PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAERAH INDONESIA NUSANTARA DAN DUNIA BUDAYA

Alat musik tari, alat tradisional, alat musik menari
Key Word kebudayaan,= Kata KUNCI Kebudayaan, budaya, seni budaya, kesenian dan kebudayaan Indonesia, seni budaya Indonesia, Pelajaran Kesenian, Antropologi budaya, kebudayaan nusantara, Budaya = budi dan Dayah = bahasa Sansekerta, Pengertian Kebudayaan, pengertian budaya. budaya Indonesia, perkembangan budaya Indonesia, remaja cinta budaya Indonesia. Kesenian dan Kebudayaan. Kuliner, Alat Musik tradisional sebagai hasil kebudayaan, budaya alat musik tradisional, Kebudayaan Daerah, kebudayaan Rakyat, seni pertunjukan Rakyat, kesenian tradisional, Pertunjukan tradisional, kesenian daerah Kalimantan, kesenian daerah nusantara, seni budaya daerah, dinas kebudayaan dan pariwisata, Pengembangan Kebudayaan daerah, kebudayaan Banjar, daerah banjar, daerah di Indonesia. Wujud kebudayaan, Macam-macam kebudayaan. Jenis-jenis kebudayaan, kebudayaan yang berkembang. Mencintai kebudayaan Bangsa Sendiri, Budaya bangsa Indonesia yang mendunia. Budaya Malu, budaya, sosbud = sosial budaya, kehidupan sosial budaya suku dayak, suku-suku di Indonesia. Budaya dipedesaan, budaya kota, budaya sungai.

SEJARAH KERAJAAN BANJAR KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural----Kerajaan Banjar adalah kerajaan Islam terbesar di kalimantan yang dapat mempersatukan beberapa kerajaan kecil di wilayah Kalimantan seperti Kerajaan Paser dan Kerajaan Kutai di kalimantan Timur, Kerajaan Kotawaringin di Kalimantan Tengah, serta Kerajaan Qodriah, Kerajaan Landak, dan Kerajaan Mempawah di Kalimantan Barat. Kerajaan Banjar juga mempunyai sejarah cukup panjang, karena diawali dari masa yang jauh sebelum masuknya pengaruh Islam, yaitu masa yang ditandai dengan berdirinya Candi Laras dan Candi Agung pada masa Hindu-Budha.

Sesuai tutur Candi (Hikayat Banjar Versi II), di Kalimantan telah berdiri suatu pemerintahan dari dinasti kerajaan (keraton) yang terus menerus berlanjut hingga derah ini digabung ke dalam Hindia Belanda pada 11 Juni 1860:

1.Keraton awal disebut Kerajaan Kahuripan.
2.Keraton I disebut Kerajaan Negara Dipa
3.Keraton II disebut Kerajaan Negara Daha.
4.Keraton III disebut Kesultanan Banjar
5.Keraton IV disebut Kerajaan Martapura
6.Keraton V disebut Pagustian.

Kerajaan Banjar Islam merupakan salah satu kerajaan terbesar di Kalimantan. Hingga saat ini terdapat kontropersi di kalangan ahli sejarah mengenai kapan Islam masuk ke Kalimantan Selatan. Paling tidak ada dua aliran besar tentang ini :Pertama kalangan yang mengatakan bahwa Islam masuk sebelum pasukan demak tiba di Banjarmasin; Kedua, golongan yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Selatan setelah Kerajaan Daha berhasil direbut oleh Pangeran Samudera bersamaan dengan pasukan militer Kerajaan Islam Demak.

Sejarah Berdirinya Kesultanan Banjar

Penghuni pertama Kalimantan Selatan diperkirakan terkonsentrasi di desa-desa besar, di kawasan pantai kaki Pegunungan Meratus yang lambat laun berkembang menjadi kota-kota bandar yang memiliki hubungan perdagangan dengan India dan Cina. Dalam perkembangannya, konsentrasi penduduk juga terjadi di aliran Sungai Tabalong. Pada abad ke 5 M, diperkirakan telah berdiri Kerajaan Tanjungpuri yang berpusat di Tanjung, Tabalong. Jauh beberapa abad kemudian, orang-orang Melayu dari Sriwijaya banyak yang datang ke kawasan ini. Mereka memperkenalkan bahasa dan kebudayaan Melayu sambil berdagang. Selanjutnya, kemudian terjadi asimilasi dengan penduduk setempat yang terdiri dari suku Maayan, Lawangan dan Bukit. Maka, kemudian berkembang bahasa Melayu yang bercampur dengan bahasa suku-suku daerah tempatan, yang kemudain membentuk bahasa Banjar Kalsik.

Di daerah Banjar telah berdiri Kerajaan Hindu, yaitu Negara Dipa yang berpusat di Amuntai. Kemudian berdiri Negara Daha yang berpusat di daerah Negara sekarang. Menurut Hikayat Banjar tersebut, Negara Dipa adalah kerajaan pertama di Kalimantan Selatan.

Cikal bakal Raja Dipa bisa dirunut dari keturunan Aria Mangkubumi. Ia adalah seorang saudagar kaya, tetapi buka keturunan raja. Oleh sebab itu, berdasarkan sistem kasta dalam Hindu, ia tidak mungkin menjadi raja. Namun, dalam praktiknya, ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang dimiliki oleh seorang raja. Ketika ia meninggal, penggantinya adalah Ampu Jatmia, yang kemudian menjadi raja pertama Negara Dipa. Untuk menutupi kekurangannya yang tidak berasal dari keturunan raja, Jatmika kemudian banyak mendirikan bangunan, seperti candi, balairung, kraton dan arca berbentuk laki-laki dan perempuan yang ditempatkan di candi. Segenap warga Negara Dipa diwajibkan menyembah Arca ini.

Ketika Ampu Jatmika meninggal dunai, ia berwasiat agar kedua anaknya, Ampu Mandastana dan Lambung Mangkurat tidak menggantikannya, sebag mereka bukan keturunan raja. Tapi kemudian, Lambung Mangkurat berhasil mencari pengganti raja, dengan cara mengawinkan seorang putri Banjar, Putri Junjung Buih dengan Raden Putera, seorang pangeran dari Majapahit. Setelah menjadi raja, Raden Putera memakai gelar Pangeran Suryanata, sementara Lambung Mangkurat memangku jabatan sebagai Mangkubumi.

Setelah Negara Dipa runtuh, muncul Negara Daha yang berpusat di Muara Bahan. Saat itu, yang memerintah di Daha adalah Maharaja Sukarama. Ketia Sukarama meninggal, Ia berwasiat agar cucunya Raden Samudra yang menggantikan. Tapi, karena masih kecil, akhirnya Raden Samudra kalah bersaing dengan pamannya, Pangeran Tumenggung yang juga berambisi menjadi raja. Atas nasehat Mangkubumi Aria Tranggana dan agar terhindar dari pembunuhan, Raden Samudra kemudian melarikan diri dari Daha, dengan cara menghilir sungai melalui Muara Bahan ke Serapat, Balandian, dan memutuskan untuk bersembunyi di daerah Muara Barito. Di daerah aliran Sungai Barito ini, juga terdapat beberapa desa yang dikepalai oleh para kepala suku. Diantara desa-desa tersebut adalah, Tamban, Kuwin, Balitung dan Banjar. Kampung Banjar merupakan perkambungan Melayu yang dibentuk oleh liam buah sungai yakni Sungai Pandai, Sungai Sigaling, Sungai Karamat, Jagabaya dan Sungai Pangeran (Pegeran). Semua anak Sungai Kuwin. Desa Banjar ini terletak di tengah-tengah pemukiman Oloh Ngaju di Barito Hilir.

Orang Dayak Ngaju menyebut orang yang berbahasa Melayu dengan sebutan Masih. Oleh karena itu, desa Banjar disebut Banjarmasih, dan pemimpinnya disebut Patih Masih. Desa-desa di daerah Barito ini semuanya takluk di bawah Daha dengan kewajiban membayar pajak dan upeti. Hingga suatu ketika, Patih Masih mengadakan pertemuan dengan Patih Balit, Patih Muhur, Patih Balitung, Patih Kuwin untuk berunding, agar bisa keluar dari mengaruh Daha, dan menjadikan kawasan mereka merdeka dan besar.


Keputusannya, mereka sepakat mencari Raden Samudera, cucu Maharaja Sukarama yang kabarnya sedang bersembunyi di daerah Balandean, Serapat. Kemudian, mereka juga sepakat memindahkan bandar perdagangan ke Banjarmasih. Selanjutnya, di bawah pimpinan Raden Samudra, mereka memberontak melawan kerajaan Daha. Peristiwa ini terjadi pada abad ke-16 M. Pemberontakan ini amat penting, karena telah mengakhiri eksistensi Kerajaan Daha, ytang berarti akhir dari era Hindu. Selanjutnya, masuk ke era Islam dan berdirilah Kerajaan Banjar.

Dalam sejarah pemberontakan itu, Raden Samudra meminta bantuan Kerajaan Demak di Jawa. Dalam Hikayat Banjar disebutkan, Raden Samudra mengirim duta ke Demak untuk mengadakan hubungan kerja sama militer. Utusan tersebut adalah Patih Balit, seorang pembesar Kerajaan Banjar. Utusan menghadap Sultan Demak dengan seperangkat hadiah sebagai tanda persahabatan berupa sepikul rotan, seribu buah tudung saji, sepuluh pikul lilin, seribu bongkah damar dan sepuluh biji intan. Pengiring duta kerajaan ini ekitar 400 orang. Demak menyambut baik utusan ini, dan sebagai persyaratan, Demak meminta kepada utusan tersebut, agar Raja Banjar dan semua pembesar mau memeluk agam Islam. Atas bantuan Demak, Pangeran Samudera behasil mengalahkan Pangeran Tumenggung, penguasa Daha, sekaligus menguasai seluruh daerah taklukan Daha.

Setelah berhasil meruntuhkan dan menguasai kerajaan Daha, maka Raden (Pangeran) Samudera segera menunaikan janji untuk memeluk Islam. Setelah masuk Islam, ia memakai gelar Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu Habang. Dialah Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak itu, agam Islam berkembang pesat di Kalimantan Selatan. Pangeran Samudra (Sultan Suriansyah) diIslamkan oleh wakul penghulu demak, Khatib Dayan pada tanggal 24 September 1526 M, hari Rabu Jam 10 pagi, bertepatan dengan 8 Zulhijjah 932 H. Khatib Dayan merupakan Penghulu Demak Rahmatullah, dengan tugas melakukan proses pengislaman raja beserta pembesar kerajaan. Khatib Dayan bertugas di Kerajaan Banjar sampa ia meninggal dunai, dan dikuburkan di Kuwin Utara.
Sultan Suriansyah telam membuka era baru di Kerajaan Banjar dengam masuk dan berkembangnya agam Islam. Kerajaan Banjar yang dimaksud di sini adalah kerajaan pasca masuknya agama Islam. Sementara era Negara Dipa dan Daha merupakan era tersendiri yang melatarbelakangi kemunculan Kerajaan Banjar. Diperkirakan, Suriansyah meninggal dunia sekitar tahun 1550 M. Seiring masuknya kolonial kulit putih Eropa, Kerajaan Banjar kemudian dihapuskan oleh Belanda pada 11 Juni 1860.

Dalam perjalannya, Kerajaan Banjar telah mengalami berbagai kesulitan dan ancaman baik eksternal maupun internal, terutama masa-masa setelah datangnya bangsa kolonial. Pusat kerajaan Banjar atau keraton Banjar harus berpindah-pindah dari stua tempat ketempat lain tidak kurang dari 5 (lima) kali. Tetapi tak satupun sisa-sisa tinggalan Keraton Banjar tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Keraton pertama yang disebutkan berada di wilayah Kuin, dan keraton kedua yang berlokasi di Kayutangi atau Teluk Selong, Martapura, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskannya. Kenyataannya yang sekarang dapat ditemui di Kuin saat ini hanyalah lokasi Makam Sultan Suriansyah dan para tokoh yang sejaman seperti khatib Dayan, serta maka keluarga Sultan Suriansyah sendiri.

Tidak atau belum diktemukan serta diketahui dimana lokas Keraton Banjar dan bagaimana bentuk arsitekturnya hingga saat ini merupakan pertanyaan penelitian atau recearch questions yang menarik untuk dicarikan jawabannya.

Sehubungan dengan hal itulah penelitian ini dilakukan, dengan melakukan kerja kolaborasi antara sejarah, arkeologi dan arsitektur, maka diharapkan dapat mengak tabi yang selama ini belum ada yang mengangkat dan membicarakannya.
Masuk dan berkembangnya Islam berlangsung sebelum Kesultanan Banjar berdiri. Hal ini dikarenakan wilayah cikal bakal Kesultanan Banjar berdiri. Hal ini dikarenakan wilayah cikal bakal Kesultanan Banjar yang strategis, yaitu jalur perdagangan dan pelayaran. Melalui pelabuhan dan transaksi perdagangan yang ada Islam di dakwahkan oleh pedagang-pedagang muslim kepada rakyat.

Masuknya Islam berlangsung dengan damai dikawasan ini melalui tangan pedangang dan para ulama. Dalam salah satu makalah Pra Seminar Sejarah Kalsel (1973) disebutkan, Sunan Giri juga pernah singgah di Pelabuhan Banjar. Sunan Giri melakukan transaksi pedagang dengan warga sekitar dan bahkan memberikan secara gratis barang-barang kepada penduduk yang fakir.

Disamping itu juga terdapat keterangan mengenai salah seorang pe-muka Kerajaan Daha, yakni Raden Sekar Sungsang yang menimba ilmu kepada Sunan Giri. Melalui jalur ini Pengeran Samudra mengenai Islam dan kelak mengadakan hubungan dengan Kesultanan Demak. Pangeran Samudra sendiri kemudain masuk Islam dan mengganti namanya menjadi sultan Suriansyah. Sekaligus berdiri pada haru Rabu 24 September 1526. Tempat pemerintahan dipusatkan di rumah Patih Masih, daerah perkampungan suku Melayu yang terletak di antara Sungai Keramat dan jagabaya dengan Sungai Kuyin sebagai induk. Pada tempat ini pula dibangun sebuah Masjid yang berdiri hingga sekarang, dikenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah.

Dalam perjalanannya, Kerajaan Banjar telah mengalami berbagai kesulitan dan ancaman baik dari eksternal maupun internal, terutama masa-masa setelah datangnya bangsa kolonial. Pusat kerajaan atau Keraton Banjar harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tampat lain tidak kurang dari 5 (lima) kali. Tetapi tak satupun sisa-sisa tinggalan Keraton Banjar tersebut yang dapat diwariskan kepada generasi sekarang. Kerator pertama yang disebutkan berada di wilayah Kuin, dan keraton kedua yang berlokasi di Kayutangi atau Teluk Selong, Martapura, tidak ada seorangpun yang dapat menjelaskannya. Kenyataan yang sekarang dapat ditemu di Kuin saat ini hanyalah lokasi Makan Sultan Suriansyah dan para tokoh sejaman seperti khatib Dayan, serta makam keluarga Sultan Suriansyah sendiri.

Raja-raja Kerajaan Banjar

1. 1526 – 1545: Pangeran Samudra yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah, Raja pertama yang memeluk Islam
2. 1545 – 1570: Sultan Rahmatullah
3. 1570 – 1595: Sultan Hidayatullah
4. 1595 – 1620: Sultan Mustain Billah, Marhum Penambahan yang dikenal sebagai Pangeran Kecil. Sultan inilah yang memindahkan Keraton ke kayutangi, Martapura, karena keraton di Kuin yang hancur diserang Belanda pada Tahun 1612.  
5. 1620 – 1637: Ratu Agung bin Marhum Penembahan yang bergelar Sultan Inayatullah.
6. 1637 – 1642: Ratu Anum bergelar Sultan Saidullah
7. 1642 – 1660: Adipati Halid memegang jabatan sebagai wali Sultan, karena anak Sultan Saidullah, Amirullah Bagus kesuma belum dewasa.

8. 1660 – 1663: Amirullah Bagus Kesuma memegang kekuasaan hingga 1663, kemudian Pangeran Adipati anum (Pangeran Suriansyah) merebutk kekuasaan dan memindahkan kekuasaan ke Banjarmasin.

9. 1663 – 1679: Pangeran Adipati Anum setelah merebut kekuasaan memindahkan pusat pemerintahan ke Banjarmasin bergelar Sultan Agung.

10. 1679 -1700: Sultan Tahlilullah berkuasa
11. 1700 – 1734: Sultan Tahmidullah bergelar Sultan Kuning.
12. 1734 – 1759: Pangeran Tamjid bil Sultan Agung, yang bergelar Sultan Tamjidillah.
13. 1759 – 1761: Pangeran Muhammad Aliuddin Aminullah
14. 1761 – 1801: Pangeran Nata Dilaga sebagai wali putra Sultan Muhammad Aliuddin yang belum dewasa tetapi memegang pemerintahan dan bergelar Sultan Tahmidullah.

15. 1801 – 1825: Sultan Suleman Al Mutamidullah bin Sultan Tahmidullah
16. 1825 – 1857: Sultan Adam Al Wasik Billah bin Sultan Suleman
17. 1857 – 1859: Pangeran Tamjidillah
18. 1959 – 1862; Pangeran Antasari yang bergelar Panembahan Amir Oeddin Khalifatul Mu’mina
19. 1862 – 1905: Sultan Muhammad Seman yang merupakan Raja terakhir dari Kerajaan Banjar.

Kesultanan banjar mulai mengalami masa kejayaan pada dekade pertama abad ke-17 dengan lada sebagai komoditas dagang, secara praktis barat daya, tenggara dan timur pulau Kalimantan membayar upeti pada kerajaan Banjarmasin. Sebelum kesultanan Banjar membayar upeti kepada Kesultanan Demak, tetapi pada masa Kesultanan Pajang penerus Kesultanan Demak, Kesultanan Banjar tidak lagi mengirim upeti ke Jawa.

Sumber : 
- Wikipedia.com
- Buku asal usul kerajaan Banjar Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kalsel Tahun 2001

CERITA RAKYAT RIAU "DANG GEDUNAI"

Dulu di Riau, tinggal seorang anak bernama Dang Gedunai. Dia tinggal dengan ibunya. Dang Gedunai adalah anak yang keras kepala. Ibunya sedih. Dang Gedunai adalah anak satu-satunya tapi dia tidak pernah membuatnya bahagia. Suatu hari, Dang Gedunai pergi ke sungai untuk menangkap ikan. "Ibu, aku ingin pergi ke sungai. Saya ingin pergi memancing, "kata Dang Gedunai kepada ibunya. "Di luar mendung. Hujan akan segera turun. Mengapa Anda tidak hanya tinggal di rumah? "Kata ibunya. Seperti biasa Dang Gedunai mengabaikannya. Dia kemudian pergi ke sungai.

KEKAYAAN PENGOBATAN TRADISIONAL INDONESIA

Indonesia di yakini memiliki keragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Penelitian menyebutkan, dari 30.000 spesies tumbuhan di Indonesia. Sebanyak 6.000 jenis berkhasiat obat. Data lain dari hasil penelitian FKUI menyebutkan, tumbuhan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 7.000 jenis, sekitar 1.000 jenis digunakan untuk mencegah penyakit dan mengobati penyakit.

KISAH LEGENDA KALIMANTAN "BATU MENANGIS"

Indoborneonatural------Dikisahkan, disebuah bukit yang jauh dari desa, di pedalaman daerah Kalimantan hiduplah seorang janda miskin dan seorang anak gadisnya. Anak gadis janda itu sangat cantik jelita. Namun sayang, ia mempunyai sifat dan prilaku yang amat buruk. Gadis itu amat pemalas, tak pernah mau membantu ibunya melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Kerjanya hanya bersolek dan berhias diri setiap hari.

Selain pemalas, anak gadis itu sikapnya manja sekali. Segala permintaannya harus dituruti. Setiap kali ia meminta sesuatu kepada ibunya harus dikabulkan, tanpa memperdulikan keadaan ibunya yang miskin, setiap hari harus membanting tulang mencari sesuap nasi.

Pada suatu hari anak gadis itu diajak ibunya turun ke desa untuk berbelanja. Letak pasar desa itu amat jauh, sehingga mereka harus berjalan kaki yang cukup melelahkan. Anak gadis itu berjalan melenggang dengan memakai pakaian yang bagus dan bersolek agar orang dijalan yang melihatnya nanti akan mengagumi kecantikannya. Sementara ibunya berjalan dibelakang sambil membawa keranjang dengan pakaian sangat dekil. Karena mereka hidup ditempat terpencil, tak seorangpun mengetahui bahwa kedua perempuan yang berjalan itu adalah ibu dan anak.

Gambar: misterpangalayo.com
Ketika mereka mulai memasuki desa, orang-orang desa memandangi mereka. Mereka begitu terpesona melihat kecantikan anak gadis itu, terutama para pemuda desa yang tak puas-puasnya memandang wajah gadis itu. Namun ketika melihat orang yang berjalan dibelakang gadis itu, sungguh kontras keadaannya. Hal itu membuat orang bertanya-tanya.

Di antara orang yang melihatnya itu, seorang pemuda mendekati dan bertanya kepada gadis itu, “Hai, gadis cantik. Apakah yang berjalan dibelakang itu ibumu?”

Namun, apa jawaban anak gadis itu ?
“Bukan,” katanya dengan angkuh. “Ia adalah pembantuku !”
Kedua ibu dan anak itu kemudian meneruskan perjalanan. Tak seberapa jauh, mendekati lagi seorang pemuda dan bertanya kepada anak gadis itu.
“Hai, manis. Apakah yang berjalan dibelakangmu itu ibumu?” “Bukan, bukan,” jawab gadis itu dengan mendongakkan kepalanya. ” Ia adalah budakk!”
Begitulah setiap gadis itu bertemu dengan seseorang disepanjang jalan yang menanyakan perihal ibunya, selalu jawabannya itu. Ibunya diperlakukan sebagai pembantu atau budaknya.

Pada mulanya mendengar jawaban putrinya yang durhaka jika ditanya orang, si ibu masih dapat menahan diri. Namun setelah berulang kali didengarnya jawabannya sama dan yang amat menyakitkan hati, akhirnya si ibu yang malang itu tak dapat menahan diri. Si ibu berdoa.

“Ya Tuhan, hamba tak kuat menahan hinaan ini. Anak kandung hamba begitu teganya memperlakukan diri hamba sedemikian rupa. Ya, tuhan hukumlah anak durhaka ini ! Hukumlah dia….”
Atas kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, perlahan-lahan tubuh gadis durhaka itu berubah menjadi batu. Perubahan itu dimulai dari kaki. Ketika perubahan itu telah mencapai setengah badan, anak gadis itu menangis memohon ampun kepada ibunya.

”Oh, Ibu...ibu...ampunilah saya, ampunilah kedurhakaan anakmu selama ini. Ibu…Ibu…ampunilah anakmu..” Anak gadis itu terus meratap dan menangis memohon kepada ibunya. Akan tetapi, semuanya telah terlambat. Seluruh tubuh gadis itu akhirnya berubah menjadi batu. Sekalipun menjadi batu, namun orang dapat melihat bahwa kedua matanya masih menitikkan air mata, seperti sedang menangis. Oleh karena itu, batu yang berasal dari gadis yang mendapat kutukan ibunya itu disebut ” Batu Menangis “.

Demikianlah cerita berbentuk legenda ini, yang oleh masyarakat setempat dipercaya bahwa kisah itu benar-benar pernah terjadi. Barang siapa yang mendurhakai ibu kandung yang telah melahirkan dan membesarkannya, pasti perbuatan laknatnya itu akan mendapat hukuman dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

* * *


KUMPULAN CONTOH PANTUN BETAWI JAKARTA

Pantun, Betawi Jakarta, Pantun jakarte, Pantun orang Betawi, Kesenian Betawi
Berikut ini adalah kumpulan pantun yang kita kenal sering digunakan orang-orang betawi atau orang Jakarta yang masih kental mempertahankan ada budaya betawinya, pantun-pantun ini sering diperdengarkan dalam berbagai kegiatan baik keseharian, maupun dalam acara-acara tertentu. Berikut beberapa contoh Pantun Betawi atau pantun daerah Jakarta yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber sbb;

Bujug, kenapa sih elu pada ribut
Kapan pikiran gue lagi kalang kabut
Jantung gue pengen nyoblok rasa bat-bit-but
Nah nyawa gue mau dicabut.

JENIS PUISI LAMA DI TANAH AIR KITA

Puisi lama yang masih memengaruhi penulisan puisi hingga puisi-puisi modern dewasa ini yang di lahirkan beberapa penulisnya, yaitu pantun, syair dan mantra. Berikut ini adalah contoh puisi lama di tanah air kita.

1. Pantun

Tanam melati di rumah-rumah
Ubur-ubur sampingan dua
Kalau mati kita bersama
satu kubur kita berdua

Ubur-ubur sampingan dua
Tanam melati bersusun bangkai
Satu kubur kita berdua
Kalau boleh bersusun bangkai

BUSANA DAN PERLENGKAPAN TARI BAKSA KAMBANG


Sebagai salah satu seni Budaya Indonesia, Tari Baksa kambang yang berasal dari Kalimantan Selatan merupakan tarian yang digunakan dalam berbagai acara khususnya untuk menyambut tamu terhormat dan penting. Dalam tari ini ada beberapa perlengkapan dan busana yang digunakan untuk kegiatan Tari, baik yang dipakai di tubuh para penari maupun perlengkapan tambahan seperti alat musik dan lain sebagainya seperti berikut ini :

CERITA RAKYAT (FOLKTALE) BATARA KALA

It is good to know some of the folktales our country has. The is one or the that is commonly told in Java

People in some villages in Java believe: that an aclipse happens when the sun or the moon in swallowed by Batara kala, an evil giant.

TUMBUHAN LANGKA DI KEBUN RAYA BOGOR (SEARCE PLANT IN BOTANIKAL GARDEN)

The vast archipelago and the great number of island have made Indonesia the home of alarge variety of plant life. The Indonesian flora ranges from the tiny orchid to the giant Raflesia plant. No wonder many botanist are curious to study these plants. The Rafflesia Arnoldi is the biggest flower in the world. It is unusual because if its large size 4 has flower almost a metre in diameter and 1.40 metres in height.

RELIGI MANTRA DALAM PUISI BAHASA BANJAR "MANGARIAU NAGA"

Puisi Mangariau Naga
Indoborneonatural----Berikut ini penulis mencoba menulis dan mengulas sedikit tentang aspek religi mantra pada puisi bahasa Banjar. Dalam tulisan ini penulis mengangkat sebuah puisi bahasa Banjar dari guru, sahabat dan pembimbing penulis dalam dunia sastra ketika penulis masih aktif menulis cerpen dan puisi. Beliau adalah Noor Aini Cahya Khairani, dari sekian banyak puisi hebat yang dihasilkan dari buah tangan dan pikiran beliau semasa hidup, salah satu puisi yang menjadi pavorit dan sangat--sangat saya sukai adalah puisi bahasa banjar yang berjudul : "Mangariau Naga".

Dari judul puisi ini yaitu Mangariau Naga di atas dapat kita artikan dengan "memanggil naga", tetapi kata “memanggil” dalam bahasa Indonesia jika disandingkan dengan kata dalam bahasa Banjar “mangariau” lebih spesifik lagi yang berkaitan dengan konsepsi religi magi atau hal-hal gaib. Kata “mangariau” dalam kerangka bahasa Banjar tempo dulu adalah dari kata “kariaw” yang artinya tarikan gaib; mangariau artinya menarik secara gaib. Jika “kana kariaw” kena pengaruh gaib, kena guna-guna.

Sedangkan pengertian dari “naga” adalah berkaitan dengan suatu mitos dari beberapa kisah kosmos tentang seekor binatang (ular besar) yang juga dipercaya keberadaannya oleh sebagian masyarakat Banjar. Seperti kita dengar istilah dan ucapan orang-orang banjar tempo dulu, “naga” adalah naga; banaga-naga artinya ada  naga (nya); bananagaan bernaga-nagaan, ada naga-nagaannya : tajau malawan rancak : belanga antik sering ada naga-naganya.

Dalam konsepsi religi Mangariau Naga  berkaitan dengan hal-hal yang gaib melibatkan mantra dalam bahasa Banjar “Mamang” yang dilakukan dalam kegiatan ritual “mangariau” tersebut.

Mangariau Naga dapat dilihat dalam gambaran suatu kisah kosmos tentang naga orang Banjar, mite naga yang dipercaya menghuni sungai-sungai besar di wilayah Kalimantan Selatan yang masing-masing diberi nama naga sirintik dan naga siribut, menurunkan perilaku gaib bagi lingkungan kerajaan Banjar tempo dulu dan masyarkat Banjar tersebut. Gambaran hal ini dapat dilihat dalam kutipan Puisi sebagai berikut :
……………………….
Limbah pikah ampat puluh satu pangayuh
limbah tapaluh nangkaya mangayuh jukung basauh
bakalambu ujan panas marintik, basasajian
bapakaian saraba kuning, babaras kuning pawang
bamamang ;
“ barakat aksaraku tatinggi pada ikam
ikam kada mangariau ku aku nang mangariau ikam
uiii, sirintik siribut nang basisik habang sinang
babalang-balang
napa batapa di kalurungan
kada mayukah  wadai ampat puluh satu macam
kambang laki-bini pitu macam”
lampah, darah alam jalallah 
nang datang matan raden Samudra
sampai kakita.

…………………………….

Naga yang dimantrai (bamamang), dan dikariaw dalam Puisi ini memiliki dua pengertian yaitu : pertama, naga seperti yang terdapat dibalik misteri mitos gaib yang terjadi di sungai-sungai dan daratan Kalimantan Selatan. Kedua, pengertian naga sebagai substansi generasi muda penerus “banua” (nanang-galuh) yang harus digugah semangatnya agar menjadi lebih maju, tidak membiarkan diri larut dalam segala keadaan, sifat dan perilaku negatif yang disimbolkan dengan “banyu nang karuh”. Dengan mantra maka ia “dikariaw” seperti kutipan ini :
……………………………
Jangan hanyut ulih banyu nang karuh
Dingsanakku, hulu masih jauh
Ayu hancap kayuh tambangan
Tampulu kita baluman kakadapan.


Terlepas dari konteks logis atau tidak logisnya suatu pemikiran religi magi, mantra yang terdapat dalam puisi Mangariau Naga ini harus diselami dari dunianya, yaitu secara metafisik dan mistis. Secara mendasar dunia mistis ini memiliki lingkup tersendiri, menurut Joseph J. Weed (1991 : 18) kita memiliki sifat ganda terdapat dua unsur yang mengarungi sistem kita yaitu energi fisik dan energi rokh (energi batin), tidak ubahnya suatu sistem yang terdiri dari berbagai variabel kosmos dalam lingkup ruang gaib yang luar biasa dinamika, makna dan daya imajinasinya. Dunia yang dimaksud satu ini yaitu dunia yang meramu dua variabel yaitu irasional yang berada di luar batas jangkauan logika dan dunia logos sebagai suatu sistem konvensi kemampuan indra manusia. 

Mantra “Mamang” dalam puisi ini yang juga berada dalam dunia mistis adalah sebagai suatu tanda bahwa penyair melakukan suatu langkah untuk melewatu suatu batasan dunia pada dimensi yang lain. Dimensi yang ditandai oleh pencarian identitas jati diri terhadap alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada di dalamnya baik yang kasat mata maupun yang tidak kasat mata. Manusia dalam prosesnya mencari suatu strategi untuk menemukan hubungan yang tepat antara manusia dan daya-daya kekuatan yang ada di alam semesta ini.

Dalam puisi ini dengan teradobsinya nilai-nilai budaya masyarakat yang bersifat mistis ini, penyair memberikan suatu gambaran pemikiran di atas, yaitu alam pemikiran ontologis manusia mulai mengambil jarak terhadap segala/sesuatu yang mengitarinya. Penyair dalam posisi ini, tidak lagi sebagai seorang penonton prosesi, melainkan telah berusaha memperoleh pengertian daya-daya yang menggerakan alam dan manusia. Karena itu di sini penyair memulai suatu hubungan perenungan fisik dan alam irasional sebagai kaji-renung metafisik untuk selanjutnya dikedepankan sebagai nilai-nilai yang berharga dalam karya puisi tersebut.

Kata-kata “Mamang”, “Kariau”, dan “Naga” berada dalam lingkup dunia metafisik dan mistis. Jika diuraikan jalinannya berada dalam lingkup hidup dunia mitodologi. Dalam dunia seperti ini tidak ada garis pemisah yang jelas antara dunia realitas dan dunia maya dengan manusia, antara subyek dan obyek. Hubungan manusia dengan makhluk gaib dalam tahap tersebut bisa dikatakan sebagai suatu subyek, berupa lingkaran yang masih dapat dibuka dan diselami rahasianya, yang akhirnya bermuara kepada ketauhidan dari kekuasaan Tuhan.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Peursen (1995 : 124) yang menguraikannya sebagai ruang “Sosio-mistis” yaitu suatu lingkup daya kekuatan semesta yang ditentukan oleh pertalian antar suku (sosio) dan oleh sikap yang mistis-mistis. Inti dari sikap mistis tersebut, bahwa kehidupan ini ada, ajaib dan berkuasa. Penuh daya kekuatan. Dan dengan kesadaran tersebut timbulah cerita-cerita mistis.

Jadi pandangan akan “naga” ini bukan hal yang tidak rasional bila naga sebagai seekor binatang, menghadirkan kekuatan supranatural bagi kehidupan manusia. Hubungan alamiah dan adikodrati yang dapat menghantarkan eksistensi manusia pada cita-cita individual dalam masyarakat yang komunal.

Secara umum jika kita teliti ada konvensi dan keyakinan masyarakat  umum yang mewarnai struktur mithe yang banyak tersebar di nusantra bahkan di dunia ini yaitu unsur dunia atas dan unsur dunia bawah sebagai asal penciptaan dunia mistis. Mitos Naga Banjar adalah merupakan salah sekian dari beragam ceritera yang berkembang di wilayah nusantara ini yang dapat kita lihat dalam tiap-tiap bagian masyarakat adat atau suku yang mendiami wilayah yang terbentang dari sabang sampai merauke ini.

Membaca konsep lanskap alam yang menjadi setting puisi ini, kita mengarahkan pada latar belakang penyair sebagai salah seorang masyarakat atau suku Banjar yang kehidupannya bermula pada proses dinamika alam Banjar, ia terlihat sangat dekat dengan lingkungannya terutama lingkungan sungai yang memang melingkupi seluruh kehidupannya. Pada masyarakat Kalsel sendiri pada umumnya sarana air dan sungai merupakan sarana aktivitas keseharian yang sangat dominan dan sangat vital. Kehidupan yang dimulai dari proses konsumsi, transportasi, ekonomi sampai kegiatan buang air besar dan kecil. Karena itu bagi penyair mantra-mantra yang dilakukan diarahkan pada kehidupan sungai ini. Ada beberapa kata dan kalimat dalam puisi tersebut yang berkaitan dengan dinamika sungai ini seperti kata-kata dan kalimat dalam kutipan puisi ini :
…………………………..
Di bawah kalas muha ari, di atas soklat sungai martapura  
……………………………
Mangayuh tambangan tumatan muhara ka hulu
mananjak ilung nang datang tumatan Baritu
………………………………..
gasan anak cucu nang di tabing atau di banyu
tabing lawan banyu kita, urang Banjar
…………………………………
Limbah pikah ampat puluh satu pangayuh
limbah tapaluh nangkaya mangayuh jukung basauh
……………………………
Jangan hanayut ulih banyu nang karuh
Dingsanaku, hulu masih jauh
Ayu hancap kayuh tambangan
………………………..


Unsur air (banyu), perahu (jukung), rakit (lating/batang), enceng gondok (ilung), tebing atau tepian sungai (tabing) merupakan tradisi dari sebuah kebudayaan sungai yang sudah mendarah daging dan berurat mengakar pada masyarakat Banjar. Begitu pula saat proses mangariau dengan perilaku seorang pawang yang “bamamang” (membaca mantra), yaitu gambarannya dapat ia dilakukan di pinggir sungai dengan pakaian serba kuning, menaburkan beras kuning dan melarutkan atau memasukan ke dalam sungai kue-kue makanan khas Banjar sejumlah empat puluh satu jenis, bunga-bunga pria dan wanita “pitu” (tujuh) macam bunga, sebagai lambang kesempurnaan dan kelengkapan sesaji setelah menggenapkan semedi atau meditasi yang telah dilakukan. Hal tersebut secara logika dan akal memang tidak bisa diterima, karena hanya berupa pemborosan materi dan pembuangan energi belaka. Tetapi jika kita lepaskan jubah logika dan memandangnya dari kacamata paranormal, metafisik, dan parapsikologi akan terlihat suatu nilai harmonium yang relevan dengan hidup manusia yang mendambakan kesempurnaan. Sehingga hal ini dapat dipahami dan diterima oleh akal manusia itu sendiri.

Dalam proses mistis di atas, kita harus memahami dunia antologi mistis, dan harus meletakan mithe sebagai teks dasar yang harus dikaji dengan kesadaran tersendiri sehingga kita memandang dan memuat dunia makro yang berisi nilai multidimensi kemasyarakatan. Dunia mistik sendiri berdiri dalam batasan cukup transparan ia dapat dilihat dari kacamatan ilmiah dengan melibatkan pembuktian-pembuktian yang logis dan jujur dalam prosesnya (Joseph J. Weed 1991 : 17-27).

Mantra yang dimuat penyair dalam puisi kita anggap sebuah teks mistis. Teks ini harus dipandang sebagai miniatur refleksi kehidupan yang serba kompleks. Kalau kita renungi pesan-pesannya maka akan terlihat sebuah dunia yang sangat menarik tanpa memberikan pembatasan antara dunia angker/sakral yang identik dengan kesunyian, kesepian dan kegelapan dengan dunia nyata yang identik dengan warna-warni, hiruk-pikuk dan semangat yang menyala-nyala.

Dari hasil pengalaman di masyarakat kita akan dapatkan suatu mantra itu sesuai dengan tujuannya pawang atau orang yang menggunakannya. Karenanya mantra identik dengan tujuannya, yaitu bermacam-macam, seperti untuk mangariau naga tersebut. Bagi kita lepas dari masalah itu, kita melihat mantra itu hanya dari segi keindahan (estetika) dan permainan kata saja, juga dari segi bahasa kesusastraan itu sendiri.


BIODATA PENYAIR NOOR AINI CAHAYA KHAIRANI

Sekedar mengenang dan mengingat kehadiran belau dihati, dan sumbangsing beliau dalam dunia sastra, jasa-jasa beliau terhadap penulis dan sahabat-sahabatnya yang lain, berikut ini adalah biografi singkat kehidupan pribadi dan kepenyairan beliau semasa hidup :
  
Noor Aini Cahya Khairani adalah penyair daerah Kalimantan Selatan yang berdomisili di Banjarmasin. Noor Aini Cahya Khairani dilahirkan di Banjarmasin tanggal 10 Januari  1959, meningal dunia hari Senin, 18 Agustus 2003.  Masa kecilnya banyak dihabiskan di lingkungan keluarganya dekat dengan kehidupan sungai yang dekat dengan pasar terapung di daerah Kuin Utara Banjarmasin. Menyukai dunia tulis-menulis sejak tahun 1980, tetapi mulai benar-benar serius setelah tahun 1984. Puisi, cerita pendek dan esai sastranya dimuat diberbagai media masa seperti di Surat Kabar Merdeka, Swadesi, Bali Post, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Dinamika Berita, Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni (UMSIS) RRI Nusantara III Banjarmasin dan Majalah Sastra Budaya Horison.

Karya-karya Pengarang:
Dari segi karya-karyanya Noor Aini Cahya Khairani banyak menulis Puisi dan Cerita Pendek disamping beberapa essai dan tulisan sastra populer lainnya. Puisi-puisinya banyak terhimpun dalam antologi bersama, antara lain seperti dalam antologi : Forum  Puisi Indonesia “87 (terbitan Dewan Kesenian Jakarta, 1987), Antologi Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (Bali, 1990), antologi LPPIA (Surabaya, 1992), antologi Refleksi 50 tahun Indonesia Merdeka (Taman Budaya Surakarta, 1995), antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, Bandung, 1997), dan berbagai antologi puisi bersama penyair Kalimantan Selatan lainnya.

Setelah giat menulis sejak 1984, prestasinya dalam dunia sastra terus bertambah. Antara lain, Juara I Lomba Puisi Deppen-Depdikbud Kalsel (1985), Juara I Lomba Tulis Cerpen Bahasa Banjar Himpunan Sastrawan Indonesia (HIMSI) Kalsel (1986), Juara I Lomba Tulis Puisi Bebas HIMSI Kalsel (1989) dan salah satu dari 10 Puisi Terbaik Lomba cipta Puisi Se-Indonesia yang diadakan Sangga Minum Kopi (SKM) Bali (1990) Salah satu puisinya pernah terpilih sebagai puisi terbaik dalam lomba tulis puisi hari kebangkitan nasional. Juga puisi dan cerpennya berhasil meraih juara pertama dalam lomba yang diadakan oleh Himpunan sastrawan Indonesia Kalimantan Selatan. Puisi Mangariau Naga adalah salah satu puisinya dalam bahasa Banjar yang menjadi pemenang pertama dalam lomba tulis Puisi Bahasa Banjar Tahun 1999 yang juga diadakan HIMSI Kalimantan Selatan.

Tahun 1997 Noor Aini Cahya Khairani mengikuti Forum Puisi  Indonesia ’87 yang dilaksanakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki, Jakarta (1997), pemakalah dalam diskusi sastra di Galeri Made Wianta di Denpasar (1990); peserta Temu Sastra Lembaga Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Amerika (LIPPIA) di Surabaya (1992,1994), Pekan Seni Daerah Banjar di Anjungan Kalsel di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta (TMII) Jakarta (1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka di Solo (1995), Bedah Buku dan Diskusi Sastra Kepulauan II di Makasar (2000), Banjarmasin Performing Art di Banjarmasi (2001) dan Dialog Borneo-Kalimantan VII di Swiss-Belhotel Borneo Banjarmasin (2003).

Selain membacakan puisi di forum sastra lokal maupun nasional, ia sering diminta menjadi juri lomba membaca maupun mengarang puisi dan pemakalah dalam sejumlah sarasehan, seminar dan diskusi sastra. Tahun 1999 dianggap sebagai puncak prestasinya menjadi seniman khsusnya seniman seni sastra daerah Banjar, Noor Aini Cahya Kahirani menerima Hadiah Seni di bidang Seni Sastra dari Gubernur Kalsel.

MANGARIAU NAGA
(Karya Noor Aini Cahaya Khairani)

Di bawah kalas muha ari, di atas soklat sungai martapura
di sasala sari muha balai kota lawan layu kambang di subarangnya
tambangan titis siparabayaksa pambawa pitua raden samudra
nangkaya tahalang naga
maka pangeran banjar cagar diarak kuliling banua.

Mangayuh tambangan tumatan muhara ka hulu
mananjak ilung nang datang tumatan Baritu
mangariau sumangat nini datu
gasan anak cucu nang di tabing atau di banyu
tabing lawan banyu kita, urang Banjar
nang bau pudak lawan batapung tawar.

Limbah pikah ampat puluh satu pangayuh
limbah tapaluh nangkaya mangayuh jukung basauh
bakalambu ujan panas marintik, basasajian
bapakaian saraba kuning, babaras kuning pawang
bamamang ;
“ barakat aksaraku tatinggi pada ikam
ikam kada mangariau ku aku nang mangariau ikam
uiii, sirintik siribut nang basisik habang sinang
babalang-balang
napa batapa di kalurungan
kada mayukah  wadai ampat puluh satu macam
kambang laki-bini pitu macam
lampah, darah alam jalallah 
nang datang matan raden Samudra
sampai kakita".

Jangan hanyut ulih banyu nang karuh
Dingsanakku, hulu masih jauh
Ayu hancap kayuh tambangan
Tampulu kita baluman kakadapan.

Sumber: Disarikan dan diedit ulang dari Makalah Kuliah saya yang berjudul "Seni Budaya Banjar dalam Sastra Puisi Daerah Banjar". yang diajukan untuk mata kuliah Dinamika Budaya. FKIP Unlam Banjarmasin.

GAMBAR CONTOH MOTIF DAN JENIS-JENIS KAIN SASIRANGAN KALSEL KALIMANTAN SELATAN

Sasirangan, Acara Kain sasirangan
Indoborneonatural---Banyak sekali motif, corak dan jenis-jenis kain sasirangan yang di kenal di daerah Kalimantan Selatan, ada beberapa nama motif yang banyak digunakan sebagai warna corak kain sasirangan yang dibuat busana kain sasirangan Banjar yang menarik dan indah hingga saat ini. Sekarang bentuk busana kain sasirangan menjadi trend dengan modifikasi kain sasirangan dan bling-bling aksesoris yang menarik. Pakaian kain sasirangan ini menjadi trend dan banyak dipakai diberbagai acara, upacara dan berbagai kesempatan yang berkaitan dengan kebudayaan masyarakat Kalimantan selatan.

Adapun jenis-jenis dan motif warna kain sasaringan seperti :

Daun Jaruju
Naga Balimbur
Sarigading
Kambang Tanjung
Kambang Tampuk Manggis
Kambang Raja
Bayam Raja 
Iris Pudak
Kulit kayu
Kulit Kurikit
Turun Dayang
Jumputan
Ombak Sinapur Karang
Bintang buncu ampat, buncu lima, buncu tujuh
Bintang Bahambur
Sisik Tanggiling
Kangkung Kaombakan
kambang kangkung
Kambang Sakaki. 
Bayam Raja
Kambang Kacang
Daun Jaruju
Mayang Maurai
Ramak Sahang
Daun Katu
Bintang Sudut Ampat, Lima, Tujuh/Gugusan Bintang/Bintang Bahambur
Hiris Gagatas
Kambang Sakaki
Kulat Karikit
Gigi Haruan
Hiris Pudak
Ular Lidi
Kangkung Kaumbakan
Dara Manginang dll.




Jenis-jenis motif dan corak kain sasirangan yang dibuat selain dari motif dasar masing-masing bentuk di atas, juga banyak yang dibuat dengan beragam corak motif sebagai hasil modifikasi dan pencampuran bentuk dan warna sasirangan. Ada beberapa corak dengan motif campuran yang bisa dibuat hingga terlihat sangat menarik dan cantik seperti campuran dan modifikasi corak Sasirangan berikut ini;

Berikut beberapa contoh corak campuran motif sasirangan :
Kambang kacang, Bayam raja
Kambang kacang, Bayam raja, Kangkung Kaombakan
Kulat karikit, Gigi haruan, Iris pudak, Ular lidi
Ramak sahang, Daun katu, galumbang
Daun Jaruju, Tampuk Manggis
Kangkung kaumbakan, Umbak sinapur karang
Sarigading (Iris Gagatas), Kambang Sasaki
Bintang buncu ampat, buncu lima, buncu tujuh, Bintang bahambur

Berikut contoh gambar motif atau warna dan corak kain sasirangan khas daerah Kalimantan Selatan : 


Sasirangan Kambang Sakaki

















Source: Gambar Google

CARA MEMBUAT MASAKAN OSENG DAUN PEPAYA

Salah satu masakan kuliner nusantara yang memanfaatkan sumber dari alam adalah masakan oseng daun Pepaya. Resep ini bahannya sangat mudah didapat dan tentunya yang lebih penting rasanya enak.

Berikut ini cara membuat Oseng Daun Pepaya :

ASPEK ISLAMI DALAM KARYA SASTRA PUISI

Pengaruh dari aspek-aspek Islam ini hingga sekarang di era berkembangnya puisi modern masih banyak terdapat dalam puisi-puisi karya penyair Indonesia (nasional). Pengaruh ini terlihat secara integral dan melibatkan kedalaman pemahaman religius para penyair khususnya penyair yang beragama Islam. Banyak pengalaman mental, spritual, dan religi penyair yang dituangkan dalam karya puisi mereka, sehingga memberikan pemahaman dan penghayatan apresiatif terhadap puisi-puisi religius Islami ini.

OUR FORESTS

Indonesia has some of the richest in the world. The total area of forested land is approximately 120 million hectares. These forests have exited for millions of years and they have much to offer us. They are important for their products, such as timber, rattan, resin, etc: They are also important for keeping the soil fertile. The leaves of the forest trees fall to the ground and become humus. The humus is fertilizer for the soil. The forest are also important for preventing soil erosion and floods. The roos of the trees prevent the soil from being washed away by the rain.

Cari Artikel