PAKAIAN ADAT 34 PROVINSI DAERAH NUSANTARA INDONESIA

Indoborneonatural---Pakaian adat, (juga pakaian rakyat, busana daerah, busana nasional, atau pakaian tradisional) adalah kostum yang mengekspresikan identitas, yang biasanya dikaitkan dengan wilayah geografis atau periode waktu dalam sejarah. Pakaian adat juga dapat menunjukkan status sosial, perkawinan, atau agama.

Jika kostum dikenakan untuk mewakili budaya atau identitas kelompok etnis atau suku bangsa tertentu, biasanya dikenal sebagai busana adat suku (juga pakaian etnis, busana etnis, atau pakaian etnis tradisional). Kostum seperti itu sering terdiri atas dua jenis: satu untuk acara sehari-hari, yang lainnya untuk festival tradisional, atau sebagai pakaian formal untuk upacara-upacara adat.

Di daerah di mana aturan berpakaian Barat sudah diadopsi menjadi kebiasaan baku, pakaian tradisional sering dikenakan hanya di acara-acara istimewa atau perayaan tertentu. Khususnya yang berhubungan dengan tradisi budaya, warisan, untuk menggambarkan identitas kebanggaan nasional atau jati diri kedaerahan. Acara internasional dapat mengakomodasi peserta non-Barat dengan kode pakaian lebih beraneka ragam, seperti "setelan bisnis atau busana nasional".(id.wikipedia.org/wiki/).


1. Ulee Balang, Nanggroe Aceh Darussalam

Gambar Pakaian adat Ulee Balang Daerah Nanggroe Aceh Darussalam

Pada jaman dahulu, sepasang pakaian adat Ulee Balang hanya digunakan oleh keluarga raja. Pria menggunakan pakaian bernama Peukayan Linto Baro, yakni atasan lengan panjang Meukasah berbahan sutra.

Serta bawahan berwarna hitam Sileuweu yang ditenun. Keduanya memiliki aksen khas atau hiasan sulaman benang mas dengan pola yang indah. Tidak lupa penutup kepala Meukeutop dan hiasan senjata khas Rencong.

Sedangkan wanita menggunakan Baju Kurung dan Celana Cekak Musang yang bentuknya teradaptasi dari kebudayaan Melayu, Cina, dan Arab.


2. Ulos, Sumatera Utara

Gambar Pakaian adat Ulos Daerah Sumatera Utara

Kain ulos merupakan bahan sutra yang ditenun dengan alat tradisional. Ulos dipakai bersama sebagai selempang baju pria yang terdiri dari jas dan sarung kain Ulos, maupun sebagai selempang di kebaya berwarna cerah untuk wanita.

Jaitan benang Ulos juga bisa ditambahkan pada aksen baju adat untuk suku Mandailing di Sumatera Utara. Ditambahkan dengan penutup kepala pria dan siger untuk wanita.


3. Bundo Kanduang, Sumatera Barat

Gambar Pakaian adat Bundo Kanduang Daerah Sumatera Barat

Suku Minangkabau di Sumatera Barat menggunakan pakaian adat yang sangat tertutup bagi pria maupun wanita. Bundo Kanduang terdiri dari celana kolor panjang dan atasan Baju Gunting Cina atau Teluk Belanga, serta penutup kepala atau peci untuk pria.

Sedangkan wanita menggunakan kain sarung dan kebaya panjang, dan penutup kepala berupa kain yang dililitkan ke kepala.


4. Melayu, Riau

Gambar Pakaian adat Melayu Daerah Riau

Pakaian adat Melayu untuk pria terdiri dari Baju Kurung Cekak Musang yang terbuat dari kain berkualitas seperti satin dan sutra. Kemudian ada sarung serta kopyah juga. Kemudian wanita menggunakan Kebaya Laboh.


5. Belanga, Kepulauan Riau

Gambar Pakaian adat Daerah Kepulauan Riau

Provinsi Kepri memiliki pakaian adat berupa Teluk Belanga untuk pria dan Kebaya Laboh untuk wanita. Kebudayaan antar daerah Kepri, Riau, dan Sumbar yang memang berdekatan membuat pakaian adat yang dipakai pun hampir sama.


6. Melayu, Jambi

Gambar Pakaian adat Daerah Jambi

Pakaian adat Melayu Jambi menggunakan setelan kain beludru baik untuk pria maupun wanita. Namun, pakaian adat wanita dibuat tanpa lengan, dan pakaian pria menggunakan baju kurung tanggung berbahan beludru juga.


7. Aesan Gede, Sumatera Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sumatera Selatan

Aesan Gede dikenal sebagai pakaian adat yang syarat dengan banyak aksesoris untuk pria dan wanita. Pakaian ini berwarna cerah seperti merah, emas, maupun kejinggaan dengan penutup kepala untuk pria dan siger untuk wanita.


8. Paksian, Bangka Belitung

Gambar Pakaian adat Daerah Bangka Belitung

Pakaian adat ini memiliki dua warna pilihan, yakni merah dan ungu. Wanita akan menggunakan baju kurung berbahan sutra atau beludru, serta mahkota Paksian. Sementara pria memakai sorban sungkon.


9. Melayu, Bengkulu

Gambar Pakaian adat Daerah Bengkulu

Pakaian Melayu berwarna merah ini identik dengan kain lecap benang khas Jambi. Pria dan wanita menggunakan penutup dan hiasan kepala.


10. Tulang Bawang, Lampung

Gambar Pakaian adat Daerah Lampung

Setelan putih mendominasi pakaian adat ini. Tak lupa dengan lilitan kain tapis khas Lampung serta penutup kepala untuk pria, kemudian siger serta perhiasan berwarna emas untuk wanita.


11. Pangsi, Banten

Gambar Pakaian adat Daerah Banten

Pakaian adat Pangsi dikenal dengan setelan jas pria dan kebaya putih terang untuk wanita yang dipasangkan dengan bawahan batik. Tak lupa dengan blankon dan mahkota.


12. Betawi, DKI Jakarta

Gambar Pakaian adat Daerah DKI Jakarta

Kebaya encim berwarna terang merupakan ciri khas baju Betawi untuk wanita. Ditambah dengan kain batik dan sebagai bawahan maupun dililitkan ke bagian pinggang setelan hitam pria.


13. Kebaya, Jawa Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Barat

Kebaya sunda memiliki warna yang terang seperti putih cerah, ungu, merah maroon, dan sebagainya. Sedangkan pria menggunakan jas beludru sulam benang emas.


14. Kebaya, Jawa Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Tengah

Sementara itu, pakaian adat Kebaya Jawa Tengah didominasi warna cokelat dan setelan hitan pada pria. Tak lupa dilengkapi dengan batik, jarik, surjan, dan keris sebagai aksesoris.


15. Pesa’an, Jawa Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Jawa Timur

Pesa’an sangat sederhana dan ringan dipakai. Berupa kaos merah putih untuk pria dan kebaya merah dan kain putih untuk wanita.


16. Kesatrian, D.I. Yogyakarta

Gambar Pakaian adat Daerah Yogyakarta

Kesantrian terdiri dari kain batik yang dililitkan ke tubuh hingga bagian dada. Dalam versi yang lebih tertutup, Kesantrian menggunakan kain beludru hitam panjang dengan sulaman benang mas yang khas.

Tak lupa dengan berbagai aksesoris dan hiasan kepala. Pakaian adat ini melambangkan keanggunan dan sifat berani.


17. Safari dan Kebaya, Bali

Gambar Pakaian adat Daerah Bali

Safari pada pakaian adat Bali untuk pria adalah jas berlengan pendek. Umumnya berwarna netral seperti purih, krem, dan cokelat. Sedangkan kebaya wanita warnya cerah dan terlihat manis dengan lilitan kain di pinggang.


18. Baju Adat Suku Sasak, Nusa Tenggara Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Barat

Pakaian adat ini berbahan sutra dan satin yang lembut dengan tambahan kain tenun khas Suku Sasak.


19. Baju Adat Suku Rote, Nusa Tenggara Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Nusa Tenggara Timur

Kain tenun menjadi ciri khas pakaian adat ini. Ditambah dengan atasan berwarna hitam dan putih, serta topi tilangga.


20. King Baba, Kalimantan Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Barat

King Baba berarti pakaian untuk pria. Bentuknya seperti rompi dengan kain khas yang terbuat dari kulit kayu kapuo dan dihias manik-manik indah berwarna jingga dan merah. Sedangkan wnaita menggunakan King Bibinge dengan bahan yang sama namun menutupi hingga bagian dada dan pundak.


21. Upak Nyamu, Kalimantan Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Tengah

Pakaian adat ini terbuat dari kulit kayu nyamu. Untuk wanita, Upak Nyamu dihias dengan manik-manik cantik berwarna putih, merah, dan kuning.


22. Bagajah Gamuling Baular Lulut, Kalimantan Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Selatan

Kain Sasirangan sebagai kain khas Kalsel dililitkan menjadi bawahan bagi pria. Sementara bagian dada dikalungi dengan kalung bunga dan ditambah aksesoris keris. 
Sedangkan wanita memakai kain yang terbalut hingga menutupi dada, seperti gaun.


23. Kustin, Kalimantan Timur

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Timur

Kustin memiliki tampilan yang hampir sama dengan Upak Nyamu. Terbuat dari kulit kayu yang dihias manik-manik.


24. Ta’a dan Sapei Sapaq, Kalimantan Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Kalimantan Utara

Corak pada pakaian adat ini terbilang ramai karena bervariasi dan beragam warna. Bahan kain masih berasal dari kulit kayu dengan hiasan kepala berupa mahkota bulu-bulu yang unik.


25. Laku Tepu, Sulawesi Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Utara

Serat pisang yang dipintal hingga menjadi kain membentuk pakaian ini. Warna dasarnya kuning, hijau, dan merah, ditambah penutuh kepala pada pria.


26. Mandar, Sulawesi Barat

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Barat

Pakaian mandar terdiri dari jas untuk pria dan baju lengan pendek untuk wanita (biasanya berwarna hijau, ungu, putih, atau merah) dengan kain tenun senada yang dililit di bagian bawah sebagai bawahan.


27. Nggembe, Sulawesi Tengah

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tengah

Pakaian Suku Kaili ini berbahan kain lembut yang dibentuk baju lengan panjang. Kemudian ada hiasan di bagian dada berupa bordir berbentuk bunga dan manik-manik cantik.


28. Tolaki, Sulawesi Tenggara

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Tenggara

Tolaki identik dengan warna merah dan emas dengan atasan berbahan sutra atau beludru serta bawahan berupa kain tenun.


29. Bodo, Sulawesi Selatan

Gambar Pakaian adat Daerah Sulawesi Selatan

Baju Bodo biasanya berbahan organza dengan potongan sederhana dan berlengan pendek. Namun memiliki warna cerah mencolok, serta ada kalung dan hiasan kepala sebagai aksesoris.


30. Biliu dan Makuta, Gorontalo

Gambar Pakaian adat Daerah Gorontalo

Pasangan baju Biliu dan Makuta sama-sama tertutup dengan balutan kain lembut berwarna hijau, merah, kuning, atau jingga. Juga, ada aksen khas di bagian dada serta mahkota dan penutup kepala.


31. Cele, Maluku

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku

Pakaian Cele memiliki motif garis-garis geometris yang biasa dipakai dengan kain salele pada upacara adat. Warnanya didominasi merah dan putih.


32. Manteren Lamo, Maluku Utara

Gambar Pakaian adat Daerah Maluku Utara

Suku Tidore memakai pakaian ini yang dikenal mewah. Bentuknya seperti rompi dengan warna merah hiasan sulaman benang emas yang glamor.


33. Ewer, Papua Barat

Gambar Pakaian adat Baju Ewer Daerah Papua Barat

Rok rumbai berbahan tumbuhan alami sudah sangat mencirikan Baju Ewer. Semakin terlihat menarik dengan hiasan kepala berwarna cokelas senada dengan baju Ewer. Biasanya jika memakai rok rumbai tersebut maka dilengkapi juga dengan hiasan lainnya seperti hiasan kepala dari bahan ijuk, bulu burung kasuari, atau juga anyaman daun sagu.

Selain itu juga ada perlengkapan yang lain seperti manik-manik dari kerang, taring babi yang di letakkan di antara lubang hidung, gigi anjing yang dikalungkan di leher, tas noken yang terbuat dari anyaman kulit kayu sebagai wadah umbi-umbian atau sayuran yang dipakai di kepala. Kemudian tidak lupa juga alat tradisional yang di pakai seperti tombak Papua, panah, dan juga sumpit.


34. Koteka, Papua

Gambar Pakaian adat Koteka Daerah PROVINSI Papua


Koteka yang merupakan rok berumbai terbuat dari serutan tanaman dan ada pula yang menggunakan kulit kayu sebagai kain atasan.


Demikian 34 jenis Pakaian adat dari 34 Propivinsi di seluruh nusantara dan Indonesia, semoga artikel kebudayaan dari indoborneonatural ini bermanfaat untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita tentang kebudayaan indonesia. Terimakasih.

WISATA MANGROVE JEMBATAN API-API

Indoborneonatural----Jalan kali ini Indoorneonatural akan mengajak berwisata kesebuah kawasan wisata unik yaitu wisata mangrove jembata api-api, wisata unik, dengan jembatan bambu buatan di atas sungai dan danau yang dapat dilalui dengan indah.

Di beri nama wisata Mangrove Jembatan api-api karena destinasi ini menonjolkan sebuah jembatan yang dibangun dengan bentuk yang unik. juga yang tumbuh di sini adalah tanaman jenis ‘api-api’ atau avicennia. Karena berada di kawasan hutan mangrove, wisatawan dapat merasakan udara segar selama anda berwisata di sini.

Jembatan gantung dibangun di atas aliran muara sungai Bogowoto, di Kulon Progo. Mangrove Jembatan Api-api di Kulon Progo ini memadukan konsep alam dan spot instagenik. Anda bisa bersantai sambil foto-foto dan selfi di sini. Keindahan jembatan buatan dan lingkungan alam yang masih asri menjadi daya tarik tersendiri.

Gambar/Foto: phinemo.com


Di sini memang Ada banyak tumbuhan khas pesisir pantai yang didominasi jenis Avicennia dan Rizophora. Dan jika kita Keluar dari rimbunnya mangrove, wisatawan akan bertemu dengan sungai yang cukup lebar, dialah anak Sungai Bogowonto yang mengalir hingga ke muara.

Gambar/foto: dakatour.com


Yuk jalan-jalan wisata ke mangrove jembata api-api....Nusantara itu indah !!

LAGU DAERAH NUSANTARA : LANCANG KUNING - DAERAH RIAU SEJARAH SESUAI ASLINYA

Indoborneonatural----Kita mengenal lagu daerah Lancang kuning sebagai lagu daerah Riau, dengan lirik lagu berbahasa Indonesia, lagu lancang kuning aslinya berbahasa Melayu Riau, Sejarah awal lagu ini menceritakan tentang Lancang Kuning adalah sebuah kapal yang melegenda bagi masyarakat Melayu. Berdasarkan cerita dari orang-orang tua di Kepulauan Riau yang menyatakan; “Kalau kita sedang lemah semangat, diwaktu-waktu tertentu kita akan melihat kapal Lancang Kuning diantara Pulau Penyengat dan Tanjungpinang”. 

Jika kita lihat lirik Lagu Lancang Kuning yang banyak dinyanyikan atau di posting di Internet adalah lagu lancang kuning populer dengan bahasa Indonesia, dan hampir semua kita mempercayai bahwa itulah lirik asli dari lagu lancang kuning dari lagu daerah Riau seperti di bawah ini ;

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning berlayar malam
Hey..! berlayar malam

Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam
Haluan menuju, haluan menuju kelaut dalam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

Kalau nakhoda
Kalau nakhoda kuranglah faham
Hey..! kuranglah faham

***
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam
Alamatlah kapal, alamatlah kapal akan tenggelam

Lancang kuning berlayar malam
Lancang kuning berlayar malam

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

Lancang kuning
Lancang kuning menerkam badai
Hey..! menerkam badai

***
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga
Tali kemudi, tali kemudi berpilih tiga

lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam
lancang kuning berlayar malam.

* * * Selesai * * *

Tapi coba kita perhatikan lirik dan notasi lagu lancang kuning berikut ini, dimanakah perbedaannya?, apakah ini yang asli atau yang di atas, silakan anda interpretasikan;

Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Bertolak petang berlayar malam di alam kelam
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang
Lancang kuning lancang kuning 
seludang mayang seludang mayang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Angin turut angin turut 
layar mengembang layar mengembang

Laut beralun berombak riak membanting lambung
Laut beralun berombak riak membanting lambung

Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun lautan beralun
Mengayun ayun

Sembah sujud sembah sujud  duduk bertelut duduk bertelut
Sembah sujud sembah sujud duduk bertelut duduk bertelut

Jari sepuluh susun menyembah tunduk kepala
duduk bersimpuh tunduk membungkuk seiklas hati
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan serba kesalahan
mohon dimaafkan .

* * * Selesai * * *

Notasi lagu Daerah Nusantara Lancang Kuning dari Daerah Riau;


Cerita-kisah menarik tentang lancang kuning ini berdasarkan sejarah melayu tentang asal mula lancang kuning; 
      Awal Mula Lancang Kuning Menurut versi dari nara sumber yang berzuriat dari Tengku Takziyah. Berawal dari pelarian Dua putra Sultan maka sampailah mereka di sebuah pulau. Sesampai dipulau tersebut dan membuka wilayah baru, maka berkeinginanlah dua beradik tersebut hendak membuat sebuah lancang (perahu). Maka dicarikan terlebih dahulu bahan kayu untuk dijadikan perahu. Didapatkan pohon yang dimana batang kayu tersebut berwarna kuning dimana pohon tersebut disebut dengan pohon keledang, dan hanya ada pada pulau tersebut pohon itu ada. 

     Selanjutnya dibangunlah perahu yang dihajatkan oleh Kedua Putra Sultan. Setelah beberapa waktu jadilah sebuah perahu yang berwarna kuning karena bahannya berasal dari pohon kayu keledang yang kayunya sudah semula jadi berwarna kuning serta dihiasi dengan layar yang berwarna kuning pula sebagai lambang kebesaran kesultanan atau bangsawan melayu. Dan pulau dimana tempat dibuatnya perahu lancang kuning selanjutnya diberi nama Pulau Galang. Karena tempat galangan lancang kuning dibangun. 

     Sampailah waktunya untuk perahu lancang kuning hendak diturunkan kelaut untuk pertama kalinya. Ternyata untuk menurunkan perahu tersebut haruslah ada korban. Dimana diisyaratkan untuk turun lancang kuning haruslah dengan 7 (tujuh) perempuan hamil sulung dijadikan sebagai galang untuk perahu turun kelaut. Maka didapatkanlah ketujuh perempuan hamil sulung dan dibaringkan didepan haluan perahu untuk dijadikan galang. Maka meluncurkan Lancang kuning dengan bergalangkan ketujuh perempuan tersebut. Dengan Kuasa dan Kehendak Allah saat meluncurnya lancang kuning satu persatu setiap perempuan -perempuan tersebut melahirkan anak-anak mereka. Dan dengan Kuasa dan Kehendak Allah pulalah ketujuh perempuan hamil sulung satu persatu melahirkan anaknya dan langsung ghaib (hilang) dan disebutkan atas mereka itu Galang Ghaib. 

     Selanjutnya para anak mereka yang berjumlah 7 orang dimana 6 lelaki dan yang terakhir adalah seorang perempuan. Dan diambil serta dipeliharalah mereka bertujuh oleh kedua Putra Sultan, yang selanjutnya ketujuh anak tersebut diberi dan bergelar Tujuh Panglima Galang. Selanjutnya mereka bertujuh menjadi panglima - panglima dari Tengku Takliyah dan Tengku Takziyah. Wallahualam Bihsawab.

Referensi:
http://keprikita.blogspot.co.id/2015/06/menganalisa-dimana-sebenarnya-letak.html
http://krishadiawan.blogspot.co.id/2010/08/kisah-lancang-kuning.html
http://sejarahmelayuku.blogspot.co.id/2015/04/awal-mule-lancang-kuningmenurut-versi.html

LATAR BELAKANG SOSIAL BUDAYA, BAHASA SUKU BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Latar belakang sejarah orang Banjar dan Bahasa Banjar

Suku Banjar terdiri atas 3 bagian, yakni suku Banjar Muara, suku Banjar Batang Banyu dan suku Banjar Pahuluan. Ketiga kelompok ini telah berbaur, namun banyak atau sedikit unsur-unsur budaya dari masing-masing kelompok tersebut masih nampak pada sebagian orang Banjar sampai saat ini.


Orang Banjar

Orang Banjar pada umumnya adalah orang yang sehari-harinya mempergunakan bahasa Banjar dan beragama Islam. Di Kalimantan Selatan juga terdapat suku Dayak. Di antara mereka yang memeluk agama Islam, kemudian juga menyebut dirinya orang Banjar atau orang Melayu.

Desa Limamar yang hanya berjarak 12 km dari kota Martapura yang menjadi ibu kota kerajaan Banjar sejak dipindahkan dari Banjarmasin pada abad ke 17, merupakan desa yang banyak mendapat pengaruh dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam kerajaan Banjar. Ketika Islam berkembang pesat di daerah ini, desa ini termasuk wilayah pusat pengembangan ajaran Islam yang pertama. Tokoh penyebar ajaran Islam Syekh Muhammad Arsyar al Banjari lahir dan dibesarkan di daerah ini. Tempatnya di desa Lok Gabang, di mana rumah kedua orang tua ulama besar tersebut hanya beberapa puluh meter dari perbatasan dengan desa Limamar.

Pada masa Syekh Muhammad Arsyad menyiapkan kader-kader penyebab Islam sekembalinya dari belajar di Mekah, maka masyarakat desa Lok Gabang, Desa Limamar, Desa Kelampayan dan Desa Dalam Pagar merupakan masyarakat pendukung dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan ulama tersebut. Atas usaha dan bimbingan Syekh Muhammad Arsyad dibuat terusan yang menghubungkan sungai yang mengalir melalui Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan dengan sungai Martapura. Berkat adanya terusan inilah beberapa ratus hektar tanah persawahan yang tadinya merupakan danau yang selalu tinggi airnya baik yang sekarang termasuk wilayah desa Lok Gabang, Limamar dan Kelampayan kemudian dipilih oleh ulama besar ini sebagai tempat pemakaman beliau di akhir hayatnya.

Desa Limamar yang termasuk dalam wilayah basis perkembangan sekaligus Islam pada abad ke 18 ini dikenal sebagai daerah yang masyarakatnya taat beragama. Pada umumnya orang-orang tua di desa ini bisa baca tulis huruf latin. Tetapi dapat lancar membaca dan menulis huruf Arab. Hal ini merupakan dari sisa-sisa kegiatan perkembangan Islam di mana di desa-desa tersebut terdapat pengajian-pengajian tradisional. Sesuai dengan tuntutan agama bahwa setiap orang wajib memberikan pengetahuan keagamaan kepada anaknya. Karena itu kalau orang tua tidak berkesempatan mengajar anak-anaknya, maka ia harus mencarikan atau menyerahkan anaknya dididik seperti mengaji Al Qur'an dan ajaran-ajaran agama Islam lainnya.

Ketentuan-ketentuan yang telah dirasakan sebagai suatu tradisi pada masa lalu itu sekarang masih berlaku di masyarakat. Misalnya jikalau di desa terdapat sebuah Sekolah Dasar Negeri yang memberikan pengetahuan-pengetahuan umum, maka sudah sejak lama pula di desa ini berlangsung pendidikan dan pengajaran Sekolah Dasar Islam yang dikelola oleh masyarakat.


Bahasa

Bahasa Banjar tumbuh dan berasal dari bahasa Melayu. Dalam Bahasa Banjar tidak terdapat tingkatan-tingkatan Perbedaan yang ada hanya dialek ucapannya saja. Seperti dialek Banjar Kuala, dialek Kandangan, dialek Barabai, dialek Amuntai dan dialek Alabio.

Di daerah Kalimantan Selatan selain bahasa Banjar terdapat pula bahasa dari suku-suku asli, seperti bahasa Bakumpai, bahasa Manyan. bahasa Lawangan dan bahasa Bukit.

Dalam Bahasa Banjar tidak didapati bunyi "e", semua bunyi e dibunyikan dengan "a". Hal ini sesuai dengan bunyi dalam tulisan Arab Melayu, yang hanya mengenal bunyi "fathah", disamping "dumah" dan "kasrah". Karena itu dalam bahasa Banjar, "Kemana" selalu diucapkan "kamana", "kembang" diucapkan "kambang" dan sebagainya.

Awalan yang terdiri dari tiga huruf, seperti "ber" diucapkan "ba", "ter" diucapkan "ta". Misalnya "berdiri" diucapkan "badiri", kata "terpelanting" diucapkan dengan "tapalanting".

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau cerita, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar pada umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Bahasa Banjar adalah bahasa sastera lisan. Dalam menulis surat, menulis pelajaran, menulis pidato atau ceritera, pada waktu dahulu digunakan huruf Arab dan bahasa Melayu. Demikian pula orang Banjar umumnya dapat memahami percakapan dalam bahasa Indonesia. Hanya bagi mereka, terutama yang tinggal di pedesaan, umumnya sukar atau canggung mengucapkan pembicaraannya dalam bahasa Indonesia.

Dalam bahasa Banjar untuk menyatakan hormat kepada orang lebih tua hanya terdapat dalam pemakaian istilah untuk sebutan "aku" atau "kamu". Apabila seorang anak berbicara kepada orang tuanya atau orang lain yang dihormatinya, maka ia menyebut dirinya "ulun" dan menyebut orang yang dihormatinya tersebut dengan "pian". Bagi orang Banjar Kuala yang sebaya umumnya menggunakan istilah "unda" untuk pengganti diri "aku", dan istilah "nyawa" untuk pengganti diri "kamu". Sedangkan orang Banjar Pahuluan menggunakan istilah "aku" dan "ikam" atau istilah lainnya "saurang" dan "andika" untuk pengganti diri aku dan kamu.

Orang tua laki-laki disebut "abah", dan ibu disebut "uma" Sedangkan bagi ayah dan ibu biasanya menyebut anak-anaknya dengan gelar "utuh" atau "anang" untuk yang laki-laki, dan gelar "galuh" untuk anak wanita.

Ada semacam perasaan segan bagi seorang suami maupun seorang istri utuk memanggil isteri atau suami dengan menyebut nama yang bersangkutan. Karena itu dalam masyarakat desa ini seorang suami atau seorang isteri masing-masing memanggil dengan identitas anak-anak mereka. Umumnya diambil dari nama pertamanya, misalnya abahnya Ali, untuk memanggil kepada suami yang anaknya bernama Ali, atau umanya Ali panggilan kepada isteri sebagai ibunya Ali. Kebiasaan untuk tidak menyebutkan nama ini memang menjadi amat kaku, terutama pada waktu kedua suami isteri tersebut belum atau tidak mempunyai anak. Karena itu kode-kode yang mereka sudah saling pahami banyak dipakai. Misalnya untuk pengganti nama itu disebut saja "eh" atau "oh". Kebiasaan ini masih terdapat dipedesaan sampai sekarang, walaupun pengaruh adat dan tata cara dari luar telah banyak pula merubah kehidupan desa tersebut. Generasi muda sekarang di desa ini yang telah berkeluarga, sudah ada juga yang menggunakan sebutan "kakak" dan "adik" untuk panggilan kepada suami dan kepada isteri. Bahkan panggilan dengan nama kesayangan juga ada yang menggunakan.

Sumber: Buku; Tata Kelakuan dilingkungan Pergaulan Keluarga dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Depdikbud, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1984/1985.

Baca juga buku tema-tema buku dari proyek IDKD Kalimantan Selatan tahun 1984/1985 yang meliputi :
1. Arti perlambang dan fungsi tatarias pengantin dalam menanamkan nilai-nilai budaya
2. Makanan : wujud, variasi dan fungsinya serta cara penyajiannya
3. Pola penguasaan, pemilikan dan penggunaan tanah secara tradisional
4. Tata kelakuan di lingkungan pergaulan keluarga dan masyarakat
5. Pembauran antar suku bangsa   
6. Pertumbuhan Pemukiman masyarakat di lingkungan air.      

CERITA LEGENDA ASAL MULA KUDA GIPANG BANJAR (BAHASA BANJAR KALSEL)

Indoborneonatural---di daerah Kalimantan Selatan khususnya pada masyarakat Banjar, terdapat banyak kisah cerita legenda yang menarik. Cerita ini dikisahkan turun temurun dari para tetuha "datu" kepada anak cucu. Salah satu cerita yang menarik ini adalah cerita tentang asal usul "Kuda Gipang". Kuda Gipang merupakan salah satu kesenian tradisi khas masyarakat Banjar Kalimantan Selatan, yang berbentuk tarian kuda gipang dan teater tradisional dengan cerita Mahabarata di dalamnya.

Berikut cerita Asal Mula Kuda Gipang Banjar yang ditulis dalam Bahasa Banjar darah Kalimantan Selatan;


Kuda gipang Banjar nitu tamasuk kasanian banua Banjar nang maabil carita wayang Mahabrata, nang kisahnya, baupacara bakarasmin bakakawinan. Nang dikawinakan saikung Pandawa Lima, Bima lawan Dewi Arimbi, anak Sang Hiang Parabu Kisa, asal Nagara Sura Paringgadani.

Wadah patataian pangantin Bima lawan Dewi Arimbi nitu diulahakan Balai Sakadumas, diramiakan tuntunan tatarian lawan gagamalan nang bangaran tapung tali, luntang, kijik, kuda laguring lawan parabangsa.

Gamalannya wayah dahulu ada kulung-kulung, babun lawan agung. Wayah hini ada sarun, dau lawan kanung. Manurut kisah, kuda gipang nang dipimpin ulih saikung raja, baisi anak buahnya nang bangaran Raden Arimbi, Braja Kangkapa, Baraja Santika, Baraja Musti, Baraja Sangatan, Braja Danta, ditambah lawan bubuhan punggawa lainnya. Samunyaan pasukan nitu sampai sapuluh atawa lawih bubuhan prajurit anak buahnya.

Kuda-kuda kada hingkat ditunggang. Sababnya raja nitu unrang nang sakti. Amun kudanya ditunggang, maka kuda nitu jadi rabah sampai lumpuh. Asal usulnya tapaksa kuda nitu dikapit di bawah katiak, ada kisahnya pada wayah dahulu. Dangarakanlah kisanya;

Nagara Dipa nang rajanya bangaran Pangeran Suryanata nitu sudah dikatahuani urang sampai ka mana-mana. Urang nagari Cina nang jauh nitu gin sudah tahu jua, salawan Ampu Jatmika minta diulahakan patung gangsa gasan diandak di Nagara Dipa. Wayah nitu disuruh Wiramartas maurus pasanan baulah patung gangsa ka nagari Cina.

Mangkubumi Lambung Mangkurat sudah takanal banar jua, sampai kaluar banua. Urang mandangar Lambung Mangkurat nitu mangkubumi karaan Nagara Dipa nang paling wani, gagah, taguh, dihurmati ulih samunyaan urang.

Karajaan Majapahit nang ada di Jawa sudah lawas jua ada bahubungan lawan Nagara Dipa. Malahan buhubungan nitu tamasuk tutus rajanya, nang asal usulnya Pangeran Suryanata nitu  anak tapaan raja Majapahit.

Pada suatu hari, Lambung Mangkurat dapat undangan tamatan raja Majapahit di Jawa. Maksudnya maundang gasan marakatakan hubungan karajaan Majapahit lawan karajaan Nagara Dipa.

Wayah ari nang ditantuakan nitu, maka barakat, tulakan Lambung Mangkurat mambawa kapal si Parabayaksa, kapal karajaan Nagara Dipa nang ganal nitu.

Limbah Lambung Mangkurat Malapor lawan raja Pangeran Suryanata, kapal nitu balayar menuju pulau Jawa. Umpat jua di situ hulubalang Arya Magatsari lawan Tumanggung Tatahjiwa. Kada tatinggal bubuhan pengawal kaamanan Singabana, Singantaka, Singapati lawan anak buah kapal si Parabayaksa.

Salawas dalam parjalanan di Laut Jawa, kapal kerajaan nitu balayar laju, kadda halangan nangapa-apa. Samunyaan anak buah kapal bagawi rajin nang dituhai alih juragan.

Kada lawa kapal si Parabayaksa nitu parak sudah lawan palabuhan karajaan Majapahit. Raja Majapahit nang mandangar kapal datang tumatan di Nagara Dipa, lakas mamarintahakan manyiapkan sambutan. Inya tahu di kapal nitu musti ada Lambung Mangkurat nang diundangnya.

Kadatangan Lambung Mangkurat ka karajaan Majapahit nitu tarus di papak ulih Gajah Mada di kapal si Parabayaksa, balalu dibawa ka istana karajaan Majapahit.

Raja Majapahit duduk di Situluhur nang dikulilingi ulih panggapitnya. Lambung Mangkurat duduk di Rancak Suci, nang pangawalnya duduk di balakang. Raja Majapahit suka bangat manyambut Lambung Mangkurat. Inya mangiau "paman" lawan Lambung Mangkurat. Wayah nitu Lambung Mangkurat bujur-bujur kaliatan gagah nang raja Majapahit nitu mahurmatinya.

Lambung Mangkurat menyampaikan salam kahurmatan raja Nagar Dipa Pangeran Suryanata lawan raja Majapahit, balalu manyampaiakan tanda mata talu bigi intan lawan raja Majapahit nitu. Raja Majapahit suka bangat inya manarima tanda mata intan.

Wayah nitu, sudah pitung hari, Lambung Mangkurat, bubuhan hulubalang lawan pengawal keamanan Singabana jadi tamu kahurmatan di karajaan Majapahit. Bubuhannya maliat-liat isi karajaan, istananya, maliat kaahlian prajurit-prajurit, lawan pasukan kaamanan kerajaan nitu. Bubuhannya jua dibari makan nginum makanan nginuman karajaan.

Limbah sudah puas di karajaan Majapahit nitu, Lambung Mangkurat sabarataan handak bulik ka banua Nagara Dipa. Wayah malamnya, ulih raja Majapahit diadakan tuntunan kasanian gasan mahibur Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang cagar bulikan ka banua asal disubarang.

Isuk baisukannya Lambung Mangkurat dibari tanda mata ulih raja Majapahit saikung kuda putih nang tinggi lawan ganal-ganalnya. Kuda nitu gagah, bigas, ujar tu tamasuk kuda nang paling harat dikarajaan Majapahit.

Lambung Mangkurat manarima kuda nitu suka bangat, balalu tarus dibawa kaluar halaman istana. Wayah handak dibawa ampah ka kapal si Parabayaksa, hulubalang Tumanggung Tatahjiwa baucap :

"Bapa Lambung Mangkurat! Kaya apa amun kuda pambarian raja naya ditunggang dulu, nyaman kaliatan kaharatannya".

" Bujur jua", dalam hati Lambung Mangkurat.

Balalu kuda nitu ditunggang ulih Lambung Mangkurat. 

Limbah Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda putih nitu, sakalinya kuda pambarian raja nitu rabah, inya lumpuh, sampai talipat batisnya ka tanah.

Lambung Mangkurat, hulubalang Arya Magatsari, Tumanggung Tatahjiwa lawan bubuhan Sangabana takajut, hiran bangat limbah maliat kuda nitu lumpuh. Pada hal dipadahakan kuda nitu harat, gagah lawan bigas-bigasnya.

"Kita hadangi satumat. kaina ditunggang pulang", ujar hulubalang Arya Magatsari. Bujur jua, limbah dihadangi satumat, Lambung Mangkurat manunggang pulang kuda nitu. Kada dikira, kuda nang ganal nitu lumpuh pulang. Bubuhannya barataan nang ada di situ hiran pulang malihat kuda nitu lumpuh.

"Amun kaya nitu kuda naya dicuba ditunggang talu kali, tagal kita hadangi talawasi pada nang tadahulu", ujar hulubalang tumanggung Tatahjiwa.

Bubuhannya baranai dahulu sambil mamusut-musut gulu lawan kapal kuda nitu. Kada lawas limbah nitu Lambung Mangkurat balalu baluncat naik ka atas balakang kuda. Babayanya Lambung Mangkurat duduk di atas balakang kuda nitu, inya lumpuh pulang. Sakalinya kaampat batis kuda nitu talipat sampai ka tanah. Lambung Mangkurat lawan bubuhannya nang ada di situ jadi hiran bangat, pada hal ujar habar kuda nitu harat bangat.

Lambung Mangkurat jadi asa kasian limbang maliat kuda nitu lumpuh. Apalagi limbah ditariknya tali hidung kuda nita, kuda nitu kada kawa bajalan.

"Kaya apa pikiran?", ujar hulubalang Arya Magatsari.

"Amun kuda naya kita bulikakan k karajaan Majapahit kaya apa?", ujar urang nang saikung anggota Sangabana.

"Jangan! Nitu artinya kita kada mahurmati pambarian raja Majapahit", ujar hulubalang Tumanggung Tatahjiwa.

"Bujur!", ujar Lambung Mangkurat manyahuti.

"Nang kaya apa haja jadinya, kuda naya musti kita bawa bulik ka banua kita Nagara Dipa. Sabab kuda naya pambarian kahurmatan", ujar lambung mangkurat manambahi.

Barataan nang ada di situ pina bingung. Tagal Lambung Mangkurat haja nang kada bingung. Inya balalu duduk di tanah mahadapi matahari hidup. Kadua balah batisnya basila. Kadua balah tangannya diandaknya di atas paha. Balalu inya mamaicingakan matanya sambil mambaca mantra. Lawas inya baparigal kaya nitu, balalu inya badiri, matanya nyarak, kaliatan pina batambah bigas, batambah sumangat nang luar biasa. Lambung Mangkurat sakalinya mangaluarakan kasaktiannya. Dasar bujur-bujur inya urang nang sakti. Limbah nitu, kada kaya prabahasa, kuda niti diangkatnya, dikapitnya di bawah katiak tangan nang subalah kanan.

Awal lambung Mangkurat nang jadi tinggi lawan ganal-ganalnya nitu pina hampul haja maangkat kuda putih nitu, tarus dibawanya masuk ka dalam kapal si Parabayaksa.

Hulubalang lawan sabarataan nang ada di situ tacaragal maliat kaharatan Lambung Mangkurat nang kawa maangkat kuda pambarian raja Majapahit nitu. Balum biasa bubuhannya maliat Lambung Mangkurat nang hingkat maangkat kuda macam nitu.

Kada lawas limbah nitu, kapal si Parabayaksa balalu balayar mambawa Lambung Mangkurat, hulubalang, bubuhan pangawal kaamanan lawan sabarataan anank buah. Kapal ganal nitu sing lajuan manuju ampah banua, bulik ka karajaan Nagara Dipa.

Bubuhan kulawarga karajaan Nagara Dipa nang ada di banua, suka bangat manyambut kadatangan kapal si Parabayaksa nang dipimpin ulih Lambung Mangkurat nitu. Apalagi limbah mandangar ada kuda gagah pambarian raja Majapahit nang diangkat ulih Lambung Mangkurat.

Kuda pambarian raja, kuda putih nanga gagah, tinggi lawan ganal-ganalnya nitu diharagu di karajaan Nagara Dipa. Limbah nitu, kada lawas, balalu diadaakan kasanian kuda gipang Banjar nang kudnaya diigalakan, dikapit di bawah katiak sampai wayah hini.


Tarian Kuda Gepang - Foto: rebanas.com



Nilai moral cerita:

Saban urang nang bakawal, nang bakawal parak atawa jauh, bagus bangat amun tatarusan barakat-rakat, wayah-wayah ba-i-ilangan, babarian nangapa haja, makanan atawa cindramata gasan paliliatan. Kabiasaan nang baik nitu jadi marapatakan atawa manguatakan tali silaturrahmi.

Lawan bagus bangat jua maharagu kasanian paninggalan urang-urang tuha kita bahari, supaya kada hilang, sama artinya lawan maharagu warisan nang bamanfaat gasan urang-urang nang wayah hini.

Anda dapat mendownloan dan mengkopy artikel ini di http://indoborneonatural.blogspot.co.id/ 

Cari Artikel