Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya

Indoborneonatural-Blog---Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan.


Bagi sebagian masyarakat Suku Banjar yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, mitos tentang buaya siluman (buaya gaib) masih cukup kental dan berkembang secara turun temurun. Bahkan tradisi Manyampir Buhaya atau memberi makan buaya siluman yang berasal dari Kabupaten Tabalong ini kini tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) asal Kalsel di Kemendikbudristek pada 2021.


Salah satu mitos yang ada di tengah masyarakat banjar, khususnya di Kabupaten Tabalong adalah manyampir buhaya," ungkap Kasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong Sulaiman Fauzi.

Manyampir buhaya adalah ritual memberi makan buaya siluman (gaib). Ritual ini secara rutin dan wajib dilaksanakan tiap tahun. Bahkan jika ada hajat tertentu bisa dilaksanakan lebih dari satu kali.


Tradisi manyampir buhaya berhubungan dengan ilmu kesaktian para leluhur. Sedangkan yang memberi makan buaya gaib ini adalah para pewaris atau keturunan, Datu Buaya semacam perjanjian dimana buaya-buaya tersebut harus diberi makanan tertentu dan biasanya pada bulan Muharam dan Dzulhijjah (Safar) atau di waktu-waktu tertentu seperti perkawinan sehabis panen, habis melahirkan, atau hajat penting lainnya.


Manyampir Buhaya, Tradisi Memberi Makan Siluman Buaya Pada Masyakarat Banjar Kalimantan Selatan



"Minimal setahun sekali. Jika tidak, maka buaya-buaya itu bisa meminta korban, atau membuat salah satu ahli waris buaya tersebut kesurupan (kerasukan makhluk gaib), atau mengalami hal-hal yang bersifat metafisik, seperti sakit yang tidak jelas penyebabnya,".


Orang yang bersahabat dengan makhluk gaib ini, maka anak cucunya harus memelihara buaya yang menjadi sahabat orangtuanya dulu secara turun temurun. Kepercayaan masyarakat ini sudah ada sejak berdirinya kerajaan Banjar abad 16 dan masih ada hingga sekarang. Masyarakat yang memiliki hubungan kekerabatan dengan buaya tersebut biasanya manyampir (memberi sesajen) yang dilarung ke sungai.


Kasi Kesenian Bidang Kebudayaan Disdikbud Provinsi Kalimantan Selatan Sunjaya mengatakan asal-usul buaya gaib dalam mitologi masyarakat Banjar itu, ada tiga versi yaitu: sebagai wujud Putri Junjung Buih. Dari asal-usul penemuan Putri Junjung Buih yang aneh mengapung di atas buih, maka dianggap bahwa sang putri adalah titisan buaya gaib.Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada


Kemudian mitos tentang Bayi yang menghilang setelah dilahirkan. Zaman dulu ada seorang ibu yang hamil dan melahirkan bayi kembar dua. Namun sesaat kemudian, salah satu dari bayi itu menghilang secara misterius. Bayi yang menghilang itu dalam bahasa banjar disebut 'Gampiran' yakni saudara kembar yang gaib.


Bayi kembar gaib ini dipercaya akibat sang ayah melakukan suatu ritual, yang umumnya untuk kekebalan atau kesaktian. Jika suatu waktu si ayah atau keturunannya mengalami suatu bahaya, maka dengan memanggil si anak yang gaib itu, ia akan datang untuk menolongnya.Mitos lainnya adalah Sahabat Gaib Hasil Bertapa. Buaya siluman itu ada pula yang menganggapnya sebagai sahabat gaib hasil bertapa. Sahabat gaib itu bisa datang secara langsung, atau melalui anak kembar yang lahir menghilang secara misterius. Namun sahabat gaib yang datang secara langsung ini bisa melalui 'menelan sesuatu' seperti minyak gaib atau memberikan sesajen kepada siluman yang menemuinya saat bertapa.

CERITA KERA DAN KURA KURA (VERSI DAERAH KALIMANTAN SELATAN)

KERA DAN KURA-KURA

Pada zaman dahulu, tepatnya pada suatu hari terlihat dua sahabat yaitu seekor kura-kura dan seekor kera yang sedang berjalan-jalan di hutan sambil mencari makan mencari. Mereka terus mencari buah-buahan yang sudah matang tetapi mereka belum menemukan buah yang matang. Kera pun kesal dengan keadaan itu.

Kura-kura pun berkata : “Wahai sahabatku, ada sebuah pohon pisang yang sudah matang di seberang pulau sana, tetapi aku tidak bisa memanjat.” Lalu kera pun mengusulkan “Begini saja aku yang memanjat pohon itu dan kau yang membawa ku untuk menyeberangi pulau.” “Baiklah kalau begitu naiklah kau ke punggung ku” kata kura kura.

Sesampainya di sana kera langsung memanjat pohon dan kura-kura menunggu di bawah. Kera memetik pisang dan mencoba satu, dan buah itu sangatlah lezat. Maka timbullah niat buruk kera untuk tidak memberikan makanan itu kepada kura-kura.



Kura kura pun masih menunggu di bawah, lalu terdengar seperti suara barang jatuh. Ternyata kera sahabatnya yang jatuh tergeletak dan sudah tidak bernafas lagi.

Kura kura pun berniat untuk memberikan pelajaran kepada kera kera yang lain, agar tidak culas dan jahat seperti si kera yang mati. Maka diambilnya lah tulang kera itu dan dibuatnya kapur sirih.

Kera kera dikampung itu berebutan untuk membeli kapur sirih itu. Dengan riang gembira kura kura itu pulang sambil menjinjing pisang hasil jualannya.

Dalam perjalanan pulang kura kura pun bernyanyi “hura hura ahuii, hura hura ahuii…kapur kawanya juga….”

Mendengar nyanyia kura kura, para kerapun tersadar mendengarnya sambil menghitung masing masing saudaranya da ternyata kurang seekor. “pasti kura kurang yang telah membunuh saudara kita dan tulangnya ia buat kapur.” Seru kera kera.

Mereka pun mengangkap kura kura itu dan membawanya kesungai untuk ditenggelamkan. “biar mati lemas.” Seur kera kera. Kura kura itu dilempar ke dalam sungai dan para kera kera itu pun kegirangan sambil meloncat loncat di atas pepohonan.

Bukannya mati, kura kura itu malah merasa senang dan segar karena habitanya memang di dalam air. Hingga sampai sekarang kura kura hidup di dalam air dan para kera berloncatan di atas pohon.

Pesan moral cerita : Jangan lah menghianati kepercayaan dan kebaikan orang lain. Dan janganlah berburuk sangka dan menghakimi seseorang tanpa adanya bukti dan fakta yang jelas.



Sumber cerita :

Diadaftasi dari Cerita Kera dan Kura kura

Penulis H. Farurazie

Yang diterbitkan oleh Taman Budaya Kalimantan Selatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, kebudayaan dan Pariwisata, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Bekerja sama dengan : Penerbit Pustaka Banua.

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)

Indoborneonatural----Pada zaman dahulu Sang Kancil adalah merupakan binatang yang dianggap paling cerdik di dalam hutan. Banyak bintang-binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun Sang Kancil menjadi tumpuan bintang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak pernah menunjukan sikap yang sombong dan angkuh malah selalu sedia membantu pada bila-bila masa saja.

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Oleh karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang Sang Kancil bercadang untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari tersebut sangat panas, menyebabkan Sang Kancil berasa dahaga karena terlalu lama berjalan, lalu ia berusaha mencari sungai yang berdekatan. Setelah meredah hutan akhirnya kancil berjumpa dengan sebatang sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang masa Sang Kancil terus minum dengan sepuas-puasnya. Kedinginan air sungai tersebut telah menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.

Kancil terus berjalan-jaan menyusuri terbing sungai, apabila terasa penat ia berehat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang di sekitar kawasan tersebut. Kancil berkata didalam hatinya "Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat". Setelah kepenatannya hilang, Sang Kancil menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat disekitarnya. Apabila tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil terpandang kebun buah-buahan yang sdang masak ranum di seberang sungai. "Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut" pikir Sang Kancil.  

Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana untuk menyebrangi sungai yang sangat dalam lagi deras arusnya. Tiba-tiba Sang Kancil terpandang sang buaya yang sedang asik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya apabila hari panas ia suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari. Tanpa berlengah-lengah lagi kancil terus menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata, "Hai Sahabatku Sang Buaya, apa kabar kamu hari ini?" Buaya yang sedang menikmati cahaya matahari terus membuka mata dan didapati Sang Kancil yang menegurnya tadi "Kabar baik sahabatku Sang Kancil." Sambung buaya lagi "Apakah yang menyebabkan kamu datang ke mari?" Sang Kancil menjawab "Akum membawa khabar gembira untuk kamu" mendengar kata-kata Sang Kancil, Sang Buaya tidak sabar lagi ingin mendengar kabar yang dibawa oleh Sang Kancil, lalu Sang Buaya berkata "Ceritakan kepadaku apakah yang engkau hendak sampaikan." 

Kancil berkata "Aku diperintahkan oleh Raja Sulaiman supaya menghitung jumlah buaya yang terdapat di dalam sungai ini karena Raja Sulaiman sudah menggerunkan semua binatang karena Nabi Sulaiman telah diberi kebesaran oleh Allah untuk memerintahkan semua makhluk di muka bumi ini. "Baiklah kamu tunggu di  sini, aku akan turun ke dasar sungai untuk memanggil semua kawan aku! kata Sang Buaya. Sementara itu Sang Kancil sudah berangan-angan untuk menikmati buah-buahan. Tidak berapa lama kemudian semua byaya yang berada di dasar sungai berkumpul di tebing sungai. Sang Kancil berkata, " Hai buaya sekalian, aku telah diperintahkan oleh Nabi Sulaiman supaya menghitung jumlah kamu semua karena Nabi Sulaiman akan memberi hadiah yang istimewa pada hari ini." Kata Kancil lagi, "Berbarislah kamu mengitari sungai mulai dari tebing sebelah sini hingga ke tebing sebelah sana."

DONGENG SANG KANCIL DENGAN BUAYA (CERITA VERSI ASLI MELAYU)


Oleh karena perintah tersebut adalah datangnya dari Nabi Sulaiman semua buaya segera beratur tanpa membantah. Kata Buaya tadi "Sekarang hitunglah, kami sudah bersedia." Sang Kancil mengambil sepotong kayu yang berada di situ lalu melompat ke atas buaya yang pertama di tepi sungai dan ia mulai menghitung dengan menyebut "Satu dua tiga lekuk, jantan betina aku ketuk" sambil mengetuk kepala buaya begitulah sehingga kancil berjaya menyebrang sungai. Apabila sampai di tebing sana kancil terus melompat ke atas tebing sungai sambil bersorak kegembiraan dan berkata. "Hai Buaya-buaya sekalian, tahukah kamu bahwa aku telah menipu kamu semua dan tidak ada hadiah yang akan diberikan oleh Nabi Sulaiman."

Mendengar kata-kata Sang Kancil, semua buaya berasa marah dan malu karena mereka telah ditipu oleh kancil. Mereka bersumpah tidak akan melepaskan Sang Kancil apabila bertemu pada masa yang akan datang. Dendam buaya tersebut terus membara hingga hari ini. Sementara itu Sang Kancil terus melom,pat kegembiraan dan terus meninggalkan buaya-buaya tersebut dan menghilang diri di dalam kebun buah-buahan untuk menikmati buah-buahan yang sedang masak ranum itu.


Sekian


PENGERTIAN DAN ASAL MUASAL BATU AKIK DI INDONESIA

Indoborneonatural----Seperti kita ketahui batu akik yang merupakan batu mulia sangat digemari di Indonesia. Batu Mulia adalah batu yang dimuliakan, meliputi segala jenis batuan, mineral dan bahan mentah alam lainnya yang setelah diolah atau diproses memiliki keindahan dan ketahanan yang memadai untuk dipakai sebagai barang perhiasan.


Cincin Batu akik


 Sebagaimana halnya intan sebagai bahan mentah dan berlian setelah intan diproses, maka batu Mulia sebagah bahan mentah setelah diproses menjadi perhiasan disebut sebagai batu permata. 

Batu Permata mulia
Gambar Batu Permata Mulia - Foto Pixabay.com


Dalam kaitannya dengan batu permata, dikenal istilah batu permata mulia atau Precious Stone yang diwakili oleh intan (diamond), merah delima (ruby), safir (Sapphire), dan zamrud (emerald), dan batu permata setengah mulia atau semi precious stone seperti antara lain giok, kecubung, opal, krisokola, krisopras, kalsedon, serpentin, fluorit, batu satam atau kelulut, dan lain-lain. Istilah Batu Akik yang sangat populer di Indonesia sebenarnya merupakan terjemahan dari kata Agete dala bahasa Inggris yaitu salah satu anggota dari kelompok batu permata setengah mulia. 

Menurut Cally Hall dalam bukunya berjudul "Gemstones" (tahun 2002), dari lebih 3.000 jenis mineral, tidak lebih dari 100 jenis yang dapat diketegorikan sebagai Batu Mulia. Batu Mulia ini adalah batu yang dianggap berharga dan memiliki nilai jual dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

Secara geologi Batu permata adalah batu mineral yang terbentuk dari proses geologi. Unsur batu permata terdiri dari satu atau gabungan beberapa komponen kimia. Berlian sendiri merupakan salah satu jenis batu permata. Permata juga harus melewati proses pemolesan sebelum digunakan untuk perhiasan.

Secara mendasar, tidak semua bebatuan dapat disebut sebagai batu permata. Sebuah batu untuk dapat dikategorikan sebagai permata harus memenuhi beberapa syarat tertentu. Batu tersebut antara lain harus memiliki ketahanan, keindahan, dan kelangkaan.

Ada banyak batu permata yang tersedia di pasaran dan diklasifikasikan menurut kekerasannya yang dihitung menurut skala Mohs. Tingkat kekerasan batu permata paling tinggi dalam skala ini bernilai 10, dan ini dimiliki oleh batu berlian yang terkenal sangat berharga mahal.

Jenis Batu Akik
Jenis-Jenis Batu akik di Indonesia


Batu Mulia di Indonesia

Indonesia sebagai negara nusantara yang juga merupakan negara kepulauan, terdiri dari berbagai pulau besar dan kecil sejak lebih dari 400 juta tahun yang lalu telah dilanda kegiatan tektonik dan letusan gunung api yang dibarengi dengan naiknya cairan magma ke permukaan bumi sembari membawa mineral berharga termasuk batu mulianya, maka Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya raya akan potensi mineral dan batu mulianya. Kekayaan ini yang terkenal di seluruh provinsi di Indonesia.

Dari perkembangan batu akik dan batu mulia di Indonesia, ditemukan Varian-varian baru Batu Mulia di beberapa pelosok tanah air, antara lain :

Giok Nefrit di Provinsi Aceh, Idokras di Sumatera Barat dan juga di Aceh, Krisokola Kuarsa di kepulauan Bacan, Krisopras di Garut,  Jawa Barat, Turmalin dan kuarsa mawar di Bangka Barat, Opal api di Wonogiri, Jawa Tengah, dan yang terakhir merah delima atau ruby dalam mineral Zoisite di wilayah kota Palu, Sulawesi Tengah, dan lain sebagainya.

Bertebaran beragam jenis batu akik dan batu mulia diseluruh nusantara. Ini menjadi salah satu kekayaan dan aset yang sangat berharga jika dikembangkan dan dilestarikan dengan pengelolaan kerajinan yang profesional. Di Indonesia sendiri, terdapat berbagai jenis batu akik yang menjadi idola dari kolektor dan penggemar batu permata dunia. Jenis-jenis batu akik tersebut diklaim dapat ditemukan di seluruh penjuru Tanah Air.

Baca juga cara merawat Batu Permata dan Batu Akik di sini !! 

Demikian artikel singkat tentang pengertian dan asal muasal batu akik di Indonesia. Semoga bermanfaat. Terimakasih.

NAMA BUAH-BUAHAN KHAS KALIMANTAN SELATAN YANG UNIK DAN LANGKA

Indoborneonatural----Di pulau kalimantan yang terkenal dengan kekayaan alam dan hutan tropisnya, banyak ditemukan beragam jenis buah-buahan unik dan langka, sebagian hanya tumbuh didaerah ini saja, salah satunya adalah dihutan Provinsi Kalimantan Selatan yang juga kaya akan sumber daya yang melimpah, termasuk buah-buahan yang beragam jenis dan nikmat. Sebagian besar buah-buhan ini mungkin sudah familiar bagi penduduk Kalimantan, tetapi mungkin bagi kamu yang dari luar daerah Kalimantan banyak yang belum tahu. Nah Kalau kamu berkunjung ke provinsi ini, kamu akan menemukan buah-buahan yang unik dan mungkin belum pernah kamu coba rasanya, silakan dapat singgah dan menikmati beragam buah tersebut.

Berikut beberapa nama buah-buahan khas Kalimantan Selatan yang unik dan langka yang dapat kalian nikmati di daerah ini :


1. Buah keledang (Artocarpus Lanceifolius roxb)

NAMA BUAH-BUAHAN KHAS KALIMANTAN SELATAN YANG UNIK DAN LANGKA

Buah keledang mengingatkan pada buah nangka dan cempedak. Rasanya manis. Sensasi rasanya merupakan campuran antara nangka dan manggis. Daging buahnya terpisah dari bijinya, seperti nangka. Warna kulit buahnya jingga kemerahan dan bentuk buahnya seperti cempedak. Buah keledang termasuk salah satu buah-buahan eksotis hutan-hutan Kalimantan.

Keledang, daging buahnya tidak memiliki aroma apapun. Cocok untukmu yang tak suka aroma buah nangka atau cempedak. Buah bernama latin Artocarpus Lanceifolius roxb ini sudah semakin langka di Kalimantan Selatan.


2. Buah lahung-Lahong (Durio dulcis)


Durian Lahung atau yang dikenal juga sebagai durian marangang, durian merah, tongtong atau lahong masyarakat menyebutnya adalah spesies buah durian yang memiliki pohon yang cukup besar dalan genus Durio, tingginya bisa mencapai 40 Meter. Buah Lahung mirip dengan buah durian, perbedaannya kulit buah berwarna merah sedangkan durian berwarna hijau atau kuning. 

Jika dibelah daging berwarna merah sedangkan durian berwarna kuning. Kulit buahnya memang berwarna merah tua sampai coklat-merah, dan ditutupi dengan duri ranping 15-20 mm. Soal rasa buah lahung tak berbeda dengan durian. Buah lahung yang dikenal dengan nama latin Durio dulcis ini merupakan tumbuhan endemik Kalimantan. Daging buahnya berwarna kuning gelap, tipis, dan beraroma karamel dalam, dengan aroma terpentin. buah dan spesies ini dianggap oleh banyak orang sebagai yang paling manis dan semua buah durian.


3. Buah Traku 

Buah Traku Kalimantan Selatan buah unik dan langka

Ada juga yang sangat khas buah langka dari Kalimantan Selatan yaitu Buah Traku yang berasal dari Balangan, buah ini mirip dengan durian tapi sangat kecil seperti manggis. Penampilanya sich mirip-mirip dengan Durian Lahung yang duri kulitnya lebih panjang dari durian biasa, tetapi itu tadi ukurannya yang kecil sehingga tidak disebut durian tapi lebih mirip dengan rambutan, dengan warna kulit kuning dan buahnya berwarna merah dan tentu manis rasanya.


4. Buah rambai Padi (Baccaurea motleyana)

NAMA BUAH-BUAHAN KHAS KALIMANTAN SELATAN YANG UNIK DAN LANGKA

Buah rambai sebentuk dengan buah duku atau langsat. Memiliki rasa manis keasaman daripada langsat, buah ini sudah tumbuh dan menyebar di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan Thailand. Kemunculan buah rambai menandakan akan berakhir musim buah. Buah rambai ini bernama latin Baccaurea motleyana.

Buah yang rasanya masam manis ini, sering ditemukan di pinggiran hutan kalimantan, dengan buah yang biasanya bergerombol dalam satu batang tangkai besar terlihat seperti padi.


5. Buah Pidada - Rambai Sungai

Buah Pidada - Rambai Sungai-Buah-khas-Kalsel

buah ini merupakan keluarga mangrove. Mangrove adalah salah satu tumbuhan dikotil yang hidup dan berkembang di air payau biasanya pohonnya tumbuh disekitar pinggiran sungai. Buah rambai Pidada ini biasanya terdapat di daerah pinggiran sungai di hutan-hutan Kalimantan. Masyarakat setempat menyebutnya buah pidada, rambai sambal atau rambai bintang karena pangkal tangkainya yang menutupi buah berbentuk bintang. Rasanya yang asam biasanya dibuat untuk sambal teman makan nasi dan lauk yang sangat enak.


6. Buah Kapul (Baccaurea macrocarpa)

Buah Kapul (Baccaurea macrocarpa) buah langka khas kalsel

Buah kapul juga kini semakin langka di Kalimantan. Mirip dengan buah mangis. Namun ada beberapa perbedaan yang dapat dilihat langsung, yaitu warna kulit buah kapul berwarna seperti kayu. Daging buah kapul berwarna putih dan kekuningan, sedangkan manggis berwarna putih. Tapi soal rasa, keduannya memiliki rasa manis dan sedikit rasa asam. Menikmati buah ini ada yang sedikit mengganggu, daging buahnya tipis dan sering lebih banyak bijinya.


7. Buah mangga kasturi (Mangifera casturi)


Buah 
(Mangifera casturi) Kasturi ada awalnya bersifat enemik (hanya ada) di hutan sekitar Banjarmasin di Kalimantan. Namun karena banyaknya kasus penebangan hutan, tanaman ini mulai sulit untuk dijumpai di hutan Kalimantan. Buah mangga kasturi  mirip dengan mangga pada umumnya, namun berukuran agak kecil seperti sawo, memang memiiki ukuran yang kecil dan beratnya hanya sekitar 50-84 gram. Aromanya pun seperti buah mangga tapi lebih harum menyengat. Kulit buah berwarna hijau tua agak kehitaman, daging buahnya kuning hingga jingga dan rasanya manis segar. Buah ini spesifik tumbuh di Kalimantan Selatan.


8. Buah Ihau


Buah ihau disebut juga mata kucing bagi sebagian orang dan setelah melihat isi buahnya banyak pula yang menyebut ihau sebagai kelengkeng asli Kalimantan. Rasa buah ihau manis seperti bauh kelengkeng, hanya berbeda di bagian kulitnya karena ihau memiliki tektur kulit yang berbintik menonjol keluar.


9. Buah ramania

Buah Ramania khas Kalimantan Selatan

Buah Ramania mungkin masih bisa kita jumpai saat musim buah di akhir tahun, walaupun tak terlalu banyak. Buah bulat berwarna hijau hingga kuning, bergerombol di satu ranting. Buah Ramania yang sudah matang dan bisa dikonsumsi adalah yang berwarna kekuningan. Dagingnya berwarna kekuningan dan memiliki biji di bagian tengah, ada yang berwarna ungu dan merah. Rasa buah mulai dari yang manis dan ada yang asam segar. Untuk dimakan langsung biasanya yang sudah matang berwana kekuningan, tetapi masyarakat Kalimantan Selatan juga sering mengambil yang masih mentah untuk dibuat sambal atau dibikin rujak.


10. Asam Putar


Buah asam putar ini sejenis buah mangga yang rasanya asam. Asam putar juga disebut asam pulasan dan keunikan buah ini adalah bijinya bisa dilepas dengan cara berputar. Sehingga karena rasanya asam buahnya dapat diputar untuk melepaskan biji dinamakan asam putar. Buah ini bisa ditemukan di pedalaman.


11. Wanyi


Buah wanyi masyarakat sekitar menyebutnya mirip dengan mangga namun ukuran sedikit lebih besar. Wanyi berbentuk lonjong, kulitnya berwarna hijau ada sedikit corak kehitaman. Dagingnya berwarna putih, rasanya manis keasaman dan beraroma sangat tajam. Buah ini sangat langka ditemukan di daerah kota, mungkin hanya ada di hutan-hutan Kalimantan saja.


12. Bemotong

Buah-Bemontong-Khas-Kalimantan-Selatan

Buah bemotong ini tumbuh bergerombol tersusun beberapa buah dalam satu tandan di pangkal batang terdapat di atas tanah. Ketika masih di pohon warna buah merah, tapi setelah dipetik berubah menjadi kecokelatan.  Daging buah bemotong berwarna ungu atau putih ada biji kecil di tengahnya dan rasanya manis. Untuk buah bemotong lonjong-lonjong berukuran kecil dan layaknya buah melinjo. 

Buah bemotong menggerombol di pangkal batang, tepat diatas tanah. Warnanya merah segar. Namun segera akan berubah kecoklatan begitu kita kutip dari pohonnya. Buah yang ukurannya seujung balpoin ini tersusun dalam tandan.  Warna daging buahnya ungu atau putih. Rasanya manis. Ada biji kecil ditengahnya. Saat menikmati, kita bisa telan saja biji kecil ini, seperti saat kita makan manggis. 


13. Buah Kalangkala (Litsea garciae)


Kalangkala adalah buah hutan dari Kalimantan. Buahnya bulat, jika masih mentah kulitnya berwarna agak hijau pucat. Jika sudah matang kulitnya berwarna merah muda. Daging buahnya lembut dan rasanya mirip alpukat. Namun warna dagingnya tak hijau seperti alpukat, melainkan putih dan pink. Ukurannya ada yang besar, ada juga yang kecil. Buahnya yang besar ada yang sampai seukuran manggis dan yang kecil seukuran ibu jari.


14. Buah Limpasu


NAMA BUAH-BUAHAN KHAS KALIMANTAN SELATAN YANG UNIK DAN LANGKA

Buah Limpasu ini tumbuh bergerombol tersusun beberapa buah dalam satu tandan. Buah yang juga berfungsi sebagai obat ini dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, banyak juga terdapat di hutan-hutan kalimantan, biasanya untuk pengobatan, buah dilampasu diparut dicampurkan dengan air rendaman akar kuning.


15. Buah Rumbia (Metroxylon sagu)


Rumbia atau disebut juga pohon sagu adalah nama sejenis palma penghasil tepung sagu. Rumbia biasanya tumbuh di rawa-rawa air tawar, aliran sungai dan tanah bencah lainnya. Pada wilayah-wilayah yang sesuai, rumbia dapat membentuk kebun atau hutan sagu yang luas. Pada masyarakat kampung biasanya daun rumbia dijadikan sebagai atap rumah, atap pondok di kebun atau sawah.

Buah Rumbia memang banyak terdapat di indonesia, karena Rumbia adalah pohon sagu. Jadi buah rumbia adalah buah yang dihasilkan dari pohon sagu. Buah ini rasanya manis-manis sepet. Biasanya diasinkan dulu untuk menghilangkan rasa sepetnya. Namun sepetnya buah Rumbia ini tidak sebanding dengan sepetnya buah Rukem yang mentah. Jadi kalau langsung dimakan biasa nggak masalah.


16. Gitaan/ Tampirik (Willughbeia angustifolia)


Buah gitaan atau ada juga yang menyebutnya tampirik, merupakan buah hutan asli Kalimantan. Bentuk buahnya ada yng bulat ada pula agak lonjong. Warna buahnya kuning dan kuning kemerahan. Rasanya pun, ada yang asam, asam manis dan manis seperti rasa vitamin C tablet buatan pabrik obat. Buah ini selain terdapat di HSS Juga di HST, HSU dan Balangan untuk di Banua Anam.


17. Maritam Buih


Di Kalimatan Selatan khususnya di daerah hulu Sungai ada buah khas yang disebut Maritam. Jenis Maritam yang ditemui di Pasar Kandangan Hulu Sungai Selatan, adalah Maritam buih. Buah Maritam Buih ini warna kulitnya hijau dengan bentuk buah seperti rambutan, namun rambut pada kulitnya lebih pendek dan keras dengan kulit lebih tebal ketimbang isi buahnya.

Biasanya maritam warnanya merah kehitaman. Daging buahnya lebih dominan asam. Kalau maritam buih warna hijau muda, rasa daging buahnya manis asam.


18. Buah tarap (Artocarpus odoratissimus)


Buah tarap sejenis pohon buah dari marga pohon nangka, Buahnya serupa nangka yang kecil, dengan bau wangi yang kuat. Buah terap, ketika matang, aromanya khas dan sangat tajam. Rasanya manis, dan enak dimakan begitu saja. Ternyata tak hanya daging buah yang dapat dinikmati, bijinya pun dapat dimakan setelah direbus ataupun dibakar.

Buah terap yang masih muda, kerap diolah menjadi sayuran atau makanan berat lainnya. Buah yang sudah matang dan daging buahnya benar-benar lembut, dapat diolah menjadi aneka camilan, seperti puding, minuman segar, dan aneka kue.


Sebenarnya banyak lagi jenis dan buah-buahan di Daerah kalimantan Pada umumnya dan daerah kalimantan Selatan pada khususnya, yang seperti memiliki turunan dan genus yang hampir sama dengan buah-buah didaerah lain. Tetapi ada yang berbeda secara pisik dan penampilannya. Seperti : Kumbayau ( Dacroydes rostrata). Silulung (Baccaurea angulata) maritam (Nephelium ramboutan-ake) bumbunau (Aglaia laxiflora), babuku (Dimocarpus longan subspecies malesianus),luying/luing (Scutinanthe brunnea).

Jenis lain yang menyerupai tarap ditemukan dikawasan itu adalah binturung (arctictis binturong), Ada pula seperti nangka yang disebut kulidang (Artocarpus lanceifolius roxb), puyian (Artocarpus rigidus

Mahrawin (Durio oxleyanus) bentuknya persis karatongan tetapi warna kulit lebih hijau dan bulu yang runcing lebih pendek-pendek. Semua jenis durian tersebut, konon, hanya ada di Kalimantan, karena tak pernah ditemukan tumbuh di luar dari habitat aslinya pulau Kalimantan. Ada lagi durian perpaduan antara durian biasa dengan pampakin yang disebut mantaula, lain lagi durian bulat kecil dengan duri panjang dan besar, isisnya warna kuning dan tebal disebut karatongan.


Demikian nama-nama buah khas Kalimantan Khususnya Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat, dan jika ingin mencicipi enaknya buah-buahan tersebut, dapat singgah ke kalimantan Selatan.

DIJUAL BARANG ANTIK MURAH - MURAH ANTIK INDOBORNEONATURAL

MURAH ANTIK INDOBORNEONATURAL


Di jual/ dimaharkan barang-barang antik murah, untuk koleksian dan keperluan hobbi.

Tersedia barang antik dan unik yang langka banyak dicari para penghobis barang antik yang ada di seluruh indonesia untuk koleksi.

Bisa Kirim-kirim keseluruh nusantara

2. MURAH ANTIK : KERIS BANJAR SEMPANA PUCUK


Nama Barang :  Keris Banjar Sempana Pucuk
Ukuran Dimensi : Panjang 26,5 cm
Bahan : Besi, Kayu
Harga : Mahar Rp. 399.000
Status Barang :  Habis/Terjual (*Pembeli Tercatat)

(*Pembeli tercatat masih dapat dihubungi jika ada yang berminat dapat kami hubungkan dengan yang bersangkutan).

Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2. MURAH ANTIK : UANG LOGAM 1.000 SAWIT



Nama Barang :  Uang logam 1000 Sawit
Ukuran Dimensi : 3 X 3 cm
Bahan : Besi Kuningan
Harga / Mahar : @Rp. 100.000
Status Barang :  Stok Tersedia 5 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

---------------------------------------------------------------------------------

3. MURAH ANTIK : PEGINANGAN KUNINGAN JAMAN BAHARI



Nama Barang :  Kuningan Jaman bahari
Ukuran Dimensi : 35 X 10 cm
Bahan : Besi Kuningan
Harga : Mahar Rp. 250.000
Status Barang :  Stok Tersedia 1 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

3. MURAH ANTIK : PANCAR MERAH KALUNG


Nama Barang :  Pancar Merah Kalung
Ukuran Dimensi : 5 X 5 cm
Bahan : Besi Putih, Stenles
Harga : Mahar Rp. 200.000
Status Barang :  Stok Tersedia 1 buah


Hubungi :
Naya: HP. 085820583888  WA.081351990039


BUDAYA DAN TRADISI DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH

Indoborneonatural-----Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Suku ngaju merupakan sub etnis dayak terbesar di Kalimantan tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah kalimantan tengah dapat ditemui suku Ngaju. 

Gadis dayak ngaju menari
 Foto Gadis Dayak Ngaju. Gambar : kahanjakhuang.or.id

Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Ngaju berarti udik. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut Hikayat Banjar, Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Besar dan Orang Biaju Kecil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak. Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju.

Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju, yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai. Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. 

Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).

Dilansir dari Pesona indonnesia.com,Konon, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 – 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.


Kepercayaan Kaharingan

Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.


Upacara Tiwah

Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga.


Tradisi Tato

Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya,

Tradisi bertato/tutang/cacah, orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.


Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang

Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang menggunakan corak dan warna yang khusus, didominasi warna merah dan kuning. 


Burung Enggang Gading adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung Enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.

Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.


Hukum Adat dan Keselarasan Alam

Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati.

Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar.

Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.

RESEP NASI LIWET TRADISIONAL - NASI LIWET SOLO

Indoborneonatural---Nasi liwet adalah salah satu sajian nasi khas dari daerah di Indonesia, setiap daerah bahkan memiliki ciri khas nasi liwet masing-masing. Jika kita jalan jalan ke Solo Tawa Tengah, kita menginap lagi di penginapan dan hotel-hotel  di sana, sekaligus berwisata menikmati kuliner, hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Sangat nikmat sekali rasanya menyantap nasi Liwet saat siang dan perut lapar sambil duduk lesehan di warung-warung nasi Liwet Solo.

Nasi Liwet Solo/ Gambar foto: utiket.com

Saat ini banyak nasi liwet yang sudah dimodifikasi dengan tambahan bahan khusus sehingga menjadikan nasi liwet semakin nikmat. Resep nasi liwet pun ada banyak sekali macamnya, bisa dipilih sesuai selera dan ketersediaan bahan di rumah atau di pasar.

1. Resep Nasi Liwet Tradisional

Bahan Nasi Liwet Tradisional

Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat nasi liwet tradisional terdiri dari bahan utama dan bahan bumbu nasi liwet.

Tidak sulit untuk mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat nasi liwet tradisional, berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan :
  • Bahan utama: Beras putih 1 liter dan air secukupnya
  • Bawang putih 7 siung
  • Serai 2 batang
  • Daun salam 6 lembar
  • Garam dan gula secukupnya
  • Mentega secukupnya
  • Pelengkap (Sambal, ikan asin, lalapan, kerupuk, tahu dan tempe)

Cara Membuat Nasi Liwet Tradisional

Setelah mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan, maka segera persiapkan peralatan untuk membuat nasi liwet tradisional paling enak. Ikuti langkah-langkah membuat nasi liwet tradisional yang telah teruji di bawah ini :
  • Pertama, cuci bersih beras yang telah dipersiapkan terlebih dahulu hingga bersih, lalu sisihkan.
  • Kedua, persiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan seperti iris tipis bawang putih, memarkan serai, cuci bersih daun salam.
  • Ketiga, siapkan panci liwet (kastrol) dan masukkan beras yang sudah bersih ke dalam panci tersebut, lalu masukkan air hingga 2 ruas jari dari permukaan beras.
  • Keempat, Masukkan bumbu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, tambahkan gula dan garam secukupnya, agar gurih bisa ditambahkan mentega.
  • Kelima, kukus beras yang sudah lengkap dengan bumbu di atas api kecil hingga air meresap, lalu aduk nasi hingga merata. Kemudian kukus kembali nasi hingga masak dengan durasi kurang lebih 30 menit.
  • Keenam, hidangkan nasi liwet dengan bahan pelengkap yaitu sambal, ikan asin, lalapan, tahu, tempe dan kerupuk.


Nasi Liwet : Foto Gambar etnis.id


2. Resep Nasi Liwet Solo

Resep Nasi Liwet

Versi asli nasi liwet sebenarnya berasal dari daerah Solo propinsi Jawa Tengah, dengan sajian khas yang menggoda selera.

Jika dilihat pelengkap nasi liwet Solo mirip dengan nasi uduk jika di Jakarta, nah agar tidak penasaran simak bahan dan cara membuatnya berikut :

Bahan Nasi Liwet Solo

Untuk membat nasi liwet Solo yang lengkap memang dibutuhkan bahan yang sedikit lebih banyak dibandingkan jenis liwet lainnya. Namun tidak perlu khawatir karena bahan yang dibutuhkan tidak sulit untuk didapatkan, seperti berikut ini :
  • Beras putih 450 gram
  • Daun salam 4 lembar
  • Serai 3 batang, ambil bagian putihnya
  • Garam ½ sdm
  • Santan 1.150 ml

Cara Membuat Nasi Liwet Solo

Setelah menyiapkan bahan untuk membuat nasi liwet, bisa dilanjutkan dengan membuatnya menjadi masakan nasi liwet. Di bawah ini adalah cara membuat nasi liwet Solo terenak yang bisa dilakukan di rumah :

Pertama, cuci bersih beras putih yang sudah disiapkan, kemudian letakkan ke dalam panci liwet. Kemudian rebus beras bersama serai, daun salam, garam dan santan hingga mendidih, aduk sesekali saja sampai beras matang dan pulen.
Kedua, setelah matang angkat dari atas kompor dan letakkan pada tempat saji. Mulailah menyiapkan hidangan pelengkap agar nasi liwet lengkap saat disajikan.

Nasi liwet Solo biasanya disajikan bersama dengan beberapa masakan pelengkap seperti ayam suwir, telur pindang, sayur labu siam, telur areh. Sajikan nasi liwet Solo dengan pelengkapnya agar nasi liwet semakin terasa lezat.

Memang untuk penyajian nasi liwet Solo berbeda dengan nasi liwet Sunda atau yang lainnya, karena pelengkapnya yang cukup banyak.

Demikian cara membuat Nasi Liwet tradisional dan nasi liwet khas Solo yang terkenal enak dan populer, semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung di blog Indoborneonatural ini. Sukses selalu.

Cari Artikel