JALAN-JALAN KE ARANIO RIAM KANAN KABUPATEN BANJAR

Indoborneonatural-----jalan-jalan ke Aranio dan Riam kanan, di Kabupaten Banjar Kalimatan Selatan. Aranio adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Menikmati pemandangan bendungan dan waduk riam kanan,  Ada beberapa destinasti WISATA yang menarik, selain tempat memancing yang memang selama ini jadi tujuan utama, juga ada keindahan lain. Menikmati pemandangan bendungan dan danau buatan yang dipenuhi perahu-perahu kelotok kecil telah menjadikan suasana berwisata ini semakin berkesan.



Pemadangan tepian danau saat air surut, memberikan nuansa tersendiri yang cukup menarik untuk dinikmati. 


Selain pemandangan yang indah untuk dinikmati jalan-jalan, juga menjadi backround yang bagus untuk berfoto-foto bersama. 






SENI TRADISI BALAMAUT DARI KALIMATAN SELATAN

Indoborneonatural----Lamut adalah Lamut atau Balamut, sebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar.

Balamut adalah sebuah tradisi bercerita yang berisi pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Cerita ini diiringi ilustrasi musik yang dibawakan sendiri oleh sang penutur yang disebut palamutan, menggunakan alat musik tabuh yang dinamakan terbang.

Lamut juga merupakansebuah tradisi berkisah yang berisi cerita tentang pesan dan nilai-nilai keagamaan, sosial dan budaya Banjar. Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau cianjuran. Bedanya, wayang atau cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.


Seni Balamud

Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah. Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti Dundam, Madihin, Bakesah, dan Bapantun.

Pelaksanaan Lamut akan dilakukan pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00 atau menjelang subuh tiba. Pembawa cerita dalam Lamut ini diberi julukan Palamutan. Pada acara, Palamutan dengan membawa terbang besar yang diletakkan dipangkuannya duduk bersandar di tawing halat (dinding tengah), dikelilingi oleh pendengarnya yang terdiri dari tua-muda laki-perempuan. Khusus untuk perempuan disediakan tempat di sebelah dinding tengah tadi. 


Sejarah

Lamut berasal dari negeri China, bahasanya pun semula menggunakan bahasa Tionghoa kemudian di terjemahkan kedalam bahasa Banjar. Datangnya lamut di tanah Banjar kira-kira pada tahun 1816 yang di bawa oleh para pedagang Tionghoa ke Banjar hingga ke Amuntai, konon orang-orang dulu sangat menyukainya karena lamut membawa cerita yang sangat banyak dan merupakan cerita pengalaman di banyak negeri yang di sampaikan secara bertutur.

Ceritanya, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay. Dari pedagang itulah ia pertama kali mendengar alunan syair China. Dalam pertemuan enam bulan kemudian, Raden Ngabe mendapatkan salinan syair China tersebut.

Sejak itulah Raden Ngabe mempelajari dan melantunkannya, tanpa iringan terbang. Lamut mulai berkembang setelah warga minta dimainkan setiap kali panen padi berhasil baik. Ketika kesenian hadrah masuk di daerah ini, Lamut mendapat iringan terbang.

Seni bertutur itu disebut lamut karasmin karena menjadi hiburan pada perkawinan, hari besar keagamaan, maupun acara nasional. Lamut juga digunakan dalam proses batatamba (penyembuhan penyakit). Orang yang punya hajat dan terkabul biasanya juga mengundang palamutan. Kata "lamut", konon berasal dari bahasa Arab, laamauta (ﻻﻤﻭﺕ) yang artinya tidak mati. 

Macam-macam Lamut

Lamut Batatamba

Lamut Batatamba (Lamut pengobatan) berfungsi sebagai pengobatan, misalnya untuk anak yang sakit panas yang tidak sembuh-sembuh, atau ada orang yang sulit melahirkan dan lain-lain. pertunjukan lamut batatamba haus disertai dengan sejumlah persyaratan, yaitu piduduk yang terdiri dari perangkat piduduk (sesaji), kemenyan atau perapin (dupa), beras kuning, garam, kelapa utuh, gula merah, dan sepasang benang-jarum. Setelah itu dilakukan tepung tawar dengan mahundang-hundang (mengundang) roh halus, membacakan doa selamat, dan memandikan air yang telah didoakan kepada si sakit.

Lamut Baramian

Lamut Baramian (Lamut Hiburan) biasa dihadirkan untuk mengisi acara perkawinan, syukuran, khitanan dan acara hiburan lainnya.

Bila pada wayang ada tokoh punakawan yang terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, pada Lamut tokohnya adalah Paman Lamut serta tiga anaknya; Anglung, Angsina, dan Labai Buranta. Sedangkan ceritanya sudah berpakem seperti wayang purwa, tentang kerajaan yang dipimpin Prabu Awang Selenong.

Meski tokoh dan pakem cerita lamut tertentu, pengembangan cerita tetap dimungkinkan sesuai kemampuan si pelamutan dalam meramu. Ramuan cerita itu bisa disadur dari kisah Panji, Andi-andi, atau Tutur Candi, bahkan cerita 1.001 malam. Kisah juga bisa menjadi dramatis dengan lakon yang gagah berani atau romantis.

Masyarakat Banjar paling mengharapkan kisah percintaan antara Junjung Masari dan Kasan Mandi. Para penonton hanyut ketika mendengar kisah percintaan kedua tokoh itu dalam syair pantun bahasa Banjar.

Lamut juga digemari warga keturunan Tionghoa di Banjarmasin. Mereka kerap minta lamut dimainkan saat hendak sembahyang di Pulau Kembang di tengah Sungai Barito di Banjarmasin. 

Fungsi Lamut

Pada masyarakat khususnya masyarakat Banjar Kalimatantan Selatan, Lamut berfungsi antara lain sebagai :
  1. Media dakwah agama Islam dan muatan pesan–pesan pemerintah atau pesan dari pengundang Lamut.
  2. Seni hiburan
  3. Manyampir, yaitu tradisi bagi keturunan palamutan.
  4. Hajat seperti untuk tolak bala atau doa selamat pada acara kelahiran anak, khitanan atau sunatan, mendapat rejeki. Menurut kepercayaan, kalau menyampir dan hajat ini tidak dilaksanakan maka akan membuat mamingit yakni menyebabkan sakit bagi yang bersangkutan.
  5. Sebagai Media pendidikan dan pembelajaran terutama mengenai tata krama kehidupan masyarakat Banjar. Biasanya petatah petitih berupa nasihat, petuah atau bimbingan moral.


Terancam punah

Seni lamut bisa dikatakan bernasib malang karena kini di ambang punah. Satu per satu pelamutan meninggal dunia, sementara proses pewarisan dan regenerasi kesenian itu mandek. Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya. Jika dilihat di masyarakat khususnya masyarakat Kalimantan, Kini, tak ada organisasi atau lembaga yang peduli kepada lamut, apalagi membina munculnya pelamutan baru. 

Baca juga Palamatuan Terakhir di Banua Banjar !!

Regenerasi Palamutan memang sangat perlu dilakukan. Memang sich ada sebagian anak muda yang belajar Balamut, tetapi mereka masih kurang berani menampilkannya dalam berbagai kegiatan yang ada. Kita membutuhkan generasi yang peduli dengan seni budaya tradisional, khususnya balamut ini. agar tidak punah digerus arus perkembangan jaman.


CERITA ASAL NAMA GOA LIANG TAPAH DI KECAMATAN JARO KABUPATEN TABALONG KALSEL

Indoborneonatural----- Cerita Asal Nama Goa Liang Tapah - Kecamatan Jaro berada dibagian paling utara Kabupaten Tabalong, terdiri dari 9 desa, yaitu Desa Namun, Muang, Teratau, Purui, Nalui, Jaro. Garagata, Solan dan Lano. Kecamatan jaro memang daerah yang memiliki banyak obyek wisata tersebut kurang terpelihara, sehingga tidak banyak dikunjungi oleh wisatawan dalam maupun luar daerah.

Goa Liang Tapah
Tetapi akhir-akhir ini ada Goa Liang Tapah yang mulai banyak dikunjungi wisatawan, walaupun belum tertata rapi. dan harus menjadi perhatian bagi pengelola. Dibalik itu semua, yang menarik dario Goa Liang Tapah ini adalah penamaan yang dikaitkan adanya kepercayaan sebagian masyarakat desa sekitar. Mereka memberi nama Goa Liang Tapah bukan karena alasan, dan itulah yang menjadikan kita merasa penasaran mendengar nama Liang Tapah.

Memang kita kenal Tapah adalah salah satu spesies ikan lokal yang merupakan ikan air tawar terbesar di Indonesia, apabila mencapai ukuran optimal baik panjang maupun lebarnya, ikan tapah dapat mencapai 2,4 meter sehingga menjadikannya sejenis ikan raksasa dan termasuk ikan yang ganas pemakan daging, bahkan menurut sebagian orang ikan ini bersipat kanibal terhadap sesama, dan juga bisa menyerang manusia. 

Jika kita telusuri lebih jauh asal usul penamaan Liang Tapah tersebut di daerah asalnya, kita tidak terlalu sulit mencari informasi tentang hal itu, karena memang masyarakat desa disekitar Goa Liang Tapah sudah sejak lama mengetahui dan percaya adanya terdapat ikan tapah disitu, karena dalam Goa tersebut dilalui sebuah sungai kecil yang mengalir sepanjang Goa. sehingga tidak mustahil jika ada ikan tapah masuk goa itu.

Menurut keterangan dan cerita-cerita dari masyarakat sekitar, khususnya masyarakat di Kecamatan Jaro Kabupaten Tabalong, pada masa di sungai yang melintasi Goa yang berlokasi di kaki gunung Garagata itu memang dihuni oleh banyak ikan, diantaranya ikan tapah tersebut. Menurut cerita yang telah turun temurun ikan Tapah yang ada di sungai dalam Goa Liang Tapah sangat besar, sehingga tidak bisa lagi berbalik badan untuk keluar dan sampai sekarang masih hidup, tetapi sangat misterius. Kita hanya melihat pada saat-saat tertentu saja. Terkadang ia muncul malam hari dengan matanya yang memancarkan cahaya yang sangat terang, sehingga anak-anak harus berhati-hati masuk ke dalam Goa Liang Tapah tersebut. 

Warga sekitar sering memperingatkan bahaya masuk sendiri ke Goa Liang Tapah itu, atau tidak perlu masuk kalau tidak ingin mendapat bahaya, ditakutkan ikan Tapah itu akan muncul saat air sungai meluap, begitu penuturan seorang tua yang penulis temui yang menjadi penduduk penghuni Asli di daerah tersebut yang ada di kaki gunung Garagata tersebut. 


DAFTAR NAMA DAN FOTO MASJID DI BARITO KUALA KALIMANTAN SELATAN

Indoborenonatural----Daftar nama dan foto-foto masjid di Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan.


  1. Masjid Al- Azhar Desa Puntik Luar Kecamatan Mandastana Kabupaten Barito Kuala.
  2. Masjid Agung Al-Anwar di Jl. Panglima Wangkang, Kabupaten Barito Kuala.
  3. Masjid Al-Anwari Muhjirin di Badandan, Cerbon, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala.
  4. Masjid Al-Furqon, Alalak di Berangas Timur, Alalak, Kabupaten Barito Kuala,
  5. Masjid Al-Mushollun di Handil Bhakti Kabupaten Barito Kuala,
  6. Masjid At-Taqwa Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  7. Masjid Baitul Mustaqim di Bantul, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  8. Masjid Jami Miftahul Huda di Desa Beringin, Kabupaten Barito Kuala,
  9. Masjid Nurul Hasanah di Barambai, Marabahan, Kabupaten Barito Kuala,
  10. Masjid Jamhuri Aisyah  Jl. Trans Kalimantan, Handil Bakti, Alalak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan 70581
  11. Masjid Bustanul Muhibbin Berangas Timur, Alalak, Berangas Tim., Barito Kuala, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan 70582
  12. Masjid Utsman Bin Affan 
  13. Masjid Anjir Pasar Owner Agrabudi Group Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan


INILAH CARA-CARA TRADISIONAL MENANGKAP IKAN DI DAERAH KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural----Cara-cara tradisional serarta cara alami menangkap ikan di Kalimantan Selatan. 


1. Maunjun


Maunjun dalam bahasa Indonesia yaitu memancing. Cara ini yang paling umum dilakukan masyarakat dalam menangkap ikan. Maunjun yaitu menangkap ikan dengan menggunakan sebuah bilah (biasanya terbuat dari pelapah daun salak atau bisa juga menggunakan baatang bambu kecil) yang di ujung bilah tersebut diikat sebuah tali nilon yang di ujung tali diberi kawat. Namun seiring perkembangan jaman maunjun/memancing sekarang ini sudah banyak menggunakan peralatan-peralatan pancing yang lebih canggih.

2. Manyundak
Cara ini biasanya sering dilakukan oleh masyarakat Banjar Pahuluan. Manyundak adalah cara menangkap ikan dengan menggunakan sebuah alat yang dinamakan sundakan/katikan dan juga sebuah kaca mata untuk menyelam. Orang yang menangkap ikan dengan cara ini harus pandai menyelam, karena untuk menangkap ikan harus menyelam ke dalam air (sungai) mencari tempat persembunyian ikan. Biasanya masyarakat menggunakan cara ini untuk menangkap ikan ketika musim kemarau. Mengapa demikian?, karena untuk melihat ikan di dalam air kondisi airnya harus jernih dan air jernih hanya terjadi di musim kemarau.

3. Malunta
Malunta adalah salah satu cara tradisional menangkap ikan dengan menggunakan jaring. Tehnik yang digunakan yaitu dengan melemparkan jaring ke sungai. Cara ini biasanya digunakan di sungai-sungai yang dangkal dan airnya jernih. Si pelunta biasa berjalan di tepi sungai untuk melihat-lihat tempat ikan berkumpul, apabila sudah menemukan tempat yang potensial jaring bisa dilempar ke tempat berkumpulnya ikan.

4. Malukah
Lukah adalah salah satu alat tradisional untuk menangkap ikan yang terbuat dari bambu. Bambu dibuat dengan sedemikian rupa membentuk silinder dengan panjang 1,5 meter dan dengan diameter 30 cm (lihat gambar). Cara menangkap ikan dengan alat ini yaitu dengan meletakkan lukah di jalur yang biasa dilalui ikan. Alat ini hanya bisa digunakan di sungai-sungai kecil. Setelah lukah diletakkan di tempat yang setrategis kemudian lukah didiamkan selama satu malam/hari, keesokan harinya baru diambil.


5. Maringgi
Alat yang digunakan untuk maringgi hampir sama dengan malunta, yaitu jaring namun berbedan cara pemakaiannya. Apabila jaring untuk malunta cara menggunakannya dengan melempar jaring, maka maringgi ini cukup membentangkan jaring di sungai atau danau lalu diamkan beberapa saat hingga ikan lewat dan terperangkap di rinngi tersebut.

6. Mambanjur
Mambanjur adalah tehnik menangkap ikan yang hampir sama dengan maunjun/memancing, yaitu sama-sama menggunakan bilah, benang nilon dan kail sebagai alat utamanya yang membedakan hanya cara pemakaiannya dan bilah yang digunakan lebih pendek. Cara mambanjur yaitu ketika kail sudah diberi umpan kemudian diletakkan di tempat-tempat potensial dan setelah itu ditinggalkan, biasanya ditinggalkan satu malam. Bilah yang digunakan biasanya berjumlah banyak. ikan sasaran dari tehnik ini yaitu ikan gabus atau haruan.

7. Manangguk
Cara ini yang paling sederhana dan hanya mampu menangkap ikan-ikan kecil dan udang. Alat yang digunakan dinamakan tangguk yang terbuat dari bambu yang dibentuk cekung melingkar.


Sumber: https://haruai-wirang.blogspot.com/

Resep Masakan Kue Wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalsel

Indoborneonatural----Kalimantan Selatan terkenal juga memiliki aneka ragam masakan kuliner yang enak-enak. Kue-kue atau wadai khas banjar, salah satu suku di kalimantan selatan sangat banyak ragam jenisnya, yang semuanya terkenal enak dan lezat dengan aneka rasa. Salah satu kue wadai banjar adalah Wadai Bingka kentang khas banjar Kalimantan selatan. Kue wadai Binga Kentang dengan cita rasa kentang ini sangat banyak yang menggemari. Sering ditempat-tempat penjual kue bingka cepat habis karena banyak sekali orang yang memesannya.

Kue Wadai Bingka Kentang

Nah berikut ini akan kita coba membuat Kue wadai Bingka Kentang Khas Banjar Kalimatan Selatan ini sebagai berikut:

Bahan:
- 200 gr kentang
- 5 btr telur
-  ½ sdt vanili
- 3 sdm gula pasir
- 100 ml santan kental dari 1 buah kelapa.

Cara Membuat:
- Kupas kentang, kukus sampai matang. Haluskan
- Kocok telur, vanili, dan gula sampai mengembang, masukkan kentang halus dan santan kental aduk sampai rata
- Tuang adonan ke dalam cetakan bingka bentuk bunga, yang sudah dipanaskan di atas kompor (sebelumnya alasnya sudah diberi pasir)
- Masak dengan api sedang sampai bingka matang.
Untuk 6 Orang

Tips rahasia membuat kue bingka:
Waktu membakar bingka di atas kompor, sebaiknya, atasnya ditutup dengan tutup yang terbuat dari tanah liat yang sudah dipanaskan (dibakar) diatas tungku. Supaya kue cepat matang dan merata.

MELIHAT 5 KESENIAN ASLI KOTA CIREBON DI JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah lainnya di mana kebudayaan tersebut telah diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi, kebudayaan khas Cirebon juga dilestarikan dengan baik oleh masyarakatnya.

Topeng Cirebon - Foto : Wikipedia

Kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon antara lain berupa tarian, kesenian musik, dan berbagai jenis kebudayaan lainnya yang kesemuanya sangat menarik dan sangat indah untuk dinikmati. Beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki oleh Cirebon sebagian hanya dipentaskan pada saat acara – acara tertentu seperti upacara adat, namun ada juga yang sering dipentaskan untuk menarik perhatian para wisatawan yang berkunjung ke Cirebon, berikut ini akan kami ulas beberapa kebudayaan asli Cirebon agar Anda lebih mengenalnya.

Beberapa Kesenian dan Kebudayaan Asli Kota Cirebon :

1. Tari Topeng

Salah satu kesenian yang ada di Cirebon adalah seni tari yang dikenal dengan nama tari topeng yang mana sesuai dengan namanya, sang penari akan memakai topeng, seni tari ini pada awalnya merupakan sebuah alat diplomasi yang digunakan ketika Kerajaan Cirebon sedang berperang melawan Kerajaan Karawang, sang penari dalam tarian topeng ini akan mengganti topengnya sesuai dengan karakter yang dibawakan.

2. Sintren

Kebudayaan kedua yang dimiliki oleh Cirebon adalah berupa sebuah kesenian tari yang dikenal dengan nama tari sintren di mana seni tari ini memiliki unsur magis, pada awal pertunjukan seni tari, sang penari akan diikat dari mulai leher hingga ujung kaki kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang ditutup dengan kain namun setelah itu ternyata sang penari dapat membebaskan diri dari ikatan tersebut.

tari sintren cirebon

3. Kesenian Gembyung

Kesenian ketiga yang dimiliki Cirebon adalah kesenian yang bernama gembyung di mana kesenian ini merupakan salah satu peninggalan dari dari para wali yang menyebarkan agama Islam di Cirebon. Kesenian Gembyung merupakan salah satu bentuk pengembangan dari kesenian terbang dan sering ditampilkan dalam acara – acara keagamaan yang ada di Cirebon seperti maulid, rajaban, dan syuro.

gembyung-cirebon

4. Genjring Rudat

Kesenian selanjutnya yang dimiliki oleh masyarakat Cirebon adalah sebuah kesenian yang bernama genjring rudat di mana kesenian ini merupakan sebuah kesenian yang berkembang di lingkungan pesantren. Jenis alat musik yang biasanya digunakan dalam kesenian genjring rudat antara lain genjring, bedug, dan terbang yang biasanya diiringi dengan puji – pujian kepada Allah dan rasul-Nya.

genjring-rudat

5. Angklung Bungko

Kesenian kelima sekaligus yang terakhir kami bahas di artikel ini adalah kesenian Cirebon yang dikenal dengan nama angklung bungko yang mana sering kali dipentaskan dalam acara – acara adat di antaranya nyadran, ngunjung buyut, dan berbagai jenis acara adat lainnya, dalam kesenian angklung bungko ini sang penari akan mementaskan berbagai tarian seperti tari panji, benteleye, dan tari lainnya.

angklung-cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah di Pulau Jawa khususnya Jawa Barat yang kaya akan seni budaya yang masih terus dijaga kelestariannya.

Silakan berkunjung dan berwisata kekota Cirebon untuk menikmati keindahan seni dan budaya kota Cirebon.


Sumberwww.pusakapusaka.com

PAKAIAN ADAT 34 PROVINSI DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Indoborneonatural---Pakaian adat, (juga pakaian rakyat, busana daerah, busana nasional, atau pakaian tradisional) adalah kostum yang mengekspresikan identitas, yang biasanya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Pakaian adat juga dapat menunjukkan status sosial, perkawinan, atau agama.

Jika kostum dikenakan untuk mewakili budaya atau identitas kelompok etnis atau suku bangsa tertentu, biasanya dikenal sebagai busana adat suku (juga pakaian etnis, busana etnis, atau pakaian etnis tradisional). Kostum seperti itu sering terdiri atas dua jenis: satu untuk acara sehari-hari, yang lainnya untuk festival tradisional, atau sebagai pakaian formal untuk upacara-upacara adat.

Di daerah di mana aturan berpakaian Barat sudah diadopsi menjadi kebiasaan baku, pakaian tradisional sering dikenakan hanya di acara-acara istimewa atau perayaan tertentu. Khususnya yang berhubungan dengan tradisi budaya, warisan, untuk menggambarkan identitas kebanggaan nasional atau jati diri kedaerahan. Acara internasional dapat mengakomodasi peserta non-Barat dengan kode pakaian lebih beraneka ragam, seperti "setelan bisnis atau busana nasional".(id.wikipedia.org/wiki/).


1. Ulee Balang, Nanggroe Aceh Darussalam

Gambar Pakaian adat Ulee Balang Daerah Nanggroe Aceh Darussalam

Pada jaman dahulu, sepasang pakaian adat Ulee Balang hanya digunakan oleh keluarga raja. Pria menggunakan pakaian bernama Peukayan Linto Baro, yakni atasan lengan panjang Meukasah berbahan sutra.

Serta bawahan berwarna hitam Sileuweu yang ditenun. Keduanya memiliki aksen khas atau hiasan sulaman benang mas dengan pola yang indah. Tidak lupa penutup kepala Meukeutop dan hiasan senjata khas Rencong.

Sedangkan wanita menggunakan Baju Kurung dan Celana Cekak Musang yang bentuknya teradaptasi dari kebudayaan Melayu, Cina, dan Arab.


2. Ulos, Sumatera Utara

Gambar Pakaian adat Ulos Daerah Sumatera Utara

Kain ulos merupakan bahan sutra yang ditenun dengan alat tradisional. Ulos dipakai bersama sebagai selempang baju pria yang terdiri dari jas dan sarung kain Ulos, maupun sebagai selempang di kebaya berwarna cerah untuk wanita.

Jaitan benang Ulos juga bisa ditambahkan pada aksen baju adat untuk suku Mandailing di Sumatera Utara. Ditambahkan dengan penutup kepala pria dan siger untuk wanita.


3. Bundo Kanduang, Sumatera Barat

Gambar Pakaian adat Bundo Kanduang Daerah Sumatera Barat

Suku Minangkabau di Sumatera Barat menggunakan pakaian adat yang sangat tertutup bagi pria maupun wanita. Bundo Kanduang terdiri dari celana kolor panjang dan atasan Baju Gunting Cina atau Teluk Belanga, serta penutup kepala atau peci untuk pria.

Sedangkan wanita menggunakan kain sarung dan kebaya panjang, dan penutup kepala berupa kain yang dililitkan ke kepala.


4. Melayu, Riau

Gambar Pakaian adat Melayu Daerah Riau

Pakaian adat Melayu untuk pria terdiri dari Baju Kurung Cekak Musang yang terbuat dari kain berkualitas seperti satin dan sutra. Kemudian ada sarung serta kopyah juga. Kemudian wanita menggunakan Kebaya Laboh.


5. Belanga, Kepulauan Riau

Gambar Pakaian adat Daerah Kepulauan Riau

Provinsi Kepri memiliki pakaian adat berupa Teluk Belanga untuk pria dan Kebaya Laboh untuk wanita. Kebudayaan antar daerah Kepri, Riau, dan Sumbar yang memang berdekatan membuat pakaian adat yang dipakai pun hampir sama.


6. Melayu, Jambi

Gambar Pakaian adat Daerah Jambi

Pakaian adat Melayu Jambi menggunakan setelan kain beludru baik untuk pria maupun wanita. Namun, pakaian adat wanita dibuat tanpa lengan, dan pakaian pria menggunakan baju kurung tanggung berbahan beludru juga.


7. Aesan Gede, Sumatera Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sumatera Selatan

Aesan Gede dikenal sebagai pakaian adat yang syarat dengan banyak aksesoris untuk pria dan wanita. Pakaian ini berwarna cerah seperti merah, emas, maupun kejinggaan dengan penutup kepala untuk pria dan siger untuk wanita.


8. Paksian, Bangka Belitung

Gambar Pakaian adat Daerah Bangka Belitung

Pakaian adat ini memiliki dua warna pilihan, yakni merah dan ungu. Wanita akan menggunakan baju kurung berbahan sutra atau beludru, serta mahkota Paksian. Sementara pria memakai sorban sungkon.


9. Melayu, Bengkulu

Gambar Pakaian adat Daerah Bengkulu

Pakaian Melayu berwarna merah ini identik dengan kain lecap benang khas Jambi. Pria dan wanita menggunakan penutup dan hiasan kepala.


10. Tulang Bawang, Lampung

Gambar Pakaian adat Daerah Lampung

Setelan putih mendominasi pakaian adat ini. Tak lupa dengan lilitan kain tapis khas Lampung serta penutup kepala untuk pria, kemudian siger serta perhiasan berwarna emas untuk wanita.


11. Pangsi, Banten

Gambar Pakaian adat Daerah Banten

Pakaian adat Pangsi dikenal dengan setelan jas pria dan kebaya putih terang untuk wanita yang dipasangkan dengan bawahan batik. Tak lupa dengan blankon dan mahkota.


12. Betawi, DKI Jakarta

Gambar Pakaian adat Daerah DKI Jakarta

Kebaya encim berwarna terang merupakan ciri khas baju Betawi untuk wanita. Ditambah dengan kain batik dan sebagai bawahan maupun dililitkan ke bagian pinggang setelan hitam pria.


13. Kebaya, Jawa Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Barat

Kebaya sunda memiliki warna yang terang seperti putih cerah, ungu, merah maroon, dan sebagainya. Sedangkan pria menggunakan jas beludru sulam benang emas.


14. Kebaya, Jawa Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Tengah

Sementara itu, pakaian adat Kebaya Jawa Tengah didominasi warna cokelat dan setelan hitan pada pria. Tak lupa dilengkapi dengan batik, jarik, surjan, dan keris sebagai aksesoris.


15. Pesa’an, Jawa Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Timur

Pesa’an sangat sederhana dan ringan dipakai. Berupa kaos merah putih untuk pria dan kebaya merah dan kain putih untuk wanita.


16. Kesatrian, D.I. Yogyakarta

Gambar Pakaian adat Daerah Yogyakarta

Kesantrian terdiri dari kain batik yang dililitkan ke tubuh hingga bagian dada. Dalam versi yang lebih tertutup, Kesantrian menggunakan kain beludru hitam panjang dengan sulaman benang mas yang khas.

Tak lupa dengan berbagai aksesoris dan hiasan kepala. Pakaian adat ini melambangkan keanggunan dan sifat berani.


17. Safari dan Kebaya, Bali

Gambar Pakaian adat Daerah Bali

Safari pada pakaian adat Bali untuk pria adalah jas berlengan pendek. Umumnya berwarna netral seperti purih, krem, dan cokelat. Sedangkan kebaya wanita warnya cerah dan terlihat manis dengan lilitan kain di pinggang.


18. Baju Adat Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Barat

Pakaian adat ini berbahan sutra dan satin yang lembut dengan tambahan kain tenun khas Suku Sasak.


19. Baju Adat Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Timur

Kain tenun menjadi ciri khas pakaian adat ini. Ditambah dengan atasan berwarna hitam dan putih, serta topi tilangga.


20. King Baba, Kalimantan Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Barat

King Baba berarti pakaian untuk pria. Bentuknya seperti rompi dengan kain khas yang terbuat dari kulit kayu kapuo dan dihias manik-manik indah berwarna jingga dan merah. Sedangkan wnaita menggunakan King Bibinge dengan bahan yang sama namun menutupi hingga bagian dada dan pundak.


21. Upak Nyamu, Kalimantan Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Tengah

Pakaian adat ini terbuat dari kulit kayu nyamu. Untuk wanita, Upak Nyamu dihias dengan manik-manik cantik berwarna putih, merah, dan kuning.


22. Bagajah Gamuling Baular Lulut, Kalimantan Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Selatan

Kain Sasirangan sebagai kain khas Kalsel dililitkan menjadi bawahan bagi pria. Sementara bagian dada dikalungi dengan kalung bunga dan ditambah aksesoris keris. 
Sedangkan wanita memakai kain yang terbalut hingga menutupi dada, seperti gaun.


23. Kustin, Kalimantan Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Timur

Kustin memiliki tampilan yang hampir sama dengan Upak Nyamu. Terbuat dari kulit kayu yang dihias manik-manik.


24. Ta’a dan Sapei Sapaq, Kalimantan Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Utara

Corak pada pakaian adat ini terbilang ramai karena bervariasi dan beragam warna. Bahan kain masih berasal dari kulit kayu dengan hiasan kepala berupa mahkota bulu-bulu yang unik.


25. Laku Tepu, Sulawesi Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Utara

Serat pisang yang dipintal hingga menjadi kain membentuk pakaian ini. Warna dasarnya kuning, hijau, dan merah, ditambah penutuh kepala pada pria.


26. Mandar, Sulawesi Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Barat

Pakaian mandar terdiri dari jas untuk pria dan baju lengan pendek untuk wanita (biasanya berwarna hijau, ungu, putih, atau merah) dengan kain tenun senada yang dililit di bagian bawah sebagai bawahan.


27. Nggembe, Sulawesi Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tengah

Pakaian Suku Kaili ini berbahan kain lembut yang dibentuk baju lengan panjang. Kemudian ada hiasan di bagian dada berupa bordir berbentuk bunga dan manik-manik cantik.


28. Tolaki, Sulawesi Tenggara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tenggara

Tolaki identik dengan warna merah dan emas dengan atasan berbahan sutra atau beludru serta bawahan berupa kain tenun.


29. Bodo, Sulawesi Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Selatan

Baju Bodo biasanya berbahan organza dengan potongan sederhana dan berlengan pendek. Namun memiliki warna cerah mencolok, serta ada kalung dan hiasan kepala sebagai aksesoris.


30. Biliu dan Makuta, Gorontalo

Gambar Pakaian adat Daerah Gorontalo

Pasangan baju Biliu dan Makuta sama-sama tertutup dengan balutan kain lembut berwarna hijau, merah, kuning, atau jingga. Juga, ada aksen khas di bagian dada serta mahkota dan penutup kepala.


31. Cele, Maluku

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku

Pakaian Cele memiliki motif garis-garis geometris yang biasa dipakai dengan kain salele pada upacara adat. Warnanya didominasi merah dan putih.


32. Manteren Lamo, Maluku Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku Utara

Suku Tidore memakai pakaian ini yang dikenal mewah. Bentuknya seperti rompi dengan warna merah hiasan sulaman benang emas yang glamor.


33. Ewer, Papua Barat

Gambar Pakaian adat Baju Ewer Daerah Papua Barat

Rok rumbai berbahan tumbuhan alami sudah sangat mencirikan Baju Ewer. Semakin terlihat menarik dengan hiasan kepala berwarna cokelas senada dengan baju Ewer. Biasanya jika memakai rok rumbai tersebut maka dilengkapi juga dengan hiasan lainnya seperti hiasan kepala dari bahan ijuk, bulu burung kasuari, atau juga anyaman daun sagu.

Selain itu juga ada perlengkapan yang lain seperti manik-manik dari kerang, taring babi yang di letakkan di antara lubang hidung, gigi anjing yang dikalungkan di leher, tas noken yang terbuat dari anyaman kulit kayu sebagai wadah umbi-umbian atau sayuran yang dipakai di kepala. Kemudian tidak lupa juga alat tradisional yang di pakai seperti tombak Papua, panah, dan juga sumpit.


34. Koteka, Papua

Gambar Pakaian adat Koteka Daerah PROVINSI Papua


Koteka yang merupakan rok berumbai terbuat dari serutan tanaman dan ada pula yang menggunakan kulit kayu sebagai kain atasan.


Demikian 34 jenis Pakaian adat dari 34 Propivinsi di seluruh nusantara dan Indonesia, semoga artikel kebudayaan dari indoborneonatural ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang kebudayaan indonesia. Terimakasih.

Cari Artikel