SUKU SASAK DI DUSUN ENDE LOMBOK NTB

Indoborneonatural----Penduduk Nusa Tenggara Barat terdiri dari suku Sasak, yaitu suku asli yang berasal dari Pulau Lombok, dan suku Bima serta suku Sumbawa yang berada di pulau Sumbawa. Masing-masing pulau memiliki tradisi, adat dan budayanya sendiri. Seperti pulau Sumbawa memiliki rumah adat bernama Dalam Loka Samawa dan Pulau Lombok memiliki rumah adat suku Sasak yang biasa disebut Bale.

Rumah yang dibangun dengan bahan tanah liat dicampur kotoran kerbau menjadi pemandangan di sebuah dusun di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Dusun Ende namanya, sebuah dusun yang merupakan tempat tinggal Suku Sasak, suku asli masyarakat Pulau Lombok.

Ende merupakan dusun yang masih bersifat tradisional. Penduduk dusun ini menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya.

Memulai perjalanan dari Kota Mataram, menempuh jarak 40 km atau 60 menit waktu tempuh, Anda akan disambut hangat oleh masyarakat Dusun Ende. Tidak sulit menemukan dusun yang letaknya di sebelah kanan jalan ini. Jika Anda kebetulan sedang menuju Pantai Kuta dari Mataram, ada sebuah papan informasi yang bertuliskan “Welcome to Sasak Village”. Papan ini menjadi panduan sekaligus undangan bagi Anda untuk sejenak singgah melihat dusun yang masih tradisional ini.

Memiliki luas sekitar 1 hektare, Area dusun Desa Adat Sasak Ende Lombok cukup luas sekitar 1 hektar, mengitari Dusun Ende tidak memakan waktu yang lama. Melihat rumah yang beratapkan alang-alang yang menjadi ciri Suku Sasak tentu menjadi pemandangan yang menarik. Atap rumah yang dibuat miring memang disengaja agar para tamu yang mengunjungi rumah harus menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada sang pemilik rumah.

Rumah yang dibangun menggunakan tanah liat serta dicampur kotoran kerbau menjadi pemandangan yang sangat unik di sebuah dusun di Desa Rambitan, Kec.Pujut, Kab.Lombok Tengah, Prov.Nusa Tenggara Barat. Dusun tersebut bernama Dusun Ende, sebuah tempat tinggal suku asli masyarakat Pulau Lombok, yaitu Suku Sasak.

Dusun Ende sendiri merupakan dusun yang masih bersifat tradisional. Masyarakat di Dusun Ende ini dalam menjalani aktivitas kesehariannya masih memegang teguh akan tradisi dan budaya yang mengakar dari para leluhurnya.


Ada tradisi unik yang dimiliki Suku Sasak, yaitu kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria membawa lari wanita yang disukainya. Ini dilakukan tanpa diketahui oleh orangtua si wanita. Pelarian yang dilakukan biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelah itu, orangtua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Pernikahan di Dusun Ende biasanya dilakukan di seputar lingkungan dusun. Perkawinan antarsepupu atau saudara masih sering terjadi. Jika ada seseorang yang ingin menikah dengan pihak luar dusun, orang tersebut diharuskan membayar denda yang nilainya cukup besar untuk kalangan masyarakat dusun.

Agama Islam yang menjadi agama mayoritas Dusun Ende juga tak membuat tradisi yang telah berumur ratusan tahun ini menjadi longgar. Percampuran tradisi dan agama Islam yang membaur menjadikan Dusun Ende salah satu dusun yang wajib Anda kunjungi ketika berada di Pulau Lombok. 



Pengembur, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.
Provinsi: Nusa Tenggara Barat.

Pulau Lombok

Pulau di Nusa Tenggara Barat
Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan Sunda Kecil atau Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dari Bali di sebelat barat dan Selat Alas di sebelah timur dari Sumbawa. Wikipedia
Luas: 4.725 km²
Provinsi: Nusa Tenggara Barat
Jumlah penduduk: 3,167 juta (2010)
Gugusan pulau: Kepulauan Nusa Tenggara
Tujuan: Kota Mataram, Pantai Senggigi, LAINNYA


INILAH SEJARAH DAN ASAL USUL PENGHUNI PERTAMA DAERAH KALIMANTAN SELATAN

Feri Penyebrangan di Sungai Barito
Indoborneonatural----Ilmu yang mempersoalkan sejarah mula jadi manusia dengan bagian tertua peradaban manusia itu adalah ilmu prasejarah. Zaman Prasejarah ini belum memiliki peninggalan bahan-bahan tertulis. Namun hal ini merupakan hal yang relatif sekali, sebab lamanya zaman prasejarah di tiap daerah berbeda satu dengan lainnya. Ketika orang-orang India datang di Kalimantan Timur (Kutai) dan di Jawa mengintroduksi penggunaan tulisan sebagai alat budaya manusia, maka prasejarah di sini telah berakhir pada abad ke IV sesudah tarikh masehi.

Manusia mula jadi ini meninggalkan banyak artefak-artefak sebagai alat untuk mempertahankan hidup, di samping sisa-sisa fosil mereka sendiri. dan fosil flora serta fauna pada zaman mereka hidup, Dari peninggalan-peninggalan ini para ahli kemudian dapat menentukan jenis-jenis mereka, alat-alat yang dipakai dan tata cara kehidupan yang dijalani kelompok tersebut.

Bagi kita di Indonesia, munculnya manusia-manusia purba dan jenis-jenis fauna lingkungannya berkaitan erat dengan proses alami timbulnya kepulauan ini. Untuk manusia prasejarah Indonesia diperlukan bantuan ilmu pengetahuan lain seperti ilmu pengetahuan alam, geologi, palaentologi dan sejarah ilmu bantu yang lain.

Periode plestosin berlangsung antara 3 juta sampai dengan kira-kira 10.000 tahun yang lalu. Dalam masa ini telah terjadi empat kali zaman es atau zaman glasial. Di permulaan zaman kwarter, muncul zaman es pertama suhu bumi turun dan gletser menutupi sebagian besar daratan Asia, akibat banyaknya air laut yang terambil, permukaan laut menjadi turun. Sebagian besar Laut Jawa Kering dan timbullah Paparan Sunda yang menghubungkan kontinen Asia, Malaya, Sumatera, Kalimantan dan Jawa.

Iklim Indonesia masa ini sebagai daerah tropis, adalah musim kering yang yang menimbulkan padang-padang rumput dan jenis-jenis burung yang berpindah dari daratan Asia. Musim kering ini disusul musim hujan yang membawa akibat munculnya hutan-hutan lebat termasuk di Kalimantan.

Hujan lebat di masa pluvial menyebabkan banyaknya muncul sungai-sungai. Walaupun Paparan Sunda ini kemudian tenggelam kembali. Tetapi penyelidikan fauna air tawar menunjukan bahwa sungai-sungai Kahayan, Barito, Sampit, Sungai-sungai di Lampung, sungai-sungai di Jawa Utara adalah cabang-cabang sungai besar di Laut Jawa yang bermuara di sebelah utara pulau Bali.

Mulai periode glasial I dengan timbulnya Paparan Sunda menjadi jembatan yang memungkinkan terjadinya migrasi manusia dan hewan dari daratan Asia ke Indonesia.

Zaman permulaan plestosin tengah berjalan seiring dengan glasiasi kedua daratan Asia, permukaan air laut turun sedalam 125 meter, sehingga Paparan Sunda ini mencapai luas wilayah yang sangat besar dan kembali wilayah Jawa, Kalimantan dan Sumatera bersatu dengan Malaya dan daratan Asia, kembali terjadi migrasi hewan menyusui pemakan tumbuhan dan binatang buas lainnya, yang kita kenal dengan istilah fauna Sino Melayu, selain makhluk manusia. Setelah ribuan tahun berjalan es mengilang lagi dan lautan kembali memisah pulau-pulau ini.

Di Zaman permulaan plestosin atas berlangsung kembali glasiasi ketiga dari daratan Asia. Kembali Paparan Sunda muncul untuk menjadi jembatan migrasi makhluk manusia dan hewan yang kemudian berakhir kembali ke zaman interglasial untuk disambung kembali dengan zaman glasiasi keempat.

Secara asumsi kita dapat menetapkan bahwa manusia-mansusia tertua di Kalimantan Selatan mungkin sama jenis dan perkembangannya dengan yang di Pulau Jawa, karena:


  1. Selama empat kali zaman es dan timbulnya daratan Paparan Sudan, Kalimantan Selatan dan Jawa menjadi satu daratan yang tidak boleh tidak mungkin mengalami arus migrasi manusia dan hewan-hewan yang sama.
  2. Tergabungnya di daratan Paparan Sunda ini Sungai-sungai Barito, Tabalong dan sungai-sungai Bengawan Solo dan lain-alin sebagai anak sungai besar yang bermuara ke utara pulau Bali, memiliki jenis-jenis ikan air tawar yang sama jenisnya.
  3. Ditemukannya oleh Toer Soetardjo di dasar Riam Kanan di Awang Bangkal kapak peribas (Choppers) dari kerakal kwarsa tahun dan tahun 1939 alat-alat baru oleh H. KUpper juga di Awang Bangkal. Alat-alat ini digolongkan oleh Van Heekeren sebagai unsur budaya kapak perimbas. Di Jawa alat-alat perimbas ini adalah alat manusia purba Pithecathropus. Toer Soetardjo menemukannya tahun 1958.
  4. Banyak terdapat pada masyarakat Kalimantan Selatan alat-alat bantu yang mereka sebut dengan istilah batu petir, tetapi difungsikan sebagai alat-alat "magis". Benda-benda ini kelihatan licin dah halus umpamanya, serta bentuknya seperti beliung/ kapak persegi, menunjukan kepada benda atau artefak-artefak zaman batu muda dari manusia neolitik.
  5. Cerita zaman dahulu bahwa orang-orang Maayan, Ngaju, Lawangan, Bukit Tinggal di betang atau balai, berupa rumah panggung, bertiang tinggi antara 5 - 7 meter, merupakan rumah keluarga besar. Betang-betang yang baru seratus tahun belakangan ini berubah menjadi rumah-rumah dalam bentuk dewasa ini, diperkirakan mulai zaman neolitik, zaman masa bercocok tanam.
  6. Demikia juga dengan keahlian suku Dayak melebur logam dan menggunakan alat pemukul kayu dari batu untuk mendapatkan bahan pakaian, berasan dari zaman prasejarah ini pula.
Dari zaman glasial I sampai dengan yang ke IV, berkali-kali Kalimantan dan ini bukan mustahil, menerima migrasi dari Asia lewat Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa atau dari Cina, Taiwan, Filipina ke Kalimantan.

Selanjutnya empat kali terpisah sebagai pulau dan seterusnya terpisah sampai sekarang. Peng-es-an yang berulang kali mempersatukan wilayah dan kemudian memisahkan lagi, iklim yang berubah-ubah, hutuan-hutan lebat dan ganas sebaga alat seleksi khusus, prioses pigmisasi atau tidak, pembentukan alam sungai dan rawa serta impact terhadap manusia untuk adaptasi lingkungan, isolasi yang cukup lama atau kontak terbuka dengan arus pendatang, selalu membuka kemungkinan hibridisasi yang luas dari segala komponen rasial yang terdapat di Kalimantan Selatan.

Semua ini selalu memberi kemungkinan baik atau kurang bagi terjalinnya faktor perkembangan evolusi manusia sebagai arus gena, efek Sewall wright  dan seleksi alamnya. Kita belum mengetahui secara pasti ilmiah mengenai kepurbaan manusia di Kalimantan Selatan. dengan manusia Homo Sapiens seperti jenis Ot Nyaju, Maanyan, lawangan dan suku-suku Bukit Meratus sampai dengan manusia Banjar. Sampai dimana jauh arug gena Weddoide, Austromelanesoide dan Mongoloide berhibridisasi dalam evolusi kurun pemungilan manusia Kalimantan Selata, merupakan tugas penelitian ilmiah yang berlum terungkapkan jawabannya. Melihat sepintas lalu kepada suku-suku Dayak yang ada sekarang, unsur Mongoloide kelihatan lebih dominan dari unsur Austromenlanesoide.
Demikian mengenai sejarah dan asal usul penghuni pertama di daerah Kalimantan Selatan, semoga bermanfaat. terimakasih.

Sumber: 
Dirangkum dari Buku Sejarah Kalimantan Selatan, Proyek Penelitian dan pencatatan Kebudayan Daerah Depdikbud tahun 1977 

KEBUDAYAAN KOTA CIREBON JAWA BARAT

Indoborneonatural----Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan bentuk Kabupaten yang termasuk dalam wilayah Propinsi Jawa Barat yang memiliki pusat pemerintahan di Kota Cirebon. Seperti halnya daerah lain yang ada di Indonesia, Cirebon juga memiliki kebudayaannya sendiri yang unik dan berbeda dari daerah di Jawa Barat lainnya. Kesenian, tradisi dan unsur-unsur nilai budaya yang amat luhur sebagai faktor penunjang dalam menyokong pembangunan di wilayah Kota Cirebon. Budaya yang cenderung religius berbaur dengan budaya Keraton yang bernuansa kerajaan sangat khas dan amat menonjol sebagai ciri khas yang amat kental di Kota ini. Kota Cirebon terkenal juga memilki kebudayaan yang sangat melekat yakni perpaduan dari berbagai budaya yang datang serta mempunyai bentuk ciri khas tersendiri. Dapat dilihat dari beberapa pertunjukan yang begitu khas dari masyarakat Cirebon yaitu diantarnya Tarling, Tari Topeng Cirebon, Sintren, Kesenian Gembyung dan Sandiwara Cirebonan.

Kota ini memilki beragam jenis kerajinan tangan antara lain Topeng Cirebon, Lukisan Kaca, bunga Rotan, dan Batik. Batik khas dari Cirebon mempunyai ciri khas tersendiri yang mnugkin tidak akan ditemukan di tempat lain yaitu motif mega mendung, motif ini mempunyai bentuk seperti awan bergumpal-gumpal yang biasanya membentuk bingkai pada gambar utama.
Motif mega mendung sendiri diciptakan oleh Pangeran Cakrabuana pada tahun 1452-1479, Pada awalnya seni batik Cirebon hanya dikenal di kalangan keraton, karena batik tersebut didapat dari pengaruh keraton-keraton yang ada di Cirebon. Seiring berkembangnya seni batik di Cirebon, batik motif mega mendungpun mulai banyak digunakan dari berbagai kalangan. Selain itu terdapat juga motif-motif yang disesuaikan dengan ciri khas pesisir.
Kebudayaan di Kota Cirebon memilki potensi yang sangat potensial untuk dikembangkan sehingga dapat diberdayakan menjadi nilai tinggi yang dapat dilestarikan dan juga dapat pula disajikan nilai komoditas pariwisata sebagai daya tarik tersendiri di Kota Cirebon. Beragam kesenian dan tradisi serta unsur-unsur budaya yang luhur bisa dijadikan faktor penunjang dalam menyokong pembangunan di wilayah Kota Cirebon. Budaya yang cenderung religius berbaur dengan budaya keraton yang bernunsa kerajaan sangat khas dan juga sangat menonjol adalah merupakan ciri khas yang sangat kental di Kota Cirebon ini.
( Sumber : pintuwisata.com )

MACAM-MACAM PANTUN BARIS BETAWI JAKARTA

Indoborneonatural---kelanjutan artikel terdahulu tentang mengenal patun Betawi Jakarta, maka berikut ini akan kita lihat tentang macam-macam pantun baris dari Betawi. Pantun ini antara lain, pantun tiga baris, pantun empat baris, pantun banyak baris, dan nanti akan sedikit kita ulas tentang pantun yang baku menurut ketentuan yang ada di masyarakat Betawi.

Pantun Tiga Baris 

Pantun tiga baris biasanya merupakan teks nyanyian anak-anak tempo. Anak-anak doeloe disamping bernyanyi mereka juga membuat mainan sendiri yang bahannya  diambil dari lingkungan alam sekitar, misalnya anak-anakan rumput.

Pong-pong balong
Biji merak biji sampi
Pece telor sebiji

Ci-ci puteri
Tembako lime kati
Mak none, mak none kepengen ape

Deng 'ndengan
Siri tampi berduri-duri  
Pok bereok

Utak utik utak uger
Ayam rinting menclok dipager
Ade tikus kucing uber

Pantun anak-anak juga ada yang strukturnya empat baris.
Misalnya:

Ujan gerimis aje
Ikan bawal diasinin
Si Hindun nangis aje
Bulan sawal dikawinin

Dut dang 
Kecapi pentil
Si Gendut pulang 
Bawa tai upil


Pantun banyak baris

Pantun banyak baris adalah pantun yang strukturnya lebih dari empat baris. Dalam jenis pantun ini agak sulit dibedakan mana sampiran dan mana isi, mirip mantera. Dan cuku banyak kata yang digunakan tanpa makna, melainkan suatu unsur bunyi-bunyian saja. 

Wak-wak gung

Wak-wak gung 
Nasinye nasi jagung
Lalapnya lalap utan
Sarang gaok pu'un jagung 
gang-ging-gung
Pit ala ipit
Kude lari kejepit
Sipit


Tam-tambuku

Tam-tambuku
Seleret daon delime
Pate lembing
Pate paku
Tarik belimbing
Tangkep satu


Kelima-lima kasim

Sim-sim keliam-lima kasim-sim
Simpak bakul rombeng-beng
Bengkel kelapa-lapa ijo-jo
Jotan daon rambutan-tan
Tanduk pale si Mukcing-cing
Cingcang daging babi-bi
Biuk rodanya empat-pat
Pacul ujungnya tajem-tajem
Jempol siap punye


Sang bango

Ang bango eh sang bango
Kenapa ente delak-delok aje
Mengkenye ane delak-delok aje
eh sang ikan enggak mau timbul
Sang ikan eh sang ikan
Kenapa ente enggak mau timbul
Mengkenye ane nggak mau timbul
eh sang rumput keliwat tebel
Sang rumput eh sang rumput
Kenapa ente keliwat tebel
Mengkenye ane keliwat tebel
eh kang rumput enggak potong ane
Kang rumput eh kang rumput
Kenape ente kagak potong sang rumput
Mengkenye ane nggak potong sang rumput
eh sang perut sakti aje
Sang perut eh sang perut
Kenape ente sakti aje
Mengkenye ane sakit aje
makan nasi mente mateng
Sang nasi eh sang nasi
Kenape ente mente mateng
Mengkenye ane mente mateng
eh sang api kelak kelik
Sang api eh sang api
Kenape ente kelak kelik
Mengkenye ane kelak kelik
eh sang kayu basah aje
Sang kayu eh sang kayu
Kenape ente basah aje
Mengkenye ane basah aje
eh sang ujan turun aje
Sang ujan eh sang ujan
Kenape ente turun aje
Mengkenye ane turun aje
eh sang kodok manggil ane
Sang kodok eh sang kodok
Kenape ente pang sang ujan
Mengkenye ane panggil sang ujan
eh sang ular mau makan ane
Sang ular eh sang ular
kenape ente mau makan sang kodok
Mengkenye ane mau makan sang kodok
eh sang kodok emang makanan ane!.


Pantun yang baku

Pantun menurut ketentuan baku cukup banyak beredar di kalangan masyarakat Betawi. Baik kalimat sampiran maupun isi disusun dengan tertib. Pantun jenis ini pun mempunyai pesan yang jelas. Ada pantun yang yang membanggakan kehidupan birokrat, yang dlam istilah Betawi disebut prang pangkat-pangkat, atau orang kantoran kalau jabatannya rendah. Orang yang berilmu pengetahuan dalam bahasa Betawi disebut sebagai orang patut-patut, atau orang ngarti. Orang yang mempunyai ilmu hitam, atau ahli main pukulan biasa disebut orang nyang ade isinye. Orang yang ilmu agamanya tinggi, seperti dijelaskan di muka disebut mu'alim, atau biasa juga disebut orang alim.

Di bawah ini adalah contoh pantun yang mengapresiasikan profesi dalam jajaran birokrasi.

Iris iris ketimun
Ketimunnye di kolong meje
Iring-iring Bang Sa'miun
Bang Sa'miun pulang kerje 

Profesi wiraswastawan pun mendapat tempat yang patut dalam sistem nilai Betawi. Entepreneur dalam bahasa Betawi di sebut sudager. Berikut ini pantun tentang sudager.

Haji Mu'min Sudager delime
Orang nyang murni bertuker name
Jangan herau kesane kemari
Asal idup kite di jalan agame

Pantun kanak-kanak tidak semua "radikal". ada juga yang berisi pencerdasan akal, semacam permainan tebak-tebakan. Contohnya ini.

Pak-pung pak Mustape
Pak Dule di rumanye
Ade tepung ada kelape
Ade gule di tengenye

Jalanan besar pager miana
Burung puter di rumah cina
Jangan gusar saya bertanya
Di bawah puser apa namanya.

Demikian itulah beberapa macam contoh pantun Betawi yang disusun dengan bahasa yang jenaka, tetapi di antaranya banyak mengandung pesan yang sungguh-sungguh, dan ada juga yang mengandung jeritan hati dan batin. Banyak juga mengingatkan kita untuk hidup dijalan yang benar yaitu dijalan agama. Terimakasih sudah berkunjung ke blog Indoboreneonatural ini, semoga artikel ini bermanfaat. Wassalam..

MENGENAL LEBIH DEKAT SENI PANTUN BETAWI JAKARTA

Indoborneonatural---kalau dalam kebanyakan cabang kesenian Betawi kita mengenal pemetaan, misalnya Cokek digemari dibeberapa tempat, tetapi tidak di suatu tempat tertentu. Begitu juga halnya dengan topeng, acel, samrah. Wilayah pendukung budaya pantun merata diseluruh jagat Betawi, dan merasuk ke suluruh strafikasi sosial Betawi apakah golongan mu'alim, nelayan dan pelele, orang nani' orang pangkat-pangkat, panjak maupun bangsa buaye dan bergajul. KOnon dikalangan anak-anak muda. Hampir semua jenis permainan anak-anak adalah pantun yang dinyanyikan. Dalam bahasa Kreol ada istilah 'Capriho', berbalas pantun. Caprinho dalam bahasa Minangkabau menjadi 'kaprinyo'. 

Struktur pantun Betawi tidak mutlak empat baris, bisa kurang, dan bisa lebih. Tetapi umumnya pantun Betawi masih sama dengan daerah lain, yaitu empat baris, dimana dua baris pertama berisi sampiran, dan dua baris berikutnya adalah isi.

Pantun betawi yang beredar dikalangan anak-anak dan remaja, strukturnya tidak teratur. Kalau terdiri dari tiga baris, maka baris pertama adalah sampiran dan dua baris lainnya adalah isi. Pantun yang strukturnya lebih dari empat baris, umumnya sulit dibedakan mana sebenarnya yang murni sampiran, dan mana yang termasuk isi.

Sahabat indoborneonatural sekalian, jika kita cermati lebih dalam, Sampiran pantun Betawi kadang-kadang berupa kata-kata bunyi-bunyian saja yang secara harfiyang tidak punya makna. Tetapi sangat mungkin sampiran seperti ini berasal dari mantera lama. Semangat pantun betawi, baik sampiran maupun isinya, biasanya cukup menyegarkan.  Tak banyak yang mengandung nasehat, tetapi umumnya sindirian, tetapi juga dapat sekedar hiburan. 

Benyamin S Seniman Betawi

Siapa pencipta pantun Betawi ?

Seperti halnya dengan jenis kesenian rakyat lainnya, nama-nama pencipta pantun tidak pernah diketahui dan belum jelas asal usul awal orang yang membuatnya, kecuali keberadaannya yang sudah ada di masyarakat. Pantun telah lama beredar lewat budaya oral dan seni bertutur yang ada dimasyarakat Betawi. Berikut ini contoh-contoh pantun dan lingkungan stratifikasi sosialnya; 

Pantun Kalangan Mu'alim

Ya Allah ya Rabbi
Nyari untung biar lebi
Biar bisa pergi haji
Jiarah kuburan Nabi

Pantun ini berisi motivasi untuk semangat mencari nafkah dengan motivasi ibadah, yaitu menjalankan ibadah haji di kota suci Mekah. 

Dua pantun berikut ini berlatar belakang suasanan kehidupan murid-murid pengajian. Pengertian murid adalah mereka yang sedang menuntut ilmu agama. Istilah "santri" tidak populer di masyarakat Betawi. Dua pantun berikut kemungkinan besar diciptakan oleh seorang ustadz;

Indung-indung kepala lindung
Ujan di laut di sini mendung
Anak siape pake kerudung
Mata ngelitik kaki kesandung

Ayun -ayun Siti Aise 
Mandi di kali rambutnya base
Tidak sembayang tidak puase
di dalam kubur ade nyang sekse

Kalangan mu'alim (dalam konteks berikut ini kata ini penulis gunakan setara dengan terminologi "golongan santri" yang digunakan Clifford Geertz dalam The Religion of Java) tidak menyukai cara-cara hidup orang panjak (enterteiner seperti seorang tukang gambang, cokek, dll-nya). Mereka berpendapat pola kehidupan panjak "enggak diredoin Tuhan" (tidak dirodhoi Tuhan.

Bagi mu'alim seorang panjak itu kurang mendapat bimbingan agama. Seorang ulama Betawi dari Matraman K.H. Ali Al Hamidy pernah mengisahkan seorang panjak gambang ini ahli membuat pantun, kini ia terbaring menunggu ajal dikerumuni sanak saudara. Dalam saat seperti ini menjadi kebiasaan yang hidup di Betawi menyeru kepada orang yang mau meninggal itu agar "nyebut". Maksudnya, mengucapkan dua kalimat Syahadat. Keluarganya berseru, "Be, nyebut dong, Be". Tapi si panjak gambang ini diam saja. Setelah tetanggapun berdatangan dan menyuruh agar si panjak "nyebut", maka tiba-tiba ia bangkit dari pembaringannya dan duduk di kasur menghadap kerumunan orang. Ternyata ia berpantun, begini; 

Bujug, kenapa sih elu pada ribut
Kapan pikiran gue lagi kalang kabut
Jantung gue pengen nyoplok rasa bat-bit-but
Nah nyawa gua mau dicabut

Pantun nelayan

Pantun nelayan Marunda berisi kegetiran hidup. Kehidupan yang berat sebagai nelayan, terutama menghadapi musim barat dimana angin bertiup kencang tidak memungkinkan mereka melaut. Mereka mengatakan jadi nelayan bukan permainan, artinya bukan sembarangannya, karena nyawa yang menjadi taruhan.

Musim barat
Kita melarat
Musim timur
Kita makmur

Dari jembatan tinggi ke pengasinan
Jalannya nenggar jarang pepohonan
Tukang sero tukan nelayan bukan permaenan
Siang kepanasan malam keembunan.



INILAH 16 TRADISI UNIK MENYAMBUT BULAN PUASA RAMADHAN DI INDONESIA

Indoborneonatural---Nusantara Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki populasi muslim paling banyak di dunia, hal ini mengungkapkan bahwa mayoritas populasi penduduk di Indonesia memeluk agama Islam. Nuansa Islam akan semakin nampak pada saat menjelang bulan Ramadhan, dimana masyarakat kita bersiap menghadapi ibadah puasa Ramadhan dengan berbagai tradisi menurut daerahnya masing-masing. Tradisi-tradisi ini bisa ditemui di hampir semua penjuru tanah air. Sebagian besar Tradisi yang sudah ada sejak ratusan tahun ini, turun temurun dilakukan dan masih terpelihara sampai sekarang. Berikut inilah 16 tradisi unik dan menarik menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia.


16. Megibung

Sumber Gambar: jakartavenue.com
Walaupun mayoritas masyarakat Bali beragama Hindu, tradisi menjelang puasa yang dilakukan oleh muslim Bali juga enggak kalah dengan upacara keagamaan Hindu. Tradisi Megibung biasanya dilakukan muslim Bali menjelang bulan puasa Ramadhan. Acara makan yang diselingin dengan obrolan ringan ini telah menjadi sebuah budaya yang berasal dari Karangasem, Bali. Megibung ini juga bisa diartikan sebagai makan bersama jadi dalam satu jamuan makan satu porsi nasi dan lauk pauk akan dimakan oleh sekitar 4-7 orang.


15. Malamang

Sumber gambar: cesarzc.files.wordpress.com
Memasak makanan menjadi bagian penting di berbagai tradisi Minangkabau, Sumatra Barat. Begitu juga untuk merayakan hari-hari penting keagamaan salah satunya ketika menyambut bulan Ramadan. Setiap menjelang bulan puasa masyarakat Minangkabau khususnya para ibu-ibu akan beramai-ramai membuat lamang atau lemang yang terbuat dari ketan, kadang kegiatan ini dapat dilakukan bersama-sama berkumpul di suatu tempat misalnya halaman luas untuk membakar lemang beramai-ramai.  


14. Dugderan 


Sumber Gambar: www.wowkeren.com
Tradisi Dugderan masyarakat Semarang ini sudah dilakukan sejak tahun 1881 yang sampai sekarang masih dilakukan. Bedanya Dugderan zaman sekarang sudah menjadi pesta rakyat yang rangkaian acaranya ada tari-tarian, karnaval, dan tabuh bedug. Di setiap Dugderan pasti Warak Ngendong yang jadi simbol acara ini diarak dan ikut dalam karnaval. Biasanya karnaval akan dimulai dari Balai Kota dan berakhir di Masji Kauman.


13. Padusan


Simber Gambar: static.pulsk.com

Salah satu cara yang dipercaya untuk bisa menyucikan diri adalah dengan cara mandi atau berendam di laut atau sumber-sumber air yang dianggap kramat. Masyarakat Boyolali juga masih mempercayai tradisi seperti ini. Setiap menjelang bulan Ramadan masyarakat Boyolali akan beramai-ramai mendatangi air terjun atau sumber air lainnya yang dianggap kramat. Mereka akan beramai-ramai mandi dan berendam di sumber air ini karena kepercayaan mereka air bisa menyucikan diri sebelum masuk ke bulan puasa.


12. Pacu jalur


Sumber Gambar: www.riau-global.com

Berbeda dengan tradisi di daerah lain Riau menyambut Ramadhan dengan tradisi yang mirip dengan pesta rakyat. Menjelang bulan puasa masyarakat Riau akan bersiap-siap untuk menggelar acara Jalur Pacu. Tradisi ini disambut dengan suka cita karena masyarakat akan beramai-ramai memenugi sungai untuk melihat perlombaan dayung yang disebut dengan Jalur Pacu. Perlombaan ini akan diakhiri dengan tardisi Balimau Kasai yang punya arti bersuci menjelang matahari terbenam sampai malam.


11. Nyorog


Sumber Gambar: www.inovasee.com
Jika masyarakat Sunda memiliki kebiasaan makan bersama jelang bulan puasa, orang Betawi punya tradisi yang agak berbeda. Tradisi Nyorog ini selalu dilakukan setiap memasuki bulan Ramadhan. Nyorog adalah kegiatan membagikan bingkisan ke anggota keluarga atau tetangga dalam rangka menyambut bulan  suci Ramadhan. Tradisi ini biasanya dilakukan orang yang lebih muda ke orang yang usiannya lebih tua. Tujuannya adalah untuk meminta restu kelancaran ibadah puasa selama satu bulan.


10. Meugang


Sumber Gambar: www.pegipegi.com
Masyarakat Aceh juga mempunya tradisi yang sama uniknya untuk menyambut bulan Ramadan. Tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama orang terkasih dan yatim piatu di Aceh ini bernama Meugang. Acara Meugang ini hampir mirip dengan Idul Adha dimana masyrakat beramai-ramai menyembelih kurban berupa kambing atau sapi. Meugang sampai sekarang masih terpelihara baik, biasanya di desa-desa sudah sibuk menyiapkan Meugang sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Sedangkan di kota Meugang dilaksanakan selama dua hari. Tradisi Meugang ini menjadi sebuah keharusan karena masyarakt Aceh percaya kebaikan dan keberkahan yang terjadi 11 bulan lalu wajib disyukuri dengan cara Meugang.



9. Dandangan


Gambar :www.pewartanusantara.com
Walaupun masih di tanah Jawa tradisi menjelang bulan puasa di tiap daerah pasti berbeda-beda. Di Kudus, Jawa Tengah tradisi Dandangan selalu mengisi acara menjelang bulan puasa. Tradisi Dandangan ini sudah ada sejak 400an tahun lalu yang dimulai dari zaman Sunan Kudus. Acara pesta rakyat ini selalu dihadiri oleh masyarakat Kudus dan sekitarnya. Sekarang Dandangan ini digelar dengan pasar malam yang menjual berbagai kebutuhan rumah tangga dan hiburan untuk rakyat di daerah ini.



8. Balimau


Gambar: www.harianjayapos.com 
Selain membuat lamang atau lemang, masyarakat Minangkabau juga menyambut bulan Ramadhan dengan Balimau. Tradisi mandi menggunakan jeruk nipis ini dilakukan oleh masyarakat yang tinggal di dekat aliran sungai atau tempat mandi. Balimau adalah tradisi secara turun menurun yang dipercaya sudah berlangsung berabad-abad lamanya. Tradisi mandi dengan jeruk nipis ini bertujuan untuk membersihkan diri secara lahir dan batin.



7. Perlon Unggahan


Gambar: blog.jelaja.com
Seperti kebanyakan muslim di Indonesia tradisi ziarah kubur pasti mewarnai perayaan jelang bulan suci Ramadan. Pelon Unggahan atau ziarah kubur yang dilakukan di Desa Pekuncen, Banyumas yang ada di Jawa Tengah ini dilakukan seminggu sebelum memasuki bulan Ramadan. Bedanya dengan ziarah umum pada umumnya adalah Pelon Unggahan diawali dengan ziarah kubur ke makam Bonokeling. Orang yang berziarah ke makam Bonokeling diharuskan melepas alas kaki sambil menjinjing nasi ambeng makanan khas Banyumas. Setelah melakukan ziarah warga Banyumas akan melakukan acara makan bersama-sama untuk menjaga tali silaturahmi.



6. Ziarah Kubro


Gambar: Tribun Sumsel - Tribunnews.com
Masyarakat Palembang biasanya melakukan ziarah ke makam-makan para leluhur dan juga ulama. Ziarah ke makam-makam para ulama ini disebut dengan Ziarah Kubro. Biasanya tradisi ini dilakukan di pemakaman Kawah Tengkurep 3 Illir, di sini para ulama-ulama besar Palembang dimakamkan.



5. Suro Baca


Gambar: http://3.bp.blogspot.com
Suro’baca tradisi jelang Ramadhan yang masih terpelihara di Makassar ini selalu dilakukan turun temurun di kalangan suku Bugis. Acara ini biasanya dilakukan pada akhir bulan Sya’ban atau H-7 sampai dengan satu hari menjelang bulan Ramadhan. Tradisi ini biasanya dilakukan diawal sebulan atau sepekan bahkan kadang satu hari sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Sebelumnya, masyarakat/keluarga yang berhajat menyelenggarakan acara ini, mempersiapkan aneka hidangan/masakan daerah hingga modern. Adapula aneka kue-kue tradisional yang disiapkan untuk hidangan penutup atau cuci mulut. Acara dihadiri oleh seluruh anggota keluarga, masyarakat sekitar dan lazimnya jamaah masjid setempat. Acara dimulai dengan doa bersama, yang dipimpin oleh Ustazd setempat/orang yang dituakan. Doa yang memohon kemudahan rezeki yang berkah. Doa untuk selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan ibadah puasa, doa keselamatan dunia dan akhirat untuk semua orang, dan doa untuk para leluhur yang telah meninggal dunia.



4. Megengan

Dalam tradisi Megengan, Puluhan masyarakat berebut gunungan kue apem saat festival apem di depan GOR Jombang, Festival apem serta arak-arakan gunungan apem yang diadakan setahun sekali tersebut dalam rangka menyambut bulan puasa (megengan) serta pembukaan Grebek Ramadhan. 


Gambar: cloud.shopback.com
Surabaya juga punya tradisi unik yang wajib dilakukan setiap menjelang bulan puasa. Tradisi Megengan ini masih dilakukan sampai sekarang. Megengan adalah kegiatan memakan kue apem sebagai bentuk menyucikan diri. Apem ini mirip dengan pelafalan kata ‘afwan’ dari Arab yang mempunyai arti maaf. Selain memakan kue apem warga juga melakukan tahlilan untuk mendoakan mendiang saudara yang terlebih dahulu pergi.



3. Nyadran

Sumber Gambar: www.gedangsari.com
Ziarah ke kuburan leluhur menjadi sebuah kegiatan wajib yang dilakukan oleh masyarakat Jawa. Begitu juga ziarah kubur jelang bulan puasa yang disebut dengan Nydaran. Tradisi Nyadran ini biasanya dilakukan oleh masyarakat Jawa Tengah. Nyadran adalah tradisi pemberisihan makam yang umumnya dilakukan di pedesaan. Selain membersihkan makan leluhur dan tabur bunga masyarakat Jawa Tengah juga melakukan selamatan atau kenduri di makam leluhur.



2. Munggahan


Sumber Gambar: cdn.nusantaranews.co
Tradisi munggahan biasanya dilakukan oleh keluarga dari tanah Sunda, tradisi menyambut bulan Ramadan ini selalu dilakukan setiap tahunnya. Masyarakat Sunda di Jawa Barat memanfaatkan momen seminggu atau dua minggu sebelum bulan puasa untuk berkumpul bersama orang-orang terkasih. Bukan hanya bersama keluarga munggahan ini juga bisa dilakukan dengan teman-teman dan rekan kerja. Di dalam munggahan biasanya ada satu momen untuk saling meminta maaf untuk mempersiapkan diri menuju bulan puasa yang suci.


1. Begarakan Saur

Tradisi Ramadhan, Begarakan saur, tradisi Puasa Indonesia, Adat budaya Indonesia
Sumber Gambar : hasanzainuddin.files.wordpress.com
Begarakan saur sudah menjadi tradisi sejak dulu di daerah Kalimantan Selatan khususnya Banjarmasin, kegiatan turun beramai-ramai saat subuh menjelang saur puasa Ramadhan dengan membawa berbagai alat tetabuhan atau alat musik lainnya untuk membangunkan orang saur, dilakukan masyarakat kalsel, hingga menjadi sebuah tradisi turun-temurun yang dilakukan hingga sekarang.

Demikialah tentang 16 tradisi unik dan menarik menyambut bulan suci Ramadan di Indonesia. Sangat menarik bukan, semoga ini dapat menambah wawasan dan pemahaman kita tentang indahnya Islam di Nusantara ini. Wassalam..

Cari Artikel