LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA, BAHASA SUKU BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Latar belakang sejarah orang Banjar dan Bahasa Banjar

Suku Banjar terdiri atas 3 bagian, yakni suku Banjar Muara, suku Banjar Batang Banyu dan suku Banjar Pahuluan. Ketiga kelompok ini telah berbaur, namun banyak atau sedikit unsur-unsur budaya dari masing-masing kelompok tersebut masih nampak pada sebagian orang Banjar sampai saat ini.


Orang Banjar

Orang Banjar pada umumnya adalah orang yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Banjar dan beragama Islam. Di Kalimantan Selatan juga terdapat suku Dayak. Di antara mereka yang memeluk agama Islam, kemudian juga menyebut dirinya orang Banjar atau orang Melayu.

Desa Limamar yang hanya berjarak 12 km dari kota Martapura yang menjadi ibu kota kerajaan Banjar sejak dipindahkan dari Banjarmasin pada abad ke 17, merupakan desa yang banyak mendapat pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerajaan Banjar. Ketika Islam berkembang pesat di daerah ini, desa ini termasuk wilayah pusat pengembangan ajaran Islam yang pertama. Tokoh penyebar ajaran Islam Syekh Muhammad Arsyar al Banjari lahir dan dibesarkan di daerah ini. Tempatnya di desa Lok Gabang, di mana rumah kedua orang tua ulama besar tersebut hanya beberapa puluh meter dari perbatasan dengan desa Limamar.

Pada masa Syekh Muhammad Arsyad menyiapkan kader-kader penyebab Islam sekembalinya dari belajar di Mekah, maka masyarakat desa Lok Gabang, Desa Limamar, Desa Kelampayan dan Desa Dalam Pagar merupakan masyarakat pendukung dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan ulama tersebut. Atas usaha dan bimbingan Syekh Muhammad Arsyad dibuat terusan yang menghubungkan sungai yang mengalir melalui Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan dengan sungai Martapura. Berkat adanya terusan inilah beberapa ratus hektar tanah persawahan yang tadinya merupakan danau yang selalu tinggi airnya baik yang sekarang termasuk wilayah desa Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan kemudian dipilih oleh ulama besar ini sebagai tempat pemakaman beliau di akhir hayatnya.

Desa Limamar yang termasuk dalam wilayah basis perkembangan sekaligus Islam pada abad ke 18 ini dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya taat beragama. Pada umumnya orang-orang tua di desa ini bisa baca tulis huruf latin. Tetapi dapat lancar membaca dan menulis huruf Arab. Hal ini merupakan dari sisa-sisa kegiatan perkembangan Islam di mana di desa-desa tersebut terdapat pengajian-pengajian tradisional. Sesuai dengan tuntutan agama bahwa setiap orang wajib memberikan pengetahuan keagamaan kepada anaknya. Karena itu kalau orang tua tidak berkesempatan mengajar anak-anaknya, maka ia harus mencarikan atau menyerahkan anaknya dididik seperti mengaji Al Qur'an dan ajaran-ajaran agama Islam lainnya.

Ketentuan-ketentuan yang telah dirasakan sebagai suatu tradisi pada masa lalu itu sekarang masih berlaku di masyarakat. Misalnya jikalau di desa terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri yang memberikan pengetahuan-pengetahuan umum, maka sudah sejak lama pula di desa ini berlangsung pendidikan dan pengajaran Sekolah Dasar Islam yang dikelola oleh masyarakat.


Bahasa

Bahasa Banjar tumbuh dan berasal dari bahasa Melayu. Dalam Bahasa Banjar tidak terdapat tingkatan-tingkatan Perbedaan yang ada hanya dialek ucapannya saja. Seperti dialek Banjar Kuala, dialek Kandangan, dialek Barabai, dialek Amuntai dan dialek Alabio.

Di daerah Kalimantan Selatan selain bahasa Banjar terdapat pula bahasa dari suku-suku asli, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Manyan. bahasa Lawangan dan bahasa Bukit.

Dalam Bahasa Banjar tidak didapati bunyi "e", semua bunyi e dibunyikan dengan "a". Hal ini sesuai dengan bunyi dalam tulisan Arab Melayu, yang hanya mengenal bunyi "fathah", disamping "dumah" dan "kasrah". Karena itu dalam bahasa Banjar, "Kemana" selalu diucapkan "kamana", "kembang" diucapkan "kambang" dan sebagainya.

Awalan yang terdiri dari tiga huruf, seperti "ber" diucapkan "ba", "ter" diucapkan "ta". Misalnya "berdiri" diucapkan "badiri", kata "terpelanting" diucapkan dengan "tapalanting".

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau cerita, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar pada umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau ceritera, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Banjar untuk menyatakan hormat kepada orang lebih tua hanya terdapat dalam pemakaian istilah untuk sebutan "aku" atau "kamu". Apabila seorang anak berbicara kepada orang tuanya atau orang lain yang dihormatinya, maka ia menyebut dirinya "ulun" dan menyebut orang yang dihormatinya tersebut dengan "pian". Bagi orang Banjar Kuala yang sebaya umumnya menggunakan istilah "unda" untuk pengganti diri "aku", dan istilah "nyawa" untuk pengganti diri "kamu". Sedangkan orang Banjar Pahuluan menggunakan istilah "aku" dan "ikam" atau istilah lainnya "saurang" dan "andika" untuk pengganti diri aku dan kamu.

Orang tua laki-laki disebut "abah", dan ibu disebut "uma" Sedangkan bagi ayah dan ibu biasanya menyebut anak-anaknya dengan gelar "utuh" atau "anang" untuk yang laki-laki, dan gelar "galuh" untuk anak wanita.

Ada semacam perasaan segan bagi seorang suami maupun seorang istri utuk memanggil isteri atau suami dengan menyebut nama yang bersangkutan. Karena itu dalam masyarakat desa ini seorang suami atau seorang isteri masing-masing memanggil dengan identitas anak-anak mereka. Umumnya diambil dari nama pertamanya, misalnya abahnya Ali, untuk memanggil kepada suami yang anaknya bernama Ali, atau umanya Ali panggilan kepada isteri sebagai ibunya Ali. Kebiasaan untuk tidak menyebutkan nama ini memang menjadi amat kaku, terutama pada waktu kedua suami isteri tersebut belum atau tidak mempunyai anak. Karena itu kode-kode yang mereka sudah saling pahami banyak dipakai. Misalnya untuk pengganti nama itu disebut saja "eh" atau "oh". Kebiasaan ini masih terdapat dipedesaan sampai sekarang, walaupun pengaruh adat dan tata cara dari luar telah banyak pula merubah kehidupan desa tersebut. Generasi muda sekarang di desa ini yang telah berkeluarga, sudah ada juga yang menggunakan sebutan "kakak" dan "adik" untuk panggilan kepada suami dan kepada isteri. Bahkan panggilan dengan nama kesayangan juga ada yang menggunakan.

Sumber: Buku; Tata Kelakuan dilingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1984/1985.

Baca juga buku tema-tema buku dari proyek IDKD Kalimantan Selatan tahun 1984/1985 yang meliputi :
1. Arti perlambang dan fungsi tatarias pengantin dalam menanamkan nilai-nilai budaya
2. Makanan : wujud, variasi dan fungsinya serta cara penyajiannya
3. Pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan tanah secara tradisional
4. Tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat
5. Pembauran antar suku bangsa   
6. Pertumbuhan Pemukiman masyarakat di lingkungan air.      

CERITA LEGENDA ASAL MULA KUDA GIPANG BANJAR (BAHASA BANJAR KALSEL)

Indoborneonatural---di daerah Kalimantan Selatan khususnya pada masyarakat Banjar, terdapat banyak kisah cerita legenda yang menarik. Cerita ini dikisahkan turun temurun dari para tetuha "datu" kepada anak cucu. Salah satu cerita yang menarik ini adalah cerita tentang asal usul "Kuda Gipang". Kuda Gipang merupakan salah satu kesenian tradisi khas masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, yang berbentuk tarian kuda gipang dan teater tradisional dengan cerita Mahabarata di dalamnya.

Berikut cerita Asal Mula Kuda Gipang Banjar yang ditulis dalam Bahasa Banjar darah Kalimantan Selatan;


Kuda gipang Banjar nitu tamasuk kasanian banua Banjar nang maabil carita wayang Mahabrata, nang kisahnya, baupacara bakarasmin bakakawinan. Nang dikawinakan saikung Pandawa Lima, Bima lawan Dewi Arimbi, anak Sang Hiang Parabu Kisa, asal Nagara Sura Paringgadani.

Wadah patataian pangantin Bima lawan Dewi Arimbi nitu diulahakan Balai Sakadumas, diramiakan tuntunan tatarian lawan gagamalan nang bangaran tapung tali, luntang, kijik, kuda laguring lawan parabangsa.

Gamalannya wayah dahulu ada kulung-kulung, babun lawan agung. Wayah hini ada sarun, dau lawan kanung. Manurut kisah, kuda gipang nang dipimpin ulih saikung raja, baisi anak buahnya nang bangaran Raden Arimbi, Braja Kangkapa, Baraja Santika, Baraja Musti, Baraja Sangatan, Braja Danta, ditambah lawan bubuhan punggawa lainnya. Samunyaan pasukan nitu sampai sapuluh atawa lawih bubuhan prajurit anak buahnya.

Kuda-kuda kada hingkat ditunggang. Sababnya raja nitu unrang nang sakti. Amun kudanya ditunggang, maka kuda nitu jadi rabah sampai lumpuh. Asal usulnya tapaksa kuda nitu dikapit di bawah katiak, ada kisahnya pada wayah dahulu. Dangarakanlah kisanya;

Nagara Dipa nang rajanya bangaran Pangeran Suryanata nitu sudah dikatahuani urang sampai ka mana-mana. Urang nagari Cina nang jauh nitu gin sudah tahu jua, salawan Ampu Jatmika minta diulahakan patung gangsa gasan diandak di Nagara Dipa. Wayah nitu disuruh Wiramartas maurus pasanan baulah patung gangsa ka nagari Cina.

Mangkubumi Lambung Mangkurat sudah takanal banar jua, sampai kaluar banua. Urang mandangar Lambung Mangkurat nitu mangkubumi karaan Nagara Dipa nang paling wani, gagah, taguh, dihurmati ulih samunyaan urang.

Karajaan Majapahit nang ada di Jawa sudah lawas jua ada bahubungan lawan Nagara Dipa. Malahan buhubungan nitu tamasuk tutus rajanya, nang asal usulnya Pangeran Suryanata nitu  anak tapaan raja Majapahit.

Pada suatu hari, Lambung Mangkurat dapat undangan tamatan raja Majapahit di Jawa. Maksudnya maundang gasan marakatakan hubungan karajaan Majapahit lawan karajaan Nagara Dipa.

Wayah ari nang ditantuakan nitu, maka barakat, tulakan Lambung Mangkurat mambawa kapal si Parabayaksa, kapal karajaan Nagara Dipa nang ganal nitu.

Limbah Lambung Mangkurat Malapor lawan raja Pangeran Suryanata, kapal nitu balayar menuju pulau Jawa. Umpat jua di situ hulubalang Arya Magatsari lawan Tumanggung Tatahjiwa. Kada tatinggal bubuhan pengawal kaamanan Singabana, Singantaka, Singapati lawan anak buah kapal si Parabayaksa.

Salawas dalam parjalanan di Laut Jawa, kapal kerajaan nitu balayar laju, kadda halangan nangapa-apa. Samunyaan anak buah kapal bagawi rajin nang dituhai alih juragan.

Kada lawa kapal si Parabayaksa nitu parak sudah lawan palabuhan karajaan Majapahit. Raja Majapahit nang mandangar kapal datang tumatan di Nagara Dipa, lakas mamarintahakan manyiapkan sambutan. Inya tahu di kapal nitu musti ada Lambung Mangkurat nang diundangnya.

Kadatangan Lambung Mangkurat ka karajaan Majapahit nitu tarus di papak ulih Gajah Mada di kapal si Parabayaksa, balalu dibawa ka istana karajaan Majapahit.

Raja Majapahit duduk di Situluhur nang dikulilingi ulih panggapitnya. Lambung Mangkurat duduk di Rancak Suci, nang pangawalnya duduk di balakang. Raja Majapahit suka bangat manyambut Lambung Mangkurat. Inya mangiau "paman" lawan Lambung Mangkurat. Wayah nitu Lambung Mangkurat bujur-bujur kaliatan gagah nang raja Majapahit nitu mahurmatinya.

Lambung Mangkurat menyampaikan salam kahurmatan raja Nagar Dipa Pangeran Suryanata lawan raja Majapahit, balalu manyampaiakan tanda mata talu bigi intan lawan raja Majapahit nitu. Raja Majapahit suka bangat inya manarima tanda mata intan.

Wayah nitu, sudah pitung hari, Lambung Mangkurat, bubuhan hulubalang lawan pengawal keamanan Singabana jadi tamu kahurmatan di karajaan Majapahit. Bubuhannya maliat-liat isi karajaan, istananya, maliat kaahlian prajurit-prajurit, lawan pasukan kaamanan kerajaan nitu. Bubuhannya jua dibari makan nginum makanan nginuman karajaan.

Limbah sudah puas di karajaan Majapahit nitu, Lambung Mangkurat sabarataan handak bulik ka banua Nagara Dipa. Wayah malamnya, ulih raja Majapahit diadakan tuntunan kasanian gasan mahibur Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang cagar bulikan ka banua asal disubarang.

Isuk baisukannya Lambung Mangkurat dibari tanda mata ulih raja Majapahit saikung kuda putih nang tinggi lawan ganal-ganalnya. Kuda nitu gagah, bigas, ujar tu tamasuk kuda nang paling harat dikarajaan Majapahit.

Lambung Mangkurat manarima kuda nitu suka bangat, balalu tarus dibawa kaluar halaman istana. Wayah handak dibawa ampah ka kapal si Parabayaksa, hulubalang Tumanggung Tatahjiwa baucap :

"Bapa Lambung Mangkurat! Kaya apa amun kuda pambarian raja naya ditunggang dulu, nyaman kaliatan kaharatannya".

" Bujur jua", dalam hati Lambung Mangkurat.

Balalu kuda nitu ditunggang ulih Lambung Mangkurat. 

Limbah Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda putih nitu, sakalinya kuda pambarian raja nitu rabah, inya lumpuh, sampai talipat batisnya ka tanah.

Lambung Mangkurat, hulubalang Arya Magatsari, Tumanggung Tatahjiwa lawan bubuhan Sangabana takajut, hiran bangat limbah maliat kuda nitu lumpuh. Pada hal dipadahakan kuda nitu harat, gagah lawan bigas-bigasnya.

"Kita hadangi satumat. kaina ditunggang pulang", ujar hulubalang Arya Magatsari. Bujur jua, limbah dihadangi satumat, Lambung Mangkurat manunggang pulang kuda nitu. Kada dikira, kuda nang ganal nitu lumpuh pulang. Bubuhannya barataan nang ada di situ hiran pulang malihat kuda nitu lumpuh.

"Amun kaya nitu kuda naya dicuba ditunggang talu kali, tagal kita hadangi talawasi pada nang tadahulu", ujar hulubalang tumanggung Tatahjiwa.

Bubuhannya baranai dahulu sambil mamusut-musut gulu lawan kapal kuda nitu. Kada lawas limbah nitu Lambung Mangkurat balalu baluncat naik ka atas balakang kuda. Babayanya Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda nitu, inya lumpuh pulang. Sakalinya kaampat batis kuda nitu talipat sampai ka tanah. Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang ada di situ jadi hiran bangat, pada hal ujar habar kuda nitu harat bangat.

Lambung Mangkurat jadi asa kasian limbang maliat kuda nitu lumpuh. Apalagi limbah ditariknya tali hidung kuda nita, kuda nitu kada kawa bajalan.

"Kaya apa pikiran?", ujar hulubalang Arya Magatsari.

"Amun kuda naya kita bulikakan k karajaan Majapahit kaya apa?", ujar urang nang saikung anggota Sangabana.

"Jangan! Nitu artinya kita kada mahurmati pambarian raja Majapahit", ujar hulubalang Tumanggung Tatahjiwa.

"Bujur!", ujar Lambung Mangkurat manyahuti.

"Nang kaya apa haja jadinya, kuda naya musti kita bawa bulik ka banua kita Nagara Dipa. Sabab kuda naya pambarian kahurmatan", ujar lambung mangkurat manambahi.

Barataan nang ada di situ pina bingung. Tagal Lambung Mangkurat haja nang kada bingung. Inya balalu duduk di tanah mahadapi matahari hidup. Kadua balah batisnya basila. Kadua balah tangannya diandaknya di atas paha. Balalu inya mamaicingakan matanya sambil mambaca mantra. Lawas inya baparigal kaya nitu, balalu inya badiri, matanya nyarak, kaliatan pina batambah bigas, batambah sumangat nang luar biasa. Lambung Mangkurat sakalinya mangaluarakan kasaktiannya. Dasar bujur-bujur inya urang nang sakti. Limbah nitu, kada kaya prabahasa, kuda niti diangkatnya, dikapitnya di bawah katiak tangan nang subalah kanan.

Awal lambung Mangkurat nang jadi tinggi lawan ganal-ganalnya nitu pina hampul haja maangkat kuda putih nitu, tarus dibawanya masuk ka dalam kapal si Parabayaksa.

Hulubalang lawan sabarataan nang ada di situ tacaragal maliat kaharatan Lambung Mangkurat nang kawa maangkat kuda pambarian raja Majapahit nitu. Balum biasa bubuhannya maliat Lambung Mangkurat nang hingkat maangkat kuda macam nitu.

Kada lawas limbah nitu, kapal si Parabayaksa balalu balayar mambawa Lambung Mangkurat, hulubalang, bubuhan pangawal kaamanan lawan sabarataan anank buah. Kapal ganal nitu sing lajuan manuju ampah banua, bulik ka karajaan Nagara Dipa.

Bubuhan kulawarga karajaan Nagara Dipa nang ada di banua, suka bangat manyambut kadatangan kapal si Parabayaksa nang dipimpin ulih Lambung Mangkurat nitu. Apalagi limbah mandangar ada kuda gagah pambarian raja Majapahit nang diangkat ulih Lambung Mangkurat.

Kuda pambarian raja, kuda putih nanga gagah, tinggi lawan ganal-ganalnya nitu diharagu di karajaan Nagara Dipa. Limbah nitu, kada lawas, balalu diadaakan kasanian kuda gipang Banjar nang kudnaya diigalakan, dikapit di bawah katiak sampai wayah hini.


Tarian Kuda Gepang - Foto: rebanas.com



Nilai moral cerita:

Saban urang nang bakawal, nang bakawal parak atawa jauh, bagus bangat amun tatarusan barakat-rakat, wayah-wayah ba-i-ilangan, babarian nangapa haja, makanan atawa cindramata gasan paliliatan. Kabiasaan nang baik nitu jadi marapatakan atawa manguatakan tali silaturrahmi.

Lawan bagus bangat jua maharagu kasanian paninggalan urang-urang tuha kita bahari, supaya kada hilang, sama artinya lawan maharagu warisan nang bamanfaat gasan urang-urang nang wayah hini.

Anda dapat mendownloan dan mengkopy artikel ini di http://indoborneonatural.blogspot.co.id/ 

INILAH PENGERTIAN WAYANG PURWA DAN TOKOH-TOKOH WAYANG PURWA LENGKAP

Indoborneonatural----Sebelum kita lihat tokoh-tokoh Wayang Purwa di Indonesia, yang merapakan warisan khasanah kesenian budaya bangsa, kita akan mengenal terlebih dahulu apa itu wayang purwa.

Menurut Wikipedia :

Wayang purwa atau wayang kulit purwa. Kata purwa (pertama) dipakai untuk membedakan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Banyak jenis wayang kulit mulai dari wayang wahyu, wayang sadat, wayang gedhog, wayang kancil, wayang pancasila dan sebagainya. Purwa berarti awal, wayang purwa diperkirakan mempunyai umur yang paling tua di antara wayang kulit lainnya. Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di abad 11 pada zaman pemerintahan Erlangga yang menyebutkan:

"Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap"

yang artinya:

Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang dipahat berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara

Petikan di atas adalah bait 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030), salah satu sumber tertulis tertua dan autentik tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, yaitu pada masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga di Kerajaan Kediri.

Wayang purwa sendiri biasanya menggunakan ceritera Ramayana dan Mahabarata, sedangkan jika sudah merambah ke ceritera Panji biasanya disajikan dengan wayang Gedhog. Wayang kulit purwa sendiri terdiri dari beberapa gaya atau gagrak seperti gagrak Kasunanan, Mangkunegaran, Ngayogjakarta, Banyumasan, Jawatimuran, Kedu, Cirebon, dan sebagainya.


Wayang kulit purwa terbuat dari bahan kulit kerbau yang ditatah dan diberi warna sesuai dengan kaidah pulasan wayang pedalangan, diberi tangkai dari bahan tanduk kerbau bule yang diolah sedemikian rupa dengan nama cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit.

Ditinjau dari bentuk bangunnya wayang kulit purwa dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain:

Wayang Kidang kencana; boneka wayang berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan).
Wayang Ageng; yaitu boneka wayang yang berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian lambung dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan.
Wayang kaper;yaitu wayang yang berukuran lebih kecil daripada wayang biasa.

Wayang Kateb;yaitu wayang yang ukuran kakinya terlalku panjang tidak seimbang dengan badannya.

Pada perkembangannya bentuk bangun wayang kulit ini mengalami perkembangan bahkan pergeseran dari yang tradisi menjadi kreasi baru. Pada zaman Keraton Surakarta masih berjaya dibuat wayang dalam ukuran yang sangat besar yang kemudian diberi nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin mengilhami para dalang khususnya Surakarta untuk membuat wayang dengan ukuran lebih besar lagi. Misalnya Alm. Ki Mulyanto Mangkudarsono dari Sragen, Jawa Tengah membuat Raksasa dengan ukuran 2 meter, dengan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya termasuk Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro dari Surakarta, Ki Sudirman dari Sragen dan masih banyak lagi dalang lainnya.


Ki Entus Susumono dari Tegal bahkan telah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang planet, wayang tokoh kartun seperti superman, batman, ksatria baja hitam, robot, dinosaurus, dan wayang Rai- Wong (bermuka orang) - tokoh George Walker Bush, Saddam Hussein, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah. Ki Entus juga menggabungkan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang Cirebon dan bawah Surakarta).

Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit purwa juga semakin marak, misalnya dengan ditambahkannya berbagai boneka wayang dari tokoh polisi, Helikopter, ambulans, barisan Tentara, Pemain drum band, sampai tokoh Mbah Marijan. (Sumber: id.wikipedia.org).

Tokoh-tokoh Wayang Purwa 

1. Prabu Abiyasa dan Beghawan Abiyasa   
2. Abilawa
3. Abimayu
4. Adirata
5. Agnyanawati

SUKU BATAK DAN NILAI-NILAI KEBUDAYAANNYA YANG TERKENAL

Indoborneonatural----Kebudayaan Suku Batak yang Terkenal, Indonesia terkenal dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. Dari Sabang hingga Merauke memiliki ciri khas dan identitas tersendiri setiap sukunya. Wilayah di Indonesia paling banyak didominasi oleh suku Jawa dan Suku Batak.

Batak adalah rumpun suku-suku yang mendiami sebagian besar wilayah Sumatra Utara. Sehingga tidak ada budaya dan bahasa Batak, tetapi budaya dan bahasa Toba, Karo, Simalungun dan suku-suku lain yang serumpun. Saat ini pada umumnya orang Batak menganut agama Kristen Protestan, Kristen Katolik, Islam.

Hampir di semua propinsi ditemui orang-orang dari kedua suku ini. Namun sebenarnya tak hanya kedua suku ini yang mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia. Beberapa suku seperti Minang, Lampung, Sunda, Madura, juga mendominasi sebagian besar daerah di Indonesia.

Pada bahasan kali ini akan dijelaskan lebih dalam mengenai Suku Batak yang ada di Sumatera Utara. Seperti kebanyakan penganut agama di Indonesia, agama yang dianut suku ini diantaranya Kristen, Protestan, Katolik dan Islam.

Suku yang terkenal dari cara bicaranya yang keras ini memiliki kebiasaan martarombo, yaitu mencari hubungan saudara dengan marga yang sama. Maka tak heran jika sistem kekerabatannya sangat erat.



Sejarah Suku Batak

Sejarah dari kebudayaan suku batak yaitu sebagai berikut ini, Kerajaan batak telah didirikan oleh seseorang raja yang berasal dari dalam negeri Toba Sila-silahi (Silalahi) lau’ Baligi (Luat Balige), yang berada di kampung Parsoluhan, suku Pohan. Raja tersebut yang langsung bersangkutan adalah RajaKesaktian. Raja kesaktian ini bernama Alang Pardoksi atau yang sering di panggil sebagai Pardosi.

Pada masa kejayaan maka kerajaan batak telah di pimpin oleh raja juga. Raja yang memimpin bernama Sultan Mahara Bongsu, beliau memimpin pada tahun 1054 Hujriyah dan beliau juga yang sudah membuat makmur negerinya dan beliau adalah seseorang yang memiliki kebijakan dalam politik nya.

Suku ini memiliki rumah adat yang dikenal dengan nama rumah Bolon. Rumah Bolon memiliki bentuk seperti rumah panggung pada umumnya. Pintu masuk yang rendah pada rumah Bolon memiliki makna untuk tamu yang berkunjung.

Makna filosofisnya yaitu bagi tamu seharusnya menghormati tuan rumah, disamping itu juga harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku. Sampai saat ini belum diketahui asal-usul nenek moyang dari Suku Batak. Meskipun begitu diperkirakan nenek moyang dari suku ini ada pada zaman logam.

Sebab hingga sekarang artefak Neolitikum yang menjelaskan keberadaan nenek moyang suku batak belum ditemukan. Suku Batak merupakan kumpulan dari berbagai suku-suku di Sumatera Utara.

Beberapa suku yang termasuk ke dalam suku ini adalah Mandailing, Toba, Pakpak, Karo, Simalungan dan Angkola. Setiap bagian suku tersebut memiliki budaya yang berbeda. Seperti pada Mandailing yang cenderung berbahasa melayu dan sebagian besar sukunya orang Islam.


Lokasi/Geografis



Kebudayaan suku batak berasal dari Pulau Sumatra Utara. Daerah ini merupakan daerah yang berasal dari kediaman orang batak yang sudah di kenal dengan :
  • Daratan Tinggi Karo
  • Kangkat Hulu
  • Deli Hulu
  • Serdang Hulu
  • Simalungun
  • Toba
  • Mandailinh
  • Tapanuli Tengah.

Sehingga daerah suku batak ini bisa di lalui dengan rangkaian Bukit Barisan yang berada di daerah Sumatra Utara. Di sini juga terdapat suatu danau yang memiliki ukuran yang besar dan danau ini sering di sebut dengan sebutan danau Toba. Jika di lihat dari wilayah administrative nya maka mereka akan mendiami wilayah yang beberapa kabupaten sebagian dari wilayah Sumatra Utara. Wilayah nya yaitu sebagai berikut ini :
  • Kabupaten Karo
  • Simalungun
  • Dairi
  • Tapanuli Utara
  • Asahan



Nilai-Nilai Budaya Suku Batak

Pada dasarnya setiap suku memiliki falsafah hidup yang diayomi setiap masyarakatnya. Falsafah hidup tersebut berfungsi sebagai nilai yang mengontrol dalam sistem sosial. Begitu pula pada Suku Batak yang juga memiliki nilai-nilai budaya, diantaranya:

1. Hagabeon

Hagabeon dalam Suku Batak bermakna harapan memiliki anak dan cucu yang baik-baik dan panjang umur. Dengan umur yang panjang diharapkan dapat menikahkan anak dan mendapatkan keturunan yang baik. Bagi suku ini anak merupakan simbol keberhasilan dalam pernikahan.

Apalagi anak laki-laki, yang merupakan penerus marganya. Pada adat kuno aturan memiliki anak bagi orang batak yaitu sebanyak 33. Dimana laki-laki sebanyak 17 anak dan perempuan 16 anak. Namun seiring kemajuan jaman nilai adat tersebut mulai tergeser dan tergantikan dengan nilai baru.

Saat ini prioritas memiliki anak bukan lagi terpaut pada kuantitas melainkan pada kualitas. Sehingga pendidikan dan keterampilan merupakan hal utama yang harus dimiliki seorang anak.

2. Hamoraan

Dalam adat Suku Batak nilai budaya hamoraan memiliki makna kehormatan. Aspek kehormatan yang dimaksud yaitu keseimbangan antara nilai materil dan spiritual. Seseorang dianggap terhormat apabila memiliki kekayaan, sikap baik hati antar sesama dan nilai spiritual yang tinggi.

Meskipun seseorang memiliki kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi, tidak ada artinya jika tidak memiliki nilai spiritual. Inilah keseimbangan yang dimaksud. Bahwa proporsi antara nilai materil dan spiritual haruslah seimbang.

3. Uhum Dan Ugari

Nilai ini memiliki makna yang sama dengan hukum. Bagi orang Batak hukum atau uhum merupakan suatu hal yang mutlak ditegakkan. Implementasi nilai-nilai ini diwujudkan melalui sikap keadilan. Nilai keadilan itu sendiri diwujudkan dari komitmen melakukan kebiasaan (ugari) dan kesetiaan pada janji.

Seorang Suku Batak apabila berkhianat pada suatu kesepakatan adat akan menerima sanksi adat dan dianggap sangat tercela. Oleh karenanya bagi mereka uhum dan ugari merupakan suatu hal yang amat dipatuhi. Dan orang Batak dianggap sempurna jika mampu menghormati uhum dan ugari serta dapat menepati janji.

4. Pengayoman

Nilai pengayoman dalam Suku Batak terbilang cukup unik. Mengapa? Karena dengan nilai ini mereka menjadi terbiasa hidup mandiri dan tidak mudah meminta belas kasihan orang lain. Sebab salah satu prinsip adat mereka yaitu semua orang merupakan pengayom dan akan saling mengayomi antar sesama.

Prinsip tersebut berasal dari unsur yang dikenal dengan Dalihan Na Tolu. Unsur tersebut sejatinya merupakan unsur yang secara magis dipercaya saling melindungi. Hubungan tersebut layaknya jaring laba-laba yang saling berkaitan dengan nilai-nilai adat.

5. Marsisarian

Dalam sistem sosial selalu dibutuhkan nilai yang mengatur untuk menjaga keseimbangan hubungan antar manusia. Nilai ini memang sangat dibutuhkan. Sebab selalu ada perbedaan dalam sekelompok manusia. Sehingga nilai-nilai dan aturan ini yang menjadi acuan dalam keberlangsungan kehidupan manusia.

Begitu pula dengan nilai marsisarian yang ada pada Suku Batak. Marsisarian memiliki makna saling menghargai, mengerti dan saling membantu. Dengan adanya nilai ini seseorang harus menghormati dan menghargai antar sesama. Lebih baiknya lagi nilai ini dapat mencegah konflik yang terjadi dalam masyarakat.

6. Kekerabatan

Nilai kekerabatan merupakan nilai budaya yang paling utama pada masyarakat Suku Batak. Nilai ini menjunjung tinggi prinsip adatnya yaitu Dalihan Na Tolu. Hal ini dapat terlihat hubungan kekerabatan yang baik antar sesama sub-suku.

Hubungan kekerabatan diwujudkan dengan tutur kata yang baik, pertalian perkawinan, dan martarombo. Martarombo sendiri berarti bertutur dan mencari-cari saudara. Biasanya hal ini dilakukan pada suku batak yang merantau. Umumnya mereka mencari-cari hubungan pertalian sesama marganya.

Demikianlah penjelasan mengenai Suku Batak di Sumatera Utara. Dari penjabaran ini kita tahu bahwa Indonesia sangat kaya akan adat budaya, suku, bahasa dan kepercayaannya. Ini dapat kita lihat pada kenyataan setiap daerah memiliki suku, dan setiap suku memiliki sub-suku.

Potensi budaya di Indonesia merupakan satu hal yang wajib bagi kita untuk tetap melestarikannya. Selain sebagai bentuk warisan bagi generasi bangsa juga sebagai icon yang menjadi pembeda dari negara-negara lain.

SENJATA TRADISIONAL (THE TRADITIONAL WEAPON) YANG PERNAH ADA DI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural-----Senjata tradisional merupakan produk budaya yang lekat hubungannya dengan suatu masyarakat. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, senjata tradisional juga digunakan dalam kegiatan berladang dan berburu. Lebih dari fungsinya, senjata tradisional kini menjadi identitas suatu bangsa yang turut memperkaya khazanah kebudayaan nusantara. Senjata tradisional ini sungguh unik dan sekarang sebagian sudah langka, karena sudah jarang dimiliki oleh kebanyakan orang, akan tetapi senjata tradisional ini kini telah banyak dijadikan sebagai koleksi bagi pecinta barang antik dan banyak diburu oleh para kolektor tersebut. Harga senjata tradisional unik pun semakin mahal, bahkan mencapai ratusan juta rupiah.

Senjata tradisional yang dibuat dengan teknik tempa besa seperti parang, keris, tombak, kapak dan balayung oleh pemakainya digunakan sebagai senjata untuk pertahanan diri. Jenis senjata yang bagus buatannya biasanya dipakai sebagai simbol kepemimpinan dan kebanggan diri. Berapa jenis senjata fungsi sosialnya diketahui sebagai pusaka dari peninggalan budaya keraton Banjarmasin. Orientasi nilai pada orang Melayu di Asia Tenggara yang percaya pada berbagai kekuatan ghaib sering juga menganggap sebuah senjata dapat memiliki unsur saksi jika diukur dengan kalimat dari doa-doa suci seorang pemimpin agama yang sanggup berhubungan dengan alam-alam ghaib.

Indoborneonatural-----Traditional weapons are cultural products that are closely related to a society. Besides being used to shelter from enemy attacks, traditional weapons are also used in farming and hunting activities. More than its function, traditional weapons are now the identity of a nation that helped enrich the cultural treasures of the archipelago. This traditional weapon is unique and now partly rare, because it is rarely owned by most people, but this traditional weapon has now been used as a collection for lovers of antiques and many hunted by the collectors. The price of traditional weapons is even more expensive, even reaching hundreds of millions of rupiah.

The traditional weapon built from the Black Smith culture lie blades, kerises, spears, balayungs and hand axes are used for a self defence weapons. The best fabricated weapon is worn to the heirlooms and privileges. The social function of weapon is branded for regalia from the Banjarmasin royal heritage. The Malayan value orientation on South East Asia that believes in a supranatural impunity is fequently assume that the weapon has circumstance power by grafted in an aculticism word tah engege for the shaman corthegous in the supranatural orders.

The following are some of the traditional weapons of South Kalimantan that we must preserve:

1. Parang Kemudi singkir



2. Cemeti


3. Ruti Kalung


4. Jambia


5. Parang Lubuk


6. Parang Baduk


7. Keris


8. Tombak



9. Keris Ilat Patung



10. Keris Sempana



11. Cabang/Trisula


12. Balayung Nyaru, dan Kapak Siam



Demikian tentang senjata tradisional "The Traditional Weapon" Khas Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat untuk menambah pengetahuan kita tentang khasanah budaya bangsa, terimakasih.

BERBURU KULINER WADAI APAM 'DANGKAK' DI KOTA AMUNTAI KALSEL

Indoboneonatural----Siapa sich orangnya yang tidak kenal dengan itik alabio, binatang ikon, khas dari kabupaten hulu sungai utara ini sudah masyur sampai nasional sebagai salah satu jenis itik paling bandel dan mudah dipelihara.

Itik alabio disebut demikian karena di kecamatan alabio lah tempat perdagangan itik ini diselenggarakan secara besar-besaran. Kecamatan yang terletak hanya 10 Km dari Amuntai, ibu kota kabupaten ini. Itik alabio rupanya telah dijadikan ikon dari kabupaten Hulu sungai Utara, sebuah patung besar itik Alabio ini pun telah di bangun di kota amuntai. , siapa yang tidak pernah mendengar kota amuntai?..tentu saja di Indonesia ini masih banyak yang tidak tahu tentang kota amuntai. Tapi tentang Amuntai kali ini kita tidak membahas itik Alabio, tetapi admin mengajak mencicipi salah satu kulinernya, salah satu kue khas Kalimantan Selatan, yaitu Apam dangkak, sekalian kita lihat sedikit proses pengolahannya, melalui foto-foto di bawah ini.

Mengunjungi kota Amuntai memang tidak lengkap rasanya kalau tidak menyambangi jajanan tradisonal yang sangat lezat untuk disantap selagi hangat. Seperti yang satu ini, masyarakat Amuntai biasa menyebut lumba/apam dangkak. Disebut apam dangkak karena dulu penganan ini dinikmati sambil jongkok karena tak ada kursi. Apam ini berasa tawar karena itu memakannya menggunakan gula merah yang sudah dicairkan, biasa juga dicelup ke madu dan setrup(sirup). Tidak hanya apam, ada lagi yang disebut cincin talipuk. Penganan manis ini terbuat dari tepung buah teratai. Dengan tambahan gula merah dibentuk kecil-kecil, sangat sedap dinikmati dengan segelas teh hangat....(ayo...ke Amuntai....).

Foto-foto +pembuatan kue/ wadai lumba/apam dangkak secara tradisional :


Pembuatan wadai lumba/apam dangkak dilakukan secara tradional, dengan dapur/ tungku kayu bakar dan penggorengan wajan besar yang telah dipotong-potong menjadi beberapa bagian (Panci Belah).


Kue wadai lumba/apam dangkak, yang dimasak di atas penggorengan panci belah di beri tutup khusus, tutup yang terbuat dari tanah liat yang sudah dipanaskan, agar kue apam cepat matang merata bagian atas dan bawahnya secara bersamaan. 


Proses memasak dilakukan berulang-ulang, dengan mengangkat kue apam yang sudah matang dan menuangkan lagi odonan kue, beberapa kali sesuai dengan banyaknya bahan dan odonan kue yang telah di persiapkan.

Kue wadai lumba/apam dangkak yang telah diangkat dari wajan didinginkan di dalam nyiru yang diberi alas daun pisang, setelah dingin, siap disajikan dengan memberi kuah dari santan, gula merah atau gula aren.



Pasar Kue/Wadai di Amuntai
Kue wadai lumba/apam dangkak, bisa dimakan sendiri atau dijual di pasar-pasar tradisional, dan warung di daerah Amuntai dan sekitarnya.


Source: Facebook Hatmiati Masud

PELAMUTAN TERAKHIR DI BANUA BANJAR; GUSTI JAMHAR AKBAR


Itihi Gusti Jamhar Akbar -- "Palamutan Pahabisan di Banua"

Tahun ini umur banua Kalimantan Selatan 67 tahun, Indonesia 72 tahun. Jaman sasain maju, tagal lamut, seni tradisi Banjar, sasain langlam di Bumi Antasari. Palamutan nang ada sasain tuha, nang anum -- nang pacang manggantiakan -- kadada buriniknya. Amun nang tuhanya kadada lagi, saku lamut pacangan mati. Kadada nang bisanya lagi balamut.

Nasip wayang kulit Banjar wan madihin saku tabaik pada lamut. Ada haja dadalang anum nang bisa bawayang. Di Kampung Panggung, Barikin, Hulu Sungai Tengah, pariannya, ada Ufik Dalang, nang mawaris ilmu dadalang matan Abahnya, aruah Dalang Saderi.

Madihin baik lagi nasipnya. Banyak haja nang harat bamadihin, kaya John Tralala, Anang Syahrani wan Suanang Iyan. Nang taanum, ada jua, bujur balum mahir banar.

Tamu kita hari ini Gusti Jamhar Akbar -- dikiau “Ayah”. Saku sidin palamutan nang pahabisan di banua. Tumatan halus sidin sudah balamut, mairingi kawitan nang palamutan. Tahun ini umur sidin 75 tahun.


Di Banjar, rumah sidin takapit dalam Gang Mujahid Aman, Alalak Selatan. Mustinya ada urang sugih -- atawa Pamarintah Kalimantan Selatan -- nang mahadiahi rumah sagan sidin, kaya Hubnur Rudy Ariffin Bakhrun mahadiahi rumah sagan Anang Ardiansyah. Salajur mahadang disaru urang balamut -- lamut hajat atawa hiburan -- sidin bajualan pancarikinan di ambin rumah.

Syukur alhamdulillah, di FKIP ULM sudah ada “Doktor Lamut”, Sainul Hermawan, nang disertasinya -- “Ayangilah”: Resistensi Dalam Tradisi Lisan Balamut, Varian Gusti Jamhar Akbar di Banjarmasin, Kalimantan Selatan” -- 3 Juli 2017 maju sidang di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia; 23 Agustus 2017 samalam wisuda.

Tahun 2015 lamut diakui Pamarintah RI jadi Warisan Budaya Takbenda, tagal dimapa nasipnya kaina? Kita itihi wan dangari sama-sama, napa ujar “Datu Lamut” Gusti Jamhar Akbar... 

Tulilsan Y.S Agus Soeseno 

di #Pandiran_Budaya, Tvri Kalsel, Selasa, 19 September 2017, Pukul 17.30-18.00 WITA, live streaming www.tvri.co.id.


Sumber: Facebook Y.S Agus Soeseno !

Cari Artikel