INILAH NAMA DAN ISTILAH KAMPUNG BETAWI DI JAKARTA

Indoborneonatural----Inilah kampung-kampung di Jakarta tempo dulu dan sekarang yang dikaitkan dengan masalah-masalah kontekstual yang dihadapi kampung bersangkutan. Khusus kampung-kampung di Jakarta dewasa ini bukan khusus pemukiman orang betawi saja, tetapi telah menjadi kampung dengan komunitas majemuk khas Indonesia. Bahkan di beberapa tempat, seperti di Kemang misalnya, kampung Betawi telah berubah menjadi kampung Internasional, karena adanya segala bangsa ikut berdiam dan berdomisili disini. Persoalan yang dihadapi kampung-kampung di Jakarta bukan lagi persoalan orang Betawi semata-mata, tetapi telah menjadi persoalan bersama, semua suku bangsa yang ada di sana.

Gambar: archive.kaskus.co.id
Berikut inilah kampung-kampung di Jakarta dengan sejarang singkatnya yang semula milik betawi, sekarang menjadi kampung bersama, dengan istilah kampungmu,kampungku, yang harus kita jaga dan kita pelihara bersama; 

1. Kalapa

Tahun 1527 diyakini sebagai tahun lahir kota Jakarta, Karena pada tahun itu, atau tepatnya tanggal 22 Juni, seorang ulama asal Pasai diperintah Sunan Gunung Jati untuk merebut pelabuhan Sunda Kelapa dari tangan Peringgi. Orang Melayu menyebut Portugis dengan Peringgi. Nama tempat di Jakarta Utara bernama Perigi bukan dari padanan kata sumur, melainkan dari istilah Peringgi Portugis. Orang Peringgi, sesuai dengan perjanjian yang mereka buat dengan kekuasaan Sunda Pajajaran, memperoleh hak pengelolaan pelabuhan Sunda Kalapa. 
Gambar: www.fotografer.net
Kalapa sendiri adalah nama bandar. Bagi kerajaan Pajajaran yang berlokasi di pedalaman tubuhnya pohon kelapa di sepanjang pantai mulai dari Marunda sampai Teluk Naga merupakan panorama yang menarik. Besar kemungkinan bandar itu sudah bernama Kalapa yang pemberian namanya oleh imigran Melayu Kalimantan Barat, Penguasa Pajajaran di Pakuan mempopulerkannya dengan menamakan pelabuhan yang dikuasainya sebagai Sunda Kalapa.


2. Rasamala

Saat kompeni Belanda masuk Kalapa, ternyata bandar ini masih didominasi hutan Rimba. Bontius, seorang dokter VOC yang meninggal pada tahun 1631 dalam Buku Historiae Natural & Medicae Indiae Orientalis menulis, Batavia penuh dengan pohon Indische Eik, Jati Hindia. Pakar lain bernama Junghun kemudian mencatat, jenis jati lain yang tumbuh di Batavia adalah Rasamala. Tetapi penduduk tidak pernah menebang pohon ini karena dianggap keramat. Babakan (kulit Kayu) Rasamala dapat dijadikan setanggi karena harum baunya. Itulah sebabnya tempat-tempat yang banyak ditumbuhi pohon Rasamala disebut Kampung Kramat.


3. Kali Besar

Berkaitan dengan kata keterangan "Besar", di Jakarta-Pusat ada tempat bernama Sawah Besar, bukan Sawah Gede. Seperti halnya Kali Besar, bukan Kali Gede. Lalu ada Cililitan Besar, di samping itu ada Cililitan Kecil. Tidak jauh dari Cililitan ada Pondok Gede, bukan Pondok Besar. Ke arah selatan menuju Bogor kita menjumpai kawasan berbahasa Betawi yang disebut Bojong Gede, bukan Bojong Besar.

Gambar: luk.staff.ugm.ac.id
Kali besar sudah bernama seperti ini jauh sebelum kraton Jayakarta berdiri. Kraton Jayakarta berlokasi di tepi barat Kali Besar. Batas selatan adalah rawa-rawa yang disebut Roa Malaka, batas timurnya adalah kali itu sendiri, batas utaranya adalah Jl. Pakin sekarang, dan batas baratnya adalah Jl. Pejagalan. Pada tahun 1740 jalan Pajagalan menjadi amat terkenal karena tidak kurang dari 5000 orang Tionghoa dijagal Belanda dalam rangka pemumpasan huru-hara Tionghoa, yang juga terkenal sebagai peristiwa Chinezenmoerd.


4. Tanjung Priok

Menurut khazanah Melayu lama, priok dapat juga berarti keranjang untuk menangkap ikan. Benda ini dalam istilah betawi disebut bungbung. Adapun tempat menyimpan hasil memancing ikan disebut korang.
Gambar: photobucket.com
Tanjung adalah tanah yang menjorok ke laut. Di pantai Jakarta terdapat tiga tanjung, yaitu Tanjung Kait di dekat Kampung Mauk, Tangerang, Tanjung Pasir dekat Teluk Naga, dan Tanjung Priok. Tanjung Barat, Tanjung Timur, dan Tanjung Duren adalah plesetan dari tunjunga, Bukit kecil. Padanan kata tunjung dalam khazanah Betawi adalah MUNJUL. Di pinggir Jakarta ada tempat bernama Munjul. Munjung juga padanan tunjung, seperti halnya mentung. Hanya saja penggunaannya berbed. Munjung dipakai untuk menerangkan urukan benda padat yang melampaui takaran dan kapasitas absorbsi wadah. Menyendok nasi ke piring sehingga "membukit" disebut sepiring mentung, tetapi urukan pasing yang "menggunung" disebut munjung.


5. Marunda

Marunda adalah nama lama yang seumur dengan Ancol, Angke, dan Kalimati. Untuk melacak arti kata ini harus diperiksan dalam khazanah Sansekerta, atau mencari sumber imitasinya di India. Bangunan lama yang tersisa di Marunda adalah Mesjid Al A'lam dan bungunan yang dianggap bekas rumah si Pitung.

Gambar: 2.bp.blogspot.com
Menurut penelitian Dinas Meseum dan Sejarah DKI Jakarta Tahun 1985, rakyat Marunda yang asli Betawi itu masih melaut setiap subuh, memakai jaring dan bukan lagi jala atau pancing. Penggunaan sero sebagai alat penagkap ikan masih berlaku. Bambu yang dianyam itu ditancapkan di hari subuh, berdiri sekitar 1,5 mil dari pantai. Usai bertugas, siangnya hasil tangkapan dijual ke pelabuhan lama Kali Baru kepada pelele (tengkulak ikan), atau diasinkan untuk keperluan sendiri (Kompas, 12 Mei 1986). Begitulah kehidupan nelayan Marunda mewarisi tradisi leluhur sejak sepuluh abad yang lalu.


6. Planet Senen

Kawasan Senen di tahun 1950-an mengesankan untuk dikenang. Tahun-tahun sebelumnya ini merupakan front menghadapi tentara Belanda yang berbasis di lapangan Banteng. Senen benar-benar menegangkan. Tapi setelah itu Senen sangat exciting, menggairahkan. Bioskop Rex dan Grand memutar film-film koboi, banyak penjaja di siang dan malam hari. Mau penganan seperti apapun dapat dibeli di sini. Apalagi es Shanghai yang segar dan lezat, Senenlah tempatnya. Kegiatan intelektual pun sangat meriah, pusat penjualan buku-buku ada di sini, tersedia baik buku-buku baru maupun buku bekas. Ada restoran Ismail Merapi tempat berkumpul seniman tersohor yang bergerak di rupa-rupa bidang kesenian.


Gambar: Aneka Berita - WordPress.com
Nama senen berasal dari nama yang diberikan Belanda pada pasar ini Snezen, yang artinya barang gelap, bekas, dan rongsokan dijual di sini. Sebelum Belanda mendirikan pasar di akhir abad ke-18, daerah ini sudah bernama senen. Disebutkan juga sekitar tahun 1656, ada orang pulau Lontor, Indonesia Timur, bernama Cornelis Senen datang ke Batavia, lalu pada tahun 1656 membeli kebun kopi di tepi kali Ciliwung. Tuan tanah Corenelis Senen ini sangat mungkin membeli tanah yang kemudian bernama Senen ini.


7. Meester Cornelis

Secara administratif Meester Cornelis terpisah dengan Batavia. Masing-masing dipimpin oleh regent sendiri. Cornelis Senen adalah tuan tanah yang pada 1656 membeli tanah perkebunan kopi di situ. Ia dikenal dengan panggilan Meesterl Cornelis, maka namanya diabadikan sebagai nama tempat yang kemudian terkenal sebagai Mester . Daerah yang kemudian dikenal sebagai Cawang, secara administratif merupakan afedeling, cabang, dari Mester.
Gambar: upload.wikimedia.org
Perubahan konsonan "b" dan "w" terjadi dalam pengucapan. Memang ada perkiraan yang berbunyi demikian, karena Mester adalah kampung Melayu, maka di daerah yang sebut Cawang itu tinggal seorang Melayu yang disebut 'Nce Awang. Entah apa pekerjaan orang ini sehingga namanya,'Nce Awang, menjadi nama kampung Cawang. Jika mengikuti dugaan ini niscaya nama kampung Ceger yang ada di Jakarta Timur dan Jakarta Selatan Juga berasal dair orang Melayu yang namanya 'Nce Ger.


8. Dukuh

Sekarang Jl. Sudirman mempunyai viaduct, jalan kolong. Kawasan di sekitar Sudirman menjelang Bukit Kebayoran disebut Dukuh, yaitu lingkungan yang lebih kecil dari desa. Kalau dewasa ini orang menulis Dukuh dengan Duku (tanpa "h") hal itu karena ciri linguistik bahasa betawi yang mengauskan huruf "h" baik yang ada dipangkal maupun ujung kata. Misalnya habis menjadi abis, gurih menjadi guri. Jadi Duku bukan berasal dari nama buah duku.


Gambar: i0.wp.com 
Kawasan yang kini disebut Setiabudi dulunya bernama Dukuh Atas, daerah sekitar Jl. Teluk Betung dan Jl. Blora bernama Dukuh Bawah. Lalu ada kampung dekat Karet Kubur yang disebut Dukuh Pinggir. Dukuh Atas dan Dukuh Bawah dipisah kali Malang. Penghubung kedua kawasan itu di jaman dulu adalah jembatan gantung yang alasnya dari papan dianyam kawat. Waktu itu sangat mengerikan melewati jembatan ini, hingga tahun 1948 "pemerintah federal" bentukan Belanda membangun jembatan beton yang rampung pada tahun 1949.

9. Kali Lio

10. Dari Papango sampai Cibinong

11. Serpong

12. Pegangsaan

13. Utan Pitik

14. Bukin Kebayoran dan Bulak Cabe

15. Sumur Batu

16. Manggarai

17. Menteng Raya 31

18. Margonda

19. Ciputat

20. Koja

21. Jembatan Metro



Baca lagi lainnya selengkapnya di sini !!

BACUCUPATIAN - BACACAPATIAN - BATATANGGUHAN

Indoborneonatural----Kabiasaan wan adat budaya Banjar liwar banyaknya, tagal banyak nang sudah langlam -- atawa parak langlam -- tamasuk “bacucupatian” (“bacacapatian”), atawa “batatangguhan”.

Rahat bakawanan, sambil barucau, baramian wan bagayaan (pariannya, sambil mahadang buka puasa), bahanu urang Banjar, Kalimantan Selatan, “bacucupatian". “Bacucupatian”, atawa “batatangguhan”, saku ”basa laut”-nya “main teka-teki”, “main tebak-tebakan”.

“Bacucupatian” kada sahibar gasan balalucu -- kurang-labih kaya mahalabiu -- tagal maulah urang bapikir.

Pariannya:
“Sambil mahadang dauh babuka, kita bacucupatian, yu?” jar Utuh Tipang lawan bubuhannya nang lamah-liut, dudukan di ambin rumah Utuh Maklar.
“Ayuha. Napa cucupatiannya?” jar Pambakal Utuh Jagau.
“Sapuluh sinti, dikali lima sinti, dibagi ampat, sama dangan barapa?” jar Utuh Tipang.
“Pakai kalkulatur, bulihlah?” jar Utuh Maklar.
“Bulih!” jar Utuh Tipang.
Imbah mamicik-micik kalkulatur, Utuh Maklar manjawap : “Dua blas satangah sinti parsagi!”
“Salah!” jar Utuh Tipang.
“Hau...? Imbah pang, barapa?” jar Pambakal Utuh Jagau.
“Ampat kali sulum!”
“Hau? Napa maka kaitu?” jar Utuh Maklar.
“Jawapannya: wadai amparan tatak ulahan Aluh Kaciput!” jar Utuh Tipang.

Sabuting pulang, nah:
“Ayu tangguhi: apa bidanya bibinian wan sapida?” jar Utuh Supir lawan Utuh Tipang.
“Sutil banar!” jar Utuh Tipang. “Sapida dikumpa dahulu, hanyar dinaiki. Bibinian dinaiki dahulu, hanyar dikumpa!”

Di banua Banjar ada “Doktor Palui”, ada “Doktor Pamali”. “Doktor Palui” galaran gasan Doktor Zulkifli Musaba (nang S-3-nya maungkai “Kisah si Palui”), “Doktor Pamali” galaran gasan Doktor Hatmiati Masy'ud (nang S-3-nya maungkai “Pamali Banjar”).

Tamu kita hari ini Prof. Drs. H. Rustam Effendi, M.Pd., Ph.D, “Doktor Cucupatian” lulusan Universiti Utara Malaysia (UUM). Sidin “ahli cucupatian” -- sudah lawas ma’ajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin. Napa ujar sidin? Kita itihi wan dangari sama-sama... (ysas).

Sumber : Face Book Y.S. Agus Suseno

CERPEN KISAH BAHASA BANJAR - KADA MAHARANI TIMPA

Cerpen Bahasa Banjar - Kada Maharani Timpa
Karya: Abdul Hanafi


Rajin subuh sudah mandi, babaju, basalawar. Hari ini masih batapihan duduk di kursi kayu nang baandak di ambin sambil... biasa...baruku.
Malarak luang hidung Adul manarik hinak mangulih ka balakang tacium bau kopi nang dibawa Umanya Si Uncal, bininya.
“Kada ka tarminal kah Abahmu hari ini ?” jar Umanya Uncal sambil manyurung cangkir halus baisi kopi panas.
“Parai... Umu ah !” Adul Manyahut sambil mahambus kukus ruku di muntung.
Limbah maandak di atas mija pipiringan baisi pais waluh tukaran di warung Acil Galuh subuh tadi, bini Adul badiri di higa.
“Napa kisah maka umpat bubuhan pagawai negri, libur jua Sabtu”.
“ Panumpang sunyi wayah ini, urang hakun basapida motor ka Banjar, jalan banyak nang rakai. Mana jua buhan taksi Banjar kawa dihitung wan kantut nang mau baantri di tarminal. Balirit mutur buhannya basusun di tikungan subalah pada kantor de pe er, incaan handak balarut”.
Dalam hati Manya Uncal pacang karing padaringan mun abahnya ‘Mogok Kerja’ kada mamaklar hari ini.
“Tapi kada nangitu pang pungkalanya aku kada turun hari ini”.
“Kanapa ?”jar nang bini maitihi.
“Itu... malihatkah rumput di halaman, parak hinggan lintuhut di banturan, musiah ada tadung mura balingkar ari malam kada kalihatan.”
“Jaka bakamarian haja pang basiang Abahmu atau disamprut lawan rundap?”usul Manya Uncal
“Aku handak baulahraga pagi...daripada katupuk-katupuk bukah, sama ha pada kaluar paluh”.
Bujur jua dalam hati Manya Uncal sakali samustawa baulahraga, kaluku mau jua awak badaging kada kurus manguringkai.
Hanyar dua talu ilaian Adul Kulidak mancangkul, ada sudah nang marawa malihat Adul bagawi kada singbajuan basalawar handap.
“Ui, ada sasah kuyuk... malihat tulang !”
“Kurdion malarak !” ajar saikung pulang malihat tulang tangkar adul. Adul kada kawa sarik dasar gawiannya jua rancak bapakalah urang.
Pahadangan Adul duduk istirahat ada nang gagadimpa datang tagas kaya pincang batis padahal dikilar mulai jauh tadi waras haja jalan. Pinda mambari maras muha. Limbah maucap salam basurung talapak tangan...
“Suka rela Pa”
Minta-minta sakalinya. ‘Pagalangan ganal. Jaka kada kaya incaan bapanyakit kusurungi cangkul. Potongan kaya ini bila dibari sama lawan maracuni, batambah kulir...’ dalam hati Adul
“Lalui !” jar Adul singka.
Kada sawat sapurung ruku ada pulang nang datang babaju cuklat bakupiah putih tas hirang basulimpang di bahu. Mun dilihat puling kada urang banua.
“Maaf mengganggu Pa Aji”
Dasar bujur manggangu pang dalam hati Adul, tapi tasambat Pak Haji maancap manyahut;
“Aamiin...mudahan bujuran naik haji kaina. Tanganku rigat, nangapa tu dibawa maka bamaf sagala?”
Baya dibuka maf, kartas bagambar sungkul masigit. Sumbangan Masjid nang dimana arih jauhnya pada banua saurang, sabak tandatangan wan stempel panitia. Bujur juakah ngini dalam hati Adul, lawas Adul mamikirakan taputar bigi mata kaya panari Bali, kilar sana kilar sini. Kasimpulannya..
“Sudah tadi, nang kaya kaini” jar Adul.
Pada mangunyur ha balalu sambil mailai tali tas salimpang malimpai ka balakang.
Balum simput burit lalakian nang maminta sumbangan tadi, ada pulang nang datang, sakalini bibinian bajujung susunan buku di kapala, kada bapipingkutan. ‘Ngini tapatut jua. Bajualan, tapi kada jauh pada duit ha jua’, dalam hati Adul.
Libah maucap salam, mamindah susunan buku ka pagalangan tangan kiwa, manampaikan buku kumpulan doa mustajab, kitab mujarabat, buku obat-obatan herbal, terapi pijat refleksi, ersp masakan, sampai photocopy nang balambaran doa harian, wafak, sasangga rumah, tulak bala, ayat kursi, nangapa apakah lagi nang gambarnya bapupulilit basulait batulisan huruf arab. Sabuting-buting kadada nang ditukari Adul, alasan;
“ Sudah ada baisi” jar Adul. Padahal mana ada.
Balalu jua bibinian nang bajaja buku sambil mangaluyu mangulih-ngulih ka balang kaluku Adul mangiau baasa. Kada harapan.
“Talu sudah Umu ah nang datang handak duit pahadangan kita marumput” jar Adul.
“Jangankan batalu, sapuluh gin nang datang kada masalah amun jawaban pian kaya kaitu ha, kada pacangan maharani timpa” jar Manya Uncal nang mulai tadi kakayu’ut mamapai tanah di akar
rumput cangkulan.

* * *

Cerpen :
Judul : Kada Mahari Timpa
Karya : Abdul Hanafi
Ilustrasi/Gambar : Abdul Hanafi
Tahun Rilis 2017.

MUSIK VOKAL (LAGU) TRADISI BADUDUS KALIMANTAN SELATAN

Mandi-mandi
Indoborneonatural----Badudus dipergunakan dalam acara Badudus atau Mamandi-mandi dan juga selamatan Tahunan, yang merupakan tradisi dari sebagian masyarakat Amuntai. Kabupaten Hulu Sungai Utara. Propinsi Kalimantan Selatan. Lagu-lagu Badudus merupakan nyanyia solo yang dinyanyikan oleh penyanyi pria dan diiringi alat tabuhan yang terdiri dari biola dan terbang besar yang disebut Tarbang Basar atau Tarbang Burdah. (Baca Tentang Tarbang..).

Tarbang Besar ini merupakan alat yang efisien, karena bunyinya sekaligus dapat merangkap suara babun dan gong, sehingga penggunaan alat tabuhannya yang biasanya terdiri dari biola, gong dan babun itu dapat disederhanakan dengan dua alat saja, yaitu biola dan Tarbang Besar.

Susunan performanya terdiri dari penyanyi dan penabuh.
Duduk berjejer menghadapi sajian 41 (empat puluh satu) macam, yang terdiri atas bermacam kue dan buah-buahan seperti: Kue Wadai Dodol, Kue wadai Wajik, Wadai cincin, Cengkaruk, Apam, Lemang, Tapai, Kakuleh, Pisang, Kelapa muda dan sebagainya.

Sedangkan penonton atau peserta undangan lainnya dapat duduk di belakang performans dan dapat pula dengan pola melingkar mengelilingi sajian tersebut.
Repertoire lagu Badudus ini harus tertentu. Baik dalam upacara Mandi-mandi atau Badudus dan Upacara Selamatan Tahunan, Susunan lagu-lagu tersebut tidak boleh tertukar-tukar, tetapi harus tersusun sebagai berikut :

Repertoire pembukaan dinamai lagu Kur Sumangat, merupakan memanggil atau mengundang semangat atau roh-roh dari raja-raja dan dewa-dewa yang gaib. Dengan kepulan asap dupa dan asap kemenyan. diadakanlah upacara mengundang. Dalam upacara mengundang ini, selain dari kata-kata undangan yang disampaikan ucapan maaf jika ada kesalahan dalam menyediakan sajian atau dalam pelaksanaan tersebut terdapat kekeliruan dan sebagainya. Semua itu akan tergambar dalam komposisi dan tangga lagu yang dituliskan pada halaman berikutnya dari artikel ini :

KUR SUMANGAT = (Datanglah semangat)

Aduh-aduh Raden yang ayu,
Yang maha tinggi dapat memberi ampun
Yang maha tinggi dapat memberi maaf,
Banyak-banyak minta ampuni,
Banyak-banyak minta keampunan.

Aduh nenek datu dan seluruh pembantunya
Nyai Randel yang mengundang,
Semuanya pada diundang,
Semuanya pada diundang secara lisan,
Seorang pun tidak ada yang ketinggalan,
Seorangpun tidak terlupa,
Disambut dengan kukus dupa,
Disambut dengan kukus menyan.

Setelah lagu Kur Sumangat; maka diadakanlah acara Tapung Tawar yang disebut Tatungkal dengan minyak Likat Buburih

*) Minyak Likat Buburih : Bunga-bungaan tertentu yang dimasak dengan minyak kelapa dan lilin, sedangkan buburih adalah minyak likat yang ditambah wewangian lainnya.

Acara kemudian diteruskan dengan lagu Girang-girang, sebagai pengiring Badudus atau Mandi-mandi.

Pada zaman dahulu di Kalimantan Selatan, Badudus ini adalah acara penobatan seorang Raja, Sekarang acara Badudus atau Mandi-mandi ini digunakan sebagai acara Mandi-mandi Pengantin. Di Daerah lain, seperti halnya daerah Candi Laras, Kabupaten Tapin kita temui pula jenis Mandi-mandi ini, yang dipergunakan dalam Mandi-mandi Perempuan Hamil Tujuh Bulan (Menujuh Bulanan) bagi perempuan yang hamil pertama kali yang disebut Tiang Mandaring. 

*) Tiang Mandaring : Mungkin merupakan singkatan dari istilah daerah yaitu Batianan (hamil) yang selalu garing. Biasanya pada orang yang pertama kali hamil/hamil pertama.

Notasi lagu Girang-girang ini dapat dilihat pada halaman postingan indoborneonatural Notasi Lagu Girang-girang berikut ini, dan terjemahannya pantunya adalah sebagai berikut :


Baca selengkapnya !


MENGENAL ALAT MUSIK TARBANG DARI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Jika kita jalan-jalan ke Kalimantan Selatan khususnya ke daerah Martapura Kabupaten Banjar, maka kita akan melihat ragam kesenian tradisional masyarakat yang menggunakan alat musik sebagai pengiringnya. Salah satu alat musik yang juga banyak digunakan adalah alat musik "Tarbang" khas Kalimantan Selatan.

Menurut Ilmu tentang struktur instrumen musik berdasarkan sumber bunyi (Organologi), Alat musik Tarbang termasuk dalam kategori  Membranophone, yang dalam bahasa Indonesianya disebut "Terbang". Prinsip penyuaraannya adalah disebabkan getaran Membran yang ada pada muka tarbang tersebut. Dengan pukulan tertentu, membran tersebut dapat menghasilkan bunyi antara lain seperti : PANG, PRANG, BRING, DANG. DING, dan DUNG. Bunyi tersebut di dapatkan dan dihasilkan dari beberapa teknik dan cara pukulan tertentu terhadap Tarbang.

Menurut bentuknya Tabang yang ada di daerah Kalimantan Selatan ini terbagi atas dua macam, sebagaimana terlihat pada gambar-gambar di bawah ini:

Dua bentuk dan jenis Tarbang yang ada di daerah Kalimantan Selatan;


Kedua bentuk tarbang tersebut di atas dapat kita lihat pada tiga bagiannya, yaitu bagian muka, bagian rangka badan yang menurut istilah daerah banjar Kalimantan Selatan disebut "Karongkong". dan bagian belakang. Bagian muka biasanya ditutupi dengan kulit kambing. sedang Karongkongnya dibuat dari kayu "Jingah" atau kayu "Nangka".

Menurut klasifikasinya, Tarbang di daerah kalimantan Selatan terbagi atas empat macam, yaitu : Tarbang "Sinoman Hadrah", Tarbang "Madihin", Tarbang "Lamut" dan Tarbang "Burdah".

Alat Musik Tarbang, Alat Musik Pukul, Alat musik Kalsel, Art Instrument Traditional
Alat Musik Tarbang Jaman Dahulu
Tarbang "Sinoman Hadrah" yang dipakai sebagai pengiring kesenian "Sinoman Hadrah" dan "Rudat", merupakan tabang yang terkecil dari seluruh jenis-jenis Tarbang yang ada di Kalimantan Selatan. Ukuran jenis tengah mukanya 30 cm, garis tengah bagian belakang 25 cm, dan tinggi rongga badan 7 cm serta tebalnya 1 ¹/₂ cm. Di sekeliling rongganya terdapat 3 lobang. Sebuah lobang untuk pegangan tangan atau juga sering digunakan untuk menempatkan tali untuk menggantung tarbang tersebut dan dua lobang yang lainnya adalah untuk menempatkan lempengan besi yang telah digunting berupa lingkaran. Gunanya untuk menambah bunyi gemerincing pada Tarbang tersebut.
Jenis tarbang ini adalah lima buah, yang memiliki fungsi masing-masing sebagai berikut :

  1. Pembawa
  2. Penyaluk
  3. Peningkah, penggulung dan
  4. Babun 
Tarbang yang sedikit besar dari Tarbang Sinoman Hadrah itu ialah Tarbang Madihin yang dipakai atau digunakan sebagai pengiring kesenian Madihin. Ukuran garis tengah bagian muka 31 cm, garis tengah bagian belakangnya 26 cm, tinggi rangka badannya 12 cm dan tebal rangka badannya 2¹/₂ cm. Di bagian muka dan belakang Tarbang itu dibuat bingkai.

Bingkai dibagian muka adalah penggulug kulit penutup bagian muka tersebut, sedangkan bagian belakangnya adalah untuk menempatkan tali peregang membrannya. Pada sekeliling rongga badan Tarbang itu terlihat tali-tali peregang. Diantara tali-tali peregang itu terlihat pula pasak-pasak yang terbuat dari kayu. Tarbang ini biasanya juga terbuat secara tunggal atau solo, dan kadang-kadang pula dua atau sampai empat buah. Hal ini tergantung kepada banyak sedikitnya orang yang mengadakan pertunjukan kesenian "Madihin" itu. Jika yang membawakan acara itu seorang diri saja maka Tarbangnya cukup sebuah saja. Dan jika terjadinya acara bersahut-sahutan, maka akan kita temui dua dua atau sampai empat buah Tarbang tersebut.  

Tarbang yang lebih besar lagi adalah Tarbang Lamut, yang dipakai sebagai pengiring dalam kesenian Lamut. Kesenian Lamut adalah sejenis Narative, yaitu ceritera yang di ceriterakan begitu rupa dan diiringi dengan berbagai pantun dan syair yang dilagukan. Garis tengah bagian mukanya 52 cm, garis tengah bagian belakangnya 35 cm, tinggi rangka badannya 24 cm, dan tebalnya 6 cm. Tarbang Lamut tidak sebanyak Tarbang Sinoman Hadrah atau Tarbang Madihin. Dia cukup sebuah saja, karena di samping bentuknya yang begitu besar, bunyinya pun dapat menirukan bunyi-bunyi yang ada pada Babun (gendang Babun).

Tarbang yang paling besar adalah Tarbang Burdah dan pengiring orang Maayun Anak. Banyaknya ada empat buah yang masing-masing berfungsi sebagai pembawa, peningkah, panganting dan panyaluk.

Bentuk yang paling besar garis tengah mukanya berukuran 62 cm, garis tengah belakang 45 cm, tinggi rangka badan 21 cm, dan tebalnya 6 cm. Bentuk yang sedikit lebih kecil garis tengah mukanya 38 cm, garis tengah belakangnya 28 cm, tinggi rangka badan 27 cm dan tebalnya 3¹/₂ cm. Bentuk yang agak kecil lagi garis tengah bagian mukanya 35 cm, garis tengah bagian belakang 32 cm, tinggi badannya 24 cm dan tebalnya 3¹/₂ cm. Bentuk yang paling kecil garis tengah bagian mukanya 25 cm, garis tengah bagian belakangnya 21 cm, tinggi rangka badannya 24 cm dan tebalnya 3¹/₂ cm.  

Secara umum sistem peregangnya bagi semua TARBANG itu sama saja,


MENGENAL ALAT MUSIK KECAPI DARI KALIMANTAN SELATAN

Indoborneonatural---Salah satu alat musik instrumental dari Banua Banjar Propinsi Kalimantan Selatan adalah Kecapi. Secara Ilmu alat-alat musik (organologi) pada prinsip penyaraanya kecapat tergolong pada "kordofon", yang berarti bunyi terjadi karena getar dawai-dawai yang diregangkan. Tidak ada istilah yang dipergunakan untuk nama alat kecapi ini. Instrumen kecapi ini ditermuka di daerah Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, di desa Kanarum, 40 km dari kota Tanjung ibu kota Kabupaten Tabalong. Desa Kinarum adalah desa di Kecamatan, yang penduduknya terdiri dari sebagian besar Dayak Deyah. Jadi alat musik kecapi ini dimiliki sebagai alat musik tradisional suku Dayak Deyah.

Bentuk fisik alat kecapi ini seperti perahu dalam ukuran kecil. Bentuknya seperti Perahu perang Bugis yang berdagang di Nusantara. Secara garis besar kecapi terdiri dari beberapa bagian yaitu; Bagian badan, tangkai (tempat bertumpu dawai) dan bagian pemutar peninggikan/perendahan dawai.


Alat musik teradisional, Alat musik Kalsel, Kecapi Kalsel, Seni-budaya Indonesia, Budaya Banjar


Dawai hanya dua. Dawai terdiri dari akar sejenis kayu pohon-pohon yang disebut "unus".

Badan instrumen terbuat dari sejenis kayu khusus ditemukan dihutan desa Kinarum yang bernama 'sembawai". Jenis kayu lain tidak dibolehkan dijadikan bahan instrumen ini. Sesuai dengan kepecayaan yang dianut masyarakat di daerah ini. Jenis kayu ini dkhususkan juga untuk penyembuhan dan pengobatan orang sakit. Jenis kayu khusus yang terlihat ringan, seringan kayu "pelantan".

Cara membuat alat kecapi tradisional ini dilakukan secara tradisional juga. Kayu dipotong agak panjang dari ukuran seharusnya. Panjang kecapi  yang sudah jadi adalah 120 cm. Badan kecapi diraut dan dikeruk/dilobangi bagian bawahnya. Lobang ini menjadi kotak resonan. Meraut dan membentuk ini harus dilakuka dengan teliti sekali karena ketelitian inilah yang menentukan bunyi yang baik. Pada bagian pemuar/draier mempunyai ujung yang melengkung ke atas. Ujung yang melengkung inilah yang menentukan baik tidaknya bunyi. Setelah selesai membentuk kecapi yang mempunyai bunyi yang baik, barulah kecapi ini dikeringkan di panas matahari. Pengeringang cukup memakan waktu agak lama, yaitu kira-kira dua bulan. Sesudah keringa barulah dipasang tali dan draiernya. Ujung tali di badannya dimasukan ke dalam kotak resonan dan diberi buhul supaya tidak lepas. Tali kecapi yang dimasukan kedalam kotak resonannya harus melalui sisir/kam yang menjadi satu dengan badan kecapi atau kotak resonan.

Pada tangkainya/pegangan tangan untuk mengatur tinggi rendah nadanya ditempatkan 4 buah jembatan yang dapat digeser ke atas maupun ke bawah. Maksud ke atas adalah penggeseran jembatan mendekati draier, Sedangkan ke bawah berarti mendekati badan kecapi/kontak resonan.

Jembatan ini terbuat dari kayu tipis berbentuk trapesium. Jembatan adalah alat untuk dawai bertumpu. Dibagian bawah dari jembatan direkatkan sejenis karet mentah seperti odonan tepung yang diambil dari rumah binatang "wanyi", sejenis tawon. Gunanya karet ini ialah untuk merekatkan jembatan-jembatan bila dipindahkan kedudukannya. Antara jembatan yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh binatang kecil supaya tidak hilang bila jatuh terlepas dari rekatan.

Untuk Draier agar mampu menopang kinerja kecapi menjadi lebih baik, draier ini terbuat dari bahan kayu yang cukup keras agar tidak mudah patah.

Secara terperinci ukuran kecapi tersebut adalah :
Panjang seluruhnya 120 cm. Tinggi badan 7,5 cm ; lebar badan 11 cm pada bagian tengahnya. Tinggi/tebal tangkai 2,3 cm. Tebal ujung tangkai yang melengkung 3,25 cm. Panjang draier 10 cm, sedangkan tebalnya 1,25 cm pada bagian pemutar. Pada ujung pemutar tebalnya  0,7 cm.


Alat musik teradisional, Alat musik Kalsel, Kecapi Kalsel, Seni-budaya Indonesia, Budaya Banjar


Panjang tali 75 cm. Tebal jembatan tali bertumpu 1 x 1,5 x 2,25 cm. Tebal kam 2 x 2 x 2 cm pada bagian ujung tali yang dimasukkan menembus badan kecapi.

Untuk memainkan kecapi dapat dilakukan dengan duduk bersila di atas lantai, dibalai-balai ataupun duduk di kursi. Karena fungsi instrumen ini adalah sebagai melodi utama dalam iringan tarian "balian bukit", maka permainan alat ini umumnya dilaksanakan di atas lantai.

Kecapi dimainkan oleh orang yang telah ditentukan oleh Kepala adat/dukun. Badan kecapi diletakkan di atas paha kanan dan tangan kiri memegang tangkai untuk menekan tali dengan jari. Jari tangan kanan dipergunakan untuk memetik tali/dawai.

Jenis lagu yang dimainkan untuk tari balian bukit ada beberapa macam. Untuk Sang Hiah ?Wanang yang mempunyai kedudukan tertinggi di atara semua dewa biasanya mempergunakan lagu dengan nada tinggi.

Lagu yang dinyanyikan bernama "buncu kaling". Jembatan dipindahkan kebawah sehingga nadanya akan menjadi lebih tinggi. Untuk banyaknya nada yang dipakai adalah 4 nada. Tali pertama/dawai pertama mempunyai tinggi nada setinggi C sentral Dawai kedua setinggi D oktaf kecil.

Sejak kapan dipergunakannya kecapi ini sebagai alat penggiring dalam tarian 'balian bukit' suku dayak Deyah tidak diketahui dengan pasti. Bagi masyarakat desa Kinarum yang masih memeluk agama "Kaharingan/animisme" masih mengerjakan upacara-upacara yang mereka warisi dari nenek moyangnya. Tari "balian bukit" adalah tari upacara penyembuhan/pengobatan orang sakit. Dukunnya bertindak sebagai Ketua upacara langsung menjadi penyanyinya. 

Demikian tentang alat musik kecapi dari Kalimantan Selatan.  Semoga bermanfaat. Terimakasih.


Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

Baca juga alat musik Gong Kalsel!!

KISAH LEGENDA AGUNG KERAMAT " SI RABUT PARADAH" PANGERAN SURIANATA


Visiuniversal---Salah satu Alat musik instrumen dari daerah Kalimantan Selatan adalah Alat musik Agung. Alat Musik Agung ini dapat kita temukan sebagai alat musik instrumental penggiring kesenian musik dan tari daerah Kalimantan Selatan. Ada kisah dan legenda menarik tentang Agung ini yang dicerikan di tanah Banjar Kalimantan Selatan di masa lalu.

Agung asli peninggalan leluhur masyarakat Banjar tempo dulu tidak bisa kita temukan dengan mudah lagi. Menurut keterangan dari berbagai sumber bahwa Agung asli bersama alat gamelan Banjar lainnya yang diberi nama "Si Manggukecil" yang merupakan gamelan peninggalan kerajaan Banjar, menurut informasi Dinas Pariwisata sekarang alat musik agung tersebut masih berada di Museum Pusat Jakarta.

Sedangkan agung asli yang masih ada di daerah Kalimantan Selatan ini, konon tersebar dan terpisah dari gamelannya semula, yang sampai sekarang ini masih belum dapat diselidiki keberadaannya secara pasti.

Sebuah kisah dari sebagian penduduk daerah Kalimantan Selatan yang beranggapan bahwa "Agung Basar"  (Gong Besar) itu merupakan alat pusaka yang keramat, karena Konon Agung Basar tersebut adalah tempat berpijaknya seorang pangeran yang keluar dari dasar sungai. Pangeran tersebut adalah Raden Putera (keturunan Majapahit) yang kemudian berganti nama menjadi Pangeran Surianata.

Raden Putera adalah putera Majapahit yang pada waktu itu tidak berwujud manusia, diminta oleh penguasa Negara Dipa, Lambung Mangkurat untuk dapat pergi ke Negara Dipa mempersunting puteri Junjung Buih. Konon puteri junjung buih ini adalah puteri yang sangat cantik yang mendiami wilayah alam gaib di sungai sekitar daerah "Pandamaran". 

Dalam perjalanannya tepat di atas daerah Pandamaran, perahu yang ditumpangi Pangeran Raden Putera tiba-tiba mengalami hal yang aneh, angin tiba-tiba berhenti bertiup, air menjadi tenang, dan suasana alam hening dan kapal yang ditumpangi Raden Putera jadi terhenti tidak bergerak sama sekali.

Raden Putera yang mempunyai kesaktian dapat melihat bahwa itu bukan suatu kebetulan, ia mengatakan kepada semua awak kapal bahwa itu adalah perbuatan makhluk dari Alam lain, Raden Putera melihat di air terdapat beberapa ekor Naga berwarna Putih yang menahan kapal mereka dengan kekuatan gaibnya. Naga Putih ini adalah pengawal dan Rakyat dari Puteri Junjung Buih. Raden Putera pun terjun ke air untuk mengusir para Naga tersebut. Beberapa saat kemudian kapalpun bisa bergerak dan berjalan kembali, namun Raden Putera tidak muncul-muncul lagi dari dalam air, hilang bersama perginya para Naga tersebut.

Hampir lebih tiga hari para awak kapal dan Nahkoda menunggu dan mencari Raden Putera, tetap tidak ditemukan, maka seorang Wiramartas diutus lebih dahulu untuk mengambil sesajen berupa kerbau, kambing dan ayam ke Negara Dipa. Juga diwajibkan membawa para Menteri kerajaan untuk menyambut utusan Raja Majapahit yang membawa Hadiah dan barang persembahan.

Setelah Wiramartas sampai di Negara Dipa mengabarkan hilangnya Raden Putera, maka para tokoh Negara dipa seperti Arya Megatsari dan Tumenggung Tatah Jiwa, segera memerintahkan para Menteri pergi ke Pandamaranhttp://indoborneonatural.blogspot.co.id/

Di Pandamaran dilakukan ritual dan persembahan. Sesudah ritual "mamuja" dan "membantan"  yang dilakukan selama tujuh hari tujuh malam lamanya selesai, tiba-tiba hal ajaib terjadi. Raden Putera muncul dari dalam air kepermukaan dengan wajah yang terlihat berseri-seri dan bercahaya memakai kain "tapih" sutera kuning yang indah. Sangat menakjubkan, luar biasanya lagi di kaki Raden Putera terlihat tempat berpijaknya adalah sebuah "Gung Basar" Gong Besar yang melayang di atas air. Setelah Raden Putera yang sekarang menjadi sangat tampan rupawan, mempesona, naik ke atas kapal. Lambung Mangkurat sebagai pimpinan rombongan memerintahkan mengait Gung Basar itu dengan "Paradah". Karena itulah Agung itu sampai sekarang di masyarakat banjar dikenal dengan nama "Si Rabut Paradah". Sejak saat itu Raden Putera pun selanjutnya di beri gelar "Suryanata" atau yang berarti "Raja Matahari".
http://indoborneonatural.blogspot.co.id/



Sumber: 
Buku Ensiklopedi Cerita Rakyat, Musik dan Tari Daerah Kalimantan Selatan. Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Tahun 1978/1979, Kanwil Depdikbud Propinsi Kalimantan Selatan Tahun 1986. 

Mengenal Riwayat Singkat Datu Nuraya Bersama Kitab Barencong

Indoborneonatural----Di Tanah Air Nusantara ini memang tak banyak yg mengenal Datu Nuraya, tapi bagi masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya di Kabupaten Tapin banyak yang mengetahui Siapa dan riwayat Datu Nuraya yang punya nama Syekh Abdul Mu’in (sebagian ada yang menyebut Syekh Abdul Jabbar dan ada juga yang menyebut Syekh Abdur Ra’uf).

Makam Datu Nuraya

Di ceritakan oleh sebagian besar masyarakat setempat, di Pantai Jati Munggu Karikil dekat Liang Macan, tetangga Desa Tatakan tinggalah seorang tuan guru miskin namun sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya, beliau adalah Datu Suban, karena kemiskinan beliau, beliau dan istri hanya makan singkong setiap harinya.

Pada saat lebaran Hari Raya, Datu Suban kedatangan 13 orang murid-muridnya, yaitu : Datu Murkat, Datu Taming Karsa, Datu Niang Thalib, Datu Karipis, Datu Ganun, Datu Argih, Datu Ungku, Datu Labai Duliman, Datu Harun, Datu Arsanaya, Datu Rangga, Datu Galuh Diang Bulan, Dan Datu sanggul.

Ketika sedang menikmati hidangan yang disediakan tuan rumah, tiba-tiba datang seorang yang bertubuh sangat besar. Serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang tersebut.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” kata orang besar, sambil mendekat. “Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” jawab para Datu.

Lalu Datu Suban berkata kepada murid-muridnya bahwa orang yang membari salam itu insya Allah akan berniat baik dan tidak membahayakan.

“Maaf, siapa saudara yang datang dan darimana asalmu serta apa maksud saudara ?” tanya Datu Suban. Si Raksasa hanya menjawab dengan ucapan “LA ILAHA ILLALLAH”. Setiap Datu Suban bertanya selalu dijawabnya dengan kalimat tauhid “LA ILAHA ILLALLAH”. hingga 7 kali ditanya dan dijawab dengan 7 kali dzikir tauhid itu. Setelah 7 kali dzikir tersebut, tiba-tiba raksasa itu ambruk. Lalu para Datu menghampiri dan memeriksanya, ternyata orang besar itu telah meninggal dunia, serempak mereka berujar “inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”

Melihat keadaan yang demikian, para Datu yang berjumlah 13 orang tadi bingung, bagaimana cara memandikan dan menguburkannya? jangankan untuk memandikan dan menguburkannya, mengangkat saja sudah susah, apalagi saat itu musim kemarau panjang, biasanya tanah sangat keras, sedang lubang untuk penguburan harus lebar dan panjang,dan untuk memandikannya juga diperlukan air yang sangat banyak.

Konon ditengah kebingungan para datu,tiba-tiba hujan lebat turun dan ketika mereka mengangkat jenazah dengan mengerahkan tenaga penuh, ternyata tubuh orang besar itu sangat ringan, hanya seperti segumpal kapas. Serentak mereka berseru “Subhanallah.”

Sebelum mereka mewaradunya (membersihkan) mayat itu, Datu Suban menemukan sebuah tas selempang dari dalam pakaiannnya, setelah membukanya ternyata terdapat sebuah tulisan yang berupa kitab yang akhirnya terkenal dengan sebutan “KITAB BARENCONG

Para Datu mulai membagi tugas, membersihkan mayat ialah Datu Argih, Datu Niang Thalib, Datu Ganun, Datu Labai Duliman, Datu Ungku, sedangkan Datu Karipis bertugas mencari batu nisan dari batu alam. Sedang yang lain membuat lubang kubur di gunung Munggu Karikil dekat Munggu tayuh.

Konon lubang yang digali tidak cukup untuk mengubur jenazah itu, terpaksa kakinya harus dilipat sehingga tubuhnya seperti huruf hamzah.

Pada hari ketujuh setelah meninggalnya raksasa itu Datu Suban membuka kitab yang ditemukan pada jenazah tersebut di hadapan 13 muridnya sambil mengucap “Bismillahirrahmanirrahiim” ternyata berisi bermacam-macam khasiat ilmu dunia dan akhirat.

Akhirnya orang besar/raksasa tersebut di beri nama NURAYA karena dia datang pada hari raya dan wafat pada hari itu juga dan sesuai dengan badannya yang besar seperti RAYA.

Nur Raya berarti pembawa cahaya yang sangat luas seperti Raya dengan panjang kuburnya kurang lebih 60 meter (dengan kaki dilipat, kalau tidak dilipat mungkin bisa sampa 100 meter) dan lebar kurang lebih enam meter.

Makan Datu Nuraya terletak jalan Ahmad Yani desa Tatakan, sekitar tiga kilometer masuk dari jalan provinsi kabupaten Tapin provinsi Kalimantan Selatan.

Semua adalah kekuasaan Allah semata, semoga selalu bisa berziarah kemakam beliau dan makam Datu-Datu yang lain, Amin.

INILAH SARANA ANGKUTAN SUNGAI DI PERAIRAN KOTA BANJARMASIN


Indoborneonatural---Membicarakan transportasi di Kota Banjarmasin yang dikenal dengan julukan kota seribu sungai, tentu tidak terlepas dari masalah transportasi sungai yang mememang memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik sarana angkutan sungai di Perairan Kota Banjarmasin adalah sarana transportasi dan angkutan yang memang khas menyesuaikan dengan lingkungan alam yang bercirikan kehidupan masyarakat kota Banjarmasin yang tidak terlepas dengan budaya sungai.

Secara umum sungai-sungai di Kota Banjarmasin terbagi menjadi tiga jenis sungai yaitu Sungai Besar, Sungai sedang dan Sungai kecil :

1. Sungai Besar
Sungai besar ini memiliki ciri dan bentuk berupa (Lebar>50 m), panjang 48.271 m, Jumlah sungai besar ini ada 3 (tiga) buah yaitu Sungai Barito, Sungai Martapura dan sungai Alalak.

2. Sungai Sedang
Sungai sedang ini memiliki ciri dan bentuk berupa (15 m <Lebar<50 m), panjang 87.296 m, Jumlah sungai sedang ini ada 45 buah, yang terkenal antara lain Sungai kuin, Sungai Andai, Sungai Awang, Sungai Jafri Zam-zam, Sungai Duyung, Sungai Kelayan, dll.

3. Sungai kecil
Sungai kecil ini memiliki ciri dan bentuk berupa (Lebar<15 m), panjang 49.736 m, Jumlah sungai sedang ini ada 54 buah, yang terkenal antara lain Sungai Lumbah, Sungai Lulut, Sungai Guring, Sungai Tatas, Sungai Keramat, Sungai Kuripan, dll.

Sungai Lulut

Dalam rangka transfortasi melewati sungai-sungai tersebut, ada beberapa jenis angkutan sungai sebagai sarana transfortasi sungai di perairan kota Banjarmasin antara lain :

1. Perahu Jukung
2. Motor Getek Klotok / MG
3. Kapal Motor / KM
4. Truk Air / TA
5. Bus Air / BA
6. Speed Boat / SB
7. Long Boat / LB
8. Kapal Motor Penyebrangan/KMP

Untuk mendukung kegiatan transfortasi dan sarana angkutan sungai di perairan Kota Banjarmasin ini, terdapat beberapa dermaga yang tersebar di beberapa titik di sungai di Kota Banjarmasin. Dermaga-dermaga tersebut antara lain :

1. Dermaga Alalak
2. Dermaga Banjar Raya
3. Dermaga Pasar Lima
4. Dermaga Ujung Murung
5. Dermaga Pasar Baru

Demikian tentang sarana angkutan sungai di Perairan Kota Banjarmasin Kalimantan Selatan, Semoga artikel ini bermanfaat. Terimakasih.

SENI BAKISAH BAHASA BANJAR (Bercerita dalam Bahasa Banjar)

Indoborneonatural----Bakisah atau bercerita bahasa Banjar merupakan salah satu seni bertutur bercerita dari daerah Kalimantan Selatan. Bakisah Bahasa Banjar ini sendiri sebenarnya telah ada sejak jaman dahulu. Dikampung-kampung atau di desa-desa pada masyarakat Banjar, tradisi bakisah ini dilakukan oleh orang tua,  hingga khusus orang pencerita jaman dahulu. Sekarang bercerita atau bekisah dapat dilakukan oleh siapa saja dari berbagai kalangan. 

Di kalangan masyarakat suku Banjar sendiri, sejak lama mendengarkan cerita rakyat merupakan ciri khas tersendiri. Dalam kehidupan sehari-hari cerita rakyat disampaikan oleh mereka yang telah berusia atau para orang tua kepada anak-anaknya. Pesan-pesan yang disampaikan berupa nasehat dan perumpamaan, harapan-harapan dan lain sebagainya. Mereka langsung menunjukkan mana yang patut diteladani atau dicontoh dan mana yang patut ditinggalkan atau dijauhi dalam mengarungi bahtera kehidupan seperti tersirat dalam cerita yang mereka ungkapkan. Jadi cerita yang dituturkan salah satu cara menanamkan nilai-nilai luhur tradisi Banjar pada kehidupan.

Bakisah berarti menggungakan bahasa Banjar, Suku Banjar dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya memiliki banyak kekayaan khazanah baik seni, budaya, dsb. Termasuk di dalamnya mengenai bahasa. Bahasa yang berkembang dan dominan di Kalsel adalah Bahasa Banjar. Bahasa Banjar memiliki kosakata yang beragam. 

Tradisi bercerita pada suku Banjar tidak hanya dituturkan di lingkungan keluarga atau rumah tangga saja, tetapi ada juga pada masyarakat luas. Seni bercerita di tengah masyarakat umum ini populer disebut BAKISAH. Orang yang membawakan cerita dinamakan Tukang Kisah (Tukang Kesah).


Mereka yang berprofesi sebagai Tukang Kisah ini sering dipanggil ke berbagai daerah untuk menuturkan koleksi cerita mereka. Kegiatan Bakisah umumnya dilakukan pada malam hari. Cerita yang mengandung pesan moral sering diselingi humor untuk menyegarkan suasana. Secara umum isi pesan berkisar tentang aspek kehidupan bermasyarakat, sikap anak terhadap orang tua, antar sesama dan sopan santun dalam pergaulan.

Fungsi utama Tukang Kisah memberikan contoh-contoh kehidupan antara yang baik dan  buruk menurut adat istiadat yang disusun dalam bentuk cerita menarik. Keahlian Tukang Kisah menentukan sampai atau tidak pesan yang diselipkan dalam sebuah cerita. Dahulu untuk hiburan rakyat sering dipanggil Tukang Kisah untuk mengisi berbagai acara keramaian di masyarakat Banjar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan melalui Sub Dinas Kesenian beberapa tahun ini rutin melestarikan kesenian ini dengan acara tahunan Lomba Bakisah Bahasa Banjar. Dalam lomba ini biasanya peserta mengeluarkan seluruh kemampuannya, selain isi ceritanya menarik disampaikan dengan logat Banjar kental, kostum, gerak tubuh, Acting yang unik khas Banjar sering mereka tampilkan pula.


Dalam berbagai kesempatan sering juga kita dengarkan kegiatan bekisah bahasa Banjar ini, terutama kegiatan bekesah untuk anak-anak. Masyarakat sudah sering melihat dan banyak yang tertarik dengan seni bekesah ini.


Cari Artikel