BUDAYA DAN TRADISI DAYAK NGAJU DI KALIMANTAN TENGAH

Indoborneonatural-----Suku Dayak Ngaju (Biaju) adalah suku asli di Kalimantan Tengah. Suku ngaju merupakan sub etnis dayak terbesar di Kalimantan tengah yang persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Kota Palangka Raya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas dan di kabupaten lainnya di seluruh wilayah kalimantan tengah dapat ditemui suku Ngaju. 

Gadis dayak ngaju menari
 Foto Gadis Dayak Ngaju. Gambar : kahanjakhuang.or.id

Suku Dayak Ngaju adalah suku asli dan subetnis Dayak terbesar di Kalimantan Tengah. Persebarannya cukup luas dan utamanya terkonsentrasi di daerah Palangkaraya, Kabupaten Pulang Pisau, Kabupaten Gunung Mas, Kabupaten Kapuas, Kabupaten Katingan, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Seruyan.

Ngaju berarti udik. Suku Ngaju kebanyakan mendiami daerah aliran sungai Kapuas, Kahayan, Rungan Manuhing, Barito dan Katingan bahkan ada pula yang mendiami daerah Kalimantan Selatan.

Orang Dayak Ngaju yang kita kenal sekarang, dalam literatur-literatur pada masa-masa awal disebut dengan Biaju. Terminologi Biaju dipakai untuk menyebut nama sekelompok masyarakat, sungai, wilayah dan pola hidup (Ras 1968: 336). Menurut Hikayat Banjar, Sungai Kahayan dan Kapuas sekarang ini disebut dengan nama sungai Biaju yaitu Batang Biaju Basar, dan Batang Biaju Kecil. Orang yang mendiaminya disebut Orang Biaju Besar dan Orang Biaju Kecil. Sedangkan sungai Murong (Kapuas-Murong) sekarang ini disebut dengan nama Batang Petak. Pulau Petak yang merupakan tempat tinggal orang Ngaju disebut Biaju.

Terminologi Biaju tidaklah berasal dari orang Dayak Ngaju tetapi berasal dari bahasa orang Bakumpai yang secara ontologis merupakan bentuk kolokial dari bi dan aju yang artinya ”dari hulu” atau ”dari udik”. Karena itu, di wilayah aliran sungai Barito, dimana banyak orang Bakumpai, orang Dayak Ngaju disebut dengan Biaju, yang artinya orang yang berdiam di dan dari bagian hulu sungai. Di kemudian hari, istilah ini dipungut begitu saja oleh orang Banjar untuk menyebut semua orang pedalaman hulu sungai yang tidak beragama Islam. 

Istilah ini kemudian diperkenalkan kepada para pedagang dari Cina, Inggris, Portugis yang berlabuh di pelabuhan Banjarmasin. Karena itu dalam catatan pelayaran para pedagang Cina, Portugis dan Inggris dapat ditemukan kata Biaju yang merujuk pada suku di pedalaman yang bukan orang Banjar dan tidak beragama Islam (Groeneveldt 1880, Beckman 1718).

Dilansir dari Pesona indonnesia.com,Konon, leluhur Dayak Ngaju diyakini berasal dari kerajaan yang terletak di lembah pegunungan Yunan bagian selatan, tepatnya di Tiongkok Barat Laut berbatasan dengan Vietnam. Mereka bermigrasi besar-besaran sekitar tahun 3.000 – 1.500 Sebelum Masehi. Kini Dayak Ngaju menjadi subetnis terbesar di Kalimantan Tengah. Di tengah perkembangan dunia modern, mereka masih menjaga nilai dan tradisi ajaran leluhur mereka.


Kepercayaan Kaharingan

Ciri khas Suku Dayak Ngaju adalah hingga sekarang masih menganut kepercayaan Kaharingan. Kaharingan mempunyai makna tumbuh atau hidup, sehingga kepercayaan Kaharingan adalah kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang hidup dan tumbuh secara turun temurun dan dihayati oleh masyarakat Dayak di Pulau Kalimantan.


Upacara Tiwah

Selain itu, Suku Dayak Ngaju juga melakukan upacara tiwah. Upacara ini merupakan sebuah proses mengantarkan arwah atau roh leluhur ke surga melalui Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, artinya sebuah tempat yang kekal dan abadi. Suku ini meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan.

Upacara tiwah, yaitu proses mengantarkan arwah (liau) sanak kerabat atau leluhur yang sudah meninggal ke surga atau Lewu Tatau Habaras Bulau Hagusung Intan Dia Rumpang Tulang, yaitu sebuah tempat yang kekal atau abadi. Orang Dayak Ngaju meyakini leluhur akan senang dan bahagia jika arwah mereka sudah diantarkan. Mereka juga meyakini bahwa sebelum dilaksanakan upacara tiwah, roh leluhur dianggap belum masuk surga.


Tradisi Tato

Sama halnya dengan suku-suku Dayak lainnya di Pulau Kalimantan, Suku Dayak Ngaju juga mempunyai tradisi bertato. Baik laki-laki maupun perempuan, masyarakat Dayak Ngaju menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya,

Tradisi bertato/tutang/cacah, orang Dayak terkenal dengan seni tatonya. Baik kaum laki-laki maupun perempuan, menato bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, seperti pergelangan tangan, punggung, perut atau leher. Bahkan terdapat orang yang menato seluruh tubuhnya (biasanya seorang pemimpin). Tato selain sebagai simbol status juga merupakan identitas. Mentato didasari oleh kayakinan bahwa kelak setelah meninggal dan sampai ke surga, tato itu akan bersinar kemilau dan berubah menjadi emas, sehingga dapat dikenali oleh leluhur mereka nanti di surga.


Pakaian Adat, Merah dan Burung Enggang

Pakaian adat Suku Dayak Ngaju juga mempunyai ciri khas tersendiri. Suku ini menggunakan pakaian adat yang menggunakan corak dan warna yang khusus, didominasi warna merah dan kuning. 


Burung Enggang Gading adalah burung yang sangat disakralkan dalam kepercayaan orang Dayak Ngaju. Burung ini dianggap sebagai burung indah dan dari gerak geriknya tercipta sebuah tarian, yang diyakini sebagai tarian leluhur mereka pada saat awal penciptaan. Maka dari itu hingga sekarang tarian burung Enggang masih ditampilkan dalam upacara adat Dayak Ngaju, sebagai penghormatan terhadap leluhur mereka.

Pengetahuan dan keyakinan mereka terhadap Pohon Batang Garing (pohon kehidupan) sebagai petunjuk memahami kehidupan. Pohon Batang Garing adalah pohon simbolis yang diciptakan berbarengan dengan diciptakannya leluhur Dayak Ngaju. Pohon ini dianggap menjadi pohon petunjuk untuk mengatur kehidupan yang harus diajarkan pada orang Dayak Ngaju kelak.


Hukum Adat dan Keselarasan Alam

Sejak dahulu hingga sekarang, orang Dayak Ngaju terkenal dengan hukum adat mereka. Terutama berkaitan dengan bagaimana mereka hidup berdampingan dengan alam atau hutan. Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati.

Orang Dayak Ngaju terkenal dengan kemampuan spiritualnya yang luar biasa. Salah satu kemampuan spiritual itu adalah apa yang mereka sebut Manajah Antang (burung Elang), yaitu memanggil burung Elang agar dapat memberi petunjuk untuk berperang atau ingin mengetahui keadaan seseorang. Mereka meyakini burung yang datang adalah suruhan leluhur mereka, dan mereka meyakini petunjuk apapun yang diberikan oleh burung Elang adalah benar.

Sejak dahulu hingga sekarang orang Dayak terkenal dengan hukum adat mereka, khususnya berkaitan dengan bagaimana cara mereka hidup berdampingan dengan alam (hutan). Hukum adat merupakan aturan yang telah digariskan oleh Ranying Hatalla dan diwariskan oleh leluhur mereka untuk ditaati. Orang Dayak Ngaju meyakini jika tidak melaksanakan hukum adat, maka leluhur mereka akan marah dengan mengirimkan berbagai bencana alam, seperti banjir dan kesulitan mencari makan.

RESEP NASI LIWET TRADISIONAL - NASI LIWET SOLO

Indoborneonatural---Nasi liwet adalah salah satu sajian nasi khas dari daerah di Indonesia, setiap daerah bahkan memiliki ciri khas nasi liwet masing-masing. Jika kita jalan jalan ke Solo Tawa Tengah, kita menginap lagi di penginapan dan hotel-hotel  di sana, sekaligus berwisata menikmati kuliner, hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Sangat nikmat sekali rasanya menyantap nasi Liwet saat siang dan perut lapar sambil duduk lesehan di warung-warung nasi Liwet Solo.

Nasi Liwet Solo/ Gambar foto: utiket.com

Saat ini banyak nasi liwet yang sudah dimodifikasi dengan tambahan bahan khusus sehingga menjadikan nasi liwet semakin nikmat. Resep nasi liwet pun ada banyak sekali macamnya, bisa dipilih sesuai selera dan ketersediaan bahan di rumah atau di pasar.

1. Resep Nasi Liwet Tradisional

Bahan Nasi Liwet Tradisional

Siapkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat nasi liwet tradisional terdiri dari bahan utama dan bahan bumbu nasi liwet.

Tidak sulit untuk mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat nasi liwet tradisional, berikut ini bahan-bahan yang dibutuhkan :
  • Bahan utama: Beras putih 1 liter dan air secukupnya
  • Bawang putih 7 siung
  • Serai 2 batang
  • Daun salam 6 lembar
  • Garam dan gula secukupnya
  • Mentega secukupnya
  • Pelengkap (Sambal, ikan asin, lalapan, kerupuk, tahu dan tempe)

Cara Membuat Nasi Liwet Tradisional

Setelah mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan, maka segera persiapkan peralatan untuk membuat nasi liwet tradisional paling enak. Ikuti langkah-langkah membuat nasi liwet tradisional yang telah teruji di bawah ini :
  • Pertama, cuci bersih beras yang telah dipersiapkan terlebih dahulu hingga bersih, lalu sisihkan.
  • Kedua, persiapkan bumbu-bumbu yang dibutuhkan seperti iris tipis bawang putih, memarkan serai, cuci bersih daun salam.
  • Ketiga, siapkan panci liwet (kastrol) dan masukkan beras yang sudah bersih ke dalam panci tersebut, lalu masukkan air hingga 2 ruas jari dari permukaan beras.
  • Keempat, Masukkan bumbu yang sudah dipersiapkan sebelumnya, tambahkan gula dan garam secukupnya, agar gurih bisa ditambahkan mentega.
  • Kelima, kukus beras yang sudah lengkap dengan bumbu di atas api kecil hingga air meresap, lalu aduk nasi hingga merata. Kemudian kukus kembali nasi hingga masak dengan durasi kurang lebih 30 menit.
  • Keenam, hidangkan nasi liwet dengan bahan pelengkap yaitu sambal, ikan asin, lalapan, tahu, tempe dan kerupuk.


Nasi Liwet : Foto Gambar etnis.id


2. Resep Nasi Liwet Solo

Resep Nasi Liwet

Versi asli nasi liwet sebenarnya berasal dari daerah Solo propinsi Jawa Tengah, dengan sajian khas yang menggoda selera.

Jika dilihat pelengkap nasi liwet Solo mirip dengan nasi uduk jika di Jakarta, nah agar tidak penasaran simak bahan dan cara membuatnya berikut :

Bahan Nasi Liwet Solo

Untuk membat nasi liwet Solo yang lengkap memang dibutuhkan bahan yang sedikit lebih banyak dibandingkan jenis liwet lainnya. Namun tidak perlu khawatir karena bahan yang dibutuhkan tidak sulit untuk didapatkan, seperti berikut ini :
  • Beras putih 450 gram
  • Daun salam 4 lembar
  • Serai 3 batang, ambil bagian putihnya
  • Garam ½ sdm
  • Santan 1.150 ml

Cara Membuat Nasi Liwet Solo

Setelah menyiapkan bahan untuk membuat nasi liwet, bisa dilanjutkan dengan membuatnya menjadi masakan nasi liwet. Di bawah ini adalah cara membuat nasi liwet Solo terenak yang bisa dilakukan di rumah :

Pertama, cuci bersih beras putih yang sudah disiapkan, kemudian letakkan ke dalam panci liwet. Kemudian rebus beras bersama serai, daun salam, garam dan santan hingga mendidih, aduk sesekali saja sampai beras matang dan pulen.
Kedua, setelah matang angkat dari atas kompor dan letakkan pada tempat saji. Mulailah menyiapkan hidangan pelengkap agar nasi liwet lengkap saat disajikan.

Nasi liwet Solo biasanya disajikan bersama dengan beberapa masakan pelengkap seperti ayam suwir, telur pindang, sayur labu siam, telur areh. Sajikan nasi liwet Solo dengan pelengkapnya agar nasi liwet semakin terasa lezat.

Memang untuk penyajian nasi liwet Solo berbeda dengan nasi liwet Sunda atau yang lainnya, karena pelengkapnya yang cukup banyak.

Demikian cara membuat Nasi Liwet tradisional dan nasi liwet khas Solo yang terkenal enak dan populer, semoga bermanfaat. Terimakasih sudah berkunjung di blog Indoborneonatural ini. Sukses selalu.

INILAH SURAT WASIAT YANG HILANG DARI SULTAN ADAM UNTUK PANGERAN HIDAYATULLAH

Indoborneonatural----Surat Wasiat Sultan Adam Untuk Pengeran Hidayatullah. Dari surat wasiat Raja Banjar ke-18, dari garis lurus Sultan Suriansyah (raja pertama), Sultan Adam Al Watsiq Billah bin Sultan Sulaiman al-Mutamidullah (1825-1857) mewasiatkan bahwa Pangeran Hidayatullah berhak duduk di takhta Kerajaan Banjar. Namun, Hindia Belanda mencampuri suksesi Kesultanan Banjar, hingga Pangeran Tamjidullah II diangkat sebagai Sultan Banjar dan memilih beribu negeri di Banjarmasin.

Padahal, berdasar surat wasiat Sultan Adam, justru Pangeran Hidayatullah yang sejatinya naik takhta menggantikan sang kakek. Dari suksesi yang diintervensi Hindia Belanda, memicu Perang Banjar dan melebar hingga ke kawasan Barito, Kalimantan Tengah dari 1859-1905. Sedangkan, versi dokumen Belanda hanya berkecamuk pada  1859-1863.

Nah, misteri surat wasiat Sultan Adam yang asli hingga kini belum diketahui keberadaan. Meski, beberapa sejarawan mencatat surat bertuliskan Arab Melayu itu disimpan rapi oleh keturunan sang sultan. Yang beredar di dunia maya dan buku-buku pun hanya sebuah salinan surat wasiat yang dibuat pada hari Isnain (Senin) tertanggal 12 Safar 1259 Hijriyah.

Dari sini, hak regalia Kesultanan Banjar sepenuhnya berada di genggaman Pangeran Hidayatullah sebagai penerus kerajaan yang dibangun Sultan Suriansyah di Tanah Kuin itu, hingga berpindah ke Kayutangi dan Martapura.

Lantas seperti apa bentuk asli surat wasiat Sultan Adam tersebut?  Publik tentu ingin mengetahuinya. Apalagi, kabarnya surat wasiat itu dibawa serta keluarga besar Pangeran Hidayatullah ketika dibuang Belanda di daerah pengasingan di Cianjur, Jawa Barat. Surat itu dijaga turun temurun keturunan Pangeran Hidayatullah agar tetap menjadi benda yang sakral dan bernilai sejarah yang tinggi.

Naskah Asli tersimpan baik oleh Ratu Yus Roostianah Keturunan garis ke-3 / cicit dari Pangeran Hidayatullah yang selanjutnya diteruskan nantinya kepada anak anak cucu penerus dan pewaris keturunan Pengeran Hidayatullah.



Surat di atas merupakan tulisan tangan dalam huruf arab berbahasa Melayu Banjar yang ditulis menyesuaikan dengan bahasa Banjar daerah Kalimantan Selatan jaman dahulu.

Terjemahan dari tulisan surat tersebut adalah sebagai berikut :

Bismillahirrahmannirrohim

Asyhadualla ilaha ilalloh naik saksi aku tiada Tuhan lain yang di sembah dengan se-benar2nya hanya Allah

Wa asyhaduanna Muhammadarasululloh naik saksi aku Nabi Muhammad itu se-benar2nya pesuruh Allah Ta’ala

Dan kemudian dari pada itu aku menyaksikan kepada dua orang baik2 yang memegang hukum agama Islam yang pertama Mufti Haji Jamaludin yang kedua pengulu Haji Mahmut serta aku adalah didalam tetap ibadahku dan sempurna ingatanku.

Maka adalah aku memberi kepada cucuku Andarun bernama Pangeran Hidayatullah suatu desa namanya Riyam Kanan maka adalah perwatasan tersebut dibawah ini ;

Mulai di Muha Bincau terus di Teluk Sanggar dan Pamandian Walanda dan Jawa dan terus di Gunung Rungging terus di Gunung Kupang terus di Gunung Rundan dan terus di Kepalamandin dan Padang Basar terus di Pasiraman Gunung Pamaton terus di Gunung Damar terus di Junggur dari Junggur terus di Kala’an terus di Gunung Hakung dari Hakung terus di Gunung Baratus, itulah perwatasan yang didarat.

Adapun perwatasan yang di pinggir sungai besar maka adalah yang tersebut dibawah ini;

Mulai di Teluk Simarak terus diseberang Pakan Jati terus seberang Lok Tunggul terus Seberang Danau Salak naik kedaratnya Batu Tiris terus Abirau terus di Padang Kancur dan Mandiwarah menyebelah Gunung Tunggul Buta terus kepada pahalatan Riyam Kanan dan Riyam Kiwa dan Pahalatan Riyam Kanan dengan tamunih yaitu Kusan.

Kemudian aku memberi Keris namanya Abu Gagang kepada cucuku.

Kemudian lagi aku memberi pula suatu desa namanya Margasari dan Muhara Marampiyau dan terus di Pabaungan kaulunya Muhara Papandayan terus kepada desa Batang Kulur dan desa Balimau dan desa Rantau dan desa Banua Padang terus kaulunya Banua Tapin.

Demikianlah yang berikan kepada cucuku adanya.

Syahdan maka adalah pemberianku yang tersebut didalam ini surat kepada cucuku andarun Hidayatullah hingga turun temurun anak cucunya cucuku andarun Hidayatullah serta barang siapa ada yang maharu biru maka yaitu aku tiada ridho dunia akhirat.

Kemudian aku memberi tahu kepada sekalian anak cucuku dan sekalian Raja-raja yang lain dan sekalian hamba rakyatku semuanya mesti me-Rajakan kepada cucuku andarun Hidayatullah ini buat ganti anakku Abdur Rahman adanya.

Tertulis kepada hari Isnain tanggal 12 bulan Shofar 1259.


Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Banjar 
http://jejakrekam.com/2017/11/12/surat-wasiat-sultan-adam-dan-regalia-kesultanan-banjar/
https://banjarmasin.tribunnews.com/2019/10/14/sejarah-kabupaten-banjar-diawali-perjanjian-perbatasan-antara-sultan-adam-dengan-pemerintah-belanda
https://kerajaanbanjar.wordpress.com/2008/02/13/surat-wasiat-sultan-adam-untuk-pangeran-hidayatullah/ 

KISAH PERJALANAN GUNUNG KEMUKUS. WISATA, ZIARAH DAN RITUAL KHUSUS

Indoborneonatural----Berdasarkan cerita dari pengalaman beberapa orang yang pernah datang ke Gunung Kemukus, baik yang sekedar untuk wisata dan rekreasi, ataupun untuk melakukan ziarah dengan ritual tertentu. Banyak kisah-kisah menarik yang ditemukan dari kegiatan wisata dan ritual khusus gunung kemukus ini.

Tentang Gunung Kemukus ini, di ceritakan bahwa di Jawa Tengah tidak jauh dari Solo, ada tempat wisata sekaligus tempat ziarah yang bisa melakukan ritual khusus untuk pasangan yang datang kesana. Ziarah dilakukan untuk mengunjungi Makam Pengeran Samudro di yang ada di gunung kemungkus Solo tersebut. 




Pengeran Samudro adalah salah satu putra dari kerajaan Majapahit terakhir ketika tahun 1400 'an sekitar 600 atau 700 tahun yang lalu. Pangeran Samudro adalah raja yang menjadi salah satu Penyebar Agama Islam di Tanah Jawa. Beliau belajar agama ke daerah Demak tepatnya sekitar Grobokan Demak tempat Sunan KaliJaga waktu itu.

Banyak perempuan, baik ibu-ibu dan perempuan muda yang datang berziarah kesana mancari pasangan laki-laki untuk melengkapi tujuan dan niat ziarah mereka yang bermacam-macam, seperti ingin usahanya maju atau dapat jodoh.

Jika ingin melakukan Perjalanan traveling, menurut beberapa informasi yang sudah melakukannya, dapat dilakukan perjalanan ke Solo dengan penerbangan murah dari Jakarta, tarif murah biasanya ada di hari Rabu, kalau hari Sabtu dan Minggu sedikit lebih mahal dan antrian tiket pun kadang bisa penuh.

Jika sudah sampai di Solo kita bisa mencari penginapan yang murah di sekitar stasiun Solo, di sana kita bisa temukan banyak hotel yang harganya miring dan cukup bersih dan bagus.

Kegiatan ritual di gunung Kemungkus yang banyak dilakukan adalah Hari Kamis menjelang Jum'at Pon. Jika dari Solo kita akan berangkat dari Terminal Tirtonadi di Solo, dengan menumpang kendaraan umum jurusan Purwodadi bersama-sama penumpang yang mungkin juga akan ziarah ke Gunung Kemukus. 

Setelah kurang lebih 30 Menit perjalanan Angkutan umum akan sampai di pemberhentian Barong, biasa Supir atau abang kondiktur akan berteriak "Kemungkus-kemungkus". Di luar sudah banyak terlihat orang-orang dan tukang ojek yang sudah menunggu berebut menawarkan jasa ojek.



Jika kita datang berwisata ke gunung Kemungkus saat musim hujan dan air waduk Kedung Ombo sedang naik, kita harus menyewa ojek yang dapat mengantar kita sampai ke pinggir dermaga penyebrangan, dari dermaga kita harus menyewa perahu penyebrangan untuk mencapai gunung Kemungkus.

Sesampainya di gerbang kita akan ditawari kembang dan berbagai pernak-pernik untuk ziarah, selanjutnya kita akan menaiki tangga yang lumayan tinggi dan banyak yang berjumlah 157 anak tangga. Diatas para peziarah akan disambut oleh juru kunci yang akan menerima penjelasan dan maksud niat berziarah ke sana.


Kita akan masuk dan mengitari  tempat ziarah, dan Makam Pengeran Samudro berada di bawah semacam bangunan Joglo yang dibuat cukup luas, hingga mampu menampung para peziarah yang banyak. Makam Makam Pengeran Samudro di pasangi dan dikerudungi kelambu, kita akan merasakan suasana sakral dan mistis dan akan terasa lebih dalam saat malam hari di sekitar makam itu. Para peziarah akan menabur kembang dan duduk disekitar makam untuk berdoa dan menyampaikan niatnya.

Setelah selesai menuntaskan ritual berdoa, para peziarah pergi dari Makam Pengeran Samudro untuk melanjutkan kegiatan ritual lainnya, seperti "tiduran" di semak-semak dan menuju Sendang Ontrowulan tempat penampungan air pegunungan. Di sana para peziarah bisa sekedar membasuh muka, tangan dan kaki. Ada kepercayaan bahwa air sendang itu membuat orang awet muda dan cantik. Ada juga perziarah yang membawa air tersebut untuk oleh-oleh sebagai berbagai keperluan.

Semua kegiatan wisata, ziarah dan ritual sudah selesai dilakukan. Kita bisa pulang kembali ke Solo. Di Solo sebagian wisatawan tidak langsung pulang, tetapi menginap lagi di penginapan dan hotel-hotel  di sana, sekaligus berwisata menikmati kuliner, hidangan dini hari di Solo yang populer adalah nasi liwet. Sangat nikmat sekali rasanya menyantap nasi Liwet saat siang dan perut lapar sambil duduk lesehan di warung-warung nasi Liwet Solo.

Nasi Liwet /Gambar Foto: etnis.id

Besok sore kita sudah bisa pulang langsung menuju bandara, tetapi disarankan untuk jalan-jalan dulu ke Purworejo dengan menggunakan kereta Pramex (Prambanan Expres), menikmati suasana kota tersebut.

Demikianlah Artikel singkat untuk sekedar berbagi pengalaman tentang perjalan wisata, ziarah dan ritual ke Gunung Kemukus di Solo Jawa Tengah. Semoga bermanfaat, terimakasih.

KISAH MALIN KUNDANG (Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)

KISAH MALIN KUNDANG 
(Cerita Rakyat Kota Padang Sumatera Barat)



Dikisahkan pada zaman dahulu disebuah kampung hiduplah seorang wanita janda bersama seorang anaknya yang bernama Malin Kundang. Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu hingga jatuh dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas di lengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat hidup enak dan menjadi kaya raya setelah kembali kekampungnya kelak.

Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau, tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar. Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Dingah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang diserang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagia besar awak kapal dan orang yang berada di kapat tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingg tidak terlihat dan tidak dibunuh oleh bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung di tengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampat di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tampat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihan dalam bekerja, Malin lama-kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberalama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ibu Malin yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang berserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat bekas luka di lengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirim kabar?" katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia sendiri mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya, jika ibunya adalah seorang yang sangat miskin. Maka Malin memperlakukan ibunya seolah-olah dia  tidak mengenalnya.

Mendapatkan perlakuan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Krena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya,  "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu."

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di Selatan Kota Padang, Sumatera Barat.

Sekian -  Terimakasih

BANJARMASIN SASIRANGAN FESTIVAL (BSF) 2019

Indoborneonatural----Hajatan tahunan Kegiatan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2019 yang dibuka secara resmi oleh Ketua Dekranasda Kota Banjarmasin Hj. Siti Wasilah yang juga merupakan Ibu Walikota Banjarmasin. Kegiatan BSF yang diagendakan berbagai rangkaian kegiatan belangsung dari tanggal 6 Maret hingga tanggal 10 Maret 2019 ini berlokasi di Siring Menara Pandang Sungai Martapura.


Banjarmasin, Festival Budaya Banjar, Sasirangan, Pesta Budaya Banjar, Agenda Banjarmasin

Kegiatan yang diikuti dan melibatkan banyak unsur dari berbagai kalangan ini, terlihat sangat meriah, dengan hadirnya stand-stand expo Sasirangan dari berbagai kabupaten dan Kota Se Kalimantan Selatan. Selain itu, juga diikut peserta dari Kota-kota besar di Indonesia seperti; Kutai Kerta Negara, Lampung, Banten, Mojokerto, Banyuwangi, dan Kota Malang.

Kegiatan pembukaan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF) 2019 juga dilakukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel H. Haris Makkie, yang kemudian puncak acara dimeriahkan oleh Artis ibu Kota Cakra Khan yang tampil memukau penggemarnya di Banjarmasin. Cakra Khan tampil menyanyikan beberapa buah laku, mulai dari atas panggung yang terbuat dari kapal tongkang  hingga ketengah sungai untuk menyapa para fansnya.

Rankaian kegiatan juga dimeriahkan dengan pameran, senam  bersama sasirangan, Fasion Show dan Karnaval sasirangan, yang diikuti berbagai unsur dengan melakukan perjalanan mulai dari kantor Pemko Banjarmasin, menuju Siring Menara Pandang sungai Martapura di jalan Pierre Tendean Banjarmasin.

Berikut beberapa foto-foto dalam rangka kegiatan Banjarmasin Sasirangan Festival (BSF)  2019 yang penulis kumpulkan dari berbagai sumber website dan media sosial;






















INILAH 9 TOP TARIAN TRADISIONAL PAPUA YANG MENDUNIA

Indoborneonatural ---- Papua Barat adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat Pulau Papua. Wilayah Papua Barat mencakup Semenanjung Domberai, Bomberai, Wandamen, serta Kepulauan Raja Ampat. Ibukota provinsi ini terletak di Manokwari dengan kota terbesarnya di Sorong.Papua Barat dengan ibukotanya ibukota Manokwari merupakan salah satu provinsi di Indonesia, nusantara. Papua Barat yang dulu dikenal dengan Irian Jaya ini memiliki banyak potensi mulai dari hasil hutan, pariwisata, pertambangan, pertanian, rumput laut sampai hasil tenun khas dari kabupaten Sorong Selatan yaitu kain timor. Papua terkenal bukan hanya bisa menghasilkan berbagai kekayaan alam serta sektor pariwisata yang beragam, namun Papua Barat juga menyimpan sejuta pesona kebudayaan tradisional, salah satunya seni budaya tarian tradisonal khas Papua seperti yang admint indoborneonatural uraikan berikut ini:


1. Tarian Sajojo

Tarian Tradisional Provinsi Papua-Sajojo

Tarian sajojo sering dijadikan penampilan diberbagai acara, baik acara adat, budaya, maupun sekedar hiburan saja. Bahkan tarian lagu Sajojo ini sering dijadikan bagian dari even lomba hingga  tingkat nasional. Sajojo sangat terkenal di Papua, Indonesia bahkan sudah sampai ke mancanegara karena sering dibawakan untuk promosi pariwisata nusantara dan kenegaraan.

“Sajojo” adalah lagu yang menceritan tentang sebuah kisah perempuan cantik dari desa. Perempuan yang dicintai ayah dan ibu berikut para laki-laki desa. Perempuan yang didamba laki- laki untuk bisa berjalan-jalan bersamanya. Meskipun gerakan tari ini tidak terlalu menggambarkan lirik lagu tersebut, namun iramanya yang penuh keceriaan dalam lagu tersebut sangat cocok dengan gerakan Tari Sajojo yaitu dengan meloncat, bergerak ke depan, ke belakang, ke kiri maupun ke kanan dengan ritme dan ketegasan gerak yang tentunya setiap penari mengupayakan kesamaan gerak dengan penari lainnya supaya terlihat kompak.

Kostum untuk kesenian Sajojo biasanya merupakan busana tradisional yang terbuat dari akar atau daun. Namun, seiring dengan adanya perkembangan, ada juga yang mengkreasikan kostum ini dengan kain agar terlihat lebih menarik. Selain itu, penari juga dilengkapi dengan berbagai aksesoris seperti penutup kepala, kalung dan lukisan tubuh bercorak etnis khas Papua. Dalam perkembangannya, Lagu ini merupakan lagu daerah Papua yang juga digunakan untuk mengiringi senam di tanah Papua bahkan di seluruh tanah air Indonesia.


2. Tarian Wutukala

Tarian Tradisional Provinsi Papua Wutukala

Tari wutukala adalah tarian adat Papua Barat lebih tepatnya Suku Moy. Tarian ini menceritakan tentang kebiasaan masyarakat mencari ikan yang dilakukan berpasangan atau berkelompok baik penari pria dan wanita. Tarian ini sangat populer khususnya area pesisir Sorong tempat Suku Moy Tinggal.

Tarian Papua Barat ini dilakukan 5 hingga 6 pasang penari pria dan wanita dengan menggunakan pakaian adat dan atribut seperti tombak untuk pria dan noken untuk penari wanita dan gerakannya terlihat khas. Sedangkan alat musik pengiring yang digunakan adalah ukulele, gitar, bass dan juga alat musik lainnya. Untuk kostum, penari pria akan menggunakan bawahan seperti rok terbuat dari akar dan daun di area pinggang serta penutup kepala terbuat dari bulu burung Cendrawasih dan tubuh yang akan diwarnai dengan lukisan etnik warna hitam putih. Sementara untuk penari wanita memakai busana yang hampir serupa dengan pria namun disesuaikan.


3. Tarian Suanggi

Tarian tradisional provinsi Papua Suanggi

Tarian tradisional Papua Barat ini bercerita tentang seorang suami yang ditinggal sang istri sebagai korban angi angi. Dalam kepercayaan magis masyarakat Papua Barat, suanggi adalah roh jahat atau kapes karena belum ditembus dan belum menemukan kenyamanan di alam baka. Roh tersebut bisa masuk ke tubuh wanita dan wanita yang meninggal ketika melahirkan dikhawatirkan akan menjelma menjadi kaper fane yang dalam masyarakat Aifat disebut dengan kaper mapo.

Roh tersebut akan masuk ke tubuh perempuan yang masih hidup dan secara magis bisa mencelakakan wanita tersebut. Sedangkan perempuan yang dirasuki roh tersebut disebut dengan perempuan suanggi. Dahulu dikatakan jika roh tersebut bisa digunakan untuk mencelakai seseorang. Jika mereka melihat seseorang makan di sekitar tempat tinggal mereka dan membuang sisa makanan sembarangan, maka sisa makanan tersebut akan menjadi alat untuk merasuki orang tersebut sehingga jatuh sakit, kurus dan akhirnya mati.



4. Tari Perang

Tarian tradisonal provinsi Papua Tarian Perang

Tari perang adalah tarian dari Papua Barat yang merupakan tarian melambangkan kegagahan dan kepahlawanan masyarakat Papua Barat. Tarian biasanya dilakukan masyarakat pegunungan ketika kepala suku mereka memberi perintah untuk berperang. Tarian ini termasuk dalam tarian grup atau tarian kolosal yang penarinya sendiri tidak dibatasi. Tarian Papua Barat ini umumnya akan diiringi dengan tifa dan alat musik lain. Namun yang membedakan tarian ini dengan tarian Papua Barat lainnya adalah karena tarian ini diiringi dengan lagu perang untuk membangkitkan semangat. Para penari akan memakai busana tradisional berupa rok dari akar dan manik manik untuk penghias dada serta daun disisipkan di bagian tubuh.



5. Tarian Tumbu Tana

Tarian Tradisional provinsi Papua Tumbu Tana

Tari tumbu tana adalah tarian tradisional Papua Barat yang sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 3 jenis tari tumbu tana yang dikenal masyarakat Arfak, Papua Barat yaitu tumbu tana kemenangan berperang, tumbu tana mencari jodoh dan tumbu tana menyambut tamu. Tarian akan diiringi dengan lagu atau syair nihet duwei, diun dan isiap dengan gerakan melompat sambil menghentakan  kaki ke tanah dan bergandengan tangan. Untuk formasi yang digunakan ketika menari adalah memanjang, setengah lingkaran dan lingkaran penuh.

Tari Tumbu Tanah biasanya dilakukan untuk menyambut acara-acara penting, yaitu penyambutan tamu dari luar lingkungan masyarakat Arfak, kemenangan perang, dan perayaan pesta pernikahan. Tari Tumbu Tanah merupakan jati diri masyarakat Arfak karena semua gerakan, formasi, lagu pengiring, alat musik, serta aksesoris dalam tari Tumbu Tanah merupakan ciri khas masyarakat Arfak yang membedakannya dengan tarian suku-suku lain di daerah Papua.


Tarian Musnok

Tari musnok menjadi salah satu dari macam-macam jenis tarian Papua Barat khususnya masyarakat Pegunungan Arfak Irian Jaya. Tarian ini bercerita tentang penyebaran agama Nasrani di Kota Sorong, Papua Barat yang akan diiringi dengan banyak alat musik tradisional seperti suling bambu, okulele, tifa, triton, tempurung kelapa dan juga upsal. Jumlah penari dalam tarian ini juga sangat banyak yakni 20 hingga 50 orang baik pria dan juga wanita yang bersama menarikan tarian Musnok dengan irama yang energik dan cepat khas Papua.



Tari Ris atau Sifieris


Tari ris atau sifieris adalah tarian Papua Barat yang berartikan dansa adat. Tarian ini dilakukan sebagai bagian dari upacara adat dan diiringi dengan alat musik seperti tifa atau pondatu serta gong atau mawin dengan syair nyanyian yang disesuaikan dengan makna upacara yang sedang diselenggarakan.



Tari Balengan

Tarian tradisional provinsi Papua Balengan

Tari balengan merupakan tarian daerah Papua Barat yang masuk dalam jenis tari pergaulan oleh muda mudi serta anak dan remaja kampung secara berpasangan. Tarian ini akan dilakukan memakai tempo sedang sampai cepat tergantung dari lagu yang mengiringi. Sedangkan alat musik yang digunakan adalah gitar bolong, gitar kecil bernama juglele, gitar bass besar dan alat musik tabuh atau tifa.



Tari Magasa

Tarian tradisional provinsi Papua Magasa

Tari magasa merupakan tarian dari Papua Barat yang dilakukan ketika menyambut tamu, perkawinan dan acara penting lain. Tarian akan dilakukan secara berkelompok tanpa batasan umur. Tarian Papua Barat ini bercerita tentang suku Arfak yang merayakan kemenangan sekaligus menggambarkan kerukunan masyarakat Arfak dalam kehidupan sehari hari.

Ketika ditampilkan, para penari akan membentuk barisan panjang seperti ular sehingga juga sering disebut dengan tari ular. Tarian ini biasanya dilakukan 5 pasang muda mudi pria dan wanita dimana penari pria akan mengenakan cawat kain, telanjang dada serta penutup kepala yang terbuat dari bulu burung kasuari atau cendrawasih. Sementara penari wanita akan memakai seperti kain sarung yang menutupi tubuh dari dada hingga betis serta beberapa aksesoris seperti daun pohon sagu dan bunga di bagian rambut.

Gerakan dalam tarian Papua Barat ini didominasi dengan gerakan melompat ke arah samping secara bersama sama serta dalam satu arah Hal menarik dari tarian ini adalah formasi dalam menari yang bisa berubah dan bervariasi tanpa terputus atau terhenti. Beberapa formasi yang biasanya dipertunjukkan dalam tarian ini adalah melingkar, melengkung dan juga lurus sehingga jika dilihat serupa dengan gerakan binatang ular.

Tari magasa sendiri masih terus dijaga dan dilestarikan hingga sekarang oleh masyarakat dan sering ditampilkan dalam acara hiburan atau perayaan tertentu. Selain itu, tari magasa juga sering ditampilkan dalam acara kebudayaan seperti festival budaya, promosi wisata serta pertunjukkan seni.

Demikian 9 Top Tarian tradisional Papua yang mendunia, yang banyak disukai oleh wisatawan manca negara, semoga bermanfaat. terimakasih sudah berkunjung kembali di blog indoborneonatural ini, semoga tetap sehat dan sukses selalu.

KEBUDAYAAN MINANGKABAU YANG UNIK DAN MENARIK SEPANJANG MASA

Indoborneonatural----Seperti kita ketahui bersama, Indonesia adalah negara dengan aneka ragam suku bangsa. Nusantara ini kaya dengan berbagai ragam seni dan budaya dari berbagai suku-bangsa yang tersebar diseluruh tanah air. Kebudayaan ini banyak yang unik dan menarik untuk kita lihat dan pelajari, salah satunya adalah kebudayaan Minangkabau yang sudah terkenal hingga kemanca negara. Berikut inilah ulasan tentang kebudayaan Minangkabau tersebut :

Pengertian

Minangkabau atau disingkat Minang (bahasa Melayu: Minang atau Minangkabau; Jawi: ميناڠكاباو) merujuk pada entitas kultural dan geografis yang ditandai dengan penggunaan bahasa, adat yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, dan identitas agama Islam. Secara geografis, Minangkabau meliputi daratan Sumatra Barat, separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pantai barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan di Malaysia.[3] Dalam percakapan awam, orang Minang sering kali disamakan sebagai orang Padang. Hal ini merujuk pada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat, yaitu Kota Padang. Namun, mereka biasanya akan menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak yang dimaksudkan sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Minangkabau atau biasa disingkat Minang adalah kelompok etnis asli Nusantara yang wilayah persebaran kebudayaannya meliputi kawasan yang kini masuk ke dalam provinsi Sumatra Barat (kecuali Kepulauan Mentawai), separuh daratan Riau, bagian utara Bengkulu, bagian barat Jambi, pesisir barat Sumatra Utara, barat daya Aceh, dan Negeri Sembilan, Malaysia. Dalam percakapan awam, orang Minang seringkali disamakan sebagai orang Padang, merujuk kepada nama ibu kota provinsi Sumatra Barat yaitu Padang. Akan tetapi, masyarakat ini biasanya menyebut kelompoknya dengan sebutan urang awak, yang bermaksud sama dengan orang Minang itu sendiri. (Sumber: id.wikipedia.org).

Menurut A.A. Navis, Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki serta menganut sistem adat yang khas. Masyarakat ini telah menerapkan sistem proto-demokrasi sejak masa pra-Hindu dengan tradisi musyawarah dan adanya kerapatan adat untuk menentukan permasalahan hukum ataupun hal-hal penting lainnya. Prinsip adat Minangkabau tertuang singkat dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (Adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur'an), yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam. Saat ini masyarakat Minang merupakan masyarakat penganut matrilineal terbesar di dunia walaupun budayanya sendiri sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam. (Sumber: id.wikipedia.org).

Bagi masyarakat Indonesia ikon suku Minang yang populer adalah jam Gadang, rumah Gadang, atau masakan Minang yang lebih biasa disebut sebagai masakan Padang. Selain hal-hal yang sudah populer tersebut, ternyata suku Minang masih menyimpan banyak hal yang tidak kalah unik dan menarik. Kebudayaan suku Minangkabau memiliki ciri khas yang tidak kalah menarik bila dibandingkan dengan kebudayaan Nanggroe Aceh, kebudayaan Batak atau suku lain yang ada di pulau Sumatera.

Gambar/Foto: Harianhaluan.com

Meskipun demikian, tradisi dan kebudayaan Suku Minangkabau yang berkembang hari ini merupakan hasil dari sebuah revolusi budaya. Revolusi budaya pada masyarakat suku Minang terjadi pasca terjadinya perang Padri pada tahun 1837. Pada awal mulanya, masyarakat Minang menganut kebudayaan yang bercorak animisme dan dinamisme. Namun, semenjak para pedagang dari Timur Tengah mulai memasuki wilayah Sumatera, sejak saat itu budaya Minang banyak dipengaruhi oleh nilai Islam. Puncaknya, pada abad 19 setelah perang Padri berakhir dibuatlah sebuah adagium adat yang akhirnya merombak keseluruhan tradisi suku Minang. 

Filosofis Adat

Sejarah adagium atau kesepakatan perjanjian di buat di Bukit Marapalam yang menghadirkan para alim ulama, tokoh adat tradisional serta para cerdik pandai (cendekiawan). Mereka membangun kesepakatan bahwa semenjak saat itu maka adat budaya Minang didasarkan pada syariat Islam. Isi kesepakatan dituangkan dalam kalimat kesepakatan yang berbunyi “Adat basandi syarak (adat bersendi syariat), syarak basandi kitabullah (syariat bersendi kitab Allah). Syarak mangato adat mamakai (syariat melandasi adat)” .Maknanya bahwa adat Minang bersendikan syariat, dan syariat bersendikan kitab Al Quran. Maka sejak saat itu pondasi budaya Minang dibangun diatas pilar agama Islam.

Namun, jauh ke belakang sebelum terjadinya puncak kesepakatan tersebut, suku Minang mengalami beberapa fase perombakan pondasi adat, yaitu :
  1. Adat basandi alua jo patuik dan syarak basandi dalil. Pada fase ini masyarakat Minang menjalankan adat dan syariat secara berbeda. Adat dan syariat memiliki rel-nya masing-masing tanpa saling mengganggu. Agama bagi masyarakat Minang hanya sekadar ibadah saja, sedangkan dalam sistem sosial mereka menggunakan adat tradisional.
  2. Adat basandi syarak dan syarak basandi adat. Pada fase ini masyarakat Minang mulai mengintegrasikan dan menyandingkan antara adat dan syariat. Dalam penataan sistem sosial, syariat agama mulai dijadikan salah satu sumber membangun aturan dan syariat tidak lagi hanya sekadar ibadah saja.
  3. Adat basandi syarak dan syarak basandi Kitabullah, syarak mangato adat mamakai. Ini adalah puncak pengintegrasian syariat Islam dengan nilai adat. Hal ini sebagaimana kesepakatan yang dilakukan di Bukit Marapalam. Dengan ini, adat Minang melebur pada syariat Islam.


Adat Matrilineal

Meskipun sudah menjadikan Islam sebagai landasan adat. Namun adat matrilineal masih sangat dipegang teguh oleh suku Minang. Adat matrilineal ini menyandarkan segala garis keturunan pada ibu (pihak perempuan). Hal ini tentu berbeda dengan Islam yang lebih menyandarkan garis keturunannya pada sang ayah (pihak laki-laki). Akibat dari adat matrilinel ini sistem pewarisan dan pengaturan kerumahtanggaan pun juga kemudian lebih berat pada sisi perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa konsekuensi dari budaya matrilineal ini pada masyarakat dan suku Minangkabau diantaranya :
  1. Keturunan didasarkan pada garis keturunan ibu, sehingga seorang anak akan dimasukkan kedalam suku yang sama dengan suku ibunya berasal
  2. Seorang laki-laki Minang tidak dapat mewarisi sukunya, sehingga bila terdapat suku yang tidak memiliki anak perempuan dalam sukunya maka suku tersebut sudah dianggap sama dengan punah.
  3. Setiap orang harus menikah dengan orang diluar sukunya, bila tidak maka ia akan dikenai sanksi dengan dikucilkan.
  4. Perempuan merupakan pemegang seluruh kekayaan keluarga dan seluruh harta pusaka keluarga, namun dalam hal penentuan keputusan, laki-laki masih memiliki hak mengambil putusan.
  5. Dalam hal perkawinan menganut sistem matrilokal yakni suami mengunjungi rumah istrinya
  6. Hak-hak pusaka diwariskan kepada anak perempuan.


Budaya Merantau

Merantau merupakan kebiasaan yang selalu dijalankan oleh laki-laki dari suku Minang. Kebudayaan suku Minangkabau untuk merantau adalah akibat dari adanya adat matrilineal, maka pada dasarnya laki-laki suku Minang tidak memiliki modal harta sama sekali. Oleh sebab itu, kebanyakan laki-laki Minang ketika sudah dewasa selalu pergi dari kampungnya untuk pergi merantau. Tujuannya adalah untuk bekerja dan mencari harta kekayaan.

Merantau juga merupakan bagian konsekuensi dari tuntutan laki-laki Minang untuk mencari pasangan yang diluar dari sukunya. Dengan merantau ini maka laki-laki Minang bisa berpotensi untuk mengenal perempuan dari suku lain. Pada awal mulanya makna merantau sendiri adalah pergi keluar dari suku dan bergaul sosial dengan suku lain yang masih dalam etnis Minang. Namun dalam perkembangannya merantau kemudian menjadi kebiasaan untuk keluar dari tanah kelahiran dan bermata pencaharian di tanah lain.

Oleh sebab itu, bila kita melihat pada kehidupan hari ini, banyak sekali orang-orang Minang yang mendiami kota-kota besar di tanah Jawa. Biasanya mereka membuka berbagai macam bentuk usaha sebagai mata pencaharian. Dan usaha yang paling banyak biasanya adalah dengan membuka restaurant atau rumah makan Padang.

Pelajari juga kebudayaan suku di daerah lain pada artikel : Kebudayaan Lampung, Kebudayaan Sumatera Selatan, Kebudayaan Papua, Kebudayaan Nusa Tenggara Timur.


Adat Pernikahan

Dalam melangsungkan pernikahan, orang suku Minang harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu :
  1. Kedua calon harus sama-sama beragama Islam
  2. Kedua calon tidak berasal dari suku yang sama
  3. Kedua calon dapat saling menghormati dan menghargai orang tua dan keluarga besar kedua belah pihak
  4. Calon suami telah memiliki sumber penghasilan untuk menghidupi keluarga.

Setelah itu, bila semua syarat sudah terpenuhi maka terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh suku Minang, diantaranya :

Maresek

Pada tahap ini pihak keluarga wanita akan mendatangi pihak keluarga pria dengan membawa sejumlah buah tangan. Tujuan dari Maresek adalah pihak keluarga wanita akan mencari tahu kecocokan calon mempelai pria dengan calon mempelai wanita.


Maminang/ Batimbang Tando

Pada tahap ini keluarga wanita akan mendatangi calon keluarga pria untuk meminang. Bila dalam proses peminangan ini pihak pria menerima, maka akan diteruskan dengan tahap Batimbang Tando sebagai simbol perjanjian dan kesepakatan antar kedua belah pihak. Kedua keluarga akan saling menukarkan benda-benda pusaka yang dimilikinya, seperti keris, kain adat atau barang-barang lain yang dianggap berharga oleh keluarga.


Mahanta Siriah

Calon mempelai pria dan calon mempelai wanita akan mengabarkan kabar pernikahan kepada para mamak (sebutan untuk laki-laki tertua dalam keluarga) dan seluruh kerabat keluarga. Proses mahanta Siriah ini biasanya dilakukan dengan tradisi membawa tembakau untuk calon mempelai pria dan sementara untuk calon mempelai wanita dengan membawa sirih lengkap. Biasanya keluarga yang didatangi akan ikut membantu pembiayaan pernikahan.


Babako-babaki

Bako adalah sebutan bagi pihak keluarga ayah dari calon mempelai wanita. Tradisi ini biasa dilangsungkan beberapa hari sebelum akad nikah. Calon mempelai wanita akan dijemput oleh keluarga ayah dan dibawa kerumah. Kemudian para tetua dan sesepuh akan memberikan nasihat. Keesokan harinya, calon wanita akan diantarkan pulang kembali dengan membawa beberapa barang pemberian seperti seperangkat busana, perhiasan emas, maupun beberapa bahan pangan baik yang sudah matang atau masih mentah.


Malam Bainai

Kegiatan ini dilakukan pada malam akad nikah berlangsung. Tradisi ini berupa memandikan calon mempelai wanita dengan air kembang sebagai simbol membersihkan diri. Setelah itu, calon mempelai wanita akan dihias kuku dan tangannya dengan daun pacar sebagai simbol keindahan.


Manjapuik Marapulai

Prosesi ini merupakan puncak tradisi dimana calon mempelai pria akan dijemput untuk diantar ke rumah calon mempelai wanita. Akad nikah akan dilangsungkan di rumah calon mempelai wanita. Keluarga calon mempelai wanita yang datang menjemput membawa perlengkapan lengkap seperti pakaian pengantin pria lengkap, sirih, nasi dan lauk dan beberapa hantaran lain. Setelah menyampaikan maksud kedatangan, maka mempelai pria akan langsung diarak menuju rumah calon mempelai wanita.


Penyambutan di rumah anak Daro

Sesampainya calon mempelai pria dirumah calon mempelai wanita, maka calon mempelai pria akan disambut dengan meriah. Terdapat beberapa pemuda berpakaian silat (baca juga : silat harimau minangkabau dan asal usul pencak silat) yang akan menyambut dengan tari gelombang adat timbal balik yang diiringi musik khas Minang. Tari gelombang adat timbal balik ini adalah khas untuk menyambut mempelai pria (baca juga : tarian tradisional Indonesia dan tarian tradisional sumatera barat).

Selanjutnya terdapat para dara yang akan menyambut dengan perlengkapan sirih. Para sesepuh wanita kemudian menaburi calon mempelai pria dengan beras kuning. Kemudian kaki calon mempelai pria akan dibasuh dengan air sebagai simbol pensucian sebelum menuju ke tempat akan nikah.


Prosesi akad Nikah

Akad nikah dilakukan sesuai dengan syariat Islam dengan didahului pembacaan ayat Al Quran. Setelah itu dilakukan ijab qabul yang disaksikan oleh para saksi. Kemudian ditutup dengan do’a dan nasihat dari para tetua.

Basandiang di Pelaminan

Kedua mempelai akan bersanding di rumah anak Daro (mempelai wanita). Kedua mempelai kemudian duduk bersandingan untuk menerima para tamu yang hadir dan biasanya terdapat hiburan musik di halaman rumah untuk memeriahkan acara.


Tradisi Pasca Akad Nikah

Setelah akad nikah selesai, terdapat beberapa tradisi yang dilakukan oleh Suku Minang, diantaranya :

Mamulangkan Tando, mengembalikan tanda yang dipertukarkan pada tahap Maminang.
Malewakan Gala Marapulai, yakni memberikan nama dan gelar baru bagi pengantin pria sebagai simbol kedewasaan.

Balantuang Kaniang, menyentuhkan kening kedua pengantin pria dan wanita.
Mangaruak Nasi Kuniang, tradisi berebut daging ayam yang disembunyikan di dalam nasi kuning. Dilakukan oleh kedua pengantin sebagai simbol kerjasama antara suami dan istri.

Bamain Coki, melakukan permainan tradisional Minang semacam catur sebagai simbol mempererat kekeluargaan.



Pelajari juga adat istiadat suku lain pada artikel : Kebudayaan suku batak, kebudayaan suku banjar, kebudayaan suku dayak.


Harta Pusaka Tinggi

Yang dimaksud harta pusaka tinggi adalah harta pusaka yang dimiliki oleh satu kaum atau suku. Bukan harta yang bersifat personal atau pribadi. Biasanya berupa tanah atau barang yang memiliki nilai jual tinggi. Harta pusaka tinggi hanya bisa dimanfaatkan dan tidak boleh diperjual belikan. Harta ini diturunkan secara turun temurun (waris) kepada anak perempuan dalam suatu suku atau keluarga besar. Kaum laki-laki tidak memiliki hak terhadap harta pusaka ini.

Meskipun demikian, terdapat beberapa kondisi dimana dalam hukum adat Minang, harta pusaka tinggi boleh untuk digadaikan. Penggadaian harta pusaka tinggi harus disebabkan oleh salah satu dari beberapa alasan yang diperbolehkan untuk penggadaian, yaitu :
  1. Maik Tabuju Ateh Rumah (mayat terbujur diatas rumah), tidak adanya biaya untuk mengurus jenazah keluarga yang meninggal.
  2. Gadih atau Rando indak balaki (gadis atau janda tidak bersuami), seorang wanita yang tidak memiliki seorang suami bagi suku Minang adalah sebuah aib. Oleh karenanya, apabila terdapat seorang gadis yang sudah berumur namun belum bersuami atau seorang janda yang tidak bersuami, maka diperbolehkan menggunakan harta pusaka yang tergadai untuk membayar laki-laki yang mau menikahinya.
  3. Rumah Gadang katirisan (Rumah Gadang mengalami kerusakan). Apabila rumah gadang yang ditempati mengalami rusak berat, maka diperbolehkan menggadaikan untuk melakukan perbaikan rumah agar rumah tidak runtuh/roboh.
  4. Mambangkik batang tarandam, apabila sebuah suku tidak memiliki penghulu adat, maka diwajibkan untuk melakukan upacara pengangkatan penghulu adat yang pembiayaannya dari penggadaian harta pusaka.


Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik

Minangkabau merupakan salah satu suku yang ada di Nusantara yang lebih terkenal dengan nama suku minang. Suku ini dikenal sebagai suku yang mewakili daerah Sumatera Barat. Padahal aslinya, suku minang ini mewakili daerah Sumatera Barat, pantai barat Sumatera Utara, sebagian daerah Riau dan Negeri Sembilan yang ada di Malaysia. Suku ini sangat terkenal karena berbagai kebudayaan minangkabau yang menarik. Inilah uraian dan pembahasan tentang Kebudayaan Minangkabau Yang Menarik tersebut :


Bahasa Minangkabau

Bahasa minangkabau dikatakan sebagai bahasa mandiri atau bahasa yang dimiliki daerah tersebut dan bukan diambil dari bahasa lainnya. Namun, ada yang bilang bahwa bahasa minangkabau sama dengan bahasa melayu. Hal ini terjadi karena banyaknya kemiripan antara bahasa melayu dan bahasa minangkabau. Bahasa minangkabau cukup mudah dikuasai dan banyak yang menguasainya.


Kepercayaan Suku Minangkabau

Suku minangkabau menganut agama islam dan kepercayaan islam yang bisa dikatakan taat. Bagi para suku minangkabau tidak ada kepercayaan lain seperti halnya percaya pada benda dan hal-hal tidak masuk akal. Upacara yang dilaksanakan pun berkaitan dengan agama islam, seperti perayaan idul fitri dan adha ataupun pernikahan yang bersifat islami.

Strata masyarakat di Suku Minangkabau 

Suku minangkabau menerapkan sistem strata untuk masyarakatnya. Sistem ini penting untuk menggolongkan masyarakat dan mengatur jalannya pernikahan, adapun golongannya yaitu :
  1. Kamanakan Tali pariuk adalah golongan pertama yang bersifat bangsawan dan memiliki gelar bangsawan. kamanakan tali pariuk dianggap keturunan langsung dari urang asa.
  2. Kamanakan tali budi adalah golongan para pendatang atau perantau yang sama kaya dan suksesnya dengan suku minang. sehingga bisa dianggap seperti sama dengan keturunan dari urang asa.
  3. Kamanakan tali ameh adalah golongan orang biasa dan sifatnya pendatang.
  4. Kamanakan bawah lutuik adalah orang yang biasa menghamba kepada orang asa.


Selain itu ada 3 golongan yang dibuat oleh suku minangkabau, diantaranya :

1. Golongan bangsawan 

Golongan bangsawan adalah golongan yang memiliki kedudukan yang tinggi dan mendapat kemudahan bagi setiap urusan. Seperti bangsawan yang memberikan mahar atau bayaran tinggi ketika menikah. namun golongan wanita bangsawan harus menikah dengan sesama golongan bangsawan.

2. Golongan biasa 

Golongan biasa golongan ini tidak termasuk golongan bangsawan, namun  bisa dikatakan mereka bisa hidup seperti biasa seperti membeli tanah dan rumah, walaupun tidak ada hubungan dengan orang suku minang.

3. Golongan rendah

Golongan rendah golongan ini tidak diizinkan untuk membeli tanah dan rumah, mereka dianggap datang dengan jalan menghamba atau sebagai budak ketika datang ke daerah suku minangkabau.


Kesenian Suku Minangkabau

Adapun keseniannya yang sangat terkenal, diantaranya :

1. Dengan diiringi lagu salempong tarian pertama yang terkenal adalah tari piring. Tarian ini unik karena menggunakan piring yang ada ditangan sambil menari, kesulitannya adalah menahan piring dan mencari kestabilan agar tidak pecah atau jatuh.

2. Silek biasa disebut silat minangkabau. Ahli bela diri ini sudah ada sejak jaman dahulu dan dijadikan sebagai budaya yang penting bagi masyarakat suku minangkabau.

3. Randai merupakan penampilan yang dilengkapi dengan skenario antara silek atau silat dengan tarian layaknya teater. Randai ini juga dilengkapi dengan nyanyian yang mengiringi atau biasa disebut musik sijobang. Randai merupakan kesenian yang sangat unik dari minang kabau.

4. Seni berkata, seni ini cukup unik. jika di sunda ada pupuh maka di suku minang ada seni bersilat lidah yang mengedepankan sindiran, nasihat dan kata-kata bijak. Seni ini sangat penting dan bermakna sehingga suku minang bertahan dan menjadikannya sebuah budaya.

5. Terakhir adalah tari payung. tarian ini memang menggunakan payung sebagai aksesoris dari tariannya. Bukan hanya aksesoris tarian ini dianggap sebagai wujud atau ekspresi dari para pasangan muda-mudi, sedangkan payung dianggap sebagai satu tujuan untuk membina rumah tangga.


Rumah adat Suku Minangkabau

Selanjutnya adalah rumah minangkabau yang biasa disebut rumah gadang. Rumah ini dibuat menggunakan kayu dengan bentuk persegipanjang. Terdapat dua bagian yakni bagian depan dan bagian belakang dengan masing-masing muka. Biasanya rumah ini dibangun diatas tanah milik leluhur atau suku asli minang yang turun temurun. Tidak lupa disertakan tanduk kerbau sebagai hiasan utama dan bentuk rumah yang sekilas mirip dengan rumah panggung.

Gambar/foto: moeslimchoice.com

Rumah ini hanya digunakan oleh yang sudah berkeluarga, terutama keluarga perempuan dan anak-anaknya. Pihak laki-laki selalu mengikuti pihak perempuan, dan laki-laki yang masih bujang atau belum menikah akan tinggal di bangunan yang dibangun tidak jauh dari rumah yang berfungsi sebagai tempat ibadah, bangunan ini dinamakan surau.


Makanan khas Suku Minangkabau 

Selanjutnya adalah makanan khas dari suku minangkabau. Siapa yang tidak mengenal makanan khas dari suku ini. Bahkan makanannya yang dimasak selalu menggunakan santan kerap kali dijadikan makanan terlezat bahkan di dunia. Banyak masakan suku minang dimasak sangat lama dan juga sangat matang, sehingga rasanya sangat enak.

Makanan yang terkenal diantaranya adalah rendang, merupakan makanan pertama yang menjadi makanan ternikmat versi luar negeri, bahkan rendang tidak bisa dipisahkan imej nya dengan suku minangkabau. Rendang merupakan nama makanan yang diambil dari cara memasaknya yakni dengan cara “dirandang” atau dimasak lama. Rendang yang lembut dan empuk perlambang bagai niniak mamak atau pemimpin dari keluarga.

Selain itu ada bumbu yang digunakan pada makanan atau masakan suku minangkabau yang berarti lambang dari keseluruhan masyarakat Minang. Lalu ada cabai dengan rasa pedas yang melambangkan alim ulama yang harus tegas dan ada karambia atau kelapa yang berarti perlambang kaum intelektual. Makanan suku minangkabau pun terkenal dengan penuh filosofis.


Kekerabatan Suku Minangkabau

Terakhir dari kebudayaan suku minang adalah kekerabatan atau silsilah. Bagi masyarakat atau suku padang anak laki-laki adalah mahal dan haruslah dibeli. Sehingga dalam proses perkawinan ada beberapa tahap seperti meminang, menjemput pengantin laki-laki dan akhirnya dipelaminan. Bagi pengantin laki-laki akan ada upacara dimana mereka mendapat gelar atau nama baru yang menggantikan nama kecil mereka. Sehingga setelah menikah para pria akan dipanggil menggunakan nama baru tersebut.

Umumnya pernikahan dilakukan dengan mengambil atau menikahkan dari luar suku atau biasa disebut eksogami. Sistem keluarga dari suku minang adalah matrilineal atau mengikuti garis keturunan dari ibu. Sehingga jika terdapat perkara atau kasus maka penyelesaian adatnya menggunakan sistem dari garis keturunan ibu.

Demikianlah tentang kebudayaan Minangkabau yang unik dan menarik yang dapat bertahan sepanjang masa. Semoga Nilai-nilai kebudayaan yang menjadi khasanah kekayaan bangsa Nusantara ini dapat kita lestarikan demi anak cucu kita di masa depan. Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Sumber: Dirangkum dari Berbagai sumber.

Gambar : Google

Cari Artikel