DIJUAL BARANG ANTIK MURAH - MURAH ANTIK INDOBORNEONATURAL

MURAH ANTIK INDOBORNEONATURAL


Di jual/ dimaharkan barang-barang antik murah, untuk koleksian dan keperluan hobbi.

Tersedia barang antik dan unik yang langka banyak dicari para penghobis barang antik yang ada di seluruh indonesia untuk koleksi.

Bisa Kirim-kirim keseluruh nusantara

2. MURAH ANTIK : KERIS BANJAR SEMPANA PUCUK


Nama Barang :  Keris Banjar Sempana Pucuk
Ukuran Dimensi : Panjang 26,5 cm
Bahan : Besi, Kayu
Harga : Mahar Rp. 399.000
Status Barang :  Habis/Terjual (*Pembeli Tercatat)

(*Pembeli tercatat masih dapat dihubungi jika ada yang berminat dapat kami hubungkan dengan yang bersangkutan).

Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2. MURAH ANTIK : UANG LOGAM 1.000 SAWIT



Nama Barang :  Uang logam 1000 Sawit
Ukuran Dimensi : 3 X 3 cm
Bahan : Besi Kuningan
Harga / Mahar : @Rp. 100.000
Status Barang :  Stok Tersedia 5 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

---------------------------------------------------------------------------------

3. MURAH ANTIK : PEGINANGAN KUNINGAN JAMAN BAHARI



Nama Barang :  Kuningan Jaman bahari
Ukuran Dimensi : 35 X 10 cm
Bahan : Besi Kuningan
Harga : Mahar Rp. 250.000
Status Barang :  Stok Tersedia 1 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3. MURAH ANTIK : PANCAR MERAH KALUNG


Nama Barang :  Pancar Merah Kalung
Ukuran Dimensi : 5 X 5 cm
Bahan : Besi Putih, Stenles
Harga : Mahar Rp. 200.000
Status Barang :  Stok Tersedia 1 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039


MELIHAT 5 KESENIAN ASLI KOTA CIREBON DI JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah lainnya di mana kebudayaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kebudayaan khas Cirebon juga dilestarikan dengan baik oleh masyarakatnya.

Topeng Cirebon - Foto : Wikipedia

Kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon antara lain berupa tarian, kesenian musik, dan berbagai jenis kebudayaan lainnya yang kesemuanya sangat menarik dan sangat indah untuk dinikmati. Beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon sebagian hanya dipentaskan pada saat acara – acara tertentu seperti upacara adat, namun ada juga yang sering dipentaskan untuk menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Cirebon, berikut ini akan kami ulas beberapa kebudayaan asli Cirebon agar Anda lebih mengenalnya.

Beberapa Kesenian dan Kebudayaan Asli Kota Cirebon :

1. Tari Topeng

Salah satu kesenian yang ada di Cirebon adalah seni tari yang dikenal dengan nama tari topeng yang mana sesuai dengan namanya, sang penari akan memakai topeng, seni tari ini pada awalnya merupakan sebuah alat diplomasi yang digunakan ketika Kerajaan Cirebon sedang berperang melawan Kerajaan Karawang, sang penari dalam tarian topeng ini akan mengganti topengnya sesuai dengan karakter yang dibawakan.

2. Sintren

Kebudayaan kedua yang dimiliki oleh Cirebon adalah berupa sebuah kesenian tari yang dikenal dengan nama tari sintren di mana seni tari ini memiliki unsur magis, pada awal pertunjukan seni tari, sang penari akan diikat dari mulai leher hingga ujung kaki kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup dengan kain namun setelah itu ternyata sang penari dapat membebaskan diri dari ikatan tersebut.

tari sintren cirebon

3. Kesenian Gembyung

Kesenian ketiga yang dimiliki Cirebon adalah kesenian yang bernama gembyung di mana kesenian ini merupakan salah satu peninggalan dari dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung merupakan salah satu bentuk pengembangan dari kesenian terbang dan sering ditampilkan dalam acara – acara keagamaan yang ada di Cirebon seperti maulid, rajaban, dan syuro.

gembyung-cirebon

4. Genjring Rudat

Kesenian selanjutnya yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon adalah sebuah kesenian yang bernama genjring rudat di mana kesenian ini merupakan sebuah kesenian yang berkembang di lingkungan pesantren. Jenis alat musik yang biasanya digunakan dalam kesenian genjring rudat antara lain genjring, bedug, dan terbang yang biasanya diiringi dengan puji – pujian kepada Allah dan rasul-Nya.

genjring-rudat

5. Angklung Bungko

Kesenian kelima sekaligus yang terakhir kami bahas di artikel ini adalah kesenian Cirebon yang dikenal dengan nama angklung bungko yang mana sering kali dipentaskan dalam acara – acara adat di antaranya nyadran, ngunjung buyut, dan berbagai jenis acara adat lainnya, dalam kesenian angklung bungko ini sang penari akan mementaskan berbagai tarian seperti tari panji, benteleye, dan tari lainnya.

angklung-cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat yang kaya akan seni budaya yang masih terus dijaga kelestariannya.

Silakan berkunjung dan berwisata kekota Cirebon untuk menikmati keindahan seni dan budaya kota Cirebon.


Sumberwww.pusakapusaka.com

ALAM PIKIRAN DAN KEPERCAYAAN (AGAMA) SERTA HAL GAIB ZAMAN KUNO DI KALIMANTAN SELATAN

Baaruwah, tradisi kepercayaan kalsel, alat ritual Banjar, borneonatural
Indoborneonatural---Menurut perjalanan sejarahnya, sejak jaman kuno di Kalimantan Selatan terdapat kepercayaan (agama) dan alam pikiran yang juga tersangkut dengan hal-hal gaib yang dipercaya turun temurun oleh masyarakatnya. Kiranya tak akan terlalu jauh perkiraan kita bahwa sejak zaman bercocok tanam, perkembangan dasar pemujaan nenek moyang yang kemudian membentuk dasar-dasar agama "Kaharingan". Dasar yang ada bersifat serba dua mengenai alam, yaitu membagi alam menjadi alam atas dan alam bawah. Alam atas dikuasai Ilah yang disebut dengan bermacam nama yaitu :
  1. Tingeng atau Bungai, nama burung sakti perkasa, jantan dan terkenal dalam mytologi Dayak
  2. Raja Tongtong Matanandau, atau raja penjuru matahari.
  3. Mahatara (Maha Batara)
  4. Mahatala (Alatal)

Yang dua terakhir menunjukan telah menggunakan istilah dari agama Hindu dan Islam. Alam bawah dikuasai Ilah yang bersifat betina disebut;
  1. Tambon, naga atau ular besar sakti
  2. Jata atau Biwata

Ilah alam bawah ini dianggap melambangkan kesuburan dan bersifat keibuan.

Mitologi penciptaan alam duani dan manusia mengatakan bahwa semua yang ada ini diciptakan oleh Mahatara dan Jata bersama-sama dan diatur bersama-sama pula. Keduanya merupakan suatu kedwitunggalan (eine Einheit der Zweiheit). Totem emblim Mahatara adalah tingang dengan tumbak dan untuk Jata, Tambo dan keris.

Ilah Dwitunggal ini mencerminkan sifat alam yang serba dua dala ketunggalan, seperti baik-buruk, putih-hitam, terang-gelap dan seterusnya, semua melukiskan sifat etis-religius yang ambivalen. Ilah Dwitunggal ini dengan sifat serba dua tadi manifestasikan diri dalam sifat-sifat yang dilaksanakan oleh Ilah-ilah pengantara. Yang kedua ini mewujudkan karakter etis-religius yang ambivalen dari Ilah Dwitunggal tadi. Dalam tiap upacara, baik peserta maupun pemimpin upacara terlibat dalam pengelompokan ini. Pada suku dayak, balian pendeta wanita itu di sebut Naga yang berohkan garuda.

Dalam pemikiran religius sehari-hari Ilah Deitunggal ini digambarkan secara antropomorfis sekali, sebagai laki-laki dan wanita. Berhubungan dengan Ilah tertinggi dilaksanakan melalui ilah pengantara. Ilah-ilah ini dipimpin lima raja yang masing-masing jadi raja dalam kelompok Ilai-ilah tertentu yaitu:
  1. Ilah Kilat dan Raja Pali bertindak dalam pelanggaran adat dan hukum pali.
  2. Raja Ontong memberi rejeki, kekayaan dan kemakmuran.
  3. Raja Sial mendatangkan kengerian, kekejaman, celaka, musibah dna sebagainya
  4. Raja Hantoen, memberi segala kerusuhan, pengrusakan, mengganggu, meminum darah manusia.
  5. Raja Peres penyebar epidemi.

Mereka berlima ini memerintah sejumlah Ilah yang lebih rendah yaitu roh baik dan roh jahat yaitu:

a. Roh Baik
  1. Tempon Telon, pengantar roh orang mati ke akhira
  2. Sangumang, pembantu orang dalam kesukaran
  3. Antang, si pemberi tanda dan perlindungan
  4. Jarang Bawahan, si pemberi kekuatan dan kepahlawanan

b. Roh jahat
  1. Kuntilanak
  2. Karian, orang halus yang menyesatkan orang di hutan
  3. Kloe, penjaga tanah keramat
  4. Kukang, yang menguji/menghalangi roh yang sedang menuju ke alam baka (Lewu Lisu)

Arwah nenek moyang cikal bakal adalah penjaga tradisi dan adat disebut Nanyu Saniang. Mereka berada di alam baka dan bisa dipanggil membantu yang hidup, menjaga kampung, melindungi sungai atau keluarga. Tempat pemujaan pada pohon, batu atau patung.

Dalam mitologi Dayak juga dilukiskan mengenai Pohon Hayat yang disebut Batang Garing. Pohon Hayat ini mewujudkan kesatuan manifestasi alam atas dan bawah, unsur jantan dan betina, baik dan jahat, hidup dan kematian. 

Pohon Hayat atau Batang Garing melambangkan totalitas kosmos, tapi juga dulisme religius; sifat antagonistis ini selalu muncul dalam mite penciptaan, perulangan historis, terlukis dalam ritus dan kultus Tafsiran dalam kepercayaan khusus tentang jiwa alam baka, dan makna ritus kematian menggambarkan adanya harapan-harapan eskatologis, kepercayaan itu beranggapan bahwa jiwa manusia setelah meninggal mengalami proses khusus dalam kepergiaannya kenegeri roh, dan tersimpul dalam upacara ritus yang kompleks.

Di alam baka arwah itu menikmati sumber air Kahuripan (danum kaharingan) dari pohon hayat, hingga hidup "abadi" dalam artian lama penuh kenikmatan, tapi bila daya hidupnya habis, barulah ia menemui kematian kedua. Roh-roh ini kedunia lagi dalam bentuk cendawan, buah-buahan, bunga untuk dapat dilahirkan kembali melalui manusia.

Bila seseorang meninggal ia dikubur seperti biasa. Roh ini diantar ke tempat peristirahatan sementara. Ia menunggu ritus kematian sempurna seperti tiwah (Ngaju), pembakaran menyucikan ia dari sifat keduniawian dan menobatkan mereka jadi sanghyang. Tulang-tulang dibakan dalam Gunung Pidudusan Hyang.

Kematina tak lain dari sejenis perpindahan kehidupan. Ritus kematian membantunya mencapat tempat tujuan akhir yang sempurna dan melindungi yang masih hidup, dari roh-roh yang belum disempurnakan perjalanannya. Semakin lengkap, sempurna dan mahal upacara tersebut, semakin tinggi kedudukan Hyang ini di alam baka dan semakin cukup perbekalannya.

Dalam perkembangan selanjutnya. Agama dan kepercayaan asal ini kemudian mendapat pengaruh-pengaruh dari agama yang kemudian masuk, terutama agama Siwa. Agama Budah kemungkinan masuk terlebih dahulu dari agama Siwa. Istilah pitara, mahatara, pohatara jelas berasal dara Mahabarata. Demikian pula ritus tiwah dan ijambe dimana tulang-tulang ini dibakar sebagai ritus penyempurnaan kematian menjadikan arwah tersebut Hyang, seperti upacara Sraddha pembakaran tulang-tulang tersebut maksudnya agar kembali suci dan menjadi Siwa, raja pelindung negara. Agama Siwa berkembang dan membawakan pembaharuan yang dikembangkan oleh raja pertama Negara Daha.  

Demikian tentang alam pemikiran dan kepercayaan (agama) serta hal-hal gaib di Zaman Kuno dari masyarakat Kalimantan Selatan. Semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang kembudayaan Indonesia pada umumnya dan kebudayaan daerah Kalimantan Selatan khususnya. terimakasih. Admin; https:// indoborneonatural.blogspot.com/




INILAH 76 MACAM TARIAN KHAS KALIMANTAN SELATAN YANG HARUS DILESTARIKAN

Indoborneonatural----Seperti daerah-daerah lainnya, Kalimantan Selatan khususnya Banua Banjar memiliki ragam seni tari yang bermacam-macam. Hal ini memperlihatkan kekayaan seni budaya yang dimiliki daerah Kalimantan Selatan yang sangat tinggi. Pernah tercatat ada sekitar dua ratus lima puluh buah organisasi yang bergerak dalam bidang budaya: seni tari, seni rupa, seni musik, seni suara, seni drama, dan seni sastra. Melalui organisasi-organisasi itulah para seniman daerah menyalurkan bakatnya serta rasa seninya untuk memenuhi kebutuhan rakyat akan hiburan. 


Tari Kalsel-Gambar: syarief76.wordpress.com
Dalam perkembangannya sejak waktu yang lama hingga sekarang ini terdapat banyak perombakan baik dalam tema maupun sarananya. Sejak jatuhnya kerajaan Banjarmasin pada pertengahan abad XIX, kesenian klasik kraton mengalami disintegrasi total. Gamelan misalnya, sebagian besar yang masih sifat-sifat keratonnya yang lembut lemah gemulai sudah berganti dengan pukulan-pukulan cepat dan keras. Bahan yang tadinya dibuat dari gangsa telah diganti dengan besi. Sedang sastra Banjar dengan menggunakan tulisan huruf Arab dan bahasa Melayu terhenti sama sekali.

Perkembangan seni budaya selanjutnya adalah untuk memenuhi hasrat masyarakat akan hiburan pada saat setelah menuai padi atau pada kesempatan lain seperti perkawinan dan sebagainya.

Teater rakyat yang disebut Mamanda lahir sebagai perpaduan antara tonil Melayu dengan tema-tema "Seribu satu malam", dengan baju baru sesuai dengan selera rakyat haus rekreasi di permulaan abad XX. Di samping itu beberapa jenis tarian yang kurang baik menurut pandangan agama Islam secara perlahan-lahan menghilang, tarian yang menghilang seperti Tari gandut dan tari topeng yang tidak lagi dimainkan baik di kota maupun didaerah-daerah plosok Kalimantan Selatan.

Dalam tahun 1975 Proyek Pusat Pengembangan Kesenian Kalimantan Selatan mengadakan penelitian dalam hal tari-menari. Hasilnya menunjukan bahwa penduduk Kalimantan Selatan memiliki seratus dua puluh delapan organisasi tari dengan anggota enam ratus lima orang anggota sedangkan tarian yang dipelajari sebanyak tujuh puluh enam macam tarian.

Berikut inilah 76 (tujuh puluh enam) macam tarian di daerah Kalimantan Selatan Selatan yang harus kita pelajari dan lestarikan;

1. Tari Baksa Kelana
2. Tari Temeng
3. Tari Baksa Panah
4. Tari Baksa Lilin
5. Tari Baksa Kembang
6. Tari Topeng (Panji)
7. Tari Baksa Lunta
8. Tari Baksa Ular
9. Tari Brama
10. Tari Baksa Rajawali
11. Tari Panimba Sagara
12. Tari Baksa Lilin Pancaran Dewa
13. Tari Baksa Ratu Kumala Kuku 
14. Tari Radap Rahayu
15. Tari Burung Mantuk
16. Tari Jambang Kaca
17. Tari Damarwulan
18. Tari Wayang Gong
19. Tari Ahui
20. Tari Tirik
21. Tari Tirik Lalan
22. Tari Japin
23. Tari Gerbang/Pahlawan
24. Tari Rantauan
25. Tari Kuda Gepang
26. Tari Mendung
27. Tari Sinoman Hadrah
28. Tari Mamanda (Baladon)
29. Tari Jepen Anak Tiga
30. Tari Japin Anak Delapan
31. Tari Kurung-kurung Pelanduk
32. Tari Gintur (Giring-giring)
33. Tari Benelai (Selendang)
34. Tari Balian Bawo
35. Tari Balian Amonraho
36. Tari Balian Dadas
37. Tari Balian Sawa
38. Tari Babansai
39. Tari Deder
40. Tari Kupu-kupu
41. Tari Mandulang Intan
42. Tari Datu Banawa
43. Tari Ading Bastari
44. Tari Sukmaraga-Patmaraga
45. Tari Nagasari
46. Tari Tempurung
47. Tari Rabana
48. Tari Kunang-kunang
49. Tari Maiwak
50. Tari Baradap
51. Tari Mamuai Wanyi
52. Tari Manjala Iwak
53. Tari Sumokorong
54. Tari Dayung Meratus
55. Tari Payung
56. Tari Burung Simbangan Laut
57. Tari Simbangan Darat
58. Tari Temeng Keleweng
59. Tari Selendang
60. Tari Manuai Padi
61. Tari Kakamban Habang
62. Tari Kuda Gepang Binian (Wanita)
63. Tari Kembang Goyang
64. Tari Tanggui
65. Tari Tangguk
66. Tari Patah Sembilan
67. Tari Mainang Pulai kampai
68. Tari Tanjung Katung
69. Tari Serampang Delapan
70. Tari Serampang Dua belas
71. Tari Lenggang Kencana
72. Tari Tanjung Ria
73. Tari Kaparinye
74. Tari Sri Langkat
75. Tari Maya Sari
76. Tari Hali Gali

Umumnya tari-tarian klasik itu diiringi dengan lagu-lagu dari perangkat gamelan yang terdiri atas: babon, gender, dau, gambang, saron, salantang kadenong, selantang besar, kenong, ketek, gong besar, gong kecil, kangsi, rantai, rantani unang-unang, suling, paksur, dan rebab. Sedang lagu-lagu yang dimainkan di antaranya adalah: ayakan lima, wani-wani, pancar buang, peksi mandong, paksi muluk, kabur, sumbu gelang, mas gemitir, gunjang ganjing babun, kambang muni, ketawang, kembang gayam, lagu kencang, sitru anam, dan sebagainya.

Di samping gamelan juga dikenal alat-alat musik lainnya seperti: kuriding, kecapi Dayak dan kurung-kurung. Sedangkan orkes-orkes maupun bang yang ada di daerah Kalimantan Selatan telah menggunakan alat-alat elektronis misalnya gitar, biola, organ, piano, sollo, alat-alat tiup, dan sebagainya.

Demikianlah 76 (tujuh puluh enam) macam tarian di daerah Kalimantan Selatan- Banua banjar  yang pernah ada dan harus kita pelajari dan lestarikan. Terimakasih kasih sudah berkunjung ke blog Indoborneonatural ini, semoga tulisan ini bermanfaat. Wassalam..

Sumber: Naskah Sejarah Daerah Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan Pencatatan kebudayaan Daerah Depeartemen pendidiklan dan Kebudayaan Tahun 1977/1978.

MENGENAL KOTA DODOL KANDANGAN KALIMANTAN SELATAN

Tugu Dodol, dodol kandangan, kota kandangan, kota dodol kalsel
Indoborneonatural--Jika berbicara tentang dodol di Kalimantan Selatan, maka orang-orang pasti menghubungkannya dengan Kota Kandangan. Kandangan adalah sebuah kecamatan sekaligus ibukota kabupaten Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Indonesia. Kota Kandangan terletak di tepi sungai Amandit dan berjarak 135 km disebelah utara Kota Banjarmasin, ibukota provinsi Kalimantan Selatan. Menuju kota kandangan dapat ditempuh dengan jalan darat kurang lebih 3 jam perjalanan menggunakan mobil.

Kandangan terkenal dengan makanan-makanan antara lain dodol, lemang, dan ketupat khas Kandangan.Dodol ini dikenal sebagai dodol terenak di kota seribu sungai ini.  Makanan khas Banjarmasin ini sangat cocok untuk dijadikan teman santai di sore hari sembari menikmati secangkir the hangat bersama keluarga.  Sesuai dengan namanya, Dodol Kandangan berasal dari Daerah Kandangan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sekilas dodol yang satu ini terlihat sama dengan dodol-dodol pada umumnya. Namun sebenarnya dodol ini sangat berbeda dilihat dari tekstur dan rasanya. Dodol Kandangan terasa lebih manis dan memiliki tekstur yang sangat lembut.

Tentu saja makanan khas daerah Kandangan ini sangat nikmat untuk disantap. Apalagi untuk anda para pecinta makanan manis. Ada salah satu pengusaha Dodol Kandangan yang sangat terkenal di Daerah Kandangan. Beliau bernama Ibu Noor Jannah.

Beliau merupakan generasi pertama dari pengusaha dodol Kandangan terkenal yang ada di Daerah Kandangan. Anda dapat menemukan pusat penjualan Dodol Kandangan di Daerah Kandangan ini. nah, bagi anda yang kebetulan sedang berkunjung ke Banjarmasin tepatnya di Daerah Kandangan, jangan lupa beli Dodol Kandangan untuk anda jadikan camilan selama di perjalanan liburan anda.

Jangan lupa beli lebih banyak lagi sebagai oleh-oleh khas Banjarmasin untuk keluarga, kerabat, dan para sahabat tercinta. Pastinya mereka akan menyukai warisan kuliner asli Kalimantan Selatan ini.
Dodol Kandangan juga banyak dijual di pusat-pusat oleh-oleh di Kota Banjarmsin. Jadi anda tidak akan menemui kesulitan untuk menemukanya. Ada banyak kios pusat oleh-oleh tersebar di berbagai penjuru Kota Banjarmasin. Apalagi di sekitar jalan-jalan protokol Kota Banjarmasin.

Anda hanya tinggal pilih kios  atau toko  oleh-oleh mana yang akan anda kunjungi. Harga per kemasannya juga cukup terjangkau. pokoknya anda tidak akan rugi membeli Dodol Kandangan ini untuk anda bawa pulang ke kota asal anda.

Anda juga tak perlu khawatir dodol ini akan basi sesampainya di rumah karena dodol ini awet hingga beberapa hari. Dodol Kandangan awet bukan karena mengandung bahan pengawet, melainkan kandungan gula arennya yang membuat dodol ini bisa bertahan hingga beberapa hari lamanya.

Demikian tentang Kota Dodol Kandangan ini, silakan berkunjung ke kota kandangan dan ikut menikmati lezatnya dodol dan ketupat kandangan yang terkenal di kota ini. Terimakasih.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ANGKLUNG

Angklung
Angklung adalah alat musik multitonal (bernada ganda) yang secara tradisional berkembang dalam masyarakat berbahasa Sunda di Pulau Jawa bagian barat. Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.

Anak-anak Jawa Barat bermain angklung di awal abad ke-20.

Tidak ada petunjuk sejak kapan angklung digunakan, tetapi diduga bentuk primitifnya telah digunakan dalam kultur Neolitikum yang berkembang di Nusantara sampai awal penanggalan modern, sehingga angklung merupakan bagian dari relik pra-Hinduisme dalam kebudayaan Nusantara.

Catatan mengenai angklung baru muncul merujuk pada masa Kerajaan Sunda (abad ke-12 sampai abad ke-16). Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip). Masyarakat Baduy, yang dianggap sebagai sisa-sisa masyarakat Sunda asli, menerapkan angklung sebagai bagian dari ritual mengawali penanaman padi. Permainan angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.

Jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah bambu hitam (awi wulung) dan bambu putih (awi temen). Tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk bilah (wilahan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.

Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.

Anak-anak Memainkan Angklung
Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.

Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.

Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.

Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.

Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain : Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.

Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah : indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk.

Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual. Pembuat angklung di Cikeusik yang terkenal adalah Ayah Amir (59), dan di Cikartawana Ayah Tarnah. Orang Kaluaran membeli dari orang Kajeroan di tiga kampung tersebut.

Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan jakarta, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.

Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang.

Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.


Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung).


Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.

Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam. Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng.

Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.

Buncis merupakan seni pertunjukan yang bersifat hiburan, di antaranya terdapat di Baros (Arjasari, Bandung). Pada mulanya buncis digunakan pada acara-acara pertanian yang berhubungan dengan padi. Tetapi pada masa sekarang buncis digunakan sebagai seni hiburan. Hal ini berhubungan dengan semakin berubahnya pandangan masyarakat yang mulai kurang mengindahkan hal-hal berbau kepercayaan lama. Tahun 1940-an dapat dianggap sebagai berakhirnya fungsi ritual buncis dalam penghormatan padi, karena sejak itu buncis berubah menjadi pertunjukan hiburan. Sejalan dengan itu tempat-tempat penyimpanan padi pun (leuit; lumbung) mulai menghilang dari rumah-rumah penduduk, diganti dengan tempat-tempat karung yang lebih praktis, dan mudah dibawa ke mana-mana. Padi pun sekarang banyak yang langsung dijual, tidak disimpan di lumbung. Dengan demikian kesenian buncis yang tadinya digunakan untuk acara-acara ngunjal (membawa padi) tidak diperlukan lagi.

Angklung Buncis
Nama kesenian buncis berkaitan dengan sebuah teks lagu yang terkenal di kalangan rakyat, yaitu cis kacang buncis nyengcle…, dst. Teks tersebut terdapat dalam kesenian buncis, sehingga kesenian ini dinamakan buncis.

Instrumen yang digunakan dalam kesenian buncis adalah 2 angklung indung, 2 angklung ambrug, angklung panempas, 2 angklung pancer, 1 angklung enclok. Kemudian 3 buah dogdog, terdiri dari 1 talingtit, panembal, dan badublag. Dalam perkembangannya kemudian ditambah dengan tarompet, kecrek, dan goong. Angklung buncis berlaras salendro dengan lagu vokal bisa berlaras madenda atau degung. Lagu-lagu buncis di antaranya : Badud, Buncis, Renggong, Senggot, Jalantir, Jangjalik, Ela-ela, Mega Beureum. Sekarang lagu-lagu buncis telah menggunakan pula lagu-lagu dari gamelan, dengan penyanyi yang tadinya laki-laki pemain angklung, kini oleh wanita khusus untuk menyanyi.

Dari beberapa jenis musik bambu di Jawa Barat (Angklung) di atas, adalah beberapa contoh saja tentang seni pertunjukan angklung, yang terdiri atas : Angklung Buncis (Priangan/Bandung), Angklung Badud (Priangan Timur/Ciamis), Angklung Bungko (Indramayu), Angklung Gubrag (Bogor), Angklung Ciusul (Banten), Angklung Dog dog Lojor (Sukabumi), Angklung Badeng (Malangbong, Garut), dan Angklung Padaeng yang identik dengan Angklung Nasional dengan tangga nada diatonis, yang dikembangkan sejak tahun 1938. Angklung khas Indonesia ini berasal dari pengembangan angklung Sunda. Angklung Sunda yang bernada lima (salendro atau pelog) oleh Daeng Sutigna alias Si Etjle (1908—1984) diubah nadanya menjadi tangga nada Barat (solmisasi) sehingga dapat memainkan berbagai lagu lainnya. Hasil pengembangannya kemudian diajarkan ke siswa-siswa sekolah dan dimainkan secara orkestra besar.



Baca juga cara memainkan angklung klik di sini !!

 
Sumber: http://kolom-lyrics.blogspot.com/2011/11/ 

INILAH ADAT BUDAYA BALI YANG MULAI RAPUH DAN PUNAH

Indoborneonatural--Siapa yang tidak kenal Bali, nama Bali tidak hanya terkenal di Nusantara tetapi telah mendunia, menjadi tempat kunjungan wisata pavorit bagi wisatawan manca negara. Bali terkenal dengan Keindahan Pesona wisatanya dengan alam yang sangat indah serta seni budaya yang kaya dengan nilai-nilai artistik dan spritual yang tinggi. Tetapi dari sekian banyak kebudayaan yang ada di Bali ternyata ada beberapa budaya Bali yang mulai punah, dan hampir tidak dikenal generasi selanjutnya yang cenderung modern berkepribadian masyarakat maju. Berikut ini beberapa Adat atau budaya Bali yang mulai hilang dan punah.

A. Contoh budaya Bali yang sudah Hilang
 
1. Arsitektur Rumah Bali yang Hilang

Dari jaman dahulu para undagi Bali sangat ketat dan taat mengikuti aturan atau pakem dalam mendirikan bangunan, sehingga aturan pembangunan di Bali seperti dikenal dalam rontal Asta Kosala Kosali atau Asta Petali. Undagi jaman dahulu tidak berani keluar dari konsep yang telah digariskan oleh para leluhurnya, sehingga dikenal adanya konsep tata ruang Tri Loka atau Tri Angga, yakni membagi areal hunian menjadi tiga yaitu nista, madya dan utama atau bhur,bwah dan swah yang akhirnya menjadi konsep Tri Hita Karana dan akhirnya melahirkan konsep orientasi kosmologi yang disebut Nawa Sanga atau Sanga Mandala, hingga konsep keseimbangan kosmologi yang disebut Manik Ring Cucupu.

Pembangunan selalu selaras dengan alam sekelilingnya dengan memperhatikan faktor lingkungan. Di jaman dahulu orang menggunakan sikut, sehingga bangunan yang akan dibuat sesuai dengan proporsi pemiliknya, menjadi nyaman dan menyenangkan, karena selaluruang terbuka yang di sebut natah dan adanya pengaturan waktu dalam penyediaan bahan bangunan, sehingga keseimbangan dan kelestarian alam tetap terjaga.

Mungkin suatu saat nanti, semua ajaran adi luhung leluhur tentang arsitektur akan menjadi suatu sejarah, karena sudah tidak ada yang mengikuti, sudah kuno atau sudah ketinggalan jaman. Semua bangunan pada jaman ini dibuat secara praktis, ekonomis dan kalau seandainya bisa, mengerjakan bangunan ingin dapat diselesaikan dalam waktu semalam. Pengerjaan bangunan tanpa memandang lagi pakem yang sudah pernah ada, semua dihantam rata. Tidak perlu mencari hari baik untuk memulai pekerjaan, apalagi untuk mencari bahan bangunan. Arsitektur bangunan sudah tidak mencerminkan Bali, terutama di pusat kota. Kalaupun harus bercirikan Bali, akan terlihat beberapa tempelan hiasan Bali dibeberapa sudut bangunan yang berkesan terlalu dipaksakan. Kalaupun Bali masih peduli dan ingin untuk melestarikan budaya dan arsitekturnya, tentulah tidak terlambat. Masih dapat diselamatkan, terutama jika ada niat dan tekad yang kuat dari orang Bali itu sendiri dan juga Pemerintah Daerah sebagai badan yang memiliki wewenang kontrol dapat melakukan pekerjaannya dengan konsekuen. Arsitektur Bali dan para undagi selayaknya juga menyediakan bentuk dan design rumah sederhana bercirikan Bali, menyediakan ragam gambar yang banyak, sehingga masyarakat dapat menirunya atau memperoleh ilham dan ide ketika mereka membangun.

Kalau mau jujur,masyarakat kebanyakan tidak mengerti tentang apa yang dimaksud dengan arsitektur Bali, apakah menyangkut bentuk atap, bentuk bangunan, hiasan ornamen atau bahan bangunan yang dipergunakan. Seandainya orang Bali sudah tidak berminat lagi untuk mempergunakan arsitektur Bali, maka Bali akan menjadi asing di tanahnya sendiri. Karena perkembangan jaman dan perkembangan manusia, bangunan bertingkat tinggi akan segera merambah Bali. Kalau bangunan tingkat tinggi sudah merupakan suatu keharusan, karena menyelamatkan lahan dan menyikapi harga tanah yang mahal, maka Bali tidak ada bedanya dengan kota besar lainnya dan akan berubah menjadi kota metropolitan. Memang akan sangat disayangkan, namun itulah kenyataannya. Arsitektur Bali yang tersisa mungkin hanya terdapat pada bangunan Pura yang tetap bertahan selaras dengan perkembangan agama Hindu di Bali.

2. Penggak” Orang Bali yang Hilang
Dahulu orang Bali dipedesaan mengenal istilah penggak, penggak merupakan sebuah tempat seperti Warung dan "posko" sekarang yang berada di pojokan Banjar. Penggak merupakan sebuah wadah informal yang biasa dipakai oleh masyarakat untuk berdiskusi dan melakukan kegiatan sebelum melaksanakan rapat di Banjar. Biasanya dari penggak ini muncul ide-ide baru yang akan dibicarakan pada rapat Banjar. Wadah seperti itu sudah beralih menjadi Posko partai politik yang memanfaatkan Penggak sebagai pencarian "Masa /pendukung". Penggak sekarang sudah hilang. hilang fungsi utama, dan hilang juga kreativitas didalamnya untuk memunculkan ide-ide baru.

B. Contoh budaya Bali yang sudah rapuh

(a) Eksistensi Desa Adat Di Bali Rapuh
Eksistensi dan implementasi desa pakraman atau desa adat di Bali kini terancam rapuh, ditandai banyaknya kasus atau konflik adat, seperti pertikaian kelompok warga antarbanjar atau dusun dalam satu desa maupun dengan desa lainnya."Banyaknya kasus adat seperti yang terjadi di Desa Pakudui, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar, merupakan bukti rapuhnya eksistensi desa pakraman," kata Plt Bendesa Agung Desa Pakraman Dewa Gede Ngurah Suasta. Konflik memuncak ketika prosesi pengusungan jenazah seorang warga Banjar Pakudui Kangin, dihadang oleh warga Banjar Pakudui Kauh. Menurut Ngurah Suasta, keberadaan desa pakraman rapuh saat dasar desa adat itu, yakni ajaran agama Hindu, mulai banyak dilupakan oleh masyarakatnya. "Warga banyak yang mulai tidak patuh menjalankan ajaran yang seharusnya menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari," ujarnya.

(b) Eksistensi Subak di Bali Rapuh
Subak sedang menghadapi bermacam tantangan, lebih-lebih dalam menyongsong era globalisasi yang jika tidak teratasi maka kelangsungan hidup subak bias terancam. Tantangan-tantangan tersebut antara lain:

1) Persaingan dalam pemasaran hasil-hasil pertanian yang semakin tajam.
Akan tiba saatnya bahwa Indonesia harus terbuka terhadap masuknya komoditi pertanian yang diproduksi di luar negari. Sektor pertanian pun mau tidak mau harus terbuka untuk investasi asing dan dituntut agar mampu bertahan pada kondisi persaingan bebas tanpa subsidi dari pemerintah. Malahan sekarang saja pasar-pasar swalayan di beberapa kota besar termasuk Denpasar sudah mulai kebanjiran produk-produk pertanian seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan daging yang dihasilkan petani negara asing yang dapat menggeser kedudukan produksi pertanian yang dihasilkan oleh petani-petani negeri kita sendiri. Untuk mampu bersaing dalam pasar ekonomi global maka mutu hasil –hasil pertanian kita perlu ditingkatkan. Ini berarti bahwa mutu sumberdaya manusia termasuk para petani produsen perlu terus ditingkatkan agar menjadi lebih profesional, efisien dan mampu menguasai serta memanfaatkan teknologi. Para petani anggota subak selama ini masih bertindak sendiri-sendiri secara individual dalam berusahatani. Padahal, mereka tergolong petani gurem dengan luas garapan yang sempit, permodalan yang terbatas dan posisi tawar yang sangat lemah. Mereka belum memanfaatkan kelembagaan subak sebagai wadah bersama untuk melakukan kegiatan usahatani yang lebih berorientasi agribisnis. Dalam menghadapi persaingan yang semakin tajam maka seharusnya para petani bersatu melalui suatu wadah yang sudah ada yaitu subak dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan yang lebih berorientasi agribisnis bukan sekedar menggunakan wadah subak itu hanya untuk tujuan operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi.

2) Menciutnya areal persawahan beririgasi akibat alih fungsi.
Salah satu tantangan yang dihadapi subak adalah menciutnya lahan sawah beririgasi sebagai akibat adanya alih fungsi untuk kegiatan non-pertanian. Di Bali dalam beberapa tahun belakangan ini areal persawahan yang telah beralih fungsi diduga mencapai 1000 ha per tahun. Penciutan areal sawah ini sungguh pesat, lebih-lebih di lokasi yang dekat kota karena dipicu oleh harga yang cenderung membubung tinggi. Nampaknya petani pemilik sawah di daerah sekeliling kota cenderung tergoda oleh tawaran harga tanah yang tinggi. Sebab, jika dibandingkan dengan mengusahakan sendiri untuk usahatani hasilnya sungguh tidak seimbang. Petani mungkin lebih memilih mendepositokan uang hasil penjualan tanahnya itu di bank dan tinggal menerima bunganya tiap bulan yang bisa jadi jauh lebih besar dibandingkan dengan hasil usahataninya. Andaikata penyusutan areal persawahan di Bali berlanjut terus separti sekarang ini dikhawatirkan organisasi subak akan terancam punah. Jika subak hilang apakah kebudayaan Bali dapat bertahan karena diyakini bahwa subak bersama lembaga sosial tradisional lainnya seperti banjar dan desa adat merupakan tulang punggung kebudayaan Bali. Dalam kaitan ini para petani anggota subak perlu dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut masalah pengalih fungsian lahan sawah yang berada dalam wilayah subak mereka.

3) Ketersediaan air semakin terbatas.
Meningkatnya pendapatan masyarakat dan jumlah penduduk serta pembangunan di segala bidang terutama pemukiman dan industri pariwisata di Bali menuntut terpenuhinya kebutuhan air yang terus meningkat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Ini mengisyaratkan bahwa air menjadi sumber daya yang semakin langka. Persaingan yang menjurus ke arah konflik kepentingan dalam pemanfaatannya antara berbagai sektor terutama sektor pertanian dan non pertanian cenderung meningkat di masa-masa mendatang. Belum adanya hak penguasaan air yang dimiliki oleh para pengguna merupakan salah satu sebab pemicu konflik pemanfaatan air. Hal ini dapat dimengerti karena air yang selama ini dimanfaatkan lebih banyak untuk pertanian, sekarang dan di masa depan harus dialokasikan juga ke sektor non pertanian. Mengingat air menjadi semakin langka maka para petani anggota subak dituntut untuk mampu mengelola air secara lebih efisien dan demikian pula para pemakai air lainnya agar mampu mengembangkan budaya hemat air.
4) Kerusakan lingkungan khususnya pencemaran sumber daya air.
Di beberapa tempat telah muncul keluhan-keluhan dari masyarakat petani tentang adanya pencemaran lingkungan khususnya sumberdaya air pada sungai dan saluran irigasi akibat adanya limbah industri dan limbah dari hotel serta pemukiman. Kecenderungan menurunnya kualitas air ini akan meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah industry yang mengeluarkan limbah beracun yang disalurkan melalui sungai maupun saluran irigasi. Dalam kaitan ini subak dituntut untuk mampu berperan aktif dalam upaya menjaga kelestarian lingkungan.

5) Penyerahan kembali tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi kepada petani.
Karena semakin terbatasnya kemampuan pemerintah baik dari segi personil maupun pendanaan untuk melakukan kegiatan operasi dan pemeliharaan (OP) jaringan irigasi, maka pemerintah telah mengambil seperangkat kebijaksanaan yang pada dasarnya memberikan tanggung jawab pengelolaan jaringan irigasi kepada para petani yang tergabung dalam P3A/subak. Untuk jaringan irigasi di atas 500 ha para petani diwajibkan membayar Iuran Pelayanan Irigasi (IPAIR). Sedangkan untuk yang di bawah 500 ha diserahkan sepenuhnya kepada P3A/subak melalui program Penyerahan Irigasi Kecil (PIK). Adanya tuntutan finansial akibat tanggung jawab memikul beban OP jaringan irigasi maka subak seharusnya mampu meningkatkan kesejahteraan anggotanya melalui berbagai kegiatan pengumpulan dana bersama. Misalnya, dengan memanfaatkan lembaga subak sebagai wahana untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berorientasi ekonomi/ agribisnis.

6) Berkurangnya minat pemuda untuk bekerja sebagai petani.
Ada kecenderungan bahwa berusahatani di sawah dianggap tidak lagi dapat mendukung peningkatan kesejahteraan petani dibandingkan dengan bekerja di sektor industry dan jasa khususnya yang berkaitan dengan pariwisata. Hal ini disebabkan karena sempitnya luas tanah garapan dan rendahnya nilai tukar petani. Bekerja di luar sektor pertanian cenderung lebih menarik dibandingkan jadi petani yang serba bergelimang lumpur dan penuh resiko akibat kegagalan panen dan fluktuasi harga. Dapat dimengerti kalau pemuda-pemuda desa dari keluarga petani cenderung meninggalkan orang tua mereka dan pergi ke kota mencoba mencari pekerjaan yang lebih bergengsi. Dapat diduga pula bahwa dalam beberapa tahun mendatang yang tinggal di daerah pedesaan bekerja sebagai petani adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut yang tentunya kurang produktif lagi. Kecenderungan ini kiranya dapat berimplikasi negatif terhadap kehidupan subak itu sendiri. Subak sebagai organisasi petani dituntut untuk mampu menciptakan kondisi yang dapat menarik kaum muda untuk bekerja sebagai petani modern dan profesional.

7) Kesenian Gambuh Dikhawatirkan Rapuh/Punah
Berbagai upaya dilakukan dalam mengembangkan dan melestarikan kesenian Bali, namun sejumlah tarian masa kuno dikhawatirkan punah karena tidak ada generasi penerus yang mewarisinya. “Kesenian gambuh misalnya, selain senimannya sudah sangat langka, pementasannya juga kurang menarik generasi muda masa kini,” kata Dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, I Nyoman Carita SST, MFA di Denpasar, Kamis. Alumnus Program S-2 Bidang Studi Koreografi University Of California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat itu mengatakan, pihaknya sedang melakukan revitalisasi tari gambuh bersama seorang tokoh seniman di kampung kelahirannya Desa Singapadu, Kabupaten Gianyar. Tari Gambuh yang menjadi inspirasi dan sumber gerak tari Bali lewat proses revitalisasi bersama seorang tokoh seniman setempat I Ketut Muji (64), diharapkan mampu menyiasati dalam mengkolaborasikan dengan unsur seni lain. Upaya itu diharapkan mampu menciptakan gerakan-gerakan tari yang bermutu, dengan tetap memegang teguh nilai-nilai tradisi dalam kesenian Bali. Kesenian gambuh, sumber dari semua gerak dan tari Bali, dengan kemasan yang baru dalam pertunjukan drama tari hasil revitalisasi diharapkan mampu menarik minat anak-anak muda, sekaligus menjawab kekhawatiran akan punahnya jenis kesenian masa lampau tersebut. Hasil revitalisasi tersebut dengan tetap dalam kemasan yang sarat dengan seni budaya Bali, namun penyuguhannya lebih menarik bagi masyarakat penonton, termasuk wisatawan maupun masyarakat internasional. 

Demikianlah tentang adat budaya Bali yang mulai rapuh dan punah, semoga kita dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang menjadi warisan leluhur kita, dan menjadi salah satu aset kekayaan bangsa dan negara. Terimakasih.

Sumber : rinaaudina.blogspot.co.id

CARA PERAWATAN BATU AKIK RED BORNEO KALIMANTAN

Red Borneo
Indoborneonatural--Batu permata red borneo termasuk tipe batu akik dari jenis batu yang bisa berproses mengalami mutasi  seiring dengan berjalannya waktu. Batu red borneo asli berasal dari pulau kalimantan, karenanya diberi nama Red Borneo. Red karena batunya berwarna merah dan nama borneo adalah Kalimantan nama lain dari pulau tersebut. Selama ini selain batu red borneo, telah banyak dikenal batu indah lainnya yang ditemukan di pulau Kalimantan seperti batu akik, kecubung amethys, kecubung kopi, Kecubung ungu Pankalambun, zamrud, Intan (Martapura), berlian dan lain sebagainya.

Red borneo yang pamornya semakin populer ketika boming mata permata tahun 2015 ini, banyak menjadi incaran kolektor baik dalam dan luar negeri. Keindahan batu red borneo terletak dari warnanya yang merah, serta motiv serat batu yang artistik estetikanya penuh dengan nilai seni. Batu red borneo banyak dijual di toko-toko dan pengrajin batu di Kalimantan terutama di provinsi kalimantan selatan, diwilayah Banjarmasin dan kabupaten Banjar martapura. Harga batu tersebut bervariasi tergantung ukuran, serat dan kwalitas bahan batu. Umumnya dijual dikisaran harga IDR 100 ribu - 1juta rupiah untuk ukuran sedang. Sebagaimana kita ketahui bahwa batu permata, termasuk juga batu akik Red Borneo ini merupakan jenis batu yang tercipta secara alami dalam perut bumi, yang di dapatkan dengan penggalian dan penambangan dari dalam tanah dan pegunungan di Kalimatan. Dari asalnya Red Borneo terbentuk terdiri dari beberapa unsur kimiawi, sehingga menghasilkan batu permata bervariasi baik warna, corak termasuk kualitas. Ada batu Red Borneo yang bersifat rapuh dengan tingkat kekerasan rendah, ada juga Red Borneo yang sangat kuat dan keras.
Bongkahan Batu Red Borneo

Untuk anda penggemar batu red borneo dan ingin tahu cara perawatannya, tips mudah di bawah ini bisa menjadi rujukan.

  1. Jika batu sudah naik ring, sebaiknya dipakai setiap hari adalah yang terbaik.
  2. Olesi minyak zaitun secara teratur untuk merawat warna.
  3. Bila batu belum diikat cincin, rendam batu dengan cairan alami seperti air mineral, air ledeng.
  4. Jangan terlalu lama menjemur batu, karena bisa crack.

Cara Merawat Red Borneo dengan Air Jeruk Nipis

Secara kimia jeruk nipis dapat melakukan reduksi terhadap beberapa senyawa yang ada di dalam batu. Diantaranya adalah mampu untuk menghilangkan kandungan yang telah mengalami oksidasi. Seperti besi, megnesium, dan kalsium. Kandungan tersebut terkadang datang sebagai senyawa pengotor yang memperburuk penampilan dari red borneo.

Adapun cara menggunaka Jeruk Nipis dalam merawat batu red borneo adalah sebagai berikut :

- Sediakan sebuah air hujan secukupnya di dalam sebuah wadah
- Masukan potongan jeruk nipis kedalam air rendaman
- Aduk dan tekan-tekan jeruk hingga keluar aroma jeruk nipisnya
- Masukan batu red borneo, dan tutup rapat
- Lakukan penggantian air jeruk nipis ini dalam 2 hari sekali.
- Lakukan perendaman ini kurang lebih selama 4 hari.

Setelah direndam dalam larutan jeruk nipis maka dapat dimasukan ke dalam treatment warna menggunakan air kelapa muda. Dalam penggunaan air kelapa muda, disarankan untuk berhati-hati, dan perhatikan dengan seksama secara berkala perkembangan batu yang kita rendam. Bisa dalam sekala 3 jam sekali atau 4 jam sekali. Hal ini mengantisipasi jika kekerasan dan kepadatan dari batu red borneo milik kita berada dibawah 6 sekala Mohs.

Air kelapa muda cukup untuk membangkitkan dan memperkuat warna pada batu. Karena terdapat kandungan anti-oksidan, maka proses yang ada di dalam batu akan diperlambat. Saat proses oksidasi diperlambat, beberapa senyawa kotoran yang ada di dalam batu juga akan dikeluarkan oleh air kelapa. Hingga proses pembersihan dan keluarnya kapur dan kandungan besi bisa lebih cepat dan red borneo kita akan semakin merah dan berkilau.

Demikian semoga tentang cara perawatan batu red borneo Kalimaantan ini, semoga bermanfaat. terimakasih.

Cari Artikel