat musik tabuh atau tifa.



Tari Magasa

Tarian tradisional provinsi Papua Magasa

Tari magasa merupakan tarian dari Papua Barat yang dilakukan ketika menyambut tamu, perkawinan dan acara penting lain. Tarian akan dilakukan secara berkelompok tanpa batasan umur. Tarian Papua Barat ini bercerita tentang suku Arfak yang merayakan kemenangan sekaligus menggambarkan kerukunan masyarakat Arfak dalam kehidupan sehari hari.

Ketika ditampilkan, para penari akan membentuk barisan panjang seperti ular sehingga juga sering disebut dengan tari ular. Tarian ini biasanya dilakukan 5 pasang muda mudi pria dan wanita dimana penari pria akan mengenakan cawat kain, telanjang dada serta penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari atau cendrawasih. Sementara penari wanita akan memakai seperti kain sarung yang menutupi tubuh dari dada hingga betis serta beberapa aksesoris seperti daun pohon sagu dan bunga di bagian rambut.

Gerakan dalam tarian Papua Barat ini didominasi dengan gerakan melompat ke arah samping secara bersama sama serta dalam satu arah Hal menarik dari tarian ini adalah formasi dalam menari yang bisa berubah dan bervariasi tanpa terputus atau terhenti. Beberapa formasi yang biasanya dipertunjukkan dalam tarian ini adalah melingkar, melengkung dan juga lurus sehingga jika dilihat serupa dengan gerakan binatang ular.

Tari magasa sendiri masih terus dijaga dan dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat dan sering ditampilkan dalam acara hiburan atau perayaan tertentu. Selain itu, tari magasa juga sering ditampilkan dalam acara kebudayaan seperti festival budaya, promosi wisata serta pertunjukkan seni.

Demikian 9 Top Tarian tradisional Papua yang mendunia, yang banyak disukai oleh wisatawan manca negara, semoga bermanfaat. terimakasih sudah berkunjung kembali di blog indoborneonatural ini, semoga tetap sehat dan sukses selalu.

KEBUDAYAAN MINANGKABAU YANG UNIK DAN MENARIK SEPANJANG MASA

Indoborneonatural----Seperti kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara dengan aneka ragam suku bangsa. Nusantara ini kaya dengan berbagai ragam seni dan budaya dari berbagai suku-bangsa yang tersebar diseluruh tanah air. Kebudayaan ini banyak yang unik dan menarik untuk kita lihat dan pelajari, salah satunya adalah kebudayaan Minangkabau yang sudah terkenal hingga kemanca negara. Berikut inilah ulasan tentang kebudayaan Minangkabau tersebut :

Pengertian

Minangkabau atau disingkat Minang (bahasa Melayu: Minang atau Minangkabau; Jawi: ميناڠكاباو) merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas agama Islam. Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatra Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.[3] Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang. Hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat, yaitu Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak yang dimaksudkan sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Minangkabau atau biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis asli Nusantara yang wilayah persebaran kebudayaannya meliputi kawasan yang kini masuk ke dalam provinsi Sumatra Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pesisir barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat yaitu Padang. Akan tetapi, masyarakat ini biasanya menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yang bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki serta menganut sistem adat yang khas. Masyarakat ini telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan tradisi musyawarah dan adanya kerapatan adat untuk menentukan permasalahan hukum ataupun hal-hal penting lainnya. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an), yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam. Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia walaupun budayanya sendiri sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. (Sumber: id.wikipedia.org).

Bagi masyarakat Indonesia ikon suku Minang yang populer adalah jam Gadang, rumah Gadang, atau masakan Minang yang lebih biasa disebut sebagai masakan Padang. Selain hal-hal yang sudah populer tersebut, ternyata suku Minang masih menyimpan banyak hal yang tidak kalah unik dan menarik. Kebudayaan suku Minangkabau memiliki ciri khas yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan kebudayaan Nanggroe Aceh, kebudayaan Batak atau suku lain yang ada di pulau Sumatera.

Gambar/Foto: Harianhaluan.com

Meskipun demikian, tradisi dan kebudayaan Suku Minangkabau yang berkembang hari ini merupakan hasil dari sebuah revolusi budaya. Revolusi budaya pada masyarakat suku Minang terjadi pasca terjadinya perang Padri pada tahun 1837. Pada awal mulanya, masyarakat Minang menganut kebudayaan yang bercorak animisme dan dinamisme. Namun, semenjak para pedagang dari Timur Tengah mulai memasuki wilayah Sumatera, sejak saat itu budaya Minang banyak dipengaruhi oleh nilai Islam. Puncaknya, pada abad 19 setelah perang Padri berakhir dibuatlah sebuah adagium adat yang akhirnya merombak keseluruhan tradisi suku Minang. 

Filosofis Adat

Sejarah adagium atau kesepakatan perjanjian di buat di Bukit Marapalam yang menghadirkan para alim ulama, tokoh adat tradisional serta para cerdik pandai (cendekiawan). Mereka membangun kesepakatan bahwa semenjak saat itu maka adat budaya Minang didasarkan pada syariat Islam. Isi kesepakatan dituangkan dalam kalimat kesepakatan yang berbunyi “Adat basandi syarak (adat bersendi syariat), syarak basandi kitabullah (syariat bersendi kitab Allah). Syarak mangato adat mamakai (syariat melandasi adat)” .Maknanya bahwa adat Minang bersendikan syariat, dan syariat bersendikan kitab Al Quran. Maka sejak saat itu pondasi budaya Minang dibangun diatas pilar agama Islam.

Namun, jauh ke belakang sebelum terjadinya puncak kesepakatan tersebut, suku Minang mengalami beberapa fase perombakan pondasi adat, yaitu :
  1. Adat basandi alua jo patuik dan syarak basandi dalil. Pada fase ini masyarakat Minang menjalankan adat dan syariat secara berbeda. Adat dan syariat memiliki rel-nya masing-masing tanpa saling mengganggu. Agama bagi masyarakat Minang hanya sekadar ibadah saja, sedangkan dalam sistem sosial mereka menggunakan adat tradisional.
  2. Adat basandi syarak dan syarak basandi adat. Pada fase ini masyarakat Minang mulai mengintegrasikan dan menyandingkan antara adat dan syariat. Dalam penataan sistem sosial, syariat agama mulai dijadikan salah satu sumber membangun aturan dan syariat tidak lagi hanya sekadar ibadah saja.
  3. Adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat mamakai. Ini adalah puncak pengintegrasian syariat Islam dengan nilai adat. Hal ini sebagaimana kesepakatan yang dilakukan di Bukit Marapalam. Dengan ini, adat Minang melebur pada syariat Islam.


Adat Matrilineal

Meskipun sudah menjadikan Islam sebagai landasan adat. Namun adat matrilineal masih sangat dipegang teguh oleh suku Minang. Adat matrilineal ini menyandarkan segala garis keturunan pada ibu (pihak perempuan). Hal ini tentu berbeda dengan Islam yang lebih menyandarkan garis keturunannya pada sang ayah (pihak laki-laki). Akibat dari adat matrilinel ini sistem pewarisan dan pengaturan kerumahtanggaan pun juga kemudian lebih berat pada sisi perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa konsekuensi dari budaya matrilineal ini pada masyarakat dan suku Minangkabau diantaranya :
  1. Keturunan didasarkan pada garis keturunan ibu, sehingga seorang anak akan dimasukkan kedalam suku yang sama dengan suku ibunya berasal
  2. Seorang laki-laki Minang tidak dapat mewarisi sukunya, sehingga bila terdapat suku yang tidak memiliki anak perempuan dalam sukunya maka suku tersebut sudah dianggap sama dengan punah.
  3. Setiap orang harus menikah dengan orang diluar sukunya, bila tidak maka ia akan dikenai sanksi dengan dikucilkan.
  4. Perempuan merupakan pemegang seluruh kekayaan keluarga dan seluruh harta pusaka keluarga, namun dalam hal penentuan keputusan, laki-laki masih memiliki hak mengambil putusan.
  5. Dalam hal perkawinan menganut sistem matrilokal yakni suami mengunjungi rumah istrinya
  6. Hak-hak pusaka diwariskan kepada anak perempuan.


Budaya Merantau

Merantau merupakan kebiasaan yang selalu dijalankan oleh laki-laki dari suku Minang. Kebudayaan suku Minangkabau untuk merantau adalah akibat dari adanya adat matrilineal, maka pada dasarnya laki-laki suku Minang tidak memiliki modal harta sama sekali. Oleh sebab itu, kebanyakan laki-laki Minang ketika sudah dewasa selalu pergi dari kampungnya untuk pergi merantau. Tujuannya adalah untuk bekerja dan mencari harta kekayaan.

Merantau juga merupakan bagian konsekuensi dari tuntutan laki-laki Minang untuk mencari pasangan yang diluar dari sukunya. Dengan merantau ini maka laki-laki Minang bisa berpotensi untuk mengenal perempuan dari suku lain. Pada awal mulanya makna merantau sendiri adalah pergi keluar dari suku dan bergaul sosial dengan suku lain yang masih dalam etnis Minang. Namun dalam perkembangannya merantau kemudian menjadi kebiasaan untuk keluar dari tanah kelahiran dan bermata pencaharian di tanah lain.

Oleh sebab itu, bila kita melihat pada kehidupan hari ini, banyak sekali orang-orang Minang yang mendiami kota-kota besar di tanah Jawa. Biasanya mereka membuka berbagai macam bentuk usaha sebagai mata pencaharian. Dan usaha yang paling banyak biasanya adalah dengan membuka restaurant atau rumah makan Padang.

Pelajari juga kebudayaan suku di daerah lain pada artikel : Kebudayaan Lampung, Kebudayaan Sumatera Selatan, Kebudayaan Papua, Kebudayaan Nusa Tenggara Timur.


Adat Pernikahan

Dalam melangsungkan pernikahan, orang suku Minang harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :
  1. Kedua calon harus sama-sama beragama Islam
  2. Kedua calon tidak berasal dari suku yang sama
  3. Kedua calon dapat saling menghormati dan menghargai orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak
  4. Calon suami telah memiliki sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Setelah itu, bila semua syarat sudah terpenuhi maka terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh suku Minang, diantaranya :

Maresek

Pada tahap ini pihak keluarga wanita akan mendatangi pihak keluarga pria dengan membawa sejumlah buah tangan. Tujuan dari Maresek adalah pihak keluarga wanita akan mencari tahu kecocokan calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita.


Maminang/ Batimbang Tando

Pada tahap ini keluarga wanita akan mendatangi calon keluarga pria untuk meminang. Bila dalam proses peminangan ini pihak pria menerima, maka akan diteruskan dengan tahap Batimbang Tando sebagai simbol perjanjian dan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kedua keluarga akan saling menukarkan benda-benda pusaka yang dimilikinya, seperti keris, kain adat atau barang-barang lain yang dianggap berharga oleh keluarga.


Mahanta Siriah

Calon mempelai pria dan calon mempelai wanita akan mengabarkan kabar pernikahan kepada para mamak (sebutan untuk laki-laki tertua dalam keluarga) dan seluruh kerabat keluarga. Proses mahanta Siriah ini biasanya dilakukan dengan tradisi membawa tembakau untuk calon mempelai pria dan sementara untuk calon mempelai wanita dengan membawa sirih lengkap. Biasanya keluarga yang didatangi akan ikut membantu pembiayaan pernikahan.


Babako-babaki

Bako adalah sebutan bagi pihak keluarga ayah dari calon mempelai wanita. Tradisi ini biasa dilangsungkan beberapa hari sebelum akad nikah. Calon mempelai wanita akan dijemput oleh keluarga ayah dan dibawa kerumah. Kemudian para tetua dan sesepuh akan memberikan nasihat. Keesokan harinya, calon wanita akan diantarkan pulang kembali dengan membawa beberapa barang pemberian seperti seperangkat busana, perhiasan emas, maupun beberapa bahan pangan baik yang sudah matang atau masih mentah.


Malam Bainai

Kegiatan ini dilakukan pada malam akad nikah berlangsung. Tradisi ini berupa memandikan calon mempelai wanita dengan air kembang sebagai simbol membersihkan diri. Setelah itu, calon mempelai wanita akan dihias kuku dan tangannya dengan daun pacar sebagai simbol keindahan.


Manjapuik Marapulai

Prosesi ini merupakan puncak tradisi dimana calon mempelai pria akan dijemput untuk diantar ke rumah calon mempelai wanita. Akad nikah akan dilangsungkan di rumah calon mempelai wanita. Keluarga calon mempelai wanita yang datang menjemput membawa perlengkapan lengkap seperti pakaian pengantin pria lengkap, sirih, nasi dan lauk dan beberapa hantaran lain. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, maka mempelai pria akan langsung diarak menuju rumah calon mempelai wanita.


Penyambutan di rumah anak Daro

Sesampainya calon mempelai pria dirumah calon mempelai wanita, maka calon mempelai pria akan disambut dengan meriah. Terdapat beberapa pemuda berpakaian silat (baca juga : silat harimau minangkabau dan asal usul pencak silat) yang akan menyambut dengan tari gelombang adat timbal balik yang diiringi musik khas Minang. Tari gelombang adat timbal balik ini adalah khas untuk menyambut mempelai pria (baca juga : tarian tradisional Indonesia dan tarian tradisional sumatera barat).

Selanjutnya terdapat para dara yang akan menyambut dengan perlengkapan sirih. Para sesepuh wanita kemudian menaburi calon mempelai pria dengan beras kuning. Kemudian kaki calon mempelai pria akan dibasuh dengan air sebagai simbol pensucian sebelum menuju ke tempat akan nikah.


Prosesi akad Nikah

Akad nikah dilakukan sesuai dengan syariat Islam dengan didahului pembacaan ayat Al Quran. Setelah itu dilakukan ijab qabul yang disaksikan oleh para saksi. Kemudian ditutup dengan do’a dan nasihat dari para tetua.

Basandiang di Pelaminan

Kedua mempelai akan bersanding di rumah anak Daro (mempelai wanita). Kedua mempelai kemudian duduk bersandingan untuk menerima para tamu yang hadir dan biasanya terdapat hiburan musik di halaman rumah untuk memeriahkan acara.


Tradisi Pasca Akad Nikah

Setelah akad nikah selesai, terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh Suku Minang, diantaranya :

Mamulangkan Tando, mengembalikan tanda yang dipertukarkan pada tahap Maminang.
Malewakan Gala Marapulai, yakni memberikan nama dan gelar baru bagi pengantin pria sebagai simbol kedewasaan.

Balantuang Kaniang, menyentuhkan kening kedua pengantin pria dan wanita.
Mangaruak Nasi Kuniang, tradisi berebut daging ayam yang disembunyikan di dalam nasi kuning. Dilakukan oleh kedua pengantin sebagai simbol kerjasama antara suami dan istri.

Bamain Coki, melakukan permainan tradisional Minang semacam catur sebagai simbol mempererat kekeluargaan.



Pelajari juga adat istiadat suku lain pada artikel : Kebudayaan suku batak, kebudayaan suku banjar, kebudayaan suku dayak.


Harta Pusaka Tinggi

Yang dimaksud harta pusaka tinggi adalah harta pusaka yang dimiliki oleh satu kaum atau suku. Bukan harta yang bersifat personal atau pribadi. Biasanya berupa tanah atau barang yang memiliki nilai jual tinggi. Harta pusaka tinggi hanya bisa dimanfaatkan dan tidak boleh diperjual belikan. Harta ini diturunkan secara turun temurun (waris) kepada anak perempuan dalam suatu suku atau keluarga besar. Kaum laki-laki tidak memiliki hak terhadap harta pusaka ini.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kondisi dimana dalam hukum adat Minang, harta pusaka tinggi boleh untuk digadaikan. Penggadaian harta pusaka tinggi harus disebabkan oleh salah satu dari beberapa alasan yang diperbolehkan untuk penggadaian, yaitu :
  1. Maik Tabuju Ateh Rumah (mayat terbujur diatas rumah), tidak adanya biaya untuk mengurus jenazah keluarga yang meninggal.
  2. Gadih atau Rando indak balaki (gadis atau janda tidak bersuami), seorang wanita yang tidak memiliki seorang suami bagi suku Minang adalah sebuah aib. Oleh karenanya, apabila terdapat seorang gadis yang sudah berumur namun belum bersuami atau seorang janda yang tidak bersuami, maka diperbolehkan menggunakan harta pusaka yang tergadai untuk membayar laki-laki yang mau menikahinya.
  3. Rumah Gadang katirisan (Rumah Gadang mengalami kerusakan). Apabila rumah gadang yang ditempati mengalami rusak berat, maka diperbolehkan menggadaikan untuk melakukan perbaikan rumah agar rumah tidak runtuh/roboh.
  4. Mambangkik batang tarandam, apabila sebuah suku tidak memiliki penghulu adat, maka diwajibkan untuk melakukan upacara pengangkatan penghulu adat yang pembiayaannya dari penggadaian harta pusaka.


Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik

Minangkabau merupakan salah satu suku yang ada di Nusantara yang lebih terkenal dengan nama suku minang. Suku ini dikenal sebagai suku yang mewakili daerah Sumatera Barat. Padahal aslinya, suku minang ini mewakili daerah Sumatera Barat, pantai barat Sumatera Utara, sebagian daerah Riau dan Negeri Sembilan yang ada di Malaysia. Suku ini sangat terkenal karena berbagai kebudayaan minangkabau yang menarik. Inilah uraian dan pembahasan tentang Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik tersebut :


Bahasa Minangkabau

Bahasa minangkabau dikatakan sebagai bahasa mandiri atau bahasa yang dimiliki daerah tersebut dan bukan diambil dari bahasa lainnya. Namun, ada yang bilang bahwa bahasa minangkabau sama dengan bahasa melayu. Hal ini terjadi karena banyaknya kemiripan antara bahasa melayu dan bahasa minangkabau. Bahasa minangkabau cukup mudah dikuasai dan banyak yang menguasainya.


Kepercayaan Suku Minangkabau

Suku minangkabau menganut agama islam dan kepercayaan islam yang bisa dikatakan taat. Bagi para suku minangkabau tidak ada kepercayaan lain seperti halnya percaya pada benda dan hal-hal tidak masuk akal. Upacara yang dilaksanakan pun berkaitan dengan agama islam, seperti perayaan idul fitri dan adha ataupun pernikahan yang bersifat islami.

Strata masyarakat di Suku Minangkabau 

Suku minangkabau menerapkan sistem strata untuk masyarakatnya. Sistem ini penting untuk menggolongkan masyarakat dan mengatur jalannya pernikahan, adapun golongannya yaitu :
  1. Kamanakan Tali pariuk adalah golongan pertama yang bersifat bangsawan dan memiliki gelar bangsawan. kamanakan tali pariuk dianggap keturunan langsung dari urang asa.
  2. Kamanakan tali budi adalah golongan para pendatang atau perantau yang sama kaya dan suksesnya dengan suku minang. sehingga bisa dianggap seperti sama dengan keturunan dari urang asa.
  3. Kamanakan tali ameh adalah golongan orang biasa dan sifatnya pendatang.
  4. Kamanakan bawah lutuik adalah orang yang biasa menghamba kepada orang asa.


Selain itu ada 3 golongan yang dibuat oleh suku minangkabau, diantaranya :

1. Golongan bangsawan 

Golongan bangsawan adalah golongan yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mendapat kemudahan bagi setiap urusan. Seperti bangsawan yang memberikan mahar atau bayaran tinggi ketika menikah. namun golongan wanita bangsawan harus menikah dengan sesama golongan bangsawan.

2. Golongan biasa 

Golongan biasa golongan ini tidak termasuk golongan bangsawan, namun  bisa dikatakan mereka bisa hidup seperti biasa seperti membeli tanah dan rumah, walaupun tidak ada hubungan dengan orang suku minang.

3. Golongan rendah

Golongan rendah golongan ini tidak diizinkan untuk membeli tanah dan rumah, mereka dianggap datang dengan jalan menghamba atau sebagai budak ketika datang ke daerah suku minangkabau.


Kesenian Suku Minangkabau

Adapun keseniannya yang sangat terkenal, diantaranya :

1. Dengan diiringi lagu salempong tarian pertama yang terkenal adalah tari piring. Tarian ini unik karena menggunakan piring yang ada ditangan sambil menari, kesulitannya adalah menahan piring dan mencari kestabilan agar tidak pecah atau jatuh.

2. Silek biasa disebut silat minangkabau. Ahli bela diri ini sudah ada sejak jaman dahulu dan dijadikan sebagai budaya yang penting bagi masyarakat suku minangkabau.

3. Randai merupakan penampilan yang dilengkapi dengan skenario antara silek atau silat dengan tarian layaknya teater. Randai ini juga dilengkapi dengan nyanyian yang mengiringi atau biasa disebut musik sijobang. Randai merupakan kesenian yang sangat unik dari minang kabau.

4. Seni berkata, seni ini cukup unik. jika di sunda ada pupuh maka di suku minang ada seni bersilat lidah yang mengedepankan sindiran, nasihat dan kata-kata bijak. Seni ini sangat penting dan bermakna sehingga suku minang bertahan dan menjadikannya sebuah budaya.

5. Terakhir adalah tari payung. tarian ini memang menggunakan payung sebagai aksesoris dari tariannya. Bukan hanya aksesoris tarian ini dianggap sebagai wujud atau ekspresi dari para pasangan muda-mudi, sedangkan payung dianggap sebagai satu tujuan untuk membina rumah tangga.


Rumah adat Suku Minangkabau

Selanjutnya adalah rumah minangkabau yang biasa disebut rumah gadang. Rumah ini dibuat menggunakan kayu dengan bentuk persegipanjang. Terdapat dua bagian yakni bagian depan dan bagian belakang dengan masing-masing muka. Biasanya rumah ini dibangun diatas tanah milik leluhur atau suku asli minang yang turun temurun. Tidak lupa disertakan tanduk kerbau sebagai hiasan utama dan bentuk rumah yang sekilas mirip dengan rumah panggung.

Gambar/foto: moeslimchoice.com

Rumah ini hanya digunakan oleh yang sudah berkeluarga, terutama keluarga perempuan dan anak-anaknya. Pihak laki-laki selalu mengikuti pihak perempuan, dan laki-laki yang masih bujang atau belum menikah akan tinggal di bangunan yang dibangun tidak jauh dari rumah yang berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini dinamakan surau.


Makanan khas Suku Minangkabau 

Selanjutnya adalah makanan khas dari suku minangkabau. Siapa yang tidak mengenal makanan khas dari suku ini. Bahkan makanannya yang dimasak selalu menggunakan santan kerap kali dijadikan makanan terlezat bahkan di dunia. Banyak masakan suku minang dimasak sangat lama dan juga sangat matang, sehingga rasanya sangat enak.

Makanan yang terkenal diantaranya adalah rendang, merupakan makanan pertama yang menjadi makanan ternikmat versi luar negeri, bahkan rendang tidak bisa dipisahkan imej nya dengan suku minangkabau. Rendang merupakan nama makanan yang diambil dari cara memasaknya yakni dengan cara “dirandang” atau dimasak lama. Rendang yang lembut dan empuk perlambang bagai niniak mamak atau pemimpin dari keluarga.

Selain itu ada bumbu yang digunakan pada makanan atau masakan suku minangkabau yang berarti lambang dari keseluruhan masyarakat Minang. Lalu ada cabai dengan rasa pedas yang melambangkan alim ulama yang harus tegas dan ada karambia atau kelapa yang berarti perlambang kaum intelektual. Makanan suku minangkabau pun terkenal dengan penuh filosofis.


Kekerabatan Suku Minangkabau

Terakhir dari kebudayaan suku minang adalah kekerabatan atau silsilah. Bagi masyarakat atau suku padang anak laki-laki adalah mahal dan haruslah dibeli. Sehingga dalam proses perkawinan ada beberapa tahap seperti meminang, menjemput pengantin laki-laki dan akhirnya dipelaminan. Bagi pengantin laki-laki akan ada upacara dimana mereka mendapat gelar atau nama baru yang menggantikan nama kecil mereka. Sehingga setelah menikah para pria akan dipanggil menggunakan nama baru tersebut.

Umumnya pernikahan dilakukan dengan mengambil atau menikahkan dari luar suku atau biasa disebut eksogami. Sistem keluarga dari suku minang adalah matrilineal atau mengikuti garis keturunan dari ibu. Sehingga jika terdapat perkara atau kasus maka penyelesaian adatnya menggunakan sistem dari garis keturunan ibu.

Demikianlah tentang kebudayaan Minangkabau yang unik dan menarik yang dapat bertahan sepanjang masa. Semoga Nilai-nilai kebudayaan yang menjadi khasanah kekayaan bangsa Nusantara ini dapat kita lestarikan demi anak cucu kita di masa depan. Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Sumber: Dirangkum dari Berbagai sumber.

Gambar : Google

Cari Artikel